26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
in Esai
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa Bali. Setiap Februari, Pemerintah Provinsi Bali menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali. Kegiatannya berlangsung dari sekolah dan kantor pemerintahan hingga desa, kelurahan, dusun, dan banjar. Kemudian, sepanjang September hingga Oktober, kalangan pelajar SD, SMP, dan SMA sederajat mengikuti berbagai lomba dalam Festival Tunas Bahasa Ibu, salah satu program Balai Bahasa Provinsi Bali.

Perayaan-perayaan itu meriah. Pesertanya melimpah, piala dan hadiah uang tersedia, dan dokumentasi tersebar di berbagai media sosial. Namun, setelah kegiatan tersebut berlangsung rutin selama beberapa tahun, pertanyaan yang perlu diajukan; apa hasilnya bagi keberadaan bahasa Bali? Sejauh mana generasi muda, terutama para pelajar, semakin memahami dan mau atau terbiasa menggunakan bahasa yang diwariskan kepada mereka?

Jika ukurannya adalah pemahaman anak-anak terhadap bahasa yang mereka ucapkan di panggung, saya belum melihat hasil yang meyakinkan.

Saya mengatakan hal ini bukan sebagai penonton di luar kegiatan. Walaupun bukan ahli bahasa atau orang yang memiliki jabatan dalam lembaga kebahasaan, saya telah berulang kali diminta sekolah-sekolah di kampung saya untuk melatih peserta dan menjadi juri. Bidang yang saya dampingi antara lain menulis dan membaca puisi, menulis cerita, masatua atau mendongeng, pidarta atau pidato, musikalisasi puisi, dan teater. Dalam konteks kegiatan tersebut, seluruhnya menggunakan bahasa Bali. Karena itulah catatan ini lahir dari perjumpaan langsung dengan guru, pembina, dan terutama anak-anak yang tampil sebagai peserta.

Anak Bali Tidak Memahami Bahasa Ibunya

Pada masa awal penyelenggaraan kegiatan kreatif berbahasa Bali, saya ikut bergembira. Antusiasme para guru dan pelajar tampak besar. Sekolah-sekolah sibuk menyiapkan peserta, dan anak-anak memperoleh ruang untuk kembali berbahasa ibu melalui karya seni.

Ketika itu, beberapa guru meminta saya membantu melatih murid-murid membaca puisi bahasa Bali yang disebut sebagai karya peserta. Namun, setelah membaca teks yang dibawa, saya segera tahu bahwa puisi-puisi tersebut tidak ditulis oleh anak-anak. Bahasa yang digunakan terlalu tinggi dan terlalu jauh dari kosakata mereka sehari-hari. Ketika saya menanyakan arti kata, larik, atau kalimat dalam puisi yang hendak mereka bawakan, hampir tak seorang pun mampu menjawab.

Anak-anak itu diminta menghafal dan membacakan rangkaian kata yang tidak mereka pahami. Saya tetap melatih mereka, dimulai dengan menerjemahkan kata demi kata. Setidaknya mereka perlu mengerti apa yang sedang mereka ucapkan dan pesan apa yang terkandung di dalam puisinya. Bagaimana seorang anak dapat memberi jiwa pada sebuah puisi jika arti kata-katanya saja asing baginya?

Persoalannya bukan semata-mata bahwa guru membantu murid. Pendampingan memang diperlukan. Persoalan muncul ketika guru mengambil alih seluruh proses penciptaan, lalu murid hanya dipakai sebagai tubuh dan suara di atas panggung. Dalam keadaan seperti itu, lomba tidak mendekatkan anak kepada bahasa ibunya. Bahasa justru hadir sebagai sesuatu yang sulit, tinggi, dan berada di luar pengalaman mereka.

