18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

Sigit Susanto by Sigit Susanto
October 18, 2026
in Cerpen
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas.

Seorang anak muda berseragam cokelat sedang mengutuk nasibnya. Ia menangis tersendu-sendu seorang diri di pekarangan. Itu adalah hari pertama ia diterima bekerja sebagai pegawai training pada resepsion di hotel berbintang di pantai Seminyak.

Anak muda itu tersentak ada suara dari atas pohon mangga. Lebih-lebih menyebut kata bensin secara sayup-sayup.

Ia menerawang ke atas langit. Betapa kaget, ada seorang memakai udeng sedang duduk di atas tumpukan botol berwarna hijau.

Anak muda itu berbinar, mendengar celotehan orang yang menawarkan bensin.

“Tiga puluh ribu satu botol,” tawarnya dari atas.

“Saya beli dua botol,” pinta pemuda itu.

“Tidak. Hanya boleh beli satu botol,” tangkis Made penunggang botol bekas aqua itu.

“Kenapa?”

“Tak perlu bertanya. Beli atau tidak?”

Anak muda itu buru-buru masuk ke rumah untuk mencari dompet ibunya. Sayang, ibunya sudah pergi ke sawah. Dengan tergesa-gesa ia mendatangi kamar ayahnya yang sedang sakit di kamar gelap. Tapi ada semburat cahaya matahari tumpah di atas meja. Sang ayah masih bisa menjawab dengan menunjuk kaleng bekas di atas meja tak jauh dari ia berbaring.

Pemuda gesit itu tak ingin ketinggalan kesempatan, maka kaleng bekas itu disambar dan dibawa keluar. Ia tumpahkan seisi kaleng di telapak tangan kiri, terdapat uang koin lima ratus dan seribuan. Setelah dihitung genap tiga puluh rupiah, ia sodorkan kepada penjual bensin.

Ia segera memanaskan motor dan berangkat kerja. Sepanjang jalan berkecamuk percakapan bisu; apa jadinya jika ia tak masuk training di hari pertama ini. Ia membayangkan guru di sekolahnya yang galak dan manajer hotel berkumis lebat yang telah memberi tugas. Ia berujar dalam desah kecil, bahwa masa depannya ada di bensin. Padagang bensin itu si juru selamat kariernya.

Penunggang botol-botol aqua berpindah ke daerah lain. Seperti ada radar di telinganya, di mana orang memerlukan bensin dengan sangat genting, maka ia harus datangi. Ia mematok harga bensin sama dengan yang dijual di kios eceran. Tetapi ia hanya menjual sebotol untuk satu orang, tak boleh lebih. Azas pemerataan ia pegang teguh. Sebab kebutuhan bensin makin bertambah, sementara cadangan bensin di pulau yang dihuni banyak dewa ini, justru terbatas.

Kini Made turun di Jalan Batuyang, Batubulan. Ia melihat dari ketinggian di atas pohon kelapa ada kerumunan warga dan tampak mencekam.

“Bensin, bensin, sebotol tiga puluh ribu,” ucapnya dari atas.

Suara itu didengar bocah yang sedang bermain layang-layang. Benang layang-layang bocah itu hampir tersangkut udeng di kepala Made.

Bocah itu segera mengikat benang di batang pohon dan berlarian mendekat kerumunan. Ia cerita ada layang-layang manusia.

Sontak lelaki dan perempuan mendatangi tempat yang ditunjukkan anak kecil itu. Mereka terpana ada lelaki jangkung duduk tenang di atas beberapa botol aqua yang diikat ketat.

“Tuan, Tuan, tolong dibantu. Motor-motor warga di sini tak bisa dipakai. Kami kehabisan bensin.”

“Tiga puluh ribu rupiah disiapkan, untuk satu botol bensin.”

“Motor kami lima,” pinta seorang ibu

“Tidak bisa. Saya hanya menjual satu botol dan orang lain masih banyak yang membutuhkannya. Beli atau tidak. Cepat diputuskan, cepat disiapkan uangnya. Kalau ragu-ragu, saya akan segera pergi.”

Ibu-ibu yang di sampingnya berdiri bocah-bocah berseragam Sekolah Dasar itu patuh dan menyodorkan lembaran sepuluh ribu dua kali dan dua lembaran lima ribu.

“Terima kasih, terima kasih, Pak,” selorohnya usai mendapatkan botol bensin. Anak yang bermain layang-layang ikut melambaikan tangan ke atas.

Mereka berunding sejenak; motor siapa yang harus dipakai untuk mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. Disepakati dua motor saja yang hendak dipakai, karena satu botol aqua berisi dua liter bensin, hanya bisa dibagi dua motor.

Dua ibu duduk di sadel motor dan ibu-ibu lain menitipkan anak mereka. Terlihat satu motor memboncengkan tiga anak. Dan dengan memakai dua motor, tampak enam siswa dan siswi bisa diangkut.

Parit berumput di tengah sawah diterjang roda-roda motor itu, kemudian beralih di jalan beraspal. Memasuki jalan raya tampak lengang, namun di tepi jalan antrean pengendara motor mengular panjang.

Sesampai di depan Sekolah Dasar Karang Taruna II, suasana gaduh. Diperoleh penjelasan dari sekretaris sekolah, bahwa banyak guru tak bisa datang, karena kehabisan bensin. Untuk itu pihak sekolah meminta maaf, agar anak-anak dibawa pulang kembali.

