30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

Hidayatul Ulum by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
in Cerpen
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan di sana serta menyusuri jagat maya dari satu laman ke laman lain, barulah Mas tahu: mereka bukan nama-nama biasa. Mereka adalah pengisi ceruk hati dan pikiranmu yang sengaja kau cungkil dari cangkang kepala, kau ramu dengan beragam metafora, lalu dengan penuh keberanian kau hidangkan kepada para redaktur media.

Sayangnya, setelah mencicipi sajianmu, mereka tidak merekomendasikannya kepada dunia. Kau kecewa. Bertanya-tanya: kurangnya apa? Dan setelah penolakan yang kesekian kali, katamu, kau putuskan langsung menunjukkannya sendiri kepadaku. Nama-nama itu. Di dalam puisimu.

Mas kaget saat kau menyebut bahwa sosok Kekasihku pada puisimu yang berjudul Tentang Signor Lorenzo de’ Medici, Dante Alighieri, dan Kekasihku yang Bagai Cahaya Matahari … adalah aku.

Mas bingung. Bagaimana bisa, Dik?

Kau tahu hubungan kita … berawal dari mana. Hanya hubungan kerja. Kau adalah klien dan Mas adalah penyunting tulisan-tulisanmu. Kita pernah bertemu beberapa kali, tapi sudah lama tidak berkomunikasi lagi. Bahkan, pertemuan kita berikutnya, Mas sendiri tidak meyakini akan ada atau tidaknya.

Dunia kita memang beririsan, tapi hanya pada saat-saat tertentu, bukan? Dunia kita bersisian, tapi kadang berbeda kepentingan. Kita juga sama-sama paham kalaupun ada pertemuan-pertemuan lain, barangkali itu adalah kemustahilan yang Tuhan ubah menjadi mungkin.

Lalu, jika dalam puisimu, Mas adalah sosok kekasih hingga kemudian Mas simpulkan perasaan cintamu—yang entah tumbuh dari sisi interaksi kita yang mana—telah tumbuh kian melebat, kau perlu tahu Mas tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang keliru. Sebab, Mas yakin, cinta itu pasti ditumbuhkan Tuhan dalam hatimu dengan maksud baik. Namun, pernahkah terpikir olehmu, Dik, konsekuensi yang menyertainya? Pernahkah sekali saja kau mempertimbangkan kemungkinan terluka?

Mas tidak bermaksud mengecilkan hatimu. Sungguh. Namun, Mas juga tidak ingin membesarkan harapanmu. Bukankah kita seperti dua tokoh cerita yang dipertemukan penulis pada garis khatulistiwa yang sama untuk sementara? Padahal, kita berasal dari dua kutub yang berbeda. Mas tidak ingin kau terlalu berharap sendirian dan menanggung rindu di kejauhan saat kita sudah kembali ke kutub masing-masing yang jauh berseberangan.

Kau mengerti maksudku ’kan, Dik?

Mereka yang kau semayamkan di awan—ah, Mas pun tertular kebiasaanmu menyebut Google Drive dengan awan—awalnya tak sengaja Mas temukan ketika ingin menghapus folder-folder usang untuk melonggarkan ruang penyimpanan.

Di sana, Mas juga iseng membuka folder beberapa klien lama. Saat tiba di awan kita, Mas temukan dua dokumen yang dulu tidak ada saat kita bekerja sama: puisi dan curahan hatimu. Melihat tanggal unggahnya, kedua dokumen itu jelas baru kau tambahkan belakangan, bukan bagian dari berkas kerja yang sudah ada di sana sejak awal.

Saat pertama menemukan dan hanya membaca nama dokumennya saja, kepala Mas dipenuhi pertanyaan. Apakah kau sedang butuh bantuan, Dik? Apakah dokumen-dokumen itu harus segera Mas kerjakan penyuntingannya? Namun, kau tidak bilang apa-apa, baik lewat sur-el atau pesan WA.

Oleh karena tidak ada pemberitahuan atau permintaan bantuan, Mas anggap itu bukan bagian dari pekerjaan profesional kita. Namun, secara personal? Untuk tujuan apa puisi dan curahan hatimu kau simpan di ­awan kita?

