“Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!”
Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja Literary Festival (SLF), Minggu, 5 Juli 2026. Pernyataan tersebut bukan sekadar mewakili sikap salah satu tokohnya, melainkan menjadi gagasan utama novel yang mengangkat persoalan trauma, hak otonomi tubuh, dan kekerasan seksual.
Di Halaman Timur Gedong Kirtya, percakapan siang itu berlangsung di bawah rindangnya pepohonan. Saya berkesempatan menjadi moderator, memandu diskusi bersama Sasti Gotama selaku penulis dan Wulan Dewi Saraswati sebagai pembedah. Peserta tidak hanya datang untuk membicarakan sebuah novel, tetapi juga ingin memahami berbagai persoalan yang selama ini lebih sering dibisikkan daripada dibicarakan secara terbuka.
Korpus Uterus mengikuti perjalanan Panuluh atau Luh, seorang laki-laki yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh di tengah kekerasan serta penolakan. Dari perjalanan hidupnya, Sasti membawa pembaca memasuki persoalan kehamilan, pemerkosaan, aborsi, trauma, pendidikan seks, hingga hak perempuan menentukan masa depan tubuhnya sendiri. Novel ini juga menghadirkan riset medis yang kuat sekaligus memperlihatkan bagaimana sastra dapat menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman perempuan yang selama ini acap disembunyikan.

Saya mengawali diskusi dengan pertanyaan mengenai titik mula novel tersebut. Rahim hadir sebagai simbol yang sangat dominan. Ia bukan hanya organ biologis, tetapi juga ruang kasih, trauma, dan pergulatan hak perempuan. Saya pun bertanya kepada Sasti, gagasan apa yang pertama kali lahir: tokoh Luh, isu aborsi, atau justru simbol rahim itu sendiri?
“Korpus Uterus ini lahir dari pengamatan langsung,” ujar Sasti. Ia mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman perempuan yang ditemuinya membuatnya ingin menulis cerita yang tidak berhenti pada persoalan biologis semata. Baginya, tubuh perempuan selalu berkaitan dengan pengalaman hidup, relasi kuasa, budaya, dan cara masyarakat memandang perempuan.
Sebagai pembaca, saya justru menyampaikan kesan yang sedikit berbeda. Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa tokoh utama novel ini bukanlah Luh, melainkan rahim itu sendiri. Rahim hadir sebagai ibu, luka, tempat kehidupan bermula, bahkan arena pertarungan moral, agama, budaya, dan hak asasi manusia. Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Sasti: apakah sejak awal rahim memang sengaja dijadikan ‘tokoh utama’ dalam novelnya?
Sasti mengamini pembacaan tersebut. “Rahim memang tidak saya tempatkan hanya sebagai organ reproduksi. Di sanalah kasih, trauma, dan pergulatan hidup para tokohnya bertemu. Dari simbol itulah berbagai konflik dalam novel berkembang,” terangnya.

Wulan Dewi Saraswati kemudian mengulas novel ini dari sudut pandang pembaca.
“Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak. Saya merasa luka para tokohnya terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.”
Menurutnya, kekuatan Korpus Uterus bukan semata terletak pada keberaniannya mengangkat tema-tema sensitif, melainkan pada kemampuannya membuat pembaca ikut merasakan pergulatan batin para tokohnya.
Percakapan kemudian bergeser pada konteks sejarah. Saya menanyakan alasan Sasti memasukkan peristiwa 1965 dan tragedi 1998 ke dalam cerita. Bukankah novel ini berbicara mengenai tubuh perempuan?
Sasti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap tubuh tidak pernah hadir sendirian. Ia selalu berkaitan dengan sejarah, kekuasaan, dan struktur sosial. Luka yang terjadi pada satu generasi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, tetapi juga perjalanan masyarakat yang membawa jejak berbagai tragedi kemanusiaan.
Sebagai pembaca, saya melihat pilihan itu membuat Korpus Uterus memiliki cakupan yang lebih luas. Novel ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai pendidikan seks. Dalam novel, tokoh Luh mengatakan bahwa banyak anak gadis menjadi korban karena orang tua terlalu malu membicarakan seks. Saya kemudian bertanya kepada Sasti, apakah sastra sendiri dapat menjadi medium pendidikan seks yang lebih efektif tinimbang ceramah atau kampanye formal?
Menanggapi pertanyaan itu, Sasti mengatakan bahwa sastra bukanlah pengganti pendidikan formal. Tetapi sastra bisa menghadirkan empati. Melalui cerita, pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tubuh atau kekerasan seksual, melainkan juga ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan trauma yang dialami para tokohnya.

Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada karakter Luh. Saya mengaku tertarik pada sosok laki-laki yang setiap hari berhadapan dengan perempuan-perempuan dalam kondisi paling rentan, tetapi tidak pernah memanfaatkan posisi tersebut. Padahal, banyak tokoh laki-laki lain dalam novel Korpus Uterus justru menjadi pelaku kekerasan seksual. Saya pun bertanya apakah Luh memang sengaja dihadirkan sebagai antitesis dari maskulinitas semacam itu?
Sasti tidak menggambarkan Luh sebagai manusia tanpa cela. Ia melihat Luh sebagai seseorang yang memilih tidak mengulang kekerasan yang melahirkan dirinya. Jawaban itu membuat karakter Luh terasa semakin kuat. Ia bukan tokoh yang hadir untuk menghakimi, melainkan seseorang yang berusaha memutus mata rantai luka.
Begitulah yang terjadi siang itu di halaman timur Gedong Kirtya. Setelah diskusi berakhir, peserta tidak langsung beranjak. Sebagian masih berbincang mengenai tokoh-tokohnya, sebagian mendiskusikan isu hak otonomi tubuh, sementara yang lain mengantre meminta tanda tangan penulis. Novel yang semula hanya berada di tangan pembaca berubah menjadi ruang percakapan mengenai tubuh, sejarah, kekerasan, pendidikan seks, dan hak asasi manusia.
Pada akhirnya, bedah buku Korpus Uterus tidak hanya membahas sebuah karya sastra. Diskusi itu menunjukkan bahwa sastra dapat membuka percakapan yang selama ini acap dianggap tabu. Dari rahim yang menjadi simbol kehidupan, Sasti Gotama mengajak pembaca berpikir ꟷ siapa yang sebenarnya berhak menentukan hak atas tubuh seseorang? [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































