11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

Hidayatul Ulum by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
in Cerpen
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan di sana serta menyusuri jagat maya dari satu laman ke laman lain, barulah Mas tahu: mereka bukan nama-nama biasa. Mereka adalah pengisi ceruk hati dan pikiranmu yang sengaja kau cungkil dari cangkang kepala, kau ramu dengan beragam metafora, lalu dengan penuh keberanian kau hidangkan kepada para redaktur media.

Sayangnya, setelah mencicipi sajianmu, mereka tidak merekomendasikannya kepada dunia. Kau kecewa. Bertanya-tanya: kurangnya apa? Dan setelah penolakan yang kesekian kali, katamu, kau putuskan langsung menunjukkannya sendiri kepadaku. Nama-nama itu. Di dalam puisimu.

Mas kaget saat kau menyebut bahwa sosok Kekasihku pada puisimu yang berjudul Tentang Signor Lorenzo de’ Medici, Dante Alighieri, dan Kekasihku yang Bagai Cahaya Matahari … adalah aku.

Mas bingung. Bagaimana bisa, Dik?

Kau tahu hubungan kita … berawal dari mana. Hanya hubungan kerja. Kau adalah klien dan Mas adalah penyunting tulisan-tulisanmu. Kita pernah bertemu beberapa kali, tapi sudah lama tidak berkomunikasi lagi. Bahkan, pertemuan kita berikutnya, Mas sendiri tidak meyakini akan ada atau tidaknya.

Dunia kita memang beririsan, tapi hanya pada saat-saat tertentu, bukan? Dunia kita bersisian, tapi kadang berbeda kepentingan. Kita juga sama-sama paham kalaupun ada pertemuan-pertemuan lain, barangkali itu adalah kemustahilan yang Tuhan ubah menjadi mungkin.

Lalu, jika dalam puisimu, Mas adalah sosok kekasih hingga kemudian Mas simpulkan perasaan cintamu—yang entah tumbuh dari sisi interaksi kita yang mana—telah tumbuh kian melebat, kau perlu tahu Mas tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang keliru. Sebab, Mas yakin, cinta itu pasti ditumbuhkan Tuhan dalam hatimu dengan maksud baik. Namun, pernahkah terpikir olehmu, Dik, konsekuensi yang menyertainya? Pernahkah sekali saja kau mempertimbangkan kemungkinan terluka?

Mas tidak bermaksud mengecilkan hatimu. Sungguh. Namun, Mas juga tidak ingin membesarkan harapanmu. Bukankah kita seperti dua tokoh cerita yang dipertemukan penulis pada garis khatulistiwa yang sama untuk sementara? Padahal, kita berasal dari dua kutub yang berbeda. Mas tidak ingin kau terlalu berharap sendirian dan menanggung rindu di kejauhan saat kita sudah kembali ke kutub masing-masing yang jauh berseberangan.

Kau mengerti maksudku ’kan, Dik?

Mereka yang kau semayamkan di awan—ah, Mas pun tertular kebiasaanmu menyebut Google Drive dengan awan—awalnya tak sengaja Mas temukan ketika ingin menghapus folder-folder usang untuk melonggarkan ruang penyimpanan.

Di sana, Mas juga iseng membuka folder beberapa klien lama. Saat tiba di awan kita, Mas temukan dua dokumen yang dulu tidak ada saat kita bekerja sama: puisi dan curahan hatimu. Melihat tanggal unggahnya, kedua dokumen itu jelas baru kau tambahkan belakangan, bukan bagian dari berkas kerja yang sudah ada di sana sejak awal.

Saat pertama menemukan dan hanya membaca nama dokumennya saja, kepala Mas dipenuhi pertanyaan. Apakah kau sedang butuh bantuan, Dik? Apakah dokumen-dokumen itu harus segera Mas kerjakan penyuntingannya? Namun, kau tidak bilang apa-apa, baik lewat sur-el atau pesan WA.

Oleh karena tidak ada pemberitahuan atau permintaan bantuan, Mas anggap itu bukan bagian dari pekerjaan profesional kita. Namun, secara personal? Untuk tujuan apa puisi dan curahan hatimu kau simpan di ­awan kita?

