MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara kami, sembilan relawan yang sejak pukul tujuh telah tiba membelah lautan dari Pulau Tidung dan menangalkan identitas Jakarta mulai dilanda kecemasan. Di hadapan kami, sebuah bangunan megah tiga lantai berdiri gagah. Namun, pintu-pintu kelasnya masih tertutup rapat dan suasana sekitarnya terasa sunyi menusuk.
“Jam berapa sekarang, Kak?” bisik Alvi, salah satu rekan relawan, sambil berkali-kali melirik jam tangannya. “Harusnya kegiatan sudah dimulai jam delapan. Apa mereka lupa kalau ada kunjungan kita hari ini?”
“Nggak mungkin lupa,” sahutku menenangkan, walau dadaku sendiri berdebar kencang. “Mungkin ada kendala di jalan. Tapi… ini kan sekolah tiga lantai, kok sepi banget ya?”
Sekolah megah ini rupanya hanya diisi oleh 17 siswa dan 8 guru. Hari ini, kami dijadwalkan mengisi kelas khusus untuk 12 anak SD. Rasa cemas kian menggerogoti pikiran kami. Sejak subuh tadi, angin barat memang berembus kencang menyeret gelombang tinggi. Apakah ada musibah yang terjadi di tengah lautan?
Tiba-tiba, suara raungan mesin kapal kayu samar-samar memecah deru ombak dari arah pantai. “Itu ada kapal datang!” teriak salah satu relawan. Tanpa berpikir panjang, kami semua mengalihkan pandangan menuju dermaga kayu.
Sebuah kapal kayu tua tampak terombang-ambing sebelum akhirnya bersandar dengan oleng. Dari lambungnya, turun para guru dan anak-anak sekolah dasar dengan kondisi yang memprihatinkan. Pakaian seragam mereka basah, tubuh-tubuh kecil itu gemetaran, dan wajah-wajah polos mereka tampak pucat.
“Pak Rahmat! Apa yang terjadi?” tanyaku panik sambil membantu seorang anak melangkah keluar dari kapal.
Seorang guru paruh baya mengusap sisa air garam di wajahnya. Ia berusaha menyunggingkan senyum meski bibirnya membiru menahan dingin. “Maafkan kami ya, Kak, membuat kalian menunggu lama. Di tengah lautan tadi ombaknya mengamuk sampai mesin kapal kami mati. Hampir dua jam kami terombang-ambing di laut lepas.”
“Ya Tuhan… Kenapa nggak dibatalkan saja kalau cuacanya seberbahaya ini, Pak?” tanyaku prihatin.
Pak Rahmat menggeleng pelan lalu merangkul pundak salah satu muridnya. “Ombak boleh jahat, Kak, tapi kami tidak boleh menyerah. Anak-anak ini sudah berdandan rapi dari subuh, sudah tidak sabar ingin bertemu dan belajar dengan kakak-kakak relawan dari Jakarta.”
Rasa haru seketika meruntuhkan seluruh rasa cemas kami. Tak butuh waktu lama, 12 anak SD itu sudah duduk rapi di dalam ruang kelas. Walau baju seragam yang menempel di badan masih terasa lembap, binar di mata mereka memancarkan antusiasme yang hangat.
Kami pun mulai mengenalkan beragam profesi. Ruang kelas yang tadinya dingin mendadak riuh oleh cita-cita yang melambung tinggi. Aira, putri seorang nelayan setempat yang tadi ikut merasakan ketakutan di atas kapal, mengangkat tangannya pelan.
“Kak, kalau mau jadi dokter atau perawat, sekolahnya harus ke Jakarta ya?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“Iya, Aira. Nanti kuliah dulu di perguruan tinggi,” jawabku lembut. “Aira mau jadi perawat?”
Gadis kecil itu mengangguk mantap. “Aku mau jadi perawat hebat, Kak! Supaya kalau ada guru, teman-teman, atau warga pulau yang sakit habis dihantam ombak di laut, aku bisa langsung obati mereka di sini. Nggak perlu naik kapal jauh-jauh lagi ke daratan.”
Di sudut kelas yang lain, Alif, bocah lincah kini melompat dari kursinya. Dengan gerakan tangan menirukan gaya menendang bola, ia berseru nyaring, “Kalau aku beda, Kak! Aku mau jadi pemain bola profesional!”
“Wah, hebat! Nanti kalau sudah jadi pemain bola terkenal, Alif mau main di mana?” tanya Dimas sambil tertawa.
“Main di stadion yang besar banget!” jawab Alif dengan mata berbinar-binar. “Nanti kalau aku cetak gol, Pak Guru sama teman-teman Pulau Payung semuanya aku beliin tiket VIP buat nonton langsung!”
Gelak tawa pun pecah memenuhi ruangan tiga lantai itu. Perjuangan gigih menembus ombak ganas demi setetes ilmu hari itu menjadi pelajaran hidup paling berharga bagi kami. Di atas tanah Pulau Payung Besar, gedung megah itu bukan lagi sekadar tumpukan semen yang sepi, melainkan tempat bersemayamnya mimpi-mimpi besar anak pesisir yang tak akan pernah sanggup ditenggelamkan oleh tingginya gelombang lautan.[T]
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole






























