6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Asmaran Dani by Asmaran Dani
August 16, 2026
in Cerpen
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan hanya berkata “Kancitan”. Lelaki itu duduk tegap bersila di atas trotoar yang berjarak sembilan meter dari halte. Berjarak empat meter dari rumah ibadah di hadapannya. Dan hanya dua setengah meter dari rumah makan di sisi kiri tubuhnya.

Tidak ada yang tahu kapan lelaki itu datang.

Tiba-tiba saja ia sudah ada di sana, seperti foto calon Wali Kota di tiang listrik yang mendadak muncul setiap pemilu. Pagi pertama orang-orang melihatnya, ia duduk sambil menatap kosong ke arah rumah ibadah. Siang harinya masih di sana. Malamnya tetap di sana. Besoknya juga begitu. Sampai enam bulan kemudian kota menjadi heboh.

Perawakan lelaki itu tidak sedap di mata. Rambutnya kucel seperti sikat kakus berumur enam tahun. Punggungnya hitam kotor seperti dinding sungai musi. Panu di wajahnya tampak seperti pulau kemaro dilihat dari buku atlas dunia. Matanya cekung seperti tidak pernah tidur sejak zaman reformasi. Ekspresinya mirip kucing sehabis tertabrak mobil travel. Telapak kakinya pecah-pecah, seolah ia berjalan berjuta kilometer tanpa alas kaki.

Ia tidak pernah meminta uang. Ia tidak pernah meminta makan. Tetapi lelaki itu seperti membuktikan ucapan Tuhan di setiap kitab suci. Rezeki sudah ada yang mengatur. Kalau lapar, orang-orang memberinya makan. Kalau haus, ada saja yang menyodorkan air mineral. Kalau hujan, beberapa bocah pengemis di sekitar rumah ibadah yang prihatin memayunginya seperti sedang mengawal tokoh agama.

Aneh sekali. Ia tetap duduk bersila. Tangannya diletakkan di atas ke dua pahanya beralas kain handuk kusam yang sudah getas karena disengat matahari musim kemarau sehingga sempaknya menjadi transparan. Kalau mengantuk, ia memejamkan mata sambil mendengkur kecil. Sesekali bibirnya yang seperti perumahan subsidi kumuh bergerak pelan. “Kancitan.”

Suaranya begitu halus sampai orang harus mendekat tepat di depan mukanya untuk mendengar jelas kata itu. “Kancitan.” Kata itu menjadi candu. Warga kota ketagihan mendegar kata itu keluar dari mulut lelaki yang konon dianggap ajaib.

Tidak ada tambahan kata lain. Tidak pernah. Hanya itu. Warga yang menyaksikan melalui siaran instagram humas pemerintahan kota mulai menjadikan lelaki itu bahan taruhan.

“Kalau dia ngomong selain Kancitan, aku traktir pempek.”

“Kalau dia nyanyi gimana?”

“Mana mungkin!”

Lelaki itu menjadi pusat perhatian. Membuat warga melupakan banjir di musim hujan yang mengepung jalan dan perumahan.

Orang-orang yang sudah kenyang dari rumah makan Pak Rodes, mendapat hiburan. Mereka sering mendekati lelaki itu untuk memberi uang logam seribu rupiah ke pangkuannya. Namun lelaki itu hanya tersenyum setiap kali mendengar suara logam jatuh tanpa peduli jumlah uangnya.

Senyumnya tidak lebar, tetapi aneh. Seperti orang yang tahu rahasia mengatasi masalah banjir dan membasmi peredaran sabu-sabu di kota yang padat penduduk miskin. Tetapi lelaki itu malas menjelaskan.

Pak Rodes, pemilik rumah makan Sepuluh Bintang, menjadi satu-satunya orang paling gelisah di kota. Rumah makan miliknya terkenal karena ayam bakar madu yang bisa membuat orang lupa cicilan motor. Keberadaan lelaki itu berdekatan dengan rumah makan milik Pak Rodes.  Sejak lelaki itu muncul, Pak Rodes merasa terganggu meskipun rumah makannya masih saja ramai seperti biasa.

“Lelaki sinting, membuat darah tinggi,” keluh Pak Rodes sambil mengipas ayam bakar madu. Istrinya,  justru kasihan.

“Kasih makan saja, Pak. Jangan banyak ngomel.”

“Lah, kalau dikasih makan! Dia malah betah!”

Pak Rodes menuruti istrinya. Memberi makan lelaki itu sebagai rutinitas terkutuk. Pukul sebelas siang ia mengantar makan yang sudah disajikan di wadah Sterofoam. Pukul delapan malam menjelang tutup ia kembali datang membawa teh hangat dan lauk sisa. Namun setiap kali diberi makanan, lelaki itu hanya tersenyum.

“Kancitan.”

Kadang Pak Rodes kesal sendiri.

“Nama kakekmu Kancitan?!”

Lelaki itu tetap tersenyum.

“Kancitan.”

Pernah suatu malam Pak Rodes mencoba mengusirnya.

“Pergi sana! Cari trotoar lain!”

Seekor kucing hitam liar melompat dari tong sampah dan mencakar kaki Pak Rodes sampai terjungkal ke selokan. Semenjak peristiwa itu Pak Rodes tidak peduli, namun ia masih memberi makan lelaki itu rutin menuruti perintah istrinya.

**

Warga kota semakin heboh, lantas langsung percaya lelaki itu kemungkinan memang betul-betul ajaib.

“Jangan-jangan dia asisten Tuhan yang diturunkan dari langit untuk mengamati perkembangan manusia di abad 21.” Bisik tukang parkir di rumah makan Sepuluh Bintang.

