6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

Yoga Wismantara by Yoga Wismantara
September 24, 2026
in Ulas Film
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

Tangkapan layar film pendek Breadsong dalam Program ENIGMA Minikino Film Week 12 tahun 2026

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa melihat masa depan?”

Pertanyaan itu hingga kini belum saya jawab. Saya merasa pertanyaan tersebut tidak terlalu penting sehingga membiarkannya mengambang di dalam pikiran. Hingga pada Minggu kemarin, saya menonton sebuah film pendek yang sekiranya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Minggu (13/9/2026) malam menjadi tanggal ditayangkannya film-film pendek dari program “Enigma” dalam rangkaian acara Minikino Film Week Festival 12. Melalui Singaraja Menonton, para penonton dapat menikmati film-film pendek tersebut di Kedai Dekakiang. Ada enam film pendek yang ditayangkan, yaitu “Get Money”, “The Sentry”, “Mardazma”, “Lidah Api (Malevolent)”, “Cut! (Coupez!)”, dan “Breadsong”.

Dari keenam film tersebut, Breadsong menjadi film yang menarik perhatian saya. Film yang diproduksi oleh Nafta Films (Estonia) ini disutradarai oleh Katariina Aule, dengan Sven-Sander Paas sebagai penulis naskah serta Andreas Kask dan Laura Raud sebagai produser. Breadsong menjadi film terakhir yang ditayangkan dalam program “Enigma”.

Tangkapan layar film pendek Breadsong dalam Program ENIGMA Minikino Film Week 12 tahun 2026

Berlatar pada abad ke-19, film ini mengisahkan sebuah keluarga petani yang secara misterius dapat mendengar lagu-lagu pop dari masa depan setelah anak-anak mereka memakan roti berjamur. Dalam keterangan yang tertera pada poster Minikino, film ini mengangkat tema keserakahan dan harga yang harus dibayar atas hasrat yang tidak terpuaskan, serta benturan antara tradisi dan modernitas.

Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah ketika kedua anak dari keluarga petani tersebut memakan roti yang berjamur. Tiba-tiba tubuh mereka mematung, mata mereka memutih layaknya orang yang kesurupan, lalu terdengarlah lagu-lagu pop. Lagu-lagu tersebut terdengar seperti musik yang diputar melalui radio, tetapi sumber suaranya seolah-olah berasal dari mulut kedua anak tersebut.

Kejadian itu berlangsung dua kali dalam film. Pada kejadian kedua, hal tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan atas perintah orang tua mereka. Kedua anak itu pun mengiyakan perintah tersebut tanpa ragu dan tanpa rasa takut, seolah-olah mereka tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Pada saat itulah saya mulai merasa kasihan kepada kedua anak tersebut. Mereka seperti dijadikan media oleh orang tuanya agar dapat mendengarkan musik-musik dari masa depan.

Dari situ, saya berpikir bahwa film ini juga dapat disebut sebagai film satir yang absurd. Sepanjang film, kita diperlihatkan bagaimana sang ayah dari keluarga petani tersebut menjadi semakin serakah hanya karena ingin mendengarkan lagu-lagu dari masa depan. Jujur saja, saya sempat beberapa kali tertawa kecil ketika menonton film ini karena situasi yang dihadirkan begitu absurd.

Tangkapan layar film pendek Breadsong dalam Program ENIGMA Minikino Film Week 12 tahun 2026

Namun, justru ketidakmasukakalan itulah yang menurut saya membuat Breadsong memiliki nuansa absurd sekaligus satir. Film ini tidak harus dipahami sebagai gambaran realistis mengenai bagaimana manusia akan bereaksi ketika mendengar musik dari masa depan. Sebaliknya, situasi yang absurd tersebut dapat dilihat sebagai cara untuk memperbesar sifat manusia hingga terlihat dengan lebih jelas.

Dalam konteks itu, lagu tersebut pada akhirnya bukan sekadar lagu. Ia dapat dibaca sebagai sesuatu yang baru, asing, menyenangkan, sekaligus memberikan keuntungan. Ketika manusia menemukan sesuatu seperti itu, rasa ingin tahu dapat berubah menjadi keinginan untuk memiliki lebih banyak. Di situlah sesuatu yang awalnya hanya dilakukan karena rasa penasaran perlahan berubah menjadi sebuah kebutuhan baru.

