23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
in Cerpen
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak menyedihkan untuk anak SD yang percaya bahwa cinta pertama harus berlangsung selamanya.

Aku sedih untuk Ayah. Tapi aku sedih juga untuk Ibu. Rasa sedih ini datang bersamaan dengan kekhawatiran, apakah Ayah bahagia walaupun ia tidak berakhir bersama cinta pertamanya? Begitu juga dengan Ibu, apakah ia sedih karena ternyata ia bukan cinta pertama Ayah?

Seakan-akan seluruh pikiranku diterjemahkan ke wajahku. Bibi-bibiku malah semakin menggebu-gebu menceritakannya. Seakan-akan ini adalah sinetron terkini yang sedang tayang di salah satu saluran TV swasta yang tidak boleh aku lewatkan. Aku hanya menganga dan membiarkan kisah cinta pertama itu melaju lancar ke telingaku.

Ayah  mencintai seorang wanita di seberang lautan. Ayah, dengan vespa merahnya melaju dari Bali Utara ke Kota Mataram, Lombok. Jika kulihat di google map, membutuhkan kurang lebih 8-12 jam. Ya, kuyakin dengan senyumnya yang tampan

mengendarai vespa itu dari utara ke selatan. Melewati dua bukit hijau, dari Singaraja yang panas, menembus Bedugul yang dingin, lalu Denpasar yang pengap, membelah Selat Lombok, terapung selama 4 jam di kapal ferry yang terlihat usang, dan melanjutkan perjalanan ke Kota Mataram yang terik. Jika kubayangkan saja kepalaku pening. Belum

lagi jika kupikirkan ia diterpa hujan sepanjang jalan. Apakah jaketnya cukup hangat?

Ketika aku mulai dewasa, melewati masa remaja, kisah itu masih berlalu lalang di telingaku. Perihal cinta pertama yang mengarungi samudra. Terkadang aku merenung, perlukah aku mengetahui semua ini? Seharusnya aku berlagak acuh tak acuh saja, karena toh semua ini sudah berlalu dan Ayah saat ini terlihat bahagia bersama Ibu. Tetapi aku, yang berada pada usia di mana cinta adalah segalanya tidak bisa tenang. Aku yang berpikir bahwa semua cinta harus diperjuangkan, mengalami patah hati yang berkelanjutan.

“Lalu, mengapa mereka tidak akhirnya bersama?” tanyaku memberanikan diri.

Aku pikir aku akan mendengarkan jawaban yang klise. Orang ketiga contohnya. Tetapi alasannya jauh lebih ke realita.

“Karena ayahmu tidak punya TV,” kata bibiku santai sambil terus memainkan kartu domino di tangannya. Ya, mereka membicarakan kisah cinta orang tuaku sesantai itu. Itu adalah kisah cinta yang akan membuat William Shakespeare pun menangis.

Kala itu, Ayah masih fresh graduate dan belum memiliki pekerjaan tetap. Lulusan Sastra Inggris dari kampus di Malang yang nun jauh di sana. Pada tahun 1980-an, ia dipandang tidak keren. Oleh ayah wanita itu, ia ditolak. Tidak direstui cintanya. Karena ketulusan saja tanpa materi tidaklah pernah cukup bagi seorang calon ayah mertua. Ayahku kalah. Ia terluka

dan pulang ke Bali Utara tanpa apa-apa. Hanya duka yang tak berkesudahan. Cerita itu ditutup oleh bibiku dengan kartu domino terakhir di meja itu, selesai pula kisah cinta pertama Ayah yang suci. Lebih tepatnya tamat. Kandas. Yah, setidaknya cinta Ayah tidak bertepuk sebelah tangan.

Aku tidak sanggup membayangkan kekalahan Ayah. Karena di meja makan, Ayah adalah juara. Apapun yang ia ceritakan selalu berakhir dengan kebanggaan. Tetapi, bukan tentang cinta pertamanya. Ia tidak pernah menceritakannya. Sedikitpun. Bahkan wanita itu, si cantik dari Kota Mataram itu tidak pernah sedikit pun keluar dari bibirnya. Sedikitpun tak muncul di salah satu cerita serunya. Aku sering bertepuk tangan mendengar ceritanya lalu pikiranku berkelana. Apakah ayahku benar-benar bahagia saat ini? Apakah ia

kadang-kadang masih teringat tentang cinta pertamanya?

