1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
in Ulas Film
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

Film Pesta Babi | Gambar dari Youtube

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café berada di Jl Raya Kengetan, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar. Saat tiba di café, saya memesan air soda dan bertanya kepada pelayan café, tempat pemutaran film berjudul Pesta Babi. Pelayan tersebut memberitahu saya, tempat pemutaran film berada di lantai 2. Keluar dari ruang dalam café, saya menaiki tangga spiral yang pijakannya berupa bidang kayu.  Tiba di lantai dua, saya melepas sepatu, menggeser pintu kaca ke kanan, dan duduk di lantai di samping meja kecil yang berfungsi untuk tempat menaruh minuman. Pelayan café sudah membawa minuman ke dalam untuk saya.

Saat berada di ruangan, 15 menit kemudian, proyektor menyala dan layar proyektor mulai menampilkan film tersebut. Pemandu acara yang juga pengelola Sokasi Café and Living bernama Hendra  Arimbawa memberi instruksi untuk mengheningan telepon genggam dan tidak merekam film.

Sutradara dari film berjudul Pesta Babi adalah Dandhy Dwi Laksono. Beliau berasal dari organisasi watchdoc documentary. Beliau juga video grapher. Salah satu film yang watchdoc documentary produksi dan Dandhy Dwi Laksono sebagai sutradara adalah Sexy Killer. Suatu film yang viral tahun 2019 mengenai dampak lingkungan batu bara.

Film Pesta Babi berdurasi 95 menit. Film ini merupakan kerjasama dari Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale sebagai penggarap dengan Greenspeace, dan Jubi Media. Film ini mengangkat isu hak asasi manusia, politik, dan lingkungan hidup.

Salah satu adegan yang saya ingat adalah burung kasuari yang berkelana sendirian dalam keadaan sekarat sedang mencari makan di lokasi deforestasi. Informasi mengejutkan yang saya peroleh dari film ini adalah perbandingan  personil tentara dan polisi di Papua itu jauh lebih besar daripada daerah lain di Indonesia. Sekitar satu orang angkatan bersenjata dengan 100 orang sipil Papua. Tidak sedikit personil angkatan bersenjata dikerahan untuk mengamankan “proyek strategis nasional”.

Muncul  rasa kegeraman dari menonton film ini karena food estate yang pemerintah promosikan demi ketahanan pangan negara ternyata palsu. Ini adalah penipuan. Mengapa? Karena lebih dari setengah total lahan konsesi yang pemerintah klaim untuk food estate ternyata untuk bioethanol. Bioethanol jelas berkompetisi langsung dengan pangan. Justru mengurangi daya kedaulatan pangan. Karena bioethanol mendegradasi lahan dan mencemari air. Dari penebangan hutan, monokultur dan pestisidanya. Belum lagi di Papua Selatan yaitu daerah Merauke, Boven Digoel,  dan Mappi yang juga lokasi utama film ini, tidak sedikit penduduk Papua menderita kekurangan gizi dan kemelaratan alias kemiskinan parah. Suku Marind, Awyu, yei dan Muyu kehilangan tanah dan ruang hidup akibat food estate.

            Proyek ini yang mengatasnamankan ketahanan pangan dan transisi energi nasional, membuat mereka merasa tergusur dari tanah leluhur mereka sendiri. Salah satu tetua yang merupakan anggota suku di Papua menyatakan bahwa, tolong hargai kami di tanah kami. Pemerintah Indonesia tidak menghargai kami di tanah kami. Sejarah kekerasan aparat negara terhadap masyarakat di Papua sudah berlangsung sekitar 60 tahun. Tahun 1980-an merupakan kekerasan paling parah dimana ribuan orang Papua mengungsi ke Papua Nugini.

