PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama adalah pentas improvisasi TAN.GOING, kelompok yang mengeskplorasi gerak bebas dari Hamburg-Jerman dengan judul: NOWHERE.
Pertunjukan dibuka dengan citra visual: es mencair, air mengalir, tanaman dan tubuh-tubuh aktor berpakaian putih, berwajah putih. Para aktor mulai bergerak, bangun. Saling respon; menari, berpegangan, mengangkat dan menggoyang-goyang kursi, saling rangkul, membetulkan pakaian. Musik meresponnya. Menjadi bagian spontan dari teks yang tumbuh: petikan dan rancakan gitar, nyanyian, lengking suara, gumam, erang, bunyi organ yang mengalun, mengalir, tersendat.


Selama 68 menit, penonton disuguhi aksi saling respon yang terus berubah, tak pernah tuntas. Upaya untuk saling memahami, saling meraih, saling menangkap isyarat, saling menerjemahkan pesan yang tak pernah menjadi, tak pernah selesai. Senantiasa kembali. Sendiri-sendiri. Ada yang coba menyusun kursi, sedang yang lain mendorong. Menggagalkannya. Ada yang saling berpegangan, saling menjahitkan tangan namun tak pernah benar menyatu. Masing-masing memiliki kerumitannya sendiri. Ada yang bergerak lebih halus, lebih hening, lebih dalam, namun tetap sendiri. Tak pernah berhasil memancing yang lain. Yang tersisa adalah rasa lelah. Penonton masuk dalam semesta kebingungan. Pertunjukan yang membangun sekaligus membubarkan dirinya. Tak ada tokoh utama. Masing-masing memainkan perannya, seenaknya, sesukanya. Dengan keasyikan dan kerumitannya sendiri.
Pementasan yang disajikan Amber Robertshaw, Corinna Ohrt, Isabel Kleindienst, Janika Gorres, Ksenia Miller, Nika Kushnir, Peter Ohrt, Philip Gorres, Raymond Zimmermann menggugat kemanusiaan kita: apakah sesungguhnya kehadiran, ada bersamanya kita di sini, saat ini? Adakah menjadi bagian dari denyut semesta: es yang mencair, air yang mengalir, tanaman yang tumbuh? Toh sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya adalah sendiri, dengan keasyikan dan kerumitan kita masing-masing. Yang selalu gagal menangkap isyarat dan memahami satu sama lain. Dan semuanya menyisakan satu hal: rasa lelah yang mengepung kita hari ini.


Malam kedua adalah sajian kolaborasi Teater API Indonesia dan TAN.GOING berjudul: Kopral Sudrun yang disutradarai Luhur Kayungga-Slamet Gaprax. Pentas berdurasi 63 menit tampak lebih dekat dengan konteks dan imagi penonton.
Pertunjukan dibuka dengan kilatan sinar merah dari sudut kiri belakang panggung. Serentak menghadirkan bayangan target tembak (red dot sight). Lampu menyorot toa merah yang menggantung garang di tengah panggung ditimpali raungan sirene yang mengiung kencang. Menyedot penoton ke dalam suasana yang sedang tidak baik-baik: teror dan kekerasan.
Seorang berambut gondrong menggotong drum merah menempatkannya di tengah panggung. Kemudian datang seorang berkepala pelontos, berjubah panjang membenturkan wajah di atasnya. Meraung dan menodongkan pistol ke arah penonton. Di bagian yang lain, dia hadir kembali menyorotkan senter tajam ke arah tubuh-tubuh yang berjuang menahan dinding logam.


