21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
in Ulas Musik
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Deep Purple | Ilustrasi dibuat dengan AI

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris Deep Purple. Lagu ini bukan sekadar komposisi panjang dengan improvisasi organ dan gitar yang dramatis, tetapi juga sebuah refleksi eksistensial tentang manusia, kekuasaan, dan waktu.

Di balik jeritan vokal tinggi Ian Gillan, tersimpan satu gagasan mendasar: manusia selalu menjadi “anak dalam waktu”, makhluk yang hidup di antara sejarah masa lalu dan kemungkinan masa depan.

Jika gagasan itu dibawa ke dalam konteks Indonesia hari ini, kita menemukan bahwa kehidupan sosial-politik kita sebenarnya merupakan sebuah drama filsafat tentang manusia yang terus belajar memahami dirinya sendiri.

Manusia sebagai “Anak dalam Waktu”

Dalam perspektif filsafat, manusia tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia selalu berada dalam proses, dalam keadaan “koma” tidak pernah titik.

Filusuf seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, makhluk yang selalu “menjadi” di dalam waktu. Kita tidak pernah berdiri di luar sejarah; kita selalu hidup di dalam arusnya.

Lagu Child in Time secara intuitif menyentuh gagasan ini. Manusia digambarkan sebagai anak yang tumbuh di tengah konflik, kekuasaan, dan kekerasan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ia tidak memilih zaman kelahirannya, tetapi ia harus bertanggung jawab atas tindakan yang diambil dalam zaman itu.

Indonesia kontemporer juga demikian. Generasi yang hidup hari ini tidak menciptakan seluruh masalah yang mereka warisi, korupsi, ketimpangan ekonomi, konflik identitas, tetapi mereka hidup di dalamnya. Mereka adalah anak-anak dalam waktu sejarah Indonesia.

Kekuasaan dan Godaan Moral

Salah satu pesan utama lagu tersebut adalah kritik terhadap kekuasaan yang kehilangan kesadaran moral. Dalam filsafat politik, kekuasaan selalu memiliki ambiguitas: ia dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga alat penindasan.

Pemikir seperti Michel Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya berada di negara atau pemerintah, tetapi tersebar dalam seluruh jaringan Masyarakat, dalam bahasa, institusi, bahkan dalam cara kita berpikir.

Indonesia hari ini memperlihatkan dinamika itu dengan jelas. Demokrasi telah membuka ruang partisipasi yang luas, tetapi kekuasaan tetap memiliki kecenderungan untuk mengonsolidasikan dirinya.

Kita melihat bagaimana politik sering berubah menjadi arena kepentingan, bagaimana ekonomi dapat membentuk keputusan publik, dan bagaimana narasi media dapat mempengaruhi persepsi masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat menjadi seperti “anak dalam waktu”: belajar perlahan memahami permainan kekuasaan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Waktu sebagai Penguji Kebenaran

Filsafat selalu menempatkan waktu sebagai dimensi penting bagi kebenaran. Bagi Friedrich Nietzsche, waktu adalah ujian bagi nilai-nilai manusia. Ide yang kuat akan bertahan; yang rapuh akan runtuh.

Sejarah Indonesia sendiri memperlihatkan dinamika ini. Ide-ide politik, tokoh-tokoh besar, bahkan sistem kekuasaan datang dan pergi. Namun yang bertahan adalah pencarian masyarakat terhadap keadilan dan martabat.

Lagu Child in Time mengingatkan bahwa setiap tindakan manusia akan menghadapi konsekuensi dalam waktu. Peluru yang ditembakkan hari ini mungkin tidak langsung kembali, tetapi sejarah memiliki cara sendiri untuk mengembalikannya. Di sini waktu menjadi semacam hakim metafisik yang tidak dapat disuap oleh kekuasaan.

Kesadaran Generasi Baru

Di tengah kompleksitas kehidupan modern, generasi muda Indonesia tumbuh dengan kesadaran baru. Mereka hidup di era digital, di mana informasi mengalir tanpa batas. Mereka dapat melihat dunia dengan perspektif global, tetapi pada saat yang sama tetap menghadapi realitas lokal yang keras.

Dalam kerangka filosofis, ini menciptakan kondisi yang unik: generasi yang sangat sadar akan kontradiksi zaman. Mereka melihat idealisme demokrasi, tetapi juga menyaksikan praktik politik yang pragmatis. Mereka memimpikan keadilan sosial, tetapi hidup dalam sistem ekonomi yang kompetitif.

Kesadaran ini sering kali melahirkan kegelisahan. Namun justru dari kegelisahan itulah refleksi filosofis lahir. Jeritan vokal dalam lagu Child in Time dapat dibaca sebagai simbol kegelisahan eksistensial manusia yang menyadari bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan nilai yang ia yakini.

Indonesia sebagai Proses, Bukan Kesimpulan

Dari sudut pandang filsafat sejarah, bangsa bukanlah sesuatu yang selesai. Ia adalah proyek yang terus berlangsung. Indonesia bukan sekadar negara yang sudah terbentuk; ia adalah proses panjang pencarian bentuk kehidupan bersama.

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia hari ini dapat dilihat sebagai generasi yang sedang berada di tengah perjalanan sejarah itu. Mereka adalah anak-anak dalam waktu yang harus menentukan arah masa depan bangsa: apakah menuju masyarakat yang lebih adil dan terbuka, atau kembali ke pola kekuasaan lama yang berulang?.

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh satu generasi saja. Ia membutuhkan kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan.

Jeritan yang Menjadi Kesadaran

Di akhir lagu Child in Time, suara gitar dan organ perlahan mereda. Setelah jeritan panjang, yang tersisa adalah keheningan.

Keheningan itu seolah mengundang pendengar untuk merenung: apa arti semua konflik dan kekuasaan dalam kehidupan manusia?

Bagi Indonesia kontemporer, refleksi ini tetap relevan. Bangsa ini sedang berada dalam perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Setiap generasi mewarisi masalah, tetapi juga kemungkinan untuk memperbaikinya.

Dalam arti itu, kita semua adalah anak-anak dalam waktu, makhluk yang hidup di antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang belum ditentukan.

Dan mungkin, seperti yang disiratkan oleh lagu itu, pertanyaan terbesar bagi manusia bukanlah seberapa besar kekuasaan yang ia miliki, melainkan apakah ia cukup bijaksana untuk belajar dari waktu.[T]

Tags: Deep Purplelagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

Next Post

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails
Next Post
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan ---[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co