11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
in Khas
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026. Barangkali, bagi orang lain ia hanyalah berkas berisi hasil diskusi. Namun, bagi mereka yang mengabdikan hidup pada kebudayaan Bali, dokumen itu adalah kumpulan kegelisahan, harapan, sekaligus peta jalan menuju usia emas Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dokumen itu diserahkan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Di dalamnya terangkum sebelas klaster rekomendasi strategis yang lahir dari lima seri Diskusi Budaya yang berlangsung sejak 19 Juni hingga 6 Juli 2026.

Waktunya bukan tanpa alasan. Tiga tahun lagi, PKB akan memasuki usia lima puluh tahun. Setahun sebelumnya, pusat penyelenggaraannya direncanakan berpindah dari Art Center Denpasar ke Pusat Kebudayaan Bali (PKBK) di Klungkung. Dua momentum besar itu memunculkan satu pertanyaan yang terus bergema dalam setiap diskusi: apakah PKB akan sekadar bertambah usia, atau benar-benar memasuki babak baru sejarah kebudayaan Bali?

Bagi Ketua KAWIYA Bali, I Putu Suryadi, rangkaian diskusi itu merupakan bentuk tanggung jawab moral insan budaya dan pers terhadap festival yang selama hampir setengah abad menjadi etalase peradaban Bali.

“Sebanyak 11 klaster rekomendasi merupakan hasil pemikiran bersama para seniman, budayawan, akademisi, birokrat, wartawan, dan masyarakat adat. Seluruh rumusan disampaikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan penyelenggaraan PKB yang lebih adaptif, berkelanjutan, serta tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali menjelang PKB Emas 2029,” katanya.

Kalimat itu lahir setelah lima ruang diskusi dipenuhi perdebatan, kritik, hingga nostalgia.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Pada diskusi pertama, Dr. I Kadek Suartaya dan Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengajak peserta melihat kembali tokoh-tokoh seni sebagai aset peradaban. Mereka berbicara tentang regenerasi, kesejahteraan seniman, dan bagaimana PKB tidak boleh hanya menjadi panggung tahunan yang selesai ketika lampu dipadamkan.

Diskusi kedua membawa peserta menyusuri lorong-lorong kesenian yang nyaris hilang. Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati bersama I Nyoman Mariyana mengingatkan bahwa banyak kesenian Bali kini hidup dalam ingatan para tetua. Jika tidak segera direkonstruksi, didokumentasikan, dan diwariskan, sebagian di antaranya mungkin hanya akan tinggal nama.

Sementara itu, I Wayan Ary Wijaya bersama Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra berbicara tentang generasi baru. Mereka mempertanyakan bagaimana teknologi, media digital, dan seni kontemporer dapat berjalan berdampingan dengan tradisi, tanpa membuat akar kebudayaan tercerabut.

Pertanyaan itu berlanjut ketika Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem mengurai sejarah panjang PKB. Sejak pertama kali digelar pada 1979, festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pembinaan, laboratorium kreativitas, sekaligus penanda arah kebijakan kebudayaan Bali.

Pada seri terakhir, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra bersama Drs. IGM Dwikora Putra mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan: sebuah festival sebesar PKB tidak akan memiliki jejak sejarah apabila tidak didokumentasikan dengan baik. Jurnalisme budaya, dokumentasi, arsip, dan kritik seni bukan pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem kebudayaan itu sendiri.

Dari seluruh percakapan tersebut, lahirlah sebelas klaster rekomendasi yang saling berkelindan.

Ada usulan memperkuat regulasi agar PKB memiliki kepastian anggaran dan tidak mudah berubah mengikuti dinamika politik. Ada pula dorongan memperjelas batas antara PKB sebagai ruang pelestarian tradisi dengan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang seni kontemporer.

Diskusi juga melahirkan gagasan menghidupkan kembali penghargaan kepada para maestro, membentuk program “Maestro dan Murid Kreatif”, menyusun Bank Rekonstruksi Kesenian Bali, membangun pusat dokumentasi seni, memperkuat sistem kuratorial, memperluas ruang dialog antargenerasi, hingga membuka skema pendanaan alternatif melalui CSR maupun Dana Pungutan Wisatawan Asing.

Di balik sebelas rekomendasi itu tersimpan satu kegelisahan yang sama: jangan sampai PKB kehilangan rohnya sebagai ruang pelestarian kebudayaan.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Kegelisahan itu ternyata mendapat sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Baginya, seluruh rekomendasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam menyusun penyelenggaraan PKB pada masa mendatang.

