26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus

Chusmeru by Chusmeru
May 22, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

USULAN proyek pembangunan gedung baru fakultas disetujui rektorat. Gedung lama bekas perpustakaan sudah tampak kumuh dan rusak di beberapa bagian. Rencananya akan dibangun gedung berlantai lima untuk ruang kuliah, laboratorium, dan ruang pejabat fakultas.

Sebenarnya banyak gedung yang sudah tidak layak pakai lagi. Maklum, fakultas yang berdiri sejak tahun 1984 itu kondisi bangunannya sudah rapuh. Beberapa ruang kuliah bocor jika turun hujan lebat. Namun karena keterbatasan anggaran, proses pembangunan gedung baru dilakukan secara bertahap.

Keluhan bernada protes sering dilontarkan mahasiswa lewat media sosial dan pers kampus. Banyak yang menyebut kampus mereka layaknya SD Inpres di zaman Orde Baru. Bahkan ada yang berkomentar pedas, kursi di ruang kuliah seperti kursi di zaman Majapahit. Tentu saja ini membuat risih dekanat, sehingga mengajukan usulan pembangunan gedung baru.

Begitu usulan proyek disetujui, proses tender pun diadakan. Tender atau lelang proyek dilakukan secara transparan. Apalagi Dekan sudah mencanangkan gerakan zona integritas di fakultasnya. Semua proses pembangunan maupun pengadaan barang harus melalui mekanisme yang terbuka tanpa ada unsur gratifikasi.

Setelah melalui proses panjang, tender proyek dimenangkan oleh PT Makmur Jaya Sentosa milik seorang pengusaha sukses. Sudah berulang kali pengusaha itu memenangi tender proyek, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Reputasinya tidak diragukan, dengan kualitas hasil pembangunan yang memuaskan.

Beberapa proyek tersebut kemudian disubkontrakkan dengan mitra kerja. Ada yang kebagian pembangunan gedungnya, ada yang dapat proyek pengadaan barang, instalasi listrik, dan ada pula yang menggarap penataan ruang dan taman kampus.

Ruangan dan taman di fakultas memang harus diremajakan. Banyak tanaman yang sudah layu kering karena kurang perawatan. Begitu pun pohon-pohon di sekeliling kampus sudah tampak rimbun. PT Asri Mekar milik pengusaha lokal Handoyo Warsito mendapat bagian menggarap taman. Rencananya, ada beberapa pohon besar yang harus ditebang karena membahayakan jika hujan dan angin kencang.

                                         ***

Proses penebangan pohon dimulai. Berbagai peralatan digunakan untuk menebang pohon besar di kampus, mulai dari kapak dan gergaji mesin. Handoyo Warsito sebagai pemborong proyek taman mendatangkan pekerja dari warga di sekitar kampus. Selain lebih efsisen dari segi biaya, karena tak perlu ongkos transportasi, dia juga ingin memberdayakan warga setempat.

Satu per satu pohon besar ditebang. Jika dihitung, lebih dari sepuluh pohon besar yang tumbuh di kampus. Sejak fakultas berdiri, pohon-pohon itu masih utuh tumbuh. Hanya ranting-rantingnya saja yang dipangkas. Tak heran jika banyak pohon yang tumbuh membesar. Selain itu, pohon besar yang ada di kampus banyak menyimpan cerita menyeramkan.

Tibalah saatnya hendak ditebang pohon trembesi yang ada di sudut barat fakultas. Usia pohon itu diperkirakan sudah 30 tahun lebih. Tinggi pohon sekitar 20 meter dengan diameter lingkar pohon 5 meter. Marsudi adalah pekerja yang mendapat tugas menebang pohon trembesi itu. Ia dibantu tiga orang temannya untuk menebang.

Sejak awal Marsudi sudah memiliki perasaan tidak enak ketika mendapat tugas menebang pohon trembesi besar itu. Sepintas saja pohon itu tampak angker dan menyeramkan. Hawa dingin dirasakan Marsudi saat berada di sekitar pohon itu.

Keanehan pun terjadi. Saat Marsudi hendak memangkas ranting pohon sebelum menebangnya dari bawah, mendadak gergaji mesinnya mati tak berfungsi. Ia periksa gergaji mesin itu, tidak ada yang rusak. Namun saat hendak digunakan mendadak tak berfungsi. Marsudi memutuskan turun dari pohon untuk mengambil gergaji manual. Betapa terkejut dia. Gergaji manual yang dipakai memangkas ranting itu pun patah.

Marsudi berkesimpulan pohon itu “tidak mau” ditebang. Ia turun dari pohon dan istirahat sejenak. Hari sudah mendekati sore. Setelah itu ia kembali naik untuk memangkas ranting dengan gergaji manual yang baru. Lagi-lagi gergaji itu patah. Marsudi memutuskan untuk berhenti. Ia segera menghubungi Handoyo Warsito. Ia disarankan untuk berhenti saja dulu, dan bekerja lagi besok.

