“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas.
Seorang anak muda berseragam cokelat sedang mengutuk nasibnya. Ia menangis tersendu-sendu seorang diri di pekarangan. Itu adalah hari pertama ia diterima bekerja sebagai pegawai training pada resepsion di hotel berbintang di pantai Seminyak.
Anak muda itu tersentak ada suara dari atas pohon mangga. Lebih-lebih menyebut kata bensin secara sayup-sayup.
Ia menerawang ke atas langit. Betapa kaget, ada seorang memakai udeng sedang duduk di atas tumpukan botol berwarna hijau.
Anak muda itu berbinar, mendengar celotehan orang yang menawarkan bensin.
“Tiga puluh ribu satu botol,” tawarnya dari atas.
“Saya beli dua botol,” pinta pemuda itu.
“Tidak. Hanya boleh beli satu botol,” tangkis Made penunggang botol bekas aqua itu.
“Kenapa?”
“Tak perlu bertanya. Beli atau tidak?”
Anak muda itu buru-buru masuk ke rumah untuk mencari dompet ibunya. Sayang, ibunya sudah pergi ke sawah. Dengan tergesa-gesa ia mendatangi kamar ayahnya yang sedang sakit di kamar gelap. Tapi ada semburat cahaya matahari tumpah di atas meja. Sang ayah masih bisa menjawab dengan menunjuk kaleng bekas di atas meja tak jauh dari ia berbaring.
Pemuda gesit itu tak ingin ketinggalan kesempatan, maka kaleng bekas itu disambar dan dibawa keluar. Ia tumpahkan seisi kaleng di telapak tangan kiri, terdapat uang koin lima ratus dan seribuan. Setelah dihitung genap tiga puluh rupiah, ia sodorkan kepada penjual bensin.
Ia segera memanaskan motor dan berangkat kerja. Sepanjang jalan berkecamuk percakapan bisu; apa jadinya jika ia tak masuk training di hari pertama ini. Ia membayangkan guru di sekolahnya yang galak dan manajer hotel berkumis lebat yang telah memberi tugas. Ia berujar dalam desah kecil, bahwa masa depannya ada di bensin. Padagang bensin itu si juru selamat kariernya.
Penunggang botol-botol aqua berpindah ke daerah lain. Seperti ada radar di telinganya, di mana orang memerlukan bensin dengan sangat genting, maka ia harus datangi. Ia mematok harga bensin sama dengan yang dijual di kios eceran. Tetapi ia hanya menjual sebotol untuk satu orang, tak boleh lebih. Azas pemerataan ia pegang teguh. Sebab kebutuhan bensin makin bertambah, sementara cadangan bensin di pulau yang dihuni banyak dewa ini, justru terbatas.
Kini Made turun di Jalan Batuyang, Batubulan. Ia melihat dari ketinggian di atas pohon kelapa ada kerumunan warga dan tampak mencekam.
“Bensin, bensin, sebotol tiga puluh ribu,” ucapnya dari atas.
Suara itu didengar bocah yang sedang bermain layang-layang. Benang layang-layang bocah itu hampir tersangkut udeng di kepala Made.
Bocah itu segera mengikat benang di batang pohon dan berlarian mendekat kerumunan. Ia cerita ada layang-layang manusia.
Sontak lelaki dan perempuan mendatangi tempat yang ditunjukkan anak kecil itu. Mereka terpana ada lelaki jangkung duduk tenang di atas beberapa botol aqua yang diikat ketat.
“Tuan, Tuan, tolong dibantu. Motor-motor warga di sini tak bisa dipakai. Kami kehabisan bensin.”
“Tiga puluh ribu rupiah disiapkan, untuk satu botol bensin.”
“Motor kami lima,” pinta seorang ibu
“Tidak bisa. Saya hanya menjual satu botol dan orang lain masih banyak yang membutuhkannya. Beli atau tidak. Cepat diputuskan, cepat disiapkan uangnya. Kalau ragu-ragu, saya akan segera pergi.”
Ibu-ibu yang di sampingnya berdiri bocah-bocah berseragam Sekolah Dasar itu patuh dan menyodorkan lembaran sepuluh ribu dua kali dan dua lembaran lima ribu.
“Terima kasih, terima kasih, Pak,” selorohnya usai mendapatkan botol bensin. Anak yang bermain layang-layang ikut melambaikan tangan ke atas.
Mereka berunding sejenak; motor siapa yang harus dipakai untuk mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. Disepakati dua motor saja yang hendak dipakai, karena satu botol aqua berisi dua liter bensin, hanya bisa dibagi dua motor.
Dua ibu duduk di sadel motor dan ibu-ibu lain menitipkan anak mereka. Terlihat satu motor memboncengkan tiga anak. Dan dengan memakai dua motor, tampak enam siswa dan siswi bisa diangkut.
Parit berumput di tengah sawah diterjang roda-roda motor itu, kemudian beralih di jalan beraspal. Memasuki jalan raya tampak lengang, namun di tepi jalan antrean pengendara motor mengular panjang.
