PEKAN ini linimasa saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya.
Kabar pertama datang dari Samarinda. Seorang balita perempuan berusia tiga tahun meninggal setelah diduga terjatuh dari balkon kamar hotel di lantai lima, sementara kedua orang tuanya sedang sarapan di restoran hotel.
Polisi masih menyelidiki penyebab pastinya. Dalam hitungan hari, kabar kedua muncul dari Gunung Prau. Video balita yang menangis sendirian di dalam tenda beredar luas, diperkirakan sekitar satu setengah jam, saat orang tuanya melakukan summit. Anak itu akhirnya ditemani pendaki lain sampai orang tuanya kembali.
Satu berakhir duka, satu berakhir lega. Tetapi keduanya punya akar yang sama, dan cara publik merespons keduanya juga punya pola yang sama. Dua hal itulah yang ingin saya bahas, dari kacamata komunikasi.
Kata “Sebentar” yang Menipu
Mari mulai dari kalimat yang hampir pasti terucap sebelum kedua peristiwa ini terjadi: “Cuma sebentar kok.”
Dalam komunikasi sehari-hari, “sebentar” adalah kata yang tampak jelas padahal sangat kabur. Ia tidak punya satuan. Bagi orang dewasa, sarapan tiga puluh menit atau mendaki “tinggal tiga puluh menit lagi” terasa singkat. Bagi anak tiga tahun yang terbangun di ruangan asing, satu menit tanpa orang tua bisa terasa tanpa batas.
Kasus Gunung Prau menunjukkan hal ini dengan terang. Orang tua balita itu melanjutkan ke puncak setelah mendapat informasi dari sesama pendaki bahwa puncak hanya sekitar 30 menit lagi. Ayahnya mengaku mengira jaraknya dekat, padahal ternyata jauh.
Informasi lisan yang longgar, ditambah keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja, melahirkan keputusan yang keliru. Dalam psikologi risiko ini dikenal sebagai bias optimisme: kita mengira kemalangan hanya menimpa orang lain.
Pesan “Titip” yang Tidak Pernah Benar-Benar Tersampaikan
Ada detail kecil di kasus Prau yang menurut saya paling penting dan paling jarang dibahas. Orang tuanya disebut sudah menitipkan anak kepada teman yang berkemah di tenda sebelah. Menurut klarifikasi yang beredar, niat menitipkan itu ada, tetapi sang teman ketiduran.
Ini pelajaran komunikasi yang klasik. Pesan dianggap sampai hanya karena sudah diucapkan. Padahal komunikasi yang selamat membutuhkan konfirmasi dua arah. Penerima pesan perlu mengulang dan menegaskan, misalnya “Oke, aku jaga, aku di sini sampai kalian kembali.” Dunia penerbangan dan layanan medis menyebutnya closed-loop communication dan menerapkannya justru karena kesalahan kecil di pesan lisan bisa berujung fatal. Kita jarang menerapkannya dalam urusan paling berharga, yakni keselamatan anak.
Antara Empati dan Pengadilan Massa
Sekarang soal respons publik. Dua kasus ini ditanggapi dengan cara yang mirip: kemarahan yang cepat dan luas.
Kemarahan itu tidak sepenuhnya salah. Ia lahir dari kepedulian pada anak. Para pendaki yang menemani balita di Prau layak diapresiasi, dan orang tuanya sendiri sudah meminta maaf dan mengakui kelalaiannya. Namun ada hal yang perlu kita waspadai.
Ruang Komentar Mudah Berubah Menjadi Ruang Sidang
Di kasus Samarinda, kita belum tahu pasti apa yang terjadi. Polisi masih mendalami, dan belum ada keterangan resmi dari pihak hotel soal kondisi pintu balkon. Tetapi tagar dan judul berita sudah telanjur menempatkan “orang tua sedang sarapan” sebagai pusat cerita. Dalam teori framing, cara sebuah peristiwa dibingkai menentukan siapa yang kita anggap bertanggung jawab.
