3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

Hartanto by Hartanto
August 13, 2026
in Ulas Rupa
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang.

Pameran digelar  di Balai Budaya Jakarta, Jln, Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng – Jakarta Pusat. Diikuti 7 perupa : Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, I Ketut Suwidiarta, I Gusti Nengah Nurata, I Wayan Santrayana, I Made Sutarjaya, dan I Wayan Gede Budayana.

Kali ini saya akan menekuni karya I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana. Kedua karya I Wayan Santrayana – HERO (2025) dan NGELAWANG (2025) – menawarkan dua wajah yang berbeda namun saling berpantulan dari ‘imajinasi visual’ Bali kontemporer. Satu bergerak ke arah ‘simbolik-abstrak’, yang lain ke arah ‘narasi ritual kolektif’.

Pada HERO, lukisan ini menghadirkan figur gajah putih sebagai ‘pusat komposisi’, dengan kain hias biru-merah di punggungnya. Gajah putih dalam tradisi Asia, khususnya di Bali dan India, sering diasosiasikan dengan “kekuatan spiritual, kesucian, dan kepemimpinan”.

Namun Santrayana tidak menempatkannya dalam ‘ruang mitologis’ yang murni – ia membenamkan figur itu dalam ‘pusaran abstraksi’ – lapisan warna biru, oranye, coklat, dan krem yang bertekstur tebal.

Abstraksi ini menciptakan “atmosfer yang ambigu” – antara medan perang, ‘lanskap kosmik’, dan ‘ruang batin’.

Dengan demikian, HERO bukan sekadar “representasi figurative”, melainkan ‘bagan visual’ tentang kepahlawanan yang rapuh – sang pahlawan hadir, tetapi dikelilingi oleh kekacauan, seolah-olah kepahlawanan itu sendiri harus diuji dalam pusaran krisis.

NGELAWANG berbeda dengan HERO, karya ini menyalakan energi kolektif. Ngelawang adalah tradisi ritual Bali yang melibatkan Barong berkeliling desa untuk menolak bala.

Santrayana menangkap momen itu dengan komposisi yang penuh gerak. Barong merah di pusat, dikelilingi penari dan figur manusia yang berputar dalam tarian.

Warna merah, biru, dan emas membentuk ritme visual yang menyerupai gamelan – berlapis, berulang, dan penuh intensitas. Lukisan ini bukan sekadar dokumentasi ritual, melainkan transformasi ‘energi komunal’ ke dalam bahasa lukisan.

Ia menegaskan bahwa seni bukan hanya tentang figur, melainkan tentang atmosfer spiritual yang mengikat masyarakat.

Jika HERO menekankan figur tunggal (pahlawan/gajah putih) dalam “pusaran abstraksi”, sehingga lebih bersifat “reflektif dan simbolik”. NGELAWANG menekankan energi kolektif, ritual, dan gerak sosial, sehingga lebih bersifat “naratif dan komunal”.

Keduanya sama-sama menggunakan warna vibran dan tekstur tebal, tetapi dengan orientasi berbeda – satu ke arah “mitologi personal”, satu ke arah “mitologi sosial”.

Jika dibaca bersama, keduanya seperti dua sisi dari narasi Bali kontemporer – kepahlawanan individu yang diuji dalam krisis (HERO) dan kekuatan kolektif yang menjaga keseimbangan kosmos (NGELAWANG).

Santrayana tampaknya sedang membangun bahasa visual yang menggabungkan abstraksi modern dengan simbolisme tradisi Bali.

Ia tidak sekadar melukis figur atau – ritual, tetapi mengolahnya menjadi ‘diagram kontemporer’ –  kepahlawanan dan komunalitas, individu dan kolektif, mitos dan krisis.

Dua karya ini, manakala dipamerkan bersama, membentuk narasi ganda – HERO menyingkap kepahlawanan individu yang rapuh, sementara NGELAWANG menyalakan kekuatan kolektif yang menjaga keseimbangan.

Santrayana memperlihatkan bagaimana Bali kontemporer tidak hanya hidup dalam tradisi, tetapi juga dalam abstraksi modern yang menantang. Pameran ini adalah undangan untuk merenung –  apakah kepahlawanan lahir dari individu yang diuji, atau dari komunitas yang menari bersama melawan krisis?

Santrayana tidak memberi jawaban pasti, tetapi menghadirkan ‘ruang visual’ di mana pertanyaan itu bergema. HERO dan NGELAWANG adalah dua wajah dari satu kosmos – individu dan kolektif, mitos dan ritual, krisis dan perayaan.

Dalam ketegangan itu, seni menjadi bahasa yang menyingkap luka sekaligus menyembuhkan, menjadi ‘diagram kontemporer’ yang menandai perjalanan Bali dalam dunia yang terus berubah.

Jika ditarik lebih jauh, karya Santrayana yang bertajuk  ‘hero’ juga bisa mengingatkan saya dengan karya Wu Guanzhong, pelukis Cina yang menggabungkan tradisi tinta dengan abstraksi modern.

