WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan masih menempel di dedaunan, menghadirkan kesejukan di tengah kawasan hijau yang perlahan hidup oleh langkah-langkah kecil para siswa sekolah dasar. Tas tergantung di pundak, meja lipat mungil berada di tangan, sementara di benak mereka tersimpan beragam impian tentang desa tempat mereka tumbuh.
Pagi itu, Jimbaran bukan sekadar tempat tinggal yang mereka kenal sehari-hari. Desa itu menjadi ruang untuk membayangkan masa depan, tentang lingkungan yang lebih bersih, alam yang terjaga, dan kehidupan masyarakat yang tetap berakar pada budaya leluhur. Impian tersebut kemudian dituangkan melalui kata-kata dalam Jimbafest Presents: Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability).
Pekan CERIA digagas oleh Yayasan Jimbaran Hijau bersama UPT Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Badung serta Desa Adat Jimbaran, menjadi bagian dari perjalanan menuju Jimbafest 2027. Lebih dari sekadar rangkaian acara anak-anak, kegiatan ini membuka ruang perjumpaan antara pendidikan, kebudayaan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Di tengah pesatnya perkembangan kawasan Bali Selatan, inisiatif tersebut mengingatkan bahwa masa depan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Masa depan juga tumbuh dari cara generasi mudanya mengenali lingkungan, memahami warisan budaya, dan membayangkan kehidupan yang ingin mereka bangun Bersama,” kata CEO sekaligus Founder Jimbaran Hijau, Dr. Putu Agung Prianta, B.Eng(Hons.), MA, MH.
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian dalam pembukaan Pekan CERIA adalah lomba mengarang bertajuk “Impianku untuk Desa Jimbaran yang Terbaik”. Melalui lomba ini, siswa kelas IV hingga VI sekolah dasar mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan mereka tentang desa yang mereka cintai.
Bagi anak-anak, menulis bukan semata-mata menyusun kalimat atau memenuhi tugas sekolah. Tulisan menjadi ruang untuk menyuarakan harapan, mengungkapkan kegelisahan, sekaligus membayangkan perubahan yang mereka inginkan. Dari sudut pandang mereka, persoalan lingkungan dan masa depan desa dapat hadir dalam bentuk cerita sederhana, tetapi menyimpan kepedulian yang mendalam.

Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability) di Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
“Di sinilah nilai penting Pekan CERIA terasa. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan, melainkan juga sebagai subjek yang memiliki gagasan dan suara. Mereka diajak memahami bahwa lingkungan tempat tinggal bukan sesuatu yang berdiri jauh dari kehidupan mereka, melainkan bagian dari keseharian yang perlu dirawat Bersama,” ungkap Agung Prianta.
Pekan CERIA juga menghadirkan beragam lokakarya interaktif yang mempertemukan anak-anak dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman baru. Pengenalan Asta Kosala Kosali, Terra Cards, literasi finansial bersama blu by BCA Digital, serta sesi membaca nyaring atau read aloud menjadi bagian dari kegiatan yang menghidupkan suasana Jimbaran Hub.
Pengenalan Asta Kosala Kosali memiliki arti tersendiri dalam konteks pendidikan budaya Bali. Pengetahuan tradisional ini berkaitan dengan tata aturan dan prinsip arsitektur tradisional Bali, termasuk pemahaman mengenai penataan bangunan dan ruang berdasarkan nilai-nilai budaya setempat.
Memperkenalkan pengetahuan tersebut kepada generasi muda merupakan salah satu cara membuka percakapan tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Rumah, pekarangan, lingkungan, dan desa bukan sekadar unsur fisik, melainkan bagian dari tatanan kehidupan yang dibentuk oleh pengetahuan, kebiasaan, dan nilai yang diwariskan antargenerasi.

Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability) di Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Ketika anak-anak diperkenalkan pada pengetahuan lokal bersamaan dengan isu lingkungan dan keberlanjutan, mereka diajak melihat bahwa tradisi tidak harus terpisah dari kehidupan modern. Sebaliknya, pengetahuan budaya dapat menjadi salah satu sumber pemahaman dalam merawat ruang hidup di tengah perubahan zaman.
Bagi Jimbaran Hijau, pendidikan lingkungan dan pembentukan karakter sejak dini merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan. Selama 13 tahun, kawasan ini menyatakan konsisten mendorong kepedulian lingkungan serta pendidikan karakter hijau bagi anak-anak.
“Pekan CERIA menjadi momentum aksi nyata bersama yang bakal dirayakan puncaknya pada Jimbafest 2027. Ini adalah langkah selanjutnya dengan harapan anak-anak Jimbaran tumbuh sebagai penjaga alam dan budayanya sendiri,” ujarnya.
Harapan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam atau pengurangan dampak lingkungan. Di Bali, upaya menjaga keberlanjutan juga tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual.
Nilai tersebut tercermin dalam filosofi Tri Hita Karana, yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam. Maka, kolaborasi antara lembaga nirlaba, komunitas, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk membangun ekosistem kawasan yang sirkular dan berkelanjutan.

Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability) di Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
“Di tengah laju pembangunan, menjaga keotentikan Bali tetap menjadi pegangan. Pembangunan modern harus berjalan seimbang dengan akar budaya dan kelestarian alam, sesuai filosofi Tri Hita Karana,” tegasnya.
Melalui pendekatan ini, proses belajar tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Anak-anak dan keluarga dapat memperoleh pengalaman melalui seni, permainan, percakapan, kegiatan komunitas, serta perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap lingkungan.
Perwakilan UPT Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Badung juga menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan positif ini. Ajang seperti ini sangat krusial dalam menumbuhkan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan pada anak-anak di Bali sejak dini, sekaligus mengasah ruang ekspresi mereka,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Jimbaran Hijau, Yusea Eka Prasetya menegaskan, keterlibatan anak-anak dalam pendidikan lingkungan merupakan bagian dari perjalanan Jimbafest sejak awal. “Jimbafest memiliki sejarah yang tidak pernah lepas dari bagaimana kita merangkul anak-anak untuk belajar mencintai alam. Melalui Pekan CERIA, kami ingin memperkuat kembali fondasi tersebut agar nilai-nilai keberlanjutan tumbuh alami dalam keseharian mereka,” ujarnya.

Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability) di Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Ketua Dewan Juri Lomba Mengarang, Yudha Bantono mengaku, terkesan dengan kemurnian gagasan yang dituangkan para peserta. “Karya-karya anak-anak dalam lomba ini memperlihatkan imajinasi yang luar biasa murni. Melalui tulisan mereka, kita bisa melihat betapa besarnya kepedulian dan harapan mereka untuk masa depan Desa Jimbaran,” ungkapnya.
Karya-karya anak yang terpilih sebagai pemenang direncanakan akan dibukukan dan disebarluaskan ke sekolah-sekolah di Jimbaran serta berbagai sekolah di Bali. Rencana ini membuka kemungkinan agar suara anak-anak tidak berhenti sebagai bagian dari perlombaan, tetapi menjadi dokumentasi tentang bagaimana generasi muda memandang lingkungan dan kampung halamannya.
Dengan demikian, cerita-cerita tersebut berpotensi menjadi semacam catatan zaman yaitu rekaman sederhana tentang impian anak-anak terhadap desa yang mereka tinggali hari ini dan ingin mereka warisi pada masa mendatang.
Sebab, anak-anak yang hari ini menuliskan impian tentang Jimbaran mungkin kelak akan menjadi orang-orang yang ikut menentukan arah perkembangan desanya. Karena itu, memberi ruang bagi mereka untuk berbicara, berkreasi, dan mengenal warisan budaya merupakan bagian dari menyiapkan masa depan.

Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability) di Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Nuansa budaya juga hadir melalui penampilan angklung dari SLB Negeri 1 Badung. Alunan musik tradisional tersebut memberi warna tersendiri dalam rangkaian acara, sekaligus menghadirkan ruang ekspresi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa ruang kebudayaan dapat menjadi tempat perjumpaan yang terbuka bagi beragam kemampuan dan latar belakang. Seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana partisipasi, pembelajaran, dan kebersamaan.
Rangkaian Pekan CERIA berlanjut pada 30–31 Oktober 2026 melalui Jimbaran Weekend Market Special Edition. Suasana Jimbaran Hub diramaikan oleh pasar lokal, beragam lokakarya kreatif, dan hiburan akhir pekan. Termasuk berbagai kegiatan yang melengkapi suasana festival dengan perjumpaan antara kreativitas, aktivitas ekonomi lokal, dan rekreasi keluarga.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