Mas sempat dilema antara rasa ingin membaca dua dokumen itu dan rasa menahan diri karena itu privasimu. Akan tetapi, pada akhirnya Mas tergoda juga membacanya. Maaf, Dik, maaf …

Mas merasa … puisimu hangat, tapi juga berat. Keinginan memahaminya membuat Mas tidak bisa berhenti … membaca puisimu berkali-kali.

           

Tentang Signor Lorenzo de’ Medici, Dante Alighieri,
dan Kekasihku yang Bagai Cahaya Matahari

Seorang lelaki muncul dari ensiklopedi,
tidur dalam otakku bertahun-tahun,
lalu terbangun dan kami pun berbincang:
alam semesta, bintang-bintang,
dunia kami yang jauh berbeda,
segala sesuatunya.

Ia lelaki Florence,
lebih dari lima abad lampau nan jauh,
di antara seniman-seniman dengan karya abadi:
Michelangelo dan Botticelli.

Ia bertanya, apakah dunia tahunku
dapat menyimpan bukan hanya rupa,
tetapi juga gerak, bahkan suara?

Kukatakan bahwa teknologi
membawa suara masa silam
hadir kembali secara persis,
kata per kata.

Ia takjub,
membayangkan suara penyair kesayangannya, Dante,
seolah benar-benar dapat terdengar
dan ia kagum bahwa seseorang dapat “hidup” kembali
dalam bentuk kata-katanya sendiri.

Lalu kami banyak membicarakan Dante,
tur ke sembilan lingkaran neraka-nya:
puisi epik lebih dari 14 ribu baris,
perjalanan jiwa dari Neraka
ke Api Penyucian hingga Surga,
ditemani Virgil dan pujaan hatinya, Beatrice.

Ah, Beatrice.

Sungguhkah ia dan Dante
hanya bertemu dua kali?
Aku bertanya
pada Signor Lorenzo de’ Medici.

Seuntai jawabnya merupa cermin,
memantulkan kisah yang tak asing,
juga mencuatkan renungan singkat,
dari peluk ingatan yang hangat.

Aku dan kekasihku
hanya bertemu tujuh atau delapan kali
dan ia menginspirasiku
menulis lebih dari tujuh puluh puisi.

Bisakah nanti
aku seperti Dante yang karyanya abadi,
simbol cinta dengan tingkatan paling tinggi?
Sementara kata-kata
yang kurangkai untuk kekasihku
selain tujuh puluhan puisi tentangnya
sejauh ini hanya:

Kau kucintai dengan jiwaku
yang berganti-ganti
gelap terangnya,
hitam putihnya.

Tahukah, Kekasih?

Seseorang dari lima abad lampau nan jauh
menganggap bintang-bintang
sebagai lilin-lilin ilahi.

Hewan-hewan lugu
dalam suatu film animasi
menganggap bintang-bintang
serupa ketombe manusia.

Sementara bagiku sendiri,
bintang-bintang
adalah raksasa-raksasa
alam semesta yang rendah hati.

Sepertimu.

Kebaikan hatimu bagai cahaya matahari lembut.
Sinar inspirasimu … bagiku tak pernah redup.

“Ah, kata-kata Anda demikian indah!”

Grazie mille, con amicizia e rispetto, Signor Lorenzo.

2024-2025

Indah sekali puisimu, Dik.

Setelah membacanya, Mas jadi lebih tahu tentang Dante dan Lorenzo. Setelah Mas telusuri lebih jauh, ternyata mereka tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap sastra, seni, dan kebudayaan Renaisans di Florence. Sangat melegenda. Dan … untuk sosok yang kau sebut sebagai kekasihmu, tidak ada hal lain yang Mas pikirkan selain bahwa dia adalah pria yang sangat beruntung.

