MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara gemeretak kecil di atas genting tanah liat setiap kali dahi sore mulai bersentuhan dengan bayang-bayang pohon asam. Di teras rumah, Kakek selalu duduk diam sembari merajut tali dari sabut kelapa. Matanya yang rabun tidak pernah menatap jari-jarinya yang bekerja, melainkan menerawang jauh ke arah bukit kapur yang kian hari kian botak dikeruk mesin-mesin besi milik orang kota.
“Dulu, pohon-pohon di bukit itu punya nama satu-per-satu,” bisik Kakek suatu hari, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering yang tersapu angin pelan.
Aku, yang duduk bersila di sampingnya sambil membersihkan biji sawo, menoleh sekilas. “Mana mungkin pohon punya nama, Kek. Pohon ya pohon. Kayu bakar atau bahan reng atap.”
Kakek terkekeh pelan. Tawanya berderak di tenggorokannya yang tua. “Karena kau hanya melihatnya sebagai kayu, makanya kau tidak pernah mendengar mereka memanggil saat malam jumat tiba. Pohon juga punya ingatan. Mereka ingat siapa kakek moyang kita yang dulu menanamnya dengan doa, dan siapa cucu durhaka yang menjual akarnya demi lembaran kertas bergambar pahlawan.”
Aku terdiam. Kalimat Kakek selalu memiliki cara aneh untuk menohok ulu hati, tanpa perlu diucapkan dengan nada marah.
Kampung kami memang sedang berubah. Di ujung jalan desa, papan-pakan proyek pembangunan pabrik semen sudah mulai menancap, merobek ketenangan tanah ulayat yang selama ratusan tahun dijaga oleh pamali dan ritual sedekah bumi. Para pemuda desa berbondong-bondong meninggalkan sawah. Mereka memilih merantau menjadi buruh pabrik atau sopir truk logistik, mengejar kilau uang yang katanya bisa merubah nasib dalam semalam. Ayahku adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih bertahan di balik lumpur sawah, meski setiap musim panen hasilnya kian tidak menentu akibat cuaca yang kian beringas.
Suatu sore, tepat seminggu sebelum ritual tahunan membersihkan mata air desa digelar, sebuah kejadian ganjil terjadi. Pohon jati tua di pekarangan belakang rumah, pohon terbesar yang batangnya harus dipeluk oleh empat orang dewasa, tiba-tiba mengeluarkan getah kemerahan menyerupai air mata.
Ibu yang melihatnya pertama kali langsung menjatuhkan baskom cucian. Ia bergidik ngeri dan segera memanggil tetangga. Bisik-bisik mistis langsung menyebar ke seluruh warung kopi. Ada yang bilang itu pertanda buruk, ada yang bilang itu kutukan penunggu tanah, dan ada pula yang berujar bahwa pohon itu sedang menangisi nasib tanah leluhur yang sebentar lagi akan digusur rata dengan tanah. Namun, Kakek tidak ikut berkerumun di bawah pohon. Ia hanya mengambil segelas air putih, melangkah pelan dengan tongkat bambunya, lalu duduk di akar pohon jati yang menonjol ke permukaan tanah.
“Jangan menakuti orang desa dengan takhayul yang kau ciptakan sendiri,” ucap Kakek tenang ketika Pak Lurah datang dengan wajah pucat membawa dupa. “Pohon ini tidak sedang menuntut sesajen atau mengirim kutukan. Ia hanya sedang kehausan. Akar-akarnya di dalam sana sudah mati lemas karena air tanah kita disedot habis oleh pabrik-pabrik di hilir dan sumur bor raksasa yang kalian bangun tanpa perhitungan.”
Semua orang yang hadir tertegun. Pak Lurah menelan ludah, tidak berani membantah lelaki sepuh yang dianggap sebagai tetua adat terakhir di kampung itu.
Malam harinya, rumah kami kedatangan tamu tak diundang. Dua orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja rapi datang membawa koper kecil. Mereka adalah utusan dari perusahaan yang ingin membebaskan sisa tanah di sekitar bukit. Dengan senyum ramah yang terasa licin, mereka menawarkan uang penggantian dalam jumlah besar kepada Ayah.
