7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
in Tualang
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

Tim sedang Merayakan Kemenangan atas Jiwa Ekslusif Melalui Simbol “I Love You" (ILY Sign) Bersama Pak Ketut Kanta (ketua kelompok) dan warga tuli bisu | Sumber : Yuliartini, Agustus 2026

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti, SH.,M.H); Universitas Udayana (Prof. Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H); Universitas Mahasaraswati (Dr. Dra. I Gusti Ayu Diah Yuniti, M.Si); Undiksha (Prof Dr. Dewa Gede Sudika Mangku & Prof.Dr Ni Putu Rai Yuliartini) datang ke Bengkala di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, karena hanyut dengan predikat “desa kolok” (desa tuli bisu) dan sekaligus healing.

Datang ke desa ini bagi saya, bukanlah hal pertama. Mengenalnya secara langsung juga lebih dari sekali untuk memenuhi undangan teman-teman dari Undiksha maupun melayat ke teman sejawat. Tidak ada yang dirasa istimewa, semua lewat begitu saja, sebagaimana kunjungan umumnya masuk ke desa-desa di Bali. Rumah-rumah yang rapat, cenderung sepi di pagi hari karena warga pergi ke abian merawat tanaman dan ternaknya, menjadi pekerja/pegawai atau berdagang di pasar maupun di warung.

Bahkan jika melacak potret Desa Bengkala, sangat banyak yang telah terlaporkan tentang desa ini. Hasil riset, pengabdian  masyarakat, maupun kunjungan dari berbagai negara sangat mudah diakses dan memperjelas dinamika desa ini. Desa yang semula tidak dikenal, sejak tahun 1970an mulai diperbincangkan akibat adanya warga kolok. Walaupun secara historis keberadaannya sebagai desa sudah ada sejak abad ke 9 sebagaimana disebut dalam prasasti Raja Jayapangus.  

Informasi dari Bapak Kepala Desa (Pak Astika, 15 Agustus 2026) saat ini, jumlah warga kolok 39 Jiwa/24 KK, Atau 2 % dari total jumlah penduduk Bengkala “ini tergolong kecil dari total jumlah keseluruhan penduduk”, mengapa bisa mendapat predikat desa kolok?

Jawabannya ternyata dalam hitungan jumlah dibandingkan warga kolok di desa lain/Indonesia, maka desa Bengkala menduduki angka terbesar. Itulah sebabnya desa ini mendapat predikat desa kolok.

Selain itu, kontribusi media yang intensif mewartakan tentang Desa Bengkala membuat predikat ini semakin susah diabaikan. Terlebih, banyak program pemberdayaan yang tertuju pada warga kolok. Kehadiran Pertamina; Akademisi Unhi, Undiksha, ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar dan akademinisi Pandjisakti  dalam rancangan program pemberdayaan ekonomi, seni dan pendidikan  membuat warga kolok semakin menguatkan predikat desa kolok dengan predikat tambahan desa wisata bercorak inklusi.

Ajakan teman healing ke desa Bengkala terdengar aneh awalnya, karena pemahaman healing selama ini hanyalah tertuju pada hal yang berkaitan dengan tujuan jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran; perlawatan ke alam yang menawarkan keindahan seperti pantai, gunung; melakukan hoby yang disukai. Namun, keanehan itu menjadi sirna tatkala saya mencoba mengubah perspektif tentang komunitas kolok dari domain eksklusif menjadi inklusif.

Bukanlah perkara mudah untuk  mengubah pandangan dari eksklusif menjadi inklusif tentang warga yang masuk katagori disabilitas. Ketertutupan kita muncul tentang keberadaan mereka, tatkala kita hadirkan diri sebagai mahkluk yang paling sempurna, tanpa cacat, sehingga sulit menerima kekurangan orang lain yang berbeda. Di saat hadir di tengah-tengah komunitas tuli bisu di Desa Bengkala, semua tim merasa sedang merayakan kemenangan atas keberhasilan membuka sebuah kesadaran tentang pemahaman mengada dan menjadi pada komunitas Deaf Mute.

Sebenarnya ketertutupan itu bisa dibuka memakai jendela hati. Tentunya dengan polesan kesejukan hati, keterbukaan dan pelibatan akan menjadikan persepsi kita  keluar dari kegelapan dalam mengakui keberadaan mereka. Dari cara menatap saat interaksi, pelibatan mereka dalam interaksi, ajar kenal bahasa isyarat versi Bengkala adalah hal-hal yang terkoneksi terhadap temuan healing ke tempat yang terkonotasi marginal atau diskriminatif.

