TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang perayaan rasa, tradisi, dan identitas kuliner Nusantara, nama Helianti Hilman dipanggil untuk menerima Lifetime Achievement Award. Perempuan kelahiran Jember, 9 Maret 1971 itu berdiri dengan mata berkaca-kaca. Bukan semata karena penghargaan bergengsi tersebut, melainkan karena perjalanan panjang yang membawanya ke titik itu tak pernah benar-benar mudah.
Di hadapan para pegiat gastronomi dunia, Helianti menyampaikan sesuatu yang selama ini menjadi keyakinannya tentang pangan. “Makanan selalu lebih dari sekadar sumber nutrisi. Di dalamnya ada ingatan, identitas, dan pengetahuan lintas generasi. Saya berharap penghargaan ini membuat semakin banyak orang menghargai para petani dan peramu pangan yang telah menjaga warisan ini sepanjang hidup mereka,” ujarnya.
Malam itu, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan terhadap seorang pengusaha pangan. Ia menjadi penghormatan atas puluhan tahun kerja sunyi seorang perempuan yang memilih turun ke ladang, masuk ke desa-desa terpencil, mendengarkan cerita petani, lalu membawa hasil bumi mereka ke panggung dunia.
Founder dan Director Ubud Food Festival, Janet DeNeefe, menyebut Helianti sebagai sosok yang paling merepresentasikan keyakinan bahwa makanan melampaui apa yang tersaji di atas piring. “Sangat sedikit orang yang telah melakukan begitu banyak hal untuk melindungi petani, peramu pangan, dan warisan pangan biokultural Indonesia. Karyanya secara perlahan telah membentuk cara dunia memahami kuliner Indonesia. Kami merasa terhormat dapat memberikan penghargaan atas kontribusi tersebut,” tuturnya.

Bagi Helianti, penghargaan itu bukan garis akhir. Di festival tersebut, ia justru kembali membawa gagasan yang selama ini diperjuangkannya: mempertemukan pangan, budaya, biodiversitas, dan manusia. Bersama Chef Agus Hermawan, Chef Aaron Lumakeki, serta Puan Rimba ꟷ kolektif perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat ꟷ ia menghadirkan jamuan makan panjang di Bambu Indah. Menu yang disajikan bukan sekadar santapan, melainkan cerita tentang pengetahuan pangan leluhur yang nyaris terlupakan: ikan sungai dipanggang di atas api, dedaunan, hingga rempah-rempah hutan yang jarang hadir di meja makan modern.
“Ketika Javara didirikan 18 tahun lalu, kami menyadari bahwa kekayaan terbesar Indonesia adalah biodiversitas dan budaya. Kombinasi keduanya sangat kuat dalam menjawab isu kedaulatan pangan, ekonomi inklusif, dan meningkatnya minat dunia terhadap wisata gastronomi,” ungkap Helianti.
“Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal biodiversitas, baik di darat maupun laut, dan dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, setiap budaya memiliki interpretasi tersendiri terhadap bahan pangan dan tradisi kuliner. Jika dikelola dengan baik, dan dengan lebih banyak dukungan serta inisiatif seperti Ubud Food Festival, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu destinasi gastronomi terdepan di dunia,” pungkasnya.

