30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

Ni Made Royani by Ni Made Royani
January 21, 2024
in Cerpen
Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

MALAM hari aku gelisah dalam tidurku, mataku tak bisa dipejamkan karena selalu mengingat tentang kejadian yang sudah aku alami.

Baru lima bulan  aku bersamanya semua yang aku punya sudah dia dapatkan. Aku sudah pernah diajak kencan. Tubuhku sudah disentuh oleh lelaki yang sangat aku cintai dan aku sayangi. Aku dalam keadaan sadar menyukai lelaki yang sudah mempunyai pasangan, istri yang sangat dia cintai. Aku tetap saja melakukan hubungan dengannya karena aku merasa nyaman, dan diapun memberikan rasa ternyaman untukku.

Lima bulan berjalan istrinya mengetahui bahwa suaminya sering kencan denganku. Semua isi pesan kami ditemukan oleh istrinya. Akhirnya aku dijebak sama istri lelaki yang aku ajak kencan itu. Aku ditelpon dan aku mengira dia yang menghubungiku. Ternyata bukan. Suara yang kudengar bukan suara dia melainkan suara perempuan yang sangat menggelegar bagaikan petir yang menyambar telingaku.

Aku terdiam tak bisa berkata-kata, caci makian yang kudengar sangat menyiksa hatiku, tak sadar aku menangis mendengar perkataan yang sangat pedas dari mulutnya. Aku hanya bisa  berucap maaf.  Hanya ucapan maaf sebab aku tahu diriku salah.

Sebelum  menutup teleponnya wanita ini mengancamku. “Kalau ketemu lagi suamiku aku takkan segan-segan mencari kamu dan melaporkan ke bos tempat kamu bekerja agar kamu dipecat!” Lalu dia mematikan HP-nya. Hanya terdengar suara tut… tut… tut.

Setelah kejadian ini aku tak pernah menghubunginya lagi dan dia pun tak pernah memberiku kabar lagi.  Bagaimana akan kelanjutannya? Aku tidak tahu. Seolah-olah dia menghilang dari diriku bagaikan ditelan bumi. Air mataku terus menetes, tak terasa aku menangis terisak begitu sakitnya hati ini.

Ketika pandanganku berbalik arah melihat ke dinding, jam menunjukan pukul 12.00 aku menggumam, “Oh ternyata hari sudah larut malam!” Aku memejamkan mata dan tertidur pulas.

***

Pagi pun telah datang. Pancaran sinar pagi sangat indah, embun pagi terlihat pada rumput yang hijau pandanganku terpancar ke arah timur rumahku. Sambil memandang sinar pagi dengan mataku yang terasa agak perih, dan sedikit membengkak bekas tangisan di malam hari.

Aku menjemur tubuhku mencari vitamin D agar tulang tidak cepat kerepos. Aku tersenyum manis memandangi diriku. ” Betapa indahnya tubuhku ini!”  Tak terasa bibirku menggumam lalu aku tertawa sendiri, “Ah aku sudah gila heheehehehehe!”

Sambil tertawa aku mengambil handuk berjalan menuju kamar mandi. Aku mau membersihkan tubuhku. Seperti biasa aku mandi sambil bernyanyi menghibur diriku. Selesai mandi aku bersolek dan tak lupa sembahyang lalu berangkat kerja. Begitu mau berangkat, terdengar suara HP berdering. Seorang laki-laki meneleponku.    

“Hai apa kabar dirimu?”

“Baik, dan dirimu bagaimana?” tanyaku.

“Aku juga baik, sudah berangkatkah?”

“Akan berangkat sekarang!”

“Hati-hati ya!” 

“Oke!”

Lalu telepon dimatikan dan akupun berangkat kerja.

Sesampainya aku di tempat kerja, lelaki ini lagi nge-chat menanyakan tentang diriku padahal aku belum kenal dekat dengan lelaki ini,  hanya kenal lewat chatingan melalui sosial media, setelah aku berpisah dari lelaki yang pertama aku kenal. Kami biasa saling balas chatan, obrolanku dan dia selalu nyambung. Dia juga mengaku sudah punya istri. Apa boleh dikata dia yang membuka percakapan lebih dulu dan aku hanya mengikuti alurnya saja.

