22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
in Panggung
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!”

Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja Literary Festival (SLF), Minggu, 5 Juli 2026. Pernyataan tersebut bukan sekadar mewakili sikap salah satu tokohnya, melainkan menjadi gagasan utama novel yang mengangkat persoalan trauma, hak otonomi tubuh, dan kekerasan seksual.

Di Halaman Timur Gedong Kirtya, percakapan siang itu berlangsung di bawah rindangnya pepohonan. Saya berkesempatan menjadi moderator, memandu diskusi bersama Sasti Gotama selaku penulis dan Wulan Dewi Saraswati sebagai pembedah. Peserta tidak hanya datang untuk membicarakan sebuah novel, tetapi juga ingin memahami berbagai persoalan yang selama ini lebih sering dibisikkan daripada dibicarakan secara terbuka.

Korpus Uterus mengikuti perjalanan Panuluh atau Luh, seorang laki-laki yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh di tengah kekerasan serta penolakan. Dari perjalanan hidupnya, Sasti membawa pembaca memasuki persoalan kehamilan, pemerkosaan, aborsi, trauma, pendidikan seks, hingga hak perempuan menentukan masa depan tubuhnya sendiri. Novel ini juga menghadirkan riset medis yang kuat sekaligus memperlihatkan bagaimana sastra dapat menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman perempuan yang selama ini acap disembunyikan.

Sasti Gotama membahas ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 

Saya mengawali diskusi dengan pertanyaan mengenai titik mula novel tersebut. Rahim hadir sebagai simbol yang sangat dominan. Ia bukan hanya organ biologis, tetapi juga ruang kasih, trauma, dan pergulatan hak perempuan. Saya pun bertanya kepada Sasti, gagasan apa yang pertama kali lahir: tokoh Luh, isu aborsi, atau justru simbol rahim itu sendiri?

“Korpus Uterus ini lahir dari pengamatan langsung,” ujar Sasti. Ia mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman perempuan yang ditemuinya membuatnya ingin menulis cerita yang tidak berhenti pada persoalan biologis semata. Baginya, tubuh perempuan selalu berkaitan dengan pengalaman hidup, relasi kuasa, budaya, dan cara masyarakat memandang perempuan.

Sebagai pembaca, saya justru menyampaikan kesan yang sedikit berbeda. Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa tokoh utama novel ini bukanlah Luh, melainkan rahim itu sendiri. Rahim hadir sebagai ibu, luka, tempat kehidupan bermula, bahkan arena pertarungan moral, agama, budaya, dan hak asasi manusia. Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Sasti: apakah sejak awal rahim memang sengaja dijadikan ‘tokoh utama’ dalam novelnya?

Sasti mengamini pembacaan tersebut. “Rahim memang tidak saya tempatkan hanya sebagai organ reproduksi. Di sanalah kasih, trauma, dan pergulatan hidup para tokohnya bertemu. Dari simbol itulah berbagai konflik dalam novel berkembang,” terangnya.

Wulan Dewi Saraswati saat membedah novel ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Wulan Dewi Saraswati kemudian mengulas novel ini dari sudut pandang pembaca.

“Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak. Saya merasa luka para tokohnya terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.”

Menurutnya, kekuatan Korpus Uterus bukan semata terletak pada keberaniannya mengangkat tema-tema sensitif, melainkan pada kemampuannya membuat pembaca ikut merasakan pergulatan batin para tokohnya.

Percakapan kemudian bergeser pada konteks sejarah. Saya menanyakan alasan Sasti memasukkan peristiwa 1965 dan tragedi 1998 ke dalam cerita. Bukankah novel ini berbicara mengenai tubuh perempuan?

Sasti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap tubuh tidak pernah hadir sendirian. Ia selalu berkaitan dengan sejarah, kekuasaan, dan struktur sosial. Luka yang terjadi pada satu generasi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, tetapi juga perjalanan masyarakat yang membawa jejak berbagai tragedi kemanusiaan.

Sebagai pembaca, saya melihat pilihan itu membuat Korpus Uterus memiliki cakupan yang lebih luas. Novel ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai pendidikan seks. Dalam novel, tokoh Luh mengatakan bahwa banyak anak gadis menjadi korban karena orang tua terlalu malu membicarakan seks. Saya kemudian bertanya kepada Sasti, apakah sastra sendiri dapat menjadi medium pendidikan seks yang lebih efektif tinimbang ceramah atau kampanye formal?

Menanggapi pertanyaan itu, Sasti mengatakan bahwa sastra bukanlah pengganti pendidikan formal. Tetapi sastra bisa menghadirkan empati. Melalui cerita, pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tubuh atau kekerasan seksual, melainkan juga ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan trauma yang dialami para tokohnya.

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada karakter Luh. Saya mengaku tertarik pada sosok laki-laki yang setiap hari berhadapan dengan perempuan-perempuan dalam kondisi paling rentan, tetapi tidak pernah memanfaatkan posisi tersebut. Padahal, banyak tokoh laki-laki lain dalam novel Korpus Uterus justru menjadi pelaku kekerasan seksual. Saya pun bertanya apakah Luh memang sengaja dihadirkan sebagai antitesis dari maskulinitas semacam itu?

Sasti tidak menggambarkan Luh sebagai manusia tanpa cela. Ia melihat Luh sebagai seseorang yang memilih tidak mengulang kekerasan yang melahirkan dirinya. Jawaban itu membuat karakter Luh terasa semakin kuat. Ia bukan tokoh yang hadir untuk menghakimi, melainkan seseorang yang berusaha memutus mata rantai luka.

Begitulah yang terjadi siang itu di halaman timur Gedong Kirtya. Setelah diskusi berakhir, peserta tidak langsung beranjak. Sebagian masih berbincang mengenai tokoh-tokohnya, sebagian mendiskusikan isu hak otonomi tubuh, sementara yang lain mengantre meminta tanda tangan penulis. Novel yang semula hanya berada di tangan pembaca berubah menjadi ruang percakapan mengenai tubuh, sejarah, kekerasan, pendidikan seks, dan hak asasi manusia.

Pada akhirnya, bedah buku Korpus Uterus tidak hanya membahas sebuah karya sastra. Diskusi itu menunjukkan bahwa sastra dapat membuka percakapan yang selama ini acap dianggap tabu. Dari rahim yang menjadi simbol kehidupan, Sasti Gotama mengajak pembaca berpikir ꟷ siapa yang sebenarnya berhak menentukan hak atas tubuh seseorang? [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuSasti GotamaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Next Post

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ------Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co