16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus

Chusmeru by Chusmeru
May 22, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

USULAN proyek pembangunan gedung baru fakultas disetujui rektorat. Gedung lama bekas perpustakaan sudah tampak kumuh dan rusak di beberapa bagian. Rencananya akan dibangun gedung berlantai lima untuk ruang kuliah, laboratorium, dan ruang pejabat fakultas.

Sebenarnya banyak gedung yang sudah tidak layak pakai lagi. Maklum, fakultas yang berdiri sejak tahun 1984 itu kondisi bangunannya sudah rapuh. Beberapa ruang kuliah bocor jika turun hujan lebat. Namun karena keterbatasan anggaran, proses pembangunan gedung baru dilakukan secara bertahap.

Keluhan bernada protes sering dilontarkan mahasiswa lewat media sosial dan pers kampus. Banyak yang menyebut kampus mereka layaknya SD Inpres di zaman Orde Baru. Bahkan ada yang berkomentar pedas, kursi di ruang kuliah seperti kursi di zaman Majapahit. Tentu saja ini membuat risih dekanat, sehingga mengajukan usulan pembangunan gedung baru.

Begitu usulan proyek disetujui, proses tender pun diadakan. Tender atau lelang proyek dilakukan secara transparan. Apalagi Dekan sudah mencanangkan gerakan zona integritas di fakultasnya. Semua proses pembangunan maupun pengadaan barang harus melalui mekanisme yang terbuka tanpa ada unsur gratifikasi.

Setelah melalui proses panjang, tender proyek dimenangkan oleh PT Makmur Jaya Sentosa milik seorang pengusaha sukses. Sudah berulang kali pengusaha itu memenangi tender proyek, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Reputasinya tidak diragukan, dengan kualitas hasil pembangunan yang memuaskan.

Beberapa proyek tersebut kemudian disubkontrakkan dengan mitra kerja. Ada yang kebagian pembangunan gedungnya, ada yang dapat proyek pengadaan barang, instalasi listrik, dan ada pula yang menggarap penataan ruang dan taman kampus.

Ruangan dan taman di fakultas memang harus diremajakan. Banyak tanaman yang sudah layu kering karena kurang perawatan. Begitu pun pohon-pohon di sekeliling kampus sudah tampak rimbun. PT Asri Mekar milik pengusaha lokal Handoyo Warsito mendapat bagian menggarap taman. Rencananya, ada beberapa pohon besar yang harus ditebang karena membahayakan jika hujan dan angin kencang.

                                         ***

Proses penebangan pohon dimulai. Berbagai peralatan digunakan untuk menebang pohon besar di kampus, mulai dari kapak dan gergaji mesin. Handoyo Warsito sebagai pemborong proyek taman mendatangkan pekerja dari warga di sekitar kampus. Selain lebih efsisen dari segi biaya, karena tak perlu ongkos transportasi, dia juga ingin memberdayakan warga setempat.

Satu per satu pohon besar ditebang. Jika dihitung, lebih dari sepuluh pohon besar yang tumbuh di kampus. Sejak fakultas berdiri, pohon-pohon itu masih utuh tumbuh. Hanya ranting-rantingnya saja yang dipangkas. Tak heran jika banyak pohon yang tumbuh membesar. Selain itu, pohon besar yang ada di kampus banyak menyimpan cerita menyeramkan.

Tibalah saatnya hendak ditebang pohon trembesi yang ada di sudut barat fakultas. Usia pohon itu diperkirakan sudah 30 tahun lebih. Tinggi pohon sekitar 20 meter dengan diameter lingkar pohon 5 meter. Marsudi adalah pekerja yang mendapat tugas menebang pohon trembesi itu. Ia dibantu tiga orang temannya untuk menebang.

Sejak awal Marsudi sudah memiliki perasaan tidak enak ketika mendapat tugas menebang pohon trembesi besar itu. Sepintas saja pohon itu tampak angker dan menyeramkan. Hawa dingin dirasakan Marsudi saat berada di sekitar pohon itu.

Keanehan pun terjadi. Saat Marsudi hendak memangkas ranting pohon sebelum menebangnya dari bawah, mendadak gergaji mesinnya mati tak berfungsi. Ia periksa gergaji mesin itu, tidak ada yang rusak. Namun saat hendak digunakan mendadak tak berfungsi. Marsudi memutuskan turun dari pohon untuk mengambil gergaji manual. Betapa terkejut dia. Gergaji manual yang dipakai memangkas ranting itu pun patah.

Marsudi berkesimpulan pohon itu “tidak mau” ditebang. Ia turun dari pohon dan istirahat sejenak. Hari sudah mendekati sore. Setelah itu ia kembali naik untuk memangkas ranting dengan gergaji manual yang baru. Lagi-lagi gergaji itu patah. Marsudi memutuskan untuk berhenti. Ia segera menghubungi Handoyo Warsito. Ia disarankan untuk berhenti saja dulu, dan bekerja lagi besok.

