29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

S. Bekti Istiyanto by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
in Opini
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

S. Bekti Istiyanto

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi pun kian meningkat. Namun, di balik gemerlap itu, ternyata ada ironi yang menganga. Semakin besar dan megah kampus, semakin jauh pula kampus dari denyut nadi masyarakat yang membesarkannya. Alih-alih menjadi oase pengetahuan yang membebaskan, banyak kampus justru menjelma menjadi menara gading yang menjulang tinggi, tetapi terasing dari realitas di sekelilingnya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, pernah menyuarakan kegelisahan ini dengan sangat gamblang. Ia meminta perguruan tinggi untuk tidak lagi menjadi menara gading, melainkan hadir sebagai solusi bagi persoalan nyata seperti stunting, kemiskinan, dan pengangguran. Seruan ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan sebuah panggilan moral yang mendesak untuk kita jawab bersama.

Buah Simalakama dari Kampus yang Terasing

Apa yang terjadi ketika kampus kehilangan jati dirinya sebagai institusi yang mengabdi pada masyarakat? Data berbicara dengan sangat jelas. Sepanjang tahun 2025, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa lebih dari satu juta lulusan universitas di Indonesia menganggur, atau setara dengan 6,2 persen dari total pengangguran terbuka nasional yang mencapai 7,28 juta orang.

Lebih memilukan lagi, pengangguran terdidik ini bukanlah semata-mata akibat keterbatasan lapangan kerja. Ada persoalan mendasar yang jauh lebih dalam? Ada ketidakselarasan antara apa yang diajarkan di kampus dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia nyata. Wamendiktisaintek Fauzan menegaskan bahwa masalah pengangguran ini bermula dari tidak selarasnya kompetensi lulusan kampus dengan kebutuhan nyata lapangan kerja. Kampus menghasilkan lulusan yang hafal teori, tetapi gagap menghadapi praktik.

Fenomena ini diperparah oleh kecenderungan kampus yang hanya berorientasi pada angka-angka akademik. Jumlah mahasiswa, jumlah lulusan, jumlah publikasi ilmiah, dan peringkat dunia menjadi tolok ukur keberhasilan yang seolah mengalahkan pertanyaan mendasar. Apa dampak nyata kampus ini bagi masyarakat di sekitarnya? Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, perguruan tinggi adalah akselerator pembangunan nasional, yang tidak semata memproduksi pengetahuan, inovasi, dan teknologi, melainkan perlu memastikan alih pengetahuan dan pemanfaatannya untuk isu pembangunan serta penguatan daya saing bangsa.

Kepemimpinan yang Menggerakkan Menjadi Kunci Transformasi Kampus

Di sinilah letak persoalan intinya. Transformasi kampus dari menara gading menjadi menara air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat bukanlah pekerjaan sekali jadi. Kampus membutuhkan kepemimpinan yang visioner, berani, dan bisa berdampak nyata. Dibutuhkan pemimpin kampus yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi, kemampuan membangun kolaborasi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Pemimpin kampus yang inovatif adalah mereka yang mampu melihat persoalan masyarakat bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi. Mereka adalah sosok yang mengerti bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah mahasiswa, lulusan, maupun publikasi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap produktivitas, inovasi, daya saing, industri, lapangan pekerjaan, dan pembangunan. Mereka adalah pemimpin yang memiliki reputasi internasional, tetapi tidak kehilangan akar lokalnya. Pemimpin yang mampu bersaing di panggung global, tetapi tetap membumi dalam melayani masyarakat di sekitarnya.

Kita telah melihat contoh-contoh kepemimpinan seperti ini di beberapa kampus. Rektor Universitas Airlangga, Prof. Nasih, misalnya, dengan tegas menekankan pentingnya hilirisasi riset agar inovasi kampus bisa langsung diakses masyarakat. “Rektor hanya punya dua tangan, tapi jika seluruh sivitas akademika bergerak bersama, dampaknya luar biasa,” tegasnya. Filosofi ini menggambarkan bahwa kepemimpinan kampus yang efektif bukanlah tentang kekuatan individu semata, melainkan tentang kemampuan menggerakkan seluruh ekosistem akademik untuk bersama-sama berkontribusi pada masyarakat.

Dr. Supari, Rektor Universitas Semarang, membuktikan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada dampak dapat diwujudkan melalui peningkatan jumlah doktor, profesor, publikasi ilmiah, hak paten, serta inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Karya-karya dari hak paten tersebut, menurutnya, harus bisa diterapkan untuk membantu pengentasan kemiskinan, mengatasi masalah pangan, dan energi. Ini adalah bukti nyata bahwa kampus yang unggul secara akademik dan berdampak bagi masyarakat bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Urgensi Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi untuk Menyiapkan Generasi Baru Pemimpin Kampus

Kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang transformatif inilah yang mendorong Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk meluncurkan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) 2026. Inisiatif ini bukanlah sekadar program pelatihan biasa. Program ini adalah upaya sistematis dari Kemdiktisaintek untuk memperkuat pengembangan dan regenerasi kepemimpinan perguruan tinggi di Indonesia yang bisa membawa kampus ke jenjang internasional yang lebih tinggi tanpa melupakan dampak kepada masyarakat sekitarnya.

