11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
in Cerpen
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak menyedihkan untuk anak SD yang percaya bahwa cinta pertama harus berlangsung selamanya.

Aku sedih untuk Ayah. Tapi aku sedih juga untuk Ibu. Rasa sedih ini datang bersamaan dengan kekhawatiran, apakah Ayah bahagia walaupun ia tidak berakhir bersama cinta pertamanya? Begitu juga dengan Ibu, apakah ia sedih karena ternyata ia bukan cinta pertama Ayah?

Seakan-akan seluruh pikiranku diterjemahkan ke wajahku. Bibi-bibiku malah semakin menggebu-gebu menceritakannya. Seakan-akan ini adalah sinetron terkini yang sedang tayang di salah satu saluran TV swasta yang tidak boleh aku lewatkan. Aku hanya menganga dan membiarkan kisah cinta pertama itu melaju lancar ke telingaku.

Ayah  mencintai seorang wanita di seberang lautan. Ayah, dengan vespa merahnya melaju dari Bali Utara ke Kota Mataram, Lombok. Jika kulihat di google map, membutuhkan kurang lebih 8-12 jam. Ya, kuyakin dengan senyumnya yang tampan

mengendarai vespa itu dari utara ke selatan. Melewati dua bukit hijau, dari Singaraja yang panas, menembus Bedugul yang dingin, lalu Denpasar yang pengap, membelah Selat Lombok, terapung selama 4 jam di kapal ferry yang terlihat usang, dan melanjutkan perjalanan ke Kota Mataram yang terik. Jika kubayangkan saja kepalaku pening. Belum

lagi jika kupikirkan ia diterpa hujan sepanjang jalan. Apakah jaketnya cukup hangat?

Ketika aku mulai dewasa, melewati masa remaja, kisah itu masih berlalu lalang di telingaku. Perihal cinta pertama yang mengarungi samudra. Terkadang aku merenung, perlukah aku mengetahui semua ini? Seharusnya aku berlagak acuh tak acuh saja, karena toh semua ini sudah berlalu dan Ayah saat ini terlihat bahagia bersama Ibu. Tetapi aku, yang berada pada usia di mana cinta adalah segalanya tidak bisa tenang. Aku yang berpikir bahwa semua cinta harus diperjuangkan, mengalami patah hati yang berkelanjutan.

“Lalu, mengapa mereka tidak akhirnya bersama?” tanyaku memberanikan diri.

Aku pikir aku akan mendengarkan jawaban yang klise. Orang ketiga contohnya. Tetapi alasannya jauh lebih ke realita.

“Karena ayahmu tidak punya TV,” kata bibiku santai sambil terus memainkan kartu domino di tangannya. Ya, mereka membicarakan kisah cinta orang tuaku sesantai itu. Itu adalah kisah cinta yang akan membuat William Shakespeare pun menangis.

Kala itu, Ayah masih fresh graduate dan belum memiliki pekerjaan tetap. Lulusan Sastra Inggris dari kampus di Malang yang nun jauh di sana. Pada tahun 1980-an, ia dipandang tidak keren. Oleh ayah wanita itu, ia ditolak. Tidak direstui cintanya. Karena ketulusan saja tanpa materi tidaklah pernah cukup bagi seorang calon ayah mertua. Ayahku kalah. Ia terluka

dan pulang ke Bali Utara tanpa apa-apa. Hanya duka yang tak berkesudahan. Cerita itu ditutup oleh bibiku dengan kartu domino terakhir di meja itu, selesai pula kisah cinta pertama Ayah yang suci. Lebih tepatnya tamat. Kandas. Yah, setidaknya cinta Ayah tidak bertepuk sebelah tangan.

Aku tidak sanggup membayangkan kekalahan Ayah. Karena di meja makan, Ayah adalah juara. Apapun yang ia ceritakan selalu berakhir dengan kebanggaan. Tetapi, bukan tentang cinta pertamanya. Ia tidak pernah menceritakannya. Sedikitpun. Bahkan wanita itu, si cantik dari Kota Mataram itu tidak pernah sedikit pun keluar dari bibirnya. Sedikitpun tak muncul di salah satu cerita serunya. Aku sering bertepuk tangan mendengar ceritanya lalu pikiranku berkelana. Apakah ayahku benar-benar bahagia saat ini? Apakah ia

kadang-kadang masih teringat tentang cinta pertamanya?

