SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik jika mencermati Jimbaran dan kawasan Delod Ceking pada umumnya tidak ada sawah. Yang ada hanyalah abian. Maka, saat pertanian menjadi tumpuan harapan hidup, yang digemakan adalah Subak Abian. Saat ini, Subak Abian yang aktif ada di Desa Adat Pecatu, tetapi gemanya kalah jauh dengan hingar-bingar pariwisata.
Jika demikian, keberadaan Pura Ulun Swi Jimbaran dengan status Pura Kahyangan Jagat sejak pertanian berjaya, logikanya menjadi kiblat pemujaan dan permohonan para petani. Faktanya, para petani selain dari Jimbaran, sepengetahuan saya, tidak terhubung secara fisik dengan Pura Ulun Swi Jimbaran. Krama Delod Ceking malah terhubung dengan Pura Tambangan Badung dan Pura Agung Petilan Pengrebongan Kesiman. Hal ini tampaknya terkait dengan pengaruh kekuasaan Raja Mengwi di Jimbaran, Raja Badung di Delod Ceking bagian barat (Kutuh, Ungasan, Pecatu), dan Raja Kesiman di Delod Ceking bagian timur (Peminge, Tengkulung).
Pura Ulun Swi Jimbaran berada di pusat desa, berseberangan dengan Pasar Jimbaran serta Pura Desa dan Pura Puseh. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Belanda saat membuka jalan penghubung hingga ke desa-desa di ujung selatan Badung yang dikenal dengan wilayah Bukit Delod Ceking.

Pura Ulun Swi Jimbaran tepatnya berada di wilayah wewidangan Banjar Menega, Desa Adat Jimbaran. Pura ini diklaim sebagai Pura Subak terbesar di Bali oleh I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra, mantan Bandesa Jimbaran (2020–2025) yang kini menjabat sebagai Bandesa Alitan Majelis Desa Adat Kecamatan Kuta Selatan (2025–2030).
Klaim tersebut didasarkan pada perjalanan aliran air dari Batur yang ujung selatannya sampai ke Sanur. Daerah Badung Selatan tidak terjangkau, padahal beberapa sawah juga terdapat di seputar Kuta sebelum pariwisata booming. Kini sawah di Kuta antara ada dan tiada. Ia ada dalam tradisi Ngusaba Nini yang masih diimani. Tiada karena sawah yang disebut carik sudah menjadi carik kalih, tanda kalimat telah berakhir dalam tradisi aksara Bali. Tradisi manyi pun selesai. Anggapan untuk manyi sudah tidak dikenal anak-anak sekarang.
***
Saya bersyukur bisa membersamai Kemah Budaya Kader Pelestari Budaya Kabupaten Badung pada 27–29 Juli 2026 dengan salah satu lokusnya Pura Ulun Swi Jimbaran. Saat itulah, untuk pertama kalinya saya memasuki area Pura Ulun Swi Jimbaran.
Pelinggih utama di pura ini adalah Meru Tumpang 11 yang unik. Keunikannya, pada bagian tumpang paling bawah menyerupai gelebeg, tempat menyimpan padi, termasuk menyimpan sepingan padi yang disucikan, disebut Nini. Khas memang seperti tempat menyimpan padi yang terkoneksi dengan tradisi Ngusaba Nini di Jimbaran setiap Purnama Sasih Kalima.
Sementara itu, pujawali di Pura Ulun Swi Jimbaran dilaksanakan pada Jumat Paing Dungulan. Istimewanya, saat upacara Ngusaba Nini berbarengan dengan Nangluk Mrana di Jimbaran, juga dilaksanakan tradisi Melasti. Jadi, tradisi Melasti di Jimbaran berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada Purnama Sasih Kalima dan menjelang Nyepi, Sasih Kasanga.

Jika melihat dari sasih, Sasih Kalima dan Sasih Kasanga merupakan sasih transisi dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya. Dalam konteks Bali Selatan, menjelang Sasih Kalima hingga Kepitu biasanya digelar upacara Nangluk Mrana. Tujuan Nangluk Mrana dalam tradisi agraris adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi beserta ancangan-Nya agar tanaman di abian atau kebun terhindar dari hama pengganggu yang dapat mengakibatkan puso atau gagal panen.
Untuk itulah, “paica Ngusaba Nini di Pura Ulun Swi juga sampai ke pabian,” kata Jro Mangku Nyoman Suardana yang merangkap sebagai Ketua PHDI Kecamatan Kuta Selatan.
Terkait tradisi itulah, keberadaan Gedong Panangluk Mrana, stana Sang Hyang Ghana Pati, di Pura Ulun Swi Jimbaran menjadi hidup dan fungsional, sekaligus menegaskan bahwa upacara ini berbasis agraris tulen.
Pertanyaan kemudian timbul, dari mana sepingan padi dijadikan Nini? Perlu dicatat, sebelum tahun 1990-an, daerah pertanian Delod Ceking memiliki tradisi menanam Padi Gaga di tanah labak setahun sekali, selain menanam palawija yang mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan alami.
Tanah labak adalah sebutan untuk lahan pertanian yang tidak berbatu. Lapisan tanahnya tebal. Dalam pipil, tanah labak disebut tanah Kelas I. Di tanah labak, Padi Gaga tumbuh subur dan di sela-selanya ditanami jagung sebagai bentuk kecerdasan diversifikasi.

