21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
in Khas
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

Wayan Tumtum menjaga kiosnya yang sepi pengunjung│Foto: tatkala.co/Dede

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!”

Seruan itu begitu melekat dalam ingatan Wayan Putra (23). Ia mendengarnya setiap kali menyusuri Pasar Seni Sukawati bersama ibunya semasa kecil. Para pedagang akan bersiap menyambut setiap pengunjung dengan kain Bali di tangan dan seruan yang terdengar berulang setiap hari. Kadang, ada juga pedagang acung yang menghampiri, menawarkan suvenir setengah memaksa. Meski hiruk-pikuk itu tampak membosankan, bagi Wayan, justru itulah yang membuat pasar hidup, ada keramaian dan interaksi.

Dulu, Pasar Seni Sukawati berdiri tepat di depan Pasar Umum Sukawati. Lokasinya strategis, warga bisa membeli kebutuhan pokok, kemudian berburu barang seni. Rombongan wisatawan kerap berhenti, menyaksikan hiruk-pikuk kehidupan yang bergerak dinamis di antara dua pasar itu.

Kini, semua terasa jauh, Pasar Seni Sukawati yang dulu Wayan kenal telah berubah wajah. Wayan kini datang sebagai orang dewasa, nyaris tak mengenali tempat yang dulu begitu hidup dalam memorinya. Tembok-tembok beraroma cat segar, lift mengangkat pelan pengunjung yang tak banyak, dan udara dingin dari pendingin ruangan menyelimuti setiap sudut gedung yang megah. Riuh tawar-menawar tak terdengar seperti dulu. Hanya suara langkah kaki, bersahutan dalam lorong-lorong lengang.

Pasar Seni Sukawati Blok C (dahulunya pasar umum)│Foto: tatkala.co/Dede

Kios-kios lengang sepi pengunjung│Foto: tatkala.co/Dede

Di salah satu kios Blok B, seorang perempuan paruh baya duduk tenang. Di sekelilingnya, kain-kain Bali tertata rapi. Wayan berhenti sejenak, di matanya, kios itu tak hanya menjual kain, tapi juga kenangan. Perempuan itu bernama Wayan Tumtum, sejak 1985 setia menjaga kios di Pasar Seni Sukawati. “Sekarang memang lebih nyaman, tapi sepi. Kalau dulu ramai, sekarang sudah kalah sama pusat oleh-oleh,” ucapnya lirih, menghela napas.

Megah yang Merenggut Riuh

Revitalisasi besar-besaran sejak 2020 memang menciptakan bangunan yang megah dan mencolok. Tapi keberhasilan fisik itu seakan menghapus denyut kehidupan. Pasar Umum Sukawati pun kena imbasnya. Para pedagang kehilangan tempat, langganan beralih ke pasar lain. Dikutip dari BaliPost.com, beberapa pedagang dipindahkan ke lokasi baru, di Banjar Gelumpang, di atas tanah Desa Sukawati. Pemerintah menganggarkan Rp 10 miliar untuk relokasi itu. Tapi tak semua pedagang menerima. Sebagian memilih jalan sendiri: berpencar, bertahan, dan menyesuaikan.

“Dulu di sana ramai, bertemu pelanggan setia. Sekarang, rasanya seperti kehilangan rumah,” ujar seorang pedagang yang dulu berjualan di pasar umum, kini di pinggir jalan.

Wayan kembali mengingat suasana pagi di pasar umum. Bau bumbu dapur, suara klakson mikrolet, dan teriakan para pedagang saling bersahutan. Petani datang membawa hasil panen, ibu-ibu memilih sayur sambil menawar, anak-anak berlarian membawa jajanan. Ketika mikrolet hilir-mudik, sopirnya berseloroh, membuat penumpang tertawa:

“Cepetan, Bu! Nanti nggak kebagian kursi!” 

“Yang dompetnya tebal, bayar lebih ya. Biar saya bisa beli bakso juga!”

Candaan sederhana itu bisa membuat siapa pun tersenyum—menyuntikkan semangat dalam rutinitas pagi yang padat.

Pedagang pasar umum meluber ke kaki lima│Foto: tatkala.co/Dede

Sejak kabar revitalisasi itu datang, Wayan menyaksikan satu per satu kios mulai tutup bersiap pindah, mikrolet mulai lengang, pedagang berpencar. Kini, semua tinggal kenangan. Sebagian pedagang tampak berjualan di pinggir jalan. Sebagian lain, menghilang tanpa jejak. Kini, yang berdiri adalah bangunan megah bernama Pasar Seni Sukawati.

