14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

Hartanto by Hartanto
August 13, 2026
in Ulas Rupa
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang.

Pameran digelar  di Balai Budaya Jakarta, Jln, Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng – Jakarta Pusat. Diikuti 7 perupa : Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, I Ketut Suwidiarta, I Gusti Nengah Nurata, I Wayan Santrayana, I Made Sutarjaya, dan I Wayan Gede Budayana.

Kali ini saya akan menekuni karya I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana. Kedua karya I Wayan Santrayana – HERO (2025) dan NGELAWANG (2025) – menawarkan dua wajah yang berbeda namun saling berpantulan dari ‘imajinasi visual’ Bali kontemporer. Satu bergerak ke arah ‘simbolik-abstrak’, yang lain ke arah ‘narasi ritual kolektif’.

Pada HERO, lukisan ini menghadirkan figur gajah putih sebagai ‘pusat komposisi’, dengan kain hias biru-merah di punggungnya. Gajah putih dalam tradisi Asia, khususnya di Bali dan India, sering diasosiasikan dengan “kekuatan spiritual, kesucian, dan kepemimpinan”.

Namun Santrayana tidak menempatkannya dalam ‘ruang mitologis’ yang murni – ia membenamkan figur itu dalam ‘pusaran abstraksi’ – lapisan warna biru, oranye, coklat, dan krem yang bertekstur tebal.

Abstraksi ini menciptakan “atmosfer yang ambigu” – antara medan perang, ‘lanskap kosmik’, dan ‘ruang batin’.

Dengan demikian, HERO bukan sekadar “representasi figurative”, melainkan ‘bagan visual’ tentang kepahlawanan yang rapuh – sang pahlawan hadir, tetapi dikelilingi oleh kekacauan, seolah-olah kepahlawanan itu sendiri harus diuji dalam pusaran krisis.

NGELAWANG berbeda dengan HERO, karya ini menyalakan energi kolektif. Ngelawang adalah tradisi ritual Bali yang melibatkan Barong berkeliling desa untuk menolak bala.

Santrayana menangkap momen itu dengan komposisi yang penuh gerak. Barong merah di pusat, dikelilingi penari dan figur manusia yang berputar dalam tarian.

Warna merah, biru, dan emas membentuk ritme visual yang menyerupai gamelan – berlapis, berulang, dan penuh intensitas. Lukisan ini bukan sekadar dokumentasi ritual, melainkan transformasi ‘energi komunal’ ke dalam bahasa lukisan.

Ia menegaskan bahwa seni bukan hanya tentang figur, melainkan tentang atmosfer spiritual yang mengikat masyarakat.

Jika HERO menekankan figur tunggal (pahlawan/gajah putih) dalam “pusaran abstraksi”, sehingga lebih bersifat “reflektif dan simbolik”. NGELAWANG menekankan energi kolektif, ritual, dan gerak sosial, sehingga lebih bersifat “naratif dan komunal”.

Keduanya sama-sama menggunakan warna vibran dan tekstur tebal, tetapi dengan orientasi berbeda – satu ke arah “mitologi personal”, satu ke arah “mitologi sosial”.

Jika dibaca bersama, keduanya seperti dua sisi dari narasi Bali kontemporer – kepahlawanan individu yang diuji dalam krisis (HERO) dan kekuatan kolektif yang menjaga keseimbangan kosmos (NGELAWANG).

Santrayana tampaknya sedang membangun bahasa visual yang menggabungkan abstraksi modern dengan simbolisme tradisi Bali.

Ia tidak sekadar melukis figur atau – ritual, tetapi mengolahnya menjadi ‘diagram kontemporer’ –  kepahlawanan dan komunalitas, individu dan kolektif, mitos dan krisis.

Dua karya ini, manakala dipamerkan bersama, membentuk narasi ganda – HERO menyingkap kepahlawanan individu yang rapuh, sementara NGELAWANG menyalakan kekuatan kolektif yang menjaga keseimbangan.

Santrayana memperlihatkan bagaimana Bali kontemporer tidak hanya hidup dalam tradisi, tetapi juga dalam abstraksi modern yang menantang. Pameran ini adalah undangan untuk merenung –  apakah kepahlawanan lahir dari individu yang diuji, atau dari komunitas yang menari bersama melawan krisis?

Santrayana tidak memberi jawaban pasti, tetapi menghadirkan ‘ruang visual’ di mana pertanyaan itu bergema. HERO dan NGELAWANG adalah dua wajah dari satu kosmos – individu dan kolektif, mitos dan ritual, krisis dan perayaan.

Dalam ketegangan itu, seni menjadi bahasa yang menyingkap luka sekaligus menyembuhkan, menjadi ‘diagram kontemporer’ yang menandai perjalanan Bali dalam dunia yang terus berubah.

Jika ditarik lebih jauh, karya Santrayana yang bertajuk  ‘hero’ juga bisa mengingatkan saya dengan karya Wu Guanzhong, pelukis Cina yang menggabungkan tradisi tinta dengan abstraksi modern.