Sesampai di rumah hari sudah menjelang magrib. Marsudi menikmati teh manis buatan istrinya. Belum lagi teh itu diteguk, Marsudi dikejutkan dengan munculnya sosok mahkluk tinggi besar di hadapannya. Wajah makhluk itu menyeramkan. Matanya lebar. Telanjang dada, kaki dan tangannya begitu besar. Genderuwo, pikir Marsudi. Belum sempat Marsudi beranjak, makhluk itu menggertaknya.

“Jangan robohkan rumahku! Nanti kamu celaka!”, ancam genderuwo itu lalu menghilang dari pandangan Marsudi.

Esoknya Marsudi tidak berangkat kerja. Ia tidak mau lagi meneruskan untuk menebang pohon trembesi yang dihuni genderuwo, hantu laki-laki besar yang menyeramkan. Ia melaporkan hal itu kepada Handoyo Warsito selaku pemborong proyek taman seraya mengabarkan untuk berhenti bekerja. Ia tak mau ambil risiko, celaka oleh kemarahan genderuwo itu.

Handoyo Warsito memahami alasan Marsudi. Segera ia mencari pekerja baru. Tugas menebang pohon trembesi diserahkan kepada Sikin, lelaki yang tinggal dekat kampus pula. Ia juga dibantu tiga orang tetangganya. Sikin belum tahu jika pohon trembesi itu dihuni oleh genderuwo.

Sikin hendak memulai pekerjannya sama seperti yang sebelumnya dilakukan Marsudi. Perlahan ia naik ke pohon trembesi sambil membawa gergaji mesin. Persis  seperti yang dialami Marsudi, gergaji mesin yang digunakan mendadak mati. Saat ia menggantinya dengan gergaji manual, gergaji itu pun patah. Sikin turun dari pohon sambil tak habis pikir. Ada apa dengan pohon trembesi ini, tanyanya dalam hati.

Ketika Sikin hendak melanjutkan upaya menebang pohon itu, telepon genggamnya berdering. Istrinya menelpon dari rumah. Mengabarkan anaknya tiba-tiba sakit demam, tubuhnya panas dan menggigil. Sikin memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Ia khawatir anaknya terserang penyakit yang berbahaya.

Sampai di rumah, Sikin melihat anaknya yang berusia tujuh tahun terbaring di tempat tidur. Badannya panas. Anehnya, mata anaknya melotot sambil berkata-kata yang tak jelas. Sikin mencoba memegang kening dan tangan anaknya.

“Kenapa, Nak..? Tubuhmu sangat panas,” tanya Sikin cemas.

Anaknya meronta. Tangannya mengepal kaku. Mulutnya mengomel. Sikin dan istrinya bingung dan kaget melihat sikap anaknya.

“Jangan robohkan rumahku!” Tiba-tiba anaknya membentak kedua orang tuanya.

“Rumah yang mana, Nak?” Sikin bertanya merasa tak paham omongan anaknya.

“Pohon trembesi. Jangan hancurkan rumahku. Nanti kamu celaka!” kata anaknya dengan mata melotot.

Sikin terkejut. Anaknya bukan sakit biasa. Anaknya kerasukan makhluk penunggu pohon besar di kampus yang akan ditebang.

“Iya, Nak, maafkan Bapak. Bapak tidak jadi menebang pohon itu,” kata Sikin buru-buru memutuskan membatalkan untuk menebang pohon di kampus.

Anak Sikin menggeram. Mulutnya menganga. Kakinya menendang udara, tangannya meronta. Berbarengan dengan itu tampak sosok laki-laki berperawakan seperti genderuwo keluar dari tubuhnya. Sikin dan istrinya kaget bukan kepalang. Mereka berdua gemetaran dan ketakutan. Hanya sekejap, makhluk genderuwo itu menghilang. Anak Sikin pun terkulai lemas. Ia bingung apa yang telah terjadi pada dirinya.

Setelah anaknya kerasukan genderuwo penunggu pohon besar di kampus, Sikin mengambil keputusan untuk berhenti bekerja menebang pohon trembesi. Ia tak mau anak maupun keluarganya ada yang celaka gara-gara amarah makhluk genderuwo itu.

                                         ***

Kejadian-kejadian aneh yang berhubungan dengan penebangan pohon trembesi di kampus terus terjadi. Berulangkali Handoyo Warsito sebagai pemborong mengganti pekerja, selalu saja ada kejadian yang menimpa pekerjanya saat hendak menebang pohon.

Terakhir, kejadian menimpa Turiman. Pekerja baru yang ditugaskan menebang pohon trembesi mengalami musibah. Setelah berulang kali gagal menebang ranting pohon, Turiman hendak pulang ke rumah dulu. Matahari sudah di atas kepala, saatnya ia makan siang.

