26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suka-Duka di Rumah Sakit

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 15, 2026
in Esai
Suka-Duka di Rumah Sakit

Ilustrasi Canva

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh lebih luas. Ia juga menunjuk pada ketidakpuasan, ketidakpastian, perubahan, dan kenyataan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya dapat menggenggam hidup sesuai keinginannya.

Di rumah sakit, gagasan itu terasa begitu dekat. Tubuh yang sakit, waktu yang tertunda, antrean, kecemasan, dan kabar dari dokter membuat manusia berhadapan dengan sesuatu yang selama ini sering ingin kita hindari.

Namun, beberapa hari terakhir saya melihat sisi lain dari rumah sakit. Di antara wajah-wajah lelah para pasien, saya menemukan wajah-wajah optimis para penunggu. Mereka adalah keluarga, pasangan, anak, saudara, atau orang-orang terdekat yang dengan penuh cinta berada di sisi pasien. Sebagian bertahan sejak malam hingga pagi, tidur seadanya di kursi atau tempat yang tidak dirancang untuk beristirahat. Mereka menunggu obat bekerja, menunggu dokter datang, menunggu hasil pemeriksaan, bahkan sekadar menunggu pasien tertidur dengan tenang.

Saya memperhatikan bagaimana malam di rumah sakit berjalan. Tidak seperti malam di rumah sendiri yang biasanya memiliki batas jelas antara aktivitas dan tidur, malam di rumah sakit terasa seperti perpanjangan dari siang. Lampu tetap menyala. Perawat datang memeriksa kondisi pasien. Bunyi roda tempat tidur sesekali terdengar dari lorong. Orang-orang berbicara dengan suara yang ditahan. Ada yang tidur, ada yang terjaga, ada yang melihat layar telepon genggam.

Sebelum tidur, beberapa orang memutar video atau lagu yang lucu untuk membunuh rasa penat. Sesekali terdengar tawa kecil. Saya menyukai momen seperti itu karena ia terasa begitu manusiawi. Di tengah ruang yang dipenuhi istilah medis, jarum infus, obat-obatan, hasil laboratorium, dan kecemasan, seseorang masih membutuhkan sesuatu yang sederhana, yakni, tertawa.

Humor tentu tidak menyembuhkan kanker. Ia tidak menggantikan kemoterapi, operasi, radioterapi, ataupun obat yang diberikan dokter. Tetapi humor memberi jeda. Beberapa menit tawa dapat membuat malam yang panjang terasa sedikit lebih manusiawi. Lagu juga demikian. Ia tidak mengubah hasil pemeriksaan, tetapi dapat membuat seseorang sejenak lupa bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.

Barangkali di situlah saya mulai melihat dukkha dari sisi yang berbeda. Penderitaan memang hadir, tetapi manusia tidak selalu menghadapinya dengan wajah muram. Di dalam penderitaan, manusia masih bisa bercanda, mencintai, berharap, dan mencari hal-hal kecil yang membuat kehidupan terasa normal.

Rumah sakit bukan hanya tempat penyakit diperiksa dan tubuh dirawat. Ia juga menjadi ruang tempat hubungan antarmanusia terlihat dengan sangat jelas. Ketika tubuh seseorang menjadi lemah, perhatian orang lain sering kali menjadi sumber kekuatan yang tidak tercatat dalam hasil laboratorium.

Kemoterapi menjadi contoh menarik tentang bagaimana bayangan mengenai sebuah pengobatan dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap penyakit. Bagi banyak orang, kata “kemoterapi” saja sudah terdengar menyeramkan. Gambaran tentang rambut rontok, tubuh lemah, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan berbagai efek samping telah begitu kuat melekat dalam imajinasi publik.

Bahkan sebelum seseorang menjalani kemoterapi, ia mungkin sudah mempunyai gambaran tertentu tentang apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Ia mungkin pernah melihat film tentang pasien kanker, atau membaca kisah penyintas di media sosial. Ia mungkin mendengar pengalaman kerabat atau tetangga. Semua cerita tersebut kemudian bertumpuk menjadi semacam gambaran kolektif tentang kemoterapi.

