31 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
June 20, 2026
in Cerpen
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa. Namun malam ini, saat menatap wajah kayu itu yang tergantung di dinding bale dangin rumah kami di Banjar Tegal Sari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Rahangnya tampak bergemeletuk dalam diam, seperti menunggu sesuatu untuk dikunyah.

Bapak pernah menjadi penari Barong terbaik di banjar kami. Setidaknya itulah kisah yang selalu ia ceritakan sebelum aku tidur. Di masa mudanya, ia menari bukan untuk panggung hotel atau wisatawan yang sibuk mengangkat ponsel. Ia menari di halaman pura, di bawah cahaya obor, diiringi bau dupa dan suara gamelan yang menyatu dengan napas malam.

Sekarang, Bapak hanyalah lelaki tua yang duduk di pojok bale banjar dengan lutut yang sering gemetar. Rambutnya memutih seperti abu sisa pembakaran sesajen. Ia jarang berbicara panjang, kecuali saat menatap kostum Barong yang mulai rontok bulu-bulunya.

“Dunia sudah berubah, Wayan,” katanya suatu sore, saat aku sedang membersihkan gongseng di pergelangan kaki. Suaranya pelan, seperti suara kayu tua yang digesek angin. “Dulu kita menari untuk Tuhan. Sekarang kita menari untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu kapan harus diam.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk dan terus menggosok logam kecil itu sampai mengilap. Dalam diam, aku tahu apa yang ingin ia katakan. Di desa kami, sawah-sawah yang dulu luas kini menyempit seperti luka yang terus dipotong. Vila-vila berdiri di mana dulu anak-anak berlari mengejar capung. Jalan-jalan kecil berubah menjadi jalur kendaraan asing yang hilir mudik tanpa mengenal waktu.

Kami masih bertahan di rumah tua ini, di antara bangunan baru yang menjulang dengan kaca mengilap. Namun bertahan tidak selalu berarti hidup dengan tenang.

Suatu malam, kepala banjar datang membawa kabar. Ada hotel baru di tepi tebing, tidak jauh dari pantai. Mereka ingin pertunjukan Barong untuk peresmian lobi. Bayarannya cukup besar, katanya, cukup untuk membayar pajak tanah yang terus naik. Namun ada satu syarat. Durasi tarian harus dipersingkat menjadi sepuluh menit saja. Sepuluh menit.

Aku melihat wajah Bapak mengeras seperti batu yang disiram air dingin. Sepuluh menit bagi orang lain mungkin hanya waktu singkat untuk menunggu kopi dingin. Namun bagi Bapak, sepuluh menit adalah penghinaan terhadap sesuatu yang diwariskan turun-temurun.

“Mereka pikir ini tontonan sirkus,” gumamnya pelan setelah kepala banjar pergi. “Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu doa.”

Kami butuh uang. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Harga beras naik. Pajak tanah semakin mencekik. Beberapa tetangga kami sudah menjual tanah mereka dan pindah ke kota. Bapak tahu itu. Aku juga tahu. Maka pada akhirnya, keputusan itu diambil dengan diam.

Aku yang akan menari. Bapak akan duduk di barisan penabuh, memainkan kendang seperti dulu, meski tangannya sudah tidak sekuat dahulu.

Hari pertunjukan tiba lebih cepat dari yang kami harapkan.

Hotel itu berdiri megah di tepi tebing, seperti benteng yang memandang laut dari ketinggian. Lobi tempat kami akan menari berkilauan oleh lampu kristal yang menggantung seperti hujan cahaya. Lantai marmernya begitu licin hingga bayanganku sendiri tampak asing di permukaannya.

Aku mengenakan kostum Barong di ruang belakang yang sempit. Bau bulu domba yang lama tersimpan bercampur dengan aroma parfum mahal yang masuk dari luar. Ketika tapel kayu itu dipasang di wajahku, aku merasakan dinginnya menyentuh kulit. Beratnya menekan bahu dan leherku seperti beban yang telah menunggu lama.

Di balik tapel itu, aku tidak lagi sepenuhnya menjadi Wayan. Aku adalah tubuh yang meminjamkan diri pada sesuatu yang lebih tua dari usia siapa pun di ruangan itu.

Gamelan mulai dipukul. Namun iramanya terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih terburu-buru. Seolah mengikuti jadwal yang tidak pernah peduli pada makna.

Aku mulai bergerak. Kaki menghentak lantai marmer yang dingin. Gongseng di pergelangan kakiku berbunyi nyaring, tetapi suaranya terasa asing di tengah denting gelas dan percakapan para tamu.

Aku melihat mereka dari balik lubang mata tapel. Beberapa menonton dengan setengah hati. Sebagian sibuk berbicara. Ada yang tertawa keras tanpa melihat ke arahku. Lalu aku melihat seorang pria di barisan depan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna terang. Di tangannya, gelas minuman berkilau di bawah lampu. Ia berdiri membelakangiku, mengangkat ponsel untuk berswafoto, seolah aku hanyalah latar belakang yang bisa dihapus kapan saja.

Di saat itulah sesuatu di dalam diriku terasa retak. Tapel kayu di wajahku mendadak terasa hangat. Lalu panas. Gerakanku berubah. Aku tidak lagi mengikuti pola yang diajarkan sejak kecil. Kakiku menghentak lebih keras. Bahuku menabrak udara dengan tenaga yang tidak biasa. Ekor Barong menyapu meja kecil hingga gelas-gelas di atasnya bergemerincing.

