22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
in Khas
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026. Barangkali, bagi orang lain ia hanyalah berkas berisi hasil diskusi. Namun, bagi mereka yang mengabdikan hidup pada kebudayaan Bali, dokumen itu adalah kumpulan kegelisahan, harapan, sekaligus peta jalan menuju usia emas Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dokumen itu diserahkan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Di dalamnya terangkum sebelas klaster rekomendasi strategis yang lahir dari lima seri Diskusi Budaya yang berlangsung sejak 19 Juni hingga 6 Juli 2026.

Waktunya bukan tanpa alasan. Tiga tahun lagi, PKB akan memasuki usia lima puluh tahun. Setahun sebelumnya, pusat penyelenggaraannya direncanakan berpindah dari Art Center Denpasar ke Pusat Kebudayaan Bali (PKBK) di Klungkung. Dua momentum besar itu memunculkan satu pertanyaan yang terus bergema dalam setiap diskusi: apakah PKB akan sekadar bertambah usia, atau benar-benar memasuki babak baru sejarah kebudayaan Bali?

Bagi Ketua KAWIYA Bali, I Putu Suryadi, rangkaian diskusi itu merupakan bentuk tanggung jawab moral insan budaya dan pers terhadap festival yang selama hampir setengah abad menjadi etalase peradaban Bali.

“Sebanyak 11 klaster rekomendasi merupakan hasil pemikiran bersama para seniman, budayawan, akademisi, birokrat, wartawan, dan masyarakat adat. Seluruh rumusan disampaikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan penyelenggaraan PKB yang lebih adaptif, berkelanjutan, serta tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali menjelang PKB Emas 2029,” katanya.

Kalimat itu lahir setelah lima ruang diskusi dipenuhi perdebatan, kritik, hingga nostalgia.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Pada diskusi pertama, Dr. I Kadek Suartaya dan Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengajak peserta melihat kembali tokoh-tokoh seni sebagai aset peradaban. Mereka berbicara tentang regenerasi, kesejahteraan seniman, dan bagaimana PKB tidak boleh hanya menjadi panggung tahunan yang selesai ketika lampu dipadamkan.

Diskusi kedua membawa peserta menyusuri lorong-lorong kesenian yang nyaris hilang. Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati bersama I Nyoman Mariyana mengingatkan bahwa banyak kesenian Bali kini hidup dalam ingatan para tetua. Jika tidak segera direkonstruksi, didokumentasikan, dan diwariskan, sebagian di antaranya mungkin hanya akan tinggal nama.

Sementara itu, I Wayan Ary Wijaya bersama Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra berbicara tentang generasi baru. Mereka mempertanyakan bagaimana teknologi, media digital, dan seni kontemporer dapat berjalan berdampingan dengan tradisi, tanpa membuat akar kebudayaan tercerabut.

Pertanyaan itu berlanjut ketika Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem mengurai sejarah panjang PKB. Sejak pertama kali digelar pada 1979, festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pembinaan, laboratorium kreativitas, sekaligus penanda arah kebijakan kebudayaan Bali.

Pada seri terakhir, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra bersama Drs. IGM Dwikora Putra mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan: sebuah festival sebesar PKB tidak akan memiliki jejak sejarah apabila tidak didokumentasikan dengan baik. Jurnalisme budaya, dokumentasi, arsip, dan kritik seni bukan pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem kebudayaan itu sendiri.

Dari seluruh percakapan tersebut, lahirlah sebelas klaster rekomendasi yang saling berkelindan.

Ada usulan memperkuat regulasi agar PKB memiliki kepastian anggaran dan tidak mudah berubah mengikuti dinamika politik. Ada pula dorongan memperjelas batas antara PKB sebagai ruang pelestarian tradisi dengan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang seni kontemporer.

Diskusi juga melahirkan gagasan menghidupkan kembali penghargaan kepada para maestro, membentuk program “Maestro dan Murid Kreatif”, menyusun Bank Rekonstruksi Kesenian Bali, membangun pusat dokumentasi seni, memperkuat sistem kuratorial, memperluas ruang dialog antargenerasi, hingga membuka skema pendanaan alternatif melalui CSR maupun Dana Pungutan Wisatawan Asing.

Di balik sebelas rekomendasi itu tersimpan satu kegelisahan yang sama: jangan sampai PKB kehilangan rohnya sebagai ruang pelestarian kebudayaan.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Kegelisahan itu ternyata mendapat sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Baginya, seluruh rekomendasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam menyusun penyelenggaraan PKB pada masa mendatang.