Lalu hadir sekelompok orang bertelanjang dada membawa sapu lidi, melingkar dan mendaraskan sholawat berbahasa Jawa. Mereka menancapkan sapu-sapu dalam gerakan-gerakan menanam. Datang pula orang-orang berpakaian putih menggerak-gerakan lidi tunggal. Bermain-main di antara sapu-sapu sambil meniru suara-suara binatang yang kemudian dibubarkan oleh sesorang yang bertopeng besar.
Muncul orang-orang yang ditutup wajahnya dengan kain hitam, mengejang, mendenguskan perlawanan dengan tubuhnya. Namun jatuh, menggelepar. Sia-sia. Malah jadi sajian olok-olok lewat upaya mati-matian tubuh-tubuh ringkih menggigit potongan logam lebar serupa talam. Yang lambat-laun menjadi dinding logam. Tubuh-tubuh tenggelam dibaliknya. Orang-orang hanya bisa menjulur-julurkan tangan. Berusaha meraih sesuatu. Pegangan atau pertolongan namun terbentur oleh dinding lebar yang menyekat geraknya. Hingga seutas tali besi diturunkan dari atas persis di tengah panggung. Mengaitkan dinding logam dalam kendali yang lebih kokoh. Seorang perempuan berjuang sekuat usaha, sekuat kemampuan mendorongnya tapi lagi-lagi tembok logam itu memiliki daya kembali sekuat dorongannya. Perempuan itu hanya bertahan sekuat-kuat tenaganya sampai akhirnya membeku. Teror itu datang lagi di akhir pertunjukan. Toa merah garang memelotot dari atas, sirena meraung, merajam tak henti dan target sasaran tembak bergerak bagai hantu. Cepat dan tak tertebak. Pohon-pohon kering meranggas mati dari dalam sepatu-sepatu patroli. Diturunkan satu demi satu dari langit-langit panggung.

Para pemain: Galuh Tulus Utama, M. Saleh, Naryo Pamenang, Dedik Obenk, Daffa Ramadhan, Ghani Bima, Roy Ical, Enny Asrinawati, Shofi Wahyudi, D.I. Virnando, M. Hilmi, Resa Coly, Amber Robertshaw, Corinna Ohrt, Isabel Kleindienst, Janika Gorres, Ksneia Miller, Nika Kushnir, Peter Ohrt, Philip Gorres, Raymond Zimmermann, penata artistik: Mansyur Alkatras, Penata Suara: Made Weda, Property: Sutomo dan Faris El Amin menghadirkan pentas ihwal wajah logam kekuasaan. Keras dan tak punya rasa kemanusiaan. Meneror dan menindas. Menindih dan menggilas. Orang kecil selalu jadi korban. Apalagi ruang hidup pohon dan aneka satwa. Diciutkan sesempit ukuran sepatu kekuasaan. Kekuasaan yang sekaligus serupa hantu. Menebar ketakutan. Membidik siapapun yang menghalangi jalan dan ambisi kekuasaan. Dan kekuasaan itu akan terus bersalin rupa. Ia ada di masa lalu, hadir di saat ini dan siaga menunggu di masa depan. Dalam wujudnya yang berbagai-bagai. Melalui corong toa, sirene, sepatu ataupun senjata yang belum bisa kita bayangkan hari ini.

Pentas NOWHERE dan Kopral Sudrun bertumpuh pada tubuh yang meruang. Memiliki biografi dan pengalaman perjalanan. Merekam interaksi (sosial) sebagai refleksi kualitas kemanusiaan serta sejarah kekuasaan yang kerap berulang dalam wajahnya yang pongah dan sewenang-wenang. Tubuh juga menyimpan luka, sakit dan trauma karenanya.
Pementasan dua malam dengan dua karya ditenun bersama di Surabaya. Tubuh Jerman dan tubuh Indonesia yang berinteraksi dalam segala kompleksitasnya berikut pengalaman sejarah (traumatik) kekuasaan yang menderanya. Tubuh yang meruang di kota-kota yang kian barbar. Kota yang selalu dibangun dengan logika dan cara berpikir kekuasaan. Yang meminggirkan orang kecil dan merebut ruang hidup fauna dan flora. Kedua pementasan ini mengapungkan tanya yang terus bergaung: Dimana kita? Dan, orang kecil? Apakah juga disini? Atau tidak dimana-mana?[T]





