Mas sempat dilema antara rasa ingin membaca dua dokumen itu dan rasa menahan diri karena itu privasimu. Akan tetapi, pada akhirnya Mas tergoda juga membacanya. Maaf, Dik, maaf …

Mas merasa … puisimu hangat, tapi juga berat. Keinginan memahaminya membuat Mas tidak bisa berhenti … membaca puisimu berkali-kali.

           

Tentang Signor Lorenzo de’ Medici, Dante Alighieri,
dan Kekasihku yang Bagai Cahaya Matahari

Seorang lelaki muncul dari ensiklopedi,
tidur dalam otakku bertahun-tahun,
lalu terbangun dan kami pun berbincang:
alam semesta, bintang-bintang,
dunia kami yang jauh berbeda,
segala sesuatunya.

Ia lelaki Florence,
lebih dari lima abad lampau nan jauh,
di antara seniman-seniman dengan karya abadi:
Michelangelo dan Botticelli.

Ia bertanya, apakah dunia tahunku
dapat menyimpan bukan hanya rupa,
tetapi juga gerak, bahkan suara?

Kukatakan bahwa teknologi
membawa suara masa silam
hadir kembali secara persis,
kata per kata.

Ia takjub,
membayangkan suara penyair kesayangannya, Dante,
seolah benar-benar dapat terdengar
dan ia kagum bahwa seseorang dapat “hidup” kembali
dalam bentuk kata-katanya sendiri.

Lalu kami banyak membicarakan Dante,
tur ke sembilan lingkaran neraka-nya:
puisi epik lebih dari 14 ribu baris,
perjalanan jiwa dari Neraka
ke Api Penyucian hingga Surga,
ditemani Virgil dan pujaan hatinya, Beatrice.

Ah, Beatrice.

Sungguhkah ia dan Dante
hanya bertemu dua kali?
Aku bertanya
pada Signor Lorenzo de’ Medici.

Seuntai jawabnya merupa cermin,
memantulkan kisah yang tak asing,
juga mencuatkan renungan singkat,
dari peluk ingatan yang hangat.

Aku dan kekasihku
hanya bertemu tujuh atau delapan kali
dan ia menginspirasiku
menulis lebih dari tujuh puluh puisi.

Bisakah nanti
aku seperti Dante yang karyanya abadi,
simbol cinta dengan tingkatan paling tinggi?
Sementara kata-kata
yang kurangkai untuk kekasihku
selain tujuh puluhan puisi tentangnya
sejauh ini hanya:

Kau kucintai dengan jiwaku
yang berganti-ganti
gelap terangnya,
hitam putihnya.

Tahukah, Kekasih?

Seseorang dari lima abad lampau nan jauh
menganggap bintang-bintang
sebagai lilin-lilin ilahi.

Hewan-hewan lugu
dalam suatu film animasi
menganggap bintang-bintang
serupa ketombe manusia.

Sementara bagiku sendiri,
bintang-bintang
adalah raksasa-raksasa
alam semesta yang rendah hati.

Sepertimu.

Kebaikan hatimu bagai cahaya matahari lembut.
Sinar inspirasimu … bagiku tak pernah redup.

“Ah, kata-kata Anda demikian indah!”

Grazie mille, con amicizia e rispetto, Signor Lorenzo.

2024-2025

Indah sekali puisimu, Dik.

Setelah membacanya, Mas jadi lebih tahu tentang Dante dan Lorenzo. Setelah Mas telusuri lebih jauh, ternyata mereka tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap sastra, seni, dan kebudayaan Renaisans di Florence. Sangat melegenda. Dan … untuk sosok yang kau sebut sebagai kekasihmu, tidak ada hal lain yang Mas pikirkan selain bahwa dia adalah pria yang sangat beruntung.

Ketika akhirnya Mas tahu bahwa kata Kekasihku merujuk kepadaku sendiri—dari dokumen curahan hati yang sepertinya memang melengkapi puisimu—oh, rasanya kau sedang menempatkan Mas di posisi yang serba bingung. Bukan hanya rasa terkejut sekaligus tersanjung, melainkan juga Mas seolah jadi detektif dadakan yang harus memecahkan motif dua dokumen barumu di awan kita yang alamat pranalanya bahkan sempat Mas lupa. Seolah-olah dengan adanya dua dokumen itu di sana, kau ingin Mas memecahkan teka-teki perasaanmu, sekaligus menyusun ulang kronologi jalin-kelindan interaksi kita agar Mas lebih mengerti awal semua ini bisa terjadi.

