1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
in Khas
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026. Barangkali, bagi orang lain ia hanyalah berkas berisi hasil diskusi. Namun, bagi mereka yang mengabdikan hidup pada kebudayaan Bali, dokumen itu adalah kumpulan kegelisahan, harapan, sekaligus peta jalan menuju usia emas Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dokumen itu diserahkan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Di dalamnya terangkum sebelas klaster rekomendasi strategis yang lahir dari lima seri Diskusi Budaya yang berlangsung sejak 19 Juni hingga 6 Juli 2026.

Waktunya bukan tanpa alasan. Tiga tahun lagi, PKB akan memasuki usia lima puluh tahun. Setahun sebelumnya, pusat penyelenggaraannya direncanakan berpindah dari Art Center Denpasar ke Pusat Kebudayaan Bali (PKBK) di Klungkung. Dua momentum besar itu memunculkan satu pertanyaan yang terus bergema dalam setiap diskusi: apakah PKB akan sekadar bertambah usia, atau benar-benar memasuki babak baru sejarah kebudayaan Bali?

Bagi Ketua KAWIYA Bali, I Putu Suryadi, rangkaian diskusi itu merupakan bentuk tanggung jawab moral insan budaya dan pers terhadap festival yang selama hampir setengah abad menjadi etalase peradaban Bali.

“Sebanyak 11 klaster rekomendasi merupakan hasil pemikiran bersama para seniman, budayawan, akademisi, birokrat, wartawan, dan masyarakat adat. Seluruh rumusan disampaikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan penyelenggaraan PKB yang lebih adaptif, berkelanjutan, serta tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali menjelang PKB Emas 2029,” katanya.

Kalimat itu lahir setelah lima ruang diskusi dipenuhi perdebatan, kritik, hingga nostalgia.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Pada diskusi pertama, Dr. I Kadek Suartaya dan Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengajak peserta melihat kembali tokoh-tokoh seni sebagai aset peradaban. Mereka berbicara tentang regenerasi, kesejahteraan seniman, dan bagaimana PKB tidak boleh hanya menjadi panggung tahunan yang selesai ketika lampu dipadamkan.

Diskusi kedua membawa peserta menyusuri lorong-lorong kesenian yang nyaris hilang. Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati bersama I Nyoman Mariyana mengingatkan bahwa banyak kesenian Bali kini hidup dalam ingatan para tetua. Jika tidak segera direkonstruksi, didokumentasikan, dan diwariskan, sebagian di antaranya mungkin hanya akan tinggal nama.

Sementara itu, I Wayan Ary Wijaya bersama Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra berbicara tentang generasi baru. Mereka mempertanyakan bagaimana teknologi, media digital, dan seni kontemporer dapat berjalan berdampingan dengan tradisi, tanpa membuat akar kebudayaan tercerabut.

Pertanyaan itu berlanjut ketika Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem mengurai sejarah panjang PKB. Sejak pertama kali digelar pada 1979, festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pembinaan, laboratorium kreativitas, sekaligus penanda arah kebijakan kebudayaan Bali.

Pada seri terakhir, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra bersama Drs. IGM Dwikora Putra mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan: sebuah festival sebesar PKB tidak akan memiliki jejak sejarah apabila tidak didokumentasikan dengan baik. Jurnalisme budaya, dokumentasi, arsip, dan kritik seni bukan pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem kebudayaan itu sendiri.

Dari seluruh percakapan tersebut, lahirlah sebelas klaster rekomendasi yang saling berkelindan.

Ada usulan memperkuat regulasi agar PKB memiliki kepastian anggaran dan tidak mudah berubah mengikuti dinamika politik. Ada pula dorongan memperjelas batas antara PKB sebagai ruang pelestarian tradisi dengan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang seni kontemporer.

Diskusi juga melahirkan gagasan menghidupkan kembali penghargaan kepada para maestro, membentuk program “Maestro dan Murid Kreatif”, menyusun Bank Rekonstruksi Kesenian Bali, membangun pusat dokumentasi seni, memperkuat sistem kuratorial, memperluas ruang dialog antargenerasi, hingga membuka skema pendanaan alternatif melalui CSR maupun Dana Pungutan Wisatawan Asing.

Di balik sebelas rekomendasi itu tersimpan satu kegelisahan yang sama: jangan sampai PKB kehilangan rohnya sebagai ruang pelestarian kebudayaan.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Kegelisahan itu ternyata mendapat sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Baginya, seluruh rekomendasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam menyusun penyelenggaraan PKB pada masa mendatang.

