7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
in Opini
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

Sumber foto ilustrasi: Canva

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari citra Pulau Dewata: keramahan masyarakatnya. Senyum, sapaan, kesediaan membantu, dan kemampuan membuat orang lain merasa diterima telah menjadi bagian dari identitas pariwisata Bali. Namun, belakangan ini citra tersebut kembali diuji oleh sejumlah keluhan wisatawan, termasuk dari kalangan artis yang pengalaman pelayanannya menjadi perbincangan luas di media sosial. Ria Ricis, misalnya, mengaku kecewa dengan pelayanan ketika hendak menggunakan jasa penerbangan helikopter di Bali hingga memilih membatalkan penerbangannya. Pada kasus lain, Billy Syahputra terlibat cekcok dengan penjaga toilet di kawasan Dreamland. Kedua kasus tersebut memiliki konteks yang berbeda dan masing-masing pihak memberikan penjelasan. Namun, di balik kasus tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar untuk direnungkan: apakah keramahan Bali masih hadir dalam cara kita berkomunikasi dan melayani wisatawan?

Pertanyaan tersebut menjadi menarik apabila dilihat dari perspektif linguistik, khususnya pragmatik. Dalam kajian kesantunan berbahasa, komunikasi yang baik bukan hanya persoalan benar atau salah secara gramatikal. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan bahasa untuk menjaga hubungan sosial dengan orang lain. Brown dan Levinson menjelaskan bahwa setiap individu memiliki face, yaitu citra diri yang ingin dihargai dalam interaksi. Karena itu, tindakan tutur tertentu, seperti menolak, menegur, meminta pembayaran, menjelaskan aturan, atau menyampaikan larangan, berpotensi mengancam face seseorang. Dalam konteks pelayanan pariwisata, hampir setiap hari pekerja melakukan tindakan-tindakan tersebut. Cara menyampaikannya menjadi sangat menentukan apakah wisatawan merasa dihargai atau justru dipermalukan.

Di sinilah keramahan seharusnya dipahami lebih jauh. Keramahan bukan sekadar tersenyum kepada wisatawan atau mengucapkan salam ketika mereka datang. Keramahan juga tercermin dalam pilihan kata, intonasi, cara menyampaikan informasi, cara menolak permintaan, bahkan cara memberikan teguran. Kalimat “Tidak bisa!” secara gramatikal mungkin benar, tetapi secara pragmatik dapat terdengar keras dan mengancam muka wisatawan. Pesan yang sama dapat disampaikan dengan bentuk yang lebih santun, misalnya, “Mohon maaf, untuk alasan keselamatan layanan tersebut belum dapat kami berikan. Kami bisa menawarkan alternatif berikut.” Informasinya sama, tetapi dampak interpersonalnya berbeda.

Dalam perspektif Leech, kesantunan berkaitan dengan upaya meminimalkan kerugian bagi orang lain dan memaksimalkan penghargaan terhadap orang lain. Prinsip ini sangat relevan dengan dunia pelayanan. Wisatawan datang dengan harapan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Ketika mereka tidak memahami aturan, melakukan kesalahan, atau meminta sesuatu yang tidak dapat diberikan, pekerja pariwisata tentu memiliki hak untuk menjelaskan dan menolak. Namun, penolakan tidak harus disampaikan dengan bahasa yang membuat wisatawan kehilangan muka. Kesantunan bukan berarti selalu mengatakan “ya”, melainkan kemampuan mengatakan “tidak” tanpa membuat orang lain merasa direndahkan.

Dalam konteks pariwisata Bali, persoalan ini menjadi semakin penting karena interaksi antara pekerja dan wisatawan berlangsung dalam ruang yang sangat beragam secara budaya. Wisatawan datang dari berbagai daerah dan negara dengan kebiasaan komunikasi yang berbeda. Apa yang dianggap biasa oleh seorang petugas belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh wisatawan. Nada bicara yang bagi penutur lokal dianggap tegas mungkin ditafsirkan wisatawan sebagai kasar. Sebuah candaan yang dimaksudkan untuk mencairkan suasana bisa saja dianggap tidak pantas. Begitu pula ekspresi wajah, gestur, jarak komunikasi, dan pilihan sapaan dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda.

