4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, muncul sebuah paradoks sosial yang cukup menyayat hati: generasi muda yang terdidik dan berada di usia produktif justru mengekspresikan kecemasan mendalam hingga rasa ‘takut’ untuk memiliki anak.  

Fenomena childfree—keputusan sukarela untuk tidak memiliki keturunan dalam pernikahan—yang semula dianggap sekadar ‘skandal moral’ atau gaya hidup eksentrik segelintir figur publik, kini bertransformasi menjadi kalkulasi rasional yang masif di tengah himpitan ekonomi struktural.

Berdasarkan riset berbasis Computational Social Science(CSS) terhadap 11.062 unggahan valid di platform X (Twitter) rentang 2021–2025, publik Indonesia sebenarnya tidak dalam kondisi terpolarisasi secara ekstrem. Percakapan justru didominasi mutlak oleh kelompok Netral (66,06%), diselingi kelompok Positif/Pro (25,39%), dan kelompok Negatif/Kontra yang hanya mencakup 8,54%. Dominasi sentimen netral ini membuktikan teori objektivasi realitas sosial Berger dan Luckmann: isu childfree telah terobjektivikasi dari wacana tabu menjadi pengetahuan umum sehari-hari (recipe knowledge) yang mendasari diskusi pra-nikah, jajak pendapat finansial, hingga lelucon pop culture.

Kalkulasi Survival di Tengah Himpitan Ekonomi dan Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Perjalanan longitudinal data X periode 2021 hingga 2025 mengungkapkan pergeseran motivasi yang sangat mendasar. Pada gelombang pertama di tahun 2021 (puncak 3.458 tweet), wacana dihela oleh isu figur publik (seperti Gita Savitri Devi) yang mengusung tema Hak Otonomi Tubuh dan Kebebasan Reproduksi Perempuan (489 tweet). Saat itu, perdebatan meletup sebagai benturan ideologis antara hak individu melawan dogma keagamaan dan hukum fiqih tradisional (198 tweet penolakan).

Menariknya, memasuki periode 2024–2025 (puncak tertinggi 4.240 tweet pada 2025), narasi ideologis tersebut terdesak secara signifikan. Alasan utama kelompok pro-childfree melesat menjadi Kesiapan Finansial dan Tingginya Biaya Hidup (In This Economy) yang mencapai 461 tweet pada 2025 (kumulatif 1.058 tweet). Mengapa kecemasan ekonomi ini mampu melumpuhkan keinginan biologis alami untuk berketurunan?

Jawabannya terletak pada jurang pemisah antara realitas ekonomi warga dengan janji-janji kebijakan publik pemerintah. Narasi skeptisme publik yang mengemuka di media sosial kerap mengaitkan kecemasan finansial ini dengan kegagalan struktural pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang berkualitas—termasuk sorotan tajam terhadap janji penciptaan 19 juta lapangan kerja yang dinilai belum terealisasi secara inklusif bagi generasi muda. Di tengah tingkat inflasi pendidikan yang melangit, lonjakan harga hunian yang tak masuk akal, serta dominasi lapangan kerja informal bernilai tambah rendah, Generasi Milenial dan Gen Z merasa tidak memiliki jaring pengaman sosial yang memadai untuk “beranak-pinak”.

Analisis terhadap sentimen negatif (8,54%) memperlihatkan pergeseran yang sangat instruktif. Kelompok penolak childfree yang semula didominasi sentimen keagamaan kaku (yang justru menyusut drastis dari 198 tweet di 2021 menjadi hanya 71 tweet di 2025), kini bergeser ke argumen moralis sekuler, seperti tuduhan ‘egois’ (307 tweet di 2025)—serta kekhawatiran teknokratis atas ancaman depopulasi (108 tweet di 2025).

Publik merasa gusar karena di satu sisi negara dan kelompok moralis menuntut warga untuk terus melahirkan demi bonus demografi, namun di sisi lain negara dinilai alpa menghadirkan jaminan kepastian ekonomi, ruang kerja layak, dan fasilitas pengasuhan yang terjangkau. Memelihara anak pun tidak lagi dipandang sekadar ibadah atau tugas biologis, melainkan sebuah pertaruhan finansial berpajak tinggi (high-cost financial risk).

