SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang tunggu, menanti pemeriksaan, konsultasi dokter, atau giliran mendapatkan pengobatan. Di sana saya bertemu banyak orang yang tidak saya kenal, tetapi kami seperti berada dalam keadaan yang sama, sama-sama berhadapan dengan sesuatu yang belum diketahui.
Pasien duduk di kursi roda, sebagian terbaring di bed yang ditempatkan di lorong. Keluarga berada di dekat mereka. Wajah cemas, lelah, tegang, dan sedih lebih mudah ditemukan daripada wajah yang sedang tertawa. Saya tidak tahu penyakit apa yang mereka bawa atau sudah berapa lama mereka menjalani pengobatan. Saya juga tidak ingin membandingkan penyakit saya dengan penyakit orang lain. Sakit bukan perlombaan.
Duduk di antara mereka membuat perhatian saya bergeser dari penyakit kepada manusia. Saya memperhatikan seorang ibu merapikan pakaian anaknya, seorang laki-laki membantu istrinya berdiri, dan tangan seorang perempuan menggenggam tangan orang tua yang terbaring. Bekal makanan dikeluarkan dari tas, telepon diperiksa, sementara sebagian orang tertidur karena lelah.
Hal-hal kecil seperti itu kemudian mengingatkan saya pada sebuah ungkapan yang saya kenal dalam kebudayaan Bali, suka-duka-lara-pati. Empat kata yang terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan semakin terasa luas. Suka menunjuk pada kesenangan atau kebahagiaan, duka pada kesedihan, lara pada sakit atau penderitaan, sedangkan pati berarti kematian.
Suka dan duka relatif mudah dikenali. Kehidupan mempertemukan kita dengan keduanya melalui kelahiran, pertemuan, kehilangan, perpisahan, keberhasilan, dan kegagalan. Lara terasa sedikit berbeda karena ia dapat menetap di tubuh. Ia membuat seseorang menyadari bahwa tubuh yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki batas.
Ketika tubuh sakit, ukuran berbagai hal ikut berubah. Pekerjaan dapat ditunda, perjalanan dibatalkan, dan rencana menjadi lebih sederhana. Hari-hari mulai dihitung berdasarkan jadwal pemeriksaan, hasil laboratorium, obat, atau kunjungan ke rumah sakit. Pertanyaan tentang tubuh yang sebelumnya tidak pernah muncul tiba-tiba menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagaimana hasil pemeriksaan berikutnya? Bagaimana tubuh menerima pengobatan? Apakah keadaan akan membaik? Tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban segera. Ketidakpastian menjadi bagian dari pengalaman sakit. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghadapinya. Ada yang banyak berbicara, ada yang diam, ada yang berdoa, ada pula yang memilih tetap menjalani rutinitas sebisa mungkin.
Rumah sakit akhirnya terasa bukan hanya sebagai tempat mengobati penyakit. Ia menjadi ruang sosial tempat manusia memperlihatkan sisi dirinya yang paling rapuh. Tubuh yang biasanya tersembunyi di balik pekerjaan dan kesibukan sehari-hari menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Penyakit membuat manusia terlihat sebagai tubuh yang membutuhkan pertolongan, bukan sekadar jabatan, pekerjaan, gelar, atau status sosial.
Di ruang tunggu, jarak sosial yang biasanya terasa penting menjadi lebih tipis. Orang duduk berdampingan tanpa perlu mengetahui siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling tidak dikenal. Untuk beberapa waktu, kami hanya menjadi orang-orang yang sedang berhadapan dengan kerentanan tubuh masing-masing.
Antropologi budaya membantu kita memahami bahwa manusia tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu menjadi bagian dari keluarga, komunitas, sistem kepercayaan, bahasa, dan kebiasaan yang membentuk cara hidupnya. Karena itu, sakit juga tidak sepenuhnya menjadi urusan tubuh seseorang. Ketika seseorang jatuh sakit, keluarga ikut menyesuaikan diri.
Jadwal berubah, pekerjaan terganggu, pengeluaran bertambah, perhatian beralih kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Tubuh pasien memang yang merasakan penyakit, tetapi dampaknya dapat menjalar kepada orang-orang di sekelilingnya. Seseorang mungkin terbaring di bed, sementara orang lain mengurus administrasi, membeli obat, mencari makanan, berbicara dengan dokter, atau sekadar duduk di sampingnya.