Pekerja pariwisata membutuhkan bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga kompetensi pragmatik dan lintas budaya. Mereka harus mampu membaca situasi, memahami siapa lawan bicaranya, mengetahui kapan harus berbicara secara langsung dan kapan perlu menggunakan ungkapan yang lebih tidak langsung, serta mampu mengelola emosi ketika menghadapi pelanggan yang kecewa. Pelayanan pariwisata pada akhirnya bukan hanya pekerjaan menjual kamar, makanan, transportasi, atau atraksi wisata. Ia adalah pekerjaan mengelola interaksi antarmanusia.

Hal yang lebih sensitif adalah munculnya persepsi bahwa wisatawan asing memperoleh pelayanan yang lebih ramah dibandingkan wisatawan domestik. Dalam kasus Ria Ricis, misalnya, muncul tudingan mengenai perbedaan sikap petugas terhadap wisatawan lokal dan asing. Pihak manajemen kemudian memberikan klarifikasi bahwa tidak ada kebijakan untuk membedakan pelayanan berdasarkan asal wisatawan. Terlepas dari benar atau tidaknya persepsi tersebut, persoalan ini tetap penting dilihat dari perspektif komunikasi. Dalam pragmatik, makna tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikatakan, tetapi juga oleh bagaimana tuturan dipersepsikan dalam konteks tertentu. Karena itu, perusahaan mungkin merasa telah memberikan pelayanan yang sama, tetapi apabila wisatawan merasakan adanya perbedaan perlakuan, maka persoalan komunikasi tetap perlu dievaluasi.

Wisatawan domestik juga tidak boleh diposisikan sebagai wisatawan kelas dua. Mereka membayar produk dan jasa yang sama, datang dengan harapan memperoleh pengalaman yang menyenangkan, dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Kesantunan dalam pelayanan seharusnya bersifat inklusif. Siapa pun wisatawannya, dari mana pun asalnya, apa pun latar belakang sosialnya, mereka harus memperoleh penghormatan yang sama. Dalam perspektif pragmatik, penghormatan tersebut dapat terlihat dari cara menyapa, menjelaskan, meminta, menawarkan, menolak, dan menyelesaikan keluhan.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika terjadi komplain. Dalam situasi seperti ini, kesantunan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga wisatawan. Wisatawan berhak menyampaikan ketidakpuasan, tetapi cara menyampaikannya juga menentukan kualitas interaksi. Keluhan yang disampaikan dengan bahasa yang menyerang dapat mengancam face pekerja dan memicu respons defensif. Sebaliknya, keluhan yang disampaikan secara asertif dan santun membuka ruang penyelesaian masalah. Karena itu, hubungan pelayanan sebenarnya bersifat dua arah. Pekerja harus santun kepada wisatawan, tetapi wisatawan juga perlu santun kepada pekerja.

Kasus-kasus yang kemudian menjadi viral di media sosial memperlihatkan betapa pentingnya prinsip tersebut. Potongan video sering kali hanya memperlihatkan bagian tertentu dari sebuah interaksi. Kita tidak mengetahui seluruh konteks percakapan, apa yang dikatakan sebelumnya, bagaimana intonasinya, atau bagaimana konflik itu bermula. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru menghakimi hanya berdasarkan potongan video. Yang lebih penting adalah menjadikan kasus tersebut sebagai bahan evaluasi terhadap sistem pelayanan dan komunikasi.