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 memperkuat temuan ini: tercatat sedikitnya 71.000 perempuan Indonesia usia 15–49 tahun secara terbuka menyatakan tidak ingin memiliki anak. Data Susenas BPS menunjukkan bahwa fenomena ini terkonsentrasi pada dua kutub: perempuan berpendidikan tinggi yang mengejar karier/otonomi, dan perempuan berpendidikan menengah ke bawah yang tercekik kesulitan ekonomi. Dampaknya langsung berimbas pada penurunan Total Fertility Rate (TFR) nasional menjadi 2,14, bahkan wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta telah merosot ke angka 1,98—berada di bawah tingkat penggantian populasi (replacement level 2,1).

Cermin Buram Negara Tetangga: Dari Ancaman Depopulasi ke Redefinisi Etika Pengasuhan

Ketakutan generasi muda Indonesia untuk berketurunan bukanlah fenomena yang “tiba-tiba gendut”. Jika Indonesia tidak membenahi akar masalah ekonomi struktural ini, Indonesia sedang berjalan menuju jebakan depopulasi yang telah memukul negara-negara maju di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan.  

Di Korea Selatan, TFR telah anjlok hingga tingkat mengkhawatirkan (sekitar 0,72), memicu fenomena penutupan ribuan sekolah, krisis tenaga kerja produktif, serta beban jaminan sosial yang membengkak akibat struktur populasi piramida terbalik (lansia melimpah, generasi muda menyusut). Begitu pula di Jepang, tren resesi seks dan childless yang berlangsung dekade demi dekade terbukti melumpuhkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks keindonesiaan, fenomena childfree berbenturan keras dengan benteng budaya lokal dan ajaran agama. Pada masyarakat Batak Toba, misalnya, keturunan adalah pilar utama kehidupan yang terangkum dalam filosofi hagabeon (memiliki banyak anak) dan anakkonhi do hamoraon di au (anak adalah kekayaan terunggul).

Ketiadaan anak—terutama anak laki-laki sebagai penerus marga—dianggap dapat memutus silsilah patrilineal dan mengurangi posisi sosial keluarga. Begitu pula dalam perspektif Hukum Islam, meskipun UU Perkawinan No. 1/1974 dan UU No. 52/2009 mendefinisikan keluarga secara fleksibel (unit bahagia yang dapat terdiri dari suami-istri saja), teori Maslahah Mursalah menempatkan perlindungan keturunan (hifz al-nasl) sebagai kebutuhan primer (dharuriyah) demi kelangsungan umat.

Kendati demikian, benturan tradisi dan norma ini tidak lantas membuat anak muda tunduk begitu saja. Generasi Milenial dan Gen Z justru melakukan redefinisi etika moralitas pengasuhan. Melalui internalisasi kesadaran subjektif, mereka mengubah dogma lama: dari “orang bermoral wajib memiliki anak” menjadi “orang tua bermoral adalah mereka yang siap secara mental, emosional, dan finansial demi memutus trauma lintas generasi” (generational trauma). Memilih tidak punya anak dipandang lebih bertanggung jawab secara etis daripada melahirkan anak ke dunia yang tidak siap dijamin kesejahteraan dan kasih sayangnya.

Merespons dinamika ini, pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN mulai meluncurkan langkah intervensi adaptif, seperti program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) untuk meringankan beban pengasuhan bagi ibu bekerja. Namun, intervensi di hilir saja tidak akan cukup selama persoalan hulu—yakni ketidakpastian lapangan kerja, beban ganda perempuan di bawah sistem patriarki, serta ketimpangan ekonomi—belum diselesaikan secara sistemik.

Pada akhirnya, maraknya tren childfree di Indonesia bukanlah bentuk ‘pembangkangan ugal-ugalan’ terhadap fitrah biologis maupun nilai keluarga. Ini adalah sebuah sinyal bahaya (alarm bell) yang rasional dari warga negara. Ketika anak muda merasa takut untuk berketurunan, negara tidak boleh sekadar menghakimi secara moralis.

Negara harus hadir memenuhi janji kontrak sosialnya: menyediakan lapangan kerja yang layak, kepastian ekonomi, dan lingkungan hidup yang kondusif agar generasi mendatang tidak ragu untuk meneruskan kehidupan. Karena pada dasarnya, dalam lanskap sosial kontemporer, individu atau pasangan yang memilih childfree hari ini bisa jadi justru adalah mereka yang secara moral dan etis paling layak menjadi orang tua. (Dianalisis berbasis Data X 2021–2025, Susenas BPS, dan Studi Komparatif). [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomifinansial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Next Post

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali ---Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co