“Iya juga? Bau tubuhnya saja seperti bangkai usus ayam tetapi betah di dekatnya, dan semakin nagih kalau ia mengucapkan kata itu,” jawab Driver Ojek Online yang sedang menunggu orderan Gofood ayam bakar madu.

Kabar mistis cepat menyebar. Orang-orang mulai datang sekadar melihat lelaki itu. Ada yang memotretnya diam-diam, merekam video untuk disebarkan di media sosial. Konten kreator bahkan membuat keterangan. “Manusia Kancitan” videonya ditonton ratusan ribu orang.

Keadaan kota semakin heboh. Anak-anak rela bolos sekolah demi ingin melihat lelaki itu. Anehnya para guru juga tertarik ingin melihat lelaki itu. Mereka meninggalkan kelas bersama para murid untuk membersamai massa yang mengerumuni lelaki itu. Mereka rela kepanasan disengat matahari demi menyaksikan kata yang keluar dari mulut lelaki itu.

Bahkan beberapa politisi yang hendak mencalonkan Wali Kota menjadikan lelaki itu konten kampanye.

“Kalau terpilih nanti, saya berjanji akan membuatkan kandang khusus, dan tempat duduk yang dilengkapi kanopi supaya betah menyaksikan sosok manusia kancitan itu. Lelaki ajaib itu akan menjadi pusat pariwisata di kota,” ucap salah-satu calon Wali Kota yang disinyalir memiliki bisnis sabu-sabu di setiap kelurahan.

Semenjak kedatangan para politisi, recehan dan uang kertas semakin menumpuk di sekeliling tubuhnya. Namun lelaki itu tidak pernah menyentuh uangnya. Anak-anak pengemis mengambilnya. Bahkan menjadi jatah preman yang bergilir bergantian setiap malam merampas uang lelaki itu, memasukkan uang bertumpuk-tumpuk ke kantong celana sambil batuk pura-pura tidak tahu.

Lelaki itu tetap hanya berkata.

“Kancitan.”

Perdebatan soal arti Kancitan lebih menarik perhatian warga kota daripada isu pemilihan Wali Kota. Sampai akhirnya datang seorang dosen linguistik dari Universitas Kuning Menyala disingkat UKM. Namanya Doktor Botol. Ia datang membawa buku catatan tebal dan wajah terlalu serius untuk meneliti di pinggir trotoar. Selama sebelas jam ia duduk di depan lelaki itu.

“Kancitan,” kata lelaki itu.

Doktor Botol mengangguk-angguk.

“Hmmm.”

“Kancitan.”

“Hmmm.”

“Kancitan.”

“Hmmm.”

Orang-orang yang sedang mengantri ayam bakar madu di rumah makan Sepuluh Bintang menunggu penuh harap. Akhirnya Sang Doktor berdiri sambil membetulkan kacamatanya.

“Menurut analisis semiotik saya, kata Kancitan merupakan bentuk simbolik dari kehampaan eksistensial manusia urban.”

Doktor Botol pulang setelah diserbu kata “kancitan” sebanyak tiga ribu kali sejak melakukan penelitian dari pukul 08.00 WIB sampai menjelang maghrib. Hasil penelitian Doktor Botol sudah tersebar di grup Whatsapp menjadi bahan obrolan tanpa jeda.

Panas datang. Hujan turun. Jalanan banjir. Remaja putus sekolah. Peredaran sabu-sabu menyerbu pemuda kota. Panggilan ibadah terus dikumandangkan. Harga telur ayam naik. Sedangkan lelaki itu tidak pernah peduli. Ia tetap setia bersila sambil berkata.

“Kancitan.”

***

Tepat di hari Jumat pagi datang perintah dari pemerintah kota untuk mengamankan lelaki itu, sebab pemilu segera dimulai. Kehadiran lelaki itu bisa membuat warga GOLPUT. Sebab sudah pasti warga kota lebih memilih mengunjungi lelaki itu daripada pergi memasukkan surat yang dicoblos ke kotak suara.

Mobil dinas sosial datang. Para petugas turun. Mereka membawa alat setrum mengantisipasi lelaki itu mengamuk. Warga berkumpul menontoni lelaki itu hendak diangkut ke atas mobil. Petugas kini hanya berjarak 1 cm dari lelaki itu.

“Bapak ikut kami dulu ya, nanti setelah pemilihan Wali Kota selesai, kami antar bapak duduk bersila lagi di sini.” Ucap petugas paling gemuk.

Lelaki itu tersenyum.

“Kancitan.”

Petugas mencoba memegang tangannya. Tiba-tiba lelaki itu dengan mudahnya berdiri untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun duduk bersila. Warga serentak mundur. Tubuh lelaki itu ternyata tinggi. Ia menatap rumah ibadah itu beberapa detik setelah toa dari atas menara memberikan informasi saldo keuangan yang diumumkan setiap jumat.

Lelaki itu diamankan. Menjadi tahanan di rumah dinas sosial untuk sementara waktu, sampai Wali Kota baru terpilih. Di separuh perjalanan, lelaki itu merampas pulpen dan map dari tangan petugas. Menuliskan sepotong kata.

“Kancitan”

Para petugas dinas sosial membaca sepotong kata itu dari atas mobil yang biasa digunakan untuk mengangkut gepeng. Para petugas tiba-tiba mendadak seperti digigit Zombie.

Lima petugas dinas sosial yang baru lolos P3K itu menggema takzim saling bersahutan.
”Kancitan….”
”Kancitan….”
”Kancitan……………..” [T]

Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

Next Post

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Asmaran Dani

Asmaran Dani

Alumni Pascasarjana Sosiologi. Saat ini sedang aktif menulis fiksi di komunitas Opus Sastra Kota Palembang.

Related Posts

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co