MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki potensi yang sangat menjanjikan dalam pasar wisata. Bahkan perilaku berwisata Gen Alpha saat ini sangat menentukan dalam pemilihan destinasi wisata.
Gen Alpha adalah mereka yang lahir pada rentang waktu tahun 2013-2024. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada sensus penduduk tahun 2020 tercatat 10,88% dari seluruh penduduk Indonesia adalah Gen Alpha atau sejumlah 30,6 juta orang. Diproyeksikan pada tahun 2030 Gen Alpha sekitar 14,8% atau 43 juta orang dengan rentang usia 6-17 tahun.
Angka sebesar itu tentu saja sangat berarti dalam industri pariwisata Tanah Air. Karena pasar wisata akan diwarnai oleh Gen Alpha yang perilaku berwisatanya tentu sangat berbeda dengan Gen Z maupun milenial. Generasi Alpha lahir di era algoritma. Mereka adalah wisatawan digital native sejak lahir.
Mereka tidak akan mengenal dunia tanpa YouTube Kids, Roblox, maupun TikTok. Keputusan berwisata orang tua acapkali dipengaruhi oleh konten yang Gen Alpha tonton. Mereka sudah menjadi mikro influencer untuk keluarga. Kamar hotel yang sudah dipesan orang tua dapat berubah oleh video yang ditonton anak usia 9 atau 12 tahun.
Industri pariwisata memang belum menangkap secara serius perilaku berwisata Gen Alpha. Bahkan riset tentang Gen Alpha dalam pariwisata pun masih langka. Semua masih berkutat pada Gen Z dan milenial. Padahal Gen Alpha ini yang menjadi penentu pilihan destinasi pada saat ini dan akan datang.
Orang tua mereka adalah Gen Z dan milenial dengan pola berwisata yang telah berubah. Mereka tidak menyukai paket wisata yang kaku. Berwisata bagi Gen Alpha adalah yang kid friendly, instagramable, dan edukatif. Mereka tidak mencari pantai yang indah dan viral, tapi destinasi yang ada di game Roblox maupun Minecraft. Jika orang tua mereka masih peduli pada destinasi yang estetik dan punya vibes, maka Gen Alpha memilih destinasi yang dapat untuk bermain dan diposting.
Perilaku Berwisata Gen Alpha
Gen Alpha tumbuh dengan logika game. Ada misi, ada level, ada hadiah. Destinasi wisata yang hanya menampilkan objek yang diam akan membosankan bagi mereka. Objek wisata seperti Kidzania di Jepang, Jakarta, maupun Surabaya menawarkan kepada anak-anak untuk bermain peran (role playing) lebih dari 100 profesi seperti dokter, polisi, pemadam kebakaran, dan mencoba membuat makanan. Mereka juga dapat belajar bekerja, merasakan simulasi kota mini, dan mendapat gaji berupa KidZos.
Biasanya orang tua merasa merekalah yang harus memilih destinasi wisata. Padahal sesungguhnya keputusan awal untuk berwisata datang dari konten yang ditonton anak berdasarkan algoritma. Destinasi wisata tanpa konten visual yang kuat kurang dipertimbangkan Gen Alpha. Tak peduli seindah apa pun alamnya, jika tidak dapat dijadikan video 15 detik akan diabaikan mereka.
Bila Gen Z mencari destinasi wisata yang estetik, maka Gen Alpha mencari yang bergerak dan berwarna. Gen Alpha tidak peduli sunset yang indah di pantai bila tidak ada elemen bergerak untuk direkam. Bukan berarti Gen Alpha tidak peduli dengan alam. Namun alam harus mempunyai trigger visual yang kuat.
Pergeseran perilaku berwisata pada Gen Alpha ini tentu perlu dicermati oleh pelaku bisnis pariwisata. Orang tua mereka rela membayar mahal untuk hotel yang bertema anak, vila dengan arena permainan anak, dan paket wisata yang menyertakan aktivitas anak. Kabarnya, hotel yang bertema anak mengalami kenaikan okupansi sepanjang tahun 2024-2025.
Dampak bagi Pariwisata Indonesia
Industri pariwisata harus bergerak cepat merespons perilaku berwisata Gen Alpha ini. Desa wisata tidak hanya mengandalkan pemandangan alam. Pengelola desa wisata harus menambahkan aktivitas berwisata bagi anak-anak, seperti petik buah, bermain lumpur, dan ketangkasan, agar anak dapat bercerita dan berbagi konten. Bila tidak, desa wisata akan kalah bersaing dengan waterpark yang ada di kota.
Kalangan perhotelan harus mendesain zona anak yang interaktif, fotogenik, dan aman. Saat ini hotel yang tidak memiliki zona anak akan ditinggalkan oleh keluarga muda. Padahal bila berkaca dari statistik, pangsa pasar wisata ke depan akan didominasi oleh keluarga muda Gen Z dan milenial yang akan membawa serta Gen Alpha.
Pemerintah daerah juga harus mengubah kanal promosi wisatanya. Promosi melalui baliho maupun brosur tidak akan sampai pada Gen Alpha. Promosi yang diterima adalah datang dari kidfluencer yang memiliki 50 ribu hingga 200 ribu follower. Mereka lebih dipercaya oleh anak-anak ketimbang promosi oleh dinas pariwisata.
Meski banyak membawa perubahan, namun perilaku berwisata Gen Alpha mengandung risiko dan dampak dalam pariwisata. Mereka datang ke objek wisata, merekam selama lima menit, lantas pulang. Ada yang hilang, yaitu pengalaman berwisata yang direduksi menjadi bahan untuk konten media sosial.
Pariwisata Indonesia masa depan sedang dibentuk sekarang oleh keberadaan Gen Alpha. Mereka akan menjadi wisatawan dewasa di tahun 2035. Sedangkan wisatawan Gen Alpha juga akan terus bertambah setiap tahunnya. Maka kebiasaan berwisata yang terbentuk sekarang akan menentukan berkembang atau tidaknya destinasi wisata 10 tahun mendatang.
Destinasi wisata yang hanya mengandalkan keindahan alam tanpa interaksi akan kalah bersaing di pasar wisata. Pemenangnya adalah destinasi yang mengerti cara membuat anak usia 9 tahun meminta kepada orang tuanya untuk kembali lagi ke destinasi itu.
Industri pariwisata kini dihadapkan pada dua pilihan. Menunggu sampai Gen Alpha besar dan mengubah perilaku berwisatanya sendiri; atau mulai memahami mereka sekarang, dan mendesain pengalaman yang relevan dalam berwisata.[T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole






