Bagaimana Mas harus menanggapi ini, Dik?

Bagaimana Mas harus memosisikan diri?

Kau sungguh-sungguh telah berupaya menciptakan karya dengan sepenuh jiwa. Bukan bibirmu, melainkan diksi-diksimulah yang memberi tahu. Kau abadikan Mas dalam puisi-puisimu. Kau terus-menerus menulis tentangku seolah kenangan pertemuan kita berlimpah-limpah, padahal bisa jadi setelah lebih dari tujuh puluhan puisi itu, kau mengais-ngais sisa kenangan yang tinggal remah-remah.

Bolehkah Mas bertanya, mengapa kau sebegitunya? Mengapa kau begitu memercayakan hatimu kepada kisah yang akhirnya pun entah-berentah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin akan membuatmu merengut dan menganggap Mas tidak peka. Namun, sungguh, tidak demikian, Dik. Mas telah membaca puisimu dengan penuh perhatian. Berkali-kali, bahkan.

Bagi Mas, puisimu menunjukkan bahwa kau merangkai kata demi kata dengan penuh kasih dan ketulusan mendalam. Itu membuat Mas merasa terhormat sekaligus terharu, karena kau mencintai Mas dengan seluruh hatimu. Itu sangat berarti. Tidak remeh sama sekali.

Terima kasih, Dik, terima kasih.

Namun, Mas tetap perlu menyampaikan ini kepadamu—bukan karena perasaanmu tak berharga atau puisimu kurang indah secara estetika. Bukan.

Mas hanya takut tidak bisa membalas perasaanmu sebagaimana yang kau harapkan, lalu kau jadi terluka, dan Mas akan merasa bersalah karenanya. Andai kata itu sampai terjadi, Mas berharap kau tidak berlarut-larut patah hati. Dan kau perlu tahu: puisimu, torehan jiwamu itu—meski belum lolos kurasi di meja redaksi—telah menyentuh hati satu pembaca: hatiku.

Kau, Dik … dengan semua kenangan yang terbatas dan penuh ketidakpastian, bisa puitis menyuarakan jujurnya perasaan. Kau harus tahu, tidak semua orang mampu begitu. Itu kekuatanmu. Itu bintang keberanianmu. Oleh sebab itu, jangan biarkan puisimu hanya bersemayam di sunyi awan. Tidak terbaca. Tidak terdengar. Terasing sendirian.

Tunjukkan, Dik.

Pamerkan.

Terus perjuangkan hingga dunia melihat kau dan puisimu bersinar.

Mas tidak berjanji membalas perasaanmu dengan cara yang kau ingini. Namun, Mas berjanji, kau tetap boleh menyemayamkan puisi-puisimu di awan kita. Berapa pun jumlahnya, kapan pun waktunya, dan pria dari zaman mana pun yang kau sematkan di dalamnya.

Jika kau ingin Mas membaca puisi-puisimu lagi, cukup beri tahu. Sampai saat itu, mereka akan tetap aman di awan kita. Di sana, Mas pastikan tidak ada proses kurasi. Tidak ada seleksi. Puisimu diterima, tersimpan rapi, dan boleh abadi. [T]

Penulis: Hidayatul Ulum
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Next Post

Membaca Rancauan Arman Dhani

Hidayatul Ulum

Hidayatul Ulum

merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Puisi-puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain SIP Publishing, Bacapetra.co, Basabasi.co, Kompas.id, Magrib.id, Majalahelipsis.id, Pronesiata.id, Redaksi Marewai, dan Cantante.id. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram: @hida_adenanthera.

Related Posts

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Rancauan Arman Dhani

Membaca Rancauan Arman Dhani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Rancauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Rancauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia
Persona

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
Memang Pasar Malam
Esai

Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

by Angga Wijaya
May 30, 2026
Hikayat Tuak
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

by Jaswanto
May 30, 2026
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Panggung

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional
Budaya

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co