25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Bella Paring Gusti by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
in Cerpen
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….”

Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hujan yang menderu. Pria itu bahkan lupa sudah berapa kali sehari ia memutarnya. Indranya sudah kebal. Lagu itu hanya meliuk-liuk hampa di udara untuk kemudian menubruk gendang telinganya, memantul-mantul kecil, lantas terlempar kembali ke luar kepalanya.

Mata pria itu masih menatap nanar tempias hujan tepat di atas genangan air yang berada di aspal, sementara asap nikotin menguar dari bibirnya yang pasrah. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa pening di sana entah sudah berapa jam. Bokongnya seolah telah menebal, barangkali kapalan saking lamanya.

Tak pelak semua ini ia lakukan demi Ann, kekasihnya, yang baru dua hari lalu memberi ultimatum mengenai keputusannya untuk menyudahi hubungan dengan Garu.

Lagi-lagi Garu menyesap batang rokok itu dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya dengan wajah kuyu dan tatapan kosong. Seharusnya barang favoritnya itu bakal berhasil melipur segala kegundahan hatinya, namun kali ini gagal total. Efek menyenangkan nikotin itu tak pernah berhasil menyingkirkan pikirannya mengenai Ann yang cantik―sudah―tidak menjadi―pacarnya lagi.

Garu menggaruk rambut gondrongnya dengan gelisah. Ia masih tak terima jika gadis cantik, pujaan hatinya, primadonanya, dewinya, memutuskan hubungan dengannya. Padahal sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan demi menyenangkan hati perempuan dambaan hatinya itu. Tetapi, rupanya hal tersebut masih saja kurang di mata Ann.

Motor yang lewat kemudian membuat genangan air di depan Garu menyembur ke pakaiannya yang telah kuyup. Garu bergumam kesal, memaki-maki, dan merutuki pengendara motor itu sekalian melampiaskan seluruh emosinya sebab sudah selama dua hari ia duduk di depan teras rumah Ann, namun tak ada seorangpun yang mengacuhkannya. Apalagi sekadar mempersilakannya masuk rumah agar dapat bertemu dengan Ann. Oh, seandainya ia bisa berjumpa dengan perempuan itu, ia berjanji akan memeluknya erat dan tak akan melepasnya. Ia sungguh tak sanggup kehilangan Ann sampai berpikir demikian membuatnya hampir gila seperti sekarang.

Hari pertama, Garu datang sambil membawa seikat bunga mawar crimson kesukaan Ann. Ia berdiri tepat di depan pintu rumah Ann dari pagi sampai sore; dari kepanasan sampai menggigil. Tapi, tak ada satu pun orang rumah yang menyambutnya, lebih-lebih Ann yang melihatnya saja tidak sudi. Pesannya yang mengatakan permintaan maaf secara tulus sekaligus permohonan untuk balikan tidak digubris sama sekali oleh gadis itu.

Jika kamu meninggalkanku, Sayang, tolong tinggalkan morfin di depan pintuku. Karena untuk melupakanmu akan membutuhkan banyak obat. Untuk menyadari apa yang dulu kumiliki, tetapi sekarang tidak, aku perlu memeluk zat adiktif lagi.

Hari kedua, mawar itu telah layu. Sebagai gantinya, ia membawakan sekotak cokelat mahal yang merupakan selera Ann yang juga mahal agar permintaan maafnya diterima. Garu bahkan tak peduli jika ia harus mengemis kepada temannya untuk meminjam uang, padahal utangnya yang kemarin-kemarin masih bejibun dan belum terlunaskan. Namun, Ann tetap tak menanggapinya. Menyaksikan sosoknya yang melongok demi melihatnya saja tidak. Balkon terbuka di lantai tiga tampak sunyi secara misterius; balkon kamar Ann masih saja kosong secara sia-sia tanpa kemunculan sosok cantik itu.

Aku tidak akan pernah menjadi favorit ibumu. Ayahmu bahkan tidak bisa menatap mataku. Tapi, jika aku jadi mereka, aku akan melakukan hal yang sama; melarang anakku berpacaran dengan pria merepotkan sepertiku.

Beberapa orang yang lewat sebenarnya sudah memperingatkannya, bahwa keluarga Nugroho―keluarga Ann yang sangat mulia―tak akan mungkin merespons atau mengindahkan tindakan negosiasinya. Garu pun sejujurnya tengah mempertimbangkan nasihat tersebut mengingat siapa dirinya dan siapa keluarga Nugroho. Mengingat jarak mereka sudah seperti langit dan bumi.

Namun, sekali lagi, jika harus mengorbankan apa pun, ia akan melakukannya. Demi Ann yang sangat ia cintai.

Masalahnya tak mudah menambat hati perempuan cantik itu. Segala hal sudah ia lampaui demi menarik perhatian Ann, mulai dari mengikuti kelas yang sama, organisasi yang sama, hingga peminatan yang sama meski harga yang dibayar cukup mahal. Dan, walau sudah berhasil menjadi pacarnya, Ann sesekali menunjukkan bahwa dirinya tak begitu cinta pada Garu. Hal itu membuat Garu resah setiap hari sampai tak bisa tidur nyenyak. Ia ketakutan jika suatu hari harus kelepasan Ann di dalam hidupnya.

