1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
in Ulas Musik
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Deep Purple | Ilustrasi dibuat dengan AI

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris Deep Purple. Lagu ini bukan sekadar komposisi panjang dengan improvisasi organ dan gitar yang dramatis, tetapi juga sebuah refleksi eksistensial tentang manusia, kekuasaan, dan waktu.

Di balik jeritan vokal tinggi Ian Gillan, tersimpan satu gagasan mendasar: manusia selalu menjadi “anak dalam waktu”, makhluk yang hidup di antara sejarah masa lalu dan kemungkinan masa depan.

Jika gagasan itu dibawa ke dalam konteks Indonesia hari ini, kita menemukan bahwa kehidupan sosial-politik kita sebenarnya merupakan sebuah drama filsafat tentang manusia yang terus belajar memahami dirinya sendiri.

Manusia sebagai “Anak dalam Waktu”

Dalam perspektif filsafat, manusia tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia selalu berada dalam proses, dalam keadaan “koma” tidak pernah titik.

Filusuf seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, makhluk yang selalu “menjadi” di dalam waktu. Kita tidak pernah berdiri di luar sejarah; kita selalu hidup di dalam arusnya.

Lagu Child in Time secara intuitif menyentuh gagasan ini. Manusia digambarkan sebagai anak yang tumbuh di tengah konflik, kekuasaan, dan kekerasan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Ia tidak memilih zaman kelahirannya, tetapi ia harus bertanggung jawab atas tindakan yang diambil dalam zaman itu.

Indonesia kontemporer juga demikian. Generasi yang hidup hari ini tidak menciptakan seluruh masalah yang mereka warisi, korupsi, ketimpangan ekonomi, konflik identitas, tetapi mereka hidup di dalamnya. Mereka adalah anak-anak dalam waktu sejarah Indonesia.

Kekuasaan dan Godaan Moral

Salah satu pesan utama lagu tersebut adalah kritik terhadap kekuasaan yang kehilangan kesadaran moral. Dalam filsafat politik, kekuasaan selalu memiliki ambiguitas: ia dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga alat penindasan.

Pemikir seperti Michel Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya berada di negara atau pemerintah, tetapi tersebar dalam seluruh jaringan Masyarakat, dalam bahasa, institusi, bahkan dalam cara kita berpikir.

Indonesia hari ini memperlihatkan dinamika itu dengan jelas. Demokrasi telah membuka ruang partisipasi yang luas, tetapi kekuasaan tetap memiliki kecenderungan untuk mengonsolidasikan dirinya.

Kita melihat bagaimana politik sering berubah menjadi arena kepentingan, bagaimana ekonomi dapat membentuk keputusan publik, dan bagaimana narasi media dapat mempengaruhi persepsi masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat menjadi seperti “anak dalam waktu”: belajar perlahan memahami permainan kekuasaan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Waktu sebagai Penguji Kebenaran

Filsafat selalu menempatkan waktu sebagai dimensi penting bagi kebenaran. Bagi Friedrich Nietzsche, waktu adalah ujian bagi nilai-nilai manusia. Ide yang kuat akan bertahan; yang rapuh akan runtuh.

Sejarah Indonesia sendiri memperlihatkan dinamika ini. Ide-ide politik, tokoh-tokoh besar, bahkan sistem kekuasaan datang dan pergi. Namun yang bertahan adalah pencarian masyarakat terhadap keadilan dan martabat.

Lagu Child in Time mengingatkan bahwa setiap tindakan manusia akan menghadapi konsekuensi dalam waktu. Peluru yang ditembakkan hari ini mungkin tidak langsung kembali, tetapi sejarah memiliki cara sendiri untuk mengembalikannya. Di sini waktu menjadi semacam hakim metafisik yang tidak dapat disuap oleh kekuasaan.

Kesadaran Generasi Baru

Di tengah kompleksitas kehidupan modern, generasi muda Indonesia tumbuh dengan kesadaran baru. Mereka hidup di era digital, di mana informasi mengalir tanpa batas. Mereka dapat melihat dunia dengan perspektif global, tetapi pada saat yang sama tetap menghadapi realitas lokal yang keras.

Dalam kerangka filosofis, ini menciptakan kondisi yang unik: generasi yang sangat sadar akan kontradiksi zaman. Mereka melihat idealisme demokrasi, tetapi juga menyaksikan praktik politik yang pragmatis. Mereka memimpikan keadilan sosial, tetapi hidup dalam sistem ekonomi yang kompetitif.

Kesadaran ini sering kali melahirkan kegelisahan. Namun justru dari kegelisahan itulah refleksi filosofis lahir. Jeritan vokal dalam lagu Child in Time dapat dibaca sebagai simbol kegelisahan eksistensial manusia yang menyadari bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan nilai yang ia yakini.

Indonesia sebagai Proses, Bukan Kesimpulan

Dari sudut pandang filsafat sejarah, bangsa bukanlah sesuatu yang selesai. Ia adalah proyek yang terus berlangsung. Indonesia bukan sekadar negara yang sudah terbentuk; ia adalah proses panjang pencarian bentuk kehidupan bersama.

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia hari ini dapat dilihat sebagai generasi yang sedang berada di tengah perjalanan sejarah itu. Mereka adalah anak-anak dalam waktu yang harus menentukan arah masa depan bangsa: apakah menuju masyarakat yang lebih adil dan terbuka, atau kembali ke pola kekuasaan lama yang berulang?.

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh satu generasi saja. Ia membutuhkan kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan.

Jeritan yang Menjadi Kesadaran

Di akhir lagu Child in Time, suara gitar dan organ perlahan mereda. Setelah jeritan panjang, yang tersisa adalah keheningan.

Keheningan itu seolah mengundang pendengar untuk merenung: apa arti semua konflik dan kekuasaan dalam kehidupan manusia?

Bagi Indonesia kontemporer, refleksi ini tetap relevan. Bangsa ini sedang berada dalam perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Setiap generasi mewarisi masalah, tetapi juga kemungkinan untuk memperbaikinya.

Dalam arti itu, kita semua adalah anak-anak dalam waktu, makhluk yang hidup di antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang belum ditentukan.

Dan mungkin, seperti yang disiratkan oleh lagu itu, pertanyaan terbesar bagi manusia bukanlah seberapa besar kekuasaan yang ia miliki, melainkan apakah ia cukup bijaksana untuk belajar dari waktu.[T]

Tags: Deep Purplelagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

Next Post

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails
Next Post
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan ---[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co