1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
in Pameran
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Suasana pameran Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka. Namun, orang-orang yang akan menyaksikan pameran itu tampak mengamati karya lukis di sisi kanan galeri. Maklum, mereka belum bisa melihat di dalam ruangan karena memang belum dibuka secara resmi.

Suasana tersebut tampak dalam acara pembukaan pameran bersama yang digelar Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur, Jumat, 18 September 2026. Sebelum bisa menyaksikan karya-karya di ruang pameran, mereka memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat karya lukis yang dipajang di luar ruang galeri. Lampu penerang karya itu masih redup, karena memang pameran belum dibuka.

Pada dinding sisi galeri itu, sesungguhnya terpajang tujuh karya dari perupa yang berbeda-beda. Namun, orang-orang yang hadir justru tertarik menyaksikan dua karya tersebut. Dalam karya berjudul “Senyum Sapa #1”, seorang gadis polos berbaju hijau bercorak bunga mencakupkan kedua tangannya di depan dada. Salah satu tangannya memakai gelang tridatu, sementara tangan lainnya mengenakan gelang bermotif bunga. Di sekitarnya dipenuhi samlung.

Di bawahnya, ada “Senyum Sapa #2”, lukisan berukuran lebih kecil, juga menampilkan seorang gadis yang memakai gelungan janger. Di sekitar gadis itu juga dipenuhi bun-bun. “Ini menceritakan keharmonisan, khususnya di keluarga kami sendiri. Ini anak pertama dan di bawahnya anak kedua. Lalu, visualnya seperti bun-bun, samlung, sebagai ikatan harmonis dalam keluarga yang terjalin dengan baik,” kata perupa I Made Jendra.

Suasana pameran Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur

Payangan merupakan sebuah wilayah yang secara geografis didominasi kawasan pertanian, sehingga banyak bun-bun yang tumbuh. Senyum harmonis dalam keluarga itu mesti tetap dijaga di tengah zaman global serta kemajuan teknologi. “Senyum Sapa ini ke depan akan tetap berlanjut, mungkin ada Senyum Sapa 3, 4, dan seterusnya,” harap Jendra.

Pameran kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang didampingi pemilik Griya Santrian, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA., ditandai dengan pengguntingan pita. Pameran yang berlangsung hingga 31 Oktober 2026 tersebut menampilkan sebanyak 38 karya dari para perupa Payangan. Karya-karya itu hadir dengan beragam pendekatan, mulai dari seni tradisi, modern, abstraksi, hingga seni patung.

Ketika pintu galeri dibuka, di sisi kiri tampak sebuah lukisan tradisi yang memikat. Karya berjudul “Sang Anoman Ketemu Trijata” tersebut merupakan karya I Wayan Badra. Lukisan itu menggunakan gaya tradisi murni di atas kanvas. Anoman duduk bersila dengan senyum mengembang, menatap sosok Dewi Trijata yang digambarkan begitu berani, bahkan sensual, jauh dari pakem wayang klasik. Kisahnya diangkat dari cerita pewayangan.

Anoman itu bukan yang asli, melainkan jelmaan dari Jumawan yang memfitnah Anoman. Jumawan, yang cintanya ditolak Trijata, mengubah wajah menjadi Anoman untuk mengelabui Trijata. Hal itu memperlihatkan karakter yang tidak baik karena mengelabui seseorang dan merugikan orang lain. “Saya ingin menyampaikan pesan, jangan sekali-sekali mengelabui dan memfitnah karena dapat merugikan orang lain,” ucap Badra.

I Wayan Badra bersama karya berjudul “Sang Anoman Ketemu Trijata”

Karya-karya lukis tersebut memenuhi ruang galeri. Baik di sisi barat, selatan, maupun timur, penuh dengan karya-karya menarik. Wakil Bupati Agung Mayun berbaur dengan seniman, pencinta seni, serta wisatawan. Mereka tak mau melewatkan momen tersebut. Sebab, di masing-masing sisi terdapat seniman yang siap menjelaskan dan memaparkan karyanya.

Sementara itu, di tengah-tengah terdapat tiga karya patung yang penuh makna. Salah satu karya yang dipamerkan adalah patung terakota berjudul “Akhir Persahabatan” karya Drs. I Made Suparta, M.Hum. Karya yang dibuat pada 2026 tersebut mengangkat klimaks tragis dari cerita Tantri Kamandaka, yakni pertempuran antara Singa Candapinggala, raja hutan, dengan Lembu Nandaka, sahabatnya sendiri.

Dalam kisah tersebut, hubungan persahabatan keduanya yang semula berlangsung damai terusik oleh hasutan Patih Sambaddha Srigala. Hasutan tersebut memicu kecurigaan hingga akhirnya kedua sahabat itu saling menerkam. Patung tersebut dibuat dari tanah liat bakar atau terakota dengan ukuran sekitar 30 x 40 x 45 sentimeter. Permukaannya diberi finishing hijau yang digosok hingga menghasilkan kilau menyerupai perunggu antik.

