11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
in Panggung
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!”

Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja Literary Festival (SLF), Minggu, 5 Juli 2026. Pernyataan tersebut bukan sekadar mewakili sikap salah satu tokohnya, melainkan menjadi gagasan utama novel yang mengangkat persoalan trauma, hak otonomi tubuh, dan kekerasan seksual.

Di Halaman Timur Gedong Kirtya, percakapan siang itu berlangsung di bawah rindangnya pepohonan. Saya berkesempatan menjadi moderator, memandu diskusi bersama Sasti Gotama selaku penulis dan Wulan Dewi Saraswati sebagai pembedah. Peserta tidak hanya datang untuk membicarakan sebuah novel, tetapi juga ingin memahami berbagai persoalan yang selama ini lebih sering dibisikkan daripada dibicarakan secara terbuka.

Korpus Uterus mengikuti perjalanan Panuluh atau Luh, seorang laki-laki yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh di tengah kekerasan serta penolakan. Dari perjalanan hidupnya, Sasti membawa pembaca memasuki persoalan kehamilan, pemerkosaan, aborsi, trauma, pendidikan seks, hingga hak perempuan menentukan masa depan tubuhnya sendiri. Novel ini juga menghadirkan riset medis yang kuat sekaligus memperlihatkan bagaimana sastra dapat menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman perempuan yang selama ini acap disembunyikan.

Sasti Gotama membahas ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 

Saya mengawali diskusi dengan pertanyaan mengenai titik mula novel tersebut. Rahim hadir sebagai simbol yang sangat dominan. Ia bukan hanya organ biologis, tetapi juga ruang kasih, trauma, dan pergulatan hak perempuan. Saya pun bertanya kepada Sasti, gagasan apa yang pertama kali lahir: tokoh Luh, isu aborsi, atau justru simbol rahim itu sendiri?

“Korpus Uterus ini lahir dari pengamatan langsung,” ujar Sasti. Ia mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman perempuan yang ditemuinya membuatnya ingin menulis cerita yang tidak berhenti pada persoalan biologis semata. Baginya, tubuh perempuan selalu berkaitan dengan pengalaman hidup, relasi kuasa, budaya, dan cara masyarakat memandang perempuan.

Sebagai pembaca, saya justru menyampaikan kesan yang sedikit berbeda. Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa tokoh utama novel ini bukanlah Luh, melainkan rahim itu sendiri. Rahim hadir sebagai ibu, luka, tempat kehidupan bermula, bahkan arena pertarungan moral, agama, budaya, dan hak asasi manusia. Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Sasti: apakah sejak awal rahim memang sengaja dijadikan ‘tokoh utama’ dalam novelnya?

Sasti mengamini pembacaan tersebut. “Rahim memang tidak saya tempatkan hanya sebagai organ reproduksi. Di sanalah kasih, trauma, dan pergulatan hidup para tokohnya bertemu. Dari simbol itulah berbagai konflik dalam novel berkembang,” terangnya.

Wulan Dewi Saraswati saat membedah novel ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Wulan Dewi Saraswati kemudian mengulas novel ini dari sudut pandang pembaca.

“Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak. Saya merasa luka para tokohnya terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.”

Menurutnya, kekuatan Korpus Uterus bukan semata terletak pada keberaniannya mengangkat tema-tema sensitif, melainkan pada kemampuannya membuat pembaca ikut merasakan pergulatan batin para tokohnya.

Percakapan kemudian bergeser pada konteks sejarah. Saya menanyakan alasan Sasti memasukkan peristiwa 1965 dan tragedi 1998 ke dalam cerita. Bukankah novel ini berbicara mengenai tubuh perempuan?

Sasti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap tubuh tidak pernah hadir sendirian. Ia selalu berkaitan dengan sejarah, kekuasaan, dan struktur sosial. Luka yang terjadi pada satu generasi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, tetapi juga perjalanan masyarakat yang membawa jejak berbagai tragedi kemanusiaan.

Sebagai pembaca, saya melihat pilihan itu membuat Korpus Uterus memiliki cakupan yang lebih luas. Novel ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai pendidikan seks. Dalam novel, tokoh Luh mengatakan bahwa banyak anak gadis menjadi korban karena orang tua terlalu malu membicarakan seks. Saya kemudian bertanya kepada Sasti, apakah sastra sendiri dapat menjadi medium pendidikan seks yang lebih efektif tinimbang ceramah atau kampanye formal?

Menanggapi pertanyaan itu, Sasti mengatakan bahwa sastra bukanlah pengganti pendidikan formal. Tetapi sastra bisa menghadirkan empati. Melalui cerita, pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tubuh atau kekerasan seksual, melainkan juga ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan trauma yang dialami para tokohnya.

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada karakter Luh. Saya mengaku tertarik pada sosok laki-laki yang setiap hari berhadapan dengan perempuan-perempuan dalam kondisi paling rentan, tetapi tidak pernah memanfaatkan posisi tersebut. Padahal, banyak tokoh laki-laki lain dalam novel Korpus Uterus justru menjadi pelaku kekerasan seksual. Saya pun bertanya apakah Luh memang sengaja dihadirkan sebagai antitesis dari maskulinitas semacam itu?

Sasti tidak menggambarkan Luh sebagai manusia tanpa cela. Ia melihat Luh sebagai seseorang yang memilih tidak mengulang kekerasan yang melahirkan dirinya. Jawaban itu membuat karakter Luh terasa semakin kuat. Ia bukan tokoh yang hadir untuk menghakimi, melainkan seseorang yang berusaha memutus mata rantai luka.

Begitulah yang terjadi siang itu di halaman timur Gedong Kirtya. Setelah diskusi berakhir, peserta tidak langsung beranjak. Sebagian masih berbincang mengenai tokoh-tokohnya, sebagian mendiskusikan isu hak otonomi tubuh, sementara yang lain mengantre meminta tanda tangan penulis. Novel yang semula hanya berada di tangan pembaca berubah menjadi ruang percakapan mengenai tubuh, sejarah, kekerasan, pendidikan seks, dan hak asasi manusia.

Pada akhirnya, bedah buku Korpus Uterus tidak hanya membahas sebuah karya sastra. Diskusi itu menunjukkan bahwa sastra dapat membuka percakapan yang selama ini acap dianggap tabu. Dari rahim yang menjadi simbol kehidupan, Sasti Gotama mengajak pembaca berpikir ꟷ siapa yang sebenarnya berhak menentukan hak atas tubuh seseorang? [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuSasti GotamaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Next Post

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ------Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co