Bagi Garu, Ann lebih dari kata cantik dan seksi. Ann adalah perempuan tercantik dalam lingkungan sosial yang sebenarnya tak mampu ia raih. Ann merupakan prestise, suatu wujud kemewahan di tengah pergaulannya, kebanggaannya yang sudah setara dengan apa pun kemewahan dunia yang tak dapat dibelinya. Atau, barangkali, segala hal luhur yang tak dapat ia gapai.

Garu mengusap peluhnya yang telah bercampur air hujan. Sebagai lelaki, ia menyukai guyuran hujan deras yang sanggup menyembunyikan air matanya ini. Ia sedang menimbang-nimbang, apa lagi yang akan ia lakukan demi mempertahankan Ann-nya. Garu menguras otak sampai mengerahkan setiap selnya hanya demi mendapatkan Ann kembali.

Masih terasa mimpi bahwa ia dapat bertemu dengan Ann pada suatu hari, lalu lanjut tergila-gila hingga detik ini. Bahkan nyaris mendekati obsesi. Kini pria itu memandangi jalan di depannya seraya mengabsen seluruh usahanya untuk Ann selama mereka bersama. Garu si yatim piatu yang hidupnya sehari-hari bagai elang yang mengangkasa; bebas, liar, dan hanya bergairah untuk memangsa tak habis pikir memiliki kesempatan untuk mendapatkan Ann, satu-satunya kesempatan terhormat yang hanya datang sekali seumur hidup. Tentu saja Garu tak menyia-nyiakannya.

Garu mulai berdesas-desus ke teman pengkolannya saat memutuskan untuk mengincar Ann, dan temannya itu mulai memberi petuah hal-hal yang lantas Garu lakukan. Dari datang langsung dan mendaftar kelas kursus yang diikuti oleh Ann menggunakan uang utang hasil curian temannya, giat merayu Ann dengan caranya sendiri yang membuat gadis cantik itu mengernyit geli lalu memutuskan untuk keluar kursus, hingga membawa masalahnya ini kepada dukun tersohor di sudut kampungnya. Tak hanya itu, sewaktu Ann berhasil menjadi kekasihnya, Garu berusaha mengklaim “kepemilikan tetap” dengan menjebak Ann di sebuah hotel murahan dan memaksanya melakukan persetubuhan. Alhasil, Garu mendapatkan keperawanan Ann yang amat berharga sekaligus menjadikan hubungannya kandas pula.

Ann mengumumkan kekecewaannya berikut keputusannya sehari setelah kejadian itu. Tubuh Garu langsung lingsut tanpa daya, padahal segala hal sudah ia lakukan demi Ann. Ia telah berhasil merangkak jauh lebih tinggi dari tempatnya sekarang, berhasil mendapatkan Ann dalam versi seutuhnya, dan kini ia malah meratapi nasibnya yang mengemis pengampunan dari Ann dan seluruh keluarga Nugroho.

Jadi, ingatlah semua pengorbanan yang aku lakukan untuk membuatmu tetap di sisiku dan mencegahmu keluar dari pintu.

Hari telah lingsir menuju bakda magrib, namun intensitas hujan tak turun juga. Hujan justru kian lebat menerjang tubuh ringkih Garu seperti amarah Ann yang ia rasakan. Sebuah raungan sirene ambulans yang mendekat kemudian membangkitkan kesadaran Garu. Ia melongok ke jalan dan mendapati sejumlah mobil polisi pun mengepungnya.

Garu lekas berdiri dan mengangkat kedua tangan tanda menyerahkan diri. Apa gunanya ia melanjutkan hidup apabila Ann tak lagi jatuh dalam pelukannya?

Tetapi alih-alih menangkap Garu, beberapa polisi itu malah menggeruduk kediaman keluarga Nugroho dan mulai membentangkan garis kuning di area tersebut. Pintu rumah akhirnya terbuka lebar, namun bukan untuk menoleransi kelakuan Garu. Dari dalam, Garu dapat menangkap ibu Ann tergugu histeris tatkala menyambut sejumlah orang turun dari ambulans dan menyurukkan brankar urgensi beroda. Hingga sosok yang berada di balik kain putih itu dibawa jeritan ambulans, hingga massa meriung di sekitarnya, Garu masih menatap nanar terlampau kosong. Ia memeras otaknya sekali lagi; bagaimana caranya mengembalikan Ann yang cantik dalam hidupnya? [T]

Penulis: Bella Paring Gusti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

Next Post

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Bella Paring Gusti

Bella Paring Gusti

Penulis lepas yang lahir di Bumi Bung Karno, Blitar. Ia gemar meramu novel, cerpen, dan esai, serta sudah mempublikasikan karya-karyanya di sejumlah platform daring dan media sastra online. Juga menggunakan nama pena: Glory Bella.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co