Sesampai di depan Sekolah Dasar Karang Taruna II, suasana gaduh. Diperoleh penjelasan dari sekretaris sekolah, bahwa banyak guru tak bisa datang, karena kehabisan bensin. Untuk itu pihak sekolah meminta maaf, agar anak-anak dibawa pulang kembali.
Penunggang botol bensin melayang dan turun di perbukitan. Terlihat seorang turis menuntun motornya meninggalkan kios bensin eceran di tepi jalan desa. Kios bensin eceran itu tutup sejak beberapa hari silam.
Wajah kesal turis asal Irlandia yang sedang honey moon harus beromantika ala orang tropis.
Dari balik daun kelapa, Made turun mendekat penuntun motor itu, “Three thousend rupiah for one bottle,” serunya.
Sejoli turis itu terperanjat dan lekas memandang ke atas, “Yes, I need gasoline. Please, please help us.”
Lembaran uang lima puluh ribu berwarna biru dikeluarkan dari dompetnya dan mendapat uang kembali dua puluh ribu. Sebotol bensin sudah beralih dari tangan Made ke turis nahas itu.
“Thank alot. You are our god. Bye, bye,” pujinya.
Motor dinaiki dan segera melaju langsam ke arah Kintamani. Sementara penunggang botol melanjutkan perjalanannya sesuai naluri sosial yang mencabik-cabik pipi kanan dan kirinya.
Pada sebuah tikungan jalan, Made terbang rendah dan menghampiri dua lelaki yang berwajah panik. Mereka kebingungan hendak mengantar istri tetangga yang hendak melahirkan. Motornya tak bisa dijalankan sejak tiga hari silam. Ya, sulit mencari bensin.
“Tiga puluh ribu rupiah untuk satu botol.”
Kepala dua lelaki itu menenggak ke atas hendak mencari sumber suara. Tapi tak ditemukan, maka mereka masuk rumah lagi.
Tak lama kemudian terdengar lagi, “Tiga puluh ribu rupiah dapat dua liter bensin.”
Kali yang kedua mereka mendengar dan keluar rumah. Didapati Made sudah berada mengawang di teras sambil mengacungkan sebotol aqua penuh isi bensin.
Dua lelaki itu hampir tak percaya. Mereka hampir bersamaan mengucek-ucek bola mata, apakah ini kejadian benar?
Tanpa banyak pertimbangan uang seratus rupiah warna merah disodorkan ke arah Made. Ketika uang kembali akan diberikan, dua lelaki itu menolak. Tapi Made berjiwa sosial dan tak ingin memanfaatkan situasi mencekam seisi pulau ini. Ia kembalikan sisa uang dan hengkang dengan menerabas lewat belakang rumah.
Ibu muda yang sedang hamil tua itu segera diapit di jok motor untuk dibawa ke puskesmas terdekat. Lagi-lagi mereka merasa bersyukur ada pertolongan ajaib datang. Mereka menoleh di jalanan lengang yang biasanya penuh lalu lalang motor dan mobil pariwisata. Perempuan yang akan melahirkan terlihat pucat dan lemas.
Penunggang botol bensin juga mulai kehabisan jualannya. Ia terbang ke berbagai penjuru memakai insting kekelawar, di mana ada aroma buah, ia datang. Di mana ada warga yang paling kesusahan dengan kelangkaan bensin, ia datangi.
Menjelang siang, ia naik botol-botol tak berisi bensin lagi. Pom bensin yang biasa ia datangi untuk membeli bensin juga sudah tutup. Kendati petugasnya masih duduk-duduk sambil bermain HP.
Kini ia terbang menuju kawasan Renon dan berhenti di jendela kantor gubernur. Tepat di jendela terbuka dengan kaca bening, Made berhenti.
“Wahai, Pak Gubernur. Apa yang Bapak lakukan? Tak sadarkah, warga menderita karena sulit mendapatkan bensin.”
Gubernur yang sedang duduk di kursi goyang dan setengah mengantuk itu bangkit dan mendekat ke jendela.
“Apa katamu memang benar. Saya sudah tahu sejak beberapa hari silam. Sedianya pasokan bensin itu cukup berlimpah. Tetapi sejak ada perang di Timur Tengah, dampak kelangkaan bensin sampai di sini. Maafkan, saya memantau terus menerus,” tandas gubernur sambil memegang pensil, sepertinya hendak mencatat sesuatu di kertas untuk warganya; harap bersabar!
“Apa tindakan Bapak sekarang ini?” kejar Made.
“Saya sudah menemui pejabat perminyakan di provinsi ini dan saya sudah meminta dari pusat untuk dikirimkan kapal tambahan pembawa bensin langsung ke sini.”
“Apakah Bapak sudah memprediksi dampak yang akan timbul di pulau yang digemari turis manca negara ini? Jepretan di kamera ponsel pelancong akan mendunia dalam hitungan detik. Mungkin pulau ini akan padam selamanya.”
Made meninggalkan jendela kantor megah itu dan berputar-putar sebentar di perempatan patung Kapten Japa, kemudian menghilang.[T]
Penulis: Sigit Susanto
Editor: Adnyana Ole





