Sesampai di rumah hari sudah menjelang magrib. Marsudi menikmati teh manis buatan istrinya. Belum lagi teh itu diteguk, Marsudi dikejutkan dengan munculnya sosok mahkluk tinggi besar di hadapannya. Wajah makhluk itu menyeramkan. Matanya lebar. Telanjang dada, kaki dan tangannya begitu besar. Genderuwo, pikir Marsudi. Belum sempat Marsudi beranjak, makhluk itu menggertaknya.

“Jangan robohkan rumahku! Nanti kamu celaka!”, ancam genderuwo itu lalu menghilang dari pandangan Marsudi.

Esoknya Marsudi tidak berangkat kerja. Ia tidak mau lagi meneruskan untuk menebang pohon trembesi yang dihuni genderuwo, hantu laki-laki besar yang menyeramkan. Ia melaporkan hal itu kepada Handoyo Warsito selaku pemborong proyek taman seraya mengabarkan untuk berhenti bekerja. Ia tak mau ambil risiko, celaka oleh kemarahan genderuwo itu.

Handoyo Warsito memahami alasan Marsudi. Segera ia mencari pekerja baru. Tugas menebang pohon trembesi diserahkan kepada Sikin, lelaki yang tinggal dekat kampus pula. Ia juga dibantu tiga orang tetangganya. Sikin belum tahu jika pohon trembesi itu dihuni oleh genderuwo.

Sikin hendak memulai pekerjannya sama seperti yang sebelumnya dilakukan Marsudi. Perlahan ia naik ke pohon trembesi sambil membawa gergaji mesin. Persis  seperti yang dialami Marsudi, gergaji mesin yang digunakan mendadak mati. Saat ia menggantinya dengan gergaji manual, gergaji itu pun patah. Sikin turun dari pohon sambil tak habis pikir. Ada apa dengan pohon trembesi ini, tanyanya dalam hati.

Ketika Sikin hendak melanjutkan upaya menebang pohon itu, telepon genggamnya berdering. Istrinya menelpon dari rumah. Mengabarkan anaknya tiba-tiba sakit demam, tubuhnya panas dan menggigil. Sikin memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Ia khawatir anaknya terserang penyakit yang berbahaya.

Sampai di rumah, Sikin melihat anaknya yang berusia tujuh tahun terbaring di tempat tidur. Badannya panas. Anehnya, mata anaknya melotot sambil berkata-kata yang tak jelas. Sikin mencoba memegang kening dan tangan anaknya.

“Kenapa, Nak..? Tubuhmu sangat panas,” tanya Sikin cemas.

Anaknya meronta. Tangannya mengepal kaku. Mulutnya mengomel. Sikin dan istrinya bingung dan kaget melihat sikap anaknya.

“Jangan robohkan rumahku!” Tiba-tiba anaknya membentak kedua orang tuanya.

“Rumah yang mana, Nak?” Sikin bertanya merasa tak paham omongan anaknya.

“Pohon trembesi. Jangan hancurkan rumahku. Nanti kamu celaka!” kata anaknya dengan mata melotot.

Sikin terkejut. Anaknya bukan sakit biasa. Anaknya kerasukan makhluk penunggu pohon besar di kampus yang akan ditebang.

“Iya, Nak, maafkan Bapak. Bapak tidak jadi menebang pohon itu,” kata Sikin buru-buru memutuskan membatalkan untuk menebang pohon di kampus.

Anak Sikin menggeram. Mulutnya menganga. Kakinya menendang udara, tangannya meronta. Berbarengan dengan itu tampak sosok laki-laki berperawakan seperti genderuwo keluar dari tubuhnya. Sikin dan istrinya kaget bukan kepalang. Mereka berdua gemetaran dan ketakutan. Hanya sekejap, makhluk genderuwo itu menghilang. Anak Sikin pun terkulai lemas. Ia bingung apa yang telah terjadi pada dirinya.

Setelah anaknya kerasukan genderuwo penunggu pohon besar di kampus, Sikin mengambil keputusan untuk berhenti bekerja menebang pohon trembesi. Ia tak mau anak maupun keluarganya ada yang celaka gara-gara amarah makhluk genderuwo itu.

                                         ***

Kejadian-kejadian aneh yang berhubungan dengan penebangan pohon trembesi di kampus terus terjadi. Berulangkali Handoyo Warsito sebagai pemborong mengganti pekerja, selalu saja ada kejadian yang menimpa pekerjanya saat hendak menebang pohon.

Terakhir, kejadian menimpa Turiman. Pekerja baru yang ditugaskan menebang pohon trembesi mengalami musibah. Setelah berulang kali gagal menebang ranting pohon, Turiman hendak pulang ke rumah dulu. Matahari sudah di atas kepala, saatnya ia makan siang.

