1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
in Pameran
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Wayan Gde Yudane dan I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Saat itu adalah pembukaan pameran tunggal perupa I Made Mahendra Mangku yang bertajuk “Yang Tersisa Dalam Air, Waktu, Keheningan, dan Jejak Kemunculan”.

Sebanyak 34 karya lukis cat air bergaya abstrak ekspresionis salah satu gaya lukisan yang sangat berpengaruh dengan berbagai ukuran mewarnai gallery yang dekat dengan Pantai Keramas itu. Pembukaan pameran dihadiri Owner Komaneka Gallery Pande Nyoman Wahyu Suteja, S.E., yang akrab disapa Koman Wahyu Suteja, budayawan Putu Suasta, M.A., seniman Marlowe Bandem, serta masyarakat seni dan wisatawan meramaikan acara seni itu.

I Made Mahendra Mangku | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pameran yang menyajikan karya lukisan berukuran cukup besar itu akan berlangsung selama sebulan hingga 20 Juli 2026. “Pameran tunggal ini adalah yang keempat di Komaneka Gallery. Kali ini, saya menampilkan karya lukis tentang ingatan-ingatan, kenangan saya terhadap alam itu sendiri, bagaimana kerusakan alam, pelestarian, semuanya ada di situ,” kata Mahendra Mangku.

Kenangannya terhadap alam itu menjadi dasar gagasan dari karya-karya yang disajikan kali ini, tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. Sebab, yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar, namun terasa dekat. “Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, saya membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan, bukan penguasaan,” lanjutnya.

Jika melihat keindahan dan pesan yang ada dalam karya itu, jelas gagasan-gagasan dari pameran itu muncul setelah Mahendra Mangku menggali kenangan-kenangan yang dialami, baik secara personal maupun nonpersonal, di dalam keheningan itu sendiri dan tentang waktunya itu sendiri. Pria yang pernah menempuh pendidikan seni di Yogyakarta itu sudah melakukan pameran di beberapa daerah. Pengalaman itu, memberikan banyak pengaruh terhadap cara berpikirnya. Salah satunya adalah cara pandang terhadap lingkungan itu sendiri.

Hampir semua karya yang dipamerkan itu gagasannya lahir dari cara pandangnya sendiri terhadap lingkungan itu. Namun, dari semua karya-karya sarat pesan itu, lukisan berjudul “Bersandar” yang dirasakan paling berkesan. Lukisan berjudul “Bersandar” itu ada dua yakni “Bersandar #1” dengan ukuran 56 cm x 78 cm dan “Bersandar #2” berukuran 31 cm x 41 cm, namun semuanya lukisan cat air di atas kertas yang dibuat tahun 2026.

I Made Mahendra Mangku bersama pengunjung pameran | Foto: tatkala.co/Budarsana

Sebagai orang lokal, Mahendra Mangku merasa ketakukan jika lahan itu hilang, dan alih fungsi lahan terus terjadi. Jika itu terjadi mau bagaimana, karena ketakutan terusir dari bumi kita sendiri. “Dalam karya Bersandar itu, saya tidak bermaksud mengkritisi tentang bagaimana lahan itu hilang, bagaimana itu berubah alih fungsi. Tetapi, saya mempunyai ketakutan karena lahan kita sudah habis,” akunya polos.

Lalu di pojok kiri, setelah memasuki ruang pameran, ada sebuah karya yang sangat indah didominasi warna biru, hijau dan unggu. Serta warna kuning, merah, coklat, putih dan hitam yang seakan menumpuk di laut luas. Karya itu berjudul “Terurai”. Dalam karya Terurai itu, Mahendra Mangku berusaha untuk mengurai kenangan-kenangan yang dialami dengan cara memilah mana yang harus dilakukan, mana yang harus diingat, mana yang tidak penting diingat. Termasuk kenangan ketika berpameran di Yogyakarta, Jakarta dan lainnya.

Cat air sebagai cara berpikir

Dikutip dari tulisan Wayan Gede Yudane, seorang komponis, disebutkan bahwa dalam karya-karya Mahendra Mangku, ruang kosong bukanlah ketiadaan, melainkan jeda. “Ia memberi kesempatan bagi mata untuk bernapas dan bagi penafsiran untuk berkembang. Karena itu, pameran ini mengajak kita bukan sekadar melihat bentuk, melainkan merasakan apa yang mengendap di baliknya: waktu, keheningan, dan jejak yang tertinggal setelah citra itu berlalu,” katan Yudane sebagaimana disampaikan dalam tulisannya.

Yudane, masih dikutip dari tulisannya, menjelaskan cat air kerap dianggap sebagai medium yang ringan, spontan, dan sekadar liris. Namun, dalam karya-karya Made Mahendra Mangku, cat air hadir sebagai cara berpikir: ruang tempat air, pigmen, dan waktu bernegosiasi membentuk bahasa visual yang rapuh sekaligus intens.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Ia bukan medium untuk menggambarkan dunia, melainkan untuk merasakan bagaimana dunia muncul, berubah, dan perlahan menghilang. Bagi Mahendra Mangku, air bukan sekadar unsur material, tetapi prinsip estetik sekaligus filosofis. Ia mengalir, merembes, mengaburkan batas, dan menolak bentuk yang sepenuhnya pasti. Dari sini, cat air menjadi cara membaca yang sementara: bahwa tidak semua hal hadir melalui ketegasan, dan tidak semua makna lahir dari bentuk yang selesai,” kata Yudane sebagaimana dikutip dari tulisannya.

Menurut Yudane, karya-karya Mahendra Mangku tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. “Yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar namun terasa dekat. Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, Mahendra Mangku membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan—bukan penguasaan,” tulis Yudane.

Tumbuh Bersama Seniman dan Kolektor

Sementara itu, Owner Komaneka Gallery, Koman Wahyu Suteja mengatakan, pameran kali ini sengaja menggandenng Mahendra Mangku untuk memperlihatkan kepada publik, termasuk para kolektor bahwa inilah karya terakhir darinya. Ini penting untuk menjaga hubungan baik dengan seniman dan kolektor.

Karya-karya I Made Mahendra Mangku yang dipemaerkan | Foto: tatkala.co/Budarsana

Galeri Komaneka sudah ada sejak tahun 1996 di Ubud. Kemudian, adanya perluasan tempat, maka pada tahun 2018 dibuka Komaneka Gallery. Gallery ini menampilkan contemporary art karena konsepnya memang mencari pelukis-pelukis yang masih hidup. “Seniman yang pameran di Komaneka yang cocok dengan saya. Artinya, saya tumbuh bersama mereka. Contohnya, Mahendra Mangku sudah kenal sejak SMA. Kita mempunyai relasi dan sering ngomong-ngomong tentang ide, sehingga ia sudah 4 kali pameran di sini,” ucapnya.

Untuk bisa cocok dengan pelukis itu biasanya butuh waktu 6 bulanan atau satu tahun. Baginya, bukan hanya melihat satu lukisan sudah cukup, tetapi melihat prosesnya dan cara berpikirnya juga harus cocok. “Karena itu hubungannya dengan pelukis kami dipelihara dengan baik. Termasuk memelihara hubungan baik dengan kolektor. Jadi kolektor itu tumbuh bersama saya, dan saya selalu update kepada mereka. Itu yang selalu saya diskusikan bersama pelukis dan kolektor,” akunya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komaneka Fine Art GalleryMahendra MangkuPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Adwan SA
July 6, 2026
0
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

Read moreDetails

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
0
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

Read moreDetails

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
0
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

Read moreDetails

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” ---Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co