“Setiap tahun tentu ada perubahan, mungkin harga barang naik. Kemudian yang perlu kita lihat adalah bagaimana melalui kegiatan ini kita dapat menyejahterakan seniman dan semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan PKB,” ujarnya.

Bagi Alit Suryana, keberhasilan PKB tidak semata diukur dari ramainya penonton atau megahnya panggung. Festival ini harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para pelaku seni yang selama puluhan tahun menjaga denyut kebudayaan Bali.

Ia juga menilai regenerasi tidak bisa dibiarkan berlangsung secara alamiah. Pengetahuan para maestro harus diwariskan melalui proses yang terencana agar mata rantai tradisi tidak terputus.

Persoalan lain yang mengemuka ialah pelestarian kesenian langka. Menurutnya, Dinas Kebudayaan Bali terus melakukan penelitian dan pengkajian sebagai bagian dari pelindungan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Banyak kesenian hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu sehingga dokumentasi menjadi satu-satunya cara memastikan ingatan itu tetap hidup.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah sistem perlombaan di PKB.

“Jangan sampai ketika ada lomba, justru kesenian yang memiliki ciri khas tersendiri terpengaruh oleh adanya standardisasi. Kita ingin melestarikan, tetapi akhirnya tidak lestari karena ada standar,” katanya.

Pernyataan itu menyentuh salah satu paradoks yang selama ini menyertai PKB. Di satu sisi, perlombaan mendorong peningkatan kualitas. Namun di sisi lain, standar yang terlalu seragam dapat mengikis keragaman gaya setiap daerah yang justru menjadi kekayaan Bali.

Media pun memperoleh perhatian khusus. Menurut Alit Suryana, wartawan tidak hanya berfungsi memberitakan jalannya festival, tetapi juga menjembatani masyarakat memahami makna karya-karya seni yang dipentaskan. Karena itu, peningkatan kapasitas jurnalistik kebudayaan perlu terus dilakukan.

Ia juga mengungkapkan persoalan lain yang selama ini terjadi dalam proses kuratorial.

“Padahal ketika dilakukan pembinaan sudah baik, sesuai dengan kriteria dan ukuran bagi pentas seni Bali. Namun saat pementasan selalu muncul kejutan-kejutan berupa modifikasi baru yang sebelumnya belum terlihat dalam proses pembinaan,” ungkapnya.

Baginya, kondisi tersebut perlu dievaluasi agar karya yang tampil tetap berkualitas sekaligus mudah dipahami masyarakat luas, sebagaimana harapan Gubernur Bali.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Sebagai bagian dari persiapan menuju PKB Emas, Dinas Kebudayaan Bali juga berencana menyusun kajian dan menerbitkan buku 50 Tahun Perjalanan PKB. Buku itu diharapkan menjadi penanda perjalanan sebuah festival yang sejak 1979 telah menjadi salah satu denyut utama kehidupan kebudayaan Bali.

Di penghujung pertemuan, Alit Suryana memandang sebelas pokok pikiran yang disampaikan KAWIYA Bali dan PWI Bali telah merangkum hampir seluruh kebutuhan PKB pada masa depan.

“Terkait 11 pokok pikiran yang diserahkan KAWIYA Bali bersama PWI Bali, semuanya telah mencakup berbagai kebutuhan penyelenggaraan PKB ke depan. Rangkaian diskusi ini melibatkan akademisi, birokrat, seniman, budayawan, dan wartawan, sehingga masukan yang disampaikan sudah sangat komprehensif,” tandasnya.

Usia lima puluh tahun sesungguhnya bukan sekadar angka. Ia adalah kesempatan untuk bercermin. Selama hampir setengah abad, PKB telah menjadi rumah bagi ribuan seniman, ruang perjumpaan lintas generasi, sekaligus panggung tempat Bali memperlihatkan wajah budayanya kepada dunia.

Kini, ketika usia emas semakin dekat dan panggung baru tengah dipersiapkan di Klungkung, pekerjaan terbesar ternyata bukan membangun gedung atau memindahkan lokasi festival. Pekerjaan terbesarnya adalah memastikan bahwa ruh PKB tetap sama: menjadi ruang tempat tradisi dirawat, pengetahuan diwariskan, kreativitas bertumbuh, dan kebudayaan Bali terus menemukan cara untuk hidup di tengah perubahan zaman.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Kawiya BaliPesta Kesenian BaliPWI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Next Post

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co