21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
June 20, 2026
in Cerpen
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa. Namun malam ini, saat menatap wajah kayu itu yang tergantung di dinding bale dangin rumah kami di Banjar Tegal Sari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Rahangnya tampak bergemeletuk dalam diam, seperti menunggu sesuatu untuk dikunyah.

Bapak pernah menjadi penari Barong terbaik di banjar kami. Setidaknya itulah kisah yang selalu ia ceritakan sebelum aku tidur. Di masa mudanya, ia menari bukan untuk panggung hotel atau wisatawan yang sibuk mengangkat ponsel. Ia menari di halaman pura, di bawah cahaya obor, diiringi bau dupa dan suara gamelan yang menyatu dengan napas malam.

Sekarang, Bapak hanyalah lelaki tua yang duduk di pojok bale banjar dengan lutut yang sering gemetar. Rambutnya memutih seperti abu sisa pembakaran sesajen. Ia jarang berbicara panjang, kecuali saat menatap kostum Barong yang mulai rontok bulu-bulunya.

“Dunia sudah berubah, Wayan,” katanya suatu sore, saat aku sedang membersihkan gongseng di pergelangan kaki. Suaranya pelan, seperti suara kayu tua yang digesek angin. “Dulu kita menari untuk Tuhan. Sekarang kita menari untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu kapan harus diam.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk dan terus menggosok logam kecil itu sampai mengilap. Dalam diam, aku tahu apa yang ingin ia katakan. Di desa kami, sawah-sawah yang dulu luas kini menyempit seperti luka yang terus dipotong. Vila-vila berdiri di mana dulu anak-anak berlari mengejar capung. Jalan-jalan kecil berubah menjadi jalur kendaraan asing yang hilir mudik tanpa mengenal waktu.

Kami masih bertahan di rumah tua ini, di antara bangunan baru yang menjulang dengan kaca mengilap. Namun bertahan tidak selalu berarti hidup dengan tenang.

Suatu malam, kepala banjar datang membawa kabar. Ada hotel baru di tepi tebing, tidak jauh dari pantai. Mereka ingin pertunjukan Barong untuk peresmian lobi. Bayarannya cukup besar, katanya, cukup untuk membayar pajak tanah yang terus naik. Namun ada satu syarat. Durasi tarian harus dipersingkat menjadi sepuluh menit saja. Sepuluh menit.

Aku melihat wajah Bapak mengeras seperti batu yang disiram air dingin. Sepuluh menit bagi orang lain mungkin hanya waktu singkat untuk menunggu kopi dingin. Namun bagi Bapak, sepuluh menit adalah penghinaan terhadap sesuatu yang diwariskan turun-temurun.

“Mereka pikir ini tontonan sirkus,” gumamnya pelan setelah kepala banjar pergi. “Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu doa.”

Kami butuh uang. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Harga beras naik. Pajak tanah semakin mencekik. Beberapa tetangga kami sudah menjual tanah mereka dan pindah ke kota. Bapak tahu itu. Aku juga tahu. Maka pada akhirnya, keputusan itu diambil dengan diam.

Aku yang akan menari. Bapak akan duduk di barisan penabuh, memainkan kendang seperti dulu, meski tangannya sudah tidak sekuat dahulu.

Hari pertunjukan tiba lebih cepat dari yang kami harapkan.

Hotel itu berdiri megah di tepi tebing, seperti benteng yang memandang laut dari ketinggian. Lobi tempat kami akan menari berkilauan oleh lampu kristal yang menggantung seperti hujan cahaya. Lantai marmernya begitu licin hingga bayanganku sendiri tampak asing di permukaannya.

Aku mengenakan kostum Barong di ruang belakang yang sempit. Bau bulu domba yang lama tersimpan bercampur dengan aroma parfum mahal yang masuk dari luar. Ketika tapel kayu itu dipasang di wajahku, aku merasakan dinginnya menyentuh kulit. Beratnya menekan bahu dan leherku seperti beban yang telah menunggu lama.

Di balik tapel itu, aku tidak lagi sepenuhnya menjadi Wayan. Aku adalah tubuh yang meminjamkan diri pada sesuatu yang lebih tua dari usia siapa pun di ruangan itu.

Gamelan mulai dipukul. Namun iramanya terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih terburu-buru. Seolah mengikuti jadwal yang tidak pernah peduli pada makna.

Aku mulai bergerak. Kaki menghentak lantai marmer yang dingin. Gongseng di pergelangan kakiku berbunyi nyaring, tetapi suaranya terasa asing di tengah denting gelas dan percakapan para tamu.