I Made Jendra bersama karya-karyanya

Melalui karya tersebut, I Made Suparta tidak sekadar menghadirkan pertarungan dua figur binatang, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai rapuhnya persahabatan ketika kecurigaan dan hasutan dibiarkan berkembang. Setiap lekukan tubuh singa dan lembu dalam posisi saling berhadapan menggambarkan ketegangan sekaligus tragedi hubungan dua sahabat. “Akhir Persahabatan” menjadi refleksi bahwa kata-kata dapat menjadi pemicu konflik dan persahabatan yang kuat dapat runtuh ketika keraguan mulai meracuni hati,” jelas Suparta.

Suasana pameran Himpunan Perupa Payangan (HPP) di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur

Ketua Himpunan Perupa Payangan, Made Dolar Astawa, mengatakan kehadiran pameran ini menjadi ruang bagi para seniman Payangan untuk memperluas eksplorasi artistik sekaligus membangun dialog antara kekuatan tradisi dengan perkembangan seni rupa masa kini. “Pameran di Sanur ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan komunitas perupa Payangan,” ucapnya.

Menurutnya, jika sebelumnya eksplorasi lebih banyak diarahkan ke dalam dengan berpijak pada filosofi Bayu-dep-Karma, kali ini para perupa mencoba membuka langkah lebih jauh dengan menciptakan ruang kreativitas yang lebih luas. “Udhar Banda Karma merupakan upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka,” jelas Dolar Astawa.

Keberagaman pendekatan dalam 38 karya yang dipamerkan justru menjadi kekuatan Himpunan Perupa Payangan. Sejumlah seniman tetap mempertahankan karakter tradisi, sementara seniman lainnya mengeksplorasi pertemuan estetika tradisional dengan pendekatan modern dan abstraksi.

Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina melihat perpindahan ruang pamer dari Payangan ke Sanur bukan sekadar perubahan tempat penyelenggaraan. Perpindahan tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah “perpindahan epistemik”, yakni pergeseran dari ruang yang memiliki ikatan kuat dengan pakem tradisi menuju ruang dialog seni yang lebih terbuka.

Sanur sendiri memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai pengaruh seni dan budaya. Karena itu, kehadiran perupa Payangan di kawasan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana tradisi dapat terus berkembang sekaligus tetap mempertahankan akar identitasnya.

Gagasan Udhar Banda Karma menjadi pijakan utama dalam proses kreatif tersebut. Secara etimologis, udhar berarti mengurai atau melepaskan ikatan, banda berarti belenggu atau kekangan, sedangkan karma berkaitan dengan perbuatan maupun hasil dari tindakan masa lalu.

Gagasan tersebut tercermin dalam karya-karya yang dipamerkan. Beberapa karya masih memperlihatkan karakter estetika klasik Payangan melalui kekuatan garis, detail, teknik, serta karakter visual tradisional. Namun, unsur tradisi dalam pameran tersebut tidak semata-mata tampil sebagai pengulangan bentuk yang sudah ada.

Sejumlah perupa mengolah karakter pewayangan, lanskap, hingga simbol-simbol Bali melalui komposisi dan sapuan kuas yang lebih modern. Dari sana, eksplorasi kemudian berkembang menuju karya abstrak yang lebih menonjolkan warna, tekstur, energi, dan emosi. Pelepasan terhadap pakem juga tidak dimaknai sebagai pemutusan hubungan dengan akar budaya.

Spiritualitas dan pengalaman yang lahir dari kehidupan Bali tetap menjadi bagian dari proses penciptaan, tetapi diterjemahkan melalui bahasa visual yang lebih bebas.

I Made Suparta bersama karyanya

Eksplorasi serupa terlihat pada karya seni patung. Material seperti kayu dan batu tidak hanya digunakan untuk menghadirkan figur tradisional, tetapi juga dikembangkan melalui permainan bentuk, ruang, dan volume. Rangkaian karya tersebut memperlihatkan spektrum perjalanan kreatif para perupa Payangan, mulai dari tradisi yang dipertahankan, tradisi yang ditafsirkan kembali, hingga tradisi yang diterjemahkan menggunakan bahasa seni yang lebih kontemporer.

Pemilik Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA., menyambut pameran tersebut sebagai pertemuan antara dua karakter geografis sekaligus kultural Bali. Payangan merepresentasikan kawasan pedalaman Bali, sedangkan Sanur selama ini dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan pengaruh seni.

Dalam pertemuan dua ruang tersebut, seni menjadi jembatan yang memungkinkan tradisi dan perkembangan kreativitas berdialog. “Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan pemilik Santrian Art Gallery.

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang mewakili Bupati Gianyar, mengapresiasi pameran yang digelar putra daerah Gianyar ini. Ia juga memberikan penghargaan karena pameran tersebut telah menghadirkan ruang ekspresi dan dialog melalui tema “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition”. Tema ini menarik untuk melihat kembali tradisi sebagai warisan yang dapat direnungkan dan ditafsirkan kembali sesuai dengan perkembangan zaman.

“Seniman memiliki kebebasan untuk menafsir melalui karya seni, sehingga menjadi pengalaman yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Himpunan Perupa PayanganPameran Seni RupaPayanganSantrian Art GallerySeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Next Post

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

Read moreDetails

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
0
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri - [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co