30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
June 20, 2026
in Cerpen
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa. Namun malam ini, saat menatap wajah kayu itu yang tergantung di dinding bale dangin rumah kami di Banjar Tegal Sari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Rahangnya tampak bergemeletuk dalam diam, seperti menunggu sesuatu untuk dikunyah.

Bapak pernah menjadi penari Barong terbaik di banjar kami. Setidaknya itulah kisah yang selalu ia ceritakan sebelum aku tidur. Di masa mudanya, ia menari bukan untuk panggung hotel atau wisatawan yang sibuk mengangkat ponsel. Ia menari di halaman pura, di bawah cahaya obor, diiringi bau dupa dan suara gamelan yang menyatu dengan napas malam.

Sekarang, Bapak hanyalah lelaki tua yang duduk di pojok bale banjar dengan lutut yang sering gemetar. Rambutnya memutih seperti abu sisa pembakaran sesajen. Ia jarang berbicara panjang, kecuali saat menatap kostum Barong yang mulai rontok bulu-bulunya.

“Dunia sudah berubah, Wayan,” katanya suatu sore, saat aku sedang membersihkan gongseng di pergelangan kaki. Suaranya pelan, seperti suara kayu tua yang digesek angin. “Dulu kita menari untuk Tuhan. Sekarang kita menari untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu kapan harus diam.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk dan terus menggosok logam kecil itu sampai mengilap. Dalam diam, aku tahu apa yang ingin ia katakan. Di desa kami, sawah-sawah yang dulu luas kini menyempit seperti luka yang terus dipotong. Vila-vila berdiri di mana dulu anak-anak berlari mengejar capung. Jalan-jalan kecil berubah menjadi jalur kendaraan asing yang hilir mudik tanpa mengenal waktu.

Kami masih bertahan di rumah tua ini, di antara bangunan baru yang menjulang dengan kaca mengilap. Namun bertahan tidak selalu berarti hidup dengan tenang.

Suatu malam, kepala banjar datang membawa kabar. Ada hotel baru di tepi tebing, tidak jauh dari pantai. Mereka ingin pertunjukan Barong untuk peresmian lobi. Bayarannya cukup besar, katanya, cukup untuk membayar pajak tanah yang terus naik. Namun ada satu syarat. Durasi tarian harus dipersingkat menjadi sepuluh menit saja. Sepuluh menit.

Aku melihat wajah Bapak mengeras seperti batu yang disiram air dingin. Sepuluh menit bagi orang lain mungkin hanya waktu singkat untuk menunggu kopi dingin. Namun bagi Bapak, sepuluh menit adalah penghinaan terhadap sesuatu yang diwariskan turun-temurun.

“Mereka pikir ini tontonan sirkus,” gumamnya pelan setelah kepala banjar pergi. “Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu doa.”

Kami butuh uang. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Harga beras naik. Pajak tanah semakin mencekik. Beberapa tetangga kami sudah menjual tanah mereka dan pindah ke kota. Bapak tahu itu. Aku juga tahu. Maka pada akhirnya, keputusan itu diambil dengan diam.

Aku yang akan menari. Bapak akan duduk di barisan penabuh, memainkan kendang seperti dulu, meski tangannya sudah tidak sekuat dahulu.

Hari pertunjukan tiba lebih cepat dari yang kami harapkan.

Hotel itu berdiri megah di tepi tebing, seperti benteng yang memandang laut dari ketinggian. Lobi tempat kami akan menari berkilauan oleh lampu kristal yang menggantung seperti hujan cahaya. Lantai marmernya begitu licin hingga bayanganku sendiri tampak asing di permukaannya.

Aku mengenakan kostum Barong di ruang belakang yang sempit. Bau bulu domba yang lama tersimpan bercampur dengan aroma parfum mahal yang masuk dari luar. Ketika tapel kayu itu dipasang di wajahku, aku merasakan dinginnya menyentuh kulit. Beratnya menekan bahu dan leherku seperti beban yang telah menunggu lama.

Di balik tapel itu, aku tidak lagi sepenuhnya menjadi Wayan. Aku adalah tubuh yang meminjamkan diri pada sesuatu yang lebih tua dari usia siapa pun di ruangan itu.

Gamelan mulai dipukul. Namun iramanya terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih terburu-buru. Seolah mengikuti jadwal yang tidak pernah peduli pada makna.

Aku mulai bergerak. Kaki menghentak lantai marmer yang dingin. Gongseng di pergelangan kakiku berbunyi nyaring, tetapi suaranya terasa asing di tengah denting gelas dan percakapan para tamu.

