19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

Hidayatul Ulum by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
in Cerpen
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan di sana serta menyusuri jagat maya dari satu laman ke laman lain, barulah Mas tahu: mereka bukan nama-nama biasa. Mereka adalah pengisi ceruk hati dan pikiranmu yang sengaja kau cungkil dari cangkang kepala, kau ramu dengan beragam metafora, lalu dengan penuh keberanian kau hidangkan kepada para redaktur media.

Sayangnya, setelah mencicipi sajianmu, mereka tidak merekomendasikannya kepada dunia. Kau kecewa. Bertanya-tanya: kurangnya apa? Dan setelah penolakan yang kesekian kali, katamu, kau putuskan langsung menunjukkannya sendiri kepadaku. Nama-nama itu. Di dalam puisimu.

Mas kaget saat kau menyebut bahwa sosok Kekasihku pada puisimu yang berjudul Tentang Signor Lorenzo de’ Medici, Dante Alighieri, dan Kekasihku yang Bagai Cahaya Matahari … adalah aku.

Mas bingung. Bagaimana bisa, Dik?

Kau tahu hubungan kita … berawal dari mana. Hanya hubungan kerja. Kau adalah klien dan Mas adalah penyunting tulisan-tulisanmu. Kita pernah bertemu beberapa kali, tapi sudah lama tidak berkomunikasi lagi. Bahkan, pertemuan kita berikutnya, Mas sendiri tidak meyakini akan ada atau tidaknya.

Dunia kita memang beririsan, tapi hanya pada saat-saat tertentu, bukan? Dunia kita bersisian, tapi kadang berbeda kepentingan. Kita juga sama-sama paham kalaupun ada pertemuan-pertemuan lain, barangkali itu adalah kemustahilan yang Tuhan ubah menjadi mungkin.

Lalu, jika dalam puisimu, Mas adalah sosok kekasih hingga kemudian Mas simpulkan perasaan cintamu—yang entah tumbuh dari sisi interaksi kita yang mana—telah tumbuh kian melebat, kau perlu tahu Mas tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang keliru. Sebab, Mas yakin, cinta itu pasti ditumbuhkan Tuhan dalam hatimu dengan maksud baik. Namun, pernahkah terpikir olehmu, Dik, konsekuensi yang menyertainya? Pernahkah sekali saja kau mempertimbangkan kemungkinan terluka?

Mas tidak bermaksud mengecilkan hatimu. Sungguh. Namun, Mas juga tidak ingin membesarkan harapanmu. Bukankah kita seperti dua tokoh cerita yang dipertemukan penulis pada garis khatulistiwa yang sama untuk sementara? Padahal, kita berasal dari dua kutub yang berbeda. Mas tidak ingin kau terlalu berharap sendirian dan menanggung rindu di kejauhan saat kita sudah kembali ke kutub masing-masing yang jauh berseberangan.

Kau mengerti maksudku ’kan, Dik?

Mereka yang kau semayamkan di awan—ah, Mas pun tertular kebiasaanmu menyebut Google Drive dengan awan—awalnya tak sengaja Mas temukan ketika ingin menghapus folder-folder usang untuk melonggarkan ruang penyimpanan.

Di sana, Mas juga iseng membuka folder beberapa klien lama. Saat tiba di awan kita, Mas temukan dua dokumen yang dulu tidak ada saat kita bekerja sama: puisi dan curahan hatimu. Melihat tanggal unggahnya, kedua dokumen itu jelas baru kau tambahkan belakangan, bukan bagian dari berkas kerja yang sudah ada di sana sejak awal.

Saat pertama menemukan dan hanya membaca nama dokumennya saja, kepala Mas dipenuhi pertanyaan. Apakah kau sedang butuh bantuan, Dik? Apakah dokumen-dokumen itu harus segera Mas kerjakan penyuntingannya? Namun, kau tidak bilang apa-apa, baik lewat sur-el atau pesan WA.

Oleh karena tidak ada pemberitahuan atau permintaan bantuan, Mas anggap itu bukan bagian dari pekerjaan profesional kita. Namun, secara personal? Untuk tujuan apa puisi dan curahan hatimu kau simpan di ­awan kita?

