SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa melihat masa depan?”
Pertanyaan itu hingga kini belum saya jawab. Saya merasa pertanyaan tersebut tidak terlalu penting sehingga membiarkannya mengambang di dalam pikiran. Hingga pada Minggu kemarin, saya menonton sebuah film pendek yang sekiranya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Minggu (13/9/2026) malam menjadi tanggal ditayangkannya film-film pendek dari program “Enigma” dalam rangkaian acara Minikino Film Week Festival 12. Melalui Singaraja Menonton, para penonton dapat menikmati film-film pendek tersebut di Kedai Dekakiang. Ada enam film pendek yang ditayangkan, yaitu “Get Money”, “The Sentry”, “Mardazma”, “Lidah Api (Malevolent)”, “Cut! (Coupez!)”, dan “Breadsong”.
Dari keenam film tersebut, Breadsong menjadi film yang menarik perhatian saya. Film yang diproduksi oleh Nafta Films (Estonia) ini disutradarai oleh Katariina Aule, dengan Sven-Sander Paas sebagai penulis naskah serta Andreas Kask dan Laura Raud sebagai produser. Breadsong menjadi film terakhir yang ditayangkan dalam program “Enigma”.

Berlatar pada abad ke-19, film ini mengisahkan sebuah keluarga petani yang secara misterius dapat mendengar lagu-lagu pop dari masa depan setelah anak-anak mereka memakan roti berjamur. Dalam keterangan yang tertera pada poster Minikino, film ini mengangkat tema keserakahan dan harga yang harus dibayar atas hasrat yang tidak terpuaskan, serta benturan antara tradisi dan modernitas.
Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah ketika kedua anak dari keluarga petani tersebut memakan roti yang berjamur. Tiba-tiba tubuh mereka mematung, mata mereka memutih layaknya orang yang kesurupan, lalu terdengarlah lagu-lagu pop. Lagu-lagu tersebut terdengar seperti musik yang diputar melalui radio, tetapi sumber suaranya seolah-olah berasal dari mulut kedua anak tersebut.
Kejadian itu berlangsung dua kali dalam film. Pada kejadian kedua, hal tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan atas perintah orang tua mereka. Kedua anak itu pun mengiyakan perintah tersebut tanpa ragu dan tanpa rasa takut, seolah-olah mereka tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Pada saat itulah saya mulai merasa kasihan kepada kedua anak tersebut. Mereka seperti dijadikan media oleh orang tuanya agar dapat mendengarkan musik-musik dari masa depan.
Dari situ, saya berpikir bahwa film ini juga dapat disebut sebagai film satir yang absurd. Sepanjang film, kita diperlihatkan bagaimana sang ayah dari keluarga petani tersebut menjadi semakin serakah hanya karena ingin mendengarkan lagu-lagu dari masa depan. Jujur saja, saya sempat beberapa kali tertawa kecil ketika menonton film ini karena situasi yang dihadirkan begitu absurd.

Namun, justru ketidakmasukakalan itulah yang menurut saya membuat Breadsong memiliki nuansa absurd sekaligus satir. Film ini tidak harus dipahami sebagai gambaran realistis mengenai bagaimana manusia akan bereaksi ketika mendengar musik dari masa depan. Sebaliknya, situasi yang absurd tersebut dapat dilihat sebagai cara untuk memperbesar sifat manusia hingga terlihat dengan lebih jelas.
Dalam konteks itu, lagu tersebut pada akhirnya bukan sekadar lagu. Ia dapat dibaca sebagai sesuatu yang baru, asing, menyenangkan, sekaligus memberikan keuntungan. Ketika manusia menemukan sesuatu seperti itu, rasa ingin tahu dapat berubah menjadi keinginan untuk memiliki lebih banyak. Di situlah sesuatu yang awalnya hanya dilakukan karena rasa penasaran perlahan berubah menjadi sebuah kebutuhan baru.
Melalui Breadsong, saya mendapatkan gambaran mengenai salah satu dampak ketika seseorang dapat mengetahui masa depan. Mungkin persoalannya bukan tentang bagaimana kita melihat masa depan, melainkan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui masa depan tersebut.
Sebab, ketika mengetahui sesuatu yang belum terjadi, kita bisa saja mencoba memanfaatkannya. Ketika sesuatu tersebut memberikan keuntungan, tentu akan muncul keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Dari sinilah pengetahuan tentang masa depan dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi sekadar memberikan informasi, tetapi juga memunculkan keinginan dan ambisi.

Itulah yang menurut saya menarik dari Breadsong. Film ini menggunakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal—roti berjamur dan lagu dari masa depan—untuk membicarakan sesuatu yang justru cukup masuk akal dalam kehidupan manusia: keinginan untuk mendapatkan lebih banyak ketika kita menemukan sesuatu yang menguntungkan.
Selain dari ceritanya, hal lain yang menarik perhatian saya adalah pencahayaan dan color grading-nya. Saya suka melihat bagaimana Nafta Films memanfaatkan warna dalam film ini. Penggunaan warna yang cerah maupun gelap terasa ditempatkan pada momen-momen tertentu sehingga membantu membangun suasana dan memperkuat pengalaman visual selama film berlangsung.
Walaupun demikian, ada satu kekurangan yang saya rasakan dalam film ini. Menurut saya, Breadsong masih kurang kuat dalam menghadirkan suasana Estonia pada abad ke-19. Ketika pertama kali menonton, saya memang dapat merasakan bahwa film ini mengambil latar pada zaman yang berbeda. Rumah, pakaian, lingkungan, dan suasananya cukup membantu membangun kesan tersebut. Namun, latar yang ditampilkan masih lebih terasa sebagai “pedesaan Eropa pada abad ke-19” daripada “Estonia pada abad ke-19”.
Menurut saya, hal tersebut cukup disayangkan karena identitas tempat sebenarnya dapat membuat cerita menjadi lebih kuat. Apalagi film ini membicarakan benturan antara tradisi dan sesuatu yang berasal dari masa depan. Jika kehidupan tradisional Estonia dibuat lebih terasa, kemunculan lagu modern dari masa depan mungkin akan terasa semakin asing dan kontras.

Meski begitu, bukan berarti Breadsong harus menjelaskan sejarah Estonia secara panjang lebar. Justru, beberapa detail kecil mungkin sudah cukup untuk membuat latarnya terasa lebih spesifik. Hal itu dapat dihadirkan melalui arsitektur, pakaian, kebiasaan masyarakat, musik tradisional, atau benda-benda yang digunakan oleh para tokohnya.
Setelah itu, jam sepuluh malam, penayangan program “Enigma” akhirnya selesai. Sesi diskusi pun dimulai. Namun, dari sesi tersebut, saya tidak mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai film Breadsong.
Ketika sesi diskusi telah selesai, salah satu teman saya bertanya kepada saya, “Film apa yang menurutmu menarik?”
Tanpa ragu, saya menjawab, “Breadsong.”[T]
Penulis: Yoga Wismantara
Editor: Jaswanto




























