SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Saat itu adalah pembukaan pameran tunggal perupa I Made Mahendra Mangku yang bertajuk “Yang Tersisa Dalam Air, Waktu, Keheningan, dan Jejak Kemunculan”.
Sebanyak 34 karya lukis cat air bergaya abstrak ekspresionis salah satu gaya lukisan yang sangat berpengaruh dengan berbagai ukuran mewarnai gallery yang dekat dengan Pantai Keramas itu. Pembukaan pameran dihadiri Owner Komaneka Gallery Pande Nyoman Wahyu Suteja, S.E., yang akrab disapa Koman Wahyu Suteja, budayawan Putu Suasta, M.A., seniman Marlowe Bandem, serta masyarakat seni dan wisatawan meramaikan acara seni itu.

Pameran yang menyajikan karya lukisan berukuran cukup besar itu akan berlangsung selama sebulan hingga 20 Juli 2026. “Pameran tunggal ini adalah yang keempat di Komaneka Gallery. Kali ini, saya menampilkan karya lukis tentang ingatan-ingatan, kenangan saya terhadap alam itu sendiri, bagaimana kerusakan alam, pelestarian, semuanya ada di situ,” kata Mahendra Mangku.
Kenangannya terhadap alam itu menjadi dasar gagasan dari karya-karya yang disajikan kali ini, tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. Sebab, yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar, namun terasa dekat. “Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, saya membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan, bukan penguasaan,” lanjutnya.
Jika melihat keindahan dan pesan yang ada dalam karya itu, jelas gagasan-gagasan dari pameran itu muncul setelah Mahendra Mangku menggali kenangan-kenangan yang dialami, baik secara personal maupun nonpersonal, di dalam keheningan itu sendiri dan tentang waktunya itu sendiri. Pria yang pernah menempuh pendidikan seni di Yogyakarta itu sudah melakukan pameran di beberapa daerah. Pengalaman itu, memberikan banyak pengaruh terhadap cara berpikirnya. Salah satunya adalah cara pandang terhadap lingkungan itu sendiri.
Hampir semua karya yang dipamerkan itu gagasannya lahir dari cara pandangnya sendiri terhadap lingkungan itu. Namun, dari semua karya-karya sarat pesan itu, lukisan berjudul “Bersandar” yang dirasakan paling berkesan. Lukisan berjudul “Bersandar” itu ada dua yakni “Bersandar #1” dengan ukuran 56 cm x 78 cm dan “Bersandar #2” berukuran 31 cm x 41 cm, namun semuanya lukisan cat air di atas kertas yang dibuat tahun 2026.

Sebagai orang lokal, Mahendra Mangku merasa ketakukan jika lahan itu hilang, dan alih fungsi lahan terus terjadi. Jika itu terjadi mau bagaimana, karena ketakutan terusir dari bumi kita sendiri. “Dalam karya Bersandar itu, saya tidak bermaksud mengkritisi tentang bagaimana lahan itu hilang, bagaimana itu berubah alih fungsi. Tetapi, saya mempunyai ketakutan karena lahan kita sudah habis,” akunya polos.
Lalu di pojok kiri, setelah memasuki ruang pameran, ada sebuah karya yang sangat indah didominasi warna biru, hijau dan unggu. Serta warna kuning, merah, coklat, putih dan hitam yang seakan menumpuk di laut luas. Karya itu berjudul “Terurai”. Dalam karya Terurai itu, Mahendra Mangku berusaha untuk mengurai kenangan-kenangan yang dialami dengan cara memilah mana yang harus dilakukan, mana yang harus diingat, mana yang tidak penting diingat. Termasuk kenangan ketika berpameran di Yogyakarta, Jakarta dan lainnya.
Cat air sebagai cara berpikir
Dikutip dari tulisan Wayan Gede Yudane, seorang komponis, disebutkan bahwa dalam karya-karya Mahendra Mangku, ruang kosong bukanlah ketiadaan, melainkan jeda. “Ia memberi kesempatan bagi mata untuk bernapas dan bagi penafsiran untuk berkembang. Karena itu, pameran ini mengajak kita bukan sekadar melihat bentuk, melainkan merasakan apa yang mengendap di baliknya: waktu, keheningan, dan jejak yang tertinggal setelah citra itu berlalu,” katan Yudane sebagaimana disampaikan dalam tulisannya.
Yudane, masih dikutip dari tulisannya, menjelaskan cat air kerap dianggap sebagai medium yang ringan, spontan, dan sekadar liris. Namun, dalam karya-karya Made Mahendra Mangku, cat air hadir sebagai cara berpikir: ruang tempat air, pigmen, dan waktu bernegosiasi membentuk bahasa visual yang rapuh sekaligus intens.


“Ia bukan medium untuk menggambarkan dunia, melainkan untuk merasakan bagaimana dunia muncul, berubah, dan perlahan menghilang. Bagi Mahendra Mangku, air bukan sekadar unsur material, tetapi prinsip estetik sekaligus filosofis. Ia mengalir, merembes, mengaburkan batas, dan menolak bentuk yang sepenuhnya pasti. Dari sini, cat air menjadi cara membaca yang sementara: bahwa tidak semua hal hadir melalui ketegasan, dan tidak semua makna lahir dari bentuk yang selesai,” kata Yudane sebagaimana dikutip dari tulisannya.
Menurut Yudane, karya-karya Mahendra Mangku tidak menawarkan representasi, melainkan resonansi. “Yang hadir adalah fragmen cahaya, endapan suasana, dan jejak ingatan yang samar namun terasa dekat. Melalui lapisan transparan, bidang kosong, dan pertemuan antara kendali serta kebetulan, Mahendra Mangku membangun bahasa visual yang bertumpu pada kepekaan—bukan penguasaan,” tulis Yudane.
Tumbuh Bersama Seniman dan Kolektor
Sementara itu, Owner Komaneka Gallery, Koman Wahyu Suteja mengatakan, pameran kali ini sengaja menggandenng Mahendra Mangku untuk memperlihatkan kepada publik, termasuk para kolektor bahwa inilah karya terakhir darinya. Ini penting untuk menjaga hubungan baik dengan seniman dan kolektor.


Galeri Komaneka sudah ada sejak tahun 1996 di Ubud. Kemudian, adanya perluasan tempat, maka pada tahun 2018 dibuka Komaneka Gallery. Gallery ini menampilkan contemporary art karena konsepnya memang mencari pelukis-pelukis yang masih hidup. “Seniman yang pameran di Komaneka yang cocok dengan saya. Artinya, saya tumbuh bersama mereka. Contohnya, Mahendra Mangku sudah kenal sejak SMA. Kita mempunyai relasi dan sering ngomong-ngomong tentang ide, sehingga ia sudah 4 kali pameran di sini,” ucapnya.
Untuk bisa cocok dengan pelukis itu biasanya butuh waktu 6 bulanan atau satu tahun. Baginya, bukan hanya melihat satu lukisan sudah cukup, tetapi melihat prosesnya dan cara berpikirnya juga harus cocok. “Karena itu hubungannya dengan pelukis kami dipelihara dengan baik. Termasuk memelihara hubungan baik dengan kolektor. Jadi kolektor itu tumbuh bersama saya, dan saya selalu update kepada mereka. Itu yang selalu saya diskusikan bersama pelukis dan kolektor,” akunya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole





























