SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara, dokter asal Jepang yang tetap dikenal aktif hingga usia sangat lanjut.
Namun, pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan hidup seseorang seperti Hinohara bukanlah mencari “rahasia” untuk hidup sampai usia tertentu.
Pesannya justru lebih sederhana: bagaimana kita menjaga agar hidup tetap aktif, memiliki tujuan, terhubung dengan orang lain, dan tetap bermakna ketika usia terus bertambah?
Semakin bertambah usia, kemampuan bergerak menjadi semakin berharga.
Aktivitas fisik membantu mempertahankan kekuatan otot, keseimbangan, kesehatan jantung dan pembuluh darah, metabolisme, serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Sebab, sejatinya, tubuh kita dibuat untuk bergerak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memandang penuaan sehat bukan semata-mata sebagai keadaan tanpa penyakit, tetapi sebagai proses mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan seseorang tetap hidup dengan baik ketika usia bertambah.
WHO juga menempatkan aktivitas fisik sebagai salah satu komponen penting dalam mempertahankan fungsi, mobilitas, dan kemandirian pada kelompok usia lanjut.
Inilah salah satu inti dari konsep healthy ageing atau penuaan sehat.
Namun, aktif bukan berarti setiap orang harus melakukan olahraga berat.
Berjalan kaki, berdiri lebih sering, menggunakan tangga ketika memungkinkan, berkebun, melakukan pekerjaan rumah, bermain bersama cucu, ataupun mengurangi waktu duduk terlalu lama sudah merupakan bagian dari kehidupan yang lebih aktif.
Olahraga terstruktur tetap sangat baik. Namun, jangan sampai kita menganggap seseorang “aktif” hanya karena ia berolahraga selama satu jam, sementara hampir seluruh sisa harinya dihabiskan dengan duduk.
Tubuh manusia membutuhkan gerakan sepanjang hari. Ketika usia bertambah, tujuannya bukan semata-mata menjadi semakin kuat.
Tujuan yang jauh lebih penting adalah mempertahankan kemampuan untuk tetap mandiri selama mungkin.
Stres yang Tidak Pernah Selesai Juga Membebani Tubuh
Kita semua pernah mengalami kemarahan, kecemasan, kesedihan, konflik, atau tekanan.
Itu merupakan bagian normal dari kehidupan.
Masalah muncul ketika keadaan tersebut berlangsung terus-menerus dan tubuh seolah tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk keluar dari kondisi siaga.
Stres kronis berkaitan dengan perubahan fungsi sistem imun dan proses peradangan. Dalam ilmu mengenai penuaan, bahkan dikenal istilah immunosenescence, yaitu perubahan fungsi sistem imun yang terjadi seiring bertambahnya usia, serta inflammaging, yaitu kecenderungan terjadinya peradangan tingkat rendah yang berlangsung kronis selama proses penuaan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat berinteraksi dengan proses penuaan sistem imun tersebut.
Bukan berarti kita harus selalu bahagia.
Tidak realistis apabila seseorang dituntut untuk tidak pernah marah, sedih, takut, atau kecewa. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana kita merespons dan mengelola emosi tersebut.
Ada persoalan yang perlu diselesaikan. Ada keadaan yang perlu diterima. Ada pula sesuatu yang memang sudah waktunya dilepaskan.
Berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan aktivitas yang menyenangkan, berolahraga, memberikan waktu kepada diri sendiri, atau mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan merupakan bagian dari menjaga kesehatan.
Sebab, kesehatan bukan hanya ditentukan oleh makanan yang masuk ke dalam tubuh. Terkadang, kesehatan juga dipengaruhi oleh beban yang terlalu lama kita simpan di dalam pikiran.
Ada satu aspek penuaan sehat yang sering terlewat ketika kita terlalu sibuk membicarakan tekanan darah, gula darah, kolesterol, vitamin, dan obat-obatan, yaitu tujuan hidup.
Tujuan hidup tidak selalu berarti memiliki ambisi besar. Bagi seseorang, alasannya mungkin pekerjaan. Bagi orang lain, mungkin keluarga, anak dan cucu, organisasi sosial, berkebun, mengajar, menulis, berolahraga, menjalankan hobi, atau sekadar masih ingin mempelajari sesuatu yang baru.
