26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, muncul sebuah paradoks sosial yang cukup menyayat hati: generasi muda yang terdidik dan berada di usia produktif justru mengekspresikan kecemasan mendalam hingga rasa ‘takut’ untuk memiliki anak.  

Fenomena childfree—keputusan sukarela untuk tidak memiliki keturunan dalam pernikahan—yang semula dianggap sekadar ‘skandal moral’ atau gaya hidup eksentrik segelintir figur publik, kini bertransformasi menjadi kalkulasi rasional yang masif di tengah himpitan ekonomi struktural.

Berdasarkan riset berbasis Computational Social Science(CSS) terhadap 11.062 unggahan valid di platform X (Twitter) rentang 2021–2025, publik Indonesia sebenarnya tidak dalam kondisi terpolarisasi secara ekstrem. Percakapan justru didominasi mutlak oleh kelompok Netral (66,06%), diselingi kelompok Positif/Pro (25,39%), dan kelompok Negatif/Kontra yang hanya mencakup 8,54%. Dominasi sentimen netral ini membuktikan teori objektivasi realitas sosial Berger dan Luckmann: isu childfree telah terobjektivikasi dari wacana tabu menjadi pengetahuan umum sehari-hari (recipe knowledge) yang mendasari diskusi pra-nikah, jajak pendapat finansial, hingga lelucon pop culture.

Kalkulasi Survival di Tengah Himpitan Ekonomi dan Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Perjalanan longitudinal data X periode 2021 hingga 2025 mengungkapkan pergeseran motivasi yang sangat mendasar. Pada gelombang pertama di tahun 2021 (puncak 3.458 tweet), wacana dihela oleh isu figur publik (seperti Gita Savitri Devi) yang mengusung tema Hak Otonomi Tubuh dan Kebebasan Reproduksi Perempuan (489 tweet). Saat itu, perdebatan meletup sebagai benturan ideologis antara hak individu melawan dogma keagamaan dan hukum fiqih tradisional (198 tweet penolakan).

Menariknya, memasuki periode 2024–2025 (puncak tertinggi 4.240 tweet pada 2025), narasi ideologis tersebut terdesak secara signifikan. Alasan utama kelompok pro-childfree melesat menjadi Kesiapan Finansial dan Tingginya Biaya Hidup (In This Economy) yang mencapai 461 tweet pada 2025 (kumulatif 1.058 tweet). Mengapa kecemasan ekonomi ini mampu melumpuhkan keinginan biologis alami untuk berketurunan?

Jawabannya terletak pada jurang pemisah antara realitas ekonomi warga dengan janji-janji kebijakan publik pemerintah. Narasi skeptisme publik yang mengemuka di media sosial kerap mengaitkan kecemasan finansial ini dengan kegagalan struktural pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang berkualitas—termasuk sorotan tajam terhadap janji penciptaan 19 juta lapangan kerja yang dinilai belum terealisasi secara inklusif bagi generasi muda. Di tengah tingkat inflasi pendidikan yang melangit, lonjakan harga hunian yang tak masuk akal, serta dominasi lapangan kerja informal bernilai tambah rendah, Generasi Milenial dan Gen Z merasa tidak memiliki jaring pengaman sosial yang memadai untuk “beranak-pinak”.

Analisis terhadap sentimen negatif (8,54%) memperlihatkan pergeseran yang sangat instruktif. Kelompok penolak childfree yang semula didominasi sentimen keagamaan kaku (yang justru menyusut drastis dari 198 tweet di 2021 menjadi hanya 71 tweet di 2025), kini bergeser ke argumen moralis sekuler, seperti tuduhan ‘egois’ (307 tweet di 2025)—serta kekhawatiran teknokratis atas ancaman depopulasi (108 tweet di 2025).

Publik merasa gusar karena di satu sisi negara dan kelompok moralis menuntut warga untuk terus melahirkan demi bonus demografi, namun di sisi lain negara dinilai alpa menghadirkan jaminan kepastian ekonomi, ruang kerja layak, dan fasilitas pengasuhan yang terjangkau. Memelihara anak pun tidak lagi dipandang sekadar ibadah atau tugas biologis, melainkan sebuah pertaruhan finansial berpajak tinggi (high-cost financial risk).