Hampir Lima Tahun Tanpa Perubahan Berarti

Hampir lima tahun saya berada dalam situasi yang sama. Sejak Januari, saya biasanya mulai diminta melatih siswa untuk membaca puisi, masatua, musikalisasi puisi, dan teater berbahasa Bali menjelang puncak Bulan Bahasa Bali pada akhir Februari. Pada September hingga Oktober, kesibukan serupa berulang menjelang Festival Tunas Bahasa Ibu, dari tingkat gugus dan kecamatan untuk sekolah dasar, kemudian tingkat kabupaten, hingga final tingkat provinsi untuk berbagai jenjang.

Namun, pola yang saya temui nyaris tidak berubah. Materi lomba masih banyak dibuatkan oleh guru. Para pelajar masih disodori bahasa yang terlalu tinggi bagi usia dan lingkungan mereka. Mereka menjadi tukang baca dan tukang hafal untuk materi yang tidak sungguh-sungguh dipahami, kemudian dipajang sebagai wakil sekolah di atas panggung lomba.

Akhirnya, perhatian sekolah lebih banyak tertuju pada penampilan dan kemenangan. Anak dilatih mengatur tekanan suara, gerak tangan, ekspresi wajah, dan gaya panggung, tetapi tidak pernah diajak masuk ke dalam bahasa yang sedang digunakannya. Bahkan, gaya penyampaian mereka sering kali merupakan salinan dari selera orang dewasa. Tubuh anak hadir di panggung, tetapi cara berpikir dan cara berbicaranya tidak hadir.

Di titik ini, tujuan pelestarian bahasa ibu terancam berhenti sebagai seremoni. Pemerintah dapat menunjukkan bahwa kegiatan telah dilaksanakan, sekolah dapat menunjukkan bahwa mereka telah berpartisipasi, dan pemenang dapat membawa pulang piala. Akan tetapi, semua itu belum otomatis berarti bahasa Bali semakin hidup di kalangan anak muda. Piala adalah tanda kemenangan dalam lomba, bukan ukuran keberhasilan pewarisan bahasa.

Festival Memerlukan Evaluasi

Upaya menghormati dan melestarikan bahasa ibu sebagai bagian dari jati diri budaya tentu penting. Justru karena penting, setiap festival tahunan harus disertai evaluasi yang berkelanjutan. Evaluasi tidak cukup hanya mencatat jumlah peserta, banyaknya cabang lomba, atau siapa yang menjadi juara.

Kita perlu bertanya apakah setiap perayaan Bulan Bahasa Bali dan Festival Tunas Bahasa Ibu memperlihatkan kemajuan pemahaman daan penerimaan pelajar terhadap bahasa daerahnya. Kita juga perlu menentukan indikator yang dapat menunjukkan bahwa bahasa Bali benar-benar menjadi bagian dari kehidupan generasi muda, bukan hanya alat untuk mendapatkan gelar juara dan piala.

Pertanyaan lain menyangkut hubungannya dengan pembelajaran di sekolah. Sejauh mana agenda tahunan tersebut menjadi bagian yang menyatu dengan proses belajar? Apakah sekolah mengikutinya karena melihat manfaat bagi murid, atau sekadar menjalankan kewajiban agar tidak mendapat sanksi? Selama ukuran keberhasilan hanya berupa terselenggaranya acara dan daftar pemenang, persoalan paling mendasar akan terus luput: apakah anak-anak memahami, mencintai, dan berani menggunakan bahasa Bali untuk menyatakan pikirannya sendiri?

Evaluasi semestinya juga memeriksa proses penciptaan materi. Karya seorang pelajar tidak harus sempurna. Diksi boleh sederhana, bentuknya boleh belum rapi, bahkan kesalahan masih mungkin terjadi. Namun, karya itu perlu tumbuh dari pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan berbahasa si anak. Tugas guru adalah mendampingi, mengajak berdiskusi, dan membantu memperbaiki, bukan menggantikan anak sebagai pencipta.

Paradigma yang Perlu Diubah

Berdasarkan pengalaman melatih, mendampingi, dan menjadi juri, saya melihat satu persoalan lain yang terus berulang. Gagasan penguatan jati diri melalui bahasa, aksara, dan sastra Bali sering diterjemahkan sebatas sanjungan terhadap warisan leluhur. Puisi dan pidato dipenuhi pujian bahwa bahasa dan aksara Bali mulia, luhur, suci, serta wajib dilestarikan. Sanjungan itu terdengar baik, tetapi terlalu sering berhenti sebagai basa-basi.