Mas sempat dilema antara rasa ingin membaca dua dokumen itu dan rasa menahan diri karena itu privasimu. Akan tetapi, pada akhirnya Mas tergoda juga membacanya. Maaf, Dik, maaf …

Mas merasa … puisimu hangat, tapi juga berat. Keinginan memahaminya membuat Mas tidak bisa berhenti … membaca puisimu berkali-kali.

           

Tentang Signor Lorenzo de’ Medici, Dante Alighieri,
dan Kekasihku yang Bagai Cahaya Matahari

Seorang lelaki muncul dari ensiklopedi,
tidur dalam otakku bertahun-tahun,
lalu terbangun dan kami pun berbincang:
alam semesta, bintang-bintang,
dunia kami yang jauh berbeda,
segala sesuatunya.

Ia lelaki Florence,
lebih dari lima abad lampau nan jauh,
di antara seniman-seniman dengan karya abadi:
Michelangelo dan Botticelli.

Ia bertanya, apakah dunia tahunku
dapat menyimpan bukan hanya rupa,
tetapi juga gerak, bahkan suara?

Kukatakan bahwa teknologi
membawa suara masa silam
hadir kembali secara persis,
kata per kata.

Ia takjub,
membayangkan suara penyair kesayangannya, Dante,
seolah benar-benar dapat terdengar
dan ia kagum bahwa seseorang dapat “hidup” kembali
dalam bentuk kata-katanya sendiri.

Lalu kami banyak membicarakan Dante,
tur ke sembilan lingkaran neraka-nya:
puisi epik lebih dari 14 ribu baris,
perjalanan jiwa dari Neraka
ke Api Penyucian hingga Surga,
ditemani Virgil dan pujaan hatinya, Beatrice.

Ah, Beatrice.

Sungguhkah ia dan Dante
hanya bertemu dua kali?
Aku bertanya
pada Signor Lorenzo de’ Medici.

Seuntai jawabnya merupa cermin,
memantulkan kisah yang tak asing,
juga mencuatkan renungan singkat,
dari peluk ingatan yang hangat.

Aku dan kekasihku
hanya bertemu tujuh atau delapan kali
dan ia menginspirasiku
menulis lebih dari tujuh puluh puisi.

Bisakah nanti
aku seperti Dante yang karyanya abadi,
simbol cinta dengan tingkatan paling tinggi?
Sementara kata-kata
yang kurangkai untuk kekasihku
selain tujuh puluhan puisi tentangnya
sejauh ini hanya:

Kau kucintai dengan jiwaku
yang berganti-ganti
gelap terangnya,
hitam putihnya.

Tahukah, Kekasih?

Seseorang dari lima abad lampau nan jauh
menganggap bintang-bintang
sebagai lilin-lilin ilahi.

Hewan-hewan lugu
dalam suatu film animasi
menganggap bintang-bintang
serupa ketombe manusia.

Sementara bagiku sendiri,
bintang-bintang
adalah raksasa-raksasa
alam semesta yang rendah hati.

Sepertimu.

Kebaikan hatimu bagai cahaya matahari lembut.
Sinar inspirasimu … bagiku tak pernah redup.

“Ah, kata-kata Anda demikian indah!”

Grazie mille, con amicizia e rispetto, Signor Lorenzo.

2024-2025

Indah sekali puisimu, Dik.

Setelah membacanya, Mas jadi lebih tahu tentang Dante dan Lorenzo. Setelah Mas telusuri lebih jauh, ternyata mereka tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap sastra, seni, dan kebudayaan Renaisans di Florence. Sangat melegenda. Dan … untuk sosok yang kau sebut sebagai kekasihmu, tidak ada hal lain yang Mas pikirkan selain bahwa dia adalah pria yang sangat beruntung.

