4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus

Chusmeru by Chusmeru
May 22, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

USULAN proyek pembangunan gedung baru fakultas disetujui rektorat. Gedung lama bekas perpustakaan sudah tampak kumuh dan rusak di beberapa bagian. Rencananya akan dibangun gedung berlantai lima untuk ruang kuliah, laboratorium, dan ruang pejabat fakultas.

Sebenarnya banyak gedung yang sudah tidak layak pakai lagi. Maklum, fakultas yang berdiri sejak tahun 1984 itu kondisi bangunannya sudah rapuh. Beberapa ruang kuliah bocor jika turun hujan lebat. Namun karena keterbatasan anggaran, proses pembangunan gedung baru dilakukan secara bertahap.

Keluhan bernada protes sering dilontarkan mahasiswa lewat media sosial dan pers kampus. Banyak yang menyebut kampus mereka layaknya SD Inpres di zaman Orde Baru. Bahkan ada yang berkomentar pedas, kursi di ruang kuliah seperti kursi di zaman Majapahit. Tentu saja ini membuat risih dekanat, sehingga mengajukan usulan pembangunan gedung baru.

Begitu usulan proyek disetujui, proses tender pun diadakan. Tender atau lelang proyek dilakukan secara transparan. Apalagi Dekan sudah mencanangkan gerakan zona integritas di fakultasnya. Semua proses pembangunan maupun pengadaan barang harus melalui mekanisme yang terbuka tanpa ada unsur gratifikasi.

Setelah melalui proses panjang, tender proyek dimenangkan oleh PT Makmur Jaya Sentosa milik seorang pengusaha sukses. Sudah berulang kali pengusaha itu memenangi tender proyek, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Reputasinya tidak diragukan, dengan kualitas hasil pembangunan yang memuaskan.

Beberapa proyek tersebut kemudian disubkontrakkan dengan mitra kerja. Ada yang kebagian pembangunan gedungnya, ada yang dapat proyek pengadaan barang, instalasi listrik, dan ada pula yang menggarap penataan ruang dan taman kampus.

Ruangan dan taman di fakultas memang harus diremajakan. Banyak tanaman yang sudah layu kering karena kurang perawatan. Begitu pun pohon-pohon di sekeliling kampus sudah tampak rimbun. PT Asri Mekar milik pengusaha lokal Handoyo Warsito mendapat bagian menggarap taman. Rencananya, ada beberapa pohon besar yang harus ditebang karena membahayakan jika hujan dan angin kencang.

                                         ***

Proses penebangan pohon dimulai. Berbagai peralatan digunakan untuk menebang pohon besar di kampus, mulai dari kapak dan gergaji mesin. Handoyo Warsito sebagai pemborong proyek taman mendatangkan pekerja dari warga di sekitar kampus. Selain lebih efsisen dari segi biaya, karena tak perlu ongkos transportasi, dia juga ingin memberdayakan warga setempat.

Satu per satu pohon besar ditebang. Jika dihitung, lebih dari sepuluh pohon besar yang tumbuh di kampus. Sejak fakultas berdiri, pohon-pohon itu masih utuh tumbuh. Hanya ranting-rantingnya saja yang dipangkas. Tak heran jika banyak pohon yang tumbuh membesar. Selain itu, pohon besar yang ada di kampus banyak menyimpan cerita menyeramkan.

Tibalah saatnya hendak ditebang pohon trembesi yang ada di sudut barat fakultas. Usia pohon itu diperkirakan sudah 30 tahun lebih. Tinggi pohon sekitar 20 meter dengan diameter lingkar pohon 5 meter. Marsudi adalah pekerja yang mendapat tugas menebang pohon trembesi itu. Ia dibantu tiga orang temannya untuk menebang.

Sejak awal Marsudi sudah memiliki perasaan tidak enak ketika mendapat tugas menebang pohon trembesi besar itu. Sepintas saja pohon itu tampak angker dan menyeramkan. Hawa dingin dirasakan Marsudi saat berada di sekitar pohon itu.

Keanehan pun terjadi. Saat Marsudi hendak memangkas ranting pohon sebelum menebangnya dari bawah, mendadak gergaji mesinnya mati tak berfungsi. Ia periksa gergaji mesin itu, tidak ada yang rusak. Namun saat hendak digunakan mendadak tak berfungsi. Marsudi memutuskan turun dari pohon untuk mengambil gergaji manual. Betapa terkejut dia. Gergaji manual yang dipakai memangkas ranting itu pun patah.

Marsudi berkesimpulan pohon itu “tidak mau” ditebang. Ia turun dari pohon dan istirahat sejenak. Hari sudah mendekati sore. Setelah itu ia kembali naik untuk memangkas ranting dengan gergaji manual yang baru. Lagi-lagi gergaji itu patah. Marsudi memutuskan untuk berhenti. Ia segera menghubungi Handoyo Warsito. Ia disarankan untuk berhenti saja dulu, dan bekerja lagi besok.

