3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

Mahesa Putra by Mahesa Putra
August 13, 2026
in Ulas Musik
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

Umar Haen | Spotify

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.”

PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja Kita Belajar”, dan cukup terkejut dengan pembukaan yang menelanjangi Jogja dari sisi yang sebelumnya jarang sekali ditampilkan soal Jogja. Sejak awal, ketika lirik lagu “Di Jogja Kita Belajar” dikumandangkan, lagu itu seakan bergentayangan di kantin kampus, warung kopi, kamar kos, dan jembatan dengan view senja. Ketika Jogja diromantisasi dengan hal-hal yang nyeni, ngebudaya dan ngilmu, Umar Haen menggambar Jogja dengan potret yang terang benderang, visualnya tidak difilter menggunakan AI yang dapat memoles itu menjadi tampak sempurna. Ia berani keluar menjadi distorted mirror, sebuah cermin retak yang memantulkan wujud berbeda dari yang digambarkan banyak orang tentang Jogja itu sendiri.

Meski saat pertama kali kenal lagu Umar Haen pada 2019, yang saat itu baru tamat dari aktivitas sekolah yang tahun menahun menyiksa, aku sebagai pendengar hanya menikmati lagu yang saban diputar terus di tongkrongan, pada tahun 2020 lagu itu makin terdengar dinyanyikan menggunakan gitar kopong dan jimbe. Cukup mengasyikkan melihat realitas Jogja melalui musik, mendedangkannya begitu jujur dengan gaya yang ekspresif. Tentu, pikiran liarku ingin sekali menikmati suasana Jogja semacam itu. Tapi, sampai hari ini. Jogja hanya menjadi tempat singgah, yang saya tahu tentang Jogja sama seperti yang orang dengar tentang Jogja melalui wisatawan dan artikel di internet.

Ketika mendengar lagu Umar Haen, yang pada lagu-lagunya memainkan lirik tentang kritik sosial, isu lingkungan, dan kebijakan negara, aku dan orang-orang merasa lebih dekat kepada Jogja—Umar Haen berhasil mendekatkan itu kepada pendengar. Ia mampu memainkan lagu dengan begitu ekspresif dan deklamatif, meski cara bernyanyinya sederhana ia mampu memainkan dinamika yang tahu kapan harus menyanyi lirih kontemplatif, dan kapan harus menaikkan tempo serta tekanan vokal dengan gayanya yang membara deklamatif pada lagu-lagu kritik.

Umar Haen seperti abang-abangan tongkrongan, yang sedang bercerita tentang kehidupan masa mudanya di Jogja. Tentang gerakan, tentang kenakalan, juga spirit kritis yang terasa di setiap lagunya. Dengan petikan gitar kopong yang ritmis, penuh daya pikat naratif namun selalu saja organik.

Jika pada album pertama “Gumam Sepertiga Malam” ia banyak berbicara tentang pergulatan di masa muda sebagai mahasiswa, pada album kedua “Busa Sabun Masuk ke Mata”, menunjukkan cara transisi yang begitu matang. Ketika pada album pertama ia lantang dan deklaratif, pada album kedua ia terlihat begitu dewasa. Umar Haen menjelaskan persoalan dengan cara-cara yang akrab, cara-cara yang justru jarang sekali disentuh, ia mempreteli kenaikan ekonomi tidak dengan cara-cara yang tinggi. Ia menyoroti kenaikan harga sabun bayi, bensin kopi, pulsa, popok dan kenaikan pajak. Pada lirik lagu “Sabun” di album teranyarnya:

Masih terheran dengan harga sabun bayi
Kenapa bisa tiga kali lebih tinggi?
Ya sudah hemat, yang penting kamu
Tak kurang gizi
Ya sabun, ya popok, ya kopi, ya gula,
ya bensin, ya minyak, ya pajak, ya pulsa
Naik lagi.

Pada bagian ini, Umar Haen menggambarkan begitu ciamik. Ibarat sebuah film series, ia menciptakan klimaks di setiap akhir akhir series. Bahkan, klimaks pada lagu “Sabun” ini tidak hanya sekali. Klimaksnya hadir berulang kali di setiap akhir kalimat, menunjukkan kekhasan gaya bercerita Umar Haen menempatkan rentetan kata “ya” pada daftar kebutuhan pokok sebagai sebuah kecemasan.

