10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
in Ulas Musik
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Deep Purple | Ilustrasi dibuat dengan AI

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris Deep Purple. Lagu ini bukan sekadar komposisi panjang dengan improvisasi organ dan gitar yang dramatis, tetapi juga sebuah refleksi eksistensial tentang manusia, kekuasaan, dan waktu.

Di balik jeritan vokal tinggi Ian Gillan, tersimpan satu gagasan mendasar: manusia selalu menjadi “anak dalam waktu”, makhluk yang hidup di antara sejarah masa lalu dan kemungkinan masa depan.

Jika gagasan itu dibawa ke dalam konteks Indonesia hari ini, kita menemukan bahwa kehidupan sosial-politik kita sebenarnya merupakan sebuah drama filsafat tentang manusia yang terus belajar memahami dirinya sendiri.

Manusia sebagai “Anak dalam Waktu”

Dalam perspektif filsafat, manusia tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia selalu berada dalam proses, dalam keadaan “koma” tidak pernah titik.

Filusuf seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, makhluk yang selalu “menjadi” di dalam waktu. Kita tidak pernah berdiri di luar sejarah; kita selalu hidup di dalam arusnya.

Lagu Child in Time secara intuitif menyentuh gagasan ini. Manusia digambarkan sebagai anak yang tumbuh di tengah konflik, kekuasaan, dan kekerasan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ia tidak memilih zaman kelahirannya, tetapi ia harus bertanggung jawab atas tindakan yang diambil dalam zaman itu.

Indonesia kontemporer juga demikian. Generasi yang hidup hari ini tidak menciptakan seluruh masalah yang mereka warisi, korupsi, ketimpangan ekonomi, konflik identitas, tetapi mereka hidup di dalamnya. Mereka adalah anak-anak dalam waktu sejarah Indonesia.

Kekuasaan dan Godaan Moral

Salah satu pesan utama lagu tersebut adalah kritik terhadap kekuasaan yang kehilangan kesadaran moral. Dalam filsafat politik, kekuasaan selalu memiliki ambiguitas: ia dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga alat penindasan.

Pemikir seperti Michel Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya berada di negara atau pemerintah, tetapi tersebar dalam seluruh jaringan Masyarakat, dalam bahasa, institusi, bahkan dalam cara kita berpikir.

Indonesia hari ini memperlihatkan dinamika itu dengan jelas. Demokrasi telah membuka ruang partisipasi yang luas, tetapi kekuasaan tetap memiliki kecenderungan untuk mengonsolidasikan dirinya.

Kita melihat bagaimana politik sering berubah menjadi arena kepentingan, bagaimana ekonomi dapat membentuk keputusan publik, dan bagaimana narasi media dapat mempengaruhi persepsi masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat menjadi seperti “anak dalam waktu”: belajar perlahan memahami permainan kekuasaan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Waktu sebagai Penguji Kebenaran

Filsafat selalu menempatkan waktu sebagai dimensi penting bagi kebenaran. Bagi Friedrich Nietzsche, waktu adalah ujian bagi nilai-nilai manusia. Ide yang kuat akan bertahan; yang rapuh akan runtuh.

Sejarah Indonesia sendiri memperlihatkan dinamika ini. Ide-ide politik, tokoh-tokoh besar, bahkan sistem kekuasaan datang dan pergi. Namun yang bertahan adalah pencarian masyarakat terhadap keadilan dan martabat.

Lagu Child in Time mengingatkan bahwa setiap tindakan manusia akan menghadapi konsekuensi dalam waktu. Peluru yang ditembakkan hari ini mungkin tidak langsung kembali, tetapi sejarah memiliki cara sendiri untuk mengembalikannya. Di sini waktu menjadi semacam hakim metafisik yang tidak dapat disuap oleh kekuasaan.

Kesadaran Generasi Baru

Di tengah kompleksitas kehidupan modern, generasi muda Indonesia tumbuh dengan kesadaran baru. Mereka hidup di era digital, di mana informasi mengalir tanpa batas. Mereka dapat melihat dunia dengan perspektif global, tetapi pada saat yang sama tetap menghadapi realitas lokal yang keras.

Dalam kerangka filosofis, ini menciptakan kondisi yang unik: generasi yang sangat sadar akan kontradiksi zaman. Mereka melihat idealisme demokrasi, tetapi juga menyaksikan praktik politik yang pragmatis. Mereka memimpikan keadilan sosial, tetapi hidup dalam sistem ekonomi yang kompetitif.

Kesadaran ini sering kali melahirkan kegelisahan. Namun justru dari kegelisahan itulah refleksi filosofis lahir. Jeritan vokal dalam lagu Child in Time dapat dibaca sebagai simbol kegelisahan eksistensial manusia yang menyadari bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan nilai yang ia yakini.

Indonesia sebagai Proses, Bukan Kesimpulan

Dari sudut pandang filsafat sejarah, bangsa bukanlah sesuatu yang selesai. Ia adalah proyek yang terus berlangsung. Indonesia bukan sekadar negara yang sudah terbentuk; ia adalah proses panjang pencarian bentuk kehidupan bersama.

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia hari ini dapat dilihat sebagai generasi yang sedang berada di tengah perjalanan sejarah itu. Mereka adalah anak-anak dalam waktu yang harus menentukan arah masa depan bangsa: apakah menuju masyarakat yang lebih adil dan terbuka, atau kembali ke pola kekuasaan lama yang berulang?.

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh satu generasi saja. Ia membutuhkan kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan.

Jeritan yang Menjadi Kesadaran

Di akhir lagu Child in Time, suara gitar dan organ perlahan mereda. Setelah jeritan panjang, yang tersisa adalah keheningan.

Keheningan itu seolah mengundang pendengar untuk merenung: apa arti semua konflik dan kekuasaan dalam kehidupan manusia?

Bagi Indonesia kontemporer, refleksi ini tetap relevan. Bangsa ini sedang berada dalam perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Setiap generasi mewarisi masalah, tetapi juga kemungkinan untuk memperbaikinya.

Dalam arti itu, kita semua adalah anak-anak dalam waktu, makhluk yang hidup di antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang belum ditentukan.

Dan mungkin, seperti yang disiratkan oleh lagu itu, pertanyaan terbesar bagi manusia bukanlah seberapa besar kekuasaan yang ia miliki, melainkan apakah ia cukup bijaksana untuk belajar dari waktu.[T]

Tags: Deep Purplelagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

Next Post

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan ---[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co