Sebulan sudah berlalu aku merasa takut. Takut terulang kejadian yang sudah pernah terjadi. Menurutku lelaki ini lebih sigap dari lelaki yang pertama aku ajak. Jika dia menghubungiku selalu di jam kerja. Saat di rumah dia seolah-olah memberi tanda bahwa kita tidak bisa saling komunikasi “Siaga satu”. Itu yang selalu dikirim. Aku paham dan mengerti maksud dari chatannya bahwa dia bersama istrinya.

Hari ini pertama kalinya dia mengajak aku ketemu untuk makan. Aku menanggapinya.  Sepulang dari kerja kami bersepakat akan  bertemu dan makan di suatu tempat yang menurut kami aman dan nyaman. Sesampainya di tempat makan kami merasa malu-malu karena baru pertama kali bertemu.

“Mau pesan apa?” tanya dia.

“Mau pesan nasi goreng saja!” sahutku.

“Oh, minumnya?” 

“Air mineral saja!”

Dia menyodorkan pesanannya kepada pelayan di tempat makan. Tak lama kemudian makananpun datang, kami makan sambil berbincang-bincang ke sana kemari yang tak tahu ujung pangkalnya sehingga kami berdua saling tersenyum dan tertawa karena merasa ada keakraban.

Selesai makan dia membayar ke kasir lalu mengatakan, “Ayo kita pulang sudah sore karena ini sudah jam pulang kantor nanti istriku menelepon!”

“Baiklah hati-hati ya!” jawabku

“Baik kamu juga hati-hati sampai ketemu lagi di tempat yang lain,” jawabnya.

Aku hanya tersenyum dengan manjanya. Tak kuduga dia mencium keningku lalu kita pulang ke rumah masing-masing. Sesampai aku di rumah bibirku masih tetap tersenyum karena teringat kejadian di tempat makan tadi,  mungkinkah akan ada kerinduan atau akan terjadi hal yang buruk?

Sejujurnya aku ingin ngechat dia menanyakan hal ini. Aku ingat dengan perkataannya bahwa setiap di rumahnya aku tidak boleh ngechat lebih dulu takut istrinya tahu. Aku mengurungkan niatku. “Ah,,,, biarkan saja dulu, nanti aku tanya kalau sudah dihubungi!”

Keesokan harinya dia seperti biasa menghubungi aku dengan berbagai pertanyaan. Sempat aku bertanya tentang yang aku pikirkan kemarin dan dia menjawab “Akan selalu ada kerinduan semoga kita selalu langgeng!”  Di situ aku merasa yakin akan ada kenyamanan.

***

Pada akhirnya kami berteman dekat sudah berjalan cukup lama hampir satu tahun. Aku merasa ada kenyamanan, kadang ada perselisihan karena perbedaan pendapat begitu juga dengan dia. Rasa kesepianku ada yang menghibur, aku bisa melupakan kenanganku yang dulu sama pria yang sudah tidak ada kabarnya lagi yang pernah menyentuh tubuhku. Namun aku belum bisa melupakan bayangan wajahnya setiap kali teringat aku masih sedih karena begitu indah yang pernah dia berikan pada diriku.

Khayalanku dibuyarkan dengan suara HP yang berdering di samping bantal tidurku. Tanganku mengambil HP lalu mengangkat dan berbicara seperti biasa curhat tentang diri kita berdua. Di akhir percakapan dia mengatakan,

“Besok hari libur bisakah kita bertemu?” 

“Mau kemana?” tanyaku

“Aku mau mengajak kamu jalan-jalan!”

“Baiklah! Jam berapa?”

“Kita ketemu sekitaran pukul sepuluh pagi”

“Woooo,,,,, kenapa pagi-pagi?”