Aku melihat mereka dari balik lubang mata tapel. Beberapa menonton dengan setengah hati. Sebagian sibuk berbicara. Ada yang tertawa keras tanpa melihat ke arahku. Lalu aku melihat seorang pria di barisan depan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna terang. Di tangannya, gelas minuman berkilau di bawah lampu. Ia berdiri membelakangiku, mengangkat ponsel untuk berswafoto, seolah aku hanyalah latar belakang yang bisa dihapus kapan saja.

Di saat itulah sesuatu di dalam diriku terasa retak. Tapel kayu di wajahku mendadak terasa hangat. Lalu panas. Gerakanku berubah. Aku tidak lagi mengikuti pola yang diajarkan sejak kecil. Kakiku menghentak lebih keras. Bahuku menabrak udara dengan tenaga yang tidak biasa. Ekor Barong menyapu meja kecil hingga gelas-gelas di atasnya bergemerincing.

Para tamu tertawa, mengira ini bagian dari pertunjukan. Namun aku tahu ini bukan lagi tarian biasa. Aku melompat ke depan. Rahang Barong bergemeletuk keras, lebih cepat dari gerakan tanganku sendiri. Suara itu memecah kebisingan ruangan. Aku melihat pria berkemeja sutra itu menoleh dengan wajah kaget.

Aku mendekatinya. Selangkah demi selangkah. Ia mundur, masih memegang ponsel di tangannya. Matanya membelalak, tidak lagi terlihat santai seperti sebelumnya. Aku berhenti tepat di depannya. Rahang kayu itu bergerak di dekat wajahnya, cukup dekat hingga ia bisa merasakan napas dari balik tapel. Ia jatuh terduduk. Gelas di tangannya pecah, menumpahkan cairan dingin ke lantai marmer yang mahal.

Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kemarahan semata, melainkan kepuasan yang getir. Seperti rasa haus yang akhirnya menemukan air, meski air itu terasa pahit.

Suara gaduh mulai terdengar. Petugas keamanan berlari mendekat. Mereka mencoba menarik tubuh Barong dariku. Namun kostum itu terasa melekat di kulitku.

Aku mendengar suara kendang dari arah belakang. Suara Bapak. Pelan. Dalam. Berat. Pukulan itu tidak cepat, tidak tergesa. Ia seperti memanggilku pulang dari tempat yang jauh.

Satu pukulan.

Dua pukulan.

Tiga pukulan.

Ritme itu merambat masuk ke dalam dadaku. Panas di wajahku perlahan mereda. Nafasku kembali terasa berat, seperti setelah berlari jauh.

Aku jatuh berlutut di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Ketika tapel itu dilepaskan dari wajahku, cahaya lampu terasa menyilaukan. Aku melihat lobi itu dalam keadaan kacau. Kursi bergeser, meja terbalik, dan beberapa tamu berdiri dengan wajah pucat.

Bapak datang menghampiriku. Ia tidak memarahi. Ia tidak berkata apa-apa selain satu kalimat pelan. “Sudah cukup, Wayan.”

Malam itu kami diusir tanpa bayaran. Bahkan manajer hotel mengancam akan menuntut kami atas kerusakan yang terjadi. Kami berjalan pulang dalam diam. Jalan aspal masih menyimpan panas siang. Langit mulai memucat menjelang fajar. Di pundakku, kostum Barong terasa lebih berat dari sebelumnya.

Sesampainya di rumah, Bapak menggantung kembali tapel itu di tempatnya. Aku duduk di lantai, menatap wajah kayu itu. Anehnya, wajah Barong itu tampak berbeda. Rahangnya tidak lagi terlihat lapar. Matanya terasa lebih tenang, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas panjang.

Bapak duduk di sampingku. “Kau tahu kenapa Barong itu tidak pernah benar-benar lapar?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“Karena ia hanya memakan kesombongan.”

Aku menatap wajahnya.

Pagi mulai masuk melalui celah-celah dinding bambu. Cahaya tipis menyentuh tapel kayu itu, membuatnya tampak hidup dalam diam.

Kami mungkin kehilangan uang malam itu. Kami mungkin akan kesulitan membayar pajak bulan depan. Namun di antara pecahan marmer dan ancaman orang-orang kota, ada sesuatu yang kembali kepada kami.

Martabat.

Sebab di tanah ini, Barong bukan sekadar tontonan. Ia adalah ingatan. Ia adalah doa yang bergerak melalui tubuh manusia.

Dan selama masih ada orang yang berani memakainya dengan hati yang jernih, Barong tidak akan pernah menjadi pelayan bagi kesombongan manusia. Ia akan selalu menjadi penjaga yang setia, yang hanya bangkit ketika harga diri hampir dilupakan.

Dan pada malam itu, di bawah lampu kristal yang dingin, Barong tidak memakan manusia. Ia memakan kesombongan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa rasa hormat. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Next Post

KLAKSON

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
KLAKSON

KLAKSON

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co