17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
in Esai
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

ilustrasi tatkala.co | Canva

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan tanah, dan berharap buah tumbuh sempurna, durian yang mulai matang menjadi sumber penghasilan penting bagi keluarga. Namun, harapan itu kerap terganggu oleh hama tupai yang lebih dulu menikmati buah sebelum petani sempat memanennya.

Serangan tupai menjadi salah satu keresahan yang dirasakan petani durian di Desa Pucaksari. Buah yang masih berada di pohon dapat digerogoti hingga rusak, bahkan jatuh sebelum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan. Kondisi tersebut tentu berdampak pada jumlah dan kualitas durian yang dapat dijual.

Bagi petani, kerugian tidak hanya dihitung dari buah yang hilang. Setiap buah merupakan hasil dari proses panjang. Pohon harus dipelihara, kebutuhan air dan nutrisi diperhatikan, sementara petani juga harus menghadapi perubahan cuaca serta berbagai gangguan lainnya. Ketika buah yang hampir siap dipanen justru rusak karena tupai, kerja keras selama berbulan-bulan terasa sia-sia.

Durian belum sempat dipanen, tupai sudah menikmatinya. Keluhan semacam itu menggambarkan situasi yang dihadapi petani. Tupai yang aktif di sekitar kebun dapat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya untuk mencari buah. Ketika populasi hama meningkat, tingkat kerusakan pun berpotensi semakin besar.

Pertanyaan “tupai makan durian?” mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi petani durian di Desa Pucaksari, pertanyaan tersebut memiliki arti yang berbeda. Keberadaan tupai di sekitar kebun bukan sekadar pemandangan biasa ketika satwa tersebut mulai mendatangi pohon dan merusak buah yang sedang tumbuh. Buah yang belum sempat dipanen dapat lebih dahulu digerogoti, sehingga petani berpotensi kehilangan sebagian hasil kebunnya.

Tupai dikenal sebagai satwa yang aktif mencari makanan di pepohonan. Makanannya dapat beragam, bergantung pada jenis tupai dan ketersediaan sumber makanan di habitatnya. Buah, biji, dan bagian tumbuhan tertentu dapat menjadi sumber makanan. Ketika berada di kawasan perkebunan, buah-buahan yang tersedia tentu menjadi sumber makanan yang mudah ditemukan.

Mengapa Tupai Tertarik pada Durian?

Kebun durian menyediakan sumber makanan yang melimpah, terutama ketika memasuki musim berbuah. Pada periode ini, keberadaan buah yang mulai matang tidak hanya menarik perhatian manusia, tetapi juga berbagai jenis satwa yang hidup di sekitar kebun. Aroma khas durian yang semakin kuat ketika buah matang menjadi salah satu faktor yang dapat menarik satwa, termasuk tupai. Bagi tupai, pohon durian dapat menjadi sumber pakan yang relatif mudah dijangkau sekaligus menyediakan tempat untuk bergerak, berlindung, dan mencari makanan.

Keberadaan tupai di kebun durian sebenarnya merupakan bagian dari interaksi alami antara satwa dan lingkungan. Tupai memiliki kemampuan memanjat pohon dan bergerak dengan lincah dari satu cabang ke cabang lainnya. Ketika buah durian tersedia dalam jumlah banyak, kebun menjadi salah satu lokasi yang menyediakan sumber energi bagi satwa tersebut.

Kondisi lingkungan di sekitar kebun turut menentukan pola pergerakan tupai. Ketika habitat alami masih menyediakan makanan dalam jumlah cukup, tupai mungkin lebih banyak beraktivitas di kawasan hutan, pepohonan liar, atau vegetasi alami lainnya. Sebaliknya, ketika sumber pakan alami mengalami penurunan, kebun masyarakat dapat menjadi lokasi yang lebih menarik karena menawarkan makanan yang relatif mudah ditemukan. Dengan demikian, meningkatnya kemunculan tupai di kebun tidak selalu menunjukkan bahwa populasi tupai mengalami peningkatan.

Persoalan muncul ketika aktivitas tupai mulai merugikan petani. Buah durian yang seharusnya dipanen dan memiliki nilai ekonomi dapat mengalami kerusakan akibat gigitan atau aktivitas tupai. Kerusakan tersebut tentu menjadi perhatian bagi petani karena setiap buah memiliki nilai ekonomi. Semakin banyak buah yang rusak sebelum dipanen, semakin besar pula potensi kerugian yang harus ditanggung. Pada kondisi tertentu, kehadiran tupai bahkan dapat dipandang sebagai salah satu gangguan dalam proses budidaya durian.

