1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Purba di Kota Denpasar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 1, 2026
in Esai
Manusia Purba di Kota Denpasar

Ilustrasi diolah dari Canva

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang kecil, orang keluar menuju jalan utama. Pedagang mendorong gerobak, pengemudi ojek daring melihat layar telepon, pekerja proyek berangkat membawa tas, sementara warung-warung mulai membuka pintu. Denpasar seperti bangun bukan karena matahari, melainkan karena manusia yang mulai bergerak.

Di sekitar Pasar Badung, suasana itu terasa lebih jelas. Pedagang sudah sibuk dengan barang dagangan, kendaraan keluar masuk, pembeli datang membawa tas belanja, dan orang-orang bergerak dengan urusannya masing-masing. Bau sayuran, bumbu dapur, makanan, asap kendaraan, dan udara pagi bercampur menjadi satu. Kota seperti memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling sibuk sebelum kantor dan pertokoan benar-benar penuh.

Saya sering melewati keramaian itu sambil berpikir tentang kehidupan manusia yang sangat jauh dari zaman kita. Ada sesuatu yang mengingatkan saya pada manusia purba. Bukan bentuk tubuh, pakaian, atau cara mereka berjalan, melainkan gerakannya. Manusia meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari dan menuju lingkungan yang menyediakan kemungkinan bagi hidupnya.

Saya tinggal di kota dan melihat semua itu sebagai bagian dari keseharian. Namun semakin lama memperhatikannya, semakin terasa bahwa kota menyimpan banyak cerita tentang manusia. Orang menuju pasar, proyek, kantor, warung, toko, atau jalan raya. Sebagian mencari pelanggan, sebagian mengejar waktu, sebagian berharap hari itu membawa hasil yang cukup.

Manusia purba mungkin keluar dari tempat perlindungannya untuk mencari makanan. Manusia kota keluar dari rumah atau kos untuk bekerja. Tentu keduanya tidak dapat disamakan. Dunia yang mereka hadapi berbeda, begitu pula teknologi dan sistem sosialnya. Tetapi gerakannya mengingatkan saya pada sesuatu yang sangat tua dalam sejarah manusia.

Pikiran itu semakin kuat ketika melihat pekerja sektor informal. Mereka tidak selalu mempunyai kepastian tentang berapa uang yang akan dibawa pulang. Pengemudi menunggu pesanan. Pedagang menunggu pembeli. Pekerja harian menunggu pekerjaan berikutnya. Mereka bergerak mengikuti kemungkinan yang tersedia di kota.

Di mata saya, Denpasar pada pagi hari seperti sebuah ruang perburuan yang telah berubah bentuk. Hutan telah menjadi jalan raya. Jejak binatang berubah menjadi alamat pelanggan. Alat berburu berubah menjadi sepeda motor dan telepon genggam. Yang dicari bukan lagi daging atau tumbuhan, melainkan penghasilan.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa warga Denpasar hidup seperti manusia purba. Perbandingan itu terlalu sederhana. Manusia purba hidup dalam kondisi ekologis yang berbeda jauh. Mereka menggunakan alat, mengolah makanan, mencari tempat berlindung, dan membangun hubungan sosial untuk menghadapi lingkungan.

Perubahan lingkungan tidak menghapus kebutuhan manusia, tetapi mengubah cara memenuhinya. Hutan menjadi kota. Sumber makanan berada jauh dari tangan manusia dan dihubungkan oleh pekerjaan, uang, perdagangan, transportasi, serta sistem ekonomi yang semakin kompleks.

Seorang pengemudi ojek daring mungkin tidak pernah membayangkan dirinya sebagai manusia yang sedang berburu. Ia hanya bekerja. Telepon genggam digunakan untuk menerima pesanan, sepeda motor membawanya menuju pelanggan, lalu perjalanan berlanjut menuju pekerjaan berikutnya.

Jika dilihat dari jarak yang lebih jauh, terdapat pola yang terasa tua. Seseorang menggunakan alat, bergerak menuju sumber daya, mengerahkan tenaga, lalu memperoleh hasil. Bagi pengemudi, hasil itu berupa pendapatan. Bagi pedagang, berasal dari barang yang terjual. Bagi pekerja harian, mungkin berupa upah setelah menyelesaikan pekerjaan.

Pedagang kecil menghadapi ketidakpastian yang tidak jauh berbeda. Sejak pagi ia menyiapkan barang, menghitung modal, menentukan harga, lalu menunggu pembeli. Cuaca, keramaian, daya beli, lokasi, dan keberadaan pedagang lain dapat memengaruhi hasil. Tidak semuanya berada dalam kendalinya.

Hari yang ramai membawa sedikit kelonggaran. Hari yang sepi membuat perhitungan menjadi lebih berat. Namun kehidupan tidak berhenti karena dagangan tidak habis. Besok pekerjaan kembali dimulai. Mencari nafkah berarti berhadapan dengan kemungkinan yang tidak selalu dapat diprediksi.

