SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang kecil, orang keluar menuju jalan utama. Pedagang mendorong gerobak, pengemudi ojek daring melihat layar telepon, pekerja proyek berangkat membawa tas, sementara warung-warung mulai membuka pintu. Denpasar seperti bangun bukan karena matahari, melainkan karena manusia yang mulai bergerak.
Di sekitar Pasar Badung, suasana itu terasa lebih jelas. Pedagang sudah sibuk dengan barang dagangan, kendaraan keluar masuk, pembeli datang membawa tas belanja, dan orang-orang bergerak dengan urusannya masing-masing. Bau sayuran, bumbu dapur, makanan, asap kendaraan, dan udara pagi bercampur menjadi satu. Kota seperti memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling sibuk sebelum kantor dan pertokoan benar-benar penuh.
Saya sering melewati keramaian itu sambil berpikir tentang kehidupan manusia yang sangat jauh dari zaman kita. Ada sesuatu yang mengingatkan saya pada manusia purba. Bukan bentuk tubuh, pakaian, atau cara mereka berjalan, melainkan gerakannya. Manusia meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari dan menuju lingkungan yang menyediakan kemungkinan bagi hidupnya.
Saya tinggal di kota dan melihat semua itu sebagai bagian dari keseharian. Namun semakin lama memperhatikannya, semakin terasa bahwa kota menyimpan banyak cerita tentang manusia. Orang menuju pasar, proyek, kantor, warung, toko, atau jalan raya. Sebagian mencari pelanggan, sebagian mengejar waktu, sebagian berharap hari itu membawa hasil yang cukup.
Manusia purba mungkin keluar dari tempat perlindungannya untuk mencari makanan. Manusia kota keluar dari rumah atau kos untuk bekerja. Tentu keduanya tidak dapat disamakan. Dunia yang mereka hadapi berbeda, begitu pula teknologi dan sistem sosialnya. Tetapi gerakannya mengingatkan saya pada sesuatu yang sangat tua dalam sejarah manusia.
Pikiran itu semakin kuat ketika melihat pekerja sektor informal. Mereka tidak selalu mempunyai kepastian tentang berapa uang yang akan dibawa pulang. Pengemudi menunggu pesanan. Pedagang menunggu pembeli. Pekerja harian menunggu pekerjaan berikutnya. Mereka bergerak mengikuti kemungkinan yang tersedia di kota.
Di mata saya, Denpasar pada pagi hari seperti sebuah ruang perburuan yang telah berubah bentuk. Hutan telah menjadi jalan raya. Jejak binatang berubah menjadi alamat pelanggan. Alat berburu berubah menjadi sepeda motor dan telepon genggam. Yang dicari bukan lagi daging atau tumbuhan, melainkan penghasilan.
Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa warga Denpasar hidup seperti manusia purba. Perbandingan itu terlalu sederhana. Manusia purba hidup dalam kondisi ekologis yang berbeda jauh. Mereka menggunakan alat, mengolah makanan, mencari tempat berlindung, dan membangun hubungan sosial untuk menghadapi lingkungan.
Perubahan lingkungan tidak menghapus kebutuhan manusia, tetapi mengubah cara memenuhinya. Hutan menjadi kota. Sumber makanan berada jauh dari tangan manusia dan dihubungkan oleh pekerjaan, uang, perdagangan, transportasi, serta sistem ekonomi yang semakin kompleks.
Seorang pengemudi ojek daring mungkin tidak pernah membayangkan dirinya sebagai manusia yang sedang berburu. Ia hanya bekerja. Telepon genggam digunakan untuk menerima pesanan, sepeda motor membawanya menuju pelanggan, lalu perjalanan berlanjut menuju pekerjaan berikutnya.
Jika dilihat dari jarak yang lebih jauh, terdapat pola yang terasa tua. Seseorang menggunakan alat, bergerak menuju sumber daya, mengerahkan tenaga, lalu memperoleh hasil. Bagi pengemudi, hasil itu berupa pendapatan. Bagi pedagang, berasal dari barang yang terjual. Bagi pekerja harian, mungkin berupa upah setelah menyelesaikan pekerjaan.
Pedagang kecil menghadapi ketidakpastian yang tidak jauh berbeda. Sejak pagi ia menyiapkan barang, menghitung modal, menentukan harga, lalu menunggu pembeli. Cuaca, keramaian, daya beli, lokasi, dan keberadaan pedagang lain dapat memengaruhi hasil. Tidak semuanya berada dalam kendalinya.
Hari yang ramai membawa sedikit kelonggaran. Hari yang sepi membuat perhitungan menjadi lebih berat. Namun kehidupan tidak berhenti karena dagangan tidak habis. Besok pekerjaan kembali dimulai. Mencari nafkah berarti berhadapan dengan kemungkinan yang tidak selalu dapat diprediksi.
