26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

Nur Kamilia by Nur Kamilia
September 6, 2026
in Cerpen
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

Ilustrasi: tatkala.co | Canva

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara gemeretak kecil di atas genting tanah liat setiap kali dahi sore mulai bersentuhan dengan bayang-bayang pohon asam. Di teras rumah, Kakek selalu duduk diam sembari merajut tali dari sabut kelapa. Matanya yang rabun tidak pernah menatap jari-jarinya yang bekerja, melainkan menerawang jauh ke arah bukit kapur yang kian hari kian botak dikeruk mesin-mesin besi milik orang kota.

“Dulu, pohon-pohon di bukit itu punya nama satu-per-satu,” bisik Kakek suatu hari, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering yang tersapu angin pelan.

Aku, yang duduk bersila di sampingnya sambil membersihkan biji sawo, menoleh sekilas. “Mana mungkin pohon punya nama, Kek. Pohon ya pohon. Kayu bakar atau bahan reng atap.”

Kakek terkekeh pelan. Tawanya berderak di tenggorokannya yang tua. “Karena kau hanya melihatnya sebagai kayu, makanya kau tidak pernah mendengar mereka memanggil saat malam jumat tiba. Pohon juga punya ingatan. Mereka ingat siapa kakek moyang kita yang dulu menanamnya dengan doa, dan siapa cucu durhaka yang menjual akarnya demi lembaran kertas bergambar pahlawan.”

Aku terdiam. Kalimat Kakek selalu memiliki cara aneh untuk menohok ulu hati, tanpa perlu diucapkan dengan nada marah.

Kampung kami memang sedang berubah. Di ujung jalan desa, papan-pakan proyek pembangunan pabrik semen sudah mulai menancap, merobek ketenangan tanah ulayat yang selama ratusan tahun dijaga oleh pamali dan ritual sedekah bumi. Para pemuda desa berbondong-bondong meninggalkan sawah. Mereka memilih merantau menjadi buruh pabrik atau sopir truk logistik, mengejar kilau uang yang katanya bisa merubah nasib dalam semalam. Ayahku adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih bertahan di balik lumpur sawah, meski setiap musim panen hasilnya kian tidak menentu akibat cuaca yang kian beringas.

Suatu sore, tepat seminggu sebelum ritual tahunan membersihkan mata air desa digelar, sebuah kejadian ganjil terjadi. Pohon jati tua di pekarangan belakang rumah, pohon terbesar yang batangnya harus dipeluk oleh empat orang dewasa, tiba-tiba mengeluarkan getah kemerahan menyerupai air mata.

Ibu yang melihatnya pertama kali langsung menjatuhkan baskom cucian. Ia bergidik ngeri dan segera memanggil tetangga. Bisik-bisik mistis langsung menyebar ke seluruh warung kopi. Ada yang bilang itu pertanda buruk, ada yang bilang itu kutukan penunggu tanah, dan ada pula yang berujar bahwa pohon itu sedang menangisi nasib tanah leluhur yang sebentar lagi akan digusur rata dengan tanah. Namun, Kakek tidak ikut berkerumun di bawah pohon. Ia hanya mengambil segelas air putih, melangkah pelan dengan tongkat bambunya, lalu duduk di akar pohon jati yang menonjol ke permukaan tanah.

“Jangan menakuti orang desa dengan takhayul yang kau ciptakan sendiri,” ucap Kakek tenang ketika Pak Lurah datang dengan wajah pucat membawa dupa. “Pohon ini tidak sedang menuntut sesajen atau mengirim kutukan. Ia hanya sedang kehausan. Akar-akarnya di dalam sana sudah mati lemas karena air tanah kita disedot habis oleh pabrik-pabrik di hilir dan sumur bor raksasa yang kalian bangun tanpa perhitungan.”

Semua orang yang hadir tertegun. Pak Lurah menelan ludah, tidak berani membantah lelaki sepuh yang dianggap sebagai tetua adat terakhir di kampung itu.

Malam harinya, rumah kami kedatangan tamu tak diundang. Dua orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja rapi datang membawa koper kecil. Mereka adalah utusan dari perusahaan yang ingin membebaskan sisa tanah di sekitar bukit. Dengan senyum ramah yang terasa licin, mereka menawarkan uang penggantian dalam jumlah besar kepada Ayah.

