6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian.

PAGI itu seorang ibu sedang membuka gorden rumahnya. Barangkali ia hanya hendak membiarkan cahaya pagi masuk ke ruang tamu. Sebuah pekerjaan kecil yang hampir tidak pernah kita pikirkan. Gorden ditarik ke samping, cahaya masuk, dan dunia di luar rumah kembali terlihat.

Tetapi pagi itu ada sesuatu yang lain. Di balik jendela, tiba-tiba muncul seraut wajah lelaki. Meringis. Melongok ke dalam rumah. Sang ibu terkejut bukan kepalang. Jantungnya mungkin berdegup lebih cepat daripada biasanya. Refleks pertamanya adalah berteriak, meminta lelaki itu pergi.

Lelaki itu bernama Karman. Ia dikenal orang kampung sebagai lelaki yang suka berjalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Pakaiannya lusuh. Rambutnya tidak terurus. Anak-anak kampung kadang meneriakinya dari kejauhan. “Orang gila!”

Karman mungkin mendengar. Mungkin juga tidak peduli. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah Karman memang mengalami gangguan kejiwaan, sedang berpura-pura, atau sekadar telah sampai pada sebuah keadaan di mana ia tidak lagi terlalu peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Konon, Karman berasal dari kampung seberang, pernah mengalami frustrasi berat. Persoalan perempuan, kata orang-orang. Setelah itu ia hampir tidak pernah pulang.

Hari-harinya dihabiskan dengan berjalan. Kadang ia duduk di pojok gardu ronda, diam berlama-lama sambil tersenyum sendiri. Tetapi jika ada orang yang mengajaknya berbicara, kadang-kadang ia masih bisa menjawab dengan baik. Bahkan nyambung.

Di sinilah kisah Karman menjadi sedikit mengganggu pikiran kita.

Sebab, sebenarnya, siapa Karman?

Dan lebih jauh lagi: siapa kita ketika berhadapan dengannya?

Wajah yang Muncul di Balik Jendela

Kita mungkin bisa memahami keterkejutan ibu tadi. Rumah adalah ruang privat. Jendela adalah batas antara dunia dalam dan dunia luar. Ketika tiba-tiba ada wajah asing muncul begitu dekat, tubuh kita akan bereaksi bahkan sebelum pikiran sempat bekerja.

Kita mundur. Kita takut. Kita berteriak. Kita mengusir. Tidak ada yang salah dengan respons spontan tersebut. Rasa takut adalah mekanisme manusia untuk mempertahankan diri. Namun setelah ketakutan itu berlalu, barangkali ada pertanyaan yang layak diajukan: apa yang sebenarnya kita lihat ketika melihat Karman? Apakah kita melihat seorang manusia? Ataukah kita terlebih dahulu melihat label yang sudah melekat padanya? “Orang gila.”

Satu kalimat pendek, tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa. Ia dapat menghapus nama seseorang, riwayat hidupnya, pengalaman cintanya, luka-lukanya, keluarganya, bahkan kemungkinan bahwa di balik perilakunya yang aneh masih ada seseorang yang sedang berusaha menjalani hidup.

Karman berhenti menjadi Karman. Ia menjadi “orang gila”. Dan begitu label itu diberikan, kita merasa tidak perlu lagi mencari tahu lebih jauh. Fenomenologi mengajak kita berhenti sejenak dari kebiasaan semacam itu. Ia mengajak kita kembali kepada pengalaman sebagaimana ia hadir.

Kita tidak segera bertanya, “Penyakit apa yang dideritanya?” Kita bertanya lebih sederhana: Bagaimana dunia dialami oleh Karman? Apa yang ia rasakan ketika berjalan sendirian dari satu tempat ke tempat lain? Apa yang ia pikirkan ketika duduk seorang diri di gardu ronda? Apa arti senyum yang muncul ketika tidak ada seorang pun yang sedang mengajaknya bercanda? Dan apa yang sebenarnya ia cari ketika pagi-pagi berdiri di depan jendela seseorang?

Kita tidak tahu. Dan justru di situlah persoalannya. Kita terlalu sering merasa tahu tentang seseorang hanya karena melihat sedikit perilakunya.

Ketika Dunia Seseorang Menjadi Berbeda

Dalam perspektif psikologi, seseorang yang mengalami tekanan berat, kehilangan, frustrasi, atau keterasingan dapat mengalami perubahan dalam cara ia memandang dirinya sendiri dan lingkungannya.

Tetapi manusia tidak pernah sesederhana daftar gejala. Ada pengalaman personal yang tidak bisa sepenuhnya dibaca hanya dari perilaku yang tampak. Mungkin Karman memang mengalami gangguan kejiwaan. Mungkin pula ada pengalaman hidup yang tidak pernah selesai ia cerna. Bisa jadi ia pernah kehilangan seseorang, kehilangan harapan, kehilangan tempat pulang, atau kehilangan kemampuan untuk kembali menjalani kehidupan sebagaimana orang lain menganggap “normal”. Kita tidak tahu.