Di bagian akhir, ia memberi jeda dalam bernyanyi menimbulkan dampak sarkas yang sudah terasa berada di titik jenuh, alih-alih marah, ia menyindir tajam dengan gaya satire sebelum berada pada bagian akhir kalimat “naik lagi”. Tentu permainan lirik semacam ini adalah gaya khas Umar Haen, ia selalu saja dapat mengungkapkan puncak ironi sosial dengan begitu sederhana. Alih-alih menyorot dolar yang melambung tinggi, ia menyorot hal yang lebih dekat dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Membuat lagu ini dapat hadir pada orang yang tidak punya pemahaman ekonomi sekalipun, tetapi ikut tertampar dengan kenaikan harga di segala sektor.

Tiap melihat berita
Bak busa masuk ke mata
Bintang berapa pengalaman WNI-mu hari ini?
Bintang limakah atau maksimal cuma bintang satu?
Tangan-tangan mereka kasar dan kaku
Takkan mungkin
Takkan mampu
Selembut ibu
*
Bintang berapa pengalaman WNI-mu hari ini?

Seperti yang saya tuliskan di judul ini, “Filosofi Sabun ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih”, Umar Haen pada bagian lirik ini menunjukkan kecakapannya dalam menulis lirik. Ia tidak hanya menulis lirik, tetapi menyelipkan kekhasan pemikiran yang mengarah ke filosofi. Sudah sangat jelas di judul album teranyarnya “Busa Sabun Masuk ke Mata”, semakin kita menyelami isi berita semakin perih di mata. Itulah, akar permasalahan yang ingin disampaikan Umar Haen.

Ia bermain-main dengan simbol yang berhasil menarik perhatian pendengar musik, apalagi dengan tampilan visual artwork-nya yang kontemporer menggandeng Galih Johar. Kolaborasi ini memperluas narasi album, menjadikan elemen visual dan lagu tidak terpisahkan. Pendengar menikmati Busa Sabun Masuk ke Mata, begitu terasa dengan visual artwork bikinan Galih Johar yang mempertemukan bahasa dan visual menjadi pengalaman artistik bagi pendengar.

Dengan keadaan sosial hari ini, Umar Haen mengungkapkannya dengan album “Busa Sabun Masuk ke Mata”. Barangkali semua orang pernah mengalami hal serupa, perih rasanya ketika busa sabun masuk ke mata, apalagi jika kita kucek berulang kali. Begitulah Umar Haen menggambarkan keadaan hari ini, meski perih, kita berulang kali hendak menyambangi keperihan itu. Dikucek dengan maksud menghilangkan perih, yang kita dapatkan malah semakin perih. Penggambaran yang sangat ironis tentang keadaan sosial hari ini, jika kita tidak mendengar betul-betul akan menganggap lagu ini sebagai sebuah lagu komedi; alih-alih sebagai lagu kritis.

Bagi yang mengenal Umar Haen pada lagu-lagunya di album pertama, tentu sedikit terkejut dengan peralihan Umar Haen dalam lirik-liriknya. Memang secara rasa, tetap sama. Tetapi cara ia menyajikan album keduanya kali ini dengan berbeda: ada kemirisan di balik komedi, ada ironi di balik simbol-simbol yang dekat. Inilah Umar Haen, peralihannya dalam berkesenian turut dipengaruhi dari cara hidupnya hari-hari. Alhasil ia bermusik tidak serta merta untuk menyenangkan dan target pasar semata, ia benar-benar hidup di lirik yang dibuatnya. Bahkan pada postingan instagramnya, ia tidak gengsi memposting sebuah reels dengan kalimat “Tinggal di Yogyakarta dari 2012-2026. Pindah kontrakan sampai 6 kali. Normal kan ya? Ucapkan selamat jalan istana sewaan.” Pada reels itu tertampil perabotan rumah yang diangkut menggunakan mobil pick up, dengan lagunya berjudul “Kardus”.

“Ucapkan selamat jalan istana sewaan,
yang harganya naik tak punya perasaan”

Setelah melihat itu, kita tidak hanya mengetahui sisi Jogja yang humanis dan begitu kharismatik tentang; pendidikan, budaya juga nyeninya. Di dalam lagu-lagu Umar Haen, kita menemukan Jogja dalam pakaian yang berbeda. Ia Jogja yang saya rasa tak jauh beda, dengan semua tanah yang mahal di nusantara. Ia Jogja sama saja, cara meromantismenya saja berbeda. Dan Umar Haen tidak meromantisasi Jogja dengan begitu, ia menggambar ironi dan terus begitu. Meski hari ini terdengar lebih dewasa dan komedi, itulah filosofi yang hendak dibawakannya. [T]

Penulis: Mahesa Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikulasan laguulasan musikUmar HaenYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

Next Post

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails
Next Post
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co