19 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
in Persona
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Helianti Hilman di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang perayaan rasa, tradisi, dan identitas kuliner Nusantara, nama Helianti Hilman dipanggil untuk menerima Lifetime Achievement Award. Perempuan kelahiran Jember, 9 Maret 1971 itu berdiri dengan mata berkaca-kaca. Bukan semata karena penghargaan bergengsi tersebut, melainkan karena perjalanan panjang yang membawanya ke titik itu tak pernah benar-benar mudah.

Di hadapan para pegiat gastronomi dunia, Helianti menyampaikan sesuatu yang selama ini menjadi keyakinannya tentang pangan. “Makanan selalu lebih dari sekadar sumber nutrisi. Di dalamnya ada ingatan, identitas, dan pengetahuan lintas generasi. Saya berharap penghargaan ini membuat semakin banyak orang menghargai para petani dan peramu pangan yang telah menjaga warisan ini sepanjang hidup mereka,” ujarnya.

Malam itu, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan terhadap seorang pengusaha pangan. Ia menjadi penghormatan atas puluhan tahun kerja sunyi seorang perempuan yang memilih turun ke ladang, masuk ke desa-desa terpencil, mendengarkan cerita petani, lalu membawa hasil bumi mereka ke panggung dunia.

Founder dan Director Ubud Food Festival, Janet DeNeefe, menyebut Helianti sebagai sosok yang paling merepresentasikan keyakinan bahwa makanan melampaui apa yang tersaji di atas piring. “Sangat sedikit orang yang telah melakukan begitu banyak hal untuk melindungi petani, peramu pangan, dan warisan pangan biokultural Indonesia. Karyanya secara perlahan telah membentuk cara dunia memahami kuliner Indonesia. Kami merasa terhormat dapat memberikan penghargaan atas kontribusi tersebut,” tuturnya.

Helianti Hilman di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Bagi Helianti, penghargaan itu bukan garis akhir. Di festival tersebut, ia justru kembali membawa gagasan yang selama ini diperjuangkannya: mempertemukan pangan, budaya, biodiversitas, dan manusia. Bersama Chef Agus Hermawan, Chef Aaron Lumakeki, serta Puan Rimba ꟷ kolektif perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat ꟷ ia menghadirkan jamuan makan panjang di Bambu Indah. Menu yang disajikan bukan sekadar santapan, melainkan cerita tentang pengetahuan pangan leluhur yang nyaris terlupakan: ikan sungai dipanggang di atas api, dedaunan, hingga rempah-rempah hutan yang jarang hadir di meja makan modern.

“Ketika Javara didirikan 18 tahun lalu, kami menyadari bahwa kekayaan terbesar Indonesia adalah biodiversitas dan budaya. Kombinasi keduanya sangat kuat dalam menjawab isu kedaulatan pangan, ekonomi inklusif, dan meningkatnya minat dunia terhadap wisata gastronomi,” ungkap Helianti.

“Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal biodiversitas, baik di darat maupun laut, dan dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, setiap budaya memiliki interpretasi tersendiri terhadap bahan pangan dan tradisi kuliner. Jika dikelola dengan baik, dan dengan lebih banyak dukungan serta inisiatif seperti Ubud Food Festival, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu destinasi gastronomi terdepan di dunia,” pungkasnya.

Helianti Hilman menerima Lifetime Achievement Award Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Ketika Jalan Hidup Membawanya ke Ladang

Helianti Hilman mungkin tidak pernah membayangkan hidupnya akan sangat lekat dengan sawah, ladang, hutan, dan dapur-dapur tradisional. Pendidikan formalnya justru jauh dari dunia pangan. Ia menempuh Sarjana Hukum Internasional di Universitas Padjadjaran, Bandung, kemudian melanjutkan Master Hukum Hak Kekayaan Intelektual di King’s College, University of London.

Karier awalnya pun berada di jalur hukum. Ia dikenal sebagai penasihat hukum dan konsultan pembangunan ekonomi perdesaan untuk berbagai lembaga internasional. Namun pekerjaannya itulah mempertemukannya dengan realitas yang mengubah arah hidupnya.

