14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

Mahesa Putra by Mahesa Putra
August 13, 2026
in Ulas Musik
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

Umar Haen | Spotify

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.”

PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja Kita Belajar”, dan cukup terkejut dengan pembukaan yang menelanjangi Jogja dari sisi yang sebelumnya jarang sekali ditampilkan soal Jogja. Sejak awal, ketika lirik lagu “Di Jogja Kita Belajar” dikumandangkan, lagu itu seakan bergentayangan di kantin kampus, warung kopi, kamar kos, dan jembatan dengan view senja. Ketika Jogja diromantisasi dengan hal-hal yang nyeni, ngebudaya dan ngilmu, Umar Haen menggambar Jogja dengan potret yang terang benderang, visualnya tidak difilter menggunakan AI yang dapat memoles itu menjadi tampak sempurna. Ia berani keluar menjadi distorted mirror, sebuah cermin retak yang memantulkan wujud berbeda dari yang digambarkan banyak orang tentang Jogja itu sendiri.

Meski saat pertama kali kenal lagu Umar Haen pada 2019, yang saat itu baru tamat dari aktivitas sekolah yang tahun menahun menyiksa, aku sebagai pendengar hanya menikmati lagu yang saban diputar terus di tongkrongan, pada tahun 2020 lagu itu makin terdengar dinyanyikan menggunakan gitar kopong dan jimbe. Cukup mengasyikkan melihat realitas Jogja melalui musik, mendedangkannya begitu jujur dengan gaya yang ekspresif. Tentu, pikiran liarku ingin sekali menikmati suasana Jogja semacam itu. Tapi, sampai hari ini. Jogja hanya menjadi tempat singgah, yang saya tahu tentang Jogja sama seperti yang orang dengar tentang Jogja melalui wisatawan dan artikel di internet.

Ketika mendengar lagu Umar Haen, yang pada lagu-lagunya memainkan lirik tentang kritik sosial, isu lingkungan, dan kebijakan negara, aku dan orang-orang merasa lebih dekat kepada Jogja—Umar Haen berhasil mendekatkan itu kepada pendengar. Ia mampu memainkan lagu dengan begitu ekspresif dan deklamatif, meski cara bernyanyinya sederhana ia mampu memainkan dinamika yang tahu kapan harus menyanyi lirih kontemplatif, dan kapan harus menaikkan tempo serta tekanan vokal dengan gayanya yang membara deklamatif pada lagu-lagu kritik.

Umar Haen seperti abang-abangan tongkrongan, yang sedang bercerita tentang kehidupan masa mudanya di Jogja. Tentang gerakan, tentang kenakalan, juga spirit kritis yang terasa di setiap lagunya. Dengan petikan gitar kopong yang ritmis, penuh daya pikat naratif namun selalu saja organik.

Jika pada album pertama “Gumam Sepertiga Malam” ia banyak berbicara tentang pergulatan di masa muda sebagai mahasiswa, pada album kedua “Busa Sabun Masuk ke Mata”, menunjukkan cara transisi yang begitu matang. Ketika pada album pertama ia lantang dan deklaratif, pada album kedua ia terlihat begitu dewasa. Umar Haen menjelaskan persoalan dengan cara-cara yang akrab, cara-cara yang justru jarang sekali disentuh, ia mempreteli kenaikan ekonomi tidak dengan cara-cara yang tinggi. Ia menyoroti kenaikan harga sabun bayi, bensin kopi, pulsa, popok dan kenaikan pajak. Pada lirik lagu “Sabun” di album teranyarnya:

Masih terheran dengan harga sabun bayi
Kenapa bisa tiga kali lebih tinggi?
Ya sudah hemat, yang penting kamu
Tak kurang gizi
Ya sabun, ya popok, ya kopi, ya gula,
ya bensin, ya minyak, ya pajak, ya pulsa
Naik lagi.

Pada bagian ini, Umar Haen menggambarkan begitu ciamik. Ibarat sebuah film series, ia menciptakan klimaks di setiap akhir akhir series. Bahkan, klimaks pada lagu “Sabun” ini tidak hanya sekali. Klimaksnya hadir berulang kali di setiap akhir kalimat, menunjukkan kekhasan gaya bercerita Umar Haen menempatkan rentetan kata “ya” pada daftar kebutuhan pokok sebagai sebuah kecemasan.

