DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan yang saling berhadapan, sementara cahaya lembut menyinari warna-warna cat air yang seolah masih basah. Tak ada sekat yang benar-benar memisahkan satu karya dengan karya lainnya. Seperti air yang terus mengalir, setiap lukisan tampak menyambung sebuah cerita—tentang perjumpaan, perjalanan, dan cinta yang tumbuh perlahan.
Pameran itu bertajuk Sinergi Air: Our Resonance Flows. Bagi dua perupa yang menggelarnya, I Wayan Suma Bagia dan Ni Kadek Novi Sumariani, pameran ini bukan sekadar ruang memamerkan karya. Ia adalah hadiah pernikahan yang mereka persembahkan untuk diri sendiri, sebuah penanda perjalanan dua seniman yang memilih menjalani kehidupan bersama tanpa pernah berhenti berkarya.
Sebanyak 23 karya dipamerkan di Room8 Art & Project. Judul Our Resonance Flows menjadi metafora yang sederhana sekaligus dalam: dua aliran air yang berasal dari hulu berbeda, bertemu, lalu mengalir menuju muara yang sama. Begitulah mereka memaknai perjalanan hidup, cinta, dan proses kreatif yang kini tak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Pameran dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Drs. I Wayan Swandi, M.Si., Wakil Direktur III Politeknik Bali Maha Werdhi, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Sejumlah seniman, akademisi, kolektor, dan pegiat seni rupa memenuhi galeri. Namun sebelum seremoni dimulai, suasana terlebih dahulu dibangun melalui pembacaan puisi oleh Ganes dan Silvia.

Puisi itu berkisah tentang pertemuan air tawar dan air laut. Dua unsur yang lahir dari tempat berbeda, memiliki rasa yang tak sama, tetapi akhirnya bertemu tanpa saling meniadakan. Keduanya justru melahirkan kehidupan baru. Metafora itu menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan pameran: tentang dua pribadi yang memilih hidup berdampingan tanpa kehilangan jati dirinya masing-masing.
Sesungguhnya, kisah Sinergi Air telah dimulai jauh sebelum kedua seniman itu menikah.
Awalnya hanya sebuah percakapan pada 2019, sepulang Novi menghadiri sebuah kegiatan di Ubud. Malam itu ia bercerita panjang tentang seseorang yang baru dikenalnya. Cerita itu mengalir tanpa terasa—tentang cara orang tersebut berpikir, karya-karyanya, hingga rasa penasaran yang terus mengikutinya sepanjang malam. Sosok yang diceritakan itu adalah Suma.
Percakapan mengenai Suma rupanya tidak pernah benar-benar usai. Hari demi hari, cerita itu terus bertambah, seiring keduanya semakin mengenal satu sama lain. Hubungan mereka tumbuh perlahan, sebagaimana sebuah karya seni yang memerlukan waktu untuk menemukan bentuknya. Hingga akhirnya, perjalanan itu bermuara pada sebuah pernikahan.

Selama bertahun-tahun menyaksikan perjalanan tersebut, keduanya juga bertumbuh sebagai seniman. Cara mereka berkarya berbeda, tetapi justru saling melengkapi.
Suma memulai penciptaan dari gagasan yang perlahan menemukan bentuk. Sebaliknya, Novi memulai dari bentuk yang kemudian menemukan makna. Perbedaan itu tidak pernah menjadi jarak. Justru di sanalah keduanya belajar bahwa mengenali orang lain sesungguhnya berawal dari keberanian mengenali diri sendiri.
Dalam diri Novi, Suma menemukan keberanian, empati, kebebasan, dan ketenangan. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Delapan karya yang ia tampilkan dalam pameran ini menjadi ungkapan syukur kepada sosok yang telah membantunya melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Novi menempuh jalan yang lain. Inspirasinya lahir dari pengalaman-pengalaman sederhana yang kerap luput diperhatikan. Sulur bunga telang di halaman rumah, morning glory yang menjalar di sebuah restoran, tomat yang mereka rawat sejak masih berupa benih, perjalanan-perjalanan kecil, hingga perjumpaannya dengan Suma, semuanya berubah menjadi bahasa visual yang hangat sekaligus puitis.