Aku melihat mereka dari balik lubang mata tapel. Beberapa menonton dengan setengah hati. Sebagian sibuk berbicara. Ada yang tertawa keras tanpa melihat ke arahku. Lalu aku melihat seorang pria di barisan depan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna terang. Di tangannya, gelas minuman berkilau di bawah lampu. Ia berdiri membelakangiku, mengangkat ponsel untuk berswafoto, seolah aku hanyalah latar belakang yang bisa dihapus kapan saja.

Di saat itulah sesuatu di dalam diriku terasa retak. Tapel kayu di wajahku mendadak terasa hangat. Lalu panas. Gerakanku berubah. Aku tidak lagi mengikuti pola yang diajarkan sejak kecil. Kakiku menghentak lebih keras. Bahuku menabrak udara dengan tenaga yang tidak biasa. Ekor Barong menyapu meja kecil hingga gelas-gelas di atasnya bergemerincing.

Para tamu tertawa, mengira ini bagian dari pertunjukan. Namun aku tahu ini bukan lagi tarian biasa. Aku melompat ke depan. Rahang Barong bergemeletuk keras, lebih cepat dari gerakan tanganku sendiri. Suara itu memecah kebisingan ruangan. Aku melihat pria berkemeja sutra itu menoleh dengan wajah kaget.

Aku mendekatinya. Selangkah demi selangkah. Ia mundur, masih memegang ponsel di tangannya. Matanya membelalak, tidak lagi terlihat santai seperti sebelumnya. Aku berhenti tepat di depannya. Rahang kayu itu bergerak di dekat wajahnya, cukup dekat hingga ia bisa merasakan napas dari balik tapel. Ia jatuh terduduk. Gelas di tangannya pecah, menumpahkan cairan dingin ke lantai marmer yang mahal.

Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kemarahan semata, melainkan kepuasan yang getir. Seperti rasa haus yang akhirnya menemukan air, meski air itu terasa pahit.

Suara gaduh mulai terdengar. Petugas keamanan berlari mendekat. Mereka mencoba menarik tubuh Barong dariku. Namun kostum itu terasa melekat di kulitku.

Aku mendengar suara kendang dari arah belakang. Suara Bapak. Pelan. Dalam. Berat. Pukulan itu tidak cepat, tidak tergesa. Ia seperti memanggilku pulang dari tempat yang jauh.

Satu pukulan.

Dua pukulan.

Tiga pukulan.

Ritme itu merambat masuk ke dalam dadaku. Panas di wajahku perlahan mereda. Nafasku kembali terasa berat, seperti setelah berlari jauh.

Aku jatuh berlutut di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Ketika tapel itu dilepaskan dari wajahku, cahaya lampu terasa menyilaukan. Aku melihat lobi itu dalam keadaan kacau. Kursi bergeser, meja terbalik, dan beberapa tamu berdiri dengan wajah pucat.

Bapak datang menghampiriku. Ia tidak memarahi. Ia tidak berkata apa-apa selain satu kalimat pelan. “Sudah cukup, Wayan.”

Malam itu kami diusir tanpa bayaran. Bahkan manajer hotel mengancam akan menuntut kami atas kerusakan yang terjadi. Kami berjalan pulang dalam diam. Jalan aspal masih menyimpan panas siang. Langit mulai memucat menjelang fajar. Di pundakku, kostum Barong terasa lebih berat dari sebelumnya.

Sesampainya di rumah, Bapak menggantung kembali tapel itu di tempatnya. Aku duduk di lantai, menatap wajah kayu itu. Anehnya, wajah Barong itu tampak berbeda. Rahangnya tidak lagi terlihat lapar. Matanya terasa lebih tenang, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas panjang.

Bapak duduk di sampingku. “Kau tahu kenapa Barong itu tidak pernah benar-benar lapar?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“Karena ia hanya memakan kesombongan.”

Aku menatap wajahnya.

Pagi mulai masuk melalui celah-celah dinding bambu. Cahaya tipis menyentuh tapel kayu itu, membuatnya tampak hidup dalam diam.

Kami mungkin kehilangan uang malam itu. Kami mungkin akan kesulitan membayar pajak bulan depan. Namun di antara pecahan marmer dan ancaman orang-orang kota, ada sesuatu yang kembali kepada kami.

Martabat.

Sebab di tanah ini, Barong bukan sekadar tontonan. Ia adalah ingatan. Ia adalah doa yang bergerak melalui tubuh manusia.

Dan selama masih ada orang yang berani memakainya dengan hati yang jernih, Barong tidak akan pernah menjadi pelayan bagi kesombongan manusia. Ia akan selalu menjadi penjaga yang setia, yang hanya bangkit ketika harga diri hampir dilupakan.

Dan pada malam itu, di bawah lampu kristal yang dingin, Barong tidak memakan manusia. Ia memakan kesombongan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa rasa hormat. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Next Post

KLAKSON

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
KLAKSON

KLAKSON

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co