Energi ritmis merah, biru, dan emas dalam karya Santrayana beresonansi dengan cara Wu Guanzhong mengolah lanskap dan gerak komunal ke dalam bahasa abstrak yang tetap berakar pada tradisi.

Tentang persamaan dan perbedaan karya I Wayan Santrayana “HERO” dan Wu Guanzhong “Elephant” dapat dibaca sebagai manifesto lintas Asia, di mana simbol gajah menjadi ‘poros imajinasi’ yang menyingkap “mitos, krisis, dan komunalitas”.

Gajah, dalam tradisi Asia, selalu hadir sebagai ‘figur ambivalen’ – ia adalah lambang kekuatan, kebijaksanaan, kesucian, sekaligus beban sejarah. Santrayana menghadirkan gajah putih tunggal dalam pusaran abstraksi akrilik yang tebal, seolah-olah kepahlawanan itu sendiri harus diuji dalam lanskap krisis.

Wu Guanzhong, sebaliknya, menampilkan parade gajah dalam sapuan tinta yang cair, penuh gerak, menghadirkan kebersamaan manusia dan hewan dalam ‘ritme sosial’ yang hangat.

Dua bahasa visual ini, meski berbeda medium dan tradisi, sama-sama menyalakan energi simbol yang melintasi batas budaya.

Persamaan mereka terletak pada keberanian mengolah tradisi ke dalam idiom modern. Santrayana mengakar pada mitologi Bali, Wu Guanzhong pada tradisi tinta Cina, tetapi keduanya menolak nostalgia.

Mereka menjadikan gajah bukan sekadar ikon masa lalu, melainkan ‘bagan kontemporer’. Santrayana menyingkap krisis ‘kepahlawanan individu’, Wu Guanzhong menyalakan ‘energi komunal’ yang hidup.

Dalam hal ini, keduanya berdialog tentang bagaimana Asia membaca dirinya sendiri di tengah dunia yang berubah.

Namun perbedaan mereka justru memperkaya “narasi lintas Asia”. Santrayana monumental, penuh ketegangan, menghadirkan gajah putih sebagai figur tunggal yang dikepung ‘pusaran abstraksi’.

Wu Guanzhong lebih cair, penuh ritme, menghadirkan gajah sebagai bagian dari ‘lanskap sosial’ yang bergerak bersama. Santrayana menekankan mitos dan krisis, Wu menekankan komunalitas dan keseharian. Santrayana menyalakan atmosfer spiritual yang rapuh, Wu menyalakan atmosfer sosial yang hangat.

Dibaca bersama, keduanya membentuk “manifesto visual” tentang Asia – bahwa mitos tidak pernah mati, tetapi selalu diuji dalam krisis – bahwa ‘komunalitas’ tidak pernah hilang, tetapi selalu hadir dalam ritme keseharian.

HERO dan Elephant adalah dua wajah dari satu kosmos: individu dan kolektif, krisis dan perayaan, monumental dan cair. Mereka memperlihatkan bahwa seni Asia kontemporer bukan sekadar lokal, melainkan bahasa global yang menyingkap luka sekaligus harapan.

Manifesto ini menegaskan bahwa simbol gajah, dari Bali hingga Cina, adalah “diagram lintas Budaya” yang memperlihatkan bagaimana Asia menulis dirinya sendiri – bukan sebagai ‘eksotika’, melainkan sebagai medan ‘refleksi kritis’.

Santrayana dan Wu Guanzhong, meski berbeda generasi dan tradisi, sama-sama menghadirkan seni sebagai “ritual visual” yang menyingkap paradox – kepahlawanan yang rapuh dan komunalitas yang hidup.

Dalam ketegangan itu, seni menjadi ‘bahasa yang melintasi batas’, menjadikan ‘mitos’ sebagai ‘cermin krisis”, dan “komunalitas sebagai perayaan kosmos”.

Selanjutnya  saya tekuni kedua karya I Wayan Gede Budayana – Amor Fati (2026) dan Chaos-Cosmos-Chaos (2026). Menurut saya, ini juga merupakan ‘diagram visual’ yang menyingkap pergulatan ‘eksistensial’ manusia Bali kontemporer, sekaligus bagian dari percakapan global tentang nasib, keteraturan, dan kekacauan.

Amor Fati menghadirkan ‘mosaik warna’ yang bingar – merah, oranye, ungu, biru, hijau, berpadu dalam pola geometris yang rumit, diselingi figur manusia dan hewan yang terjalin dalam jaringan simbol.

Kata-kata seperti “TERBANG MELAYANG,” “AMOR FATI,” “MASA DEPAN CERAH,” dan “BINGAR” bukan sekadar teks, melainkan ‘mantra visual’ yang mengikat ‘komposisi’.

Konsep Nietzschean “amor fati” – cinta pada takdir – diterjemahkan Budayana ke dalam bahasa lukisan yang penuh ‘vitalitas’, seolah-olah menerima nasib bukanlah pasrah, melainkan merayakan keberlimpahan warna dan bentuk. Lukisan ini menjadi pernyataan bahwa masa depan, meski tak pasti, dapat dicintai dengan keberanian ‘estetis’.