Secara biologis, penyakit berlangsung di dalam tubuh. Ada sel yang berubah, organ yang terganggu, infeksi, peradangan, atau proses lain yang dapat dipelajari melalui ilmu kedokteran. Tetapi manusia tidak mengalami penyakit hanya sebagai proses biologis. Ia memberi nama, merasa takut, mencari pengobatan, meminta bantuan, berharap, berdoa, dan mencoba memahami perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Penyakit masuk ke dalam kebudayaan melalui bahasa. Kata kanker dapat menimbulkan ketakutan sebelum seseorang memahami apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Begitu pula kemoterapi atau rumah sakit. Masing-masing membawa bayangan dan pengalaman yang berbeda. Bagi seseorang, rumah sakit mungkin menjadi tempat kesembuhan, sementara bagi orang lain ia mengingatkan pada kehilangan.
Saya memahami perbedaan itu setelah menjadi pasien. Sebelumnya saya lebih sering melihat penyakit dari luar. Kini saya mengalaminya dari dalam. Dokter membaca hasil pemeriksaan, pasien merasakan tubuhnya, keluarga melihat perubahan kebiasaan, sedangkan rumah sakit melihat antrean dan prosedur. Masing-masing memiliki sudut pandang sendiri terhadap sesuatu yang sama.
Dalam kebudayaan Bali, pengalaman sakit dan kematian juga tidak berdiri di luar hubungan sosial. Keluarga, kerabat, banjar, dan lingkungan sekitar dapat ikut mengambil bagian dalam berbagai keadaan yang dialami seseorang. Ungkapan suka duka sendiri menunjukkan bahwa kehidupan tidak sepenuhnya dijalani secara individual. Kebahagiaan dan kesedihan mempunyai ruang sosial.
Karena itu, saya mulai membaca suka-duka-lara-pati bukan sekadar sebagai empat keadaan manusia, tetapi sebagai pengalaman yang membutuhkan cara berbeda untuk dijalani bersama. Suka dapat dirayakan, duka membutuhkan kehadiran, lara membutuhkan perawatan, sedangkan pati membutuhkan pengantaran dan ingatan.
Saya melihat semua itu di rumah sakit. Seorang anak menyuapi ibunya. Seorang suami mendorong kursi roda istrinya. Seorang saudara membawakan air minum. Seseorang duduk berjam-jam di samping pasien. Tidak ada yang terlihat heroik dari semua itu, tetapi kehidupan manusia sering kali ditopang oleh tindakan kecil yang dilakukan tanpa banyak bicara.
Saya kemudian mencari kembali jejak ungkapan suka-duka-lara-pati. Dalam Geguritan Tamtam terdapat larik “catur bekel titiang pasti, suka duka lara pati”. Larik tersebut tercatat dalam Buku dan Modul Kasusastraan Bali yang diterbitkan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia sebagai bagian dari teks Geguritan Tamtam. Saya memandangnya sebagai dokumentasi kesusastraan, bukan bukti bahwa ungkapan tersebut merupakan kutipan kitab suci.
Dua kata yang menarik perhatian saya adalah catur bekel. Empat bekal. Bekal biasanya kita siapkan sebelum melakukan perjalanan. Makanan, uang, pakaian, obat, atau barang lain dimasukkan ke dalam tas karena mungkin diperlukan. Namun dalam geguritan tersebut, bekal yang disebut bukan benda. Bekalnya adalah pengalaman yang akan ditemui manusia sepanjang perjalanan hidup.
Suka, duka, lara, pati. Empat kata itu membuat saya memikirkan cara manusia mempersiapkan kehidupan. Kita menyiapkan pendidikan, pekerjaan, tabungan, rumah, bahkan rencana masa depan. Namun hampir tidak ada orang yang memasukkan sakit ke dalam daftar persiapan hidup. Tidak ada yang memasukkan kanker ke dalam rencana.
Penyakit datang sebagai sesuatu yang harus dihadapi setelah ia hadir. Di situlah kata bekal memperoleh makna lain. Bekal tidak selalu berarti sesuatu yang kita pilih. Ia bisa menjadi sesuatu yang harus kita pikul ketika perjalanan berubah arah, sesuatu yang baru dipahami setelah kita benar-benar berada di tengah perjalanan.
Saya sedang memikul lara. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memiliki arti berbeda ketika seseorang benar-benar sedang sakit. Saya tidak menganggap kanker sebagai hadiah. Saya juga tidak ingin membuat penderitaan terdengar indah. Sakit membawa rasa takut, kelelahan, biaya, ketidakpastian, dan banyak hal yang tidak mudah. Menerima kenyataan tidak sama dengan menyerah.
Menerima berarti mengakui bahwa sesuatu sedang terjadi. Setelah itu manusia masih bisa berusaha, berobat, berkonsultasi, mengikuti anjuran dokter, menjaga tubuh, mencari dukungan, menulis, berdoa, dan beristirahat. Tidak semua hal dapat dipaksa bergerak sesuai keinginan manusia. Tubuh mempunyai prosesnya sendiri.