Di sinilah kota terasa keras. Bukan semata-mata karena kemacetan, gedung yang rapat, suara kendaraan, atau pembangunan yang terus berlangsung. Kekerasan kota juga hadir melalui biaya hidup, pendapatan yang tidak pasti, persaingan pekerjaan, harga sewa, dan waktu yang terus berjalan.

Tekanan itu tidak mempunyai bentuk seperti binatang liar. Ia muncul sebagai angka di layar telepon, saldo rekening, tagihan, harga bahan bakar, atau uang yang semakin cepat berkurang. Seseorang mungkin terlihat santai ketika duduk di atas sepeda motor atau menjaga warung, tetapi di dalam pikirannya berlangsung perhitungan yang tidak selalu diketahui orang lain.

Bagi pekerja sektor informal, ketidakpastian itu terasa lebih dekat. Pelanggan bisa berkurang. Pesanan tidak selalu datang. Dagangan mungkin tersisa. Pekerjaan harian dapat berhenti sewaktu-waktu. Penghasilan tidak selalu memiliki kepastian, sementara hari berikutnya sudah menunggu.

Karena itu, pagi memiliki arti yang berbeda bagi banyak orang. Bagi sebagian orang, pagi mungkin sekadar awal aktivitas. Bagi yang lain, pagi merupakan kesempatan memperoleh hasil sebelum hari berakhir. Harapannya tidak selalu besar. Kadang cukup mendapatkan uang untuk makan, membeli bensin, membayar sewa kamar, atau membawa pulang sesuatu untuk keluarga.

Kota modern telah membuat hubungan manusia dengan makanan menjadi semakin tidak langsung. Kita tidak perlu masuk ke hutan untuk mendapatkan buah atau mengejar hewan untuk mendapatkan daging. Makanan tersedia di pasar, warung, restoran, toko, dan berbagai layanan pesan antar. Di antara manusia dan makanan terdapat pekerjaan, uang, perdagangan, transportasi, serta jaringan distribusi yang panjang.

Uang menjadi perantara yang memungkinkan semua itu berlangsung. Seseorang menjual tenaga untuk memperoleh uang, kemudian menggunakannya untuk mendapatkan kebutuhan lain. Hubungan yang dahulu lebih langsung dengan lingkungan kini berlangsung melalui sistem yang jauh lebih kompleks.

Mungkin di sinilah salah satu perbedaan besar antara kehidupan purba dan kehidupan kota. Manusia modern tidak selalu melihat dari mana kebutuhannya berasal. Sepiring nasi di meja makan melibatkan petani, pedagang, pengangkut, penjual, pekerja dapur, dan banyak orang lain yang tidak pernah kita temui.

Namun manusia tetap membutuhkan manusia lain. Pedagang membutuhkan pembeli, pengemudi membutuhkan penumpang, warung membutuhkan pemasok, pekerja membutuhkan pemberi kerja, dan penulis membutuhkan pembaca. Di balik kehidupan kota yang tampak individual, terdapat jaringan hubungan yang membuat seseorang dapat menjalankan pekerjaannya.

Hubungan sosial itu juga terlihat dalam hal-hal kecil. Teman memberi kabar tentang pekerjaan. Tetangga membantu ketika seseorang kesulitan. Keluarga menjadi tempat meminta pertolongan. Pedagang saling berbagi informasi. Bantuan semacam itu jarang tercatat dalam laporan ekonomi, tetapi sering menentukan apakah seseorang dapat melewati masa sulit.

Warung adalah salah satu tempat yang memperlihatkan kehidupan sosial tersebut. Orang datang untuk makan atau minum, tetapi percakapan sering menjadi bagian dari pengalaman. Berita tentang pekerjaan, harga kebutuhan, keadaan lingkungan, sampai urusan keluarga berpindah dari satu percakapan ke percakapan berikutnya.

Saya membayangkan manusia purba berkumpul di sekitar api setelah melewati hari yang panjang. Kita tentu tidak dapat menyamakan api dengan meja warung. Namun manusia tetap membutuhkan ruang untuk berhenti, makan, berbicara, dan bertemu dengan orang lain. Peradaban mengubah tempatnya, tetapi kebutuhan untuk berhubungan tidak hilang.

Teknologi kemudian memperpanjang kemampuan manusia. Telepon genggam mempertemukan penjual dan pembeli. Aplikasi menghubungkan pengemudi dengan penumpang. Media sosial mempertemukan penulis dengan pembaca. Internet memungkinkan seseorang mencari pekerjaan tanpa harus mendatangi tempatnya secara langsung.

Saya sendiri tidak sepenuhnya berada di luar gambaran tersebut. Sebagai penulis, saya banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Saya tidak membawa alat berburu ke jalan. Saya bekerja dengan kata-kata, informasi, dan gagasan. Dari meja kerja yang sederhana, saya mencoba menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi tulisan, pekerjaan, atau penghasilan.