Dalam banyak kesempatan, Helianti bertemu petani dari berbagai daerah yang datang meminta nasihat hukum karena dikriminalisasi korporasi besar. Dari sana, ia melihat bahwa masyarakat adat dan petani bukan sekadar produsen pangan, melainkan penjaga pengetahuan panjang tentang kehidupan. Pertemuan-pertemuan itu pula memberinya keberanian untuk mendirikan Javara pada 2008.

Lewat Javara, Helianti mulai menjembatani kearifan pangan tradisional dengan pasar modern. Ia bekerja bersama ribuan petani dan perajin pangan lokal untuk memastikan kekayaan hayati Indonesia tetap hidup sekaligus memiliki daya saing ekonomi. Dari tangan para petani kecil itulah lahir lebih dari 600 produk organik dan artisanal yang kini dikenal hingga mancanegara.

Helianti Hilman pada Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Perjalanan itu tentu tidak berlangsung mulus. Di balik berbagai penghargaan internasional yang kini melekat pada namanya, Helianti pernah tiga kali berada di ambang kebangkrutan. Dua tahun pertama Javara berjalan sangat lambat. Saat itu ia memulai dengan target pasar domestik. Produk-produk lokal organik yang dibawanya masuk ke supermarket premium ternyata belum sepenuhnya diterima pasar Indonesia.

Helianti kemudian mengambil langkah berani dengan membidik pasar ekspor Eropa. Momentum itu datang pada saat konsumen global mulai mencari produk organik dan produk dengan jejak asal-usul yang jelas. Javara menawarkan lebih dari sekadar makanan. Setiap produk membawa cerita tentang petani, ekologi, dan biodiversitas Indonesia.

Hasilnya luar biasa. Porsi ekspor yang pada 2011 hanya sekitar 20 persen meningkat menjadi 90 persen pada 2014. Setelah pasar internasional menerima produk-produk tersebut, Helianti perlahan mulai membangun kesadaran dan kebanggaan konsumsi produk organik lokal di dalam negeri. Kini, porsi pasar ekspor dan domestik hampir seimbang. Produk Javara hadir di sekitar 600 titik penjualan di seluruh Indonesia, dengan toko utama di Kemang, Jakarta Selatan, serta pengembangan jaringan hingga Bali. Ia juga menjajaki pembukaan toko di Amerika Serikat dan Australia sebagai bagian dari diplomasi gastronomi Indonesia.

Di toko Javara di Kemang, rak-rak dipenuhi produk yang seolah merepresentasikan bentang alam Nusantara: tepung kelapa, tepung sagu, biskuit kelapa, mi bayam, madu, VCO, hingga biji chia. Semua berasal dari bahan lokal dan diproduksi melalui berbagai skema kerja sama dengan komunitas petani. Dari sekitar 900 jenis produk yang dikembangkan, hanya sebagian kecil diproduksi langsung oleh Javara. Selebihnya dibuat bersama komunitas petani melalui joint venture, investasi, berbagi saham, hingga dukungan modal dan alat.

Helianti Hilman pada Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Namun bagi Helianti, membangun bisnis saja tidak cukup. Ia menyadari bahwa banyak petani muda tidak memiliki akses pengetahuan untuk mengembangkan produk mereka sendiri. Dari pengalaman jatuh bangun itulah lahir Sekolah Seniman Pangan pada 2017. Program ini dirancang untuk melatih petani agar mampu mengolah hasil bumi menjadi produk bernilai ekonomi.

Di sekolah itu, peserta belajar pemetaan pasar, pengembangan produk, menghitung biaya produksi, hingga fotografi produk. Mereka juga menjalani pendidikan jangka panjang selama dua tahun di Bekasi ꟷ delapan bulan di kebun, enam bulan mempelajari pengolahan pangan, dan enam bulan di bidang food service. Bahkan setiap peserta diwajibkan mampu memasak.

“Menghasilkan entrepreneur tidak bisa semalam langsung jadi,” begitu prinsip yang diyakini Helianti. Karena itu, pendidikan di Sekolah Seniman Pangan bukan sekadar soal keterampilan teknis, melainkan juga membangun mental, daya juang, dan karakter.

