12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
in Ulas Musik
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Deep Purple | Ilustrasi dibuat dengan AI

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris Deep Purple. Lagu ini bukan sekadar komposisi panjang dengan improvisasi organ dan gitar yang dramatis, tetapi juga sebuah refleksi eksistensial tentang manusia, kekuasaan, dan waktu.

Di balik jeritan vokal tinggi Ian Gillan, tersimpan satu gagasan mendasar: manusia selalu menjadi “anak dalam waktu”, makhluk yang hidup di antara sejarah masa lalu dan kemungkinan masa depan.

Jika gagasan itu dibawa ke dalam konteks Indonesia hari ini, kita menemukan bahwa kehidupan sosial-politik kita sebenarnya merupakan sebuah drama filsafat tentang manusia yang terus belajar memahami dirinya sendiri.

Manusia sebagai “Anak dalam Waktu”

Dalam perspektif filsafat, manusia tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia selalu berada dalam proses, dalam keadaan “koma” tidak pernah titik.

Filusuf seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, makhluk yang selalu “menjadi” di dalam waktu. Kita tidak pernah berdiri di luar sejarah; kita selalu hidup di dalam arusnya.

Lagu Child in Time secara intuitif menyentuh gagasan ini. Manusia digambarkan sebagai anak yang tumbuh di tengah konflik, kekuasaan, dan kekerasan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ia tidak memilih zaman kelahirannya, tetapi ia harus bertanggung jawab atas tindakan yang diambil dalam zaman itu.

Indonesia kontemporer juga demikian. Generasi yang hidup hari ini tidak menciptakan seluruh masalah yang mereka warisi, korupsi, ketimpangan ekonomi, konflik identitas, tetapi mereka hidup di dalamnya. Mereka adalah anak-anak dalam waktu sejarah Indonesia.

Kekuasaan dan Godaan Moral

Salah satu pesan utama lagu tersebut adalah kritik terhadap kekuasaan yang kehilangan kesadaran moral. Dalam filsafat politik, kekuasaan selalu memiliki ambiguitas: ia dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga alat penindasan.

Pemikir seperti Michel Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya berada di negara atau pemerintah, tetapi tersebar dalam seluruh jaringan Masyarakat, dalam bahasa, institusi, bahkan dalam cara kita berpikir.

Indonesia hari ini memperlihatkan dinamika itu dengan jelas. Demokrasi telah membuka ruang partisipasi yang luas, tetapi kekuasaan tetap memiliki kecenderungan untuk mengonsolidasikan dirinya.

Kita melihat bagaimana politik sering berubah menjadi arena kepentingan, bagaimana ekonomi dapat membentuk keputusan publik, dan bagaimana narasi media dapat mempengaruhi persepsi masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat menjadi seperti “anak dalam waktu”: belajar perlahan memahami permainan kekuasaan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Waktu sebagai Penguji Kebenaran

Filsafat selalu menempatkan waktu sebagai dimensi penting bagi kebenaran. Bagi Friedrich Nietzsche, waktu adalah ujian bagi nilai-nilai manusia. Ide yang kuat akan bertahan; yang rapuh akan runtuh.

Sejarah Indonesia sendiri memperlihatkan dinamika ini. Ide-ide politik, tokoh-tokoh besar, bahkan sistem kekuasaan datang dan pergi. Namun yang bertahan adalah pencarian masyarakat terhadap keadilan dan martabat.

Lagu Child in Time mengingatkan bahwa setiap tindakan manusia akan menghadapi konsekuensi dalam waktu. Peluru yang ditembakkan hari ini mungkin tidak langsung kembali, tetapi sejarah memiliki cara sendiri untuk mengembalikannya. Di sini waktu menjadi semacam hakim metafisik yang tidak dapat disuap oleh kekuasaan.

Kesadaran Generasi Baru

Di tengah kompleksitas kehidupan modern, generasi muda Indonesia tumbuh dengan kesadaran baru. Mereka hidup di era digital, di mana informasi mengalir tanpa batas. Mereka dapat melihat dunia dengan perspektif global, tetapi pada saat yang sama tetap menghadapi realitas lokal yang keras.

Dalam kerangka filosofis, ini menciptakan kondisi yang unik: generasi yang sangat sadar akan kontradiksi zaman. Mereka melihat idealisme demokrasi, tetapi juga menyaksikan praktik politik yang pragmatis. Mereka memimpikan keadilan sosial, tetapi hidup dalam sistem ekonomi yang kompetitif.

Kesadaran ini sering kali melahirkan kegelisahan. Namun justru dari kegelisahan itulah refleksi filosofis lahir. Jeritan vokal dalam lagu Child in Time dapat dibaca sebagai simbol kegelisahan eksistensial manusia yang menyadari bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan nilai yang ia yakini.

Indonesia sebagai Proses, Bukan Kesimpulan

Dari sudut pandang filsafat sejarah, bangsa bukanlah sesuatu yang selesai. Ia adalah proyek yang terus berlangsung. Indonesia bukan sekadar negara yang sudah terbentuk; ia adalah proses panjang pencarian bentuk kehidupan bersama.

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia hari ini dapat dilihat sebagai generasi yang sedang berada di tengah perjalanan sejarah itu. Mereka adalah anak-anak dalam waktu yang harus menentukan arah masa depan bangsa: apakah menuju masyarakat yang lebih adil dan terbuka, atau kembali ke pola kekuasaan lama yang berulang?.

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh satu generasi saja. Ia membutuhkan kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan.

Jeritan yang Menjadi Kesadaran

Di akhir lagu Child in Time, suara gitar dan organ perlahan mereda. Setelah jeritan panjang, yang tersisa adalah keheningan.

Keheningan itu seolah mengundang pendengar untuk merenung: apa arti semua konflik dan kekuasaan dalam kehidupan manusia?

Bagi Indonesia kontemporer, refleksi ini tetap relevan. Bangsa ini sedang berada dalam perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Setiap generasi mewarisi masalah, tetapi juga kemungkinan untuk memperbaikinya.

Dalam arti itu, kita semua adalah anak-anak dalam waktu, makhluk yang hidup di antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang belum ditentukan.

Dan mungkin, seperti yang disiratkan oleh lagu itu, pertanyaan terbesar bagi manusia bukanlah seberapa besar kekuasaan yang ia miliki, melainkan apakah ia cukup bijaksana untuk belajar dari waktu.[T]

Tags: Deep Purplelagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

Next Post

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan ---[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co