GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal.
Ada yang bilang ia adalah sinden yang suka bernyanyi sambil telanjang. Ada juga yang bercerita, Si Gending dulu pernah disiksa hanya karena berkumpul sama orang-orang aneh.
“Si Gending itu wongedan! Dulu dia suka membawa sajam ke mana-mana,” lanjut informasi dari yang lain.
Sementara yang terakhir menimpali lebih gawat, “Si Gending pernah gigit pler jendral hingga putus.”
Sebegitunya warga mengenal kisah dan nama Si Gending sangat najis dan haram jaddah. Bahkan, tak sedikit orang tua menggunakan nama Gending untuk menakuti anak-anak mereka yang nakal dan rewel.
Sekali sebut Si Gending mau ke sini menjemputmu, anak-anak itu bisa keder dan langsung menjadi penurut. Langsung menjadi pendiam. Langsung minta sekolah besoknya.
Nama Gending seakan sihir.
Tapi soal siapa Si Gending sebenarnya, tak seorangpun benar-benar mau menceritakan sosoknya secara utuh. Hingga kini kisahnya berceceran di jalanan. Tak terpungut oleh rasa penerimaan.
Menurut cerita Pak De depan rumah, misalnya, kabar Si Gending terkini sudah jadi hantu. Hantu berjubah merah yang suka bernyanyi sembarang. Mungkin karena itu juga perempuan itu dipanggil Si Gending.
Cerita soal Si Gending ini juga pernah dituturkan oleh Eyang Asih si pedagang bunga dan kemenyan, di ujung kompleks dekat kuburan.
”Dulu sebelum Si Gending hilang, dia suka mengajak Eyang dan para perempuan lainnya untuk kursus menjahit di rumahnya,” kenang Eyang Asih sambil menata bunga yang akan dijualnya pagi itu. “Si Gending juga suka ikut pelayanan di gereja setiap Minggu. Wah! Suara dia kalau lagi nyanyi bagus sekali, Nduk. Sudah kayak artis.”
“Terus ke mana dia sekarang, Eyang?” tanyaku.
Setiap kali pertanyaan itu muncul, Eyang Asih selalu mendadak diam atau pura-pura merapikan menyannya. Mengalihkan pada fokus yang lain, pada pembicaraan yang lain.
“Seandainya Si Gending tidak berdendang terlalu lantang mungkin hari ini, dia bisa nyanyi lagu-lagu klasik Sunda hingga ke manca negara,” sambung Ayah bercerita sewaktu dirinya berumur sepuluh tahun, yang sempat menyaksikan pentas rakyat oleh sebuah kelompok di desa.
Dan masih kata Ayah, jika Si Gending tidak saja soal bakat menyanyinya yang menonjol sehingga dikenang. Secara budi, pun, Si Gending juga sangat baik sebagai manusia.
Ia dan kawan-kawannya pernah ngajarin ibu-ibu buat baca tulis ketika itu. Eyang putrimu juga sering ikut kelas mereka dan nyaris tak pernah bolos. Selalu hadir dan datang lebih awal.
“Tapi untungnya, Eyangmu tidak sampai ikut diangkut sama orang pake baju loreng,” lanjut ayah merasa beryukur. “Karena setelah itu, Si Gending dibawa ke mana sama orang-orang itu, ayah tidak tahu.”
Mimik wajah Ayah juga sulit diterka setiap kali menceritakan Si Gending. Tapi dari ceritanya, Ayah seakan paham jika apa yang dilakukan Si Gending adalah perbuatan yang baik. Perbuatan yang suci. Tapi setiap ada orang yang bergunjing tentangnya, Ayah memilih diam dan tidak berusaha untuk membela, ya, sama seperti eyang. Diam.
“Gending itu nggak pernah hitung-hitungan orangnya. Pernah sekali Eyang putrimu tidak punya beras untuk makan sekeluarga, lalu dia pergi ke rumah Si Gending, langsung dikasih sama Si Gending. Bahkan, Si Gending juga suka bagi-bagi lauk-pauk ke tetangga yang lain secara cuma-cuma.”
“Kalau memang Si Gending orang baik, orang ramah dan dermawan, lalu kenapa beberapa orang masih menggunjinginya sebagai pelacur? Seakan namanya najis dan haram jaddah, Ayah?”
Ayah terdiam.
***
Aku masih ingat cerita lain tentang Si Gending dari Eyang putriku, jika perempuan itu suka menulis cerita anak-anak dan dibukukan. Selain itu, Si Gending juga suka mengumpulkan anak-anak di Balai Desa ketika sore, untuk kemudian diajaknya bercerita dan bermain.
“Terus sekarang bukunya di mana, Eyang?” tanyaku penasaran ketika itu.
“Sudah tidak ada. Entah ke mana,” kata Eyang. “Padahal cerita-cerita yang ditulisnya bagus sekali. Itu ayahmu suka sekali minta dibacakan dongeng sama Si Gending sewaktu masih kanak-kanak.”
Di tengah rasa penasaranku, aku berupaya untuk mencari tahu lewat internet dengan kata kunci; “Perempuan yang Mengajarkan Baca Tulis di Tahun 60an”. Yang muncul di laman utama justru artikel berikut ini;
‘G30S: Perempuan dan propaganda terhadap Gerwani, ‘Stigma belum hilang sekalipun mereka sudah tidak memberi label lagi’
Apakah Si Gending adalah salah seorang perempuan yang tergabung dalam organisasi itu? Aku masih belum yakin. Aku belum puas dengan satu informasi, aku mencari informasi lain, dan menemuakan berita lawas dengan keterangan:
“perbuatan biadab para pelacur berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusian terhadap para jendral”
Si Gending benar-benar berhasil menghantuiku setelah pencarian itu. Kepingan-kepingan cerita tentangnya membuat aku ingin mencari tahu lebih pasti—siapa Si Gending sebenarnya. Bagaimana cerita utuhnya.
Sebab kalau memang Si Gending adalah hantu yang harus ditakuti dan dijauhkan satu kompleks, tapi kenapa dia membantu Eyangku dulu? Kenapa juga dia sangat peduli dengan para perempuan yang tidak bisa baca tulis ketika itu? [T]
Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