Pada Sasih Kawulu, padinya hamil. Orang Delod Ceking menyebutnya meling padi saat pujawali di Pura Gunung Payung digelar, yakni pada Purnama Kawulu.
Pura Ulun Swi Jimbaran terdiri atas dua mandala, yakni Utama Mandala dan Jaba Sisi. Menurut Jro Mangku Nyoman Nampus, pura ini luasnya mencapai hampir 1 hektare dengan beraneka pelinggih. Jarak antarpelinggih berjauhan.
Pelinggih utama, Meru Tumpang 11, diapit dua papelik, yakni Bale Pelik linggih Sang Hyang Wenang dan Bale Pelik Hyang Susunan. Menurut I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra, Gedong Susunan, stana Sang Hyang Rambut Sedana, lebih dahulu ada dibandingkan Meru Tumpang 11 sebagai titah Raja Mengwi.
Selain itu, di Pura Ulun Swi Jimbaran terdapat Gedong Penangluk Mrana, stana Sang Hyang Ghana Pati; Gedong Taksu, stana Taksu Agung; Gedong Patirtan, stana Bhatara Wisnu; Gedong Pawalang Camah; Gedong Tumpang, stana I Gusti Ngurah Tangkeb Langit; Gedong Panyawangan, stana Ratu Gede Dalem Prancak; Bale Eka Dasa Ludra; Pralina Suci; serta gedong linggih Ida Dewa Ayu ketika ada puwus terkait aci Ida Dewa Ayu lunga nyarengin pamargi ring Uluwatu.
Rauh saking Pura Uluwatu, selama enam bulan Ida Dewa Ayu ngadeg ring gedong wewidangan Pura Ulun Swi. Bila tidak ada puwus, Ida Dewa Ayu malinggih di Pura Parerepan Desa Adat Jimbaran. Jejak perjalanan ini menjadi menarik karena para pemundut dan pengiring berjalan kaki mengular dari Jimbaran ke Pura Uluwatu (pulang-pergi) dan masanekan di Pura Parerepan Desa Adat Pecatu.

Selain itu, yang unik di pura ini juga terdapat Pralina Suci yang dimanfaatkan untuk ngeseng (mralina) puspa atau sekar (bunga) yang sebelumnya dipakai untuk ngias Ida Bhatara. Hari mralina-nya pun konsisten, yakni saat Tumpek Uye yang biasa disebut Tumpek Kandang.
Di Delod Ceking, Tumpek Kandang identik dengan Tumpek Sampi yang digunakan untuk nenggala di abian, berelasi kuat dengan tradisi agraris.
Keunikan lain, di Pura Ulun Swi Jimbaran, abian terasa menyatu dengan wewidangan pura. Di sebelah utara Pralina Suci terdapat tanaman tebu dan silik, sedangkan di sebelah selatan terdapat tanaman ubi yang tampaknya juga terkait dengan kebutuhan upacara agama, selain berfungsi sebagai tanaman upakara sekaligus pelestarian lingkungan.
Terdapat pula semer (sumur) sebagai sumber tirta amerta di sebelah selatan pintu masuk pura.
Keunikan lain, pemedek tidak diizinkan memasuki area pura pada saat Buda Kliwon dan Buda Wage. Jadi, tidak ada umat yang menghaturkan banten saat Galungan di Pura Ulun Swi Jimbaran.
“Buda Kliwon dan Buda Wage adalah hari libur pemangku. Dua hari dalam sebulan, pemangku Pura Ulun Swi Jimbaran libur,” kata Jro Mangku Nyoman Nampus sambil berkelakar. Ia mengaku menjadi pemangku secara turun-temurun.
Sama halnya dengan Pura Goa Gong yang juga terletak di Desa Adat Jimbaran, pura tersebut tidak melayani persembahyangan umat setiap hari Rabu (Buda) dengan alasan waktu Dang Hyang Dwijendra mayoga semadi, sebagaimana dituturkan Jro Mangku Made Sukanta, Pemangku Pura Goa Gong.
Jika demikian, boleh jadi hubungan Pura Goa Gong dengan Pura Ulun Swi Jimbaran adalah hubungan sunya untuk meneng mengening, mengheningkan cipta, rasa, dan karsa untuk berefleksi dalam konteks pembelajaran masa kini. Kesempatan bagi umat untuk muruk dan malajah.