Di sinilah kota terasa keras. Bukan semata-mata karena kemacetan, gedung yang rapat, suara kendaraan, atau pembangunan yang terus berlangsung. Kekerasan kota juga hadir melalui biaya hidup, pendapatan yang tidak pasti, persaingan pekerjaan, harga sewa, dan waktu yang terus berjalan.
Tekanan itu tidak mempunyai bentuk seperti binatang liar. Ia muncul sebagai angka di layar telepon, saldo rekening, tagihan, harga bahan bakar, atau uang yang semakin cepat berkurang. Seseorang mungkin terlihat santai ketika duduk di atas sepeda motor atau menjaga warung, tetapi di dalam pikirannya berlangsung perhitungan yang tidak selalu diketahui orang lain.
Bagi pekerja sektor informal, ketidakpastian itu terasa lebih dekat. Pelanggan bisa berkurang. Pesanan tidak selalu datang. Dagangan mungkin tersisa. Pekerjaan harian dapat berhenti sewaktu-waktu. Penghasilan tidak selalu memiliki kepastian, sementara hari berikutnya sudah menunggu.
Karena itu, pagi memiliki arti yang berbeda bagi banyak orang. Bagi sebagian orang, pagi mungkin sekadar awal aktivitas. Bagi yang lain, pagi merupakan kesempatan memperoleh hasil sebelum hari berakhir. Harapannya tidak selalu besar. Kadang cukup mendapatkan uang untuk makan, membeli bensin, membayar sewa kamar, atau membawa pulang sesuatu untuk keluarga.
Kota modern telah membuat hubungan manusia dengan makanan menjadi semakin tidak langsung. Kita tidak perlu masuk ke hutan untuk mendapatkan buah atau mengejar hewan untuk mendapatkan daging. Makanan tersedia di pasar, warung, restoran, toko, dan berbagai layanan pesan antar. Di antara manusia dan makanan terdapat pekerjaan, uang, perdagangan, transportasi, serta jaringan distribusi yang panjang.
Uang menjadi perantara yang memungkinkan semua itu berlangsung. Seseorang menjual tenaga untuk memperoleh uang, kemudian menggunakannya untuk mendapatkan kebutuhan lain. Hubungan yang dahulu lebih langsung dengan lingkungan kini berlangsung melalui sistem yang jauh lebih kompleks.
Mungkin di sinilah salah satu perbedaan besar antara kehidupan purba dan kehidupan kota. Manusia modern tidak selalu melihat dari mana kebutuhannya berasal. Sepiring nasi di meja makan melibatkan petani, pedagang, pengangkut, penjual, pekerja dapur, dan banyak orang lain yang tidak pernah kita temui.
Namun manusia tetap membutuhkan manusia lain. Pedagang membutuhkan pembeli, pengemudi membutuhkan penumpang, warung membutuhkan pemasok, pekerja membutuhkan pemberi kerja, dan penulis membutuhkan pembaca. Di balik kehidupan kota yang tampak individual, terdapat jaringan hubungan yang membuat seseorang dapat menjalankan pekerjaannya.
Hubungan sosial itu juga terlihat dalam hal-hal kecil. Teman memberi kabar tentang pekerjaan. Tetangga membantu ketika seseorang kesulitan. Keluarga menjadi tempat meminta pertolongan. Pedagang saling berbagi informasi. Bantuan semacam itu jarang tercatat dalam laporan ekonomi, tetapi sering menentukan apakah seseorang dapat melewati masa sulit.
Warung adalah salah satu tempat yang memperlihatkan kehidupan sosial tersebut. Orang datang untuk makan atau minum, tetapi percakapan sering menjadi bagian dari pengalaman. Berita tentang pekerjaan, harga kebutuhan, keadaan lingkungan, sampai urusan keluarga berpindah dari satu percakapan ke percakapan berikutnya.
Saya membayangkan manusia purba berkumpul di sekitar api setelah melewati hari yang panjang. Kita tentu tidak dapat menyamakan api dengan meja warung. Namun manusia tetap membutuhkan ruang untuk berhenti, makan, berbicara, dan bertemu dengan orang lain. Peradaban mengubah tempatnya, tetapi kebutuhan untuk berhubungan tidak hilang.
Teknologi kemudian memperpanjang kemampuan manusia. Telepon genggam mempertemukan penjual dan pembeli. Aplikasi menghubungkan pengemudi dengan penumpang. Media sosial mempertemukan penulis dengan pembaca. Internet memungkinkan seseorang mencari pekerjaan tanpa harus mendatangi tempatnya secara langsung.
Saya sendiri tidak sepenuhnya berada di luar gambaran tersebut. Sebagai penulis, saya banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Saya tidak membawa alat berburu ke jalan. Saya bekerja dengan kata-kata, informasi, dan gagasan. Dari meja kerja yang sederhana, saya mencoba menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi tulisan, pekerjaan, atau penghasilan.
Kadang pekerjaan menulis terlihat jauh dari gambaran manusia yang sedang berjuang di jalan. Tidak ada gerobak yang didorong, penumpang yang diantar, atau barang yang dijajakan. Namun saya juga mengenal kegelisahan ketika pekerjaan belum selesai dan hasilnya belum jelas. Di depan layar, bentuk perjuangannya berbeda.
