28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
in Khas
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Ketut Suryadnya memanjat | Foto: Puja

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok terselip di belakang. Tubuhnya perlahan bergerak naik menuju pucuk pohon yang tingginya sekitar delapan meter.

Tangannya mencengkeram batang. Kedua kakinya mencari pijakan. Sesekali ia berhenti, memastikan tubuhnya tetap seimbang sebelum kembali memanjat. Laki-laki itu Ketut Suryadnya, 48 tahun, petani tuak dari Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Bertani tuak sudah dilakukannya sejak berusia 12 tahun, tepat setelah tamat sekolah dasar. Suryadnya mengenal pekerjaan itu dari ayahnya. Sang ayah juga seorang petani tuak. Dari situlah ia mengikuti jejak ayahnya, mempelajari cara memanjat pohon, mengiris tandan, hingga mengambil getah yang kemudian menjadi tuak.

“Dari bapak saya. Bapak juga petani tuak. Saya ikut dari kecil,” kenang Suryadnya.

Saat tubuhnya masih kuat dan tenaga belum banyak terkuras usia, Suryadnya mampu menaiki hingga 20 pohon dalam sehari. Pagi sekitar pukul 07.00, ia naik ke pohon untuk mengiris bagian batang yang menjadi tempat keluarnya getah. Sore sekitar pukul 15.00, ia kembali memanjat untuk mengambil hasil irisan sekaligus mengirisnya kembali. Begitu seterusnya.

“Dulu saya bisa naik sampai 20 pohon sehari. Pagi naik, sore naik lagi,” ujarnya.

Ketut Suryadnya menuangkan tuak ke jerigen | Foto: Puja

Suryadnya mengiris tandan atau tangkai bunga pohon lontar, kemudian ditampung dalam jeriken. Di dalam wadah itu, nira mengalami fermentasi alami. Suryadnya biasanya tidak menambahkan ragi buatan, tapi memanfaatkan mikroorganisme alami serta lau, potongan kulit pohon kesambi yang membantu proses fermentasi sekaligus memberi cita rasa khas pada tuak.

Setelah beberapa jam, nira yang telah difermentasi diturunkan dari pohon. Tuak yang baru dipanen biasanya masih terasa manis. Namun, semakin lama dibiarkan, rasanya berubah menjadi lebih asam dan kadar alkoholnya meningkat. Perubahan itu sudah sangat dikenal Suryadnya dari pengalaman puluhan tahun menyadap lontar.

“Kalau baru diambil, rasanya manis. Kalau agak lama diambil dari pohon, rasanya bisa agak asam,” kata Suryadnya.

Ketika Hidup Memaksa Memanjat

Suryadnya tumbuh dalam kehidupan yang ia sebut sendiri sebagai kehidupan yang melarat. Pendidikan formalnya berhenti setelah sekolah dasar. Selepas itu, ia mulai bekerja sebagai petani tuak.

“Saya dulu hidup melarat. Sekolah cuma sampai SD,” ujarnya.

Kehidupannya semakin berat setelah ayahnya meninggal pada 1987. Sang ayah mengalami kecelakaan akibat jatuh dari pohon nangka. Saat itu Suryadnya masih berada pada usia yang sangat muda. Ia kemudian tinggal bersama ibunya. Namun, keadaan keluarga kembali berubah ketika ibunya menikah lagi.

Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Tak banyak pilihan yang tersedia bagi Suryadnya ketika itu. Ia tetap menjalani pekerjaan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Memanjat pohon lontar menjadi caranya mengais rezeki sejak kanak-kanak. Pekerjaan itu kemudian ia bawa hingga dewasa, menikah, dan memiliki keluarga.

Kini, Suryadnya memiliki enam anak perempuan. Anak pertamanya duduk di bangku SMP, sementara anak kedua dan ketiganya masih bersekolah di SD. Anak kelimanya masih berusia tiga tahun. Sementara itu, anak keempatnya telah meninggal dunia.

Bersama istrinya, Suryadnya terus memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil bertani dan menyadap tuak. Pohon-pohon lontar yang sejak kecil ia panjat kini menjadi tumpuan hidup keluarganya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Tuak, Tubuh, dan Harapan

Untuk menjalankan pertanian tuak, Suryadnya kini mengontrak sekitar 20 pohon lontar. Setiap pohon dikontrak dengan biaya sekitar Rp75 ribu. Dalam sehari, satu pohon dapat menghasilkan kurang lebih lima liter tuak.

Hasil pertama fermentasi tuak umumnya berkisar antara 3% hingga 5%, kemudian dikumpulkan dan dijual. Suryadnya tidak mengolah sendiri tuak tersebut menjadi arak. Ia menyerahkan kepada orang lain untuk diproses lebih lanjut. Dari penjualan tuak, ia mendapatkan sekitar Rp50 ribu untuk dua jeriken.

“Kalau tuaknya sudah terkumpul, saya jual. Untuk jadi arak, orang lain yang mengolah,” katanya.

Hasil usaha tuak dan arak tersebut kemudian dikirim ke Desa Tukad Sumaga dan Desa Lemukih. Usaha ini dijalankan bersama istrinya. Sang istri turut mendukung pekerjaan Suryadnya dan membantu dalam penjualan tuak yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Tuak hasil sadapan Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Namun, pekerjaan yang sudah puluhan tahun dijalaninya itu kini tidak lagi semudah ketika ia masih remaja. Usia perlahan mengurangi tenaga Suryadnya. Jika dahulu ia mampu memanjat hingga 20 pohon dalam sehari, kini ia hanya sanggup memanjat sekitar tujuh pohon.

“Sekarang sudah tidak kuat seperti dulu. Dulu bisa 20 pohon, sekarang paling tujuh,” ujarnya.

Tubuhnya memang tidak lagi sekuat dulu. Tetapi setiap pagi, ketika ia kembali berdiri di bawah pohon lontar, Suryadnya masih tahu ke mana harus memanjat.

Ke atas. Ke tempat yang sudah dikenalnya sejak berusia 12 tahun, ketika ia pertama kali mengikuti jejak ayahnya.

Di balik lelah tubuhnya, Suryadnya menyeletuk, terselip harapan kecil. Barangkali salah satu anak perempuannya kelak bersedia melanjutkan pekerjaan bertani tuak yang telah ia jalani selama puluhan tahun.[T]

Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa BondalemTejakulatuaktuak lontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Next Post

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails
Next Post
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co