Ketika akhirnya Mas tahu bahwa kata Kekasihku merujuk kepadaku sendiri—dari dokumen curahan hati yang sepertinya memang melengkapi puisimu—oh, rasanya kau sedang menempatkan Mas di posisi yang serba bingung. Bukan hanya rasa terkejut sekaligus tersanjung, melainkan juga Mas seolah jadi detektif dadakan yang harus memecahkan motif dua dokumen barumu di awan kita yang alamat pranalanya bahkan sempat Mas lupa. Seolah-olah dengan adanya dua dokumen itu di sana, kau ingin Mas memecahkan teka-teki perasaanmu, sekaligus menyusun ulang kronologi jalin-kelindan interaksi kita agar Mas lebih mengerti awal semua ini bisa terjadi.

Bagaimana Mas harus menanggapi ini, Dik?

Bagaimana Mas harus memosisikan diri?

Kau sungguh-sungguh telah berupaya menciptakan karya dengan sepenuh jiwa. Bukan bibirmu, melainkan diksi-diksimulah yang memberi tahu. Kau abadikan Mas dalam puisi-puisimu. Kau terus-menerus menulis tentangku seolah kenangan pertemuan kita berlimpah-limpah, padahal bisa jadi setelah lebih dari tujuh puluhan puisi itu, kau mengais-ngais sisa kenangan yang tinggal remah-remah.

Bolehkah Mas bertanya, mengapa kau sebegitunya? Mengapa kau begitu memercayakan hatimu kepada kisah yang akhirnya pun entah-berentah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin akan membuatmu merengut dan menganggap Mas tidak peka. Namun, sungguh, tidak demikian, Dik. Mas telah membaca puisimu dengan penuh perhatian. Berkali-kali, bahkan.

Bagi Mas, puisimu menunjukkan bahwa kau merangkai kata demi kata dengan penuh kasih dan ketulusan mendalam. Itu membuat Mas merasa terhormat sekaligus terharu, karena kau mencintai Mas dengan seluruh hatimu. Itu sangat berarti. Tidak remeh sama sekali.

Terima kasih, Dik, terima kasih.

Namun, Mas tetap perlu menyampaikan ini kepadamu—bukan karena perasaanmu tak berharga atau puisimu kurang indah secara estetika. Bukan.

Mas hanya takut tidak bisa membalas perasaanmu sebagaimana yang kau harapkan, lalu kau jadi terluka, dan Mas akan merasa bersalah karenanya. Andai kata itu sampai terjadi, Mas berharap kau tidak berlarut-larut patah hati. Dan kau perlu tahu: puisimu, torehan jiwamu itu—meski belum lolos kurasi di meja redaksi—telah menyentuh hati satu pembaca: hatiku.

Kau, Dik … dengan semua kenangan yang terbatas dan penuh ketidakpastian, bisa puitis menyuarakan jujurnya perasaan. Kau harus tahu, tidak semua orang mampu begitu. Itu kekuatanmu. Itu bintang keberanianmu. Oleh sebab itu, jangan biarkan puisimu hanya bersemayam di sunyi awan. Tidak terbaca. Tidak terdengar. Terasing sendirian.

Tunjukkan, Dik.

Pamerkan.

Terus perjuangkan hingga dunia melihat kau dan puisimu bersinar.

Mas tidak berjanji membalas perasaanmu dengan cara yang kau ingini. Namun, Mas berjanji, kau tetap boleh menyemayamkan puisi-puisimu di awan kita. Berapa pun jumlahnya, kapan pun waktunya, dan pria dari zaman mana pun yang kau sematkan di dalamnya.

Jika kau ingin Mas membaca puisi-puisimu lagi, cukup beri tahu. Sampai saat itu, mereka akan tetap aman di awan kita. Di sana, Mas pastikan tidak ada proses kurasi. Tidak ada seleksi. Puisimu diterima, tersimpan rapi, dan boleh abadi. [T]

Penulis: Hidayatul Ulum
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Next Post

Membaca Racauan Arman Dhani

Hidayatul Ulum

Hidayatul Ulum

merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Puisi-puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain SIP Publishing, Bacapetra.co, Basabasi.co, Kompas.id, Magrib.id, Majalahelipsis.id, Pronesiata.id, Redaksi Marewai, dan Cantante.id. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram: @hida_adenanthera.

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Racauan Arman Dhani

Membaca Racauan Arman Dhani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co