2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
in Pameran
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Wayan Gde Yudane dan I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Saat itu adalah pembukaan pameran tunggal perupa I Made Mahendra Mangku yang bertajuk “Yang Tersisa Dalam Air, Waktu, Keheningan, dan Jejak Kemunculan”.

Sebanyak 34 karya lukis cat air bergaya abstrak ekspresionis salah satu gaya lukisan yang sangat berpengaruh dengan berbagai ukuran mewarnai gallery yang dekat dengan Pantai Keramas itu. Pembukaan pameran dihadiri Owner Komaneka Gallery Pande Nyoman Wahyu Suteja, S.E., yang akrab disapa Koman Wahyu Suteja, budayawan Putu Suasta, M.A., seniman Marlowe Bandem, serta masyarakat seni dan wisatawan meramaikan acara seni itu.

I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pameran yang menyajikan karya lukisan berukuran cukup besar itu akan berlangsung selama sebulan hingga 20 Juli 2026. “Pameran tunggal ini adalah yang keempat di Komaneka Gallery. Kali ini, saya menampilkan karya lukis tentang ingatan-ingatan, kenangan saya terhadap alam itu sendiri, bagaimana kerusakan alam, pelestarian, semuanya ada di situ,” kata Mahendra Mangku.

Kenangannya terhadap alam itu menjadi dasar gagasan dari karya-karya yang disajikan kali ini, tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. Sebab, yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar, namun terasa dekat. “Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, saya membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan, bukan penguasaan,” lanjutnya.

Jika melihat keindahan dan pesan yang ada dalam karya itu, jelas gagasan-gagasan dari pameran itu muncul setelah Mahendra Mangku menggali kenangan-kenangan yang dialami, baik secara personal maupun nonpersonal, di dalam keheningan itu sendiri dan tentang waktunya itu sendiri. Pria yang pernah menempuh pendidikan seni di Yogyakarta itu sudah melakukan pameran di beberapa daerah. Pengalaman itu, memberikan banyak pengaruh terhadap cara berpikirnya. Salah satunya adalah cara pandang terhadap lingkungan itu sendiri.

Hampir semua karya yang dipamerkan itu gagasannya lahir dari cara pandangnya sendiri terhadap lingkungan itu. Namun, dari semua karya-karya sarat pesan itu, lukisan berjudul “Bersandar” yang dirasakan paling berkesan. Lukisan berjudul “Bersandar” itu ada dua yakni “Bersandar #1” dengan ukuran 56 cm x 78 cm dan “Bersandar #2” berukuran 31 cm x 41 cm, namun semuanya lukisan cat air di atas kertas yang dibuat tahun 2026.

I Made Mahendra Mangku bersama pengunjung pameran | Foto: tatkala.co/Budarsana

Sebagai orang lokal, Mahendra Mangku merasa ketakukan jika lahan itu hilang, dan alih fungsi lahan terus terjadi. Jika itu terjadi mau bagaimana, karena ketakutan terusir dari bumi kita sendiri. “Dalam karya Bersandar itu, saya tidak bermaksud mengkritisi tentang bagaimana lahan itu hilang, bagaimana itu berubah alih fungsi. Tetapi, saya mempunyai ketakutan karena lahan kita sudah habis,” akunya polos.

Lalu di pojok kiri, setelah memasuki ruang pameran, ada sebuah karya yang sangat indah didominasi warna biru, hijau dan unggu. Serta warna kuning, merah, coklat, putih dan hitam yang seakan menumpuk di laut luas. Karya itu berjudul “Terurai”. Dalam karya Terurai itu, Mahendra Mangku berusaha untuk mengurai kenangan-kenangan yang dialami dengan cara memilah mana yang harus dilakukan, mana yang harus diingat, mana yang tidak penting diingat. Termasuk kenangan ketika berpameran di Yogyakarta, Jakarta dan lainnya.

Cat air sebagai cara berpikir

Dikutip dari tulisan Wayan Gede Yudane, seorang komponis, disebutkan bahwa dalam karya-karya Mahendra Mangku, ruang kosong bukanlah ketiadaan, melainkan jeda. “Ia memberi kesempatan bagi mata untuk bernapas dan bagi penafsiran untuk berkembang. Karena itu, pameran ini mengajak kita bukan sekadar melihat bentuk, melainkan merasakan apa yang mengendap di baliknya: waktu, keheningan, dan jejak yang tertinggal setelah citra itu berlalu,” katan Yudane sebagaimana disampaikan dalam tulisannya.

Yudane, masih dikutip dari tulisannya, menjelaskan cat air kerap dianggap sebagai medium yang ringan, spontan, dan sekadar liris. Namun, dalam karya-karya Made Mahendra Mangku, cat air hadir sebagai cara berpikir: ruang tempat air, pigmen, dan waktu bernegosiasi membentuk bahasa visual yang rapuh sekaligus intens.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Ia bukan medium untuk menggambarkan dunia, melainkan untuk merasakan bagaimana dunia muncul, berubah, dan perlahan menghilang. Bagi Mahendra Mangku, air bukan sekadar unsur material, tetapi prinsip estetik sekaligus filosofis. Ia mengalir, merembes, mengaburkan batas, dan menolak bentuk yang sepenuhnya pasti. Dari sini, cat air menjadi cara membaca yang sementara: bahwa tidak semua hal hadir melalui ketegasan, dan tidak semua makna lahir dari bentuk yang selesai,” kata Yudane sebagaimana dikutip dari tulisannya.

Menurut Yudane, karya-karya Mahendra Mangku tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. “Yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar namun terasa dekat. Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, Mahendra Mangku membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan—bukan penguasaan,” tulis Yudane.

Tumbuh Bersama Seniman dan Kolektor

Sementara itu, Owner Komaneka Gallery, Koman Wahyu Suteja mengatakan, pameran kali ini sengaja menggandenng Mahendra Mangku untuk memperlihatkan kepada publik, termasuk para kolektor bahwa inilah karya terakhir darinya. Ini penting untuk menjaga hubungan baik dengan seniman dan kolektor.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

Galeri Komaneka sudah ada sejak tahun 1996 di Ubud. Kemudian, adanya perluasan tempat, maka pada tahun 2018 dibuka Komaneka Gallery. Gallery ini menampilkan contemporary art karena konsepnya memang mencari pelukis-pelukis yang masih hidup. “Seniman yang pameran di Komaneka yang cocok dengan saya. Artinya, saya tumbuh bersama mereka. Contohnya, Mahendra Mangku sudah kenal sejak SMA. Kita mempunyai relasi dan sering ngomong-ngomong tentang ide, sehingga ia sudah 4 kali pameran di sini,” ucapnya.

Untuk bisa cocok dengan pelukis itu biasanya butuh waktu 6 bulanan atau satu tahun. Baginya, bukan hanya melihat satu lukisan sudah cukup, tetapi melihat prosesnya dan cara berpikirnya juga harus cocok. “Karena itu hubungannya dengan pelukis kami dipelihara dengan baik. Termasuk memelihara hubungan baik dengan kolektor. Jadi kolektor itu tumbuh bersama saya, dan saya selalu update kepada mereka. Itu yang selalu saya diskusikan bersama pelukis dan kolektor,” akunya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komaneka Fine Art GalleryMahendra MangkuPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” ---Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co