“Aku mau mengajakmu ketempat yang istimewa”

“Ke mana?”

“Yaaaa,,,, Lihat besok”

Begitu percakapan kami akhiri. Lalu dia mengatakan sampai ketemu dan selamat tidur kemudian  HP dimatikan,  percakapanpun selesai, aku mengambil selimut lalu tertidur.

Seperti biasa kegiatan di pagi hari sebelum mandi melakukan ritual berjemur mencari vitamin D untuk kesehatan diriku. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.30, aku sudah siap akan berangkat.  HP-ku juga sudah berbunyi, dia meneleponku.

Dalam perjalanan menuju lokasi dia terus menelepon menanyakan diriku apa sudah sampai atau belum untuk memastikan keadaanku, sesampainya di tempat yang biasa aku bertemu lalu kami berdua menuju sebuah tempat yang sudah direncanakannya.

Sampai di tempat tujuan aku kaget.  “Waoooo” tempatnya begitu sejuk nan indah aku merasa gembira sekali. Aku tersenyum bingar bagaikan kupu-kupu terbang liar tanpa ada tawon yang ikut merebut sari bunga yang sedang mekar. Lalu kami berdua masuk sebuah kamar kecil yang bersih, begitu juga enak dipandang mata. Tempatnya sangat cocok untuk memadu kasih apalagi sedang hangat-hangatnya.

Pandangan matanya sangat romantis penuh kharisma, belum pernah aku melihat pandangan seorang lelaki seperti ini. Aku tahu dalam keadaan seperti ini aku salah lagi-lagi aku membuat kesalahan yang sama seperti yang kujalani dulu,  aku mengkhianati istri  orang. Biarpun dosa ini kubayar berkali-kali dengan kebaikan aku akan tetap punya dosa. Aku sudah terlanjur menyukainya. Apa boleh buat aku tak bisa menahan hawa nafsuku, aku terhanyut ke dalam pelukannya.

Suasana yang sangat hening dan dingin hanya terdengar bisikan kami berdua. Kabut pun sudah turun dingin mencekam tubuhku. Aku medekatkan tubuh ini kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami begitu erat dia memelukku, seolah kami terbungkus berdua seperti anak kupu-kupu di dalam daun.

Tak terasa kain yang membalut tubuhku satu persatu lepas dari tubuh ini dan terjatuh aku merasakan dingin kabut yang begitu dalam, tubuhku semakin nenggigil dan merapat, kabut putih menutupi kami, tak sadarkan kami berguling-guling dalam kabut. bibirku berisik pada telinganya sambil mendesah, “Aku sangat menyukai permainan ini!”

Dia semakin merapat semakin erat mengulum bibirku.

Lalu dia menjawab dengan bisikan. “Aku juga merasakan permainan kabut yang hebat!”

Aku tak menjawab, hanya mendesah. Lalu dia mengulas dengan lincahnya, aku memang benar-benar bagaikan ulat kabut tak bisa berkata, hanya desahan dalan kenikmatan.

“Adakah yang akan menggantikan diriku?” bisiknya.

Aku menggeliat. “Takan ada lagi yang menggantikannya, Sayang!” bisikku.

Tak terasa kami sudah berada di atas puncak kenikmatan yang begitu sempurna bagaikan kabut terhempas pelagi, begitu sempurnanya. Keringat pun mulai mengucur membasahi tubuh kami, dan  disadarkan dengan panasnya hawa badan ini, lalu kami tertawa dengan kerasnya bagaikan suara ombak dihempas angin yang sangat kencang sehingga kabutpun hilang.

Aku bertanya. “Apa yang sudah terjadi?”

“Akupun tak tahu,” jawabnya. ”Yang pasti kudengar dari bisikan bibirmu di telingaku!”

Aku hanya tersenyum menatap matanya lalu dia mencium keningku dan mengelus rambutku yang hitam.

***

Ketukan pintu membuat kami berdua kaget. Pikirku apa yang akan terjadi? Apakah istrinya yang datang? Aku menjadi panik bingung mau sembunyi di mana? Dengan tenangnya dia berkata, “Ambil pakaiannya, pakailah bajumu, jangan panik aku akan membuka pintu ini!”

