MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain.
Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan pukul setengah dua dini hari, tetapi suasananya seperti waktu yang berhenti berjalan. Lampu putih menyala tanpa ampun. Bau obat-obatan bercampur cairan pembersih memenuhi lorong. Sesekali terdengar langkah cepat perawat, bunyi troli besi yang berderit, atau suara lirih keluarga pasien yang mencoba berbicara pelan agar tidak menambah gaduh suasana.
Fajar duduk di samping ranjang istrinya, Laila. Sudah tiga malam berturut-turut ia menginap di rumah sakit itu.Tubuhnya lelah, matanya panas karena kurang tidur, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar bisa beristirahat. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, suara mesin monitor membuatnya kembali terjaga. Kadang perawat masuk memeriksa tekanan darah. Kadang Laila batuk keras tengah malam. Kadang ia terbangun hanya untuk memastikan dada istrinya masih bergerak naik turun.
Di rumah sakit, tidur bukan lagi soal memejamkan mata.Tetapi soal seberapa lama seseorang bisa melupakan rasa takutnya. Laila membuka mata perlahan.
“Mas… belum tidur?”
Fajar tersenyum kecil meski wajahnya kusut.
“Belum ngantuk.”
“Kamu bohong.”
“Kalau aku tidur, nanti siapa yang jagain kamu?”
Laila memandang suaminya lama.
“Kadang aku merasa bersalah.”
“Kenapa?”
“Karena sakit itu ternyata bukan cuma menyiksa yang sakit. Tapi juga orang yang mencintainya.”
Fajar diam. Kalimat itu menancap dalam kepalanya. Ia menggenggam tangan istrinya perlahan.
“Kalau cinta hanya hadir saat sehat, itu belum cinta.”
Laila tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca.
“Aku takut merepotkan.”
“Semua manusia suatu hari akan saling merepotkan. Waktu kecil kita merepotkan orang tua. Saat tua nanti mungkin kita merepotkan anak-anak. Hidup memang begitu. Tidak ada manusia yang benar-benar kuat sendirian.”
Laila memejamkan mata lagi.
“Aku jadi sadar,” katanya lirih, “selama ini kita terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bahwa sehat itu kemewahan.”
Fajar menunduk. Ia teringat hari-hari sebelum sakit datang. Mereka sering sibuk bekerja. Makan terburu-buru. Pulang malam. Jarang benar-benar duduk tenang menikmati hidup.
Manusia memang sering baru menghargai sesuatu ketika hampir kehilangannya.
***
Menjelang subuh Fajar keluar menuju mushola kecil di ujung lorong.Di sana selalu ada wajah-wajah yang hampir sama setiap malam. Wajah-wajah lelah dan penuh harap.
Seorang ibu muda tertidur sambil duduk bersandar di tembok. Tangannya masih menggenggam tasbih. Seorang bapak tua membaca Al-Qur’an dengan suara pelan. Ada juga seorang pemuda kurus memakai jaket ojek online yang tampak baru selesai menangis.
Rumah sakit adalah tempat di mana status sosial perlahan kehilangan arti. Di sana, direktur perusahaan dan tukang ojek bisa sama-sama duduk di lantai mushola, sama-sama menadahkan tangan meminta kesembuhan untuk orang yang mereka cintai.
Fajar mengambil wudhu. Air dingin menyentuh wajahnya yang letih. Selesai sholat, ia duduk diam cukup lama.
“Bapak nunggu siapa?”
Suara itu datang dari lelaki paruh baya di sebelahnya.
“Istri saya,” jawab Fajar. “Radang paru.”
Lelaki itu mengangguk pelan.
“Anak saya kecelakaan kerja. Sudah delapan hari dirawat.”
Namanya Pak Darto. Mereka lalu terdiam beberapa saat.
Kadang dua orang asing bisa merasa dekat hanya karena sama-sama sedang takut kehilangan.
Pak Darto tersenyum tipis.
“Aneh ya, Pak.”
“Apa?”
“Kita ini di luar rumah sakit sering merasa paling susah hidupnya. Tapi begitu masuk sini, baru sadar ternyata penderitaan manusia itu luas sekali.”