Ketakutan terhadap kemoterapi karena itu tidak selalu berasal dari obatnya. Sebagian berasal dari imajinasi kita tentang obat tersebut. Kita takut terhadap sesuatu yang belum dialami karena sudah lebih dahulu mendengar kisah orang lain.

Di ruang tunggu rumah sakit, cerita semacam itu dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Seorang pasien bercerita tentang mual, pasien lain tentang rambut yang rontok, keluarga lain tentang tubuh yang lemah. Pengalaman-pengalaman itu kemudian membentuk semacam pengetahuan bersama.

Pengetahuan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Efek samping kemoterapi memang nyata. Tetapi pengalaman satu tubuh tidak otomatis menjadi pengalaman tubuh lainnya. Jenis kanker, obat yang digunakan, dosis, kondisi tubuh, respons terhadap terapi, serta pengobatan pendukung dapat membuat pengalaman kemoterapi sangat berbeda.

Di sinilah antropologi kesehatan menjadi menarik. Antropologi tidak melihat sakit semata-mata sebagai persoalan biologis. Penyakit memang memiliki proses biologis yang dapat dijelaskan melalui ilmu kedokteran, tetapi pengalaman menjadi orang sakit berlangsung di dalam masyarakat dan kebudayaan.

Kita memberi nama pada penyakit. Kita membuat cerita tentangnya. Kita menentukan apa yang dianggap menakutkan, apa yang dianggap wajar, siapa yang dipercaya untuk mengobatinya, dan bagaimana seseorang yang sakit seharusnya bersikap.

Karena itu, kanker bukan hanya persoalan sel yang tumbuh tidak terkendali. Bagi manusia yang mengalaminya, kanker adalah diagnosis yang membawa banyak makna. Ia dapat berarti ancaman terhadap kehidupan, perubahan penampilan tubuh, gangguan pekerjaan, beban ekonomi, perubahan hubungan keluarga, bahkan perubahan cara seseorang melihat masa depannya.

Kemoterapi kemudian ikut membawa beban simbolik tersebut. Sorang penyintas kanker tidak hanya berhadapan dengan penyakit yang berada di dalam tubuhnya. Ia juga berhadapan dengan bayangan sosial mengenai kanker. Pertanyaan orang lain, tatapan orang lain, nasihat orang lain, dan cerita tentang pasien lain dapat ikut masuk ke dalam pengalaman sakitnya.

Ada orang yang bermaksud menguatkan tetapi justru membuat pasien semakin takut. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus kuat. Ada yang menceritakan kisah pasien lain dengan kondisi yang lebih buruk. Ada pula yang memberikan berbagai nasihat pengobatan berdasarkan pengalaman pribadi.

Semua itu memperlihatkan bahwa penyakit tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan pribadi. Dalam antropologi kesehatan dikenal pembedaan antara disease, illness, dan sickness. Secara sederhana, disease merujuk pada kondisi patologis yang dipahami secara medis. Illness lebih dekat dengan pengalaman subjektif seseorang ketika merasakan dan memaknai sakit. Sementara sickness berkaitan dengan bagaimana penyakit ditempatkan dalam kehidupan sosial.

Pembedaan ini membantu menjelaskan mengapa dua orang dengan diagnosis medis yang sama dapat mengalami sakit dengan cara yang berbeda. Secara medis mereka mungkin mempunyai penyakit yang serupa, tetapi pengalaman batin dan kehidupan sosial mereka belum tentu sama.

Seorang pasien mungkin memandang kemoterapi sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengobatan. Pasien lain mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang sangat menakutkan. Keduanya dapat sama-sama memahami penjelasan dokter, tetapi membawa sejarah, pengalaman, keluarga, keyakinan, dan pengetahuan yang berbeda ke dalam ruang pengobatan.

Maka, ketika kita berbicara tentang kemoterapi, kita sebaiknya tidak hanya berbicara tentang obat dan efek samping. Kita juga perlu melihat bagaimana gambaran tentang kemoterapi dibentuk.

