12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
in Pameran
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Suasana pameran Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka. Namun, orang-orang yang akan menyaksikan pameran itu tampak mengamati karya lukis di sisi kanan galeri. Maklum, mereka belum bisa melihat di dalam ruangan karena memang belum dibuka secara resmi.

Suasana tersebut tampak dalam acara pembukaan pameran bersama yang digelar Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur, Jumat, 18 September 2026. Sebelum bisa menyaksikan karya-karya di ruang pameran, mereka memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat karya lukis yang dipajang di luar ruang galeri. Lampu penerang karya itu masih redup, karena memang pameran belum dibuka.

Pada dinding sisi galeri itu, sesungguhnya terpajang tujuh karya dari perupa yang berbeda-beda. Namun, orang-orang yang hadir justru tertarik menyaksikan dua karya tersebut. Dalam karya berjudul “Senyum Sapa #1”, seorang gadis polos berbaju hijau bercorak bunga mencakupkan kedua tangannya di depan dada. Salah satu tangannya memakai gelang tridatu, sementara tangan lainnya mengenakan gelang bermotif bunga. Di sekitarnya dipenuhi samlung.

Di bawahnya, ada “Senyum Sapa #2”, lukisan berukuran lebih kecil, juga menampilkan seorang gadis yang memakai gelungan janger. Di sekitar gadis itu juga dipenuhi bun-bun. “Ini menceritakan keharmonisan, khususnya di keluarga kami sendiri. Ini anak pertama dan di bawahnya anak kedua. Lalu, visualnya seperti bun-bun, samlung, sebagai ikatan harmonis dalam keluarga yang terjalin dengan baik,” kata perupa I Made Jendra.

Suasana pameran Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur

Payangan merupakan sebuah wilayah yang secara geografis didominasi kawasan pertanian, sehingga banyak bun-bun yang tumbuh. Senyum harmonis dalam keluarga itu mesti tetap dijaga di tengah zaman global serta kemajuan teknologi. “Senyum Sapa ini ke depan akan tetap berlanjut, mungkin ada Senyum Sapa 3, 4, dan seterusnya,” harap Jendra.

Pameran kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang didampingi pemilik Griya Santrian, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA., ditandai dengan pengguntingan pita. Pameran yang berlangsung hingga 31 Oktober 2026 tersebut menampilkan sebanyak 38 karya dari para perupa Payangan. Karya-karya itu hadir dengan beragam pendekatan, mulai dari seni tradisi, modern, abstraksi, hingga seni patung.

Ketika pintu galeri dibuka, di sisi kiri tampak sebuah lukisan tradisi yang memikat. Karya berjudul “Sang Anoman Ketemu Trijata” tersebut merupakan karya I Wayan Badra. Lukisan itu menggunakan gaya tradisi murni di atas kanvas. Anoman duduk bersila dengan senyum mengembang, menatap sosok Dewi Trijata yang digambarkan begitu berani, bahkan sensual, jauh dari pakem wayang klasik. Kisahnya diangkat dari cerita pewayangan.

Anoman itu bukan yang asli, melainkan jelmaan dari Jumawan yang memfitnah Anoman. Jumawan, yang cintanya ditolak Trijata, mengubah wajah menjadi Anoman untuk mengelabui Trijata. Hal itu memperlihatkan karakter yang tidak baik karena mengelabui seseorang dan merugikan orang lain. “Saya ingin menyampaikan pesan, jangan sekali-sekali mengelabui dan memfitnah karena dapat merugikan orang lain,” ucap Badra.

I Wayan Badra bersama karya berjudul “Sang Anoman Ketemu Trijata”

Karya-karya lukis tersebut memenuhi ruang galeri. Baik di sisi barat, selatan, maupun timur, penuh dengan karya-karya menarik. Wakil Bupati Agung Mayun berbaur dengan seniman, pencinta seni, serta wisatawan. Mereka tak mau melewatkan momen tersebut. Sebab, di masing-masing sisi terdapat seniman yang siap menjelaskan dan memaparkan karyanya.

Sementara itu, di tengah-tengah terdapat tiga karya patung yang penuh makna. Salah satu karya yang dipamerkan adalah patung terakota berjudul “Akhir Persahabatan” karya Drs. I Made Suparta, M.Hum. Karya yang dibuat pada 2026 tersebut mengangkat klimaks tragis dari cerita Tantri Kamandaka, yakni pertempuran antara Singa Candapinggala, raja hutan, dengan Lembu Nandaka, sahabatnya sendiri.

Dalam kisah tersebut, hubungan persahabatan keduanya yang semula berlangsung damai terusik oleh hasutan Patih Sambaddha Srigala. Hasutan tersebut memicu kecurigaan hingga akhirnya kedua sahabat itu saling menerkam. Patung tersebut dibuat dari tanah liat bakar atau terakota dengan ukuran sekitar 30 x 40 x 45 sentimeter. Permukaannya diberi finishing hijau yang digosok hingga menghasilkan kilau menyerupai perunggu antik.