“Setiap tahun tentu ada perubahan, mungkin harga barang naik. Kemudian yang perlu kita lihat adalah bagaimana melalui kegiatan ini kita dapat menyejahterakan seniman dan semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan PKB,” ujarnya.

Bagi Alit Suryana, keberhasilan PKB tidak semata diukur dari ramainya penonton atau megahnya panggung. Festival ini harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para pelaku seni yang selama puluhan tahun menjaga denyut kebudayaan Bali.

Ia juga menilai regenerasi tidak bisa dibiarkan berlangsung secara alamiah. Pengetahuan para maestro harus diwariskan melalui proses yang terencana agar mata rantai tradisi tidak terputus.

Persoalan lain yang mengemuka ialah pelestarian kesenian langka. Menurutnya, Dinas Kebudayaan Bali terus melakukan penelitian dan pengkajian sebagai bagian dari pelindungan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Banyak kesenian hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu sehingga dokumentasi menjadi satu-satunya cara memastikan ingatan itu tetap hidup.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah sistem perlombaan di PKB.

“Jangan sampai ketika ada lomba, justru kesenian yang memiliki ciri khas tersendiri terpengaruh oleh adanya standardisasi. Kita ingin melestarikan, tetapi akhirnya tidak lestari karena ada standar,” katanya.

Pernyataan itu menyentuh salah satu paradoks yang selama ini menyertai PKB. Di satu sisi, perlombaan mendorong peningkatan kualitas. Namun di sisi lain, standar yang terlalu seragam dapat mengikis keragaman gaya setiap daerah yang justru menjadi kekayaan Bali.

Media pun memperoleh perhatian khusus. Menurut Alit Suryana, wartawan tidak hanya berfungsi memberitakan jalannya festival, tetapi juga menjembatani masyarakat memahami makna karya-karya seni yang dipentaskan. Karena itu, peningkatan kapasitas jurnalistik kebudayaan perlu terus dilakukan.

Ia juga mengungkapkan persoalan lain yang selama ini terjadi dalam proses kuratorial.

“Padahal ketika dilakukan pembinaan sudah baik, sesuai dengan kriteria dan ukuran bagi pentas seni Bali. Namun saat pementasan selalu muncul kejutan-kejutan berupa modifikasi baru yang sebelumnya belum terlihat dalam proses pembinaan,” ungkapnya.

Baginya, kondisi tersebut perlu dievaluasi agar karya yang tampil tetap berkualitas sekaligus mudah dipahami masyarakat luas, sebagaimana harapan Gubernur Bali.

Penyerahan dokumen 11 rekomendasi strategis oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (KAWIYA) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana | Foto: Istimewa

Sebagai bagian dari persiapan menuju PKB Emas, Dinas Kebudayaan Bali juga berencana menyusun kajian dan menerbitkan buku 50 Tahun Perjalanan PKB. Buku itu diharapkan menjadi penanda perjalanan sebuah festival yang sejak 1979 telah menjadi salah satu denyut utama kehidupan kebudayaan Bali.

Di penghujung pertemuan, Alit Suryana memandang sebelas pokok pikiran yang disampaikan KAWIYA Bali dan PWI Bali telah merangkum hampir seluruh kebutuhan PKB pada masa depan.

“Terkait 11 pokok pikiran yang diserahkan KAWIYA Bali bersama PWI Bali, semuanya telah mencakup berbagai kebutuhan penyelenggaraan PKB ke depan. Rangkaian diskusi ini melibatkan akademisi, birokrat, seniman, budayawan, dan wartawan, sehingga masukan yang disampaikan sudah sangat komprehensif,” tandasnya.

Usia lima puluh tahun sesungguhnya bukan sekadar angka. Ia adalah kesempatan untuk bercermin. Selama hampir setengah abad, PKB telah menjadi rumah bagi ribuan seniman, ruang perjumpaan lintas generasi, sekaligus panggung tempat Bali memperlihatkan wajah budayanya kepada dunia.

Kini, ketika usia emas semakin dekat dan panggung baru tengah dipersiapkan di Klungkung, pekerjaan terbesar ternyata bukan membangun gedung atau memindahkan lokasi festival. Pekerjaan terbesarnya adalah memastikan bahwa ruh PKB tetap sama: menjadi ruang tempat tradisi dirawat, pengetahuan diwariskan, kreativitas bertumbuh, dan kebudayaan Bali terus menemukan cara untuk hidup di tengah perubahan zaman.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Kawiya BaliPesta Kesenian BaliPWI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Next Post

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co