BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi tersebut dibangun pada masa kolonial. Persoalan itulah yang diangkat seniman muda asal Jembrana, Bali, Agung Pramana, melalui instalasi After Exotic 1931 yang dipamerkan dalam ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (19 Juni – 30 Agustus 2026).
Agung membawa instalasi yang terdiri atas 336 karya cetak cyanotype (alternative photography). Seluruh dinding ruangan dipenuhi karya-karya cetak berwarna biru yang tersusun rapat. Menampilkan arsip patung-patung Bali dalam bentuk cetak cyanotype, lengkap dengan garis-garis ukur yang identik dengan dokumentasi teknis.
Karya tersebut berangkat dari arsip kolonial tentang Bali dan mengangkat isu kolonialisme, dekolonialisme, serta bagaimana eksotisme Bali dibangun melalui representasi visual.
Isu tersebut memang menjadi benang merah dalam praktik berkaryanya. Agung banyak mengeksplorasi sejarah budaya Bali beserta konsekuensinya terhadap kehidupan sosial masyarakat. Karya-karyanya membahas hubungan antarmanusia dan budaya, pariwisata, hingga dampak kolonialisme terhadap seni dan masyarakat. Dalam prosesnya, ia memadukan tradisi cetak grafis dengan pendekatan kontemporer untuk menawarkan cara pandang baru terhadap warisan budaya Bali.

Judul After Exotic 1931 sendiri merujuk pada Pameran Kolonial Paris 1931, sebuah peristiwa yang menjadi titik penting dalam membentuk persepsi Barat terhadap budaya non-Eropa, termasuk Bali. Saat itu, para pejabat kolonial dan misionaris mengumpulkan berbagai objek serta artefak Bali yang kemudian menjadi bagian dari koleksi museum-museum di Eropa, salah satunya Tropenmuseum di Amsterdam.
Melalui koleksi tersebut, Bali dipromosikan dengan budaya yang ‘eksotis’. Penekanan diberikan pada keindahan visual dan estetikanya, sementara dimensi sosial, sejarah, serta relasi kuasa yang melingkupinya justru acap diabaikan. Berangkat dari sejarah itulah Agung mengajak publik membuka kembali narasi yang selama ini dianggap mapan.
Dalam karya ini, arsip patung-patung Bali dipetakan ulang, kemudian dihadirkan dalam bentuk cetak cyanotype. Pilihan medium tersebut bukan tanpa alasan. Cyanotype memiliki keterkaitan historis dengan praktik kolonial karena banyak digunakan dalam pembuatan cetak biru konstruksi maupun dokumentasi arkeologi di wilayah-wilayah jajahan.
Lewat medium yang pernah menjadi bagian dari sistem kolonial itu, Agung berupaya membongkar cara kerja kolonial dalam membangun citra Bali. Pengulangan gambar, reproduksi yang sengaja dibuat kabur, hingga susunan karya yang memenuhi ruang menjadi simbol untuk mengaburkan otoritas sejarah resmi sekaligus mengkritik logika eksotifikasi yang terus diwariskan. Dengan demikian, karya ini tidak sekadar mereproduksi arsip, tetapi juga mengungkap celah-celah di dalamnya agar dapat ditafsirkan kembali oleh generasi masa kini.

Keikutsertaan Agung di ARTJOG 2026 menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Kesempatan itu bermula ketika ia mengikuti program Open Call yang dikuratori Farah Wardani. Dari proses tersebut, ia kemudian terpilih sebagai salah satu nominasi Young Artist Award.
“Pencapaian ini bukan semata bentuk pengakuan, melainkan ruang untuk menguji relevansi praktik artistik yang selama ini aku kembangkan dalam konteks seni rupa kontemporer,” ujarnya.
Selama mengikuti ARTJOG, Agung mengaku memperoleh banyak pengalaman baru. Ia bertemu dengan berbagai seniman yang memiliki pendekatan artistik berbeda dan mendapatkan banyak masukan yang memperkaya cara pandangnya terhadap karya sendiri. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat praktik berkarya dari perspektif yang lebih luas.
“Pengalaman mengikuti ARTJOG menjadi proses yang sangat berharga. Aku berharap gagasan yang aku angkat, terutama yang berkaitan dengan sejarah, kolonialisme, dan konstruksi representasi, dapat membuka ruang dialog serta memiliki relevansi bagi publik,” katanya.

Agung Pramana, pemuda kelahiran 1998 ini memang dikenal sebagai pegrafis dan seniman cetak. Sebelum tampil di ARTJOG 2026, ia telah menggelar pameran tunggal Print-Mapping: Decolonial Axis di SIKA Gallery, Ubud, serta mengikuti berbagai pameran bersama di Bali, Bandung, hingga Kuala Lumpur.
“Ke depan, aku akan terus mengeksplorasi medium cetak grafis sebagai fondasi praktik berkarya, sekaligus mendorongnya melampaui batas-batas konvensionalnya. Aku tertarik untuk memperluas kemungkinan medium ini melalui pendekatan yang lebih eksperimental, lintas disiplin, dan kontekstual, sembari terus terlibat dalam berbagai proyek pameran yang memungkinkan dialog baru antara karya, ruang, dan audiens,” ungkap Agung.
Di tengah tema besar ARTJOG 2026: ‘ARS LONGA – GENERATIO’, After Exotic 1931 menawarkan cara lain membaca sejarah. Alih-alih menerima arsip sebagai sesuatu yang utuh, Agung mengajak pengunjung mempertanyakan bagaimana sejarah ditulis, siapa yang membentuknya, dan bagaimana citra tentang Bali diwariskan dari generasi ke generasi.
Lewat 336 cetak cyanotype yang memenuhi ruangan, Agung tidak hanya menghadirkan instalasi yang menarik secara visual. Ia mengingatkan bahwa di balik citra Bali yang selama ini dikenal dunia, ada sejarah kolonial yang layak dibaca ulang dan terus dipertanyakan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































