“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!”
Seruan itu begitu melekat dalam ingatan Wayan Putra (23). Ia mendengarnya setiap kali menyusuri Pasar Seni Sukawati bersama ibunya semasa kecil. Para pedagang akan bersiap menyambut setiap pengunjung dengan kain Bali di tangan dan seruan yang terdengar berulang setiap hari. Kadang, ada juga pedagang acung yang menghampiri, menawarkan suvenir setengah memaksa. Meski hiruk-pikuk itu tampak membosankan, bagi Wayan, justru itulah yang membuat pasar hidup, ada keramaian dan interaksi.
Dulu, Pasar Seni Sukawati berdiri tepat di depan Pasar Umum Sukawati. Lokasinya strategis, warga bisa membeli kebutuhan pokok, kemudian berburu barang seni. Rombongan wisatawan kerap berhenti, menyaksikan hiruk-pikuk kehidupan yang bergerak dinamis di antara dua pasar itu.
Kini, semua terasa jauh, Pasar Seni Sukawati yang dulu Wayan kenal telah berubah wajah. Wayan kini datang sebagai orang dewasa, nyaris tak mengenali tempat yang dulu begitu hidup dalam memorinya. Tembok-tembok beraroma cat segar, lift mengangkat pelan pengunjung yang tak banyak, dan udara dingin dari pendingin ruangan menyelimuti setiap sudut gedung yang megah. Riuh tawar-menawar tak terdengar seperti dulu. Hanya suara langkah kaki, bersahutan dalam lorong-lorong lengang.


Di salah satu kios Blok B, seorang perempuan paruh baya duduk tenang. Di sekelilingnya, kain-kain Bali tertata rapi. Wayan berhenti sejenak, di matanya, kios itu tak hanya menjual kain, tapi juga kenangan. Perempuan itu bernama Wayan Tumtum, sejak 1985 setia menjaga kios di Pasar Seni Sukawati. “Sekarang memang lebih nyaman, tapi sepi. Kalau dulu ramai, sekarang sudah kalah sama pusat oleh-oleh,” ucapnya lirih, menghela napas.
Megah yang Merenggut Riuh
Revitalisasi besar-besaran sejak 2020 memang menciptakan bangunan yang megah dan mencolok. Tapi keberhasilan fisik itu seakan menghapus denyut kehidupan. Pasar Umum Sukawati pun kena imbasnya. Para pedagang kehilangan tempat, langganan beralih ke pasar lain. Dikutip dari BaliPost.com, beberapa pedagang dipindahkan ke lokasi baru, di Banjar Gelumpang, di atas tanah Desa Sukawati. Pemerintah menganggarkan Rp 10 miliar untuk relokasi itu. Tapi tak semua pedagang menerima. Sebagian memilih jalan sendiri: berpencar, bertahan, dan menyesuaikan.
“Dulu di sana ramai, bertemu pelanggan setia. Sekarang, rasanya seperti kehilangan rumah,” ujar seorang pedagang yang dulu berjualan di pasar umum, kini di pinggir jalan.
Wayan kembali mengingat suasana pagi di pasar umum. Bau bumbu dapur, suara klakson mikrolet, dan teriakan para pedagang saling bersahutan. Petani datang membawa hasil panen, ibu-ibu memilih sayur sambil menawar, anak-anak berlarian membawa jajanan. Ketika mikrolet hilir-mudik, sopirnya berseloroh, membuat penumpang tertawa:
“Cepetan, Bu! Nanti nggak kebagian kursi!”
“Yang dompetnya tebal, bayar lebih ya. Biar saya bisa beli bakso juga!”
Candaan sederhana itu bisa membuat siapa pun tersenyum—menyuntikkan semangat dalam rutinitas pagi yang padat.