Di bagian akhir, ia memberi jeda dalam bernyanyi menimbulkan dampak sarkas yang sudah terasa berada di titik jenuh, alih-alih marah, ia menyindir tajam dengan gaya satire sebelum berada pada bagian akhir kalimat “naik lagi”. Tentu permainan lirik semacam ini adalah gaya khas Umar Haen, ia selalu saja dapat mengungkapkan puncak ironi sosial dengan begitu sederhana. Alih-alih menyorot dolar yang melambung tinggi, ia menyorot hal yang lebih dekat dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Membuat lagu ini dapat hadir pada orang yang tidak punya pemahaman ekonomi sekalipun, tetapi ikut tertampar dengan kenaikan harga di segala sektor.

Tiap melihat berita
Bak busa masuk ke mata
Bintang berapa pengalaman WNI-mu hari ini?
Bintang limakah atau maksimal cuma bintang satu?
Tangan-tangan mereka kasar dan kaku
Takkan mungkin
Takkan mampu
Selembut ibu
*
Bintang berapa pengalaman WNI-mu hari ini?

Seperti yang saya tuliskan di judul ini, “Filosofi Sabun ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih”, Umar Haen pada bagian lirik ini menunjukkan kecakapannya dalam menulis lirik. Ia tidak hanya menulis lirik, tetapi menyelipkan kekhasan pemikiran yang mengarah ke filosofi. Sudah sangat jelas di judul album teranyarnya “Busa Sabun Masuk ke Mata”, semakin kita menyelami isi berita semakin perih di mata. Itulah, akar permasalahan yang ingin disampaikan Umar Haen.

Ia bermain-main dengan simbol yang berhasil menarik perhatian pendengar musik, apalagi dengan tampilan visual artwork-nya yang kontemporer menggandeng Galih Johar. Kolaborasi ini memperluas narasi album, menjadikan elemen visual dan lagu tidak terpisahkan. Pendengar menikmati Busa Sabun Masuk ke Mata, begitu terasa dengan visual artwork bikinan Galih Johar yang mempertemukan bahasa dan visual menjadi pengalaman artistik bagi pendengar.

Dengan keadaan sosial hari ini, Umar Haen mengungkapkannya dengan album “Busa Sabun Masuk ke Mata”. Barangkali semua orang pernah mengalami hal serupa, perih rasanya ketika busa sabun masuk ke mata, apalagi jika kita kucek berulang kali. Begitulah Umar Haen menggambarkan keadaan hari ini, meski perih, kita berulang kali hendak menyambangi keperihan itu. Dikucek dengan maksud menghilangkan perih, yang kita dapatkan malah semakin perih. Penggambaran yang sangat ironis tentang keadaan sosial hari ini, jika kita tidak mendengar betul-betul akan menganggap lagu ini sebagai sebuah lagu komedi; alih-alih sebagai lagu kritis.

Bagi yang mengenal Umar Haen pada lagu-lagunya di album pertama, tentu sedikit terkejut dengan peralihan Umar Haen dalam lirik-liriknya. Memang secara rasa, tetap sama. Tetapi cara ia menyajikan album keduanya kali ini dengan berbeda: ada kemirisan di balik komedi, ada ironi di balik simbol-simbol yang dekat. Inilah Umar Haen, peralihannya dalam berkesenian turut dipengaruhi dari cara hidupnya hari-hari. Alhasil ia bermusik tidak serta merta untuk menyenangkan dan target pasar semata, ia benar-benar hidup di lirik yang dibuatnya. Bahkan pada postingan instagramnya, ia tidak gengsi memposting sebuah reels dengan kalimat “Tinggal di Yogyakarta dari 2012-2026. Pindah kontrakan sampai 6 kali. Normal kan ya? Ucapkan selamat jalan istana sewaan.” Pada reels itu tertampil perabotan rumah yang diangkut menggunakan mobil pick up, dengan lagunya berjudul “Kardus”.

“Ucapkan selamat jalan istana sewaan,
yang harganya naik tak punya perasaan”

Setelah melihat itu, kita tidak hanya mengetahui sisi Jogja yang humanis dan begitu kharismatik tentang; pendidikan, budaya juga nyeninya. Di dalam lagu-lagu Umar Haen, kita menemukan Jogja dalam pakaian yang berbeda. Ia Jogja yang saya rasa tak jauh beda, dengan semua tanah yang mahal di nusantara. Ia Jogja sama saja, cara meromantismenya saja berbeda. Dan Umar Haen tidak meromantisasi Jogja dengan begitu, ia menggambar ironi dan terus begitu. Meski hari ini terdengar lebih dewasa dan komedi, itulah filosofi yang hendak dibawakannya. [T]

Penulis: Mahesa Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikulasan laguulasan musikUmar HaenYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

Next Post

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co