Penelitian pada kelompok usia lanjut menunjukkan bahwa memiliki purpose in life atau rasa bahwa kehidupan mempunyai arah dan makna berhubungan dengan berbagai indikator kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik. Namun, hubungan ini perlu dipahami sebagai suatu asosiasi yang dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan berarti tujuan hidup merupakan “obat” yang dengan sendirinya menjamin umur panjang.
Yang penting adalah tetap mempunyai sesuatu untuk dinantikan, sesuatu untuk dikerjakan, sesuatu untuk dipelajari, dan sesuatu yang masih ingin kita berikan kepada orang lain.
Hal-hal seperti itulah yang menjadi alasan untuk tetap terlibat dalam kehidupan.
Hubungan Sosial dan Interaksi di Masyarakat Juga Bagian dari Kesehatan
Manusia bukan makhluk yang dirancang untuk hidup sendiri.
Ketika usia bertambah, lingkungan sosial dapat berubah. Anak mungkin tinggal jauh, teman mulai berkurang, seseorang dapat pensiun dari pekerjaan, atau kehilangan pasangan hidup.
Karena itu, menjaga hubungan sosial menjadi semakin penting.
Penelitian pada kelompok usia lanjut menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan kesehatan mental, penyakit kardiovaskular, penurunan kognitif, serta perubahan pada fungsi imun. Sebaliknya, tetap terlibat dalam aktivitas sosial yang bermakna dapat mendukung kesejahteraan dan fungsi kognitif.
Artinya, menjaga kesehatan tidak hanya berarti memeriksa hasil laboratorium secara berkala.
Terkadang, menjaga kesehatan juga dapat dilakukan melalui interaksi sosial, seperti menemui teman, makan bersama keluarga, mengikuti kegiatan masyarakat, berbicara, tertawa, dan tetap merasa bahwa keberadaan kita dibutuhkan oleh orang lain.
Kehidupan modern membuat kita hampir tidak pernah benar-benar berhenti menerima rangsangan.
Baru bangun tidur, kita sudah melihat telepon. Ada notifikasi, pekerjaan, pesan, media sosial, berita, dan berbagai tuntutan sepanjang hari.
Akibatnya, pikiran dapat terus berada dalam keadaan aktif, bahkan ketika tubuh sedang tidak melakukan apa-apa. Padahal, sistem tubuh tidak dirancang untuk terus berada dalam keadaan siaga.
Ada waktunya tubuh harus bekerja. Ada waktunya tubuh harus bergerak. Tetapi, ada pula waktunya tubuh membutuhkan pemulihan. Memang, tubuh memerlukan aktivitas, tetapi juga memerlukan pemulihan.
Salah satu bentuk pemulihan terpenting adalah tidur. Hubungan antara tidur dan sistem imun berjalan dua arah. Tidur memengaruhi berbagai proses imun dan inflamasi, sementara gangguan tidur berkepanjangan berhubungan dengan peningkatan proses peradangan serta perubahan respons imun.
Karena itu, tidur jangan dianggap sebagai waktu yang “terbuang”. Tidur merupakan bagian dari proses biologis yang diperlukan tubuh untuk melakukan pemulihan.
Selain tidur, pemulihan juga dapat diperoleh melalui kegiatan sederhana: menikmati suasana yang tenang, melakukan rekreasi, berjalan di alam, mendengarkan musik, berbicara dengan keluarga, berdoa sesuai keyakinan masing-masing, atau menjauh sejenak dari layar dan berbagai rangsangan untuk memperoleh kondisi yang lebih tenang.
Tenang bukan berarti tidak produktif. Terkadang, ketenangan justru memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk kembali bekerja dengan lebih baik.
Pertambahan usia adalah sesuatu yang tidak dapat kita hentikan. Namun, bertambahnya usia tidak harus berarti berhenti belajar.
Membaca buku, mengikuti perkembangan zaman, berdiskusi, mempelajari teknologi, mencoba olahraga baru, belajar memasak, bermain musik, mempelajari bahasa, atau sekadar berani mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dapat menjadi cara untuk terus belajar.
Semua itu membuat kita tetap berinteraksi dengan dunia.
Aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, termasuk kegiatan sosial serta mempelajari sesuatu yang baru, juga dianjurkan sebagai bagian dari menjaga keterlibatan dan kesejahteraan pada usia lanjut.
Kita tidak harus menjadi ahli dalam setiap hal yang kita pelajari.