Ketika bingkai terkunci pada kelalaian individu, pertanyaan lain ikut menghilang. Bagaimana standar keamanan balkon bagi tamu yang membawa anak kecil? Adakah penguncian tambahan, peringatan di kamar, atau informasi ramah anak dari pihak hotel? Pertanyaan-pertanyaan itu menyangkut tanggung jawab institusi, dan ia tenggelam oleh riuhnya penghakiman.
Dari sumber lainnya yang beredar di internet bahwa kronologi sebenarnya yakni orang tua sudah mengajak anaknya untuk sarapan, tetapi sang anak tersebut menolak. Akhirnya kedua orang tua memutuskan untuk sarapan tanpa mengikut sertakan kedua anaknya. Dikarenakan jika keluar kamar membutuhkan kunci sebagai akses kembali, orang tua tersebut berinisiatif membuka pintu balkon agar jika dikunci dari luar, kedua anaknya masih bisa mendapatkan udara dan cahaya. Terlepas dari kronologi yang beredar, semua bermuara pada kelalaian.
Kedua, anak yang menjadi konten. Dalam kasus Prau, video seorang balita yang menangis menyebar ke banyak platform. Orang tuanya kemudian meminta rekaman itu dihapus. Niat merekam mungkin baik, yaitu membuka mata publik. Tetapi sekali diunggah, wajah dan tangis anak itu menjadi jejak digital yang akan menemaninya hingga dewasa, tanpa persetujuannya.
Di kasus Samarinda, foto dan video ayah yang menangis di depan jenazah anaknya beredar luas. Pedoman pemberitaan ramah anak yang disusun Dewan Pers mengingatkan kita bahwa kepentingan terbaik anak harus lebih tinggi daripada nilai viral sebuah berita. Poin ini masih tidak diindahkan oleh masyarakat selaku citizen journalist.
Imbauan Keselamatan yang Tidak Lagi Cukup
Setiap kali ada kejadian seperti ini, jurus kita sama: “Jangan tinggalkan anak tanpa pengawasan!” Benar, dan sudah ratusan kali disampaikan. Tetapi sebagai pesan, kalimat itu gagal mengubah perilaku karena terlalu umum dan terdengar seperti ceramah. Ia tidak lagi sanggup menolong.
Komunikasi keselamatan yang efektif butuh pesan yang spesifik, terjadi di saat yang tepat, dan hadir di tempat keputusan itu dibuat. Misalnya kartu kecil di kamar hotel yang menjelaskan risiko balkon beserta cara mengunci pintunya. Misalnya papan informasi di basecamp pendakian tentang jarak sebenarnya ke puncak dan aturan membawa anak kecil. Misalnya pengelola yang menyapa keluarga ber-balita dengan tawaran bantuan, bukan hanya aturan. Pesan seperti itu hadir saat dibutuhkan, bukan setelah ada korban.
Menjadi kesadaran bersama adalah jika imbauan telah banyak digaungkan, kita sebagai manusia yang paling berperan pada keputusan final. Jangan pernah berani mengambil risiko dengan menyepelekan aturan maupun imbauan keselamatan di ruang publik. Kita tidak cukup besar untuk memastikan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan kehendak diri.
Yang Tersisa untuk Kita
Dua keluarga ini sedang menanggung beban yang berbeda. Yang satu kehilangan putrinya. Yang lain menanggung malu dan penyesalan di hadapan jutaan pasang mata. Kita perlu belajar dari keduanya, banyak hal yang tidak bisa disepelekan dan dianggap aman, terlebih jika berhubungan dengan anak-anak.
Pelajaran paling sederhana sebenarnya ada di kata yang kita pakai. Lain kali kita hendak berkata “sebentar”, tanyakan dulu: sebentar menurut siapa? Dan kalau kita menitipkan anak kepada seseorang, pastikan pesannya benar-benar sampai dan dijalankan.
Satu menit memastikan itu jauh lebih murah daripada satu penyesalan seumur hidup.[T]




