Film dan televisi mempunyai peran besar dalam membangun imajinasi tersebut. Begitu pula media sosial. Foto pasien sebelum dan sesudah pengobatan, cerita tentang efek samping, pengalaman buruk yang dibagikan secara emosional, dan berbagai kisah kesembuhan dapat membentuk pemahaman masyarakat.

Masalahnya, cerita yang paling mudah diingat biasanya adalah cerita yang paling emosional.seorang mungkin tidak mengingat penjelasan panjang tentang mekanisme kerja obat, tetapi ia mengingat wajah seorang pasien yang kehilangan rambut dalam sebuah film. Ia mungkin lupa penjelasan tentang variasi respons tubuh terhadap pengobatan, tetapi mengingat cerita seseorang yang mengalami mual berat.

Ingatan manusia memang tidak bekerja seperti jurnal ilmiah. Ia menyimpan pengalaman melalui cerita, gambar, emosi, dan asosiasi. Karena itu, gambaran tentang kemoterapi dapat menjadi lebih besar daripada kemoterapi itu sendiri.

Bagi penyintas kanker, pengalaman kemudian menjadi lebih kompleks. Mereka tidak hanya menjalani pengobatan, tetapi juga harus hidup dengan tubuh yang berubah. Rambut mungkin tumbuh kembali, berat badan dapat berubah, tenaga tidak selalu sama, dan rutinitas kehidupan harus disesuaikan. Ada masa ketika tubuh terasa seperti milik sendiri, tetapi sekaligus terasa asing.

Di sinilah saya melihat pentingnya tidak mereduksi pasien kanker menjadi penyakitnya. Pasien tetaplah manusia yang mempunyai selera humor, makanan kesukaan, musik yang ingin didengar, percakapan yang ingin dibicarakan, pekerjaan yang ingin dilakukan, dan orang-orang yang dicintai. Diagnosis tidak menghapus kehidupan yang sebelumnya sudah ada.

Mungkin kita terlalu sering membayangkan pasien kanker hanya sebagai tubuh yang sedang mengalami kerusakan. Padahal, di balik tubuh yang menjalani pengobatan itu tetap ada kehidupan sehari-hari. Ada percakapan, makanan, pekerjaan yang tertunda, pesan dari teman, tontonan sebelum tidur, dan keinginan untuk menjalani hari sebagaimana biasanya.

Ketika seseorang memutar video lucu di samping ranjang pasien, misalnya, ia sedang mengembalikan sedikit suasana normal ke dalam ruang yang penuh dengan istilah medis.

Hal kecil semacam itu menarik perhatian saya. Humor tidak menyembuhkan kanker, tetapi ia dapat memberi jarak sejenak dari penyakit. Lagu tidak mengubah hasil pemeriksaan, tetapi dapat membuat sebuah malam terasa tidak terlalu panjang. Percakapan ringan mungkin tidak mempunyai nilai klinis, tetapi bagi orang yang sedang menunggu hasil laboratorium, beberapa menit berbicara tentang hal biasa dapat menjadi bagian penting dari hari itu.

Di rumah sakit, kehidupan ternyata tidak berhenti hanya karena seseorang sedang sakit. Keluarga juga berada di dalam pengalaman tersebut. Mereka menunggu hasil pemeriksaan, mengingat jadwal pengobatan, membeli obat, mencari makanan yang dianggap sesuai, dan sesekali mencoba membuat pasien tertawa. Penyakit seseorang akhirnya menjadi pengalaman bersama.

Yang satu merasakan sakit melalui tubuh, yang lain merasakannya melalui kecemasan dan penantian. Saya teringat kembali pada dukkha. Selama ini saya mungkin terlalu cepat menerjemahkannya sebagai penderitaan. Padahal, jika rumah sakit diamati lebih lama, dukkha justru tampak sebagai keadaan manusia yang selalu berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

Kita ingin sehat, tetapi tubuh dapat sakit. Kita ingin hidup lama, tetapi kematian mempunyai waktunya sendiri. Kita ingin orang yang kita cintai baik-baik saja, tetapi kita tidak dapat mengambil rasa sakitnya dan memindahkannya ke tubuh kita sendiri.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam ketidakmampuan itu, bahwa kita tetap berada di sana. Kita mungkin tidak dapat menggantikan rasa sakit seseorang atau mengetahui hasil pemeriksaan esok hari, tetapi kita dapat hadir di sampingnya, membantu hal-hal kecil, berbagi percakapan, atau sekadar membuat malam terasa sedikit lebih ringan.