“Pak, tanah seluas ini kalau ditanami padi terus tidak akan membuat bapak kaya. Lepaskan saja. Perusahaan akan membangun kawasan industri hijau di sini, masa depan anak cucu bapak terjamin,” bujuk salah seorang dari mereka sambil meletakkan segepok dokumen di atas meja kayu.

Aku melirik Ayah. Wajah lelaki paruh baya itu tampak lelah. Garis-garis di wajahnya adalah peta penderitaan seorang petani yang sering kalah oleh harga pupuk dan permainan tengkulak. Aku tahu ada keraguan di mata Ayah. Uang sebanyak itu bisa melunasi utang di warung sembako dan membiayai sekolah adikku hingga tuntas. Namun, sebelum Ayah sempat membuka mulut untuk menjawab, pintu kamar Kakek terbuka. Lelaki tua itu keluar tanpa bantuan tongkat, meraba dinding kayu rumah hingga sampai di ruang tamu.

“Pulanglah,” ucap Kakek dengan suara datar namun tajam menusuk udara malam.

Dua utusan itu terkejut. “Tapi, Kek, kami datang baik-baik membicarakan masa depan…”

“Masa depan apa yang kalian tawarkan di atas tanah yang sudah kalian matikan airnya?” potong Kakek tegas. “Kalian datang membawa janji kemakmuran, tapi pergi meninggalkan sumur-sumur yang kering dan debu semen di paru-paru anak cucu kami. Tanah ini bukan sekadar tanah liat tempat mencangkul. Tanah ini adalah ibu yang menyusui kami selama hidup. Jika seorang anak menjual ibunya demi segenggam emas, maka yang tersisa di rumahnya bukan lagi keluarga, melainkan kutukan keserakahan.”

Suasana di ruang tamu mendadak sunyi mencekam. Lampu minyak di atas meja bergetar kecil seiring tiupan angin malam yang menyelinap lewat celah dinding bilik. Kedua utusan itu akhirnya memilih pamit, membereskan berkas mereka dengan wajah geram sambil melangkah keluar tanpa pamit secara layak.

Tiga hari setelah kejadian itu, Kakek jatuh sakit. Tubuhnya yang kurus kering menolak untuk bangun dari kasur kapuknya. Ia tidak mengerang kesakitan, hanya memejamkan mata rapat-rapat sambil sesekali menggumamkan nama-nama pohon yang dulu memenuhi bukit di kampung kami.

Menjelang detik-detik terakhirnya, Kakek memanggilku mendekat. Napasnya terdengar berat, berderak pelan mirip suara daun jati yang gugur di musim kemarau.

“Nak,” bisiknya lirih.

“Ya, Kek. Aku di sini,” jawabku sambil menggenggam jemari keriputnya yang dingin.

“Kelak, jika pohon jati di belakang rumah itu benar-benar mati, jangan pernah sedih karena kayunya ditebang. Yang harus kau tangisi adalah jika ingatanmu tentang cara merawat bumi ini ikut mati di dalam dadamu.”

Kakek menutup matanya untuk selamanya tepat ketika fajar menyingsing di ufuk timur.

Kini, setahun telah berlalu sejak kepergian Kakek. Pabrik semen itu gagal beroperasi karena gelombang protes warga yang akhirnya bangkit setelah melihat sumur-sumur di desa benar-benar asin dan tak layak minum. Tanah kami selamat, meski sisa-sisa lukanya masih membekas di perbukitan yang telanjang.

Setiap sore, aku sering mendatangi sisa tunggul pohon jati di pekarangan belakang yang kini mulai ditumbuhi tunas-tunas hijau kecil. Aku tidak lagi melihatnya sebagai sekadar kayu bakar. Di setiap helai daun mudanya yang menyambut matahari, aku seperti mendengar Kakek sedang berbisik pelan, mengingatkan bahwa hidup manusia tidak pernah berdiri sendiri di atas bumi, melainkan terikat dalam satu napas yang sama dengan akar-akar pohon yang menolak untuk menyerah. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Next Post

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co