11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Radio Tua Kakek Panjul

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
in Dongeng
Radio Tua Kakek Panjul

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas sawah, dan embun menempel di ujung daun padi, berkilau saat matahari mulai mengintip.

Namun bagi Risa, pagi adalah suara.

“Krk… krk… tes… tes…”

Suara itu, setiap hari menjadi alarm baginya. Lalu, seperti biasa, ketika frekuensi tepat ditemukan, suara itu berubah menjadi alunan lagu pop Bali yang hangat dan penuh rasa. Suara penyanyi yang tak ia kenal namanya, tapi selalu berhasil membuat hatinya tenang.

“Bangun, Sa. Sudah pagi,” panggil Kakek Panjul dari ruang depan.

Radio tua itu sudah lebih dulu membangunkan dunia.

Radio itu terletak di atas meja kayu kecil. Warnanya cokelat pudar, dengan baret halus di sana-sini. Antenanya sering harus diputar-putar, dan kadang perlu ditepuk pelan agar kembali bersuara. Tapi setiap pagi, ia selalu setia memutar lagu-lagu pop Bali.

“Itu lagu kesukaan Nenekmu,” kata Kakek Panjul, saat lagu ‘Kembang di Hati’ milik Widi-Widiana diputar.

Radio itu adalah pemberian dari Nenek Sika, istri Kakek Panjul yang telah lama tutup usia. Sejak kepergiannya, radio itu menjadi lebih dari sekadar benda. Ia menjadi teman, pengingat, sekaligus pengisi sunyi Kakek Panjul.

Seperti biasa, setelah sarapan, Kakek Panjul membawa radio itu ke sawah. Lagu-lagu pop Bali mengalun di tengah hamparan hijau, menemani setiap langkahnya.

Kadang ia ikut bersenandung. Kadang hanya tersenyum kecil, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat.

Hingga suatu pagi. Semuanya berubah.

“Krk… krk…”

Kakek Panjul memutar gelombang radio seperti biasa.

Tetapi tidak ada lagu.

Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras.

“Krk… krk… krk…”

Hanya suara statis yang keluar. Kering, pecah, seperti suara yang kehilangan arah.

Kakek Panjul pun terdiam.

Tangannya masih bertahan di kenop radio. Ia memutar perlahan ke kiri. Lalu ke kanan. Berhenti. Lalu kembali lagi. Biasanya, di antara putaran itu, akan ada celah kecil tempat lagu menyelinap masuk.

Tapi kali ini tidak.

“Ah, mungkin belum pas,” gumamnya.

Ia berdiri, membawa radio itu mendekati jendela. Antenanya ditarik lebih panjang, diarahkan ke luar rumah.

“Di sini biasanya jernih…”

Tetap sunyi.

Ia mengetuk bagian samping radio. Pelan dulu, lalu sedikit lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Hayolah…” bisiknya, hampir seperti membujuk.

“Krkkkk…………”

Risa yang melihat dari dekat mulai merasa ada yang tidak biasa.

“Kek, coba aku bantu?”

Ia ikut mencoba. Memutar, mengangkat, bahkan membalik radio itu sebentar. Tapi hasilnya sama. Tidak ada lagu. Hanya suara statis yang aneh.

Kakek Panjul perlahan duduk. Radio itu kini ia pegang dengan kedua tangan, seolah benda itu tiba-tiba menjadi sangat rapuh.

Jemarinya menyusuri permukaannya. Berhenti di sudut yang sedikit retak.

“Dulu, kamu paling keras kalau soal lagu,” gumamnya lirih.

Risa menatap wajah kakeknya. Ada kesedihan yang perlahan muncul.

“Rusak ya, Kek?” tanya Risa hati-hati.

Kakek Panjul menarik napas panjang. “Iya, sepertinya begitu…”

Hari itu, Kakek Panjul tetap pergi ke sawah. Tanpa radio. Dan untuk pertama kalinya, sawah terasa terlalu sepi.

Di rumah, Risa tidak tinggal diam. Ia membawa radio itu ke bengkel kecil di ujung Desa Muncuk Sari, milik Pak Selamet.

“Pak, ini bisa diperbaiki?” tanyanya.

Pak Selamet menerima radio itu dengan hati-hati. Ia membuka bagian belakangnya, memeriksa setiap bagian dengan teliti.

“Ini radio lama sekali. Banyak yang sudah aus,” katanya.

Percobaan pertama, ia mencoba mengganti kabel. Percobaan kedua, membersihkan komponen. Percobaan ketiga, menyolder ulang bagian yang retak. Namun, radio itu belum juga hidup.

“Masih belum mau diajak bicara,” kata Pak Selamet sambil tersenyum tipis.

Risa pun tak beranjak sebelum radio itu hidup kembali. Ia terus-terusan bertanya dengan harap yang sama.

“Ini penting sekali ya?” tanya Pak Selamet.

Risa mengangguk. “Kakek saya, tidak pernah lepas dari radio itu. Sejak nenek meninggal.”

Kalimatnya menggantung.

Pak Selamet terdiam. Kemudian ia berupaya sekuat tenaga memperbaiki radio itu. Berbagai hal dilakukannya, sampai hari menuju petang.

Risa yang sempat tertidur pun dibangunkan oleh Pak Selamet.

“Risa, ayo coba kita nyalakan, semoga berhasil,” katanya.

“Krk… krk…”

Lalu, lagu perlahan mulai terdengar. Risa langsung tersenyum lebar. “Hidup, Pak!”

Pak Selamet ikut tersenyum. “Tidak sempurna sih, tapi setidaknya dia masih mau bersuara.”

Risa mengeluarkan uang dari sakunya. “Berapa, Pak?”

Pak Selamet menggeleng pelan. “Tidak usah.”

Risa terkejut. “Tapi, Pak…”

“Sudah, anggap saja ini hadiah untuk kakekmu,” sahutnya.

Risa terdiam.

“Kadang, yang kita perbaiki bukan cuma barang. Tapi juga kenangan orang,” lanjut Pak Selamet.

Mata Risa mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”

Risa pun pulang membawa radio itu.

“Sudah diperbaiki, Kek.”

Kakek Panjul menatapnya lama.

“Coba nyalakan Risa.”

“Krk… krk…”

Lalu lagu pop Bali kembali mengalun. Tidak terlalu jernih. Kadang terputus. Tapi cukup.

Kakek Panjul tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Risa duduk di sampingnya. Dan kini ia benar-benar mengerti. Radio itu bukan sekadar benda. Ia adalah cinta yang memilih untuk tetap hidup. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Next Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co