Barangkali cinta di rumah sakit memang lebih sering hadir dalam bentuk-bentuk sederhana seperti itu. Rumah sakit mungkin salah satu tempat terbaik untuk melihat manusia tanpa banyak lapisan. Status sosial, pekerjaan, kekayaan, dan berbagai identitas yang biasanya kita gunakan untuk membedakan satu sama lain menjadi kurang penting ketika seseorang sedang menunggu hasil pemeriksaan.

Tubuh menjadi pengingat bahwa kita semua memiliki keterbatasan yang serupa. Ketika keterbatasan itu muncul, kita kembali membutuhkan orang lain. Karena itu, saya mulai melihat rumah sakit bukan hanya sebagai tempat orang datang untuk mencari kesembuhan. Rumah sakit juga merupakan tempat manusia belajar tentang ketidakpastian.

Kita datang dengan harapan bahwa pengobatan akan berhasil, tetapi tidak pernah mempunyai seluruh kepastian tentang hasilnya. Kita menjalani satu tahap, lalu menunggu tahap berikutnya. Ada hasil laboratorium yang harus ditunggu, ada jadwal terapi berikutnya, ada pemeriksaan lanjutan.

Hidup di rumah sakit seolah menjadi hidup dalam potongan-potongan waktu yang pendek; sampai obat habis, sampai dokter datang, sampai hasil keluar, sampai besok pagi. Mungkin karena itu kemoterapi juga perlu dilihat bukan hanya sebagai sebuah prosedur medis, tetapi sebagai pengalaman hidup. Di balik istilah yang terdengar begitu berat itu ada seseorang yang tetap mempunyai selera humor, keluarga yang tetap bercanda, dan rutinitas kecil yang tetap dijaga.

Penyakit memang mengambil banyak hal dari kehidupan seseorang, tetapi tidak selalu mengambil semuanya. Saya masih melihat dukkha di rumah sakit. Tetapi sekarang saya juga melihat sesuatu yang berjalan bersamanya; kemampuan manusia untuk menciptakan ruang kecil bagi kehidupan di tengah ketidakpastian.

Ada tawa di antara kecemasan. Ada tidur di antara penantian. Ada percakapan di antara pemeriksaan. Ada lagu yang diputar sebelum tidur. Ada layar telepon genggam yang menjadi jendela kecil menuju dunia di luar rumah sakit.

Semua itu mungkin terlihat sepele jika diukur dengan ukuran medis. Namun kehidupan manusia tidak seluruhnya dapat diukur dengan angka laboratorium. Mungkin rumah sakit bukan hanya tempat kita melihat bagaimana tubuh dapat sakit. Ia juga tempat kita melihat bagaimana kehidupan terus berlangsung bahkan ketika tubuh sedang tidak baik-baik saja.

Di sana saya melihat bahwa dukkha bukan hanya tentang rasa sakit. Ia juga tentang ketidakpastian yang menyertai kehidupan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi malam ini masih bisa diisi dengan percakapan. Kita tidak tahu bagaimana hasil pengobatan, tetapi sebuah lagu masih bisa diputar. Kita tidak dapat menghapus penyakit, tetapi kita masih dapat tertawa. Dan mungkin itu yang membuat saya terus memandang wajah-wajah di sana. Mereka tidak sedang menyangkal dukkha. Mereka hanya tidak membiarkan dukkha menjadi satu-satunya cerita tentang hidup mereka. Sebab bahkan di rumah sakit, di tempat yang begitu dekat dengan sakit dan kematian, kehidupan ternyata masih menemukan caranya sendiri untuk hadir. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

Next Post

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co