1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
in Ulas Film
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

Film Pesta Babi | Gambar dari Youtube

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café berada di Jl Raya Kengetan, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar. Saat tiba di café, saya memesan air soda dan bertanya kepada pelayan café, tempat pemutaran film berjudul Pesta Babi. Pelayan tersebut memberitahu saya, tempat pemutaran film berada di lantai 2. Keluar dari ruang dalam café, saya menaiki tangga spiral yang pijakannya berupa bidang kayu.  Tiba di lantai dua, saya melepas sepatu, menggeser pintu kaca ke kanan, dan duduk di lantai di samping meja kecil yang berfungsi untuk tempat menaruh minuman. Pelayan café sudah membawa minuman ke dalam untuk saya.

Saat berada di ruangan, 15 menit kemudian, proyektor menyala dan layar proyektor mulai menampilkan film tersebut. Pemandu acara yang juga pengelola Sokasi Café and Living bernama Hendra  Arimbawa memberi instruksi untuk mengheningan telepon genggam dan tidak merekam film.

Sutradara dari film berjudul Pesta Babi adalah Dandhy Dwi Laksono. Beliau berasal dari organisasi watchdoc documentary. Beliau juga video grapher. Salah satu film yang watchdoc documentary produksi dan Dandhy Dwi Laksono sebagai sutradara adalah Sexy Killer. Suatu film yang viral tahun 2019 mengenai dampak lingkungan batu bara.

Film Pesta Babi berdurasi 95 menit. Film ini merupakan kerjasama dari Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale sebagai penggarap dengan Greenspeace, dan Jubi Media. Film ini mengangkat isu hak asasi manusia, politik, dan lingkungan hidup.

Salah satu adegan yang saya ingat adalah burung kasuari yang berkelana sendirian dalam keadaan sekarat sedang mencari makan di lokasi deforestasi. Informasi mengejutkan yang saya peroleh dari film ini adalah perbandingan  personil tentara dan polisi di Papua itu jauh lebih besar daripada daerah lain di Indonesia. Sekitar satu orang angkatan bersenjata dengan 100 orang sipil Papua. Tidak sedikit personil angkatan bersenjata dikerahan untuk mengamankan “proyek strategis nasional”.

Muncul  rasa kegeraman dari menonton film ini karena food estate yang pemerintah promosikan demi ketahanan pangan negara ternyata palsu. Ini adalah penipuan. Mengapa? Karena lebih dari setengah total lahan konsesi yang pemerintah klaim untuk food estate ternyata untuk bioethanol. Bioethanol jelas berkompetisi langsung dengan pangan. Justru mengurangi daya kedaulatan pangan. Karena bioethanol mendegradasi lahan dan mencemari air. Dari penebangan hutan, monokultur dan pestisidanya. Belum lagi di Papua Selatan yaitu daerah Merauke, Boven Digoel,  dan Mappi yang juga lokasi utama film ini, tidak sedikit penduduk Papua menderita kekurangan gizi dan kemelaratan alias kemiskinan parah. Suku Marind, Awyu, yei dan Muyu kehilangan tanah dan ruang hidup akibat food estate.

            Proyek ini yang mengatasnamankan ketahanan pangan dan transisi energi nasional, membuat mereka merasa tergusur dari tanah leluhur mereka sendiri. Salah satu tetua yang merupakan anggota suku di Papua menyatakan bahwa, tolong hargai kami di tanah kami. Pemerintah Indonesia tidak menghargai kami di tanah kami. Sejarah kekerasan aparat negara terhadap masyarakat di Papua sudah berlangsung sekitar 60 tahun. Tahun 1980-an merupakan kekerasan paling parah dimana ribuan orang Papua mengungsi ke Papua Nugini.