Lalu aku memandang Ibu, yang tersenyum bahagia mendengarkan cerita laki-laki ini lagi. Yang entah sudah berapa kali ia ceritakan di bulan ini. Sambil mengupas mangga ranum di tangannya, ia membumbui cerita-cerita Ayah dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ceritanya semakin hidup. Ini semua adalah kebahagiaan kecil kami yang tak tergantikan. Yang butuh waktu seumur hidup untuk dikenang.

Aku dengar, wanita itu menikah dan tinggal di Bali Utara. Di satu tanah yang sama dengan keluarga kami. Setiap kami mengunjungi tempat yang ramai, aku berharap mereka takkan bertemu. Aku ingin cinta yang telah kandas ini tidak muncul tunas baru.

Terkadang aku masih melihat sosok Ayah yang terluka karena TV yang tidak ia miliki di zaman itu. Saat ini, Ayah adalah seorang wirausaha yang cukup sukses di kota kami.

Ayah membuka kursus bahasa Inggris pertama di kota ini, yang pariwisatanya sedang berkembang di pulau ini. Kelas-kelasnya tak pernah kosong. Orang-orang membludak mendaftar. Ke mana pun kami pergi, ada saja yang mengenalnya. Jika kutanya siapa, jawabannya selalu sama

“Sepertinya murid ayah dulu!” Bahkan saking miripnya wajahku dengan ayahku, orang-orang selalu berkata, “Oh pasti ayahmu guru bahasa Inggris saya dulu ya!”

Ya, seterkenal itu ia di kota kecil ini, hingga ia bisa membeli berapa TV pun yang ia mau. Ya, ia membelinya. Ia membeli setiap TV keluaran terbaru. TV yang besar memenuhi ruang keluarga kami. Tetapi Ibu memiliki prinsip satu rumah satu TV, untuk menghindari anggota keluarga yang sibuk di kamar masing-masing. Alhasil Ayah banyak menyumbang TV ke rumah Kakek dan Nenek dan saudara-saudara lainnya. Seperti ketiban TV nomplok.

Semakin aku dewasa, jika aku ngobrol dengan Ayah dan teringat kisah cinta pertama sialan itu lagi, pikiranku kembali berkelana.

“Berani-beraninya ia menolak ayahku yang tampan!” “Terkutuklah ia yang mencederai hati ayahku!”

Dan semua sumpah serapah yang tidak perlu.

Hingga suatu hari ibuku berkata, “Lihat, laki-laki itu. Itu adalah suami dari wanita cinta pertama Ayah!”.

Aku terkesiap mendengar celetukan Ibu dan gelagapan menoleh ke arah yang dituju. Penasaran, seperti apa wajah laki-laki itu. Dan apakah wanita itu juga ada bersamanya.

Sikap Ibu tidak seperti yang aku bayangkan. Dibandingkan istri yang terluka karena melihat mantan pacar suaminya seperti di sinetron-sinetron, lagaknya lebih seperti adik perempuan yang tidak terima kakak laki-lakinya diputus cinta.

“Berani-beraninya ia menolak cinta suamiku!” kata Ibu kepadaku.

Aku berpikir, bukannya cintanya tidak direstui ya? Versi mana lagi ini. Tetapi aku pura-pura tidak tahu.

“Bagaimana ceritanya, Bu?” tanyaku polos.

Lalu keluarlah segala uneg-uneg yang selama ini Ibu pendam. Di sinilah kami, mengutuk bersama.

Mungkin cinta pertama ayahku memang bukan ibuku. Memang Ibu tahu semua itu. Mungkin pernikahan ini tidak diawali dengan cinta yang manis seperti di film, tetapi bukankah menjadi cinta terakhir adalah yang terbaik? [T]

  • Selamat ulang tahun ajikku sayang. Cinta pertamamu boleh kandas, tetapi, cinta terakhirmu sempurna. Aku mencintai mu. I will see you when I see you.

Tabanan, 16 January 2026

Penulis: Ayu Ugie Pratiwi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Next Post

Radio Tua Kakek Panjul

Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi

Lahir di Singaraja, tinggal di Tabanan. IG: @ayuugiepratiwi

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails
Next Post
Radio Tua Kakek Panjul

Radio Tua Kakek Panjul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co