Ketika negara hari ini menugaskan tentara dan polisi untuk mengamankan perusahaan Sawit yang telah merampas lahan penduduk asli di situ dan menyingkirkan penduduk asli, ini sejajar dengan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda saat tentara keraaan Belanda mengamankan lahan yang VOC  merupakan serikat dagang Hindia Belanda kuasasi dari merampas lahan milik penduduk setempat.   Keuntungan dari sawit, pemilik perusahaan yang menikmati. Mereka berpesta laba sementara rakyat di Papua Selatan yang mana konsesi lahan untuk sawit buat mereka tersingkir menanggung bencana. Sementara rakyat Papua, sudah menanggung kerusakan ekologis, juga represi dari aparat negara dengan senjata api karena menola tanah mereka dirampas oleh korporasi untuk food estate , sawit dan tebu.

Proyek food estate yang negara terapkan 30 tahun lalu di Kalimantan gagal karena mengabaikan kondisi tanah dan alamnya yang berbeda dari pulau Jawa. Begitu pula di Papua. Food estate di Kalimantan maupun Papua menebang hutan untuk sawah tapi tak sedikit terbengkalai. Banyak warga yang ingin menanam padi jadi tak mau karena modal tak layak dan terus rugi. Proyek food estate  yang mengatasnamakan keamanan pangan nasional harusnya memberdayakan dan melibatkan warga asli Papua Selatan di Merauke, Boven Digoel dan Mappi. Keamanan tanpa partisipasi penduduk asli dan justru merusa sumber penghidupan mereka yaitu hutan dan rawa adalah palsu. Jika food estate di Papua memang untuk ketahanan pangan nasional, harusnya menyelesaikan masalah  gizi buruk di Papua. Katanya Papua bagian dari Indonesia?

             Di mana esensi pembangunan jika tidak sedikit masyarakat Papua kekurangan gizi dan mengalami gizi buruk? Lalu soal pendidikan. Harusnya bukan sekedar menjiplak kurikulum nasional. Tapi harus menghubungkan dengan permasalahan yang ada di Papua. Namanya pendidikan hadap masalah. Supaya generasi Papua mampu menyelesaikan masalah. Klaim untuk keamanan energi sebagai alasan dari food estate, perkebunan tebu dan sawit adalah omong kosong. Karena bioethanol menggunakan pupuk dan pestisida dari gas dan minyak. Mesin yang bekerja di lahan menggunakan bahan bakar minyak bumi. Belum lagi transportasi hasil dari pengolahan bioethanol ke pulau Jawa, tempat konsumsi energi terbanyak di Indonesia. Daripada mempromosikan bioethanol, kenapa tidak mempromosikan energi alternatif seperti angin, gelombang laut, surya dan panas bumi? Mengapa harus merusak hutan dan lahan basah Papua?

              Saat ini ketika penduduk membahas infrastruktur, objek utama hampir selalu gedung, jalan raya, pelabuhan, bandar udara, rel kereta api dan pembangkit listrik. Tidak ada yang salah, tapi ada hal yang luput di sini. Infrastruktur bukan itu saja. Hutan dan lahan basah juga infrastruktur. Lahan basah di Papua selatan yang suku suku Papua menyebutnya sebagai rawa adalah infrastruktur untuk menopang hidup mereka. Sagu merupakan tanamana rawa yang jadi makanan pokok di situ. Lahan basah merupakan penyerap gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas air di sekitar danau , sungai dan lahan. Karena lahan basah menyaring polutan. Fungsi inilah membuat lahan basah disebut ginjal bumi.

Sebagaimana ginjal yang menyaring  polutan dalam tubuh kita. Jasa lahan basah selain menyaring polutan adalah mengatur dan menyimpan air, memurnikan air, pemeliharaan ekologi dan mengisi ulang air tanah. Ketika suatu pihak seperti negara dan korporasi merusak lahan basah untuk dijadikan food estate dan lahan monokultur buat sawit dan tebu demi bioethanol, ini melepaskan gas rumah kaca yang luar biasa besar ke udara. Lalu membuat tanah sekitar lebih rawan banjir dan kekeringan serta kerentana air bersih. Tidak heran jika penduduk asli Papua Selatan menyebut lahan basah sebagai “ibu”. [T]

Tags: filmfilm dokumenterPapuaPesta Babi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Gagal Itu Indah

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails
Next Post
Gagal Itu Indah

Gagal Itu Indah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co