“Setiap tahun tentu ada perubahan, mungkin harga barang naik. Kemudian yang perlu kita lihat adalah bagaimana melalui kegiatan ini kita dapat menyejahterakan seniman dan semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan PKB,” ujarnya.

Bagi Alit Suryana, keberhasilan PKB tidak semata diukur dari ramainya penonton atau megahnya panggung. Festival ini harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para pelaku seni yang selama puluhan tahun menjaga denyut kebudayaan Bali.

Ia juga menilai regenerasi tidak bisa dibiarkan berlangsung secara alamiah. Pengetahuan para maestro harus diwariskan melalui proses yang terencana agar mata rantai tradisi tidak terputus.

Persoalan lain yang mengemuka ialah pelestarian kesenian langka. Menurutnya, Dinas Kebudayaan Bali terus melakukan penelitian dan pengkajian sebagai bagian dari pelindungan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Banyak kesenian hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu sehingga dokumentasi menjadi satu-satunya cara memastikan ingatan itu tetap hidup.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah sistem perlombaan di PKB.

“Jangan sampai ketika ada lomba, justru kesenian yang memiliki ciri khas tersendiri terpengaruh oleh adanya standardisasi. Kita ingin melestarikan, tetapi akhirnya tidak lestari karena ada standar,” katanya.

Pernyataan itu menyentuh salah satu paradoks yang selama ini menyertai PKB. Di satu sisi, perlombaan mendorong peningkatan kualitas. Namun di sisi lain, standar yang terlalu seragam dapat mengikis keragaman gaya setiap daerah yang justru menjadi kekayaan Bali.

Media pun memperoleh perhatian khusus. Menurut Alit Suryana, wartawan tidak hanya berfungsi memberitakan jalannya festival, tetapi juga menjembatani masyarakat memahami makna karya-karya seni yang dipentaskan. Karena itu, peningkatan kapasitas jurnalistik kebudayaan perlu terus dilakukan.

Ia juga mengungkapkan persoalan lain yang selama ini terjadi dalam proses kuratorial.

“Padahal ketika dilakukan pembinaan sudah baik, sesuai dengan kriteria dan ukuran bagi pentas seni Bali. Namun saat pementasan selalu muncul kejutan-kejutan berupa modifikasi baru yang sebelumnya belum terlihat dalam proses pembinaan,” ungkapnya.

Baginya, kondisi tersebut perlu dievaluasi agar karya yang tampil tetap berkualitas sekaligus mudah dipahami masyarakat luas, sebagaimana harapan Gubernur Bali.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Sebagai bagian dari persiapan menuju PKB Emas, Dinas Kebudayaan Bali juga berencana menyusun kajian dan menerbitkan buku 50 Tahun Perjalanan PKB. Buku itu diharapkan menjadi penanda perjalanan sebuah festival yang sejak 1979 telah menjadi salah satu denyut utama kehidupan kebudayaan Bali.

Di penghujung pertemuan, Alit Suryana memandang sebelas pokok pikiran yang disampaikan KAWIYA Bali dan PWI Bali telah merangkum hampir seluruh kebutuhan PKB pada masa depan.

“Terkait 11 pokok pikiran yang diserahkan KAWIYA Bali bersama PWI Bali, semuanya telah mencakup berbagai kebutuhan penyelenggaraan PKB ke depan. Rangkaian diskusi ini melibatkan akademisi, birokrat, seniman, budayawan, dan wartawan, sehingga masukan yang disampaikan sudah sangat komprehensif,” tandasnya.

Usia lima puluh tahun sesungguhnya bukan sekadar angka. Ia adalah kesempatan untuk bercermin. Selama hampir setengah abad, PKB telah menjadi rumah bagi ribuan seniman, ruang perjumpaan lintas generasi, sekaligus panggung tempat Bali memperlihatkan wajah budayanya kepada dunia.

Kini, ketika usia emas semakin dekat dan panggung baru tengah dipersiapkan di Klungkung, pekerjaan terbesar ternyata bukan membangun gedung atau memindahkan lokasi festival. Pekerjaan terbesarnya adalah memastikan bahwa ruh PKB tetap sama: menjadi ruang tempat tradisi dirawat, pengetahuan diwariskan, kreativitas bertumbuh, dan kebudayaan Bali terus menemukan cara untuk hidup di tengah perubahan zaman.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Kawiya BaliPesta Kesenian BaliPWI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Next Post

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co