Petani Mencari Cara Mengurangi Serangan

Petani di Desa Pucaksari terus berupaya mencari cara untuk mengatasi serangan tupai. Persoalan ini bukan perkara sederhana karena tupai merupakan satwa yang lincah, aktif bergerak, dan mampu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat. Ketika menemukan buah yang dianggap sebagai sumber makanan, tupai dapat kembali ke pohon yang sama atau berpindah ke pohon lain yang buahnya sedang memasuki tingkat kematangan tertentu. Kondisi tersebut membuat petani harus melakukan pengawasan secara rutin, terutama pada saat buah durian mulai membesar dan mendekati masa panen.

Bagi petani, masa menjelang panen merupakan periode yang sangat menentukan. Buah yang telah dirawat selama berbulan-bulan mulai menunjukkan hasil dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Satu buah yang rusak berarti berkurangnya hasil yang dapat dipanen. Jika serangan terjadi pada banyak pohon, kerugian yang dialami petani tentu menjadi semakin besar.

Salah satu langkah awal yang dilakukan petani adalah meningkatkan pengawasan terhadap kondisi kebun. Petani perlu mengenali tanda-tanda awal keberadaan tupai sebelum kerusakan menjadi lebih luas. Bekas gigitan pada kulit buah, lubang kecil pada permukaan durian, buah yang rusak, atau buah yang jatuh sebelum waktunya dapat menjadi petunjuk bahwa tupai mulai aktif mencari makanan di kebun. Pengamatan terhadap tanda-tanda tersebut penting karena serangan sering kali baru disadari setelah kerusakan pada buah terlihat cukup parah.

Namun, pengawasan saja belum tentu mampu menghentikan serangan. Tupai dapat bergerak dengan cepat dan tidak selalu datang pada waktu yang sama. Petani yang menemukan satu buah rusak pada pagi hari belum tentu dapat memastikan bahwa tidak ada serangan pada pohon lain. Karena itu, pengawasan membutuhkan ketelatenan dan dilakukan berulang kali. Bagi petani yang memiliki kebun cukup luas, kondisi tersebut tentu menambah beban pekerjaan, terutama ketika jumlah tenaga kerja terbatas.

Berbagai cara perlindungan fisik kemudian dicoba oleh petani. Salah satunya adalah membungkus buah durian yang mulai membesar dengan bahan yang mudah diperoleh di sekitar rumah. Petani menggunakan tas plastik atau tas kresek serta pembungkus semen untuk menutup buah. Harapannya sederhana: buah yang tertutup tidak mudah terlihat atau dijangkau oleh tupai sehingga dapat tumbuh hingga matang dan siap dipanen. Akan tetapi, upaya tersebut ternyata belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Tupai mampu melubangi tas plastik yang digunakan untuk membungkus buah.

Kegagalan tersebut membuat petani mencoba berbagai cara lain. Dalam pengalaman masyarakat setempat, muncul pula gagasan untuk menggantungkan kain poleng atau kain berwarna pada pohon durian. Kain tersebut dipasang dengan harapan dapat menjadi penghalang visual dan membuat tupai enggan mendekati pohon. Namun, harapan tersebut kembali tidak sepenuhnya terwujud. Tupai tetap datang ke pohon durian meskipun terdapat kain poleng atau kain berwarna yang digantungkan di sekitar pohon. Keberadaan kain tersebut tampaknya tidak cukup untuk mengubah perilaku tupai. Satwa itu tetap mampu mendekati buah dan melakukan aktivitas mencari makanan. Bagi petani, kenyataan tersebut tentu menimbulkan rasa kecewa karena berbagai cara yang dicoba belum memberikan perlindungan yang efektif.

Tupai Mengganas, Pertanda Ekosistem Bermasalah

Meningkatnya serangan tupai terhadap buah durian di Pucaksari tidak selalu dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan hama. Di balik semakin seringnya tupai masuk ke kebun dan merusak buah, terdapat kemungkinan perubahan kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan. Ketika keseimbangan ekosistem terganggu, perilaku dan pola pergerakan satwa dapat ikut berubah.

Tupai merupakan bagian dari ekosistem yang memiliki peran dalam rantai kehidupan di alam. Satwa ini mencari makanan dari berbagai sumber yang tersedia di lingkungan sekitarnya. Ketika sumber pakan alami di habitatnya berkurang atau terganggu, kebun masyarakat dapat menjadi pilihan baru untuk mendapatkan makanan.

Kondisi tersebut membuat kebun durian menjadi sasaran yang menarik. Buah durian yang tersedia menjadi sumber makanan yang melimpah bagi tupai. Bagi petani, hal ini tentu menjadi masalah karena buah yang seharusnya menjadi sumber pendapatan justru mengalami kerusakan sebelum dipanen.

