12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
in Pameran
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Wayan Gde Yudane dan I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Saat itu adalah pembukaan pameran tunggal perupa I Made Mahendra Mangku yang bertajuk “Yang Tersisa Dalam Air, Waktu, Keheningan, dan Jejak Kemunculan”.

Sebanyak 34 karya lukis cat air bergaya abstrak ekspresionis salah satu gaya lukisan yang sangat berpengaruh dengan berbagai ukuran mewarnai gallery yang dekat dengan Pantai Keramas itu. Pembukaan pameran dihadiri Owner Komaneka Gallery Pande Nyoman Wahyu Suteja, S.E., yang akrab disapa Koman Wahyu Suteja, budayawan Putu Suasta, M.A., seniman Marlowe Bandem, serta masyarakat seni dan wisatawan meramaikan acara seni itu.

I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pameran yang menyajikan karya lukisan berukuran cukup besar itu akan berlangsung selama sebulan hingga 20 Juli 2026. “Pameran tunggal ini adalah yang keempat di Komaneka Gallery. Kali ini, saya menampilkan karya lukis tentang ingatan-ingatan, kenangan saya terhadap alam itu sendiri, bagaimana kerusakan alam, pelestarian, semuanya ada di situ,” kata Mahendra Mangku.

Kenangannya terhadap alam itu menjadi dasar gagasan dari karya-karya yang disajikan kali ini, tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. Sebab, yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar, namun terasa dekat. “Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, saya membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan, bukan penguasaan,” lanjutnya.

Jika melihat keindahan dan pesan yang ada dalam karya itu, jelas gagasan-gagasan dari pameran itu muncul setelah Mahendra Mangku menggali kenangan-kenangan yang dialami, baik secara personal maupun nonpersonal, di dalam keheningan itu sendiri dan tentang waktunya itu sendiri. Pria yang pernah menempuh pendidikan seni di Yogyakarta itu sudah melakukan pameran di beberapa daerah. Pengalaman itu, memberikan banyak pengaruh terhadap cara berpikirnya. Salah satunya adalah cara pandang terhadap lingkungan itu sendiri.

Hampir semua karya yang dipamerkan itu gagasannya lahir dari cara pandangnya sendiri terhadap lingkungan itu. Namun, dari semua karya-karya sarat pesan itu, lukisan berjudul “Bersandar” yang dirasakan paling berkesan. Lukisan berjudul “Bersandar” itu ada dua yakni “Bersandar #1” dengan ukuran 56 cm x 78 cm dan “Bersandar #2” berukuran 31 cm x 41 cm, namun semuanya lukisan cat air di atas kertas yang dibuat tahun 2026.

I Made Mahendra Mangku bersama pengunjung pameran | Foto: tatkala.co/Budarsana

Sebagai orang lokal, Mahendra Mangku merasa ketakukan jika lahan itu hilang, dan alih fungsi lahan terus terjadi. Jika itu terjadi mau bagaimana, karena ketakutan terusir dari bumi kita sendiri. “Dalam karya Bersandar itu, saya tidak bermaksud mengkritisi tentang bagaimana lahan itu hilang, bagaimana itu berubah alih fungsi. Tetapi, saya mempunyai ketakutan karena lahan kita sudah habis,” akunya polos.

Lalu di pojok kiri, setelah memasuki ruang pameran, ada sebuah karya yang sangat indah didominasi warna biru, hijau dan unggu. Serta warna kuning, merah, coklat, putih dan hitam yang seakan menumpuk di laut luas. Karya itu berjudul “Terurai”. Dalam karya Terurai itu, Mahendra Mangku berusaha untuk mengurai kenangan-kenangan yang dialami dengan cara memilah mana yang harus dilakukan, mana yang harus diingat, mana yang tidak penting diingat. Termasuk kenangan ketika berpameran di Yogyakarta, Jakarta dan lainnya.

