Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan Aula, murid-murid berbaris serapi yang mereka bisa. Dihadapan mereka, dua orang guru yang merangkap sebagai pembina pramuka mengulang lagi informasi yang sudah disampaikan sebelumnya yaitu pembagian regu, pembagian isuzu dan memastikan kelengkapan perbekalan. Pagi ini adalah saat yang paling ditunggu oleh murid: perkemahan Kamis-Jum’at yang tahun ini dilaksanakan tanggal 10-11 September 2026 dan bertajuk Kemah Bintang. Kali ini, lokasinya di Taman Danu Camp Bedugul. 60 murid tunarungu, tunagrahita, low vision dan autis dari kelas IV SDLB hingga kelas XII SMALB ikut serta.
Beberapa siswa mengenakan ban lengan UKS di lengan kanan. Di dalam tasnya, obat-obatan bebas macam analgesik, antipiretik, antihistamin, antasida, antiemetik hingga dekongestan sedia bila diperlukan. Mereka adalah dokter kecil yang bertugas memastikan kesehatan teman-temannya selama kegiatan perkemahan. Mengingat perjalanan akan menanjak dan berkelok, dengan senang hati Saya menjadi pasien pertama mereka hari itu. Satu tablet obat antiemetik Saya minta untuk memastikan perjalanan bebas dari mual dan muntah.

Jam 8.30 WITA enam mobil isuzu berangkat dikawal beberapa guru yang mengendarai sepeda motor. Sudah menjadi ciri khas, setiap perjalanan menuju bumi perkemahan selalu ada yang nyasar. Tak terkecuali kali ini. Mobil pertama berbelok sebelum waktunya. Jadilah Ia sampai terakhir. Jam 9.30 WITA semua armada tiba di lokasi.
Sesampai di lokasi, murid merapikan barang bawaan kedalam tenda yang sudah disediakan. Sekejap kemudian, upacara pembukaan perkemahan dimulai. Menggunakan seragam pramuka, murid, guru, dan tendikmengikuti dengan khidmat. Dalam amanatnya, Kamabigus sekaligus Kepala SLB Negeri 1 Buleleng mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, berharap giat lancar, dan yang terpenting: meminta maaf bila selama kegiatan murid Kami melakukan hal yang menyinggung dan diluar norma.
Upacara usai, materi dimulai. Materi pertama adalah sandi morse. Karena 90% peserta adalah murid tunarungu tentu morse yang dimaksud bukanlah morse dengan peluit, namun morse dengan bendera. Sandi morse bisa juga diadaptasi menggunakan cahaya, namun karena dilakukan pada siang hari tentu tak efektif. Materi berlanjut dengan tali-temali, sandi kotak dan sandi semaphore.
Menjelang sore materi beralih ke permainan. Puzzle baju pramuka, estafet tongkat dan estafet balon air dimainkan dengan penuh suka cita. Berbagai strategi dilakukan mengingat variasi fisik di setiap tim cukup ekstrem, murid kelas IV hingga kelas XII dikombinasikan dalam setiap regu. Bak eskalasi politik, teratur namun penuh taktik zona abu-abu. Kacau namun terstruktur, sesi permainan sarat akan controlled chaos yang penuh tawa.
Malam datang, puncak acara menjelang. Setumpuk kayu bakar termenung di tengah lapangan. Ia tahu nasibnya. Hanya bertanya kapan saatnya. Seiring semua peserta berkumpul melingkar, dasa darma berkumandang dan api suci pun dinyalakan. Sepercik api di tengah gelap malam dan suhu 18° Celsiusteramat menyolok mata. Suasana dingin menjadi hangat seketika. Kayu bakar lega tugasnya sudah terlaksana.
Acara berlanjut dengan pentas seni. Setiap regu dan pendamping menampilkan atraksi terbaik. Tarian tradisi dan modern, drama musikal dan yel yel tersaji. Lapangan Taman Danu Camp Bedugul serasa Gedung Kesenian Gde Manik. Hanya saja lampu sorotnya diganti dengan cahaya api unggun, sistem suaranya diganti satu sepiker Bluetooth dan tribun busanya diganti dengan rumput yang tumbuh berjauhan. Dengan persiapan satu hari, kreativitas yang ditampilkan malam itu bak Bandung Bondowoso. Tradisi sistem kebut semalam berbuah manis. Properti, koreografi dan narasi disiapkan seketika. Atau mungkin karena fitrahnya guru memang sudah terlatih menjadi swiss army man: siap mengusahakan dan menjadi apapun yang dibutuhkan murid dan sekolah. Mengajar hanya satu dari daftar panjang tugas yang dilakukan. Menjadi koreografer? Bisa. Menjadi dalang? Bisa. Menjadi fotografer? Bisa. Menjadi pembimbing lomba yang tak ada kaitannya dengan bidang keilmuan yang dipelajari di kampus? Tentu saja bisa.
Pagi hari kedua dimulai dengan senam Bersama dan dilanjutkan dengan mancakrida. Murid unjuk kebolehan menyelesaikan soal sandi dan halang rintang. Tantangan yang disajikan diformulasikan untuk melatih ketangkasan, kerjasama dan kognitif murid. Satu-persatu regu melewati empat pos hingga kembali ke bumi perkemahan untuk berkemas dan melakukan upacara penutupan.

Upacara pentupan diisi dengan penyerahan hadiah bagi regu yang juara. Kali ini, regu Rajawali menjadi juara satu pada satuan putra dan regu Kamboja menjadi juara satu pada satuan putri. Tujuh regu yang lain maju berurutan menerima hadiah. Ya seperti lomba-lomba lain di SLB Negeri 1 Buleleng, semua regu dan semua murid adalah juara. Bagi Kami, juara bukan yang tercepat, terpintar atau terbaik. Tapi Ia yang berani tampil mengalahkan rasa takut dan mengekspresikan dirinya di tengah keterbatasan yang dimilikinya, siapa yang berani memancarkan sinarnya di tengah kegelapan malam. Bagi Kami, semua murid adalah bintang yang bersinar. [T]






