Hanya kurang dari seratus meter dari rumahnya, Turiman mengalami musibah. Sepeda motornya jatuh di tengah jalan. Saat itu Turiman melihat sosok lelaki tinggi besar, berambut panjang, telanjang dada, dan matanya besar berada di tengah jalan. Turiman belum sempat mengerem atau membelokkan motornya. Ia tabrak sosok lelaki seperti genderuwo itu. Namun yang ia rasakan seperti menabrak pohon besar, motornya terjatuh, dan Turiman mengalami cedera patah tulang di kakinya.

Kasus kecelakaan yang menimpa Turiman terdengar sampai ke telinga Mita Setiani, Wakil Dekan bidang keuangan dan administrasi yang bertanggung jawab atas proyek pembangunan gedung. Dari kasus Turiman akhirnya Mita Setiani menjadi tahu cerita tentang pekerja-pekerja sebelumnya yang gagal menebang pohon trembesi di kampus. Ia akhirnya juga tahu jika pohon besar itu dihuni oleh genderuwo.

Mita Setiani tidak ingin jatuh korban pada pekerja yang menggarap taman kampus. Ia segera bertemu dengan pemborong proyek, Handoyo Warsito. Mita Setiani berharap pohon itu bisa ditebang tanpa korban jiwa. Apalagi setelah ia tahu ada makhluk genderuwo yang menghuni pohon trembesi itu. Handoyo Warsito berencana mengundang Nono Sutarno, seorang paranormal dari kota Cilacap.

Hari Kamis Wage, Nono Sutarno datang ke kampus. Tidak sendirian, ia ditemani oleh dua orang asistennya. Banyak barang bawaan Nono Sutarno. Ada kelapa muda, rokok kelobot, kemenyan, jajan pasar, kain hitam, dan kembang tujuh rupa. Menurut Nono Sutarno, kelapa muda yang hijau adalah minuman kesukaan genderuwo. Sedangkan rokok kesukaan makhluk genderuwo bukan kretek atau filter, tetapi rokok kelobot.

Setelah duhur Nono Sutarno mulai melakukan ritual, dibantu oleh dua asistennya. Beberapa sesaji yang dibawa ditaruhnya di bawah pohon trembesi. Kain hitam yang ia bawa dililitkan pada batang pohon. Sedangkan air kelapa muda separuhnya disiramkan ke batang pohon. Nono Sutarno membaca mantra dalam bahasa Banyumasan.

Saat Nono Sutarno sedang serius membaca mantra, angin besar mendadak datang dari arah selatan. Anehnya, angin besar itu hanya berputar-putar di atas pohon trembesi. Sedangkan batang pohon bergerak kencang, seperti ada kekuatan yang mengguncangkannya.

Mulut Nono Sutarno komat-kamit. Ia sedang berkomunikasi dengan makhluk genderuwo penunggu pohon trembesi. Kadang ia mengangguk, kadang pula menggelengkan kepala. Nono Sutarno sedang membujuk genderuwo  untuk berpindah tempat. Prosesnya tidak mudah, karena genderuwo itu menolak beberapa tempat yang ditawarkan Nono Sutarno.

“Pancuran Pitu? Inggih!” kata Nono Sutarno akhirnya.

Rupanya hantu tinggi besar itu minta untuk dicarikan rumah barunya di Pancuran Tujuh, sebuah tempat yang dikenal angker di dekat lokawisata Baturraden, Purwokerto. Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh sering dijadikan tempat untuk semedi maupun meditasi.

Berbarengan dengan kesepakatan antara Nono Sutarno dan genderuwo, angin kencang di sekitar pohon berhenti. Beberapa daun pohon trembesi berjatuhan, seolah habis mendapat guncangan hebat.

“Saya akan memindahkan genderuwo itu ke Pancuran Tujuh. Semoga dia betah di sana, dan pohon trembesi ini bisa segera ditebang,” kata Nono Sutarno kepada Mita Setiani dan Handoyo Warsito yang menyaksikan proses ritual tersebut.

Nono Sutarno bersama dua asistennya segera beranjak ke Pancuran Tujuh di Baturraden. Kain hitam yang tadi ia lilitkan di pohon trembesi itu dibawanya juga. Kain hitam merupakan simbol ruang maupun dunia genderuwo. Sesampai di Pancuran Tujuh, kain hitam itu ia gelar di bawah salah satu pohon besar di sekitar bukit Baturraden. Di pohon besar itulah genderuwo akan menempati rumahnya yang baru.

Genderuwo di kampus kini telah punya rumah baru di Pancuran Tujuh. Tak berselang lama, pohon trembesi di kampus berhasil ditebang. Bekas rumah genderuwo itu akan dibuat taman fakultas. Semua berharap genderuwo itu tidak rindu pada rumahnya yang dulu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Next Post

Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Membaca Taiwan, Merenungi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co