Sesampai di rumah hari sudah menjelang magrib. Marsudi menikmati teh manis buatan istrinya. Belum lagi teh itu diteguk, Marsudi dikejutkan dengan munculnya sosok mahkluk tinggi besar di hadapannya. Wajah makhluk itu menyeramkan. Matanya lebar. Telanjang dada, kaki dan tangannya begitu besar. Genderuwo, pikir Marsudi. Belum sempat Marsudi beranjak, makhluk itu menggertaknya.

“Jangan robohkan rumahku! Nanti kamu celaka!”, ancam genderuwo itu lalu menghilang dari pandangan Marsudi.

Esoknya Marsudi tidak berangkat kerja. Ia tidak mau lagi meneruskan untuk menebang pohon trembesi yang dihuni genderuwo, hantu laki-laki besar yang menyeramkan. Ia melaporkan hal itu kepada Handoyo Warsito selaku pemborong proyek taman seraya mengabarkan untuk berhenti bekerja. Ia tak mau ambil risiko, celaka oleh kemarahan genderuwo itu.

Handoyo Warsito memahami alasan Marsudi. Segera ia mencari pekerja baru. Tugas menebang pohon trembesi diserahkan kepada Sikin, lelaki yang tinggal dekat kampus pula. Ia juga dibantu tiga orang tetangganya. Sikin belum tahu jika pohon trembesi itu dihuni oleh genderuwo.

Sikin hendak memulai pekerjannya sama seperti yang sebelumnya dilakukan Marsudi. Perlahan ia naik ke pohon trembesi sambil membawa gergaji mesin. Persis  seperti yang dialami Marsudi, gergaji mesin yang digunakan mendadak mati. Saat ia menggantinya dengan gergaji manual, gergaji itu pun patah. Sikin turun dari pohon sambil tak habis pikir. Ada apa dengan pohon trembesi ini, tanyanya dalam hati.

Ketika Sikin hendak melanjutkan upaya menebang pohon itu, telepon genggamnya berdering. Istrinya menelpon dari rumah. Mengabarkan anaknya tiba-tiba sakit demam, tubuhnya panas dan menggigil. Sikin memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Ia khawatir anaknya terserang penyakit yang berbahaya.

Sampai di rumah, Sikin melihat anaknya yang berusia tujuh tahun terbaring di tempat tidur. Badannya panas. Anehnya, mata anaknya melotot sambil berkata-kata yang tak jelas. Sikin mencoba memegang kening dan tangan anaknya.

“Kenapa, Nak..? Tubuhmu sangat panas,” tanya Sikin cemas.

Anaknya meronta. Tangannya mengepal kaku. Mulutnya mengomel. Sikin dan istrinya bingung dan kaget melihat sikap anaknya.

“Jangan robohkan rumahku!” Tiba-tiba anaknya membentak kedua orang tuanya.

“Rumah yang mana, Nak?” Sikin bertanya merasa tak paham omongan anaknya.

“Pohon trembesi. Jangan hancurkan rumahku. Nanti kamu celaka!” kata anaknya dengan mata melotot.

Sikin terkejut. Anaknya bukan sakit biasa. Anaknya kerasukan makhluk penunggu pohon besar di kampus yang akan ditebang.

“Iya, Nak, maafkan Bapak. Bapak tidak jadi menebang pohon itu,” kata Sikin buru-buru memutuskan membatalkan untuk menebang pohon di kampus.

Anak Sikin menggeram. Mulutnya menganga. Kakinya menendang udara, tangannya meronta. Berbarengan dengan itu tampak sosok laki-laki berperawakan seperti genderuwo keluar dari tubuhnya. Sikin dan istrinya kaget bukan kepalang. Mereka berdua gemetaran dan ketakutan. Hanya sekejap, makhluk genderuwo itu menghilang. Anak Sikin pun terkulai lemas. Ia bingung apa yang telah terjadi pada dirinya.

Setelah anaknya kerasukan genderuwo penunggu pohon besar di kampus, Sikin mengambil keputusan untuk berhenti bekerja menebang pohon trembesi. Ia tak mau anak maupun keluarganya ada yang celaka gara-gara amarah makhluk genderuwo itu.

                                         ***

Kejadian-kejadian aneh yang berhubungan dengan penebangan pohon trembesi di kampus terus terjadi. Berulangkali Handoyo Warsito sebagai pemborong mengganti pekerja, selalu saja ada kejadian yang menimpa pekerjanya saat hendak menebang pohon.

Terakhir, kejadian menimpa Turiman. Pekerja baru yang ditugaskan menebang pohon trembesi mengalami musibah. Setelah berulang kali gagal menebang ranting pohon, Turiman hendak pulang ke rumah dulu. Matahari sudah di atas kepala, saatnya ia makan siang.