Fajar mengangguk.
“Benar.”
Pak Darto melanjutkan,
“Saya dulu sering marah pada hidup. Merasa rezeki kurang, pekerjaan berat, anak banyak kebutuhan. Tapi setelah seminggu di sini saya sadar… ternyata nikmat terbesar bukan uang.”
“Lalu apa?”
“Kesempatan pulang bersama keluarga.”
Kalimat itu membuat Fajar terdiam lama. Pak Darto memandang langit-langit mushola.
“Manusia sering sibuk mencari tambahan hidup. Padahal yang paling penting justru menjaga yang sudah ada.”
***
Pagi hari, warung kopi depan rumah sakit mulai ramai. Para penunggu pasien datang dengan wajah kusut dan mata merah. Mereka seperti komunitas sementara yang dipersatukan oleh kecemasan.
Fajar duduk bersama Pak Darto sambil meminum kopi hitam panas. Di meja sebelah, seorang ibu sedang menghitung uang receh untuk membeli sarapan. Anaknya yang masih kecil tertidur di kursi panjang.
Pak Darto memperhatikan lalu berkata pelan,
“Rumah sakit itu tempat manusia diuji dua hal: sabar dan ikhlas.”
“Apa bedanya?”
Pak Darto tersenyum.
“Sabar itu bertahan menghadapi keadaan. Ikhlas itu menerima bahwa tidak semua bisa kita kendalikan.”
Fajar mengangguk pelan.
“Kadang saya merasa takut sekali.”
“Takut kehilangan?”
“Iya.”
Pak Darto menyeruput kopinya pelan.
“Cinta memang selalu membawa kemungkinan kehilangan. Tapi manusia tetap memilih mencintai.”
“Kenapa?”
“Karena tanpa cinta hidup cuma jadi daftar kewajiban.”
Fajar tersenyum tipis. Lalu tiba-tiba seorang ibu muda menghampiri meja mereka.
“Maaf Pak… boleh pinjam charger?”
“Tentu, Bu,” jawab Fajar cepat.
Ibu itu tersenyum lega. Hal-hal kecil seperti itu sering terjadi di rumah sakit. Saling meminjam kabel, menjaga barang saat ke toilet, berbagi makanan, bahkan berbagi cerita.
Penderitaan ternyata bisa membuat manusia lebih manusiawi.
***
Malam keempat menjadi malam yang berat. Laila mendadak sesak napas. Perawat datang cepat. Dokter dipanggil. Fajar berdiri gemetar di sudut ruangan. Mesin monitor berbunyi cepat.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Ketika orang yang kita cintai kesakitan, kita baru sadar betapa tidak berdayanya manusia.
“Mas…”
Suara Laila lemah.
Fajar mendekat.
“Aku takut.”
Fajar menggenggam tangannya erat.
“Jangan bicara begitu.”
“Aku takut kalau suatu hari aku pergi duluan.”
Air mata Fajar jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kalau memang hidup hanya sementara,” kata Laila lirih, “aku bersyukur pernah hidup bersamamu.”
“Sudah… jangan bicara macam-macam.”
“Tapi dengarkan aku dulu.”
Fajar menunduk. Laila tersenyum kecil meski napasnya berat.
“Kalau nanti aku sembuh, kita jangan hidup terburu-buru lagi.”
Fajar diam.
“Kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa menikmati pagi, lupa ngobrol lama, lupa tertawa sederhana.”
Air mata Fajar makin deras. Laila melanjutkan pelan,
“Ternyata bahagia itu bukan punya segalanya. Tapi masih diberi waktu bersama orang-orang yang kita cintai.”
Tak lama kemudian kondisi Laila mulai stabil kembali. Dokter keluar dan berkata,
“Keadaannya membaik. Tapi pasien harus tetap tenang.”
Fajar mengangguk lemas. Keluar dari ruangan, ia duduk di lorong sambil menutupi wajahnya. Pak Darto datang membawa dua gelas teh hangat.
“Minum dulu.”
