20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
in Pameran
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Pramana dengan latar karya After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi tersebut dibangun pada masa kolonial. Persoalan itulah yang diangkat seniman muda asal Jembrana, Bali, Agung Pramana, melalui instalasi After Exotic 1931 yang dipamerkan dalam ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (19 Juni – 30 Agustus 2026).

Agung membawa instalasi yang terdiri atas 336 karya cetak cyanotype (alternative photography). Seluruh dinding ruangan dipenuhi karya-karya cetak berwarna biru yang tersusun rapat. Menampilkan arsip patung-patung Bali dalam bentuk cetak cyanotype, lengkap dengan garis-garis ukur yang identik dengan dokumentasi teknis.

Karya tersebut berangkat dari arsip kolonial tentang Bali dan mengangkat isu kolonialisme, dekolonialisme, serta bagaimana eksotisme Bali dibangun melalui representasi visual.

Isu tersebut memang menjadi benang merah dalam praktik berkaryanya. Agung banyak mengeksplorasi sejarah budaya Bali beserta konsekuensinya terhadap kehidupan sosial masyarakat. Karya-karyanya membahas hubungan antarmanusia dan budaya, pariwisata, hingga dampak kolonialisme terhadap seni dan masyarakat. Dalam prosesnya, ia memadukan tradisi cetak grafis dengan pendekatan kontemporer untuk menawarkan cara pandang baru terhadap warisan budaya Bali.

After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

 

Judul After Exotic 1931 sendiri merujuk pada Pameran Kolonial Paris 1931, sebuah peristiwa yang menjadi titik penting dalam membentuk persepsi Barat terhadap budaya non-Eropa, termasuk Bali. Saat itu, para pejabat kolonial dan misionaris mengumpulkan berbagai objek serta artefak Bali yang kemudian menjadi bagian dari koleksi museum-museum di Eropa, salah satunya Tropenmuseum di Amsterdam.

Melalui koleksi tersebut, Bali dipromosikan dengan budaya yang ‘eksotis’. Penekanan diberikan pada keindahan visual dan estetikanya, sementara dimensi sosial, sejarah, serta relasi kuasa yang melingkupinya justru acap diabaikan. Berangkat dari sejarah itulah Agung mengajak publik membuka kembali narasi yang selama ini dianggap mapan.

Dalam karya ini, arsip patung-patung Bali dipetakan ulang, kemudian dihadirkan dalam bentuk cetak cyanotype. Pilihan medium tersebut bukan tanpa alasan. Cyanotype memiliki keterkaitan historis dengan praktik kolonial karena banyak digunakan dalam pembuatan cetak biru konstruksi maupun dokumentasi arkeologi di wilayah-wilayah jajahan.

Lewat medium yang pernah menjadi bagian dari sistem kolonial itu, Agung berupaya membongkar cara kerja kolonial dalam membangun citra Bali. Pengulangan gambar, reproduksi yang sengaja dibuat kabur, hingga susunan karya yang memenuhi ruang menjadi simbol untuk mengaburkan otoritas sejarah resmi sekaligus mengkritik logika eksotifikasi yang terus diwariskan. Dengan demikian, karya ini tidak sekadar mereproduksi arsip, tetapi juga mengungkap celah-celah di dalamnya agar dapat ditafsirkan kembali oleh generasi masa kini.

After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

Keikutsertaan Agung di ARTJOG 2026 menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Kesempatan itu bermula ketika ia mengikuti program Open Call yang dikuratori Farah Wardani. Dari proses tersebut, ia kemudian terpilih sebagai salah satu nominasi Young Artist Award.

“Pencapaian ini bukan semata bentuk pengakuan, melainkan ruang untuk menguji relevansi praktik artistik yang selama ini aku kembangkan dalam konteks seni rupa kontemporer,” ujarnya.

Selama mengikuti ARTJOG, Agung mengaku memperoleh banyak pengalaman baru. Ia bertemu dengan berbagai seniman yang memiliki pendekatan artistik berbeda dan mendapatkan banyak masukan yang memperkaya cara pandangnya terhadap karya sendiri. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat praktik berkarya dari perspektif yang lebih luas.

“Pengalaman mengikuti ARTJOG menjadi proses yang sangat berharga. Aku berharap gagasan yang aku angkat, terutama yang berkaitan dengan sejarah, kolonialisme, dan konstruksi representasi, dapat membuka ruang dialog serta memiliki relevansi bagi publik,” katanya.

After Exotic 1931 di ARTJOG 2026│Foto: Dok. AP

Agung Pramana, pemuda kelahiran 1998 ini memang dikenal sebagai pegrafis dan seniman cetak. Sebelum tampil di ARTJOG 2026, ia telah menggelar pameran tunggal Print-Mapping: Decolonial Axis di SIKA Gallery, Ubud, serta mengikuti berbagai pameran bersama di Bali, Bandung, hingga Kuala Lumpur.

“Ke depan, aku akan terus mengeksplorasi medium cetak grafis sebagai fondasi praktik berkarya, sekaligus mendorongnya melampaui batas-batas konvensionalnya. Aku tertarik untuk memperluas kemungkinan medium ini melalui pendekatan yang lebih eksperimental, lintas disiplin, dan kontekstual, sembari terus terlibat dalam berbagai proyek pameran yang memungkinkan dialog baru antara karya, ruang, dan audiens,” ungkap Agung.

Di tengah tema besar ARTJOG 2026: ‘ARS LONGA – GENERATIO’, After Exotic 1931 menawarkan cara lain membaca sejarah. Alih-alih menerima arsip sebagai sesuatu yang utuh, Agung mengajak pengunjung mempertanyakan bagaimana sejarah ditulis, siapa yang membentuknya, dan bagaimana citra tentang Bali diwariskan dari generasi ke generasi.

Lewat 336 cetak cyanotype yang memenuhi ruangan, Agung tidak hanya menghadirkan instalasi yang menarik secara visual. Ia mengingatkan bahwa di balik citra Bali yang selama ini dikenal dunia, ada sejarah kolonial yang layak dibaca ulang dan terus dipertanyakan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: ArtjogPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Next Post

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails
Next Post
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co