“Muruk dadi bisa, malajah dadi nawang,” kata I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra. Ada ne dadi diastu sing bisa. Ada masi ane bisa sing dadi. Idealnya, dadi lan bisa macepuk.
I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra, mantan Bandesa Jimbaran yang sekarang menjabat sebagai Bandesa Alitan Kecamatan Kuta Selatan (2025–2030), menyebutkan Pura Ulun Swi Jimbaran terkait dengan Pura Taman Ayun yang dibangun pada tahun 1634 M, sedangkan Pura Ulun Swi dibangun pada tahun 1630 M dengan Candra Sangkala Sunia Rasa Sudhaning Wong, sebagaimana diterimanya dari almarhum I Nyoman Sukada, mantan Ketua PHDI Badung.
Jadi, Pura Ulun Swi Jimbaran lebih tua daripada Pura Taman Ayun. Tampaknya, itu pula sebabnya Keluarga Besar Puri Ageng Mengwi memiliki kewajiban niskala terhadap Pura Ulun Swi Jimbaran, dengan tetap merawat dan memuliakan Pura Taman Ayun yang dilengkapi taman air sebagai representasi pengaturan air dalam tradisi subak.
I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra juga mengatakan Pura Ulun Swi Jimbaran dipugar terakhir pada tahun 2002 dengan tetap mempertahankan tinggi bebataran dan bentuk Meru sebagai pokok. Sayangnya, pemugaran demi pemugaran yang pernah dilakukan tidak dilengkapi prasasti penanda, seperti yang dilakukan di Pura Geger Dalem Pemutih.
Prasasti itu penting untuk menyediakan literasi sejarah bagi generasi masa depan. Jadi, dalam pemugaran pura pun, kesadaran literasi perlu dibangun.
I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra mengatakan penandanya tersembunyi di pintu gerbang bagian dalam. Jadi, tidak dituangkan secara eksplisit dalam bentuk prasasti yang ditatah dengan tinta emas di atas marmer pada umumnya.
***
Kembali ke Pura Ulun Swi Jimbaran. Saat pemugaran, bebataran Meru beserta bahan-bahannya tetap dipertahankan apabila masih kuat, sedangkan bagian yang rusak diganti dengan bahan baru. Kiblat persembahyangan di Pura Ulun Swi Jimbaran sama dengan Pura Uluwatu, yakni menghadap ke arah barat. Tinggi bebataran masing-masing pelinggih juga mirip dengan tinggi bebataran pelinggih-pelinggih di Pura Uluwatu.
Bahkan, I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra mengatakan hanya di Pura Ulun Swi Jimbaran dan Pura Uluwatu kiblat persembahyangan menghadap ke barat. Pernyataan ini menarik karena kedua pura berada dalam satu kecamatan, yang satu di ketinggian bukit dan satunya lagi di dataran rendah. Jimbaran memiliki keduanya: ketinggian dan dataran. Keduanya juga berdekatan dengan laut.

Dilihat dari topografi wilayah, Jimbaran yang berada di sebelah utara Pecatu dan posisi Pura Ulun Swi di dataran, dapat dipastikan Jimbaran lebih dahulu mendapat sentuhan orang-orang yang lewat. Pasalnya, melalui Jalan Uluwatu di jaba Pura Ulun Swi Jimbaranlah satu-satunya jalan menuju Pura Uluwatu pada mulanya. Bedanya, keberadaan air di Jimbaran pasti mencukupi, sedangkan Pecatu tidak memiliki sumber air, kecuali saat hujan turun. Itu dulu. Kini sudah berbeda.
Pertanyaan kembali kepada Pura Ulun Swi Jimbaran yang disebut Pura Kahyangan Jagat, tetapi panyungsung-nya hanya krama Desa Adat Jimbaran. Berbeda dengan Pura Geger Dalem Pemutih yang juga berstatus Pura Kahyangan Jagat dan disungsung oleh beberapa desa adat, bahkan lintas kabupaten oleh Desa Adat Sumerta di Denpasar, terkait dengan keberadaan Sekaa Unen.
Sejarah penaklukan Jimbaran yang dahulu merupakan wilayah hutan luas oleh Raja Mengwi tampaknya menjadi alasannya. Di antara sembilan desa adat di Kecamatan Kuta Selatan, Jimbaran pada awalnya merupakan hutan luas (Jimbarwana). Kini, Jimbaran menjadi desa adat terluas dan berbatasan dengan sejumlah desa adat, yakni Bualu, Kampial, Kutuh, Ungasan, Pecatu, dan Kedonganan.
Sementara itu, hubungan subak dengan krama Delod Ceking di luar Desa Adat Jimbaran terfasilitasi oleh desa adat masing-masing, sebagaimana tersirat melalui keberadaan Pura Uma Sang Hyang di Kutuh, Ungasan, dan Pecatu.
Ibarat masuk ke tengah hutan lebat, Jimbaran tentu kaya dengan flora, fauna, dan biota laut yang berkearifan lokal sebagai sumber literasi yang perlu terus-menerus dijaring. Ibarat rak buku, raknya tidak dikunci. Bukunya terus-menerus dibuka dan dibaca, dicermati, lalu dimaknai dan diaplikasikan dalam laku hidup sehari-hari.
Mari berguru ke Jimbaran, memperluas cakrawala harapan di tengah-tengah turbulensi perubahan yang tidak terduga. Semoga Bali baik-baik saja dari saraf Kaki Bali yang kuat kukuh berdiri tegak menopang badan dan kepala.
Salam Bali Dwipa Jaya, dari Gumi Delod Ceking![T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto






