Imajinasi Novi tumbuh dari keseharian. Hal-hal yang tampak biasa menjelma menjadi karya yang mengajak penonton berhenti sejenak, memperhatikan kehidupan dengan lebih perlahan. Dari situlah Sinergi Air menemukan maknanya: dua cara pandang yang berbeda, tetapi mengalir menuju ruang yang sama.
Tanggal pembukaan pameran pun dipilih dengan penuh pertimbangan. Mereka membuka pameran pada 1 Agustus 2026, sebagai kebalikan dari tanggal pernikahan mereka, 8 Januari 2026. Tanggal itu sekaligus menandai tujuh tahun sejak keduanya pertama kali menggelar pameran bersama ketika masih berstatus sepasang kekasih.
Waktu ternyata tidak mengubah cara mereka berkarya. Sebaliknya, waktu justru memperdalam cara mereka saling memahami. Setiap karya yang lahir menjadi jejak perjalanan yang dibangun melalui percakapan, kesabaran, dan kepercayaan untuk terus bertumbuh bersama.
Barangkali, di situlah Sinergi Air menemukan maknanya yang paling sederhana. Bahwa cinta tidak selalu hadir melalui kata-kata. Kadang ia menjelma menjadi warna, garis, bunga, cahaya, hutan, akar, atau selembar kertas yang disentuh kuas. Dan ketika seluruh karya itu dipertemukan dalam satu ruang, pengunjung tidak hanya melihat lukisan, tetapi juga membaca kisah dua manusia yang memilih mengalir bersama, seperti air yang akhirnya menemukan muaranya.
Cara Membaca Kehidupan
Meski kini dikenal sebagai pasangan perupa, Suma dan Novi datang dari perjalanan artistik yang berbeda.
I Wayan Suma Bagia, yang juga dikenal dengan nama Teratai Api, telah lama menekuni seni rupa, komik, dan ilustrasi. Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tahun 2012 itu aktif di berbagai komunitas kreatif seperti Urban Sketchers Bali, Bali Watercolorist, dan Jong Sarad. Ia juga mendirikan komunitas komik Comicotopia yang hingga kini rutin mengikuti berbagai festival komik di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.
Di sisi lain, Ni Kadek Novi Sumariani tumbuh sebagai seniman yang gemar bereksperimen. Sejak menempuh pendidikan di Institut Desain dan Bisnis Bali pada 2015, ia aktif mengikuti berbagai pameran bersama komunitas seni seperti Bali Megarupa, Urban Sketchers Bali, dan Bali Watercolorist. Di luar aktivitas berkesenian, Novi juga mengembangkan Buana Alit, sebuah usaha kreatif yang mengolah karya seni dan limbah kertas menjadi produk bernilai artistik.

Perbedaan latar belakang itu justru menjadi kekuatan dalam pameran ini. Alih-alih melebur menjadi satu gaya, keduanya memilih mempertahankan bahasa visual masing-masing. Yang menyatukan mereka bukanlah teknik atau medium, melainkan cara memandang kehidupan.
Gagasan itu kemudian diterjemahkan ke dalam ruang pamer.
Sinergi Air dibagi menjadi dua bagian yang saling berhubungan, yakni Ruang Harmoni dan Ruang Disharmoni. Jika Ruang Harmoni berbicara tentang perjumpaan, saling memahami, dan keseimbangan, maka Ruang Disharmoni mengungkap sisi yang lebih sunyi: kegelisahan, keraguan, harapan, hingga luka yang pernah mereka alami sebagai manusia maupun seniman.
Pengunjung pertama kali diajak memasuki Ruang Harmoni.
Di ruang ini, enam belas karya cat air berukuran 27,5 x 36,5 sentimeter dipasang berjajar secara simetris. Tidak ada penanda yang menempatkan karya Suma selalu di atas atau karya Novi selalu di bawah. Posisinya bergantian, seolah ingin mengatakan bahwa dalam hubungan mereka tidak ada satu pihak yang lebih tinggi daripada yang lain.
“Di ruang harmoni, karya kami dipasang saling melengkapi. Kadang karya Novi di atas, kadang karya saya. Itu menggambarkan bahwa dalam hubungan kami tidak selalu satu orang yang dominan. Kami saling mengisi dan menjaga keseimbangan,” ujar Suma.
Menariknya, seluruh karya di ruang ini diciptakan secara terpisah. Tidak ada kesepakatan mengenai tema, objek, maupun komposisi. Namun ketika dipasang berdampingan, karya-karya itu justru seperti saling menjawab, menghadirkan kesan bahwa keduanya lahir dari satu percakapan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.