Mungkin karena itu saya melihat kota dengan cara yang sedikit berbeda. Di balik kesibukan yang tampak biasa, terdapat manusia yang sedang mengatur hidupnya masing-masing. Mereka menghitung waktu, tenaga, biaya, dan kemungkinan. Tidak semua perhitungan itu terlihat dari luar.
Kita sering melihat kota melalui gedung, jalan, pusat perdagangan, dan perkembangan ekonominya. Padahal kota juga dapat dibaca melalui tubuh manusia yang bergerak di dalamnya. Orang yang berjalan membawa barang, pengemudi yang menunggu pesanan, pedagang yang menata dagangan, pekerja yang mengejar waktu, semuanya membentuk denyut kehidupan kota.
Denpasar menjadi menarik justru karena kehidupan seperti itu berlangsung berdampingan. Jalan yang sama digunakan oleh pekerja kantoran dan pedagang kecil. Kawasan yang sama mempertemukan hotel, kos, warung, toko, proyek pembangunan, dan permukiman. Kota menjadi ruang tempat berbagai tingkat kehidupan bertemu setiap hari.
Dari jalan, semua itu tampak seperti gerakan yang tidak pernah selesai. Sepeda motor bergerak dari satu persimpangan ke persimpangan lain. Gerobak didorong menuju tempat mangkal. Pintu toko dibuka. Pesanan datang melalui telepon. Orang berjalan menuju tempat kerja. Matahari semakin tinggi, sementara kota semakin ramai.
Pada sore hari, sebagian dari mereka mulai pulang. Hasil yang dibawa tentu tidak sama. Sebagian merasa cukup, sebagian kecewa, sebagian masih harus memikirkan hari berikutnya. Namun siklus kehidupan kota tidak menunggu terlalu lama. Setelah malam berlalu, pagi akan datang kembali.
Saya kira manusia modern sering merasa telah berjalan sangat jauh dari kehidupan nenek moyangnya. Kita mempunyai teknologi yang tidak pernah dibayangkan manusia ribuan tahun lalu. Kita dapat berkomunikasi melintasi benua, bepergian dengan kendaraan cepat, bekerja melalui internet, dan memperoleh makanan tanpa mengetahui siapa yang memproduksinya.
Tetapi jarak sejarah itu tidak sepenuhnya menghapus hal-hal yang paling dasar. Cara manusia memperoleh makanan, tempat tinggal, rasa aman, dan penghasilan telah berubah. Yang tersisa adalah dorongan untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki dan mencari jalan di tengah lingkungan yang terus berubah.
Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa warga Denpasar hidup seperti manusia purba. Yang saya lihat adalah sebuah jejak yang lebih tua daripada kota, pekerjaan, uang, bahkan sebagian besar teknologi yang kita gunakan.
Jejak itu berupa dorongan untuk bergerak ketika sesuatu harus dicari. Manusia meninggalkan tempat tinggal, menggunakan kemampuan yang dimiliki, mencari peluang, berhubungan dengan orang lain, lalu kembali membawa hasil dari apa yang dikerjakannya.
Dulu lingkungan alam menjadi ruang utama bagi proses tersebut. Sekarang sebagian besar berlangsung di dalam kota. Hutan digantikan jalan raya, alat sederhana berkembang menjadi teknologi, dan hasil yang dicari tidak lagi berupa makanan yang diperoleh langsung dari alam.
Denpasar memperlihatkan perubahan itu setiap hari. Kota bergerak bersama manusia yang menghuninya. Mereka datang dari rumah, kos, kontrakan, dan berbagai tempat tinggal lain, lalu memenuhi jalan dengan tujuan masing-masing.
Ketika melihat mereka pada pagi hari, saya teringat pada manusia yang hidup jauh sebelum kota-kota berdiri. Bukan karena pakaian atau bentuk tubuh mereka sama, melainkan karena ada sesuatu yang masih tinggal dalam diri manusia. Sebuah dorongan untuk bergerak, mencari, bekerja, dan pulang.
Mungkin itulah sebabnya manusia purba terasa begitu dekat dengan kehidupan kota. Bukan karena zaman berjalan mundur, melainkan karena manusia membawa sejarah yang panjang di dalam dirinya. Peradaban telah mengubah lingkungan, alat, pekerjaan, dan cara hidup, tetapi belum sepenuhnya mengubah manusia yang menggunakannya. Di tengah suara sepeda motor, klakson, percakapan pedagang, notifikasi telepon, dan lalu lintas yang terus bergerak, saya melihat manusia yang sedang menjalani kehidupannya. Mereka bukan manusia purba. Mereka adalah manusia kota. Namun mungkin, di dalam diri mereka, manusia purba itu belum sepenuhnya pergi. Ia hanya belajar hidup di Denpasar.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole






