Cat air sebagai cara berpikir

Dikutip dari tulisan Wayan Gede Yudane, seorang komponis, disebutkan bahwa dalam karya-karya Mahendra Mangku, ruang kosong bukanlah ketiadaan, melainkan jeda. “Ia memberi kesempatan bagi mata untuk bernapas dan bagi penafsiran untuk berkembang. Karena itu, pameran ini mengajak kita bukan sekadar melihat bentuk, melainkan merasakan apa yang mengendap di baliknya: waktu, keheningan, dan jejak yang tertinggal setelah citra itu berlalu,” katan Yudane sebagaimana disampaikan dalam tulisannya.

Yudane, masih dikutip dari tulisannya, menjelaskan cat air kerap dianggap sebagai medium yang ringan, spontan, dan sekadar liris. Namun, dalam karya-karya Made Mahendra Mangku, cat air hadir sebagai cara berpikir: ruang tempat air, pigmen, dan waktu bernegosiasi membentuk bahasa visual yang rapuh sekaligus intens.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Ia bukan medium untuk menggambarkan dunia, melainkan untuk merasakan bagaimana dunia muncul, berubah, dan perlahan menghilang. Bagi Mahendra Mangku, air bukan sekadar unsur material, tetapi prinsip estetik sekaligus filosofis. Ia mengalir, merembes, mengaburkan batas, dan menolak bentuk yang sepenuhnya pasti. Dari sini, cat air menjadi cara membaca yang sementara: bahwa tidak semua hal hadir melalui ketegasan, dan tidak semua makna lahir dari bentuk yang selesai,” kata Yudane sebagaimana dikutip dari tulisannya.

Menurut Yudane, karya-karya Mahendra Mangku tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. “Yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar namun terasa dekat. Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, Mahendra Mangku membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan—bukan penguasaan,” tulis Yudane.

Tumbuh Bersama Seniman dan Kolektor

Sementara itu, Owner Komaneka Gallery, Koman Wahyu Suteja mengatakan, pameran kali ini sengaja menggandenng Mahendra Mangku untuk memperlihatkan kepada publik, termasuk para kolektor bahwa inilah karya terakhir darinya. Ini penting untuk menjaga hubungan baik dengan seniman dan kolektor.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

Galeri Komaneka sudah ada sejak tahun 1996 di Ubud. Kemudian, adanya perluasan tempat, maka pada tahun 2018 dibuka Komaneka Gallery. Gallery ini menampilkan contemporary art karena konsepnya memang mencari pelukis-pelukis yang masih hidup. “Seniman yang pameran di Komaneka yang cocok dengan saya. Artinya, saya tumbuh bersama mereka. Contohnya, Mahendra Mangku sudah kenal sejak SMA. Kita mempunyai relasi dan sering ngomong-ngomong tentang ide, sehingga ia sudah 4 kali pameran di sini,” ucapnya.

Untuk bisa cocok dengan pelukis itu biasanya butuh waktu 6 bulanan atau satu tahun. Baginya, bukan hanya melihat satu lukisan sudah cukup, tetapi melihat prosesnya dan cara berpikirnya juga harus cocok. “Karena itu hubungannya dengan pelukis kami dipelihara dengan baik. Termasuk memelihara hubungan baik dengan kolektor. Jadi kolektor itu tumbuh bersama saya, dan saya selalu update kepada mereka. Itu yang selalu saya diskusikan bersama pelukis dan kolektor,” akunya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komaneka Fine Art GalleryMahendra MangkuPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Adwan SA
July 6, 2026
0
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

Read moreDetails

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
0
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

Read moreDetails

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
0
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

Read moreDetails

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
0
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

Read moreDetails

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

by Nyoman Budarsana
March 9, 2026
0
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam perupa dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar pameran bertajuk “Togetherness” di Artspace, ARTOTEL Sanur Bali. Pameran lukisan dan patung...

Read moreDetails

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

by tatkala
February 19, 2026
0
Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Foto-foto karya yang dipertunjukkan Bagus Made Irawan alias Piping dalam pameran Magic in the Waves di Warung Kubukopi, Denpasar, 18-28...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” ---Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co