Tujuannya adalah menjaga agar pikiran tidak kehilangan satu hal yang sangat penting, yaitu rasa ingin tahu.
Usia boleh bertambah. Tetapi, rasa ingin tahu tidak harus ikut menua.
Dalam berbagai media, kita sering menemukan klaim mengenai makanan tertentu, minuman tertentu, vitamin tertentu, atau kebiasaan tertentu yang dianggap sebagai rahasia panjang umur.
Padahal, kehidupan manusia jauh lebih kompleks. Tidak ada satu makanan, satu vitamin, satu jenis olahraga, ataupun satu kebiasaan yang dapat menjamin seseorang hidup panjang dan sehat.
Kesehatan dibentuk oleh banyak faktor: genetik, lingkungan, pelayanan kesehatan, kondisi sosial, aktivitas fisik, pola makan, tidur, kebiasaan, hubungan sosial, dan berbagai keadaan yang kita alami sepanjang kehidupan.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mencari satu “rahasia” untuk umur panjang. Lebih baik kita memperbaiki hal-hal kecil yang memang berada dalam kendali kita, seperti aktif bergerak, tidur cukup, makan tidak berlebihan, menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan penyakit kronis, bertemu orang lain, mengelola stres, serta tetap melakukan sesuatu yang kita sukai.
Memang kelihatannya sederhana. Tetapi, apabila dilakukan berulang kali selama puluhan tahun, keputusan-keputusan kecil tersebut dapat memiliki arti yang sangat besar.
Penuaan yang sehat bukanlah hasil dari satu keputusan besar. Ia merupakan akumulasi dari banyak keputusan kecil yang dilakukan sepanjang kehidupan.
Hal-hal sederhana yang kita lakukan juga sangat berdampak pada salah satu sistem tubuh yang perannya sangat penting, yaitu sistem imun.
Imun Tidak Sekadar Harus “Kuat”
Istilah “meningkatkan imun” atau “memperkuat imun” sangat sering kita dengar. Namun, sebenarnya sistem imun jauh lebih kompleks daripada sekadar kuat atau lemah.
Kita membutuhkan sistem imun yang mampu mengenali ancaman, seperti mikroorganisme penyebab penyakit, kemudian memberikan respons yang cukup untuk mengatasinya.
Namun, setelah ancaman tersebut selesai, respons tersebut juga harus dapat dikendalikan. Sebab, respons imun yang berlebihan atau berlangsung terlalu lama juga dapat merugikan tubuh.
Pada proses penuaan, sistem imun mengalami berbagai perubahan. Sebagian kemampuan respons imun dapat menurun, sementara pada saat yang sama kecenderungan terhadap peradangan kronis tingkat rendah dapat meningkat—dua konsep yang sering dibahas sebagai immunosenescence dan inflammaging.
Itulah sebabnya, tujuan kita seharusnya bukan sekadar memiliki “imun yang kuat”. Yang lebih tepat adalah memiliki sistem imun yang bekerja dengan baik dan seimbang.
Mampu merespons ketika dibutuhkan, sekaligus mampu mengendalikan respons ketika ancaman sudah berlalu.
Pada akhirnya, kita tidak dapat memilih untuk berhenti menua. Namun, kita dapat memilih bagaimana menjalani masa tua agar tetap berguna.
Hal yang tidak boleh hilang dari diri kita adalah tetap memiliki sesuatu yang ingin kita lakukan dan berikan kepada kehidupan.
Umur panjang bukan sekadar menambahkan tahun ke dalam kehidupan. Yang jauh lebih berarti adalah sebisa mungkin menambahkan kehidupan ke dalam tahun-tahun yang kita miliki.
Menua tidak berarti berhenti bertumbuh. Menua tidak berarti berhenti berkontribusi. Dan menua tidak berarti berhenti berguna.
Selama tubuh masih kita rawat, pikiran masih kita gunakan, hubungan dengan sesama masih kita jaga, dan kehidupan masih mempunyai tujuan, mari kita jalani usia dengan penuh makna.
Biarkan usia bertambah. Tetapi, tetaplah bergerak. Tetaplah berpikir. Tetaplah belajar. Dan tetaplah berbagi.[T]
Penulis: Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
Editor: Jaswanto





