Para tamu tertawa, mengira ini bagian dari pertunjukan. Namun aku tahu ini bukan lagi tarian biasa. Aku melompat ke depan. Rahang Barong bergemeletuk keras, lebih cepat dari gerakan tanganku sendiri. Suara itu memecah kebisingan ruangan. Aku melihat pria berkemeja sutra itu menoleh dengan wajah kaget.

Aku mendekatinya. Selangkah demi selangkah. Ia mundur, masih memegang ponsel di tangannya. Matanya membelalak, tidak lagi terlihat santai seperti sebelumnya. Aku berhenti tepat di depannya. Rahang kayu itu bergerak di dekat wajahnya, cukup dekat hingga ia bisa merasakan napas dari balik tapel. Ia jatuh terduduk. Gelas di tangannya pecah, menumpahkan cairan dingin ke lantai marmer yang mahal.

Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kemarahan semata, melainkan kepuasan yang getir. Seperti rasa haus yang akhirnya menemukan air, meski air itu terasa pahit.

Suara gaduh mulai terdengar. Petugas keamanan berlari mendekat. Mereka mencoba menarik tubuh Barong dariku. Namun kostum itu terasa melekat di kulitku.

Aku mendengar suara kendang dari arah belakang. Suara Bapak. Pelan. Dalam. Berat. Pukulan itu tidak cepat, tidak tergesa. Ia seperti memanggilku pulang dari tempat yang jauh.

Satu pukulan.

Dua pukulan.

Tiga pukulan.

Ritme itu merambat masuk ke dalam dadaku. Panas di wajahku perlahan mereda. Nafasku kembali terasa berat, seperti setelah berlari jauh.

Aku jatuh berlutut di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Ketika tapel itu dilepaskan dari wajahku, cahaya lampu terasa menyilaukan. Aku melihat lobi itu dalam keadaan kacau. Kursi bergeser, meja terbalik, dan beberapa tamu berdiri dengan wajah pucat.

Bapak datang menghampiriku. Ia tidak memarahi. Ia tidak berkata apa-apa selain satu kalimat pelan. “Sudah cukup, Wayan.”

Malam itu kami diusir tanpa bayaran. Bahkan manajer hotel mengancam akan menuntut kami atas kerusakan yang terjadi. Kami berjalan pulang dalam diam. Jalan aspal masih menyimpan panas siang. Langit mulai memucat menjelang fajar. Di pundakku, kostum Barong terasa lebih berat dari sebelumnya.

Sesampainya di rumah, Bapak menggantung kembali tapel itu di tempatnya. Aku duduk di lantai, menatap wajah kayu itu. Anehnya, wajah Barong itu tampak berbeda. Rahangnya tidak lagi terlihat lapar. Matanya terasa lebih tenang, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas panjang.

Bapak duduk di sampingku. “Kau tahu kenapa Barong itu tidak pernah benar-benar lapar?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“Karena ia hanya memakan kesombongan.”

Aku menatap wajahnya.

Pagi mulai masuk melalui celah-celah dinding bambu. Cahaya tipis menyentuh tapel kayu itu, membuatnya tampak hidup dalam diam.

Kami mungkin kehilangan uang malam itu. Kami mungkin akan kesulitan membayar pajak bulan depan. Namun di antara pecahan marmer dan ancaman orang-orang kota, ada sesuatu yang kembali kepada kami.

Martabat.

Sebab di tanah ini, Barong bukan sekadar tontonan. Ia adalah ingatan. Ia adalah doa yang bergerak melalui tubuh manusia.

Dan selama masih ada orang yang berani memakainya dengan hati yang jernih, Barong tidak akan pernah menjadi pelayan bagi kesombongan manusia. Ia akan selalu menjadi penjaga yang setia, yang hanya bangkit ketika harga diri hampir dilupakan.

Dan pada malam itu, di bawah lampu kristal yang dingin, Barong tidak memakan manusia. Ia memakan kesombongan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa rasa hormat. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Next Post

KLAKSON

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

โ€œCause thereโ€™ll be no sunlight if I lose you, baby โ€ฆ thereโ€™ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen ย Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen ย Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenalโ€”awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails
Next Post
KLAKSON

KLAKSON

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel โ€œRumahโ€ Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel โ€œRumahโ€ Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 โ€œRumah itu sebenarnya apa?โ€ Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam โ€˜The Last Poisonโ€™
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam โ€˜The Last Poisonโ€™

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—œ๐—ก๐—š๐—”๐—ง๐—”๐—ก ๐—š๐—จ๐—ฅ๐—จ๐—› ๐—ฆ๐—จ๐—ž๐—”๐—ฅ๐—ก๐—ข๐—ฃ๐—จ๐—ง๐—ฅ๐—” ๐—จ๐—ก๐—ง๐—จ๐—ž ๐—•๐—”๐—Ÿ๐—œ

โ€” ๐—–๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ด๐—ถ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€, ๐Ÿฏ๐Ÿฌ ๐—๐˜‚๐—น๐—ถ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ. ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐Ÿญ๐Ÿต๐Ÿณ๐Ÿฒ ๐—š๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ฆ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐—ผ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐—ฟ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ: ๐—•๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—น๐—ผ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz ย ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz ย ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul โ€œLet Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Baliโ€ menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca โ€œMemayu Hayuning Bawana: Build the Queenโ€ karya Dyan Brew
Ulas Rupa

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca โ€œMemayu Hayuning Bawana: Build the Queenโ€ karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

by Angga Wijaya
July 30, 2026
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer
Ulas Rupa

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

by Hartanto
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co