DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang atau paling mudah dihafal sejak putaran pertama, yaitu Hitam dan Biru. Lagu ini justru bergerak pelan, menyusup diam-diam, dan baru terasa maknanya setelah didengarkan berulang kali.
Karakter semacam ini sudah menjadi ciri khas Barasuara sejak band ini memperkenalkan diri lewat album debut Taifun pada 2015, kemudian Pikiran dan Perjalanan pada 2019, hingga akhirnya Jalaran Sadrah dirilis secara mandiri melalui label Hu Shah Records pada 21 Juni 2024.
Album Jalaran Sadrah sendiri lahir dari proses panjang yang dimulai sejak Januari 2021, saat pandemi masih membayangi dan Barasuara justru berada tanpa manajer maupun perusahaan rekaman.
Untuk menyatukan kembali arah bermusik mereka, keenam personel, yaitu Iga Massardi pada vokal dan gitar, Puti Chitara pada vokal, serta sesekali gitar dan synthesizer, Asteriska pada vokal, TJ Kusuma pada gitar, Gerald Situmorang pada bas, serta Marco Steffiano pada drum, berkumpul selama sepekan di sebuah vila di kawasan Puncak, Bogor, untuk menulis dan mematangkan materi baru.
Dalam berbagai kesempatan wawancara, Iga Massardi menjelaskan bahwa judul Jalaran Sadrah bermakna “karena pasrah”, sebuah gambaran tentang bagaimana album ini akhirnya dapat diselesaikan justru ketika mereka belajar menerima ketidakberdayaan dan kecilnya peran manusia di hadapan takdir.
Semangat pasrah dan menerima itulah yang kemudian menjadi benang merah yang menyatukan seluruh lagu dalam album ini, termasuk Hitam dan Biru.
Judul Hitam dan Biru sendiri menyimpan lapisan makna yang kaya. Dalam bahasa sehari-hari, ungkapan biru lebam atau memar yang menghitam kerap menjadi penanda luka fisik, bekas benturan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi terasa nyeri bagi yang mengalaminya.
Barasuara tampak sengaja meminjam citra tubuh yang memar untuk berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu luka batin, penyangkalan, dan pergulatan seseorang dengan masa lalunya sendiri.
Sejak baris pembuka, lagu ini sudah memosisikan diri sebagai semacam pengakuan yang tertunda, sebuah pertemuan yang sebenarnya sudah lama dihindari oleh salah satu pihak.
Nuansa ini terasa jujur, bahkan sedikit menegangkan, karena Barasuara tidak buru-buru memberikan jawaban atau penyelesaian. Mereka membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, sebagaimana pertanyaan yang memang jarang memiliki jawaban tunggal dalam kehidupan nyata.
Yang menarik dari Hitam dan Biru adalah bagaimana lagu ini bergerak di antara dua kutub: penyangkalan dan penerimaan.
Ada sosok yang terus menghindar, enggan membicarakan luka dan pikiran gelapnya secara terbuka. Namun, di sisi lain, ada ajakan yang terus diulang untuk berhenti sejenak, benar-benar duduk bersama, dan mengakui bahwa di jalan hidup yang sedang dijalani, tidak ada satu pihak pun yang benar-benar suci.
Pengulangan ajakan untuk berhenti dan berbicara di sepanjang lagu ini terasa seperti mantra, sebuah usaha yang tidak selalu berhasil sepenuhnya, tetapi terus diulang karena itulah satu-satunya jalan menuju pemulihan.
Barasuara seolah hendak menyampaikan bahwa proses menerima kesalahan, luka, atau kegagalan bukanlah peristiwa yang selesai sekali jadi, melainkan sesuatu yang harus terus-menerus diupayakan, bahkan ketika upaya itu berkali-kali menemui jalan buntu.
Bagian yang paling menohok dari lagu ini muncul menjelang akhir, ketika disebutkan bahwa benar dan salah pada akhirnya tidak lagi penting.
Yang penting adalah keberanian untuk berhenti berbicara demi membela diri dan mulai menerima kenyataan dunia apa adanya.
Pernyataan ini terasa berani sekaligus getir karena mengakui bahwa hidup tidak selalu bisa dibagi rapi menjadi hitam dan putih, benar dan salah.
Kadang, hidup hanya berwarna hitam dan biru, yaitu luka yang harus diterima tanpa perlu terus mencari siapa yang patut disalahkan.