Melalui Breadsong, saya mendapatkan gambaran mengenai salah satu dampak ketika seseorang dapat mengetahui masa depan. Mungkin persoalannya bukan tentang bagaimana kita melihat masa depan, melainkan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui masa depan tersebut.

Sebab, ketika mengetahui sesuatu yang belum terjadi, kita bisa saja mencoba memanfaatkannya. Ketika sesuatu tersebut memberikan keuntungan, tentu akan muncul keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Dari sinilah pengetahuan tentang masa depan dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi sekadar memberikan informasi, tetapi juga memunculkan keinginan dan ambisi.

Tangkapan layar film pendek Breadsong dalam Program ENIGMA Minikino Film Week 12 tahun 2026

Itulah yang menurut saya menarik dari Breadsong. Film ini menggunakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal—roti berjamur dan lagu dari masa depan—untuk membicarakan sesuatu yang justru cukup masuk akal dalam kehidupan manusia: keinginan untuk mendapatkan lebih banyak ketika kita menemukan sesuatu yang menguntungkan.

Selain dari ceritanya, hal lain yang menarik perhatian saya adalah pencahayaan dan color grading-nya. Saya suka melihat bagaimana Nafta Films memanfaatkan warna dalam film ini. Penggunaan warna yang cerah maupun gelap terasa ditempatkan pada momen-momen tertentu sehingga membantu membangun suasana dan memperkuat pengalaman visual selama film berlangsung.

Walaupun demikian, ada satu kekurangan yang saya rasakan dalam film ini. Menurut saya, Breadsong masih kurang kuat dalam menghadirkan suasana Estonia pada abad ke-19. Ketika pertama kali menonton, saya memang dapat merasakan bahwa film ini mengambil latar pada zaman yang berbeda. Rumah, pakaian, lingkungan, dan suasananya cukup membantu membangun kesan tersebut. Namun, latar yang ditampilkan masih lebih terasa sebagai “pedesaan Eropa pada abad ke-19” daripada “Estonia pada abad ke-19”.

Menurut saya, hal tersebut cukup disayangkan karena identitas tempat sebenarnya dapat membuat cerita menjadi lebih kuat. Apalagi film ini membicarakan benturan antara tradisi dan sesuatu yang berasal dari masa depan. Jika kehidupan tradisional Estonia dibuat lebih terasa, kemunculan lagu modern dari masa depan mungkin akan terasa semakin asing dan kontras.

Tangkapan layar film pendek Breadsong dalam Program ENIGMA Minikino Film Week 12 tahun 2026

Meski begitu, bukan berarti Breadsong harus menjelaskan sejarah Estonia secara panjang lebar. Justru, beberapa detail kecil mungkin sudah cukup untuk membuat latarnya terasa lebih spesifik. Hal itu dapat dihadirkan melalui arsitektur, pakaian, kebiasaan masyarakat, musik tradisional, atau benda-benda yang digunakan oleh para tokohnya.

Setelah itu, jam sepuluh malam, penayangan program “Enigma” akhirnya selesai. Sesi diskusi pun dimulai. Namun, dari sesi tersebut, saya tidak mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai film Breadsong.

Ketika sesi diskusi telah selesai, salah satu teman saya bertanya kepada saya, “Film apa yang menurutmu menarik?”

Tanpa ragu, saya menjawab, “Breadsong.”[T]

Penulis: Yoga Wismantara
Editor: Jaswanto

Tags: BreadsongKatariina AuleMinikino Film WeekMinikino Film Week 2026Sven-Sander
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

Next Post

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

Yoga Wismantara

Yoga Wismantara

Siswa dari SMK N 3 Singaraja, belajar menulis puisi di Klub Rabu Puisi, Komunitas Mahima. Salah satu dari peserta workshop menulis film yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton. Anggota Komunitas Jnana, komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan literasi warga Singaraja.

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co