Bahasa Bali akhirnya diperlakukan sebagai objek, seperti benda warisan kuno yang disimpan, dipuja, dan hanya dikeluarkan pada saat upacara atau perlombaan. Padahal, bahasa hidup bukan karena terus-menerus dipuji. Bahasa hidup ketika digunakan untuk menyampaikan pengalaman, kegelisahan, humor, kritik, kasih sayang, dan berbagai kenyataan sehari-hari.

Di sinilah paradigma penguatan jati diri melalui bahasa, aksara, dan sastra Bali perlu diubah. Bahasa harus menjadi media atau wahana untuk menyampaikan gagasan. Dengan bahasa dan aksara Bali, anak-anak dapat menulis tentang keluarganya, sekolahnya, pergaulannya, lingkungannya, perubahan desa dan kota, persoalan sampah, pertanian, teknologi, cinta, ketakutan, bahkan kritik terhadap orang dewasa. Ruang tema harus dibuka seluas kehidupan mereka.

Menulis puisi yang memuji bahasa Bali tentu tidak dilarang. Namun, apabila dari tahun ke tahun hampir semua karya hanya mengulang puja-puji yang sama, kita patut curiga bahwa bahasa sedang dijadikan tema upacara, bukan alat berpikir. Seorang anak menunjukkan jati dirinya bukan dengan menghafal kalimat tentang kemuliaan warisan leluhur, melainkan dengan memakai bahasa warisan itu untuk mengenali dan menceritakan dunianya.

Bahasa Sebagai Objek dan Bahasa Sebagai Media

Untuk memperlihatkan perbedaannya, saya menyertakan kutipan dari tiga puisi yang pernah dibawa murid-murid ketika berlatih. Nama penulis atau nama murid sengaja tidak dicantumkan. Dua kutipan pertama memperlihatkan bahasa sebagai objek yang dipuji. Kutipan ketiga memperlihatkan bahasa sebagai media untuk menceritakan pengalaman seorang anak belajar menjalani kehidupan dan tradisi Bali.

AJEGANG BALI

Basa Bali becik lan unik
Ngawit saking manah suci
Ngawarahang rasa miwah budaya
Ngajegang jati diri Bali

Aksara Bali warisan leluhur
Ngukuhang rasa, ngukuhang jati
Sastra Bali, tetamian becik
Medaging pitutur miwah kaweruhan
[…]

TATAMIAN RING KRUNA URIP RING MANAH

Basa Bali pinaka suaran krama
Nganutin lungguh egar manyama
Ring kruna madaging carita
Unduk titiang, indik Bali sane katresna

Aksara Bali kasurat ring papan
Madaging gantungan misah gempelan
Pasupati jeroning ati
Ngukuhang jati diri krama Bali

Sastra Bali satmaka taman carita
Genah kruna ngwangun suksma
Tatamian luhur tatuek kauripan
Mangda iraga eling ring kawitan

UMAH I DADONG

Umah dadong tiangne di tanggun desa
Kaapit tegal tur carik linggah
Kasayubin sakancan punyan kayu
Kawatesin baan telabah ening

Sabilang masan liburan sekolah
Tiang nginep di umah I Dadong
Ditu tiang ajaka melajah
Malajah tradisi tur masemetonan

Semengan tiang ajaka mebanten jotan
Uling di sanggah nganteg di slekake
Tiang ajaka melajah di paon
Nyakan nasi maoran jagung
Ngae jukut don-donan
Makejang maan ngalap di tegale

Petengne tiang ajak ka bale banjar
Katemu ajak timpal-timpale di desa
Malajah matembang sekar alit lan macapat
Malajah ngigel lan nulis sastra Bali