Cerita tentang “persoalan perempuan” yang beredar di kampung pun belum tentu seluruh kebenaran. Itu hanya cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Seperti kebanyakan gosip, ia mungkin memiliki sedikit fakta, tetapi telah bercampur dengan tafsir banyak orang.

Yang kita lihat hanyalah permukaannya. Seorang lelaki berjalan tanpa tujuan. Seorang lelaki duduk sendirian. Seorang lelaki tersenyum sendiri. Seorang lelaki tiba-tiba muncul di balik jendela. Tetapi perilaku yang sama dapat mempunyai makna yang berbeda bagi orang yang mengalaminya. Di sinilah psikologi dan fenomenologi dapat saling bertemu.

Psikologi membantu kita memahami bahwa perilaku manusia memiliki latar pengalaman, emosi, trauma, kebutuhan, relasi sosial, dan kondisi mental yang kompleks. Fenomenologi mengingatkan kita agar tidak terburu-buru mengubah manusia menjadi objek pengamatan. Karman bukan sekadar “kasus”. Ia adalah seseorang yang memiliki dunia kehidupannya sendiri. Dunia yang mungkin tidak lagi sama dengan dunia yang kita kenal.

Normal Itu Milik Siapa?

Kita hidup dalam masyarakat yang mempunyai ukuran tentang kewajaran. Orang normal adalah orang yang bekerja, berpakaian pantas, berbicara pada tempatnya, pulang ke rumah, memiliki keluarga, mengetahui waktu tidur dan bangun, serta dapat menyesuaikan diri dengan aturan sosial. Maka ketika seseorang berjalan sepanjang hari tanpa tujuan, berbicara sendiri, tertawa tanpa sebab yang kita pahami, atau memakai pakaian yang lusuh, kita segera menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah.

Mungkin memang ada.

Tetapi pertanyaan lain layak kita ajukan: Apakah “normal” selalu berarti sehat?

Bukankah ada orang yang secara sosial tampak sangat normal tetapi menyimpan kesepian yang luar biasa? Ada orang yang setiap pagi pergi bekerja, setiap malam pulang ke rumah, berbicara dengan banyak orang, memiliki keluarga, mempunyai ribuan teman di media sosial—tetapi diam-diam merasa hidupnya tidak memiliki siapa-siapa. Ia tidak berjalan keluyuran seperti Karman. Ia tidak duduk tersenyum sendiri di gardu ronda. Ia mengenakan pakaian rapi dan mampu bercakap dengan sangat baik.

Tetapi mungkinkah keterasingan juga dapat tinggal di dalam dirinya?

Perbedaannya mungkin hanya satu: Karman memperlihatkan keterasingannya kepada dunia, sementara sebagian dari kita sangat pandai menyembunyikannya.

Karena itu kita perlu hati-hati ketika menggunakan kata “gila”.

Kata itu sering kali bukan hanya penjelasan tentang kondisi seseorang. Ia juga menjadi mekanisme sosial untuk menempatkan seseorang di luar lingkaran “kita”.

Begitu seseorang disebut gila, kita merasa tidak lagi mempunyai kewajiban untuk memahami. Ia menjadi “mereka”. Bukan “kita”.

Karman dan Dunia yang Tidak Lagi Memanggilnya Pulang

Ada satu hal dalam kisah Karman yang menurut saya lebih menyedihkan daripada pakaian lusuhnya atau kebiasaannya berjalan tanpa arah. Ia hampir tidak pernah pulang. Kita tidak tahu mengapa. Mungkin keluarganya sudah tidak ada.

Mungkin ia malu. Mungkin rumahnya tidak lagi terasa seperti rumah. Atau mungkin setelah sekian lama hidup di jalan, konsep tentang “pulang” sendiri sudah kehilangan makna.

Rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat seseorang merasa dirinya diterima sebagai dirinya sendiri. Dalam pengertian fenomenologis, rumah adalah ruang yang memberi rasa aman, keteraturan, dan kepemilikan. Tempat seseorang dapat meletakkan tubuh dan melepaskan kewaspadaan.

Jika Karman tidak pernah pulang, kita dapat bertanya secara sederhana: Apakah ia masih memiliki tempat yang bisa disebut rumah?  Barangkali itulah salah satu sisi paling menyedihkan dari keterasingan manusia.

Bukan ketika seseorang kehilangan alamat. Melainkan ketika seseorang kehilangan tempat untuk kembali. Kita tidak tahu apakah Karman sedang mencari rumah ketika ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi barangkali setiap manusia yang terus berjalan tanpa tujuan sesungguhnya sedang mencari sesuatu. Tempat. Orang. Pengakuan. Atau dirinya sendiri.

Tetapi Kita Juga Tidak Tahu Cara Menolong

Di sinilah persoalannya menjadi rumit. Kita bisa saja mengatakan bahwa Karman membutuhkan pertolongan. Tetapi pertolongan seperti apa? Membawanya pulang? Memberinya makanan? Mengajaknya bicara? Menghubungi keluarganya?