Salah satu karya yang paling mencuri perhatian adalah Fire Lotus.
Lukisan itu menampilkan seorang anak laki-laki yang berada di dalam perut seorang perempuan, dikelilingi kobaran api. Sekilas tampilannya terasa surealis, tetapi di baliknya tersimpan kisah yang sangat personal.
Melalui karya tersebut, Suma menggambarkan Novi sebagai sosok perempuan yang berani. Sebaliknya, ia mengakui dirinya lebih sering dikuasai rasa takut. Sosok anak kecil di dalam perut perempuan itu merupakan representasi dirinya sendiri, sedangkan api melambangkan keberanian yang ia temukan dalam diri sang istri.
“Pemberani itu bukan orang yang secara natural tidak takut menghadapi apa pun, tetapi orang yang berani menghadapi ketakutannya. Saya mengibaratkan diri sebagai anak yang berada di dalam perut Novi, dikelilingi api keberanian yang ia salurkan kepada saya,” ujarnya.
Karya lain yang tak kalah menarik adalah Sun–Moon.
Lukisan ini memperlihatkan sosok perempuan dengan mata terpejam. Di satu sisi kepalanya hadir figur Barong, sementara di sisi lain berdiri Rangda. Di bagian atas bermekaran bunga matahari dan bunga lotus, sedangkan matahari dan bulan ditempatkan pada dua sudut yang saling berhadapan.
Seluruh simbol itu menjadi cara Suma membaca hubungan mereka.

Matahari dan bulan melambangkan dua pribadi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Barong dan Rangda menghadirkan keseimbangan antara dua kekuatan. Api dan air berbicara tentang karakter yang berlainan. Begitu pula bunga matahari dan lotus. Bunga matahari merupakan bunga favorit Novi, sedangkan lotus telah lama menjadi simbol yang lekat dengan identitas artistik Suma.
“Saya lebih banyak diam dan cenderung senang berada di rumah. Novi justru lebih terbuka, senang bertemu orang, berdiskusi, dan memiliki banyak pengalaman. Perbedaan itu membuat kami saling belajar,” tuturnya.
Melalui Bloom, Suma kembali berbicara tentang rasa syukur. Sosok perempuan yang menangkupkan kedua tangan di atas kepala, dikelilingi bunga-bunga yang bermekaran, menjadi simbol terima kasih karena telah dipertemukan dengan seseorang yang mengubah hidupnya.
Sementara Mirror of Compassion berbicara tentang empati. Sebuah cermin besar hadir sebagai metafora kemampuan memahami luka dan perasaan orang lain tanpa harus mengalami pengalaman yang sama. Sebuah nilai yang, menurut Suma, ia pelajari dari perjalanan hidup bersama Novi.
Di tangan Suma, setiap lukisan tidak hanya menjadi objek visual. Ia berubah menjadi catatan batin tentang cinta, ketakutan, keberanian, dan rasa syukur—hal-hal yang sering kali sulit diucapkan dengan kata-kata, tetapi dapat dibaca melalui warna, simbol, dan garis-garis yang memenuhi kanvas.
Membaca Alam, Membaca Diri
Jika karya-karya Suma berangkat dari pengalaman batin yang personal, Novi justru mengajak pengunjung memasuki dunia yang lebih dekat dengan alam. Baginya, inspirasi tidak selalu datang dari peristiwa-peristiwa besar. Ia lahir dari hal-hal yang tumbuh pelan di sekitar kehidupan sehari-hari: bunga yang mekar di halaman rumah, tanaman yang dirawat sejak masih berupa benih, perjalanan singkat, hingga perjumpaan dengan orang-orang yang kemudian mengubah cara memandang hidup.
Cara pandang itu membuat karya-karya Novi terasa akrab. Ia tidak berusaha menghadirkan alam sebagai lanskap yang indah semata, melainkan sebagai ruang tempat manusia belajar mendengarkan dirinya sendiri.