Ketika negara hari ini menugaskan tentara dan polisi untuk mengamankan perusahaan Sawit yang telah merampas lahan penduduk asli di situ dan menyingkirkan penduduk asli, ini sejajar dengan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda saat tentara keraaan Belanda mengamankan lahan yang VOC  merupakan serikat dagang Hindia Belanda kuasasi dari merampas lahan milik penduduk setempat.   Keuntungan dari sawit, pemilik perusahaan yang menikmati. Mereka berpesta laba sementara rakyat di Papua Selatan yang mana konsesi lahan untuk sawit buat mereka tersingkir menanggung bencana. Sementara rakyat Papua, sudah menanggung kerusakan ekologis, juga represi dari aparat negara dengan senjata api karena menola tanah mereka dirampas oleh korporasi untuk food estate , sawit dan tebu.

Proyek food estate yang negara terapkan 30 tahun lalu di Kalimantan gagal karena mengabaikan kondisi tanah dan alamnya yang berbeda dari pulau Jawa. Begitu pula di Papua. Food estate di Kalimantan maupun Papua menebang hutan untuk sawah tapi tak sedikit terbengkalai. Banyak warga yang ingin menanam padi jadi tak mau karena modal tak layak dan terus rugi. Proyek food estate  yang mengatasnamakan keamanan pangan nasional harusnya memberdayakan dan melibatkan warga asli Papua Selatan di Merauke, Boven Digoel dan Mappi. Keamanan tanpa partisipasi penduduk asli dan justru merusa sumber penghidupan mereka yaitu hutan dan rawa adalah palsu. Jika food estate di Papua memang untuk ketahanan pangan nasional, harusnya menyelesaikan masalah  gizi buruk di Papua. Katanya Papua bagian dari Indonesia?

             Di mana esensi pembangunan jika tidak sedikit masyarakat Papua kekurangan gizi dan mengalami gizi buruk? Lalu soal pendidikan. Harusnya bukan sekedar menjiplak kurikulum nasional. Tapi harus menghubungkan dengan permasalahan yang ada di Papua. Namanya pendidikan hadap masalah. Supaya generasi Papua mampu menyelesaikan masalah. Klaim untuk keamanan energi sebagai alasan dari food estate, perkebunan tebu dan sawit adalah omong kosong. Karena bioethanol menggunakan pupuk dan pestisida dari gas dan minyak. Mesin yang bekerja di lahan menggunakan bahan bakar minyak bumi. Belum lagi transportasi hasil dari pengolahan bioethanol ke pulau Jawa, tempat konsumsi energi terbanyak di Indonesia. Daripada mempromosikan bioethanol, kenapa tidak mempromosikan energi alternatif seperti angin, gelombang laut, surya dan panas bumi? Mengapa harus merusak hutan dan lahan basah Papua?

              Saat ini ketika penduduk membahas infrastruktur, objek utama hampir selalu gedung, jalan raya, pelabuhan, bandar udara, rel kereta api dan pembangkit listrik. Tidak ada yang salah, tapi ada hal yang luput di sini. Infrastruktur bukan itu saja. Hutan dan lahan basah juga infrastruktur. Lahan basah di Papua selatan yang suku suku Papua menyebutnya sebagai rawa adalah infrastruktur untuk menopang hidup mereka. Sagu merupakan tanamana rawa yang jadi makanan pokok di situ. Lahan basah merupakan penyerap gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas air di sekitar danau , sungai dan lahan. Karena lahan basah menyaring polutan. Fungsi inilah membuat lahan basah disebut ginjal bumi.

Sebagaimana ginjal yang menyaring  polutan dalam tubuh kita. Jasa lahan basah selain menyaring polutan adalah mengatur dan menyimpan air, memurnikan air, pemeliharaan ekologi dan mengisi ulang air tanah. Ketika suatu pihak seperti negara dan korporasi merusak lahan basah untuk dijadikan food estate dan lahan monokultur buat sawit dan tebu demi bioethanol, ini melepaskan gas rumah kaca yang luar biasa besar ke udara. Lalu membuat tanah sekitar lebih rawan banjir dan kekeringan serta kerentana air bersih. Tidak heran jika penduduk asli Papua Selatan menyebut lahan basah sebagai “ibu”. [T]

Tags: filmfilm dokumenterPapuaPesta Babi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Gagal Itu Indah

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails
Next Post
Gagal Itu Indah

Gagal Itu Indah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co