22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
in Pameran
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Wayan Gde Yudane dan I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Saat itu adalah pembukaan pameran tunggal perupa I Made Mahendra Mangku yang bertajuk “Yang Tersisa Dalam Air, Waktu, Keheningan, dan Jejak Kemunculan”.

Sebanyak 34 karya lukis cat air bergaya abstrak ekspresionis salah satu gaya lukisan yang sangat berpengaruh dengan berbagai ukuran mewarnai gallery yang dekat dengan Pantai Keramas itu. Pembukaan pameran dihadiri Owner Komaneka Gallery Pande Nyoman Wahyu Suteja, S.E., yang akrab disapa Koman Wahyu Suteja, budayawan Putu Suasta, M.A., seniman Marlowe Bandem, serta masyarakat seni dan wisatawan meramaikan acara seni itu.

I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pameran yang menyajikan karya lukisan berukuran cukup besar itu akan berlangsung selama sebulan hingga 20 Juli 2026. “Pameran tunggal ini adalah yang keempat di Komaneka Gallery. Kali ini, saya menampilkan karya lukis tentang ingatan-ingatan, kenangan saya terhadap alam itu sendiri, bagaimana kerusakan alam, pelestarian, semuanya ada di situ,” kata Mahendra Mangku.

Kenangannya terhadap alam itu menjadi dasar gagasan dari karya-karya yang disajikan kali ini, tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. Sebab, yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar, namun terasa dekat. “Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, saya membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan, bukan penguasaan,” lanjutnya.

Jika melihat keindahan dan pesan yang ada dalam karya itu, jelas gagasan-gagasan dari pameran itu muncul setelah Mahendra Mangku menggali kenangan-kenangan yang dialami, baik secara personal maupun nonpersonal, di dalam keheningan itu sendiri dan tentang waktunya itu sendiri. Pria yang pernah menempuh pendidikan seni di Yogyakarta itu sudah melakukan pameran di beberapa daerah. Pengalaman itu, memberikan banyak pengaruh terhadap cara berpikirnya. Salah satunya adalah cara pandang terhadap lingkungan itu sendiri.

Hampir semua karya yang dipamerkan itu gagasannya lahir dari cara pandangnya sendiri terhadap lingkungan itu. Namun, dari semua karya-karya sarat pesan itu, lukisan berjudul “Bersandar” yang dirasakan paling berkesan. Lukisan berjudul “Bersandar” itu ada dua yakni “Bersandar #1” dengan ukuran 56 cm x 78 cm dan “Bersandar #2” berukuran 31 cm x 41 cm, namun semuanya lukisan cat air di atas kertas yang dibuat tahun 2026.

I Made Mahendra Mangku bersama pengunjung pameran | Foto: tatkala.co/Budarsana

Sebagai orang lokal, Mahendra Mangku merasa ketakukan jika lahan itu hilang, dan alih fungsi lahan terus terjadi. Jika itu terjadi mau bagaimana, karena ketakutan terusir dari bumi kita sendiri. “Dalam karya Bersandar itu, saya tidak bermaksud mengkritisi tentang bagaimana lahan itu hilang, bagaimana itu berubah alih fungsi. Tetapi, saya mempunyai ketakutan karena lahan kita sudah habis,” akunya polos.

Lalu di pojok kiri, setelah memasuki ruang pameran, ada sebuah karya yang sangat indah didominasi warna biru, hijau dan unggu. Serta warna kuning, merah, coklat, putih dan hitam yang seakan menumpuk di laut luas. Karya itu berjudul “Terurai”. Dalam karya Terurai itu, Mahendra Mangku berusaha untuk mengurai kenangan-kenangan yang dialami dengan cara memilah mana yang harus dilakukan, mana yang harus diingat, mana yang tidak penting diingat. Termasuk kenangan ketika berpameran di Yogyakarta, Jakarta dan lainnya.

Cat air sebagai cara berpikir

Dikutip dari tulisan Wayan Gede Yudane, seorang komponis, disebutkan bahwa dalam karya-karya Mahendra Mangku, ruang kosong bukanlah ketiadaan, melainkan jeda. “Ia memberi kesempatan bagi mata untuk bernapas dan bagi penafsiran untuk berkembang. Karena itu, pameran ini mengajak kita bukan sekadar melihat bentuk, melainkan merasakan apa yang mengendap di baliknya: waktu, keheningan, dan jejak yang tertinggal setelah citra itu berlalu,” katan Yudane sebagaimana disampaikan dalam tulisannya.

Yudane, masih dikutip dari tulisannya, menjelaskan cat air kerap dianggap sebagai medium yang ringan, spontan, dan sekadar liris. Namun, dalam karya-karya Made Mahendra Mangku, cat air hadir sebagai cara berpikir: ruang tempat air, pigmen, dan waktu bernegosiasi membentuk bahasa visual yang rapuh sekaligus intens.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Ia bukan medium untuk menggambarkan dunia, melainkan untuk merasakan bagaimana dunia muncul, berubah, dan perlahan menghilang. Bagi Mahendra Mangku, air bukan sekadar unsur material, tetapi prinsip estetik sekaligus filosofis. Ia mengalir, merembes, mengaburkan batas, dan menolak bentuk yang sepenuhnya pasti. Dari sini, cat air menjadi cara membaca yang sementara: bahwa tidak semua hal hadir melalui ketegasan, dan tidak semua makna lahir dari bentuk yang selesai,” kata Yudane sebagaimana dikutip dari tulisannya.

Menurut Yudane, karya-karya Mahendra Mangku tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. “Yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar namun terasa dekat. Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, Mahendra Mangku membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan—bukan penguasaan,” tulis Yudane.

Tumbuh Bersama Seniman dan Kolektor

Sementara itu, Owner Komaneka Gallery, Koman Wahyu Suteja mengatakan, pameran kali ini sengaja menggandenng Mahendra Mangku untuk memperlihatkan kepada publik, termasuk para kolektor bahwa inilah karya terakhir darinya. Ini penting untuk menjaga hubungan baik dengan seniman dan kolektor.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

Galeri Komaneka sudah ada sejak tahun 1996 di Ubud. Kemudian, adanya perluasan tempat, maka pada tahun 2018 dibuka Komaneka Gallery. Gallery ini menampilkan contemporary art karena konsepnya memang mencari pelukis-pelukis yang masih hidup. “Seniman yang pameran di Komaneka yang cocok dengan saya. Artinya, saya tumbuh bersama mereka. Contohnya, Mahendra Mangku sudah kenal sejak SMA. Kita mempunyai relasi dan sering ngomong-ngomong tentang ide, sehingga ia sudah 4 kali pameran di sini,” ucapnya.

Untuk bisa cocok dengan pelukis itu biasanya butuh waktu 6 bulanan atau satu tahun. Baginya, bukan hanya melihat satu lukisan sudah cukup, tetapi melihat prosesnya dan cara berpikirnya juga harus cocok. “Karena itu hubungannya dengan pelukis kami dipelihara dengan baik. Termasuk memelihara hubungan baik dengan kolektor. Jadi kolektor itu tumbuh bersama saya, dan saya selalu update kepada mereka. Itu yang selalu saya diskusikan bersama pelukis dan kolektor,” akunya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komaneka Fine Art GalleryMahendra MangkuPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” ---Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co