Program tersebut tidak dipungut biaya. Para peserta “membayar” pendidikan mereka lewat produk yang dihasilkan. Misalnya, ketika memproduksi 1.000 botol selai kacang, sebagian hasil penjualan digunakan untuk mencicil biaya pendidikan, sementara sisanya menjadi modal usaha mereka sendiri.

Hingga kini, lulusan Sekolah Seniman Pangan datang dari berbagai daerah seperti Kupang, Selayar, Flores, Jailolo, Jawa Barat, Sumatera Selatan, hingga Papua.

Semangat Helianti dalam memberdayakan petani juga lahir dari pengalaman personal yang mendalam. Bersama suaminya, Dian Patria, ia pernah berkeliling selama tiga setengah bulan ke berbagai daerah dan tinggal bersama petani untuk memahami kehidupan mereka secara langsung.

Dalam perjalanan itulah ia menemukan dimensi spiritual dari pertanian.

Helianti Hilman pada Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Suatu pagi selepas Subuh di Jawa Barat, seorang petani mengajaknya pergi ke sawah. Ketika Helianti berjalan dengan sepatu, sang petani menegurnya dengan halus dan meminta ia melepas alas kaki. Alasannya sederhana namun membekas kuat: mereka hendak bersilaturahmi dengan bumi dan tanaman, sehingga tak boleh ada jarak. Petani itu juga mengatakan, jika suasana hati sedang buruk, lebih baik tidak pergi ke sawah karena bisa memengaruhi tanaman.

Pengalaman-pengalaman seperti itu membuat Helianti memahami bahwa pertanian bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan hubungan batin antara manusia dan alam.

Karena itulah, ia selalu mendorong petani mencari tanaman unik untuk diolah dan diberi nilai tambah. Petani membantu menemukan bahan-bahan khas, sementara Helianti menggunakan pengalamannya membaca pasar untuk membawa produk tersebut menembus konsumen global. Salah satu produk yang sempat ia kembangkan adalah garam tanaman.

Helianti Hilman di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Kini, Helianti Hilman dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan gastronomi dan kewirausahaan sosial Indonesia. Ia menerima berbagai penghargaan, mulai dari EY Indonesian Social Entrepreneur of The Year 2013, The Inspiring Women Honor Roll versi Forbes Indonesia 2014, Schwab Social Entrepreneur of The Year 2015, hingga masuk Top 10 Social Entrepreneurs di Indonesia versi Top Ten Asia 2016.

Karyanya juga mendapat pengakuan dari Skoll Foundation dan Schwab Foundation, serta diliput media internasional seperti Channel News Asia, DW, NHK, dan The Guardian. Sebagai anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, ia kerap berbicara di forum-forum global seperti World Economic Forum, membawa isu keberagaman pangan Indonesia ke panggung internasional.

Namun di balik semua itu, Helianti tetap memosisikan petani sebagai pusat dari seluruh perjuangannya.

Setiap dua tahun sekali, ia mengirim petani ke Italia untuk belajar bersama petani di sana. Ia ingin para petani Indonesia berdiri sejajar di panggung dunia, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai penjaga pengetahuan dan pelaku utama masa depan pangan.

Helianti selalu percaya, dengan dukungan pengetahuan dan teknologi yang tepat, petani Nusantara bisa hidup sejahtera. Dan mungkin itulah sebabnya malam pembukaan di Ubud Food Festival 2026 itu terasa begitu emosional. Lifetime Achievement Award yang diterima sejatinya bukan hanya milik seorang Helianti Hilman, melainkan milik ribuan petani, peramu pangan, dan penjaga tradisi yang selama ini berjalan bersamanya ꟷ mereka yang menjaga warisan pangan Indonesia tetap hidup lintas generasi. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Tags: balikulinerUbudUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memang Pasar Malam

Next Post

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails
Next Post
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan
Panggung

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali
Bahasa

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

by I Made Sudiana
June 18, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang
Ulas Rupa

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

by Mahesa Putra
June 18, 2026
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda
Panggung

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas
Esai

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

by Pande Susan
June 18, 2026
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain
Esai

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

by Angga Wijaya
June 18, 2026
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’
Pop

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co