Penyakit membuat kita berhadapan dengan waktu yang tidak dapat dipercepat. Kita bisa mempercepat kendaraan, mengirim pesan dalam hitungan detik, dan mendapatkan informasi dengan segera. Tubuh tidak bekerja seperti itu. Penyembuhan mempunyai prosesnya sendiri. Kita hanya bisa menjalaninya sedikit demi sedikit sambil berharap keadaan bergerak ke arah yang lebih baik.
Dalam keadaan seperti itu, keluarga menjadi penting. Mereka ikut menjalani waktu yang lambat. Mereka duduk di kursi, bangun ketika nama pasien dipanggil, membeli makanan, bertanya kepada dokter, lalu mengantar pulang. Banyak pekerjaan cinta yang tidak disebut sebagai pekerjaan, padahal dilakukan berulang kali.
Mendorong kursi roda adalah pekerjaan cinta. Mengantar seseorang ke rumah sakit juga pekerjaan cinta. Bahkan duduk diam di samping pasien dapat menjadi bentuk cinta. Di rumah sakit, cinta sering kali tidak hadir dalam kalimat besar, melainkan melalui tindakan sederhana ketika seseorang sedang sangat membutuhkan.
Pengalaman sakit juga membuat saya lebih berhati-hati melihat penderitaan orang lain. Saya melihat pasien yang datang sendirian dan tidak tahu apa yang terjadi dalam kehidupannya. Saya melihat seseorang menangis, tetapi tidak tahu apa yang baru saja ia dengar. Wajah seseorang tidak selalu menjelaskan seluruh isi pikirannya.
Kesadaran itu penting karena kita selalu melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Seseorang yang tersenyum belum tentu tidak takut. Orang yang banyak bercanda mungkin sedang menyembunyikan kecemasan. Mereka yang diam belum tentu menyerah. Bisa jadi mereka sedang mengumpulkan tenaga untuk menjalani hari.
Pada titik itu, suka-duka-lara-pati terasa seperti konsep sederhana yang memberi bahasa kepada pengalaman manusia yang rumit. Antropologi tidak hanya bertanya apa arti sebuah konsep, tetapi juga bagaimana konsep itu hidup dalam masyarakat. Bahasa, ritual, kebiasaan, hubungan keluarga, dan tindakan sehari-hari membuat sebuah gagasan tetap hidup.
Suka tidak hanya berarti bahagia. Ia dapat hadir dalam keluarga yang berkumpul setelah kabar baik. Duka bukan sekadar kesedihan pribadi. Ia dapat membuat orang lain datang. Lara bukan hanya rasa sakit dalam tubuh. Ia dapat mengubah hubungan pasien dengan keluarga. Pati bukan sekadar akhir biologis. Ia berhubungan dengan ingatan, ritual, keluarga, dan cara orang yang ditinggalkan melanjutkan kehidupan.
Dalam kebudayaan Bali, orang yang telah meninggal tetap dapat hadir melalui ingatan, ritual, nama, cerita keluarga, dan berbagai bentuk penghormatan. Tubuh memang berhenti, tetapi hubungan sosial dan kebudayaan dapat terus bekerja. Pati dengan demikian bukan sekadar kata terakhir. Ia justru membuat tiga kata sebelumnya terasa lebih berarti.
Kesadaran tentang kematian juga dapat membuat seseorang lebih memperhatikan kehidupan yang sedang dijalani. Suka berharga karena tidak berlangsung selamanya. Duka dapat berubah. Lara memiliki batas. Kehidupan menjadi sesuatu yang perlu dijalani justru karena suatu hari akan berakhir.
Saya sendiri masih menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Ada hari ketika merasa kuat, ada hari ketika rasa takut datang lebih dekat. Ada waktu ketika saya dapat menulis seperti biasa, ada pula saat tubuh meminta berhenti. Manusia ternyata tidak selalu konsisten dengan perasaannya sendiri.
Saya tidak tahu apakah pengalaman sakit akan membuat saya menjadi manusia yang lebih baik. Saya juga tidak ingin menjadikan penyakit sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Sakit tetap sakit. Pengobatan tetap memiliki konsekuensi. Tidak semua pengalaman pahit harus dipaksa menjadi pelajaran yang indah.
Namun pengalaman itu telah membuat saya melihat kehidupan dengan jarak yang berbeda. Saya memperhatikan tangan yang menggenggam tangan pasien, keluarga yang tertidur di kursi, seseorang yang datang sendirian, dan pasien yang masih sempat tersenyum kepada orang lain meskipun mungkin sedang menahan sakit.
Hal-hal kecil itu membuat saya berpikir bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya sendirian ketika menghadapi kehidupan. Bahkan ketika sakit terasa sangat pribadi, selalu ada orang lain yang ikut masuk ke dalam ruang pengalaman tersebut. Mereka mungkin tidak dapat mengambil penyakit dari tubuh kita, tetapi kehadiran mereka membuat perjalanan terasa berbeda.