Ketika Jalan Hidup Membawanya ke Ladang
Helianti Hilman mungkin tidak pernah membayangkan hidupnya akan sangat lekat dengan sawah, ladang, hutan, dan dapur-dapur tradisional. Pendidikan formalnya justru jauh dari dunia pangan. Ia menempuh Sarjana Hukum Internasional di Universitas Padjadjaran, Bandung, kemudian melanjutkan Master Hukum Hak Kekayaan Intelektual di King’s College, University of London.
Karier awalnya pun berada di jalur hukum. Ia dikenal sebagai penasihat hukum dan konsultan pembangunan ekonomi perdesaan untuk berbagai lembaga internasional. Namun pekerjaannya itulah mempertemukannya dengan realitas yang mengubah arah hidupnya.
Dalam banyak kesempatan, Helianti bertemu petani dari berbagai daerah yang datang meminta nasihat hukum karena dikriminalisasi korporasi besar. Dari sana, ia melihat bahwa masyarakat adat dan petani bukan sekadar produsen pangan, melainkan penjaga pengetahuan panjang tentang kehidupan. Pertemuan-pertemuan itu pula memberinya keberanian untuk mendirikan Javara pada 2008.
Lewat Javara, Helianti mulai menjembatani kearifan pangan tradisional dengan pasar modern. Ia bekerja bersama ribuan petani dan perajin pangan lokal untuk memastikan kekayaan hayati Indonesia tetap hidup sekaligus memiliki daya saing ekonomi. Dari tangan para petani kecil itulah lahir lebih dari 600 produk organik dan artisanal yang kini dikenal hingga mancanegara.

Perjalanan itu tentu tidak berlangsung mulus. Di balik berbagai penghargaan internasional yang kini melekat pada namanya, Helianti pernah tiga kali berada di ambang kebangkrutan. Dua tahun pertama Javara berjalan sangat lambat. Saat itu ia memulai dengan target pasar domestik. Produk-produk lokal organik yang dibawanya masuk ke supermarket premium ternyata belum sepenuhnya diterima pasar Indonesia.
Helianti kemudian mengambil langkah berani dengan membidik pasar ekspor Eropa. Momentum itu datang pada saat konsumen global mulai mencari produk organik dan produk dengan jejak asal-usul yang jelas. Javara menawarkan lebih dari sekadar makanan. Setiap produk membawa cerita tentang petani, ekologi, dan biodiversitas Indonesia.
Hasilnya luar biasa. Porsi ekspor yang pada 2011 hanya sekitar 20 persen meningkat menjadi 90 persen pada 2014. Setelah pasar internasional menerima produk-produk tersebut, Helianti perlahan mulai membangun kesadaran dan kebanggaan konsumsi produk organik lokal di dalam negeri. Kini, porsi pasar ekspor dan domestik hampir seimbang. Produk Javara hadir di sekitar 600 titik penjualan di seluruh Indonesia, dengan toko utama di Kemang, Jakarta Selatan, serta pengembangan jaringan hingga Bali. Ia juga menjajaki pembukaan toko di Amerika Serikat dan Australia sebagai bagian dari diplomasi gastronomi Indonesia.
Di toko Javara di Kemang, rak-rak dipenuhi produk yang seolah merepresentasikan bentang alam Nusantara: tepung kelapa, tepung sagu, biskuit kelapa, mi bayam, madu, VCO, hingga biji chia. Semua berasal dari bahan lokal dan diproduksi melalui berbagai skema kerja sama dengan komunitas petani. Dari sekitar 900 jenis produk yang dikembangkan, hanya sebagian kecil diproduksi langsung oleh Javara. Selebihnya dibuat bersama komunitas petani melalui joint venture, investasi, berbagi saham, hingga dukungan modal dan alat.