“Pak, tanah seluas ini kalau ditanami padi terus tidak akan membuat bapak kaya. Lepaskan saja. Perusahaan akan membangun kawasan industri hijau di sini, masa depan anak cucu bapak terjamin,” bujuk salah seorang dari mereka sambil meletakkan segepok dokumen di atas meja kayu.
Aku melirik Ayah. Wajah lelaki paruh baya itu tampak lelah. Garis-garis di wajahnya adalah peta penderitaan seorang petani yang sering kalah oleh harga pupuk dan permainan tengkulak. Aku tahu ada keraguan di mata Ayah. Uang sebanyak itu bisa melunasi utang di warung sembako dan membiayai sekolah adikku hingga tuntas. Namun, sebelum Ayah sempat membuka mulut untuk menjawab, pintu kamar Kakek terbuka. Lelaki tua itu keluar tanpa bantuan tongkat, meraba dinding kayu rumah hingga sampai di ruang tamu.
“Pulanglah,” ucap Kakek dengan suara datar namun tajam menusuk udara malam.
Dua utusan itu terkejut. “Tapi, Kek, kami datang baik-baik membicarakan masa depan…”
“Masa depan apa yang kalian tawarkan di atas tanah yang sudah kalian matikan airnya?” potong Kakek tegas. “Kalian datang membawa janji kemakmuran, tapi pergi meninggalkan sumur-sumur yang kering dan debu semen di paru-paru anak cucu kami. Tanah ini bukan sekadar tanah liat tempat mencangkul. Tanah ini adalah ibu yang menyusui kami selama hidup. Jika seorang anak menjual ibunya demi segenggam emas, maka yang tersisa di rumahnya bukan lagi keluarga, melainkan kutukan keserakahan.”
Suasana di ruang tamu mendadak sunyi mencekam. Lampu minyak di atas meja bergetar kecil seiring tiupan angin malam yang menyelinap lewat celah dinding bilik. Kedua utusan itu akhirnya memilih pamit, membereskan berkas mereka dengan wajah geram sambil melangkah keluar tanpa pamit secara layak.
Tiga hari setelah kejadian itu, Kakek jatuh sakit. Tubuhnya yang kurus kering menolak untuk bangun dari kasur kapuknya. Ia tidak mengerang kesakitan, hanya memejamkan mata rapat-rapat sambil sesekali menggumamkan nama-nama pohon yang dulu memenuhi bukit di kampung kami.
Menjelang detik-detik terakhirnya, Kakek memanggilku mendekat. Napasnya terdengar berat, berderak pelan mirip suara daun jati yang gugur di musim kemarau.
“Nak,” bisiknya lirih.
“Ya, Kek. Aku di sini,” jawabku sambil menggenggam jemari keriputnya yang dingin.
“Kelak, jika pohon jati di belakang rumah itu benar-benar mati, jangan pernah sedih karena kayunya ditebang. Yang harus kau tangisi adalah jika ingatanmu tentang cara merawat bumi ini ikut mati di dalam dadamu.”
Kakek menutup matanya untuk selamanya tepat ketika fajar menyingsing di ufuk timur.
Kini, setahun telah berlalu sejak kepergian Kakek. Pabrik semen itu gagal beroperasi karena gelombang protes warga yang akhirnya bangkit setelah melihat sumur-sumur di desa benar-benar asin dan tak layak minum. Tanah kami selamat, meski sisa-sisa lukanya masih membekas di perbukitan yang telanjang.
Setiap sore, aku sering mendatangi sisa tunggul pohon jati di pekarangan belakang yang kini mulai ditumbuhi tunas-tunas hijau kecil. Aku tidak lagi melihatnya sebagai sekadar kayu bakar. Di setiap helai daun mudanya yang menyambut matahari, aku seperti mendengar Kakek sedang berbisik pelan, mengingatkan bahwa hidup manusia tidak pernah berdiri sendiri di atas bumi, melainkan terikat dalam satu napas yang sama dengan akar-akar pohon yang menolak untuk menyerah. [T]
Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole



























