7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
in Khas
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Ketut Suryadnya memanjat | Foto: Puja

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok terselip di belakang. Tubuhnya perlahan bergerak naik menuju pucuk pohon yang tingginya sekitar delapan meter.

Tangannya mencengkeram batang. Kedua kakinya mencari pijakan. Sesekali ia berhenti, memastikan tubuhnya tetap seimbang sebelum kembali memanjat. Laki-laki itu Ketut Suryadnya, 48 tahun, petani tuak dari Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Bertani tuak sudah dilakukannya sejak berusia 12 tahun, tepat setelah tamat sekolah dasar. Suryadnya mengenal pekerjaan itu dari ayahnya. Sang ayah juga seorang petani tuak. Dari situlah ia mengikuti jejak ayahnya, mempelajari cara memanjat pohon, mengiris tandan, hingga mengambil getah yang kemudian menjadi tuak.

“Dari bapak saya. Bapak juga petani tuak. Saya ikut dari kecil,” kenang Suryadnya.

Saat tubuhnya masih kuat dan tenaga belum banyak terkuras usia, Suryadnya mampu menaiki hingga 20 pohon dalam sehari. Pagi sekitar pukul 07.00, ia naik ke pohon untuk mengiris bagian batang yang menjadi tempat keluarnya getah. Sore sekitar pukul 15.00, ia kembali memanjat untuk mengambil hasil irisan sekaligus mengirisnya kembali. Begitu seterusnya.

“Dulu saya bisa naik sampai 20 pohon sehari. Pagi naik, sore naik lagi,” ujarnya.

Ketut Suryadnya menuangkan tuak ke jerigen | Foto: Puja

Suryadnya mengiris tandan atau tangkai bunga pohon lontar, kemudian ditampung dalam jeriken. Di dalam wadah itu, nira mengalami fermentasi alami. Suryadnya biasanya tidak menambahkan ragi buatan, tapi memanfaatkan mikroorganisme alami serta lau, potongan kulit pohon kesambi yang membantu proses fermentasi sekaligus memberi cita rasa khas pada tuak.

Setelah beberapa jam, nira yang telah difermentasi diturunkan dari pohon. Tuak yang baru dipanen biasanya masih terasa manis. Namun, semakin lama dibiarkan, rasanya berubah menjadi lebih asam dan kadar alkoholnya meningkat. Perubahan itu sudah sangat dikenal Suryadnya dari pengalaman puluhan tahun menyadap lontar.

“Kalau baru diambil, rasanya manis. Kalau agak lama diambil dari pohon, rasanya bisa agak asam,” kata Suryadnya.

Ketika Hidup Memaksa Memanjat

Suryadnya tumbuh dalam kehidupan yang ia sebut sendiri sebagai kehidupan yang melarat. Pendidikan formalnya berhenti setelah sekolah dasar. Selepas itu, ia mulai bekerja sebagai petani tuak.

“Saya dulu hidup melarat. Sekolah cuma sampai SD,” ujarnya.

Kehidupannya semakin berat setelah ayahnya meninggal pada 1987. Sang ayah mengalami kecelakaan akibat jatuh dari pohon nangka. Saat itu Suryadnya masih berada pada usia yang sangat muda. Ia kemudian tinggal bersama ibunya. Namun, keadaan keluarga kembali berubah ketika ibunya menikah lagi.

Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Tak banyak pilihan yang tersedia bagi Suryadnya ketika itu. Ia tetap menjalani pekerjaan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Memanjat pohon lontar menjadi caranya mengais rezeki sejak kanak-kanak. Pekerjaan itu kemudian ia bawa hingga dewasa, menikah, dan memiliki keluarga.

Kini, Suryadnya memiliki enam anak perempuan. Anak pertamanya duduk di bangku SMP, sementara anak kedua dan ketiganya masih bersekolah di SD. Anak kelimanya masih berusia tiga tahun. Sementara itu, anak keempatnya telah meninggal dunia.

Bersama istrinya, Suryadnya terus memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil bertani dan menyadap tuak. Pohon-pohon lontar yang sejak kecil ia panjat kini menjadi tumpuan hidup keluarganya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Tuak, Tubuh, dan Harapan

Untuk menjalankan pertanian tuak, Suryadnya kini mengontrak sekitar 20 pohon lontar. Setiap pohon dikontrak dengan biaya sekitar Rp75 ribu. Dalam sehari, satu pohon dapat menghasilkan kurang lebih lima liter tuak.

Hasil pertama fermentasi tuak umumnya berkisar antara 3% hingga 5%, kemudian dikumpulkan dan dijual. Suryadnya tidak mengolah sendiri tuak tersebut menjadi arak. Ia menyerahkan kepada orang lain untuk diproses lebih lanjut. Dari penjualan tuak, ia mendapatkan sekitar Rp50 ribu untuk dua jeriken.

“Kalau tuaknya sudah terkumpul, saya jual. Untuk jadi arak, orang lain yang mengolah,” katanya.

Hasil usaha tuak dan arak tersebut kemudian dikirim ke Desa Tukad Sumaga dan Desa Lemukih. Usaha ini dijalankan bersama istrinya. Sang istri turut mendukung pekerjaan Suryadnya dan membantu dalam penjualan tuak yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Tuak hasil sadapan Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Namun, pekerjaan yang sudah puluhan tahun dijalaninya itu kini tidak lagi semudah ketika ia masih remaja. Usia perlahan mengurangi tenaga Suryadnya. Jika dahulu ia mampu memanjat hingga 20 pohon dalam sehari, kini ia hanya sanggup memanjat sekitar tujuh pohon.

“Sekarang sudah tidak kuat seperti dulu. Dulu bisa 20 pohon, sekarang paling tujuh,” ujarnya.

Tubuhnya memang tidak lagi sekuat dulu. Tetapi setiap pagi, ketika ia kembali berdiri di bawah pohon lontar, Suryadnya masih tahu ke mana harus memanjat.

Ke atas. Ke tempat yang sudah dikenalnya sejak berusia 12 tahun, ketika ia pertama kali mengikuti jejak ayahnya.

Di balik lelah tubuhnya, Suryadnya menyeletuk, terselip harapan kecil. Barangkali salah satu anak perempuannya kelak bersedia melanjutkan pekerjaan bertani tuak yang telah ia jalani selama puluhan tahun.[T]

Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa BondalemTejakulatuaktuak lontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Next Post

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails
Next Post
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co