17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Asmaran Dani by Asmaran Dani
August 16, 2026
in Cerpen
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan hanya berkata “Kancitan”. Lelaki itu duduk tegap bersila di atas trotoar yang berjarak sembilan meter dari halte. Berjarak empat meter dari rumah ibadah di hadapannya. Dan hanya dua setengah meter dari rumah makan di sisi kiri tubuhnya.

Tidak ada yang tahu kapan lelaki itu datang.

Tiba-tiba saja ia sudah ada di sana, seperti foto calon Wali Kota di tiang listrik yang mendadak muncul setiap pemilu. Pagi pertama orang-orang melihatnya, ia duduk sambil menatap kosong ke arah rumah ibadah. Siang harinya masih di sana. Malamnya tetap di sana. Besoknya juga begitu. Sampai enam bulan kemudian kota menjadi heboh.

Perawakan lelaki itu tidak sedap di mata. Rambutnya kucel seperti sikat kakus berumur enam tahun. Punggungnya hitam kotor seperti dinding sungai musi. Panu di wajahnya tampak seperti pulau kemaro dilihat dari buku atlas dunia. Matanya cekung seperti tidak pernah tidur sejak zaman reformasi. Ekspresinya mirip kucing sehabis tertabrak mobil travel. Telapak kakinya pecah-pecah, seolah ia berjalan berjuta kilometer tanpa alas kaki.

Ia tidak pernah meminta uang. Ia tidak pernah meminta makan. Tetapi lelaki itu seperti membuktikan ucapan Tuhan di setiap kitab suci. Rezeki sudah ada yang mengatur. Kalau lapar, orang-orang memberinya makan. Kalau haus, ada saja yang menyodorkan air mineral. Kalau hujan, beberapa bocah pengemis di sekitar rumah ibadah yang prihatin memayunginya seperti sedang mengawal tokoh agama.

Aneh sekali. Ia tetap duduk bersila. Tangannya diletakkan di atas ke dua pahanya beralas kain handuk kusam yang sudah getas karena disengat matahari musim kemarau sehingga sempaknya menjadi transparan. Kalau mengantuk, ia memejamkan mata sambil mendengkur kecil. Sesekali bibirnya yang seperti perumahan subsidi kumuh bergerak pelan. “Kancitan.”

Suaranya begitu halus sampai orang harus mendekat tepat di depan mukanya untuk mendengar jelas kata itu. “Kancitan.” Kata itu menjadi candu. Warga kota ketagihan mendegar kata itu keluar dari mulut lelaki yang konon dianggap ajaib.

Tidak ada tambahan kata lain. Tidak pernah. Hanya itu. Warga yang menyaksikan melalui siaran instagram humas pemerintahan kota mulai menjadikan lelaki itu bahan taruhan.

“Kalau dia ngomong selain Kancitan, aku traktir pempek.”

“Kalau dia nyanyi gimana?”

“Mana mungkin!”

Lelaki itu menjadi pusat perhatian. Membuat warga melupakan banjir di musim hujan yang mengepung jalan dan perumahan.

Orang-orang yang sudah kenyang dari rumah makan Pak Rodes, mendapat hiburan. Mereka sering mendekati lelaki itu untuk memberi uang logam seribu rupiah ke pangkuannya. Namun lelaki itu hanya tersenyum setiap kali mendengar suara logam jatuh tanpa peduli jumlah uangnya.

Senyumnya tidak lebar, tetapi aneh. Seperti orang yang tahu rahasia mengatasi masalah banjir dan membasmi peredaran sabu-sabu di kota yang padat penduduk miskin. Tetapi lelaki itu malas menjelaskan.

Pak Rodes, pemilik rumah makan Sepuluh Bintang, menjadi satu-satunya orang paling gelisah di kota. Rumah makan miliknya terkenal karena ayam bakar madu yang bisa membuat orang lupa cicilan motor. Keberadaan lelaki itu berdekatan dengan rumah makan milik Pak Rodes.  Sejak lelaki itu muncul, Pak Rodes merasa terganggu meskipun rumah makannya masih saja ramai seperti biasa.

“Lelaki sinting, membuat darah tinggi,” keluh Pak Rodes sambil mengipas ayam bakar madu. Istrinya,  justru kasihan.

“Kasih makan saja, Pak. Jangan banyak ngomel.”

“Lah, kalau dikasih makan! Dia malah betah!”

Pak Rodes menuruti istrinya. Memberi makan lelaki itu sebagai rutinitas terkutuk. Pukul sebelas siang ia mengantar makan yang sudah disajikan di wadah Sterofoam. Pukul delapan malam menjelang tutup ia kembali datang membawa teh hangat dan lauk sisa. Namun setiap kali diberi makanan, lelaki itu hanya tersenyum.

“Kancitan.”

Kadang Pak Rodes kesal sendiri.

“Nama kakekmu Kancitan?!”

Lelaki itu tetap tersenyum.

“Kancitan.”

Pernah suatu malam Pak Rodes mencoba mengusirnya.

“Pergi sana! Cari trotoar lain!”

Seekor kucing hitam liar melompat dari tong sampah dan mencakar kaki Pak Rodes sampai terjungkal ke selokan. Semenjak peristiwa itu Pak Rodes tidak peduli, namun ia masih memberi makan lelaki itu rutin menuruti perintah istrinya.

**

Warga kota semakin heboh, lantas langsung percaya lelaki itu kemungkinan memang betul-betul ajaib.

“Jangan-jangan dia asisten Tuhan yang diturunkan dari langit untuk mengamati perkembangan manusia di abad 21.” Bisik tukang parkir di rumah makan Sepuluh Bintang.