Energi ritmis merah, biru, dan emas dalam karya Santrayana beresonansi dengan cara Wu Guanzhong mengolah lanskap dan gerak komunal ke dalam bahasa abstrak yang tetap berakar pada tradisi.

Tentang persamaan dan perbedaan karya I Wayan Santrayana “HERO” dan Wu Guanzhong “Elephant” dapat dibaca sebagai manifesto lintas Asia, di mana simbol gajah menjadi ‘poros imajinasi’ yang menyingkap “mitos, krisis, dan komunalitas”.

Gajah, dalam tradisi Asia, selalu hadir sebagai ‘figur ambivalen’ – ia adalah lambang kekuatan, kebijaksanaan, kesucian, sekaligus beban sejarah. Santrayana menghadirkan gajah putih tunggal dalam pusaran abstraksi akrilik yang tebal, seolah-olah kepahlawanan itu sendiri harus diuji dalam lanskap krisis.

Wu Guanzhong, sebaliknya, menampilkan parade gajah dalam sapuan tinta yang cair, penuh gerak, menghadirkan kebersamaan manusia dan hewan dalam ‘ritme sosial’ yang hangat.

Dua bahasa visual ini, meski berbeda medium dan tradisi, sama-sama menyalakan energi simbol yang melintasi batas budaya.

Persamaan mereka terletak pada keberanian mengolah tradisi ke dalam idiom modern. Santrayana mengakar pada mitologi Bali, Wu Guanzhong pada tradisi tinta Cina, tetapi keduanya menolak nostalgia.

Mereka menjadikan gajah bukan sekadar ikon masa lalu, melainkan ‘bagan kontemporer’. Santrayana menyingkap krisis ‘kepahlawanan individu’, Wu Guanzhong menyalakan ‘energi komunal’ yang hidup.

Dalam hal ini, keduanya berdialog tentang bagaimana Asia membaca dirinya sendiri di tengah dunia yang berubah.

Namun perbedaan mereka justru memperkaya “narasi lintas Asia”. Santrayana monumental, penuh ketegangan, menghadirkan gajah putih sebagai figur tunggal yang dikepung ‘pusaran abstraksi’.

Wu Guanzhong lebih cair, penuh ritme, menghadirkan gajah sebagai bagian dari ‘lanskap sosial’ yang bergerak bersama. Santrayana menekankan mitos dan krisis, Wu menekankan komunalitas dan keseharian. Santrayana menyalakan atmosfer spiritual yang rapuh, Wu menyalakan atmosfer sosial yang hangat.

Dibaca bersama, keduanya membentuk “manifesto visual” tentang Asia – bahwa mitos tidak pernah mati, tetapi selalu diuji dalam krisis – bahwa ‘komunalitas’ tidak pernah hilang, tetapi selalu hadir dalam ritme keseharian.

HERO dan Elephant adalah dua wajah dari satu kosmos: individu dan kolektif, krisis dan perayaan, monumental dan cair. Mereka memperlihatkan bahwa seni Asia kontemporer bukan sekadar lokal, melainkan bahasa global yang menyingkap luka sekaligus harapan.

Manifesto ini menegaskan bahwa simbol gajah, dari Bali hingga Cina, adalah “diagram lintas Budaya” yang memperlihatkan bagaimana Asia menulis dirinya sendiri – bukan sebagai ‘eksotika’, melainkan sebagai medan ‘refleksi kritis’.

Santrayana dan Wu Guanzhong, meski berbeda generasi dan tradisi, sama-sama menghadirkan seni sebagai “ritual visual” yang menyingkap paradox – kepahlawanan yang rapuh dan komunalitas yang hidup.

Dalam ketegangan itu, seni menjadi ‘bahasa yang melintasi batas’, menjadikan ‘mitos’ sebagai ‘cermin krisis”, dan “komunalitas sebagai perayaan kosmos”.

Selanjutnya  saya tekuni kedua karya I Wayan Gede Budayana – Amor Fati (2026) dan Chaos-Cosmos-Chaos (2026). Menurut saya, ini juga merupakan ‘diagram visual’ yang menyingkap pergulatan ‘eksistensial’ manusia Bali kontemporer, sekaligus bagian dari percakapan global tentang nasib, keteraturan, dan kekacauan.

Amor Fati menghadirkan ‘mosaik warna’ yang bingar – merah, oranye, ungu, biru, hijau, berpadu dalam pola geometris yang rumit, diselingi figur manusia dan hewan yang terjalin dalam jaringan simbol.

Kata-kata seperti “TERBANG MELAYANG,” “AMOR FATI,” “MASA DEPAN CERAH,” dan “BINGAR” bukan sekadar teks, melainkan ‘mantra visual’ yang mengikat ‘komposisi’.

Konsep Nietzschean “amor fati” – cinta pada takdir – diterjemahkan Budayana ke dalam bahasa lukisan yang penuh ‘vitalitas’, seolah-olah menerima nasib bukanlah pasrah, melainkan merayakan keberlimpahan warna dan bentuk. Lukisan ini menjadi pernyataan bahwa masa depan, meski tak pasti, dapat dicintai dengan keberanian ‘estetis’.