I Made Jendra bersama karya-karyanya

Melalui karya tersebut, I Made Suparta tidak sekadar menghadirkan pertarungan dua figur binatang, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai rapuhnya persahabatan ketika kecurigaan dan hasutan dibiarkan berkembang. Setiap lekukan tubuh singa dan lembu dalam posisi saling berhadapan menggambarkan ketegangan sekaligus tragedi hubungan dua sahabat. “Akhir Persahabatan” menjadi refleksi bahwa kata-kata dapat menjadi pemicu konflik dan persahabatan yang kuat dapat runtuh ketika keraguan mulai meracuni hati,” jelas Suparta.

Suasana pameran Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur

Ketua Himpunan Perupa Payangan, Made Dolar Astawa, mengatakan kehadiran pameran ini menjadi ruang bagi para seniman Payangan untuk memperluas eksplorasi artistik sekaligus membangun dialog antara kekuatan tradisi dengan perkembangan seni rupa masa kini. “Pameran di Sanur ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan komunitas perupa Payangan,” ucapnya.

Menurutnya, jika sebelumnya eksplorasi lebih banyak diarahkan ke dalam dengan berpijak pada filosofi Bayu-dep-Karma, kali ini para perupa mencoba membuka langkah lebih jauh dengan menciptakan ruang kreativitas yang lebih luas. “Udhar Banda Karma merupakan upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka,” jelas Dolar Astawa.

Keberagaman pendekatan dalam 38 karya yang dipamerkan justru menjadi kekuatan Himpunan Perupa Payangan. Sejumlah seniman tetap mempertahankan karakter tradisi, sementara seniman lainnya mengeksplorasi pertemuan estetika tradisional dengan pendekatan modern dan abstraksi.

Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina melihat perpindahan ruang pamer dari Payangan ke Sanur bukan sekadar perubahan tempat penyelenggaraan. Perpindahan tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah “perpindahan epistemik”, yakni pergeseran dari ruang yang memiliki ikatan kuat dengan pakem tradisi menuju ruang dialog seni yang lebih terbuka.

Sanur sendiri memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai pengaruh seni dan budaya. Karena itu, kehadiran perupa Payangan di kawasan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana tradisi dapat terus berkembang sekaligus tetap mempertahankan akar identitasnya.

Gagasan Udhar Banda Karma menjadi pijakan utama dalam proses kreatif tersebut. Secara etimologis, udhar berarti mengurai atau melepaskan ikatan, banda berarti belenggu atau kekangan, sedangkan karma berkaitan dengan perbuatan maupun hasil dari tindakan masa lalu.

Gagasan tersebut tercermin dalam karya-karya yang dipamerkan. Beberapa karya masih memperlihatkan karakter estetika klasik Payangan melalui kekuatan garis, detail, teknik, serta karakter visual tradisional. Namun, unsur tradisi dalam pameran tersebut tidak semata-mata tampil sebagai pengulangan bentuk yang sudah ada.

Sejumlah perupa mengolah karakter pewayangan, lanskap, hingga simbol-simbol Bali melalui komposisi dan sapuan kuas yang lebih modern. Dari sana, eksplorasi kemudian berkembang menuju karya abstrak yang lebih menonjolkan warna, tekstur, energi, dan emosi. Pelepasan terhadap pakem juga tidak dimaknai sebagai pemutusan hubungan dengan akar budaya.

Spiritualitas dan pengalaman yang lahir dari kehidupan Bali tetap menjadi bagian dari proses penciptaan, tetapi diterjemahkan melalui bahasa visual yang lebih bebas.

I Made Suparta bersama karyanya

Eksplorasi serupa terlihat pada karya seni patung. Material seperti kayu dan batu tidak hanya digunakan untuk menghadirkan figur tradisional, tetapi juga dikembangkan melalui permainan bentuk, ruang, dan volume. Rangkaian karya tersebut memperlihatkan spektrum perjalanan kreatif para perupa Payangan, mulai dari tradisi yang dipertahankan, tradisi yang ditafsirkan kembali, hingga tradisi yang diterjemahkan menggunakan bahasa seni yang lebih kontemporer.

Pemilik Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA., menyambut pameran tersebut sebagai pertemuan antara dua karakter geografis sekaligus kultural Bali. Payangan merepresentasikan kawasan pedalaman Bali, sedangkan Sanur selama ini dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan pengaruh seni.

Dalam pertemuan dua ruang tersebut, seni menjadi jembatan yang memungkinkan tradisi dan perkembangan kreativitas berdialog. “Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan pemilik Santrian Art Gallery.

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang mewakili Bupati Gianyar, mengapresiasi pameran yang digelar putra daerah Gianyar ini. Ia juga memberikan penghargaan karena pameran tersebut telah menghadirkan ruang ekspresi dan dialog melalui tema “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition”. Tema ini menarik untuk melihat kembali tradisi sebagai warisan yang dapat direnungkan dan ditafsirkan kembali sesuai dengan perkembangan zaman.

“Seniman memiliki kebebasan untuk menafsir melalui karya seni, sehingga menjadi pengalaman yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Himpunan Perupa PayanganPameran Seni RupaPayanganSantrian Art GallerySeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Next Post

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri - [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co