“Iya juga? Bau tubuhnya saja seperti bangkai usus ayam tetapi betah di dekatnya, dan semakin nagih kalau ia mengucapkan kata itu,” jawab Driver Ojek Online yang sedang menunggu orderan Gofood ayam bakar madu.

Kabar mistis cepat menyebar. Orang-orang mulai datang sekadar melihat lelaki itu. Ada yang memotretnya diam-diam, merekam video untuk disebarkan di media sosial. Konten kreator bahkan membuat keterangan. “Manusia Kancitan” videonya ditonton ratusan ribu orang.

Keadaan kota semakin heboh. Anak-anak rela bolos sekolah demi ingin melihat lelaki itu. Anehnya para guru juga tertarik ingin melihat lelaki itu. Mereka meninggalkan kelas bersama para murid untuk membersamai massa yang mengerumuni lelaki itu. Mereka rela kepanasan disengat matahari demi menyaksikan kata yang keluar dari mulut lelaki itu.

Bahkan beberapa politisi yang hendak mencalonkan Wali Kota menjadikan lelaki itu konten kampanye.

“Kalau terpilih nanti, saya berjanji akan membuatkan kandang khusus, dan tempat duduk yang dilengkapi kanopi supaya betah menyaksikan sosok manusia kancitan itu. Lelaki ajaib itu akan menjadi pusat pariwisata di kota,” ucap salah-satu calon Wali Kota yang disinyalir memiliki bisnis sabu-sabu di setiap kelurahan.

Semenjak kedatangan para politisi, recehan dan uang kertas semakin menumpuk di sekeliling tubuhnya. Namun lelaki itu tidak pernah menyentuh uangnya. Anak-anak pengemis mengambilnya. Bahkan menjadi jatah preman yang bergilir bergantian setiap malam merampas uang lelaki itu, memasukkan uang bertumpuk-tumpuk ke kantong celana sambil batuk pura-pura tidak tahu.

Lelaki itu tetap hanya berkata.

“Kancitan.”

Perdebatan soal arti Kancitan lebih menarik perhatian warga kota daripada isu pemilihan Wali Kota. Sampai akhirnya datang seorang dosen linguistik dari Universitas Kuning Menyala disingkat UKM. Namanya Doktor Botol. Ia datang membawa buku catatan tebal dan wajah terlalu serius untuk meneliti di pinggir trotoar. Selama sebelas jam ia duduk di depan lelaki itu.

“Kancitan,” kata lelaki itu.

Doktor Botol mengangguk-angguk.

“Hmmm.”

“Kancitan.”

“Hmmm.”

“Kancitan.”

“Hmmm.”

Orang-orang yang sedang mengantri ayam bakar madu di rumah makan Sepuluh Bintang menunggu penuh harap. Akhirnya Sang Doktor berdiri sambil membetulkan kacamatanya.

“Menurut analisis semiotik saya, kata Kancitan merupakan bentuk simbolik dari kehampaan eksistensial manusia urban.”

Doktor Botol pulang setelah diserbu kata “kancitan” sebanyak tiga ribu kali sejak melakukan penelitian dari pukul 08.00 WIB sampai menjelang maghrib. Hasil penelitian Doktor Botol sudah tersebar di grup Whatsapp menjadi bahan obrolan tanpa jeda.

Panas datang. Hujan turun. Jalanan banjir. Remaja putus sekolah. Peredaran sabu-sabu menyerbu pemuda kota. Panggilan ibadah terus dikumandangkan. Harga telur ayam naik. Sedangkan lelaki itu tidak pernah peduli. Ia tetap setia bersila sambil berkata.

“Kancitan.”

***

Tepat di hari Jumat pagi datang perintah dari pemerintah kota untuk mengamankan lelaki itu, sebab pemilu segera dimulai. Kehadiran lelaki itu bisa membuat warga GOLPUT. Sebab sudah pasti warga kota lebih memilih mengunjungi lelaki itu daripada pergi memasukkan surat yang dicoblos ke kotak suara.

Mobil dinas sosial datang. Para petugas turun. Mereka membawa alat setrum mengantisipasi lelaki itu mengamuk. Warga berkumpul menontoni lelaki itu hendak diangkut ke atas mobil. Petugas kini hanya berjarak 1 cm dari lelaki itu.

“Bapak ikut kami dulu ya, nanti setelah pemilihan Wali Kota selesai, kami antar bapak duduk bersila lagi di sini.” Ucap petugas paling gemuk.

Lelaki itu tersenyum.

“Kancitan.”

Petugas mencoba memegang tangannya. Tiba-tiba lelaki itu dengan mudahnya berdiri untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun duduk bersila. Warga serentak mundur. Tubuh lelaki itu ternyata tinggi. Ia menatap rumah ibadah itu beberapa detik setelah toa dari atas menara memberikan informasi saldo keuangan yang diumumkan setiap jumat.

Lelaki itu diamankan. Menjadi tahanan di rumah dinas sosial untuk sementara waktu, sampai Wali Kota baru terpilih. Di separuh perjalanan, lelaki itu merampas pulpen dan map dari tangan petugas. Menuliskan sepotong kata.

“Kancitan”

Para petugas dinas sosial membaca sepotong kata itu dari atas mobil yang biasa digunakan untuk mengangkut gepeng. Para petugas tiba-tiba mendadak seperti digigit Zombie.

Lima petugas dinas sosial yang baru lolos P3K itu menggema takzim saling bersahutan.
”Kancitan….”
”Kancitan….”
”Kancitan……………..” [T]

Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

Next Post

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Asmaran Dani

Asmaran Dani

Alumni Pascasarjana Sosiologi. Saat ini sedang aktif menulis fiksi di komunitas Opus Sastra Kota Palembang.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 16, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co