SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti, SH.,M.H); Universitas Udayana (Prof. Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H); Universitas Mahasaraswati (Dr. Dra. I Gusti Ayu Diah Yuniti, M.Si); Undiksha (Prof Dr. Dewa Gede Sudika Mangku & Prof.Dr Ni Putu Rai Yuliartini) datang ke Bengkala di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, karena hanyut dengan predikat “desa kolok” (desa tuli bisu) dan sekaligus healing.
Datang ke desa ini bagi saya, bukanlah hal pertama. Mengenalnya secara langsung juga lebih dari sekali untuk memenuhi undangan teman-teman dari Undiksha maupun melayat ke teman sejawat. Tidak ada yang dirasa istimewa, semua lewat begitu saja, sebagaimana kunjungan umumnya masuk ke desa-desa di Bali. Rumah-rumah yang rapat, cenderung sepi di pagi hari karena warga pergi ke abian merawat tanaman dan ternaknya, menjadi pekerja/pegawai atau berdagang di pasar maupun di warung.
Bahkan jika melacak potret Desa Bengkala, sangat banyak yang telah terlaporkan tentang desa ini. Hasil riset, pengabdian masyarakat, maupun kunjungan dari berbagai negara sangat mudah diakses dan memperjelas dinamika desa ini. Desa yang semula tidak dikenal, sejak tahun 1970an mulai diperbincangkan akibat adanya warga kolok. Walaupun secara historis keberadaannya sebagai desa sudah ada sejak abad ke 9 sebagaimana disebut dalam prasasti Raja Jayapangus.
Informasi dari Bapak Kepala Desa (Pak Astika, 15 Agustus 2026) saat ini, jumlah warga kolok 39 Jiwa/24 KK, Atau 2 % dari total jumlah penduduk Bengkala “ini tergolong kecil dari total jumlah keseluruhan penduduk”, mengapa bisa mendapat predikat desa kolok?
Jawabannya ternyata dalam hitungan jumlah dibandingkan warga kolok di desa lain/Indonesia, maka desa Bengkala menduduki angka terbesar. Itulah sebabnya desa ini mendapat predikat desa kolok.
Selain itu, kontribusi media yang intensif mewartakan tentang Desa Bengkala membuat predikat ini semakin susah diabaikan. Terlebih, banyak program pemberdayaan yang tertuju pada warga kolok. Kehadiran Pertamina; Akademisi Unhi, Undiksha, ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar dan akademinisi Pandjisakti dalam rancangan program pemberdayaan ekonomi, seni dan pendidikan membuat warga kolok semakin menguatkan predikat desa kolok dengan predikat tambahan desa wisata bercorak inklusi.
Ajakan teman healing ke desa Bengkala terdengar aneh awalnya, karena pemahaman healing selama ini hanyalah tertuju pada hal yang berkaitan dengan tujuan jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran; perlawatan ke alam yang menawarkan keindahan seperti pantai, gunung; melakukan hoby yang disukai. Namun, keanehan itu menjadi sirna tatkala saya mencoba mengubah perspektif tentang komunitas kolok dari domain eksklusif menjadi inklusif.
Bukanlah perkara mudah untuk mengubah pandangan dari eksklusif menjadi inklusif tentang warga yang masuk katagori disabilitas. Ketertutupan kita muncul tentang keberadaan mereka, tatkala kita hadirkan diri sebagai mahkluk yang paling sempurna, tanpa cacat, sehingga sulit menerima kekurangan orang lain yang berbeda. Di saat hadir di tengah-tengah komunitas tuli bisu di Desa Bengkala, semua tim merasa sedang merayakan kemenangan atas keberhasilan membuka sebuah kesadaran tentang pemahaman mengada dan menjadi pada komunitas Deaf Mute.
Sebenarnya ketertutupan itu bisa dibuka memakai jendela hati. Tentunya dengan polesan kesejukan hati, keterbukaan dan pelibatan akan menjadikan persepsi kita keluar dari kegelapan dalam mengakui keberadaan mereka. Dari cara menatap saat interaksi, pelibatan mereka dalam interaksi, ajar kenal bahasa isyarat versi Bengkala adalah hal-hal yang terkoneksi terhadap temuan healing ke tempat yang terkonotasi marginal atau diskriminatif.
