30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
in Pameran
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Pramana dengan latar karya After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi tersebut dibangun pada masa kolonial. Persoalan itulah yang diangkat seniman muda asal Jembrana, Bali, Agung Pramana, melalui instalasi After Exotic 1931 yang dipamerkan dalam ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (19 Juni – 30 Agustus 2026).

Agung membawa instalasi yang terdiri atas 336 karya cetak cyanotype (alternative photography). Seluruh dinding ruangan dipenuhi karya-karya cetak berwarna biru yang tersusun rapat. Menampilkan arsip patung-patung Bali dalam bentuk cetak cyanotype, lengkap dengan garis-garis ukur yang identik dengan dokumentasi teknis.

Karya tersebut berangkat dari arsip kolonial tentang Bali dan mengangkat isu kolonialisme, dekolonialisme, serta bagaimana eksotisme Bali dibangun melalui representasi visual.

Isu tersebut memang menjadi benang merah dalam praktik berkaryanya. Agung banyak mengeksplorasi sejarah budaya Bali beserta konsekuensinya terhadap kehidupan sosial masyarakat. Karya-karyanya membahas hubungan antarmanusia dan budaya, pariwisata, hingga dampak kolonialisme terhadap seni dan masyarakat. Dalam prosesnya, ia memadukan tradisi cetak grafis dengan pendekatan kontemporer untuk menawarkan cara pandang baru terhadap warisan budaya Bali.

After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

 

Judul After Exotic 1931 sendiri merujuk pada Pameran Kolonial Paris 1931, sebuah peristiwa yang menjadi titik penting dalam membentuk persepsi Barat terhadap budaya non-Eropa, termasuk Bali. Saat itu, para pejabat kolonial dan misionaris mengumpulkan berbagai objek serta artefak Bali yang kemudian menjadi bagian dari koleksi museum-museum di Eropa, salah satunya Tropenmuseum di Amsterdam.

Melalui koleksi tersebut, Bali dipromosikan dengan budaya yang ‘eksotis’. Penekanan diberikan pada keindahan visual dan estetikanya, sementara dimensi sosial, sejarah, serta relasi kuasa yang melingkupinya justru acap diabaikan. Berangkat dari sejarah itulah Agung mengajak publik membuka kembali narasi yang selama ini dianggap mapan.

Dalam karya ini, arsip patung-patung Bali dipetakan ulang, kemudian dihadirkan dalam bentuk cetak cyanotype. Pilihan medium tersebut bukan tanpa alasan. Cyanotype memiliki keterkaitan historis dengan praktik kolonial karena banyak digunakan dalam pembuatan cetak biru konstruksi maupun dokumentasi arkeologi di wilayah-wilayah jajahan.

Lewat medium yang pernah menjadi bagian dari sistem kolonial itu, Agung berupaya membongkar cara kerja kolonial dalam membangun citra Bali. Pengulangan gambar, reproduksi yang sengaja dibuat kabur, hingga susunan karya yang memenuhi ruang menjadi simbol untuk mengaburkan otoritas sejarah resmi sekaligus mengkritik logika eksotifikasi yang terus diwariskan. Dengan demikian, karya ini tidak sekadar mereproduksi arsip, tetapi juga mengungkap celah-celah di dalamnya agar dapat ditafsirkan kembali oleh generasi masa kini.

After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

Keikutsertaan Agung di ARTJOG 2026 menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Kesempatan itu bermula ketika ia mengikuti program Open Call yang dikuratori Farah Wardani. Dari proses tersebut, ia kemudian terpilih sebagai salah satu nominasi Young Artist Award.

“Pencapaian ini bukan semata bentuk pengakuan, melainkan ruang untuk menguji relevansi praktik artistik yang selama ini aku kembangkan dalam konteks seni rupa kontemporer,” ujarnya.

Selama mengikuti ARTJOG, Agung mengaku memperoleh banyak pengalaman baru. Ia bertemu dengan berbagai seniman yang memiliki pendekatan artistik berbeda dan mendapatkan banyak masukan yang memperkaya cara pandangnya terhadap karya sendiri. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat praktik berkarya dari perspektif yang lebih luas.

“Pengalaman mengikuti ARTJOG menjadi proses yang sangat berharga. Aku berharap gagasan yang aku angkat, terutama yang berkaitan dengan sejarah, kolonialisme, dan konstruksi representasi, dapat membuka ruang dialog serta memiliki relevansi bagi publik,” katanya.

After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

Agung Pramana, pemuda kelahiran 1998 ini memang dikenal sebagai pegrafis dan seniman cetak. Sebelum tampil di ARTJOG 2026, ia telah menggelar pameran tunggal Print-Mapping: Decolonial Axis di SIKA Gallery, Ubud, serta mengikuti berbagai pameran bersama di Bali, Bandung, hingga Kuala Lumpur.

“Ke depan, aku akan terus mengeksplorasi medium cetak grafis sebagai fondasi praktik berkarya, sekaligus mendorongnya melampaui batas-batas konvensionalnya. Aku tertarik untuk memperluas kemungkinan medium ini melalui pendekatan yang lebih eksperimental, lintas disiplin, dan kontekstual, sembari terus terlibat dalam berbagai proyek pameran yang memungkinkan dialog baru antara karya, ruang, dan audiens,” ungkap Agung.

Di tengah tema besar ARTJOG 2026: ‘ARS LONGA – GENERATIO’, After Exotic 1931 menawarkan cara lain membaca sejarah. Alih-alih menerima arsip sebagai sesuatu yang utuh, Agung mengajak pengunjung mempertanyakan bagaimana sejarah ditulis, siapa yang membentuknya, dan bagaimana citra tentang Bali diwariskan dari generasi ke generasi.

Lewat 336 cetak cyanotype yang memenuhi ruangan, Agung tidak hanya menghadirkan instalasi yang menarik secara visual. Ia mengingatkan bahwa di balik citra Bali yang selama ini dikenal dunia, ada sejarah kolonial yang layak dibaca ulang dan terus dipertanyakan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: ArtjogPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Next Post

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Adwan SA
July 6, 2026
0
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

Read moreDetails

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

Read moreDetails
Next Post
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co