Hanya kurang dari seratus meter dari rumahnya, Turiman mengalami musibah. Sepeda motornya jatuh di tengah jalan. Saat itu Turiman melihat sosok lelaki tinggi besar, berambut panjang, telanjang dada, dan matanya besar berada di tengah jalan. Turiman belum sempat mengerem atau membelokkan motornya. Ia tabrak sosok lelaki seperti genderuwo itu. Namun yang ia rasakan seperti menabrak pohon besar, motornya terjatuh, dan Turiman mengalami cedera patah tulang di kakinya.

Kasus kecelakaan yang menimpa Turiman terdengar sampai ke telinga Mita Setiani, Wakil Dekan bidang keuangan dan administrasi yang bertanggung jawab atas proyek pembangunan gedung. Dari kasus Turiman akhirnya Mita Setiani menjadi tahu cerita tentang pekerja-pekerja sebelumnya yang gagal menebang pohon trembesi di kampus. Ia akhirnya juga tahu jika pohon besar itu dihuni oleh genderuwo.

Mita Setiani tidak ingin jatuh korban pada pekerja yang menggarap taman kampus. Ia segera bertemu dengan pemborong proyek, Handoyo Warsito. Mita Setiani berharap pohon itu bisa ditebang tanpa korban jiwa. Apalagi setelah ia tahu ada makhluk genderuwo yang menghuni pohon trembesi itu. Handoyo Warsito berencana mengundang Nono Sutarno, seorang paranormal dari kota Cilacap.

Hari Kamis Wage, Nono Sutarno datang ke kampus. Tidak sendirian, ia ditemani oleh dua orang asistennya. Banyak barang bawaan Nono Sutarno. Ada kelapa muda, rokok kelobot, kemenyan, jajan pasar, kain hitam, dan kembang tujuh rupa. Menurut Nono Sutarno, kelapa muda yang hijau adalah minuman kesukaan genderuwo. Sedangkan rokok kesukaan makhluk genderuwo bukan kretek atau filter, tetapi rokok kelobot.

Setelah duhur Nono Sutarno mulai melakukan ritual, dibantu oleh dua asistennya. Beberapa sesaji yang dibawa ditaruhnya di bawah pohon trembesi. Kain hitam yang ia bawa dililitkan pada batang pohon. Sedangkan air kelapa muda separuhnya disiramkan ke batang pohon. Nono Sutarno membaca mantra dalam bahasa Banyumasan.

Saat Nono Sutarno sedang serius membaca mantra, angin besar mendadak datang dari arah selatan. Anehnya, angin besar itu hanya berputar-putar di atas pohon trembesi. Sedangkan batang pohon bergerak kencang, seperti ada kekuatan yang mengguncangkannya.

Mulut Nono Sutarno komat-kamit. Ia sedang berkomunikasi dengan makhluk genderuwo penunggu pohon trembesi. Kadang ia mengangguk, kadang pula menggelengkan kepala. Nono Sutarno sedang membujuk genderuwo  untuk berpindah tempat. Prosesnya tidak mudah, karena genderuwo itu menolak beberapa tempat yang ditawarkan Nono Sutarno.

“Pancuran Pitu? Inggih!” kata Nono Sutarno akhirnya.

Rupanya hantu tinggi besar itu minta untuk dicarikan rumah barunya di Pancuran Tujuh, sebuah tempat yang dikenal angker di dekat lokawisata Baturraden, Purwokerto. Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh sering dijadikan tempat untuk semedi maupun meditasi.

Berbarengan dengan kesepakatan antara Nono Sutarno dan genderuwo, angin kencang di sekitar pohon berhenti. Beberapa daun pohon trembesi berjatuhan, seolah habis mendapat guncangan hebat.

“Saya akan memindahkan genderuwo itu ke Pancuran Tujuh. Semoga dia betah di sana, dan pohon trembesi ini bisa segera ditebang,” kata Nono Sutarno kepada Mita Setiani dan Handoyo Warsito yang menyaksikan proses ritual tersebut.

Nono Sutarno bersama dua asistennya segera beranjak ke Pancuran Tujuh di Baturraden. Kain hitam yang tadi ia lilitkan di pohon trembesi itu dibawanya juga. Kain hitam merupakan simbol ruang maupun dunia genderuwo. Sesampai di Pancuran Tujuh, kain hitam itu ia gelar di bawah salah satu pohon besar di sekitar bukit Baturraden. Di pohon besar itulah genderuwo akan menempati rumahnya yang baru.

Genderuwo di kampus kini telah punya rumah baru di Pancuran Tujuh. Tak berselang lama, pohon trembesi di kampus berhasil ditebang. Bekas rumah genderuwo itu akan dibuat taman fakultas. Semua berharap genderuwo itu tidak rindu pada rumahnya yang dulu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Next Post

Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co