Mungkin di situlah kebudayaan bekerja. Ia tidak selalu mampu menghapus penderitaan, tetapi memberikan cara kepada manusia untuk menjalaninya. Ia menyediakan bahasa, hubungan sosial, ritual, dan kebiasaan yang membuat seseorang tidak sepenuhnya sendirian ketika keadaan menjadi sulit.
Saya kembali memikirkan empat kata tadi. Suka. Duka. Lara. Pati. Empat kata yang mungkin terlihat seperti urutan, tetapi kehidupan tidak selalu berjalan serapi itu. Kita bisa tertawa ketika sedang membawa kesedihan. Kita bisa merasa takut sambil tetap berharap. Kita dapat sakit tetapi masih membuat rencana untuk esok. Kita tahu hidup memiliki batas, tetapi tetap ingin menikmati hari yang sedang dijalani.
Manusia memang tidak sesederhana konsep yang dibuatnya sendiri. Kita dapat menerima keadaan sambil berharap keadaan berubah. Kita dapat takut pada kematian sambil mencintai kehidupan. Kerumitan itulah yang membuat manusia terus mencari bahasa untuk memahami dirinya sendiri.
Barangkali suka-duka-lara-pati menarik untuk terus dipikirkan karena ia tidak memberikan jawaban atas kehidupan. Ia hanya mengingatkan bahwa kehidupan terdiri atas banyak keadaan yang tidak selalu bisa kita pilih. Yang masih berada dalam pilihan kita adalah cara memperlakukan orang lain ketika mereka sedang membawa bekalnya masing-masing.
Ketika seseorang sedang suka, kita bisa ikut bergembira. Ketika seseorang sedang duka, kita bisa hadir. Ketika seseorang sedang lara, kita bisa merawat. Ketika pati datang, kita bisa mengantarkan dan mengingat. Empat pengalaman itu mungkin tidak dapat kita hindari, tetapi manusia masih dapat memilih bagaimana bersikap ketika menghadapinya.
Saya kembali memikirkan orang-orang di ruang tunggu rumah sakit. Pasien di kursi roda, tubuh yang terbaring di bed, keluarga yang berada di samping mereka, wajah yang cemas, lelah, dan masih mencoba tersenyum. Saya tidak mengetahui cerita mereka. Saya hanya tahu bahwa untuk beberapa waktu kami berada di tempat yang sama.
Pengalaman sakit membuat saya melihat waktu dengan lebih pelan dan memperhatikan orang lain dengan lebih hati-hati. Saya mulai memahami bahwa sehat bukan sesuatu yang seharusnya dianggap sebagai jaminan selamanya. Saya juga memahami bahwa manusia tidak hanya membutuhkan obat ketika tubuhnya sakit. Ia membutuhkan kehadiran.
Barangkali karena itu, ketika mengingat suka-duka-lara-pati, saya tidak lagi melihatnya sebagai empat kata yang bergerak menuju akhir. Saya melihatnya sebagai empat pengalaman yang membuat manusia saling membutuhkan. Kehidupan bukan hanya perjalanan pribadi, tetapi juga perjalanan yang sesekali mempertemukan kita dengan orang lain.
Untuk sekarang, saya masih berada di ruang tunggu. Masih menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Masih menulis. Di luar rumah sakit, kehidupan terus bergerak. Orang bekerja, anak-anak berangkat sekolah, warung membuka pintu, orang menikah, orang tertawa, dan orang membuat rencana.
Di satu tempat seseorang sedang mengalami suka. Di tempat lain seseorang sedang membawa duka. Di sebuah kamar seseorang menghadapi lara. Di tempat lain sebuah keluarga sedang belajar menerima pati. Keempatnya berlangsung bersamaan, sering kali tanpa kita sadari.
Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan akan membawa kita ke salah satunya. Saya sendiri sedang belajar membawa lara. Bukan untuk menjadikannya identitas, bukan pula untuk menganggapnya sebagai akhir. Hanya sebagai salah satu bagian dari perjalanan yang sedang saya jalani, seperti manusia lain yang juga membawa bekalnya masing-masing. Selama masih bisa berbicara, menulis, melihat manusia lain, dan merasakan kehidupan di sekitar, mungkin perjalanan itu belum selesai. Suka-duka-lara-pati. Empat bekal yang mungkin dipikul manusia sepanjang hidupnya. Tugas kita mungkin bukan menghindari semuanya, melainkan belajar memikulnya sambil sesekali membantu orang lain membawa bebannya. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole































