10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

Chusmeru by Chusmeru
July 20, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan Prabowo-Gibran tetap berjalan di tengah banyaknya kritik berbagai kalangan. Targetnya satu desa satu koperasi dengan total 40.000 KDMP berdiri di tahun 2026.

Muncul dua kubu yang pro atau mendukung KDMP dan kubu yang mencoba bersikap kritis. Mereka yang mendukung sepertinya hendak bernostalgia dengan Orde Baru, di mana koperasi dianggap sebagai soko guru ekonomi Indonesia. Karenanya KDMP dipercaya dapat mengembalikan kejayaan ekonomi kerakyatan.

Kubu yang bersikap kritis berangkat dari trauma terhadap Koperasi Unit Desa (KUD) yang hidup di rezim Orde Baru. Saat itu KUD banyak gagal dan gulung tikar, juga menjadi sarang korupsi dan nepotisme kepala desa. Oleh sebab itu KDMP dikhawatirkan akan mengulang kegagalan KUD. Jika KUD di era 1980-1990an saja gagal, lantas buat apa KDMP? Apakah sudah disiapkan katup pengaman agar tak terulang kegagalan itu?

Proses pembentukan KDMP sendiri memang penuh drama. Banyak KDMP yang didirikan di Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan di Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), bahkan ada pula yang dibangun di perbukitan. Pelatihan bergaya militer pun dilakukan bagi calon manajer KDMP, hingga disetop lantaran menimbulkan lima korban jiwa.

Trauma KUD

Belum sirna rasa trauma masyarakat terhadap KUD di era Presiden Soeharto, kini Presiden Prabowo Subianto mencanangkan KDMP yang skenarionya mirip dengan lembaga perekonomian desa Orde Baru itu. Jika KUD dibentuk berdasarkan Inpres Nomor 4 Tahun 1984, maka KDMP lahir dari Inpres Nomor 9 Tahun 2025. Artinya kedua koperasi itu terbentuk atas Instruksi Presiden.

Keberadaan KUD di masa lalu sejatinya bisa menjadi pelajaran berharga. Kehadiran KDMP saat ini justru dapat membuka kuburan lama KUD. Tahun 1980-an terdapat sekitar 9.000 KUD di seluruh Indonesia. Setelah tahun 1998 KUD runtuh dan tersisa sekitar 2.000 saja. Dampak yang ditimbulkan adalah kerugian negara akibat kredit macet sejumlah 3 triliun rupiah dan aset mangkrak sebesar 1,4 triliun rupiah (The Kupang Times Newsroom, 31 Mei 2025).

Banyak faktor yang menyebabkan KUD tumbang. Koperasi itu bersifat semu dan top-down, bukan tumbuh dari inisiatif rakyat, namun lebih bersifat proyek pemerintahan Soeharto. Hal yang sama juga terjadi pada KDMP. Koperasi ini lahir dari janji politik Prabowo Subianto, tanpa didahului studi mendalam tentang kebutuhan koperasi macam apa di pedesaan.

Ketergantungan pada pemerintah membuat KUD tidak pernah mandiri secara finansial. KUD lebih banyak disusui oleh pemerintah. Menyimak proses pembentukan KDMP saat ini, tendensi ketergantungan itu juga sangat besar. Apalagi pembentukan KDMP melibatkan unsur militer, boleh jadi KDMP hanya akan bertahan sepanjang militer masih intervensi terhadap koperasi itu. Satu hal aneh tentunya ketika koperasi di desa dalam binaan tentara.

Korupsi dan salah kelola pengurus juga menjadi penyebab tumbangnya KUD. Banyak KUD disalahgunakan, terutama saat menjadi sarana distribusi pupuk dan kredit. Selain itu, KUD dibentuk bukan berdasarkan kebutuhan anggota, tapi lebih karena terbentuk secara administratif pemerintahan Orde Baru. Bagaimana pula dengan KDMP? Sepertinya sebangun dan serupa dengan KUD.

Lubang hitam dan menganga akan dapat dilihat pada KDMP bila belajar dari kegagalan KUD. Koperasi itu akan menjadi beban bagi desa. Apalagi 58 persen Dana Desa 2026 dikunci untuk KDMP. Desa akan kehilangan fleksibilitas pada program-program penting, seperti stunting, jalan desa, irigasi, dan sebagainya, karena anggaran dipaksa untuk menyukseskan KDMP.

Trauma KUD dapat saja terulang pada KDMP. Persoalan koperasi desa ini bukanlah investasi, tapi sebuah “perjudian”. Pemerintah sedang bertaruh puluhan triliun rupiah dengan pola yang nyaris sama dengan KUD yang membuat rugi negara. Perbedaannya, KUD gagal secara perlahan selama 20 tahun, KDMP bisa gagal serentak dari 40.000 titik di desa.