Istimewanya, masyarakat Bengkala memberikan posisi yang setara pada warga tuli bisu, baik dalam hak adat, ritual keagamaan maupun kehidupan social, budaya dan seni. Kondisi ini pula yang semakin memudahkan tim membuka kesadaran dan menyegarkan pikiran (sebagaimana konsep healing) tentang prinsip hidup : “menjadi sempurna akan jelas sosoknya di saat kita sanggup menembus batas perbedaan sampai ke aras penyetaraan”.
Ada beberapa kondisi real yang tergolong anomali di masyarakat Bengkala tentang keberadaan tuli bisu. Pertama, orang normal pasih berbahasa isyarat yang berbeda dengan bahasa isyarat BASINDO, di mana tuli bisu melebur dalam berbagai aktivitas dengan warga enget (warga yang mendengar) melalui perantara bahasa yang disebut bahasa kata kolok; Kedua, menari janger dengan memakai bahasa isyarat; Ketiga, ada layanan sekolah inklusi (SDN 2); Keempat, mereka dibebaskan dari kewajiban iuran saat ada upacara di desa adat dan secara kedinasan diutamakan saat ada tawaran program pemberdayaan; Kelima, terbebas dari mitos tentang “orang cacat” tidak boleh ke pura atau mitos lainnya.


Sederetan anomali tersebut memberi ruang yang sangat luas bagi waga tuli bisu/kolok di Bengkala untuk mengada (being) dan menjadi (becoming). Akar kedua konsep ini ada pada filsafat yang merupakan cabang filsafat Ontologi (teori tentang hakikat keberadaan). Tokohnya adalah Parmenides dan Herakleitos, selanjutnya pemikiran mereka dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles.
Konsep mengada pada pemikiran Parmenides memandang manusia sebagai realitas yang tetap, tunggal dan tidak berubah. Dalamkaitan ini bisu tuli adalah sesuatu yang sifat nya kekal, tidak berubah dan perubahan adalah sebuah ilusi. Berbeda halnya dengan konsep menjadi dalam pemikiran Herakleitos dengan konsepnya tidak ada yang kekal di dunia ini. Keduanya berpegang pada prinsip yang saling bertolak belakang. Hadirlah Plato dan Aristoteles yang mencoba menjernihkan kedua pemikiran tersebut.
Pandangannya yang sangat terkenal tentang Theory of Forms yang memperkarakan tentang dunia indrawi dan dunia ide. Bagaimana mengkaitkan dengan kondisi tuli bisu? Baginya tuli bisu bukanlah diartikan sebagai kecacatan, namun lebih diartikan sebagai kegagalan dalam meniru form tubuh manusia ideal. Dalam konteks mengada tuli bisu adalah sebuah relalitas yang tetap, namun dalam konteks menjadi dapat diartikan dalam tubuh yang tetap terdapat jiwa-jiwa yang memiliki konsep, bisa berpikir rasional, bisa berkomonikasi. Dalam melihat tuli bisu, konsep mengada dan menjadi melatihkan kita untuk paham prihal humanism.


Situasi yang sangat berkesan tentang mereka adalah wajah sumringah yang ditunjukkan menyapa kehadiran setiap tamu yang datang, tidak minder, ceria menyapa dengan salam tiga jari (ibu jari, telunjuk dan kelingking) sebagai simbol kasih sayang hanyalah sebagian kecil dari dimensi healing, namun lebih jauh dari itu, hal yang sangat mendasar ketika tim menyadari mereka tergolong orang yang kuat, pekerja keras, mandiri dan berani menerima kenyataan ditengah kultur dominan. Ini adalah contoh dialektika kehidupan.
Warga tuli bisu memperkuat being mereka lewat proses menjadi (becoming). Keterlibatan mereka di KEM (Komunitas Ekonomi Masyarakat), menenun, mengayam; aktivitas seni (Janger Kolok) dan sederetan aktivitas ekonomi lainnya seperti jasa ngae bambang (menggali lobang untuk penguburan), jasa menangkap babi adalah pembuktian atas cara mereka menjadi mahkluk yang becoming. Penyegaran yang luar biasa didapat tatkala kita mencerna fenomena bisu tuli disandingkan dengan orang-orang yang tidak kuat menerima kenyataan dan manipulative atas kejujuran. [T]
Penulis: Luh Putu Sendratari
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