Kepala Pasar Umum Sukawati, AA Raka, membenarkan adanya perubahan tersebut. Ia menyebutkan bahwa pendekatan telah dilakukan kepada ratusan pedagang. “Awalnya sempat ada pro-kontra. Sekarang semua sudah menerima,” ujarnya, dikutip dari NusaBali.

AA Raka juga menambahkan bahwa pedagang yang ingin tetap berjualan di gedung baru harus mengganti jenis dagangan. “Mereka harus menjual kerajinan atau barang seni, seperti pedagang di Pasar Seni Sukawati,” katanya.

Tiga gedung baru kini berdiri: Blok A, B, dan C. Rp 160 miliar digelontorkan demi wajah baru yang megah, fasilitasnya lengkap: parkir bawah tanah, lift, dan pendingin ruangan. Sekarang, di setiap lantai, para pedagang wajib menjual barang sesuai kategori. Lantai dasar menjual lukisan dan aneka kerajinan, lantai satu hingga tiga menjual kain dan pakaian. Tak ada lagi keberagaman, tak ada kejutan di setiap belokan kios.

Pasar Seni Sukawati Blok B│Foto: tatkala.co/Dede

Kios-kios lengang sepi pengunjung│Foto: tatkala.co/Dede

“Sekarang harus sama. Dulu bisa campur-campur, pembeli senang bisa pilih-pilih,” keluh Made, pedagang kain di Blok A, yang kini hanya membawa pulang tak sampai Rp 100 ribu sehari.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada 2024, sebanyak 72,3 persen wisatawan domestik lebih memilih pusat oleh-oleh modern ketimbang pasar tradisional atau pasar seni.

“Sekarang terlalu steril. Wisatawan datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk merasakan suasana pasar yang khas. Ketika pasar terasa seperti mall, daya tariknya luntur,” ucap Ida Bagus Raka Suardana, Guru besar FEB, Undiknas Denpasar, dikutip dari tirto.id. Di sisi lain, pusat oleh-oleh modern menjulang, tersebar di mana-mana. Belanja lebih cepat, praktis, tak ada drama tawar-menawar, semua berlabel harga. Selain itu, situs belanja daring memungkinkan siapa pun membeli suvenir dari rumah. Tak perlu berkeringat, tak perlu basa-basi.

“Sekarang turis lebih hemat. Banyak potong pengeluaran, termasuk pengeluaran untuk oleh-oleh,” ujar Jro Gde Sudibya, pengamat ekonomi Bali, dikutip dari tirto.id. Menurut Sudibya, pariwisata masa kini lebih berbasis pengalaman dan konten media sosial. Bukan oleh-oleh yang dibawa pulang, tapi foto-foto.

Pasar Seni Sukawati Blok A│Foto: tatkala.co/Dede

Kini, banyak agen pariwisata bekerja sama dengan pusat oleh-oleh modern—tempat yang dianggap lebih praktis, terorganisir, dan penuh komisi. Pasar Seni Sukawati perlahan tersingkir dari rute kunjungan. Untuk itu, kondisi tersebut barangkali bukan semata salah pasar yang terlalu megah. Bisa jadi karena keliru dalam membaca arah, strategi promosi, dan pemasaran yang tertinggal. Pasar Seni Sukawati tak bisa hanya menadah remah dari pesta yang tak lagi mengundang, karena pasar yang menunggu tanpa bergerak akan dilupakan, ditinggalkan.

Ya, Pasar Seni Sukawati kerap hanya dilewati. Kalaupun disinggahi, kebanyakan hanya CLBK (Cuma Lihat Beli Kagak). Di tengah situasi yang kian menghimpit, masih ada yang bertahan, seperti Tumtum. Saban pagi ia membuka kios, menyusun kain, dan menata cerita. Ia percaya, suatu hari nanti, lorong-lorong lengang ini akan kembali bergema. Riuh tawar-menawar kembali terdengar, dan Pasar Seni Sukawati tak lagi hanya megah, tapi juga hidup. Sementara Wayan terus bertanya dalam hati, “Akankah pasar ini hidup kembali?”[T]

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Pasar Seni Sukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

Next Post

Manusia Purba di Kota Denpasar

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Manusia Purba di Kota Denpasar

Manusia Purba di Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co