Namun bagi Helianti, membangun bisnis saja tidak cukup. Ia menyadari bahwa banyak petani muda tidak memiliki akses pengetahuan untuk mengembangkan produk mereka sendiri. Dari pengalaman jatuh bangun itulah lahir Sekolah Seniman Pangan pada 2017. Program ini dirancang untuk melatih petani agar mampu mengolah hasil bumi menjadi produk bernilai ekonomi.
Di sekolah itu, peserta belajar pemetaan pasar, pengembangan produk, menghitung biaya produksi, hingga fotografi produk. Mereka juga menjalani pendidikan jangka panjang selama dua tahun di Bekasi ꟷ delapan bulan di kebun, enam bulan mempelajari pengolahan pangan, dan enam bulan di bidang food service. Bahkan setiap peserta diwajibkan mampu memasak.
“Menghasilkan entrepreneur tidak bisa semalam langsung jadi,” begitu prinsip yang diyakini Helianti. Karena itu, pendidikan di Sekolah Seniman Pangan bukan sekadar soal keterampilan teknis, melainkan juga membangun mental, daya juang, dan karakter.
Program tersebut tidak dipungut biaya. Para peserta “membayar” pendidikan mereka lewat produk yang dihasilkan. Misalnya, ketika memproduksi 1.000 botol selai kacang, sebagian hasil penjualan digunakan untuk mencicil biaya pendidikan, sementara sisanya menjadi modal usaha mereka sendiri.
Hingga kini, lulusan Sekolah Seniman Pangan datang dari berbagai daerah seperti Kupang, Selayar, Flores, Jailolo, Jawa Barat, Sumatera Selatan, hingga Papua.
Semangat Helianti dalam memberdayakan petani juga lahir dari pengalaman personal yang mendalam. Bersama suaminya, Dian Patria, ia pernah berkeliling selama tiga setengah bulan ke berbagai daerah dan tinggal bersama petani untuk memahami kehidupan mereka secara langsung.
Dalam perjalanan itulah ia menemukan dimensi spiritual dari pertanian.

Suatu pagi selepas Subuh di Jawa Barat, seorang petani mengajaknya pergi ke sawah. Ketika Helianti berjalan dengan sepatu, sang petani menegurnya dengan halus dan meminta ia melepas alas kaki. Alasannya sederhana namun membekas kuat: mereka hendak bersilaturahmi dengan bumi dan tanaman, sehingga tak boleh ada jarak. Petani itu juga mengatakan, jika suasana hati sedang buruk, lebih baik tidak pergi ke sawah karena bisa memengaruhi tanaman.
Pengalaman-pengalaman seperti itu membuat Helianti memahami bahwa pertanian bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan hubungan batin antara manusia dan alam.
Karena itulah, ia selalu mendorong petani mencari tanaman unik untuk diolah dan diberi nilai tambah. Petani membantu menemukan bahan-bahan khas, sementara Helianti menggunakan pengalamannya membaca pasar untuk membawa produk tersebut menembus konsumen global. Salah satu produk yang sempat ia kembangkan adalah garam tanaman.

Kini, Helianti Hilman dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan gastronomi dan kewirausahaan sosial Indonesia. Ia menerima berbagai penghargaan, mulai dari EY Indonesian Social Entrepreneur of The Year 2013, The Inspiring Women Honor Roll versi Forbes Indonesia 2014, Schwab Social Entrepreneur of The Year 2015, hingga masuk Top 10 Social Entrepreneurs di Indonesia versi Top Ten Asia 2016.
Karyanya juga mendapat pengakuan dari Skoll Foundation dan Schwab Foundation, serta diliput media internasional seperti Channel News Asia, DW, NHK, dan The Guardian. Sebagai anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, ia kerap berbicara di forum-forum global seperti World Economic Forum, membawa isu keberagaman pangan Indonesia ke panggung internasional.
Namun di balik semua itu, Helianti tetap memosisikan petani sebagai pusat dari seluruh perjuangannya.
Setiap dua tahun sekali, ia mengirim petani ke Italia untuk belajar bersama petani di sana. Ia ingin para petani Indonesia berdiri sejajar di panggung dunia, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai penjaga pengetahuan dan pelaku utama masa depan pangan.
Helianti selalu percaya, dengan dukungan pengetahuan dan teknologi yang tepat, petani Nusantara bisa hidup sejahtera. Dan mungkin itulah sebabnya malam pembukaan di Ubud Food Festival 2026 itu terasa begitu emosional. Lifetime Achievement Award yang diterima sejatinya bukan hanya milik seorang Helianti Hilman, melainkan milik ribuan petani, peramu pangan, dan penjaga tradisi yang selama ini berjalan bersamanya ꟷ mereka yang menjaga warisan pangan Indonesia tetap hidup lintas generasi. [T]
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:





