Membawanya ke tenaga profesional? Atau cukup dengan tidak meneriakinya?

Orang awam sering berada dalam posisi serba salah. Kita mungkin ingin membantu, tetapi tidak tahu caranya. Kita juga mungkin takut. Ketakutan itu tidak boleh dianggap sebagai dosa. Kita tetap perlu menjaga keamanan diri, keluarga, dan lingkungan. Karena itu, membantu orang seperti Karman tidak berarti bahwa setiap orang harus menjadi psikolog atau melakukan tindakan yang berada di luar kemampuannya.

Barangkali langkah pertama justru lebih sederhana: jangan mempermalukannya. Jangan menjadikan penderitaannya sebagai tontonan. Jangan mengerumuninya hanya untuk menertawakan. Jangan memancing perilaku anehnya demi hiburan.

Dan jika memungkinkan, perlakukan ia sebagai manusia yang memiliki nama.

“Karman.” Bukan “orang gila”. Nama mungkin tampak sederhana.

Tetapi menyebut nama seseorang berarti mengakui bahwa ia memiliki identitas.

Bahwa ia pernah menjadi seseorang sebelum dunia memberinya label.       

Gorden yang Dibuka, Dunia yang Tersingkap

Kita kembali kepada pagi itu. Gorden sebenarnya bukan hanya kain penutup jendela.

Ia adalah batas antara ruang privat dan dunia luar. Ketika gorden ditutup, kita mengatur siapa dan apa yang boleh masuk ke dalam dunia kita. Ketika gorden dibuka, kita bersedia melihat dunia.Namun pagi itu, dunia yang terlihat dari balik gorden ternyata bukan dunia yang kita harapkan.Ada wajah yang membuat kita takut.

Mungkin demikian pula kehidupan. Kita sering membuka “gorden” kehidupan dengan harapan melihat sesuatu yang indah, teratur, dan masuk akal. Tetapi kadang-kadang yang muncul adalah sesuatu yang membuat kita tidak nyaman. Manusia yang terluka. Manusia yang tersisih. Manusia yang perilakunya tidak kita pahami.

Barangkali kita memang tidak selalu bisa membuka pintu untuk semua orang.

Tetapi mungkin kita masih bisa belajar untuk tidak buru-buru menutup hati.

Barangkali Karman hanya membutuhkan seseorang yang mau melihat.Saya tidak tahu apakah Karman benar-benar mengalami gangguan jiwa. Dan saya kira kita tidak perlu menebaknya. Diagnosis adalah wilayah profesional. Kesehatan mental tidak seharusnya disimpulkan dari cerita tetangga, pakaian lusuh, senyum sendiri, atau kebiasaan berjalan tanpa tujuan.

Tetapi ada sesuatu yang lebih sederhana yang bisa kita lakukan: melihat Karman sebagai manusia. Mungkin ia membutuhkan pertolongan profesional. Mungkin ia membutuhkan keluarga. Mungkin ia membutuhkan lingkungan yang tidak terus-menerus mempermalukannya. Mungkin ia membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Mungkin pula semua itu membutuhkan proses yang panjang dan tidak sederhana.

Kita tidak tahu. Tetapi bukankah kemanusiaan sering kali dimulai justru dari pengakuan bahwa kita tidak tahu? Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam kepala orang lain. Kita tidak tahu luka apa yang dibawanya. Kita tidak tahu berapa lama ia berjuang. Kita tidak tahu berapa kali ia pernah mencoba kembali menjadi “normal” tetapi gagal. Dan kita tidak tahu apakah suatu hari nanti, ketika seseorang memanggil namanya dengan lembut, ia masih memiliki sedikit ruang di dalam dirinya untuk mendengar. Karman mungkin hanya satu orang di satu kampung.

Tetapi di tempat lain ada Karman-Karman yang lain. Ada yang berjalan di trotoar.

Ada yang tidur di emperan toko. Ada yang berbicara sendiri di halte. Ada yang duduk berjam-jam di taman. Ada yang berkeliaran tanpa tujuan. Ada pula yang tinggal bersama kita, tetapi secara batin telah lama pergi dari rumahnya sendiri. Mereka hadir di antara kita.

Kita melihatnya. Tetapi sering kali kita tidak sungguh-sungguh melihat. Mungkin itulah pelajaran paling sederhana dari wajah Karman di balik gorden pagi itu. Bahwa manusia tidak selalu membutuhkan orang lain untuk segera menyelesaikan hidupnya.

Kadang-kadang, sebelum pertolongan datang, ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak buru-buru mengubah dirinya menjadi sebuah label.

Seseorang yang bersedia melihatnya. Bukan sebagai “orang gila”. Melainkan sebagai Karman. Seorang manusia yang entah bagaimana pernah terluka, kemudian tersesat di dalam hidupnya sendiri.

Dan mungkin, seperti kita semua, ia hanya sedang mencari jalan untuk pulang.[T]

Tags: esai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Next Post

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails
Next Post
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co