Hasrat Politik

Keberadaan KDMP sering dicurigai sebagai bagian dari agenda politik tahun 2029. Hasrat untuk kembali berkuasa di tahun 2029 menjadikan KDMP sebagai mesin politik rezim saat ini. Kecurigaan itu barangkali masuk akal bila mencermati keberadaan KUD di masa lalu. KUD kerap dianggap menjalankan fungsi politik, sebagai simpul Golkar di desa. Distribusi pupuk menjadi langkah untuk menggalang loyalitas kepada penguasa Orde Baru.

Kecurigaan pada KDMP akan menjadi simpul baru bagi penguasa saat ini pun bukan isapan jempol. Presiden dan para menteri di dalam koalisi kekuasaan akan dengan mudah melakukan mobilisasi massa. Bila masing-masing KDMP berisi 10 orang pengurus, maka akan terdapat 400.000 orang dalam jaringan kekuasaan. Dan jumlah itu masih bisa bertambah bila dalam perjalanannya akan mengacu pada skenario awal dengan mendirikan 80.000 KDMP. Sebuah ekosistem ekonomi politik yang menjanjikan.

Narasi ideologis yang dibangun dan timing politik pendirian KDMP juga dianggap strategis. Jika KUD mengusung narasi “Soko Guru Ekonomi dan Swasembada Pangan”, maka narasi KDMP adalah “Soko Guru Ekonomi, Swasembada Pangan, dan Ekonomi Kerakyatan”. Nyaris sama seratus persen. Hanya ditambah embel-embel “Merah Putih”.

Angka 83 trilun rupiah yang rencananya akan dikucurkan untuk KDMP dapat dipandang bukan hanya bernilai ekonomis, tetapi juga merupakan infrastruktur politik untuk mesin logistik di Pemilu 2029. Institusionalisasi jaringan akan terbentuk melalui Dana Desa, struktur pengurus koperasi, dan ketergantungan pada kucuran anggaran pemerintah pusat.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkikifli Hasan seusai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto mengatakan, KDMP nantinya untuk menyampaikan barang-barang bantuan, bantuan sosial, dan barang subsidi. Selain itu, KDMP juga akan menjadi offtaker komoditas yang dihasilkan masyarakat, seperti gabah, jagung, dan yang lain, di mana harganya sudah ditentukan oleh pemerintah (CNBC Indonesia, 15 Juli 2026).

Koperasi desa ini dengan demikian dianggap lebih efektif ketimbang bantuan sosial (bansos). KDMP dapat direkayasa menjadi “politik sembako” serta “politik institusi”. Jika bansos akan langsung habis begitu dicairkan, maka KDMP lebih bersifat permanen. Data pengurus dan anggota koperasi dapat menjadi acuan data pemilih level mikro yang mahal harganya.

Bukan berarti KDMP akan berjalan mulus sebagai mesin politik 2029. Sekali lagi, kegagalan KUD di masa lalu dapat saja terulang. Apalagi daya kritis masyarakat kini tumbuh dengan baik melalui diskusi publik di media sosial. KDMP tak bisa lagi seperti KUD yang memonopoli distribusi pupuk. Cerita sukses Golkar lewat politisasi KUD tak lagi bisa dimainkan oleh partai penguasa saat ini untuk politisasi KDMP.

Hasrat politik Prabowo untuk tahun 2029 dapat terganggu bila kelak KDMP tak berjalan sesuai skenario. Koperasi desa yang dikorupsi pengurusnya, misalnya, akan menjadi narasi politik yang buruk bagi penguasa. Lawan politik akan menjadikannya peluru dengan berteriak “korupsi berjamaah” di KDMP.

Operasionalisasi KDMP kemungkinan juga akan mendapat perlawanan dari oligarki retail, sehingga sulit melawan Indomart, Alfamart, Shopee, maupun pinjol. Ketika KDMP tak mampu bersaing, maka loyalitas masyarakat pada koperasi desa akan lemah.

Batu ujian masih akan dihadapi KDMP sebagai mesin politik Prabowo. Sederet pertanyaan menanti jawaban KDMP. Apakah koperasi itu mampu menurunkan harga beras, gula pasir, telor ayam, daging, minyak, dan sembako lain di semua daerah. Akankah KDMP hanya akan menjadi bangunan kosong dengan spanduk Prabowo?

Karena politik itu soal hasil, bukan spanduk. Koperasi Unit Desa berada di tempat strategis di desa, sehingga mobilisisasi massa kala itu sukses. Sedangkan Koperasi Desa Merah Putih tidak jelas arah dan posisinya, bahkan ada yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk. Maka, jika KUD adalah produk kadaluwarsa rezim Soeharto, boleh jadi KDMP akan menjadi produk gagal rezim Prabowo. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikoperasikoperasi merah putih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Next Post

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails
Next Post
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Anak Sang Zaman ---[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co