Sejak kabar revitalisasi itu datang, Wayan menyaksikan satu per satu kios mulai tutup bersiap pindah, mikrolet mulai lengang, pedagang berpencar. Kini, semua tinggal kenangan. Sebagian pedagang tampak berjualan di pinggir jalan. Sebagian lain, menghilang tanpa jejak. Kini, yang berdiri adalah bangunan megah bernama Pasar Seni Sukawati.
Kepala Pasar Umum Sukawati, AA Raka, membenarkan adanya perubahan tersebut. Ia menyebutkan bahwa pendekatan telah dilakukan kepada ratusan pedagang. “Awalnya sempat ada pro-kontra. Sekarang semua sudah menerima,” ujarnya, dikutip dari NusaBali.
AA Raka juga menambahkan bahwa pedagang yang ingin tetap berjualan di gedung baru harus mengganti jenis dagangan. “Mereka harus menjual kerajinan atau barang seni, seperti pedagang di Pasar Seni Sukawati,” katanya.
Tiga gedung baru kini berdiri: Blok A, B, dan C. Rp 160 miliar digelontorkan demi wajah baru yang megah, fasilitasnya lengkap: parkir bawah tanah, lift, dan pendingin ruangan. Sekarang, di setiap lantai, para pedagang wajib menjual barang sesuai kategori. Lantai dasar menjual lukisan dan aneka kerajinan, lantai satu hingga tiga menjual kain dan pakaian. Tak ada lagi keberagaman, tak ada kejutan di setiap belokan kios.


“Sekarang harus sama. Dulu bisa campur-campur, pembeli senang bisa pilih-pilih,” keluh Made, pedagang kain di Blok A, yang kini hanya membawa pulang tak sampai Rp 100 ribu sehari.
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada 2024, sebanyak 72,3 persen wisatawan domestik lebih memilih pusat oleh-oleh modern ketimbang pasar tradisional atau pasar seni.
“Sekarang terlalu steril. Wisatawan datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk merasakan suasana pasar yang khas. Ketika pasar terasa seperti mall, daya tariknya luntur,” ucap Ida Bagus Raka Suardana, Guru besar FEB, Undiknas Denpasar, dikutip dari tirto.id. Di sisi lain, pusat oleh-oleh modern menjulang, tersebar di mana-mana. Belanja lebih cepat, praktis, tak ada drama tawar-menawar, semua berlabel harga. Selain itu, situs belanja daring memungkinkan siapa pun membeli suvenir dari rumah. Tak perlu berkeringat, tak perlu basa-basi.
“Sekarang turis lebih hemat. Banyak potong pengeluaran, termasuk pengeluaran untuk oleh-oleh,” ujar Jro Gde Sudibya, pengamat ekonomi Bali, dikutip dari tirto.id. Menurut Sudibya, pariwisata masa kini lebih berbasis pengalaman dan konten media sosial. Bukan oleh-oleh yang dibawa pulang, tapi foto-foto.

Kini, banyak agen pariwisata bekerja sama dengan pusat oleh-oleh modern—tempat yang dianggap lebih praktis, terorganisir, dan penuh komisi. Pasar Seni Sukawati perlahan tersingkir dari rute kunjungan. Untuk itu, kondisi tersebut barangkali bukan semata salah pasar yang terlalu megah. Bisa jadi karena keliru dalam membaca arah, strategi promosi, dan pemasaran yang tertinggal. Pasar Seni Sukawati tak bisa hanya menadah remah dari pesta yang tak lagi mengundang, karena pasar yang menunggu tanpa bergerak akan dilupakan, ditinggalkan.
Ya, Pasar Seni Sukawati kerap hanya dilewati. Kalaupun disinggahi, kebanyakan hanya CLBK (Cuma Lihat Beli Kagak). Di tengah situasi yang kian menghimpit, masih ada yang bertahan, seperti Tumtum. Saban pagi ia membuka kios, menyusun kain, dan menata cerita. Ia percaya, suatu hari nanti, lorong-lorong lengang ini akan kembali bergema. Riuh tawar-menawar kembali terdengar, dan Pasar Seni Sukawati tak lagi hanya megah, tapi juga hidup. Sementara Wayan terus bertanya dalam hati, “Akankah pasar ini hidup kembali?”[T]
Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