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 memperkuat temuan ini: tercatat sedikitnya 71.000 perempuan Indonesia usia 15–49 tahun secara terbuka menyatakan tidak ingin memiliki anak. Data Susenas BPS menunjukkan bahwa fenomena ini terkonsentrasi pada dua kutub: perempuan berpendidikan tinggi yang mengejar karier/otonomi, dan perempuan berpendidikan menengah ke bawah yang tercekik kesulitan ekonomi. Dampaknya langsung berimbas pada penurunan Total Fertility Rate (TFR) nasional menjadi 2,14, bahkan wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta telah merosot ke angka 1,98—berada di bawah tingkat penggantian populasi (replacement level 2,1).

Cermin Buram Negara Tetangga: Dari Ancaman Depopulasi ke Redefinisi Etika Pengasuhan

Ketakutan generasi muda Indonesia untuk berketurunan bukanlah fenomena yang “tiba-tiba gendut”. Jika Indonesia tidak membenahi akar masalah ekonomi struktural ini, Indonesia sedang berjalan menuju jebakan depopulasi yang telah memukul negara-negara maju di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan.  

Di Korea Selatan, TFR telah anjlok hingga tingkat mengkhawatirkan (sekitar 0,72), memicu fenomena penutupan ribuan sekolah, krisis tenaga kerja produktif, serta beban jaminan sosial yang membengkak akibat struktur populasi piramida terbalik (lansia melimpah, generasi muda menyusut). Begitu pula di Jepang, tren resesi seks dan childless yang berlangsung dekade demi dekade terbukti melumpuhkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks keindonesiaan, fenomena childfree berbenturan keras dengan benteng budaya lokal dan ajaran agama. Pada masyarakat Batak Toba, misalnya, keturunan adalah pilar utama kehidupan yang terangkum dalam filosofi hagabeon (memiliki banyak anak) dan anakkonhi do hamoraon di au (anak adalah kekayaan terunggul).

Ketiadaan anak—terutama anak laki-laki sebagai penerus marga—dianggap dapat memutus silsilah patrilineal dan mengurangi posisi sosial keluarga. Begitu pula dalam perspektif Hukum Islam, meskipun UU Perkawinan No. 1/1974 dan UU No. 52/2009 mendefinisikan keluarga secara fleksibel (unit bahagia yang dapat terdiri dari suami-istri saja), teori Maslahah Mursalah menempatkan perlindungan keturunan (hifz al-nasl) sebagai kebutuhan primer (dharuriyah) demi kelangsungan umat.

Kendati demikian, benturan tradisi dan norma ini tidak lantas membuat anak muda tunduk begitu saja. Generasi Milenial dan Gen Z justru melakukan redefinisi etika moralitas pengasuhan. Melalui internalisasi kesadaran subjektif, mereka mengubah dogma lama: dari “orang bermoral wajib memiliki anak” menjadi “orang tua bermoral adalah mereka yang siap secara mental, emosional, dan finansial demi memutus trauma lintas generasi” (generational trauma). Memilih tidak punya anak dipandang lebih bertanggung jawab secara etis daripada melahirkan anak ke dunia yang tidak siap dijamin kesejahteraan dan kasih sayangnya.

Merespons dinamika ini, pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN mulai meluncurkan langkah intervensi adaptif, seperti program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) untuk meringankan beban pengasuhan bagi ibu bekerja. Namun, intervensi di hilir saja tidak akan cukup selama persoalan hulu—yakni ketidakpastian lapangan kerja, beban ganda perempuan di bawah sistem patriarki, serta ketimpangan ekonomi—belum diselesaikan secara sistemik.

Pada akhirnya, maraknya tren childfree di Indonesia bukanlah bentuk ‘pembangkangan ugal-ugalan’ terhadap fitrah biologis maupun nilai keluarga. Ini adalah sebuah sinyal bahaya (alarm bell) yang rasional dari warga negara. Ketika anak muda merasa takut untuk berketurunan, negara tidak boleh sekadar menghakimi secara moralis.

Negara harus hadir memenuhi janji kontrak sosialnya: menyediakan lapangan kerja yang layak, kepastian ekonomi, dan lingkungan hidup yang kondusif agar generasi mendatang tidak ragu untuk meneruskan kehidupan. Karena pada dasarnya, dalam lanskap sosial kontemporer, individu atau pasangan yang memilih childfree hari ini bisa jadi justru adalah mereka yang secara moral dan etis paling layak menjadi orang tua. (Dianalisis berbasis Data X 2021–2025, Susenas BPS, dan Studi Komparatif). [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomifinansial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Next Post

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali ---Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co