AKPT dirancang sebagai forum sinergi antara pimpinan perguruan tinggi saat ini dan calon-calon pemimpin potensial dalam sebuah proses pengembangan kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan nyata di institusi. Program ini mengusung tagline “Mengintegrasikan Kearifan Lokal Menuju Kepemimpinan Global yang Berdampak,” sebuah visi yang sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Kita membutuhkan pemimpin kampus yang mampu bersaing secara global, tetapi tidak tercerabut dari akar budaya dan kebutuhan nyata masyarakatnya.

Wamen Fauzan menekankan bahwa pendidikan tinggi perlu ditempatkan sebagai bagian strategis dari pembangunan nasional. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan talenta, pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dapat mendorong peningkatan kapasitas produktif Indonesia. “Pendidikan tinggi perlu ditegakkan sebagai infrastruktur strategis pertumbuhan,” ujarnya. Ini adalah pergeseran paradigma yang fundamental, dari kampus sebagai menara gading yang eksklusif menjadi kampus sebagai infrastruktur pertumbuhan yang inklusif dan berdampak.

Jejak Kampus yang Berdampak

Transformasi kampus menjadi institusi yang berdampak bukanlah utopia. Kita telah melihat jejaknya di berbagai penjuru negeri. Di Sulawesi Utara, seorang dosen bernama Nindy Gaby Sepang dari Universitas Sariputra Indonesia Tomohon melakukan program pengabdian dengan mengimplementasikan teknologi pengering ikan untuk membantu perekonomian warga Pulau Tagulandang pasca-erupsi Gunung Ruang.

Di Kalimantan, LLDIKTI Wilayah XI menggencarkan program Kampus Berdampak yang menekankan relevansi ilmu dengan dunia nyata, aksi mahasiswa dan dosen, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk menghasilkan solusi yang dirasakan langsung. Beberapa perguruan tinggi bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor perikanan pesisir, yang terbukti meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui sentuhan ilmu dan teknologi. Kampus juga berperan aktif dalam penanganan stunting melalui program kesehatan masyarakat, penyuluhan gizi, serta kegiatan yang melibatkan program studi kesehatan.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa ketika kampus keluar dari zona nyamannya dan terjun langsung ke tengah masyarakat, dampaknya bisa sangat nyata. Universitas Airlangga, misalnya, berhasil menempati peringkat 15 dunia dalam THE Impact Rankings 2026, sebuah pemeringkatan yang secara khusus mengukur kontribusi institusi pendidikan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Prestasi ini membuktikan bahwa kampus Indonesia mampu bersaing di tingkat global bukan hanya karena publikasi ilmiahnya, tetapi juga karena kontribusi nyatanya bagi kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mempercepat transformasi ini? Pertama, kita perlu mengubah cara kita memandang keberhasilan kampus. Peringkat dunia dan jumlah publikasi tetap penting, tetapi itu bukan satu-satunya ukuran. Kita perlu menempatkan dampak nyata bagi masyarakat sebagai indikator utama keberhasilan perguruan tinggi. Kedua, kita perlu mendorong kolaborasi yang lebih erat antara kampus, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kampus tidak bisa bekerja sendiri; ia perlu menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar yang saling menguatkan.

Ketiga, dan yang paling penting, kita perlu menyiapkan generasi pemimpin kampus yang memiliki visi transformatif. AKPT adalah langkah awal yang baik dan perlu didukung oleh sistem rekrutmen dan pengembangan karir yang memungkinkan para pemimpin terbaik untuk muncul dan berkontribusi. Kepemimpinan kampus tidak bisa diserahkan pada mereka yang hanya mengejar jabatan, tapi harus bisa dipercayakan pada mereka yang memiliki integritas, visi, dan keberanian untuk membawa perubahan.

Kampus bukanlah sekadar bangunan megah atau deretan gelar akademik. Kampus adalah ruang di mana ilmu seharusnya diamalkan untuk kebaikan bersama. Kampus adalah tempat di mana generasi penerus bangsa ditempa bukan hanya untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk menjadi peka, peduli, dan berkontribusi terhadap lingkungannya.

Sudah saatnya kita berhenti membiarkan kampus menjadi menara gading yang menjulang sendiri. Mari kita ubah kampus menjadi menara air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Mari kita pastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan untuk pendidikan tinggi benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk solusi nyata, pemberdayaan, dan harapan. Karena pada akhirnya, kampus yang sejati adalah kampus yang tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga berdampak di tengah kehidupan. [T]

Tags: kampusPendidikanPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

Next Post

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

S. Bekti Istiyanto

S. Bekti Istiyanto

Dekan Fisip UPN Veteran Jakarta dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co