Seseorang terus menggedor pintu kamarku, lagi-lagi pikiranku kacau aku akan dicaci maki sekarang sama istrinya. Aku membayangkan aku akan diinjak-injak, rambutku akan diobrak abrik, seperti menyapu lantai yang sangat kotor banyak debu juga kotoran binatang, badanku gemetar keringat badanku bercucuran bukan keringat kesenangan namun keringat akan penuh caci maki. Masih sempat bibirku berucap menyebut nama Tuhan. “Tuhan tolong hambamu ini yang penuh dengan kesalahan!”

Pintu sudah terbuka, lelakiku menyapanya. “Ya kenapa, Bu?”

Ibu yang mengetuk pintu menjawab mengingatkan bahwa waktu berkunjung sudah hampir dua jam seperti yang sudah diboking tadinya memang hanya dua jam.

“Oh kami kira ada apa. Baik kami sudah ingat. Terimakasih sudah mengingatkannya lagi  kami akan bersiap-siap untuk check out sekarang. Apakah makanannya sudah disiapkan?”

Kata pelayan villa. “Oh, sudah, Pak. Silakan datang di meja No 4,” katanya.

“Baik terimakasih!”

“Ah, aku bernapas lega ternyata yang mengetuk pintu itu bukan istrinya melainkan pelayan villa yang mengingatkan bahwa waktu berkunjung sudah mau habis.

“Ayo kita check out dari sini, kita makan lalu kita pulang,” kata dia.

“Baiklah, ayo kita jalan!”

Kami menuju ke restoran untuk makan. Selesai makan kami pun pulang.

***

Beberapa hari kemudian, HP-ku bunyi. Ketika kuangkat, seorang perempuan menyapaku.

“Mbak!”

“Ya, saya!”

“Mbak ada main dengan suami saya? Jangan berkelit. Saya tahu, Mbak masuk di sebuah villa, dan mereguk kenikmatan bersama suami saya!”

Aku tak bisa menjawab, apalagi membantahnya. Aku sudah siap-siap menerima makian dan kemarahan dari perempuan itu, tapi ternyata perempuan itu menangis.

“Mbak, maaf. Saya tak bisa mencegah suami saya untuk tidak bermain-main bersama perempuan lain. Saya sudah pasrah, biar kami saja yang terkena virus dan penyakit terkutuk itu, dan tak ada lagi perempuan lain yang jadi korban!”

“Jadi…?”

“Ya, kami terkena viru dan penyakit yang paling terkutuk itu! Semoga Mbak tidak kena!”

Perempuan itu menutup percakapan. Dan, aku tiba-tiba lemas. [T]

Cerpen ini adalah hasil workshop Cipta Sastra dalam acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang diselenggarakan Komunitas Mahima, Selasa 28 November 2023, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpencerpen tentang cintacerpen tentang perselingkuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara | Aku Gagal Menghapus Seluruhmu, Seutuhnya

Next Post

Menilik Perempuan Penulis di Bali Hari Ini

Ni Made Royani

Ni Made Royani

Biasa dipanggil dengan nama Rani. Lahir di Gianyar dan tinggal di Blahbatuh, Gianyar. Kini menjadi guru di SMP Negeri Hindu 3 Blahbatuh Belajar menulis karya sastra dan berjanji akan terus menulis sampai mempunyai karya yang bagus dan bisa diterima di kalangan pembaca dan mencapai titik kepuasan

Related Posts

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails
Next Post
Menilik Perempuan Penulis di Bali Hari Ini

Menilik Perempuan Penulis di Bali Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Memang Pasar Malam
Esai

Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

by Angga Wijaya
May 30, 2026
Hikayat Tuak
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

by Jaswanto
May 30, 2026
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Panggung

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional
Budaya

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!
Gaya

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

by tatkala
May 29, 2026
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Esai

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co