Dalam konteks ini, industri pariwisata Bali perlu mulai memasukkan pelatihan kesantunan berbahasa dan komunikasi lintas budaya ke dalam pengembangan sumber daya manusia. Pelatihan tidak cukup hanya mengajarkan cara menyambut tamu atau menggunakan bahasa asing. Pekerja perlu dilatih bagaimana memberikan teguran tanpa mempermalukan, menolak permintaan tanpa terdengar kasar, menghadapi pelanggan yang marah, meminta pembayaran dengan sopan, menjelaskan aturan secara persuasif, dan menyelesaikan konflik melalui komunikasi yang berorientasi pada solusi.

Hal ini penting karena setiap pekerja yang berhadapan langsung dengan wisatawan sesungguhnya adalah representasi Bali. Petugas parkir, pengemudi, penjaga toilet, pramusaji, resepsionis, pemandu wisata, petugas objek wisata, hingga manajemen hotel dan restoran semuanya menjadi wajah Bali. Wisatawan tidak selalu mampu membedakan apakah seseorang bekerja untuk perusahaan besar, usaha kecil, pemerintah, atau masyarakat lokal. Bagi mereka, orang yang sedang berinteraksi dengan merekalah Bali yang mereka lihat.

Keramahan Bali tidak cukup dipertahankan sebagai slogan. Keramahan harus hadir dalam bahasa, tindakan, dan pengalaman pelayanan. Senyum tanpa kesantunan komunikasi tidak cukup. Bahasa yang halus tanpa empati juga tidak cukup. SOP yang baik tanpa kemampuan memahami manusia juga tidak cukup. Yang diperlukan adalah perpaduan antara profesionalisme, empati, kompetensi pragmatik, dan penghormatan terhadap wisatawan.

Bali memiliki modal sosial yang sangat besar berupa budaya menyama braya, penghormatan terhadap orang lain, dan tradisi hidup bersama. Nilai-nilai tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi diterjemahkan ke dalam praktik komunikasi sehari-hari. Ketika seorang petugas mengatakan, “Mohon maaf, Bapak/Ibu, untuk saat ini belum dapat kami layani karena alasan keselamatan,” sesungguhnya ia bukan hanya sedang menjalankan SOP. Ia sedang menjaga hubungan sosial. Ketika seorang wisatawan mengatakan, “Mohon penjelasannya, saya kurang memahami aturannya,” ia juga sedang memilih bentuk komunikasi yang membuka ruang penyelesaian, bukan konflik.

Pada akhirnya, tantangan pariwisata Bali bukan hanya bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana membuat wisatawan merasa dihargai selama berada di Bali. Wisatawan mungkin melupakan nama hotel tempat mereka menginap, harga makanan yang mereka bayar, atau bahkan nama objek wisata yang mereka kunjungi. Namun, mereka akan mengingat bagaimana mereka diperlakukan. Pengalaman pelayanan yang baik akan menjadi kenangan positif; sebaliknya, satu tuturan yang dianggap merendahkan dapat mengubah seluruh pengalaman perjalanan.

Keluhan wisatawan, termasuk keluhan para figur publik, sebaiknya tidak semata-mata dilihat sebagai ancaman terhadap citra Bali. Keluhan tersebut dapat menjadi cermin sekaligus alarm bagi industri pariwisata untuk melakukan introspeksi. Dari perspektif linguistik, persoalannya bukan hanya apakah seorang petugas “ramah” atau “tidak ramah”, tetapi bagaimana pilihan bahasa, strategi kesantunan, konteks interaksi, dan hubungan sosial membentuk persepsi wisatawan terhadap pelayanan.

Bali tidak cukup hanya menjual keindahan alam dan budaya. Bali juga menjual pengalaman. Pengalaman itu dibangun melalui interaksi. Jika Bali ingin mempertahankan predikat sebagai destinasi wisata dunia, kesantunan berbahasa harus menjadi bagian dari standar pelayanan pariwisata. Sebab, keramahan sejati bukan sekadar senyum yang terlihat, melainkan penghormatan yang terasa melalui kata-kata dan tindakan. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co