Sebaliknya, Chaos-Cosmos-Chaos “menyalakan energi” yang lebih gelap dan ‘reflektif’. Pola ‘geometris’ dan ‘figur simbolik’ tetap hadir, tetapi teks yang muncul – “DOMINASI KETAKUTAN,” “ERA YANG PERLU TIDAK APA APA DI JALANI SAJA” – menyingkap atmosfer krisis.

Lukisan ini adalah ‘bagan’ tentang siklus –  dari ‘chaos’ menuju ‘cosmos’, lalu kembali ke ‘chaos’. Budayana menegaskan bahwa keteraturan hanyalah jeda singkat dalam pusaran kekacauan, dan manusia harus belajar menari di antara keduanya.

Warna-warna yang bingar tetap hadir, tetapi kali ini lebih padat, lebih menekan, seolah-olah ‘kosmos’ itu sendiri adalah “ilusi yang rapuh”.

Persamaan keduanya terletak pada ‘bahasa visual’ –  pola mosaik yang rumit, warna vibran yang berlapis, teks yang menyatu dengan figur, dan komposisi yang padat hingga menyerupai mantra.

Budayana menjadikan lukisan sebagai ‘teks visual’, di mana kata-kata dan simbol tidak dipisahkan, melainkan saling mengikat.

Perbedaannya terletak pada orientasi filosofis. Amor Fati adalah perayaan, penerimaan nasib dengan cinta, sebuah optimisme yang bingar. Chaos-Cosmos-Chaos adalah peringatan, bahwa keteraturan hanyalah ilusi sementara, dan manusia hidup dalam siklus ketakutan dan kekacauan. Jika Amor Fati adalah “nyanyian kosmik”, maka Chaos-Cosmos-Chaos adalah “elegi kosmik”.

Dibaca bersama, keduanya membentuk narasi ganda tentang ‘eksistensi’ – menerima takdir dengan cinta, tetapi juga menyadari bahwa takdir itu sendiri adalah ‘siklus chaos’ yang tak pernah berhenti.

Budayana menghadirkan Bali sebagai “medan refleksi filosofis” yang mendunia, di mana seni bukan sekadar “dekorasi”, melainkan “diagram eksistensial” yang menyingkap “paradoks hidup”.

Kedua karya I Wayan Gede Budayana dapat dibaca sebagai ‘denah kontemporer’ yang menempatkan “teks”, “simbol”, dan “figure” dalam pusaran “abstraksi” warna yang bingar.

Budayana menjadikan kanvas sebagai ‘medan kosmik’ – penuh ‘lapisan geometris’, figur manusia dan hewan, serta serpihan kata yang “beresonansi dengan filsafat dan harapan”. Untuk memadankan dengan perupa dunia, kita dapat melihat beberapa garis “resonansi lintas Budaya”.

Amor Fati, dengan teks Nietzschean yang ditanamkan dalam pusaran warna dan simbol, berdekatan dengan praktik Jean-Michel Basquiat yang menggabungkan “kata”, “ikon”, dan “figure” dalam “komposisi” yang riuh, penuh “energi urban” sekaligus “mitologi pribadi”.

Budayana, seperti Basquiat, menjadikan “teks” bukan sekadar “caption”, melainkan bagian dari “tubuh lukisan”.

Persamaan dan perbedaan antara karya I Wayan Gede Budayana (Amor Fati dan Chaos-Cosmos-Chaos) dengan karya Jean-Michel Basquiat (Riddle Me This, Batman) dapat dibaca melalui cara mereka sama-sama menjadikan “teks sebagai tubuh visual”, namun dengan intensi dan konteks yang berbeda.

Mereka sama-sama menggunakan teks bukan sebagai penjelasan luar, melainkan “bagian integral” dari komposisi lukisan. Kata-kata menjadi “energi visual” yang menyatu dengan figur dan simbol.

Keduanya menghadirkan kanvas yang riuh, penuh lapisan warna, figur, dan ikonografi. Teks berfungsi sebagai “suara” yang menambah lapisan makna – seruan, fragmen filsafat, atau ‘sinikal’.

Ada nuansa performatif – teks seolah-olah berbicara langsung kepada penonton, mengganggu keteraturan visual dengan suara yang bingar.

Perbedaannya, Basquiat menanamkan teks dalam konteks urban, pop culture, dan kritik sosial. Kata-kata seperti “HA HA HA” atau “NOTHING TO BE GAINED HERE” beresonansi dengan dunia “grafiti, komik, dan kegelisahan identitas”. Teks adalah teriakan jalanan, penuh ironi dan humor gelap.

Budayana menanamkan teks dalam konteks “kosmologi” dan “filsafat”. Kata-kata seperti “AMOR FATI”, “MASA DEPAN CERAH”, atau “DOMINASI KETAKUTAN” berfungsi sebagai “mantra kontemporer”, “Jimat verbal” yang mengikat lukisan dengan “refleksi eksistensial” dan “spiritual”. Teks adalah “doa” sekaligus “kritik”, bukan sekadar “graffiti”. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Balai Budaya JakartaI Wayan Gede BudayanaI Wayan SantrayanaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Next Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co