Pesan ini sejalan dengan semangat pasrah yang menjadi jiwa dari seluruh album Jalaran Sadrah, tempat Barasuara berulang kali mengangkat tema tentang keterbatasan manusia dan pentingnya menerima apa yang tidak bisa diubah.
Dari sisi musikalitas, Hitam dan Biru mencerminkan kematangan Barasuara sebagai band yang telah melalui perjalanan panjang lebih dari satu dekade di industri musik Indonesia.
Aransemen yang dibangun cenderung berat dan atmosferik, mendukung suasana muram yang dibawa oleh liriknya, tetapi tetap dikendalikan dengan rapi agar tidak jatuh pada kesan berlebihan.
Interaksi vokal antara Iga Massardi, Puti Chitara, dan Asteriska, yang memang menjadi identitas kuat Barasuara sejak awal, memberi lagu ini dimensi dialogis.
Seolah-olah bukan hanya satu suara yang berbicara, melainkan beberapa sisi dari satu jiwa yang sedang bertengkar dengan dirinya sendiri: sisi yang menghindar, sisi yang menuntut kejujuran, dan sisi yang akhirnya lelah lalu memilih menerima.
Dalam konteks album Jalaran Sadrah yang juga menghadirkan kolaborasi dengan musisi senior seperti Erwin Gutawa melalui aransemen orkestra untuk lagu Merayakan Fana, serta memuat Fatalis yang meraih penghargaan Duo/Grup/Kolaborasi Rock Terbaik pada AMI Awards 2023, Hitam dan Biru dapat dibaca sebagai salah satu titik paling gelap sekaligus paling jujur dalam keseluruhan album.
Ia menjadi jeda reflektif di tengah warna-warni musikal yang lebih beragam. Pada saat yang sama, lagu ini menegaskan bahwa di balik pencapaian-pencapaian besar Barasuara sebagai band, ada pergulatan personal yang jauh lebih senyap dan manusiawi.
Di tengah budaya masa kini yang serba cepat menghakimi, baik di media sosial, dalam pergaulan sehari-hari, maupun dalam relasi pribadi, Hitam dan Biru menawarkan sesuatu yang jarang ditawarkan oleh lagu-lagu populer.
Lagu ini memberikan ruang untuk tidak langsung menyalahkan atau membenarkan, melainkan ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan luka orang lain, sekaligus luka diri sendiri.
Lagu ini mengingatkan bahwa banyak konflik, baik dalam relasi personal maupun dalam skala yang lebih luas, sering kali tidak terselesaikan bukan karena tidak ada pihak yang mau mengalah, melainkan karena tidak ada yang benar-benar mau berhenti dan berbicara.
Dalam arti ini, Hitam dan Biru bukan sekadar lagu galau tentang hubungan yang retak, melainkan semacam undangan filosofis untuk berdamai dengan ambiguitas hidup itu sendiri.
Sebagai penutup, Hitam dan Biru adalah contoh bagaimana Barasuara terus konsisten menghadirkan karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga sarat perenungan.
Lagu ini tidak menawarkan jawaban mudah atas pertanyaan tentang kesalahan dan penerimaan, dan justru di situlah letak kekuatannya.
Sebagaimana luka yang berubah warna sebelum akhirnya sembuh, lagu ini mengajak pendengarnya untuk sabar menjalani proses. Menerima kenyataan, seburuk apa pun warnanya, merupakan salah satu langkah menuju pemulihan.[T]
Referensi:
Barasuara Berserah Diri Lewat Album Jalaran Sadrah, JPNN.com, 21 Juni 2024.
Barasuara Bongkar Rahasia Jalaran Sadrah, JPNN.com, 24 April 2025.
Album Jalaran Sadrah Siap Sapa 5 Kota Lewat Tur Barasuara, Detik.com, 15 Oktober 2025.
Alasan Barasuara Bawakan Trek B-Side di Tur Jalaran Sadrah 2025, Medcom.id, 14 Oktober 2025.
Barasuara: Kami Band Viral dari Masa Depan, Medcom.id, 8 Agustus 2025.
Barasuara, Wikipedia bahasa Inggris, diakses September 2026.
Fernanda Slamet Wahyudi, “Representasi Alam dalam Lirik Lagu Album Jalaran Sadrah Karya Barasuara: Analisis Ekokritik Greg Garrard”, Universitas Muhammadiyah Surabaya, 2026.
Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto

![Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/09/sihab.-supertramp-360x180.png)





![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-360x180.png)





