Hanya kurang dari seratus meter dari rumahnya, Turiman mengalami musibah. Sepeda motornya jatuh di tengah jalan. Saat itu Turiman melihat sosok lelaki tinggi besar, berambut panjang, telanjang dada, dan matanya besar berada di tengah jalan. Turiman belum sempat mengerem atau membelokkan motornya. Ia tabrak sosok lelaki seperti genderuwo itu. Namun yang ia rasakan seperti menabrak pohon besar, motornya terjatuh, dan Turiman mengalami cedera patah tulang di kakinya.

Kasus kecelakaan yang menimpa Turiman terdengar sampai ke telinga Mita Setiani, Wakil Dekan bidang keuangan dan administrasi yang bertanggung jawab atas proyek pembangunan gedung. Dari kasus Turiman akhirnya Mita Setiani menjadi tahu cerita tentang pekerja-pekerja sebelumnya yang gagal menebang pohon trembesi di kampus. Ia akhirnya juga tahu jika pohon besar itu dihuni oleh genderuwo.

Mita Setiani tidak ingin jatuh korban pada pekerja yang menggarap taman kampus. Ia segera bertemu dengan pemborong proyek, Handoyo Warsito. Mita Setiani berharap pohon itu bisa ditebang tanpa korban jiwa. Apalagi setelah ia tahu ada makhluk genderuwo yang menghuni pohon trembesi itu. Handoyo Warsito berencana mengundang Nono Sutarno, seorang paranormal dari kota Cilacap.

Hari Kamis Wage, Nono Sutarno datang ke kampus. Tidak sendirian, ia ditemani oleh dua orang asistennya. Banyak barang bawaan Nono Sutarno. Ada kelapa muda, rokok kelobot, kemenyan, jajan pasar, kain hitam, dan kembang tujuh rupa. Menurut Nono Sutarno, kelapa muda yang hijau adalah minuman kesukaan genderuwo. Sedangkan rokok kesukaan makhluk genderuwo bukan kretek atau filter, tetapi rokok kelobot.

Setelah duhur Nono Sutarno mulai melakukan ritual, dibantu oleh dua asistennya. Beberapa sesaji yang dibawa ditaruhnya di bawah pohon trembesi. Kain hitam yang ia bawa dililitkan pada batang pohon. Sedangkan air kelapa muda separuhnya disiramkan ke batang pohon. Nono Sutarno membaca mantra dalam bahasa Banyumasan.

Saat Nono Sutarno sedang serius membaca mantra, angin besar mendadak datang dari arah selatan. Anehnya, angin besar itu hanya berputar-putar di atas pohon trembesi. Sedangkan batang pohon bergerak kencang, seperti ada kekuatan yang mengguncangkannya.

Mulut Nono Sutarno komat-kamit. Ia sedang berkomunikasi dengan makhluk genderuwo penunggu pohon trembesi. Kadang ia mengangguk, kadang pula menggelengkan kepala. Nono Sutarno sedang membujuk genderuwo  untuk berpindah tempat. Prosesnya tidak mudah, karena genderuwo itu menolak beberapa tempat yang ditawarkan Nono Sutarno.

“Pancuran Pitu? Inggih!” kata Nono Sutarno akhirnya.

Rupanya hantu tinggi besar itu minta untuk dicarikan rumah barunya di Pancuran Tujuh, sebuah tempat yang dikenal angker di dekat lokawisata Baturraden, Purwokerto. Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh sering dijadikan tempat untuk semedi maupun meditasi.

Berbarengan dengan kesepakatan antara Nono Sutarno dan genderuwo, angin kencang di sekitar pohon berhenti. Beberapa daun pohon trembesi berjatuhan, seolah habis mendapat guncangan hebat.

“Saya akan memindahkan genderuwo itu ke Pancuran Tujuh. Semoga dia betah di sana, dan pohon trembesi ini bisa segera ditebang,” kata Nono Sutarno kepada Mita Setiani dan Handoyo Warsito yang menyaksikan proses ritual tersebut.

Nono Sutarno bersama dua asistennya segera beranjak ke Pancuran Tujuh di Baturraden. Kain hitam yang tadi ia lilitkan di pohon trembesi itu dibawanya juga. Kain hitam merupakan simbol ruang maupun dunia genderuwo. Sesampai di Pancuran Tujuh, kain hitam itu ia gelar di bawah salah satu pohon besar di sekitar bukit Baturraden. Di pohon besar itulah genderuwo akan menempati rumahnya yang baru.

Genderuwo di kampus kini telah punya rumah baru di Pancuran Tujuh. Tak berselang lama, pohon trembesi di kampus berhasil ditebang. Bekas rumah genderuwo itu akan dibuat taman fakultas. Semua berharap genderuwo itu tidak rindu pada rumahnya yang dulu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Next Post

Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co