Lalu aku memandang Ibu, yang tersenyum bahagia mendengarkan cerita laki-laki ini lagi. Yang entah sudah berapa kali ia ceritakan di bulan ini. Sambil mengupas mangga ranum di tangannya, ia membumbui cerita-cerita Ayah dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ceritanya semakin hidup. Ini semua adalah kebahagiaan kecil kami yang tak tergantikan. Yang butuh waktu seumur hidup untuk dikenang.

Aku dengar, wanita itu menikah dan tinggal di Bali Utara. Di satu tanah yang sama dengan keluarga kami. Setiap kami mengunjungi tempat yang ramai, aku berharap mereka takkan bertemu. Aku ingin cinta yang telah kandas ini tidak muncul tunas baru.

Terkadang aku masih melihat sosok Ayah yang terluka karena TV yang tidak ia miliki di zaman itu. Saat ini, Ayah adalah seorang wirausaha yang cukup sukses di kota kami.

Ayah membuka kursus bahasa Inggris pertama di kota ini, yang pariwisatanya sedang berkembang di pulau ini. Kelas-kelasnya tak pernah kosong. Orang-orang membludak mendaftar. Ke mana pun kami pergi, ada saja yang mengenalnya. Jika kutanya siapa, jawabannya selalu sama

“Sepertinya murid ayah dulu!” Bahkan saking miripnya wajahku dengan ayahku, orang-orang selalu berkata, “Oh pasti ayahmu guru bahasa Inggris saya dulu ya!”

Ya, seterkenal itu ia di kota kecil ini, hingga ia bisa membeli berapa TV pun yang ia mau. Ya, ia membelinya. Ia membeli setiap TV keluaran terbaru. TV yang besar memenuhi ruang keluarga kami. Tetapi Ibu memiliki prinsip satu rumah satu TV, untuk menghindari anggota keluarga yang sibuk di kamar masing-masing. Alhasil Ayah banyak menyumbang TV ke rumah Kakek dan Nenek dan saudara-saudara lainnya. Seperti ketiban TV nomplok.

Semakin aku dewasa, jika aku ngobrol dengan Ayah dan teringat kisah cinta pertama sialan itu lagi, pikiranku kembali berkelana.

“Berani-beraninya ia menolak ayahku yang tampan!” “Terkutuklah ia yang mencederai hati ayahku!”

Dan semua sumpah serapah yang tidak perlu.

Hingga suatu hari ibuku berkata, “Lihat, laki-laki itu. Itu adalah suami dari wanita cinta pertama Ayah!”.

Aku terkesiap mendengar celetukan Ibu dan gelagapan menoleh ke arah yang dituju. Penasaran, seperti apa wajah laki-laki itu. Dan apakah wanita itu juga ada bersamanya.

Sikap Ibu tidak seperti yang aku bayangkan. Dibandingkan istri yang terluka karena melihat mantan pacar suaminya seperti di sinetron-sinetron, lagaknya lebih seperti adik perempuan yang tidak terima kakak laki-lakinya diputus cinta.

“Berani-beraninya ia menolak cinta suamiku!” kata Ibu kepadaku.

Aku berpikir, bukannya cintanya tidak direstui ya? Versi mana lagi ini. Tetapi aku pura-pura tidak tahu.

“Bagaimana ceritanya, Bu?” tanyaku polos.

Lalu keluarlah segala uneg-uneg yang selama ini Ibu pendam. Di sinilah kami, mengutuk bersama.

Mungkin cinta pertama ayahku memang bukan ibuku. Memang Ibu tahu semua itu. Mungkin pernikahan ini tidak diawali dengan cinta yang manis seperti di film, tetapi bukankah menjadi cinta terakhir adalah yang terbaik? [T]

  • Selamat ulang tahun ajikku sayang. Cinta pertamamu boleh kandas, tetapi, cinta terakhirmu sempurna. Aku mencintai mu. I will see you when I see you.

Tabanan, 16 January 2026

Penulis: Ayu Ugie Pratiwi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Next Post

Radio Tua Kakek Panjul

Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi

Lahir di Singaraja, tinggal di Tabanan. IG: @ayuugiepratiwi

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Radio Tua Kakek Panjul

Radio Tua Kakek Panjul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co