Kadang pekerjaan menulis terlihat jauh dari gambaran manusia yang sedang berjuang di jalan. Tidak ada gerobak yang didorong, penumpang yang diantar, atau barang yang dijajakan. Namun saya juga mengenal kegelisahan ketika pekerjaan belum selesai dan hasilnya belum jelas. Di depan layar, bentuk perjuangannya berbeda.

Mungkin karena itu saya melihat kota dengan cara yang sedikit berbeda. Di balik kesibukan yang tampak biasa, terdapat manusia yang sedang mengatur hidupnya masing-masing. Mereka menghitung waktu, tenaga, biaya, dan kemungkinan. Tidak semua perhitungan itu terlihat dari luar.

Kita sering melihat kota melalui gedung, jalan, pusat perdagangan, dan perkembangan ekonominya. Padahal kota juga dapat dibaca melalui tubuh manusia yang bergerak di dalamnya. Orang yang berjalan membawa barang, pengemudi yang menunggu pesanan, pedagang yang menata dagangan, pekerja yang mengejar waktu, semuanya membentuk denyut kehidupan kota.

Denpasar menjadi menarik justru karena kehidupan seperti itu berlangsung berdampingan. Jalan yang sama digunakan oleh pekerja kantoran dan pedagang kecil. Kawasan yang sama mempertemukan hotel, kos, warung, toko, proyek pembangunan, dan permukiman. Kota menjadi ruang tempat berbagai tingkat kehidupan bertemu setiap hari.

Dari jalan, semua itu tampak seperti gerakan yang tidak pernah selesai. Sepeda motor bergerak dari satu persimpangan ke persimpangan lain. Gerobak didorong menuju tempat mangkal. Pintu toko dibuka. Pesanan datang melalui telepon. Orang berjalan menuju tempat kerja. Matahari semakin tinggi, sementara kota semakin ramai.

Pada sore hari, sebagian dari mereka mulai pulang. Hasil yang dibawa tentu tidak sama. Sebagian merasa cukup, sebagian kecewa, sebagian masih harus memikirkan hari berikutnya. Namun siklus kehidupan kota tidak menunggu terlalu lama. Setelah malam berlalu, pagi akan datang kembali.

Saya kira manusia modern sering merasa telah berjalan sangat jauh dari kehidupan nenek moyangnya. Kita mempunyai teknologi yang tidak pernah dibayangkan manusia ribuan tahun lalu. Kita dapat berkomunikasi melintasi benua, bepergian dengan kendaraan cepat, bekerja melalui internet, dan memperoleh makanan tanpa mengetahui siapa yang memproduksinya.

Tetapi jarak sejarah itu tidak sepenuhnya menghapus hal-hal yang paling dasar. Cara manusia memperoleh makanan, tempat tinggal, rasa aman, dan penghasilan telah berubah. Yang tersisa adalah dorongan untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki dan mencari jalan di tengah lingkungan yang terus berubah.

Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa warga Denpasar hidup seperti manusia purba. Yang saya lihat adalah sebuah jejak yang lebih tua daripada kota, pekerjaan, uang, bahkan sebagian besar teknologi yang kita gunakan.

Jejak itu berupa dorongan untuk bergerak ketika sesuatu harus dicari. Manusia meninggalkan tempat tinggal, menggunakan kemampuan yang dimiliki, mencari peluang, berhubungan dengan orang lain, lalu kembali membawa hasil dari apa yang dikerjakannya.

Dulu lingkungan alam menjadi ruang utama bagi proses tersebut. Sekarang sebagian besar berlangsung di dalam kota. Hutan digantikan jalan raya, alat sederhana berkembang menjadi teknologi, dan hasil yang dicari tidak lagi berupa makanan yang diperoleh langsung dari alam.

Denpasar memperlihatkan perubahan itu setiap hari. Kota bergerak bersama manusia yang menghuninya. Mereka datang dari rumah, kos, kontrakan, dan berbagai tempat tinggal lain, lalu memenuhi jalan dengan tujuan masing-masing.

Ketika melihat mereka pada pagi hari, saya teringat pada manusia yang hidup jauh sebelum kota-kota berdiri. Bukan karena pakaian atau bentuk tubuh mereka sama, melainkan karena ada sesuatu yang masih tinggal dalam diri manusia. Sebuah dorongan untuk bergerak, mencari, bekerja, dan pulang.

Mungkin itulah sebabnya manusia purba terasa begitu dekat dengan kehidupan kota. Bukan karena zaman berjalan mundur, melainkan karena manusia membawa sejarah yang panjang di dalam dirinya. Peradaban telah mengubah lingkungan, alat, pekerjaan, dan cara hidup, tetapi belum sepenuhnya mengubah manusia yang menggunakannya. Di tengah suara sepeda motor, klakson, percakapan pedagang, notifikasi telepon, dan lalu lintas yang terus bergerak, saya melihat manusia yang sedang menjalani kehidupannya. Mereka bukan manusia purba. Mereka adalah manusia kota. Namun mungkin, di dalam diri mereka, manusia purba itu belum sepenuhnya pergi. Ia hanya belajar hidup di Denpasar.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co