24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Bella Paring Gusti by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
in Cerpen
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….”

Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hujan yang menderu. Pria itu bahkan lupa sudah berapa kali sehari ia memutarnya. Indranya sudah kebal. Lagu itu hanya meliuk-liuk hampa di udara untuk kemudian menubruk gendang telinganya, memantul-mantul kecil, lantas terlempar kembali ke luar kepalanya.

Mata pria itu masih menatap nanar tempias hujan tepat di atas genangan air yang berada di aspal, sementara asap nikotin menguar dari bibirnya yang pasrah. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa pening di sana entah sudah berapa jam. Bokongnya seolah telah menebal, barangkali kapalan saking lamanya.

Tak pelak semua ini ia lakukan demi Ann, kekasihnya, yang baru dua hari lalu memberi ultimatum mengenai keputusannya untuk menyudahi hubungan dengan Garu.

Lagi-lagi Garu menyesap batang rokok itu dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya dengan wajah kuyu dan tatapan kosong. Seharusnya barang favoritnya itu bakal berhasil melipur segala kegundahan hatinya, namun kali ini gagal total. Efek menyenangkan nikotin itu tak pernah berhasil menyingkirkan pikirannya mengenai Ann yang cantik―sudah―tidak menjadi―pacarnya lagi.

Garu menggaruk rambut gondrongnya dengan gelisah. Ia masih tak terima jika gadis cantik, pujaan hatinya, primadonanya, dewinya, memutuskan hubungan dengannya. Padahal sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan demi menyenangkan hati perempuan dambaan hatinya itu. Tetapi, rupanya hal tersebut masih saja kurang di mata Ann.

Motor yang lewat kemudian membuat genangan air di depan Garu menyembur ke pakaiannya yang telah kuyup. Garu bergumam kesal, memaki-maki, dan merutuki pengendara motor itu sekalian melampiaskan seluruh emosinya sebab sudah selama dua hari ia duduk di depan teras rumah Ann, namun tak ada seorangpun yang mengacuhkannya. Apalagi sekadar mempersilakannya masuk rumah agar dapat bertemu dengan Ann. Oh, seandainya ia bisa berjumpa dengan perempuan itu, ia berjanji akan memeluknya erat dan tak akan melepasnya. Ia sungguh tak sanggup kehilangan Ann sampai berpikir demikian membuatnya hampir gila seperti sekarang.

Hari pertama, Garu datang sambil membawa seikat bunga mawar crimson kesukaan Ann. Ia berdiri tepat di depan pintu rumah Ann dari pagi sampai sore; dari kepanasan sampai menggigil. Tapi, tak ada satu pun orang rumah yang menyambutnya, lebih-lebih Ann yang melihatnya saja tidak sudi. Pesannya yang mengatakan permintaan maaf secara tulus sekaligus permohonan untuk balikan tidak digubris sama sekali oleh gadis itu.

Jika kamu meninggalkanku, Sayang, tolong tinggalkan morfin di depan pintuku. Karena untuk melupakanmu akan membutuhkan banyak obat. Untuk menyadari apa yang dulu kumiliki, tetapi sekarang tidak, aku perlu memeluk zat adiktif lagi.

Hari kedua, mawar itu telah layu. Sebagai gantinya, ia membawakan sekotak cokelat mahal yang merupakan selera Ann yang juga mahal agar permintaan maafnya diterima. Garu bahkan tak peduli jika ia harus mengemis kepada temannya untuk meminjam uang, padahal utangnya yang kemarin-kemarin masih bejibun dan belum terlunaskan. Namun, Ann tetap tak menanggapinya. Menyaksikan sosoknya yang melongok demi melihatnya saja tidak. Balkon terbuka di lantai tiga tampak sunyi secara misterius; balkon kamar Ann masih saja kosong secara sia-sia tanpa kemunculan sosok cantik itu.

Aku tidak akan pernah menjadi favorit ibumu. Ayahmu bahkan tidak bisa menatap mataku. Tapi, jika aku jadi mereka, aku akan melakukan hal yang sama; melarang anakku berpacaran dengan pria merepotkan sepertiku.

Beberapa orang yang lewat sebenarnya sudah memperingatkannya, bahwa keluarga Nugroho―keluarga Ann yang sangat mulia―tak akan mungkin merespons atau mengindahkan tindakan negosiasinya. Garu pun sejujurnya tengah mempertimbangkan nasihat tersebut mengingat siapa dirinya dan siapa keluarga Nugroho. Mengingat jarak mereka sudah seperti langit dan bumi.

Namun, sekali lagi, jika harus mengorbankan apa pun, ia akan melakukannya. Demi Ann yang sangat ia cintai.

Masalahnya tak mudah menambat hati perempuan cantik itu. Segala hal sudah ia lampaui demi menarik perhatian Ann, mulai dari mengikuti kelas yang sama, organisasi yang sama, hingga peminatan yang sama meski harga yang dibayar cukup mahal. Dan, walau sudah berhasil menjadi pacarnya, Ann sesekali menunjukkan bahwa dirinya tak begitu cinta pada Garu. Hal itu membuat Garu resah setiap hari sampai tak bisa tidur nyenyak. Ia ketakutan jika suatu hari harus kelepasan Ann di dalam hidupnya.

