23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Radio Tua Kakek Panjul

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
in Dongeng
Radio Tua Kakek Panjul

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas sawah, dan embun menempel di ujung daun padi, berkilau saat matahari mulai mengintip.

Namun bagi Risa, pagi adalah suara.

“Krk… krk… tes… tes…”

Suara itu, setiap hari menjadi alarm baginya. Lalu, seperti biasa, ketika frekuensi tepat ditemukan, suara itu berubah menjadi alunan lagu pop Bali yang hangat dan penuh rasa. Suara penyanyi yang tak ia kenal namanya, tapi selalu berhasil membuat hatinya tenang.

“Bangun, Sa. Sudah pagi,” panggil Kakek Panjul dari ruang depan.

Radio tua itu sudah lebih dulu membangunkan dunia.

Radio itu terletak di atas meja kayu kecil. Warnanya cokelat pudar, dengan baret halus di sana-sini. Antenanya sering harus diputar-putar, dan kadang perlu ditepuk pelan agar kembali bersuara. Tapi setiap pagi, ia selalu setia memutar lagu-lagu pop Bali.

“Itu lagu kesukaan Nenekmu,” kata Kakek Panjul, saat lagu ‘Kembang di Hati’ milik Widi-Widiana diputar.

Radio itu adalah pemberian dari Nenek Sika, istri Kakek Panjul yang telah lama tutup usia. Sejak kepergiannya, radio itu menjadi lebih dari sekadar benda. Ia menjadi teman, pengingat, sekaligus pengisi sunyi Kakek Panjul.

Seperti biasa, setelah sarapan, Kakek Panjul membawa radio itu ke sawah. Lagu-lagu pop Bali mengalun di tengah hamparan hijau, menemani setiap langkahnya.

Kadang ia ikut bersenandung. Kadang hanya tersenyum kecil, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat.

Hingga suatu pagi. Semuanya berubah.

“Krk… krk…”

Kakek Panjul memutar gelombang radio seperti biasa.

Tetapi tidak ada lagu.

Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras.

“Krk… krk… krk…”

Hanya suara statis yang keluar. Kering, pecah, seperti suara yang kehilangan arah.

Kakek Panjul pun terdiam.

Tangannya masih bertahan di kenop radio. Ia memutar perlahan ke kiri. Lalu ke kanan. Berhenti. Lalu kembali lagi. Biasanya, di antara putaran itu, akan ada celah kecil tempat lagu menyelinap masuk.

Tapi kali ini tidak.

“Ah, mungkin belum pas,” gumamnya.

Ia berdiri, membawa radio itu mendekati jendela. Antenanya ditarik lebih panjang, diarahkan ke luar rumah.

“Di sini biasanya jernih…”

Tetap sunyi.

Ia mengetuk bagian samping radio. Pelan dulu, lalu sedikit lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Hayolah…” bisiknya, hampir seperti membujuk.

“Krkkkk…………”

Risa yang melihat dari dekat mulai merasa ada yang tidak biasa.

“Kek, coba aku bantu?”

Ia ikut mencoba. Memutar, mengangkat, bahkan membalik radio itu sebentar. Tapi hasilnya sama. Tidak ada lagu. Hanya suara statis yang aneh.

Kakek Panjul perlahan duduk. Radio itu kini ia pegang dengan kedua tangan, seolah benda itu tiba-tiba menjadi sangat rapuh.

Jemarinya menyusuri permukaannya. Berhenti di sudut yang sedikit retak.

“Dulu, kamu paling keras kalau soal lagu,” gumamnya lirih.

Risa menatap wajah kakeknya. Ada kesedihan yang perlahan muncul.

“Rusak ya, Kek?” tanya Risa hati-hati.

Kakek Panjul menarik napas panjang. “Iya, sepertinya begitu…”

Hari itu, Kakek Panjul tetap pergi ke sawah. Tanpa radio. Dan untuk pertama kalinya, sawah terasa terlalu sepi.

Di rumah, Risa tidak tinggal diam. Ia membawa radio itu ke bengkel kecil di ujung Desa Muncuk Sari, milik Pak Selamet.

“Pak, ini bisa diperbaiki?” tanyanya.

Pak Selamet menerima radio itu dengan hati-hati. Ia membuka bagian belakangnya, memeriksa setiap bagian dengan teliti.

“Ini radio lama sekali. Banyak yang sudah aus,” katanya.

Percobaan pertama, ia mencoba mengganti kabel. Percobaan kedua, membersihkan komponen. Percobaan ketiga, menyolder ulang bagian yang retak. Namun, radio itu belum juga hidup.

“Masih belum mau diajak bicara,” kata Pak Selamet sambil tersenyum tipis.

Risa pun tak beranjak sebelum radio itu hidup kembali. Ia terus-terusan bertanya dengan harap yang sama.

“Ini penting sekali ya?” tanya Pak Selamet.

Risa mengangguk. “Kakek saya, tidak pernah lepas dari radio itu. Sejak nenek meninggal.”

Kalimatnya menggantung.

Pak Selamet terdiam. Kemudian ia berupaya sekuat tenaga memperbaiki radio itu. Berbagai hal dilakukannya, sampai hari menuju petang.

Risa yang sempat tertidur pun dibangunkan oleh Pak Selamet.

“Risa, ayo coba kita nyalakan, semoga berhasil,” katanya.

“Krk… krk…”

Lalu, lagu perlahan mulai terdengar. Risa langsung tersenyum lebar. “Hidup, Pak!”

Pak Selamet ikut tersenyum. “Tidak sempurna sih, tapi setidaknya dia masih mau bersuara.”

Risa mengeluarkan uang dari sakunya. “Berapa, Pak?”

Pak Selamet menggeleng pelan. “Tidak usah.”

Risa terkejut. “Tapi, Pak…”

“Sudah, anggap saja ini hadiah untuk kakekmu,” sahutnya.

Risa terdiam.

“Kadang, yang kita perbaiki bukan cuma barang. Tapi juga kenangan orang,” lanjut Pak Selamet.

Mata Risa mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”

Risa pun pulang membawa radio itu.

“Sudah diperbaiki, Kek.”

Kakek Panjul menatapnya lama.

“Coba nyalakan Risa.”

“Krk… krk…”

Lalu lagu pop Bali kembali mengalun. Tidak terlalu jernih. Kadang terputus. Tapi cukup.

Kakek Panjul tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Risa duduk di sampingnya. Dan kini ia benar-benar mengerti. Radio itu bukan sekadar benda. Ia adalah cinta yang memilih untuk tetap hidup. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Next Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co