Fajar menerima gelas itu.
Tangannya gemetar.
“Saya takut kehilangan dia, Pak.”
Pak Darto duduk di sebelahnya.
“Kita semua yang di sini sedang belajar satu hal.”
“Apa?”
“Bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.”
Fajar menoleh.
“Kita cuma dititipi,” lanjut Pak Darto. “Pasangan, anak, orang tua, bahkan tubuh kita sendiri.”
“Kalau begitu kenapa kehilangan terasa begitu menyakitkan?”
Pak Darto tersenyum tipis.
“Karena hati manusia diciptakan untuk mencintai.”
Mereka terdiam lama. Lorong rumah sakit tetap sibuk. Namun di tengah segala suara itu, ada kesunyian yang hanya dimengerti orang-orang yang sedang menunggu kabar keselamatan.
***
Hari-hari berikutnya kondisi Laila mulai membaik. Ia sudah bisa duduk lebih lama dan makan sendiri. Suatu sore, saat hujan turun di luar jendela rumah sakit, Laila berkata pelan,
“Mas.”
“Iya?”
“Menurutmu kenapa Tuhan memberi manusia sakit?”
Fajar berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Mungkin supaya manusia berhenti sejenak.”
“Berhenti?”
“Iya. Kita ini sering terlalu yakin pada diri sendiri. Merasa kuat, merasa punya waktu panjang, merasa bisa mengatur semuanya. Lalu sakit datang dan mengingatkan bahwa kita rapuh.”
Laila tersenyum tipis.
“Jadi sakit itu pengingat?”
“Mungkin.”
Laila memandang hujan di luar.
“Kalau dipikir-pikir, manusia modern itu aneh ya.”
“Kenapa?”
“Kita bisa mengirim pesan dalam hitungan detik ke seluruh dunia. Tapi sering lupa menanyakan kabar orang serumah.”
Fajar tertawa kecil.
“Itu sindiran buat aku?”
“Buat kita.”
Mereka tertawa pelan. Sudah lama mereka tidak tertawa setenang itu.
Malam terakhir sebelum pulang, Fajar kembali ke mushola. Ia melihat banyak wajah baru. Tetapi ekspresinya tetap sama.
Lelah. Cemas. Penuh harap. Ia lalu sadar…Rumah sakit mungkin satu-satunya tempat di mana manusia paling jujur kepada Tuhan. Tidak ada kesombongan di sana. Tidak ada pencitraan. Semua datang sebagai manusia yang rapuh.
Pak Darto menghampirinya dengan wajah cerah.
“Anak saya sudah sadar.”
Fajar langsung memeluknya.
“Alhamdulillah.”
Pak Darto tertawa kecil sambil mengusap matanya.
“Saya baru sadar satu hal, Pak.”
“Apa?”
“Kebahagiaan ternyata sederhana sekali.”
“Seperti apa?”
“Melihat orang yang kita sayangi membuka mata.”
Fajar tersenyum.
Malam itu ia memandang lorong rumah sakit lebih lama dari biasanya. Tempat itu memang dipenuhi rasa sakit. Tetapi juga dipenuhi cinta yang bekerja diam-diam. Cinta seorang ibu yang tidak tidur menjaga anaknya. Cinta seorang suami yang rela duduk berhari-hari di kursi plastik. Cinta seorang ayah yang tetap kuat meski hatinya runtuh. Dan cinta orang-orang asing yang saling membantu meski tidak saling mengenal.
Keesokan paginya Laila diperbolehkan pulang. Saat kursi roda didorong menuju pintu keluar, Fajar menoleh sekali lagi ke belakang. Beberapa keluarga masih duduk menunggu kabar dengan mata penuh doa. Fajar menarik napas panjang.
Lalu dalam hati ia berkata,
“Hidup ternyata bukan tentang siapa yang paling kaya, paling hebat, atau paling sibuk.
Tetapi tentang siapa yang tetap mampu mencintai, bersabar, dan saling menguatkan ketika hidup sedang paling berat.” [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole






