Ketika akhirnya Mas tahu bahwa kata Kekasihku merujuk kepadaku sendiri—dari dokumen curahan hati yang sepertinya memang melengkapi puisimu—oh, rasanya kau sedang menempatkan Mas di posisi yang serba bingung. Bukan hanya rasa terkejut sekaligus tersanjung, melainkan juga Mas seolah jadi detektif dadakan yang harus memecahkan motif dua dokumen barumu di awan kita yang alamat pranalanya bahkan sempat Mas lupa. Seolah-olah dengan adanya dua dokumen itu di sana, kau ingin Mas memecahkan teka-teki perasaanmu, sekaligus menyusun ulang kronologi jalin-kelindan interaksi kita agar Mas lebih mengerti awal semua ini bisa terjadi.

Bagaimana Mas harus menanggapi ini, Dik?

Bagaimana Mas harus memosisikan diri?

Kau sungguh-sungguh telah berupaya menciptakan karya dengan sepenuh jiwa. Bukan bibirmu, melainkan diksi-diksimulah yang memberi tahu. Kau abadikan Mas dalam puisi-puisimu. Kau terus-menerus menulis tentangku seolah kenangan pertemuan kita berlimpah-limpah, padahal bisa jadi setelah lebih dari tujuh puluhan puisi itu, kau mengais-ngais sisa kenangan yang tinggal remah-remah.

Bolehkah Mas bertanya, mengapa kau sebegitunya? Mengapa kau begitu memercayakan hatimu kepada kisah yang akhirnya pun entah-berentah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin akan membuatmu merengut dan menganggap Mas tidak peka. Namun, sungguh, tidak demikian, Dik. Mas telah membaca puisimu dengan penuh perhatian. Berkali-kali, bahkan.

Bagi Mas, puisimu menunjukkan bahwa kau merangkai kata demi kata dengan penuh kasih dan ketulusan mendalam. Itu membuat Mas merasa terhormat sekaligus terharu, karena kau mencintai Mas dengan seluruh hatimu. Itu sangat berarti. Tidak remeh sama sekali.

Terima kasih, Dik, terima kasih.

Namun, Mas tetap perlu menyampaikan ini kepadamu—bukan karena perasaanmu tak berharga atau puisimu kurang indah secara estetika. Bukan.

Mas hanya takut tidak bisa membalas perasaanmu sebagaimana yang kau harapkan, lalu kau jadi terluka, dan Mas akan merasa bersalah karenanya. Andai kata itu sampai terjadi, Mas berharap kau tidak berlarut-larut patah hati. Dan kau perlu tahu: puisimu, torehan jiwamu itu—meski belum lolos kurasi di meja redaksi—telah menyentuh hati satu pembaca: hatiku.

Kau, Dik … dengan semua kenangan yang terbatas dan penuh ketidakpastian, bisa puitis menyuarakan jujurnya perasaan. Kau harus tahu, tidak semua orang mampu begitu. Itu kekuatanmu. Itu bintang keberanianmu. Oleh sebab itu, jangan biarkan puisimu hanya bersemayam di sunyi awan. Tidak terbaca. Tidak terdengar. Terasing sendirian.

Tunjukkan, Dik.

Pamerkan.

Terus perjuangkan hingga dunia melihat kau dan puisimu bersinar.

Mas tidak berjanji membalas perasaanmu dengan cara yang kau ingini. Namun, Mas berjanji, kau tetap boleh menyemayamkan puisi-puisimu di awan kita. Berapa pun jumlahnya, kapan pun waktunya, dan pria dari zaman mana pun yang kau sematkan di dalamnya.

Jika kau ingin Mas membaca puisi-puisimu lagi, cukup beri tahu. Sampai saat itu, mereka akan tetap aman di awan kita. Di sana, Mas pastikan tidak ada proses kurasi. Tidak ada seleksi. Puisimu diterima, tersimpan rapi, dan boleh abadi. [T]

Penulis: Hidayatul Ulum
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Next Post

Membaca Racauan Arman Dhani

Hidayatul Ulum

Hidayatul Ulum

merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Puisi-puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain SIP Publishing, Bacapetra.co, Basabasi.co, Kompas.id, Magrib.id, Majalahelipsis.id, Pronesiata.id, Redaksi Marewai, dan Cantante.id. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram: @hida_adenanthera.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Racauan Arman Dhani

Membaca Racauan Arman Dhani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co