22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
in Panggung
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!”

Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja Literary Festival (SLF), Minggu, 5 Juli 2026. Pernyataan tersebut bukan sekadar mewakili sikap salah satu tokohnya, melainkan menjadi gagasan utama novel yang mengangkat persoalan trauma, hak otonomi tubuh, dan kekerasan seksual.

Di Halaman Timur Gedong Kirtya, percakapan siang itu berlangsung di bawah rindangnya pepohonan. Saya berkesempatan menjadi moderator, memandu diskusi bersama Sasti Gotama selaku penulis dan Wulan Dewi Saraswati sebagai pembedah. Peserta tidak hanya datang untuk membicarakan sebuah novel, tetapi juga ingin memahami berbagai persoalan yang selama ini lebih sering dibisikkan daripada dibicarakan secara terbuka.

Korpus Uterus mengikuti perjalanan Panuluh atau Luh, seorang laki-laki yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh di tengah kekerasan serta penolakan. Dari perjalanan hidupnya, Sasti membawa pembaca memasuki persoalan kehamilan, pemerkosaan, aborsi, trauma, pendidikan seks, hingga hak perempuan menentukan masa depan tubuhnya sendiri. Novel ini juga menghadirkan riset medis yang kuat sekaligus memperlihatkan bagaimana sastra dapat menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman perempuan yang selama ini acap disembunyikan.

Sasti Gotama membahas ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 

Saya mengawali diskusi dengan pertanyaan mengenai titik mula novel tersebut. Rahim hadir sebagai simbol yang sangat dominan. Ia bukan hanya organ biologis, tetapi juga ruang kasih, trauma, dan pergulatan hak perempuan. Saya pun bertanya kepada Sasti, gagasan apa yang pertama kali lahir: tokoh Luh, isu aborsi, atau justru simbol rahim itu sendiri?

“Korpus Uterus ini lahir dari pengamatan langsung,” ujar Sasti. Ia mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman perempuan yang ditemuinya membuatnya ingin menulis cerita yang tidak berhenti pada persoalan biologis semata. Baginya, tubuh perempuan selalu berkaitan dengan pengalaman hidup, relasi kuasa, budaya, dan cara masyarakat memandang perempuan.

Sebagai pembaca, saya justru menyampaikan kesan yang sedikit berbeda. Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa tokoh utama novel ini bukanlah Luh, melainkan rahim itu sendiri. Rahim hadir sebagai ibu, luka, tempat kehidupan bermula, bahkan arena pertarungan moral, agama, budaya, dan hak asasi manusia. Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Sasti: apakah sejak awal rahim memang sengaja dijadikan ‘tokoh utama’ dalam novelnya?

Sasti mengamini pembacaan tersebut. “Rahim memang tidak saya tempatkan hanya sebagai organ reproduksi. Di sanalah kasih, trauma, dan pergulatan hidup para tokohnya bertemu. Dari simbol itulah berbagai konflik dalam novel berkembang,” terangnya.

Wulan Dewi Saraswati saat membedah novel ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Wulan Dewi Saraswati kemudian mengulas novel ini dari sudut pandang pembaca.

“Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak. Saya merasa luka para tokohnya terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.”

Menurutnya, kekuatan Korpus Uterus bukan semata terletak pada keberaniannya mengangkat tema-tema sensitif, melainkan pada kemampuannya membuat pembaca ikut merasakan pergulatan batin para tokohnya.

Percakapan kemudian bergeser pada konteks sejarah. Saya menanyakan alasan Sasti memasukkan peristiwa 1965 dan tragedi 1998 ke dalam cerita. Bukankah novel ini berbicara mengenai tubuh perempuan?

Sasti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap tubuh tidak pernah hadir sendirian. Ia selalu berkaitan dengan sejarah, kekuasaan, dan struktur sosial. Luka yang terjadi pada satu generasi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, tetapi juga perjalanan masyarakat yang membawa jejak berbagai tragedi kemanusiaan.

Sebagai pembaca, saya melihat pilihan itu membuat Korpus Uterus memiliki cakupan yang lebih luas. Novel ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai pendidikan seks. Dalam novel, tokoh Luh mengatakan bahwa banyak anak gadis menjadi korban karena orang tua terlalu malu membicarakan seks. Saya kemudian bertanya kepada Sasti, apakah sastra sendiri dapat menjadi medium pendidikan seks yang lebih efektif tinimbang ceramah atau kampanye formal?

Menanggapi pertanyaan itu, Sasti mengatakan bahwa sastra bukanlah pengganti pendidikan formal. Tetapi sastra bisa menghadirkan empati. Melalui cerita, pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tubuh atau kekerasan seksual, melainkan juga ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan trauma yang dialami para tokohnya.

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada karakter Luh. Saya mengaku tertarik pada sosok laki-laki yang setiap hari berhadapan dengan perempuan-perempuan dalam kondisi paling rentan, tetapi tidak pernah memanfaatkan posisi tersebut. Padahal, banyak tokoh laki-laki lain dalam novel Korpus Uterus justru menjadi pelaku kekerasan seksual. Saya pun bertanya apakah Luh memang sengaja dihadirkan sebagai antitesis dari maskulinitas semacam itu?

Sasti tidak menggambarkan Luh sebagai manusia tanpa cela. Ia melihat Luh sebagai seseorang yang memilih tidak mengulang kekerasan yang melahirkan dirinya. Jawaban itu membuat karakter Luh terasa semakin kuat. Ia bukan tokoh yang hadir untuk menghakimi, melainkan seseorang yang berusaha memutus mata rantai luka.

Begitulah yang terjadi siang itu di halaman timur Gedong Kirtya. Setelah diskusi berakhir, peserta tidak langsung beranjak. Sebagian masih berbincang mengenai tokoh-tokohnya, sebagian mendiskusikan isu hak otonomi tubuh, sementara yang lain mengantre meminta tanda tangan penulis. Novel yang semula hanya berada di tangan pembaca berubah menjadi ruang percakapan mengenai tubuh, sejarah, kekerasan, pendidikan seks, dan hak asasi manusia.

Pada akhirnya, bedah buku Korpus Uterus tidak hanya membahas sebuah karya sastra. Diskusi itu menunjukkan bahwa sastra dapat membuka percakapan yang selama ini acap dianggap tabu. Dari rahim yang menjadi simbol kehidupan, Sasti Gotama mengajak pembaca berpikir ꟷ siapa yang sebenarnya berhak menentukan hak atas tubuh seseorang? [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuSasti GotamaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Next Post

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ------Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co