Perubahan lingkungan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berkurangnya vegetasi alami, perubahan tutupan lahan, gangguan terhadap habitat, hingga perubahan ketersediaan sumber makanan dapat memengaruhi keberadaan satwa di suatu wilayah. Namun, meningkatnya jumlah tupai di sekitar kebun belum tentu secara otomatis membuktikan bahwa ekosistem sedang rusak. Diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Oleh karena itu,  fenomena serangan tupai perlu dilihat secara lebih luas. Penanganan tidak cukup hanya dengan mengusir atau mengurangi jumlah tupai, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi habitat di sekitar perkebunan. Jika sumber makanan dan tempat berlindung alami tetap tersedia, serangan satwa terhadap tanaman pertanian berpotensi dapat dikelola dengan lebih baik.

Pendekatan tersebut juga penting agar upaya pengendalian tidak menimbulkan persoalan baru. Membasmi satwa secara sembarangan dapat mengganggu rantai makanan dan keseimbangan lingkungan. Pengendalian sebaiknya diarahkan pada upaya perlindungan tanaman sekaligus menjaga keberadaan satwa liar demi mejaga keseimbangan ekosistem.

Bagi petani Pucaksari, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Mereka membutuhkan hasil panen untuk menopang kehidupan, sementara lingkungan sekitar juga perlu tetap dijaga. Di sinilah diperlukan jalan tengah antara kepentingan pertanian dan kelestarian ekosistem.

Petani Terkadang Pasrah

Pada titik tertentu, kepasrahan petani di Desa Pucaksari terhadap serangan tupai tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai sikap menyerah. Kepasrahan tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap ketidakpastian yang terus berulang dalam  pertanian. Petani menyadari bahwa tidak semua risiko dapat dikendalikan. Ketika berbagai tindakan perlindungan belum menghasilkan perubahan berarti, menerima sebagian kehilangan menjadi pilihan yang secara praktis lebih masuk akal daripada terus mengerahkan tenaga, waktu, dan biaya untuk menghadapi gangguan yang belum memiliki solusi pasti. Dalam konteks ini, pasrah merupakan keputusan yang lahir dari pengalaman, bukan semata-mata dari ketidakberdayaan.

Ada pula dimensi ekonomi di balik sikap tersebut. Petani harus menghitung apakah upaya perlindungan terhadap buah sebanding dengan nilai buah yang dapat diselamatkan. Jika biaya, tenaga, dan waktu yang dikeluarkan terlalu besar, sementara tingkat keberhasilannya rendah, maka kerugian akibat tupai akhirnya dianggap sebagai bagian dari biaya produksi yang harus diterima. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan tupai tidak berdiri sendiri sebagai persoalan ekologis, tetapi berkaitan langsung dengan rasionalitas ekonomi petani kecil. Petani tidak selalu mencari solusi yang paling ideal, melainkan solusi yang paling mungkin dilakukan dengan sumber daya yang mereka miliki.

Kepasrahan juga memperlihatkan adanya batas antara pengetahuan lokal dan perubahan kondisi lingkungan. Selama bertahun-tahun petani membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman: membaca musim, mengenali kondisi buah, memperkirakan waktu panen, dan memahami perilaku satwa di kebun. Namun, ketika pola lingkungan berubah, pengetahuan yang sebelumnya cukup efektif belum tentu mampu menjawab persoalan baru. Di sinilah muncul kesenjangan antara pengalaman yang diwariskan dan kebutuhan untuk memahami perubahan ekologis secara lebih sistematis.

Sikap pasrah dapat dibaca sebagai tanda bahwa petani sedang berhadapan dengan persoalan yang berada di luar kendali individual. Serangan tupai bukan hanya ditentukan oleh kondisi satu kebun. Pergerakan satwa dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, vegetasi, kondisi habitat, dan perubahan lingkungan yang lebih luas. Artinya, seorang petani mungkin telah melakukan berbagai tindakan di kebunnya, tetapi tetap tidak dapat mengendalikan seluruh faktor yang menyebabkan tupai datang. Ketika penyebab masalah berada di luar batas kendali individu, kepasrahan menjadi bentuk penerimaan terhadap keterbatasan tersebut.

Pada akhirnya, kepasrahan petani di Desa Pucaksari perlu dibaca bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai sinyal adanya batas kemampuan adaptasi. Selama persoalan masih dapat diatasi dengan pengalaman dan cara-cara sederhana, petani akan terus berusaha. Namun, ketika pengalaman tidak lagi cukup, pilihan yang tersisa adalah menerima sebagian kerugian. Di titik inilah persoalan tupai menjadi lebih dari sekadar cerita tentang buah durian yang rusak. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana petani bernegosiasi dengan ketidakpastian alam, keterbatasan ekonomi, dan perubahan lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat mereka kendalikan. [T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: BusungbiuDesa Pucaksaridurianperkebunanpertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Next Post

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails
Next Post
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co