Penunggang botol bensin melayang dan turun di perbukitan. Terlihat seorang turis menuntun motornya meninggalkan kios bensin eceran di tepi jalan desa. Kios bensin eceran itu tutup sejak beberapa hari silam.

Wajah kesal turis asal Irlandia yang sedang honey moon harus beromantika ala orang tropis.

Dari balik daun kelapa, Made turun mendekat penuntun motor itu, “Three thousend rupiah for one bottle,” serunya.

Sejoli turis itu terperanjat dan lekas memandang ke atas, “Yes, I need gasoline. Please, please help us.”

Lembaran uang lima puluh ribu berwarna biru dikeluarkan dari dompetnya dan mendapat uang kembali dua puluh ribu. Sebotol bensin sudah beralih dari tangan Made ke turis nahas itu.

“Thank alot. You are our god. Bye, bye,” pujinya.

Motor dinaiki dan segera melaju langsam ke arah Kintamani. Sementara penunggang botol melanjutkan perjalanannya sesuai naluri sosial yang mencabik-cabik pipi kanan dan kirinya.

Pada sebuah tikungan jalan, Made terbang rendah dan menghampiri dua lelaki yang berwajah panik. Mereka kebingungan hendak mengantar istri tetangga yang hendak melahirkan. Motornya tak bisa dijalankan sejak tiga hari silam. Ya, sulit mencari bensin.

“Tiga puluh ribu rupiah untuk satu botol.”

Kepala dua lelaki itu menenggak ke atas hendak mencari sumber suara. Tapi tak ditemukan, maka mereka masuk rumah lagi.

Tak lama kemudian terdengar lagi, “Tiga puluh ribu rupiah dapat dua liter bensin.”

Kali yang kedua mereka mendengar dan keluar rumah. Didapati Made sudah berada mengawang di teras sambil mengacungkan sebotol aqua penuh isi bensin.

Dua lelaki itu hampir tak percaya. Mereka hampir bersamaan mengucek-ucek bola mata, apakah ini kejadian benar?

Tanpa banyak pertimbangan uang seratus rupiah warna merah disodorkan ke arah Made. Ketika uang kembali akan diberikan, dua lelaki itu menolak. Tapi Made berjiwa sosial dan tak ingin memanfaatkan situasi mencekam seisi pulau ini. Ia kembalikan sisa uang dan hengkang dengan menerabas lewat belakang rumah.

Ibu muda yang sedang hamil tua itu segera diapit di jok motor untuk dibawa ke puskesmas terdekat. Lagi-lagi mereka merasa bersyukur ada pertolongan ajaib datang. Mereka menoleh di jalanan lengang yang biasanya penuh lalu lalang motor dan mobil pariwisata. Perempuan yang akan melahirkan terlihat pucat dan lemas.

Penunggang botol bensin juga mulai kehabisan jualannya. Ia terbang ke berbagai penjuru memakai insting kekelawar, di mana ada aroma buah, ia datang. Di mana ada warga yang paling kesusahan dengan kelangkaan bensin, ia datangi.

Menjelang siang, ia naik botol-botol tak berisi bensin lagi. Pom bensin yang biasa ia datangi untuk membeli bensin juga sudah tutup. Kendati petugasnya masih duduk-duduk sambil bermain HP.

Kini ia terbang menuju kawasan Renon dan berhenti di jendela kantor gubernur. Tepat di jendela terbuka dengan kaca bening, Made berhenti.

“Wahai, Pak Gubernur. Apa yang Bapak lakukan? Tak sadarkah, warga menderita karena sulit mendapatkan bensin.”

Gubernur yang sedang duduk di kursi goyang dan setengah mengantuk itu bangkit dan mendekat ke jendela.

“Apa katamu memang benar. Saya sudah tahu sejak beberapa hari silam. Sedianya pasokan bensin itu cukup berlimpah. Tetapi sejak ada perang di Timur Tengah, dampak kelangkaan bensin sampai di sini. Maafkan, saya memantau terus menerus,” tandas gubernur sambil memegang pensil, sepertinya hendak mencatat sesuatu di kertas untuk warganya; harap bersabar!

“Apa tindakan Bapak sekarang ini?” kejar Made.

“Saya sudah menemui pejabat perminyakan di provinsi ini dan saya sudah meminta dari pusat untuk dikirimkan kapal tambahan pembawa bensin langsung ke sini.”

“Apakah Bapak sudah memprediksi dampak yang akan timbul di pulau yang digemari turis manca negara ini? Jepretan di kamera ponsel pelancong akan mendunia dalam hitungan detik. Mungkin pulau ini akan padam selamanya.”

Made meninggalkan jendela kantor megah itu dan berputar-putar sebentar di perempatan patung Kapten Japa, kemudian menghilang.[T]

Penulis: Sigit Susanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

Next Post

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

Sigit Susanto

Sigit Susanto

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1963. Usai menamatkan pendidikan formal di AKABA 17-Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang pada tahun 1998, ia menempuh karier sebagai guide. Dari hasil perjalanannya keliling dunia ia menulis trilogi Menyusuri Lorong-Lorong dunia Dunia : Kumpulan catatan perjalanan

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co