Bagi Garu, Ann lebih dari kata cantik dan seksi. Ann adalah perempuan tercantik dalam lingkungan sosial yang sebenarnya tak mampu ia raih. Ann merupakan prestise, suatu wujud kemewahan di tengah pergaulannya, kebanggaannya yang sudah setara dengan apa pun kemewahan dunia yang tak dapat dibelinya. Atau, barangkali, segala hal luhur yang tak dapat ia gapai.

Garu mengusap peluhnya yang telah bercampur air hujan. Sebagai lelaki, ia menyukai guyuran hujan deras yang sanggup menyembunyikan air matanya ini. Ia sedang menimbang-nimbang, apa lagi yang akan ia lakukan demi mempertahankan Ann-nya. Garu menguras otak sampai mengerahkan setiap selnya hanya demi mendapatkan Ann kembali.

Masih terasa mimpi bahwa ia dapat bertemu dengan Ann pada suatu hari, lalu lanjut tergila-gila hingga detik ini. Bahkan nyaris mendekati obsesi. Kini pria itu memandangi jalan di depannya seraya mengabsen seluruh usahanya untuk Ann selama mereka bersama. Garu si yatim piatu yang hidupnya sehari-hari bagai elang yang mengangkasa; bebas, liar, dan hanya bergairah untuk memangsa tak habis pikir memiliki kesempatan untuk mendapatkan Ann, satu-satunya kesempatan terhormat yang hanya datang sekali seumur hidup. Tentu saja Garu tak menyia-nyiakannya.

Garu mulai berdesas-desus ke teman pengkolannya saat memutuskan untuk mengincar Ann, dan temannya itu mulai memberi petuah hal-hal yang lantas Garu lakukan. Dari datang langsung dan mendaftar kelas kursus yang diikuti oleh Ann menggunakan uang utang hasil curian temannya, giat merayu Ann dengan caranya sendiri yang membuat gadis cantik itu mengernyit geli lalu memutuskan untuk keluar kursus, hingga membawa masalahnya ini kepada dukun tersohor di sudut kampungnya. Tak hanya itu, sewaktu Ann berhasil menjadi kekasihnya, Garu berusaha mengklaim “kepemilikan tetap” dengan menjebak Ann di sebuah hotel murahan dan memaksanya melakukan persetubuhan. Alhasil, Garu mendapatkan keperawanan Ann yang amat berharga sekaligus menjadikan hubungannya kandas pula.

Ann mengumumkan kekecewaannya berikut keputusannya sehari setelah kejadian itu. Tubuh Garu langsung lingsut tanpa daya, padahal segala hal sudah ia lakukan demi Ann. Ia telah berhasil merangkak jauh lebih tinggi dari tempatnya sekarang, berhasil mendapatkan Ann dalam versi seutuhnya, dan kini ia malah meratapi nasibnya yang mengemis pengampunan dari Ann dan seluruh keluarga Nugroho.

Jadi, ingatlah semua pengorbanan yang aku lakukan untuk membuatmu tetap di sisiku dan mencegahmu keluar dari pintu.

Hari telah lingsir menuju bakda magrib, namun intensitas hujan tak turun juga. Hujan justru kian lebat menerjang tubuh ringkih Garu seperti amarah Ann yang ia rasakan. Sebuah raungan sirene ambulans yang mendekat kemudian membangkitkan kesadaran Garu. Ia melongok ke jalan dan mendapati sejumlah mobil polisi pun mengepungnya.

Garu lekas berdiri dan mengangkat kedua tangan tanda menyerahkan diri. Apa gunanya ia melanjutkan hidup apabila Ann tak lagi jatuh dalam pelukannya?

Tetapi alih-alih menangkap Garu, beberapa polisi itu malah menggeruduk kediaman keluarga Nugroho dan mulai membentangkan garis kuning di area tersebut. Pintu rumah akhirnya terbuka lebar, namun bukan untuk menoleransi kelakuan Garu. Dari dalam, Garu dapat menangkap ibu Ann tergugu histeris tatkala menyambut sejumlah orang turun dari ambulans dan menyurukkan brankar urgensi beroda. Hingga sosok yang berada di balik kain putih itu dibawa jeritan ambulans, hingga massa meriung di sekitarnya, Garu masih menatap nanar terlampau kosong. Ia memeras otaknya sekali lagi; bagaimana caranya mengembalikan Ann yang cantik dalam hidupnya? [T]

Penulis: Bella Paring Gusti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

Next Post

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Bella Paring Gusti

Bella Paring Gusti

Penulis lepas yang lahir di Bumi Bung Karno, Blitar. Ia gemar meramu novel, cerpen, dan esai, serta sudah mempublikasikan karya-karyanya di sejumlah platform daring dan media sastra online. Juga menggunakan nama pena: Glory Bella.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails
Next Post
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Malam Keakraban Berbuntut Teror

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

by Chusmeru
July 23, 2026
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma
Esai

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 23, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co