Melalui Sulur Telang, misalnya, Novi menghadirkan sosok perempuan yang hidup dalam keheningan hutan, ditemani sulur-sulur bunga telang yang terus merambat. Di balik rimbun dedaunan itu, ia seperti ingin mengatakan bahwa alam selalu menyediakan ruang bagi siapa pun yang ingin pulih, bertumbuh, dan berdamai dengan dirinya.
Gagasan serupa muncul dalam Penjaga Rerambatan. Sosok penjaga hutan hidup berdampingan dengan tanaman morning glory yang menjalar tanpa henti. Keindahan bunga-bunganya tidak hadir sebagai hiasan, melainkan sebagai lambang ketangguhan. Dari tanaman yang terus merambat itu, Novi membaca bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bertumbuh.
Dalam Merajut Perjalanan, pengalaman berjalan bersama seseorang menjadi titik awal sebuah kisah. Langkah demi langkah membangun kenangan yang suatu hari akan dikenang kembali. Sementara Percakapan di Kebun Harapan bertutur tentang sebutir benih yang perlahan berubah menjadi buah. Percakapan, kesabaran, dan waktu dipertemukan dalam satu komposisi visual yang mengingatkan bahwa tidak ada pertumbuhan yang berlangsung secara instan.
Pengalaman menanam sayuran di rumah pun menjelma menjadi karya. Lewat Perjalanan di Kebun Timun, Novi mengajak penonton merenungkan bahwa setiap benih menyimpan kemungkinan yang berbeda. Tidak semuanya tumbuh, tidak semuanya berbuah. Namun setiap benih yang bertahan selalu membawa harapan baru. Kesabaran menjadi bagian dari proses yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.


Karya-karya dalam pameran Sinergi Air: Our Resonance Flows di Room8 Art & Project | Foto: tatkala.co/Budarsana
Nuansa yang lebih kontemplatif hadir melalui Terbang Menuju Temu dan Hening di Atas Lotus. Yang pertama lahir dari ingatan tentang sebuah senja yang menjadi awal perjumpaan penting dalam hidupnya. Yang kedua mengajak penonton menikmati keheningan sebagai ruang untuk kembali mendengarkan suara hati. Dalam karya-karya ini, Novi tidak banyak berbicara tentang peristiwa, melainkan tentang rasa.
Sementara melalui Dialog dengan Pohon Tua, ia memosisikan alam sebagai guru. Pohon tua menjadi lambang kebijaksanaan yang terus bertahan melintasi waktu. Melalui meditasi dan keheningan, manusia diajak menyadari bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar, tetapi justru dari kesabaran, keseimbangan, dan ketulusan yang dipelihara setiap hari.
Ruang yang Menyimpan Luka
Setelah melewati Ruang Harmoni, pengunjung memasuki ruang berikutnya yang suasananya terasa berbeda.
Jika ruang pertama berbicara tentang perjumpaan dan keseimbangan, maka Ruang Disharmoni memperlihatkan sisi kehidupan yang lebih rapuh. Di sinilah harapan, kebingungan, kegelisahan, trauma, hingga keputusasaan memperoleh tempat untuk diungkapkan.
Di sisi kanan ruangan, Novi menghadirkan tiga karya yang seluruhnya berbicara tentang ingatan.