Sebaliknya, Chaos-Cosmos-Chaos “menyalakan energi” yang lebih gelap dan ‘reflektif’. Pola ‘geometris’ dan ‘figur simbolik’ tetap hadir, tetapi teks yang muncul – “DOMINASI KETAKUTAN,” “ERA YANG PERLU TIDAK APA APA DI JALANI SAJA” – menyingkap atmosfer krisis.

Lukisan ini adalah ‘bagan’ tentang siklus –  dari ‘chaos’ menuju ‘cosmos’, lalu kembali ke ‘chaos’. Budayana menegaskan bahwa keteraturan hanyalah jeda singkat dalam pusaran kekacauan, dan manusia harus belajar menari di antara keduanya.

Warna-warna yang bingar tetap hadir, tetapi kali ini lebih padat, lebih menekan, seolah-olah ‘kosmos’ itu sendiri adalah “ilusi yang rapuh”.

Persamaan keduanya terletak pada ‘bahasa visual’ –  pola mosaik yang rumit, warna vibran yang berlapis, teks yang menyatu dengan figur, dan komposisi yang padat hingga menyerupai mantra.

Budayana menjadikan lukisan sebagai ‘teks visual’, di mana kata-kata dan simbol tidak dipisahkan, melainkan saling mengikat.

Perbedaannya terletak pada orientasi filosofis. Amor Fati adalah perayaan, penerimaan nasib dengan cinta, sebuah optimisme yang bingar. Chaos-Cosmos-Chaos adalah peringatan, bahwa keteraturan hanyalah ilusi sementara, dan manusia hidup dalam siklus ketakutan dan kekacauan. Jika Amor Fati adalah “nyanyian kosmik”, maka Chaos-Cosmos-Chaos adalah “elegi kosmik”.

Dibaca bersama, keduanya membentuk narasi ganda tentang ‘eksistensi’ – menerima takdir dengan cinta, tetapi juga menyadari bahwa takdir itu sendiri adalah ‘siklus chaos’ yang tak pernah berhenti.

Budayana menghadirkan Bali sebagai “medan refleksi filosofis” yang mendunia, di mana seni bukan sekadar “dekorasi”, melainkan “diagram eksistensial” yang menyingkap “paradoks hidup”.

Kedua karya I Wayan Gede Budayana dapat dibaca sebagai ‘denah kontemporer’ yang menempatkan “teks”, “simbol”, dan “figure” dalam pusaran “abstraksi” warna yang bingar.

Budayana menjadikan kanvas sebagai ‘medan kosmik’ – penuh ‘lapisan geometris’, figur manusia dan hewan, serta serpihan kata yang “beresonansi dengan filsafat dan harapan”. Untuk memadankan dengan perupa dunia, kita dapat melihat beberapa garis “resonansi lintas Budaya”.

Amor Fati, dengan teks Nietzschean yang ditanamkan dalam pusaran warna dan simbol, berdekatan dengan praktik Jean-Michel Basquiat yang menggabungkan “kata”, “ikon”, dan “figure” dalam “komposisi” yang riuh, penuh “energi urban” sekaligus “mitologi pribadi”.

Budayana, seperti Basquiat, menjadikan “teks” bukan sekadar “caption”, melainkan bagian dari “tubuh lukisan”.

Persamaan dan perbedaan antara karya I Wayan Gede Budayana (Amor Fati dan Chaos-Cosmos-Chaos) dengan karya Jean-Michel Basquiat (Riddle Me This, Batman) dapat dibaca melalui cara mereka sama-sama menjadikan “teks sebagai tubuh visual”, namun dengan intensi dan konteks yang berbeda.

Mereka sama-sama menggunakan teks bukan sebagai penjelasan luar, melainkan “bagian integral” dari komposisi lukisan. Kata-kata menjadi “energi visual” yang menyatu dengan figur dan simbol.

Keduanya menghadirkan kanvas yang riuh, penuh lapisan warna, figur, dan ikonografi. Teks berfungsi sebagai “suara” yang menambah lapisan makna – seruan, fragmen filsafat, atau ‘sinikal’.

Ada nuansa performatif – teks seolah-olah berbicara langsung kepada penonton, mengganggu keteraturan visual dengan suara yang bingar.

Perbedaannya, Basquiat menanamkan teks dalam konteks urban, pop culture, dan kritik sosial. Kata-kata seperti “HA HA HA” atau “NOTHING TO BE GAINED HERE” beresonansi dengan dunia “grafiti, komik, dan kegelisahan identitas”. Teks adalah teriakan jalanan, penuh ironi dan humor gelap.

Budayana menanamkan teks dalam konteks “kosmologi” dan “filsafat”. Kata-kata seperti “AMOR FATI”, “MASA DEPAN CERAH”, atau “DOMINASI KETAKUTAN” berfungsi sebagai “mantra kontemporer”, “Jimat verbal” yang mengikat lukisan dengan “refleksi eksistensial” dan “spiritual”. Teks adalah “doa” sekaligus “kritik”, bukan sekadar “graffiti”. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Balai Budaya JakartaI Wayan Gede BudayanaI Wayan SantrayanaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Next Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co