Istimewanya, masyarakat Bengkala memberikan posisi yang setara pada warga tuli bisu, baik dalam hak adat, ritual keagamaan maupun kehidupan social, budaya dan seni. Kondisi ini pula yang semakin memudahkan tim membuka kesadaran dan menyegarkan pikiran (sebagaimana konsep healing) tentang prinsip hidup : “menjadi sempurna akan jelas sosoknya di saat kita sanggup menembus batas perbedaan sampai ke aras penyetaraan”.

Ada beberapa kondisi real yang tergolong anomali di masyarakat Bengkala tentang keberadaan tuli bisu. Pertama, orang normal pasih berbahasa isyarat yang berbeda dengan bahasa isyarat BASINDO, di mana tuli bisu melebur dalam berbagai aktivitas dengan warga enget (warga yang mendengar) melalui perantara bahasa yang disebut bahasa kata kolok; Kedua, menari janger dengan  memakai bahasa isyarat; Ketiga, ada layanan sekolah inklusi (SDN 2); Keempat, mereka dibebaskan dari kewajiban iuran saat ada upacara di desa adat dan secara kedinasan diutamakan saat ada tawaran program pemberdayaan; Kelima, terbebas dari mitos tentang “orang cacat” tidak boleh ke pura atau mitos lainnya.

Kurikulum Dua Dunia di SDN 2 Bengkala | Sumber foto: tangkap layar youtube

Ekspresi jangaer kolok | Sumber foto: tangkap layar youtube

Sederetan  anomali tersebut memberi ruang yang sangat luas bagi waga tuli bisu/kolok di Bengkala untuk mengada (being) dan menjadi (becoming). Akar kedua konsep ini ada pada filsafat yang merupakan cabang filsafat Ontologi (teori tentang hakikat keberadaan). Tokohnya adalah Parmenides dan Herakleitos, selanjutnya pemikiran mereka dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles.

Konsep mengada pada pemikiran Parmenides memandang manusia sebagai realitas yang tetap, tunggal dan tidak berubah. Dalamkaitan ini bisu tuli adalah sesuatu yang sifat nya kekal, tidak berubah dan perubahan adalah sebuah ilusi. Berbeda halnya dengan konsep menjadi dalam pemikiran Herakleitos dengan konsepnya tidak ada yang kekal di dunia ini. Keduanya berpegang pada prinsip yang saling bertolak belakang. Hadirlah Plato dan Aristoteles yang mencoba menjernihkan kedua pemikiran tersebut.

Pandangannya yang sangat terkenal tentang Theory of Forms yang memperkarakan tentang dunia indrawi dan dunia ide. Bagaimana mengkaitkan dengan kondisi tuli bisu? Baginya tuli bisu bukanlah diartikan sebagai kecacatan, namun lebih diartikan sebagai kegagalan dalam meniru form tubuh manusia ideal. Dalam konteks mengada tuli bisu adalah sebuah relalitas yang tetap, namun dalam konteks menjadi dapat diartikan dalam tubuh yang tetap terdapat jiwa-jiwa yang memiliki konsep, bisa berpikir rasional, bisa berkomonikasi. Dalam melihat tuli bisu, konsep mengada dan menjadi melatihkan kita untuk paham prihal humanism.

Wajah Sumringah Warga Tuli Bisu di Desa Bengkala saat Interaksi dengan Tim | Sumber: Sendratari, Agustus 2026

Situasi yang sangat berkesan tentang mereka adalah wajah sumringah yang ditunjukkan menyapa kehadiran setiap tamu yang datang, tidak minder, ceria menyapa dengan salam tiga jari (ibu jari, telunjuk dan kelingking) sebagai simbol kasih sayang hanyalah sebagian kecil dari dimensi healing, namun lebih jauh dari itu, hal yang sangat mendasar ketika tim menyadari mereka tergolong orang yang kuat, pekerja keras, mandiri dan berani menerima kenyataan ditengah kultur dominan. Ini adalah contoh dialektika kehidupan.

Warga tuli bisu memperkuat being mereka lewat proses menjadi (becoming). Keterlibatan mereka di KEM (Komunitas Ekonomi Masyarakat), menenun, mengayam; aktivitas seni (Janger Kolok) dan sederetan aktivitas ekonomi lainnya seperti jasa ngae bambang (menggali lobang untuk penguburan), jasa menangkap babi adalah pembuktian atas cara mereka menjadi mahkluk yang becoming. Penyegaran yang luar biasa didapat tatkala kita mencerna fenomena bisu tuli disandingkan dengan orang-orang yang tidak kuat menerima kenyataan dan manipulative atas kejujuran. [T]

Penulis: Luh Putu Sendratari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Bengkaladifabeldisabelitasjanger kolok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

Next Post

Indonesia yang Muncul di Beranda

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia yang Muncul di Beranda

Indonesia yang Muncul di Beranda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co