Karya-karya dalam pameran Sinergi Air: Our Resonance Flows di Room8 Art & Project | Foto: tatkala.co/Budarsana
Karya Memori, berukuran 50 x 50 sentimeter dan dibuat dari potongan-potongan kertas daur ulang berwarna-warni, menggambarkan bagaimana kehidupan sesungguhnya tersusun dari serpihan pengalaman. Setiap sobekan kertas adalah kenangan, setiap lapisan adalah jejak waktu, dan setiap warna menyimpan emosi yang berbeda. Sebagian mungkin telah memudar, tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari diri seseorang.
Di sampingnya terdapat Jejak Bertaut, sebuah karya berukuran 20 x 20 sentimeter yang menyusun titik-titik warna menjadi kisah perjalanan hidup. Bagi Novi, hidup bukan dibangun oleh satu peristiwa besar, melainkan oleh banyak pengalaman kecil yang saling bertaut hingga membentuk makna.
Sementara Mengalir Asa menghadirkan optimisme. Komposisi titik-titik warna yang tampak sederhana justru melambangkan harapan yang terus bergerak. Semangat, ketenangan, dan keyakinan bertemu menjadi satu aliran yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Berhadapan dengan karya-karya Novi, Suma menghadirkan tiga karya digital print di atas kain katun berukuran 30 x 80 sentimeter yang disusun vertikal seperti gulungan naskah.
Ketiganya membentuk satu rangkaian emosional.
Desire berbicara tentang hasrat besar untuk berkarya, sebuah dorongan yang pada akhirnya justru membuat dirinya kehilangan keseimbangan.
Hasrat itu kemudian berkembang menjadi Delirium, ketika terlalu banyak gagasan datang bersamaan hingga membuat pikiran kehilangan arah. Di titik inilah kreativitas tidak lagi terasa membebaskan, melainkan melelahkan.
Rangkaian tersebut berakhir pada Despair, sebuah karya yang memvisualisasikan trauma dan keputusasaan sebagai monster yang tumbuh dari dalam diri. Alih-alih menyembunyikan sisi gelap tersebut, Suma memilih menghadapinya dan menjadikannya bagian dari perjalanan kreatif.
Di tengah kedua sisi ruangan itu, sebuah karya kolaborasi dipasang sebagai penutup sekaligus pengikat seluruh cerita. Karya tersebut berjudul Benang Merah.


Karya-karya dalam pameran Sinergi Air: Our Resonance Flows di Room8 Art & Project | Foto: tatkala.co/Budarsana
Judulnya sederhana, tetapi menyimpan perjalanan yang panjang. Pada 2019, setelah menggelar pameran bersama untuk pertama kalinya, Suma dan Novi berjanji suatu hari akan kembali menghadirkan karya dalam satu ruang. Janji itu baru benar-benar terwujud setelah mereka menikah.
Benang merah dalam karya tersebut bukan hanya simbol keterhubungan dua seniman. Ia juga menjadi lambang perjalanan waktu, percakapan yang tidak pernah berhenti, serta keberanian untuk terus bertumbuh bersama.
Sampai di sini, Sinergi Air tidak hanya berbicara tentang dua perupa yang memamerkan karya dalam satu galeri. Pameran ini menunjukkan bahwa kehidupan bersama tidak berarti melebur menjadi satu sosok yang sama. Sebaliknya, seperti air yang mempertemukan dua aliran tanpa menghilangkan asal-usulnya, cinta memberi ruang bagi setiap pribadi untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya setiap karya di pameran ini terasa begitu personal. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati komposisi warna, bentuk, dan simbol, tetapi juga menyaksikan bagaimana cinta dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual. Di ruang-ruang itulah, seni dan kehidupan saling bertemu, saling mengalir, lalu menyatu menjadi satu kisah yang utuh.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























