5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
September 5, 2026
in Cerpen
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal.

Ada yang bilang ia adalah sinden yang suka bernyanyi sambil telanjang. Ada juga yang bercerita, Si Gending dulu pernah disiksa hanya karena berkumpul sama orang-orang aneh.

“Si Gending itu wongedan! Dulu dia suka membawa sajam ke mana-mana,” lanjut informasi dari yang lain.

Sementara yang terakhir menimpali lebih gawat, “Si Gending pernah gigit pler jendral hingga putus.”

Sebegitunya warga mengenal kisah dan nama Si Gending sangat najis dan haram jaddah. Bahkan, tak sedikit orang tua menggunakan nama Gending untuk menakuti anak-anak mereka yang nakal dan rewel.

Sekali sebut Si Gending mau ke sini menjemputmu, anak-anak itu bisa keder dan langsung menjadi penurut. Langsung menjadi pendiam. Langsung minta sekolah besoknya.

Nama Gending seakan sihir.

Tapi soal siapa Si Gending sebenarnya, tak seorangpun benar-benar mau menceritakan sosoknya secara utuh. Hingga kini kisahnya berceceran di jalanan. Tak terpungut oleh rasa penerimaan. 

Menurut cerita Pak De depan rumah, misalnya, kabar Si Gending terkini sudah jadi hantu. Hantu berjubah merah yang suka bernyanyi sembarang. Mungkin karena itu juga perempuan itu dipanggil Si Gending.

Cerita soal Si Gending ini juga pernah dituturkan oleh Eyang Asih si pedagang bunga dan kemenyan, di ujung kompleks dekat kuburan.

”Dulu sebelum Si Gending hilang, dia suka mengajak Eyang dan para perempuan lainnya untuk kursus menjahit di rumahnya,” kenang Eyang Asih sambil menata bunga yang akan dijualnya pagi itu. “Si Gending juga suka ikut pelayanan di gereja setiap Minggu. Wah! Suara dia kalau lagi nyanyi bagus sekali, Nduk. Sudah kayak artis.”

“Terus ke mana dia sekarang, Eyang?” tanyaku.

Setiap kali pertanyaan itu muncul, Eyang Asih selalu mendadak diam atau pura-pura merapikan menyannya. Mengalihkan pada fokus yang lain, pada pembicaraan yang lain.

“Seandainya Si Gending tidak berdendang terlalu lantang mungkin hari ini, dia bisa nyanyi lagu-lagu klasik Sunda hingga ke manca negara,” sambung Ayah bercerita sewaktu dirinya berumur sepuluh tahun, yang sempat menyaksikan pentas rakyat oleh sebuah kelompok di desa.

Dan masih kata Ayah, jika Si Gending tidak saja soal bakat menyanyinya yang menonjol sehingga dikenang. Secara budi, pun, Si Gending juga sangat baik sebagai manusia.

Ia dan kawan-kawannya pernah ngajarin ibu-ibu buat baca tulis ketika itu. Eyang putrimu juga sering ikut kelas mereka dan nyaris tak pernah bolos. Selalu hadir dan datang lebih awal.

“Tapi untungnya, Eyangmu tidak sampai ikut diangkut sama orang pake baju loreng,” lanjut ayah merasa beryukur.  “Karena setelah itu, Si Gending dibawa ke mana sama orang-orang itu, ayah tidak tahu.”

Mimik wajah Ayah juga sulit diterka setiap kali menceritakan Si Gending. Tapi dari ceritanya, Ayah seakan paham jika apa yang dilakukan Si Gending adalah perbuatan yang baik. Perbuatan yang suci. Tapi setiap ada orang yang bergunjing tentangnya, Ayah memilih diam dan tidak berusaha untuk membela, ya, sama seperti eyang. Diam.

“Gending itu nggak pernah hitung-hitungan orangnya. Pernah sekali Eyang putrimu tidak punya beras untuk makan sekeluarga, lalu dia pergi ke rumah Si Gending, langsung dikasih sama Si Gending. Bahkan, Si Gending juga suka bagi-bagi lauk-pauk ke tetangga yang lain secara cuma-cuma.”

“Kalau memang Si Gending orang baik, orang ramah dan dermawan, lalu kenapa beberapa orang masih menggunjinginya sebagai pelacur? Seakan namanya najis dan haram jaddah, Ayah?”

Ayah terdiam.

***

Aku masih ingat cerita lain tentang Si Gending dari Eyang putriku, jika perempuan itu suka menulis cerita anak-anak dan dibukukan. Selain itu, Si Gending juga suka mengumpulkan anak-anak di Balai Desa ketika sore, untuk kemudian diajaknya bercerita dan bermain.


“Terus sekarang bukunya di mana, Eyang?” tanyaku penasaran ketika itu.

“Sudah tidak ada. Entah ke mana,” kata Eyang. “Padahal cerita-cerita yang ditulisnya bagus sekali. Itu ayahmu suka sekali minta dibacakan dongeng sama Si Gending sewaktu masih kanak-kanak.”

Di tengah rasa penasaranku, aku berupaya untuk mencari tahu lewat internet dengan kata kunci; “Perempuan yang Mengajarkan Baca Tulis di Tahun 60an”. Yang muncul di laman utama justru artikel berikut ini;

‘G30S: Perempuan dan propaganda terhadap Gerwani, ‘Stigma belum hilang sekalipun mereka sudah tidak memberi label lagi’

Apakah Si Gending adalah salah seorang perempuan yang tergabung dalam organisasi itu? Aku masih belum yakin. Aku belum puas dengan satu informasi, aku mencari informasi lain, dan menemuakan berita lawas dengan keterangan:

“perbuatan biadab para pelacur berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusian terhadap para jendral”

Si Gending benar-benar berhasil menghantuiku setelah pencarian itu. Kepingan-kepingan cerita tentangnya membuat aku ingin mencari tahu lebih pasti—siapa Si Gending sebenarnya. Bagaimana cerita utuhnya.

Sebab kalau memang Si Gending adalah hantu yang harus ditakuti dan dijauhkan satu kompleks, tapi kenapa dia membantu Eyangku dulu? Kenapa juga dia sangat peduli dengan para perempuan yang tidak bisa baca tulis ketika itu? [T]

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Next Post

Topi Para Penyintas Kanker

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
Topi Para Penyintas Kanker

Topi Para Penyintas Kanker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co