Nginep di umah I Dadong di desa
Liu ane tiang palajahin
Satmaka anggon bekel
Kayang tiang kelih dadi jatma Bali
Ane lakar nerusang budaya leluhur

Membiarkan Anak Memiliki Bahasanya

Pada dua puisi pertama, kata-kata seperti jati diri, warisan leluhur, budaya, kaweruhan, dan kawitan disusun sebagai pernyataan tentang keluhuran bahasa Bali. Namun, kita hampir tidak menemukan manusia, peristiwa, atau pengalaman yang membuat pernyataan itu bernyawa. Bahasa Bali dibicarakan, tetapi belum digunakan untuk mengatakan sesuatu di luar dirinya.

Puisi “Umah I Dadong” bergerak dengan cara berbeda. Bahasa Bali dipakai untuk membawa pembaca ke rumah seorang nenek di ujung desa. Ada tegalan, sawah, telabah, sanggah, paon, bale banjar, makanan, teman, tembang, tari, dan proses belajar. Tradisi tidak dipuji dengan kata-kata besar, melainkan hadir melalui kegiatan sehari-hari. Anak dalam puisi itu mengalami kebudayaan, bukan sekadar mengucapkan slogan tentang kebudayaan.

Bagi saya, puisi semacam itulah yang lebih dekat dengan tujuan penguatan jati diri. Anak belajar bahwa bahasa Bali dapat dipakai untuk menceritakan sesuatu yang ia lihat, lakukan, rasakan, dan pikirkan. Dari sana, kosakata berkembang secara alami dan bahasa memiliki hubungan dengan kehidupan.

Hal serupa saya jumpai dalam materi pidarta jenjang SMP. Banyak teks hanya berisi puja-puji terhadap bahasa dan sastra Bali, ditulis dengan bahasa yang terlalu tinggi oleh guru pembina, lalu dihafalkan dengan susah payah oleh peserta. Murid menyampaikannya memakai intonasi, ekspresi, dan gerak yang dirancang menurut selera orang dewasa, sementara isi pidatonya sendiri tidak sepenuhnya ia pahami. Sungguh sebuah drama bahasa ibu yang konyol: anak Bali berdiri di panggung untuk merayakan bahasanya, tetapi bahasa itu terasa asing di mulutnya.

Saya menulis catatan ini bukan untuk meniadakan kerja keras guru, sekolah, penyuluh bahasa, panitia, maupun pemerintah. Banyak orang telah mencurahkan waktu dan tenaga agar kegiatan tersebut berlangsung. Namun, kerja keras itu perlu diarahkan kembali kepada tujuan yang paling mendasar: membuat anak mampu menggunakan bahasa Bali sebagai miliknya sendiri.

Festival tetap dapat diselenggarakan, tetapi prosesnya harus memberi ruang lebih besar kepada suara anak. Materi lomba perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta. Keaslian gagasan serta pemahaman terhadap karya harus menjadi bagian penting dalam penilaian. Guru perlu dihargai sebagai pendamping yang berhasil menumbuhkan keberanian murid, bukan sebagai penulis tersembunyi di belakang peserta. Lebih dari itu, kegiatan berbahasa Bali perlu hadir sepanjang proses pembelajaran dan kehidupan sekolah, tidak hanya menjelang musim lomba.

Bahasa ibu tidak akan bertahan hanya karena dipanggungkan, disakralkan, atau diperebutkan dalam perlombaan. Ia bertahan ketika anak-anak dapat memakainya tanpa merasa sedang memanggul beban bahasa orang tua. Biarkan mereka berbicara dengan kosakata yang mereka kuasai, menulis tentang dunia yang mereka kenal, lalu tumbuh bersama bahasa itu. Dari proses semacam itulah bahasa Bali dapat benar-benar diwariskan: bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai rumah bagi pikiran dan pengalaman mereka.[T]

Kertas Budaya Indonesia, September 2026

Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa BaliFestival Tunas Bahasa Ibu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Next Post

Suka-Duka di Rumah Sakit

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Suka-Duka di Rumah Sakit

Suka-Duka di Rumah Sakit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co