18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
in Khas
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Ketut Suryadnya memanjat | Foto: Puja

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok terselip di belakang. Tubuhnya perlahan bergerak naik menuju pucuk pohon yang tingginya sekitar delapan meter.

Tangannya mencengkeram batang. Kedua kakinya mencari pijakan. Sesekali ia berhenti, memastikan tubuhnya tetap seimbang sebelum kembali memanjat. Laki-laki itu Ketut Suryadnya, 48 tahun, petani tuak dari Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Bertani tuak sudah dilakukannya sejak berusia 12 tahun, tepat setelah tamat sekolah dasar. Suryadnya mengenal pekerjaan itu dari ayahnya. Sang ayah juga seorang petani tuak. Dari situlah ia mengikuti jejak ayahnya, mempelajari cara memanjat pohon, mengiris tandan, hingga mengambil getah yang kemudian menjadi tuak.

“Dari bapak saya. Bapak juga petani tuak. Saya ikut dari kecil,” kenang Suryadnya.

Saat tubuhnya masih kuat dan tenaga belum banyak terkuras usia, Suryadnya mampu menaiki hingga 20 pohon dalam sehari. Pagi sekitar pukul 07.00, ia naik ke pohon untuk mengiris bagian batang yang menjadi tempat keluarnya getah. Sore sekitar pukul 15.00, ia kembali memanjat untuk mengambil hasil irisan sekaligus mengirisnya kembali. Begitu seterusnya.

“Dulu saya bisa naik sampai 20 pohon sehari. Pagi naik, sore naik lagi,” ujarnya.

Ketut Suryadnya menuangkan tuak ke jerigen | Foto: Puja

Suryadnya mengiris tandan atau tangkai bunga pohon lontar, kemudian ditampung dalam jeriken. Di dalam wadah itu, nira mengalami fermentasi alami. Suryadnya biasanya tidak menambahkan ragi buatan, tapi memanfaatkan mikroorganisme alami serta lau, potongan kulit pohon kesambi yang membantu proses fermentasi sekaligus memberi cita rasa khas pada tuak.

Setelah beberapa jam, nira yang telah difermentasi diturunkan dari pohon. Tuak yang baru dipanen biasanya masih terasa manis. Namun, semakin lama dibiarkan, rasanya berubah menjadi lebih asam dan kadar alkoholnya meningkat. Perubahan itu sudah sangat dikenal Suryadnya dari pengalaman puluhan tahun menyadap lontar.

“Kalau baru diambil, rasanya manis. Kalau agak lama diambil dari pohon, rasanya bisa agak asam,” kata Suryadnya.

Ketika Hidup Memaksa Memanjat

Suryadnya tumbuh dalam kehidupan yang ia sebut sendiri sebagai kehidupan yang melarat. Pendidikan formalnya berhenti setelah sekolah dasar. Selepas itu, ia mulai bekerja sebagai petani tuak.

“Saya dulu hidup melarat. Sekolah cuma sampai SD,” ujarnya.

Kehidupannya semakin berat setelah ayahnya meninggal pada 1987. Sang ayah mengalami kecelakaan akibat jatuh dari pohon nangka. Saat itu Suryadnya masih berada pada usia yang sangat muda. Ia kemudian tinggal bersama ibunya. Namun, keadaan keluarga kembali berubah ketika ibunya menikah lagi.

Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Tak banyak pilihan yang tersedia bagi Suryadnya ketika itu. Ia tetap menjalani pekerjaan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Memanjat pohon lontar menjadi caranya mengais rezeki sejak kanak-kanak. Pekerjaan itu kemudian ia bawa hingga dewasa, menikah, dan memiliki keluarga.

Kini, Suryadnya memiliki enam anak perempuan. Anak pertamanya duduk di bangku SMP, sementara anak kedua dan ketiganya masih bersekolah di SD. Anak kelimanya masih berusia tiga tahun. Sementara itu, anak keempatnya telah meninggal dunia.

Bersama istrinya, Suryadnya terus memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil bertani dan menyadap tuak. Pohon-pohon lontar yang sejak kecil ia panjat kini menjadi tumpuan hidup keluarganya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Tuak, Tubuh, dan Harapan

Untuk menjalankan pertanian tuak, Suryadnya kini mengontrak sekitar 20 pohon lontar. Setiap pohon dikontrak dengan biaya sekitar Rp75 ribu. Dalam sehari, satu pohon dapat menghasilkan kurang lebih lima liter tuak.

Hasil pertama fermentasi tuak umumnya berkisar antara 3% hingga 5%, kemudian dikumpulkan dan dijual. Suryadnya tidak mengolah sendiri tuak tersebut menjadi arak. Ia menyerahkan kepada orang lain untuk diproses lebih lanjut. Dari penjualan tuak, ia mendapatkan sekitar Rp50 ribu untuk dua jeriken.

“Kalau tuaknya sudah terkumpul, saya jual. Untuk jadi arak, orang lain yang mengolah,” katanya.

Hasil usaha tuak dan arak tersebut kemudian dikirim ke Desa Tukad Sumaga dan Desa Lemukih. Usaha ini dijalankan bersama istrinya. Sang istri turut mendukung pekerjaan Suryadnya dan membantu dalam penjualan tuak yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Tuak hasil sadapan Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Namun, pekerjaan yang sudah puluhan tahun dijalaninya itu kini tidak lagi semudah ketika ia masih remaja. Usia perlahan mengurangi tenaga Suryadnya. Jika dahulu ia mampu memanjat hingga 20 pohon dalam sehari, kini ia hanya sanggup memanjat sekitar tujuh pohon.

“Sekarang sudah tidak kuat seperti dulu. Dulu bisa 20 pohon, sekarang paling tujuh,” ujarnya.

Tubuhnya memang tidak lagi sekuat dulu. Tetapi setiap pagi, ketika ia kembali berdiri di bawah pohon lontar, Suryadnya masih tahu ke mana harus memanjat.

Ke atas. Ke tempat yang sudah dikenalnya sejak berusia 12 tahun, ketika ia pertama kali mengikuti jejak ayahnya.

Di balik lelah tubuhnya, Suryadnya menyeletuk, terselip harapan kecil. Barangkali salah satu anak perempuannya kelak bersedia melanjutkan pekerjaan bertani tuak yang telah ia jalani selama puluhan tahun.[T]

Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa BondalemTejakulatuaktuak lontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co