4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
in Ulas Pentas
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

Pertunjukan Kopral Sudrun di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur | Foto: Dok. Teater Api Indonesia

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama adalah pentas improvisasi TAN.GOING, kelompok yang mengeskplorasi gerak bebas dari Hamburg-Jerman dengan judul: NOWHERE.

Pertunjukan dibuka dengan citra visual: es mencair, air mengalir, tanaman dan tubuh-tubuh aktor berpakaian putih, berwajah putih. Para aktor mulai bergerak, bangun. Saling respon; menari, berpegangan, mengangkat dan menggoyang-goyang kursi, saling rangkul, membetulkan pakaian. Musik meresponnya. Menjadi bagian spontan dari teks yang tumbuh: petikan dan rancakan gitar, nyanyian, lengking suara, gumam, erang, bunyi organ yang mengalun, mengalir, tersendat.

Pertunjukan NOWHERE di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur | Foto: Dok. Teater Api Indonesia

Selama 68 menit, penonton disuguhi aksi saling respon yang terus berubah, tak pernah tuntas. Upaya untuk saling memahami, saling meraih, saling menangkap isyarat, saling menerjemahkan pesan yang tak pernah menjadi, tak pernah selesai. Senantiasa kembali. Sendiri-sendiri. Ada yang coba menyusun kursi, sedang yang lain mendorong. Menggagalkannya. Ada yang saling berpegangan, saling menjahitkan tangan namun tak pernah benar menyatu. Masing-masing memiliki kerumitannya sendiri. Ada yang bergerak lebih halus, lebih hening, lebih dalam, namun tetap sendiri. Tak pernah berhasil memancing yang lain. Yang tersisa adalah rasa lelah. Penonton masuk dalam semesta kebingungan. Pertunjukan yang membangun sekaligus membubarkan dirinya. Tak ada tokoh utama. Masing-masing memainkan perannya, seenaknya, sesukanya. Dengan keasyikan dan kerumitannya sendiri.

Pementasan yang disajikan Amber Robertshaw, Corinna Ohrt, Isabel Kleindienst, Janika Gorres, Ksenia Miller, Nika Kushnir, Peter Ohrt, Philip Gorres, Raymond Zimmermann menggugat kemanusiaan kita: apakah sesungguhnya kehadiran, ada bersamanya kita di sini, saat ini? Adakah menjadi bagian dari denyut semesta: es yang mencair, air yang mengalir, tanaman yang tumbuh? Toh sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya adalah sendiri, dengan keasyikan dan kerumitan kita masing-masing. Yang selalu gagal menangkap isyarat dan memahami satu sama lain. Dan semuanya menyisakan satu hal: rasa lelah yang mengepung kita hari ini.

Pertunjukan NOWHERE di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur | Foto: Dok. Teater Api Indonesia

Malam kedua adalah sajian kolaborasi Teater API Indonesia dan TAN.GOING berjudul: Kopral Sudrun yang disutradarai Luhur Kayungga-Slamet Gaprax. Pentas berdurasi 63 menit tampak lebih dekat dengan konteks dan imagi penonton.

Pertunjukan dibuka dengan kilatan sinar merah dari sudut kiri belakang panggung. Serentak menghadirkan bayangan target tembak (red dot sight). Lampu menyorot toa merah yang menggantung garang di tengah panggung ditimpali raungan sirene yang mengiung kencang. Menyedot penoton ke dalam suasana yang sedang tidak baik-baik: teror dan kekerasan.

Seorang berambut gondrong menggotong drum merah menempatkannya di tengah panggung. Kemudian datang seorang berkepala pelontos, berjubah panjang membenturkan wajah di atasnya. Meraung dan menodongkan pistol ke arah penonton. Di bagian yang lain, dia hadir kembali menyorotkan senter tajam ke arah tubuh-tubuh yang berjuang menahan dinding logam.

Pertunjukan Kopral Sudrun di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur | Foto: Dok. Teater Api Indonesia

Lalu hadir sekelompok orang bertelanjang dada membawa sapu lidi, melingkar dan mendaraskan sholawat berbahasa Jawa. Mereka menancapkan sapu-sapu dalam gerakan-gerakan menanam. Datang pula orang-orang berpakaian putih menggerak-gerakan lidi tunggal. Bermain-main di antara sapu-sapu sambil meniru suara-suara binatang yang kemudian dibubarkan oleh sesorang yang bertopeng besar.

Muncul orang-orang yang ditutup wajahnya dengan kain hitam, mengejang, mendenguskan perlawanan dengan tubuhnya. Namun jatuh, menggelepar. Sia-sia. Malah jadi sajian olok-olok lewat upaya mati-matian tubuh-tubuh ringkih menggigit potongan logam lebar serupa talam. Yang lambat-laun menjadi dinding logam. Tubuh-tubuh tenggelam dibaliknya. Orang-orang hanya bisa menjulur-julurkan tangan. Berusaha meraih sesuatu. Pegangan atau pertolongan namun terbentur oleh dinding lebar yang menyekat geraknya. Hingga seutas tali besi diturunkan dari atas persis di tengah panggung. Mengaitkan dinding logam dalam kendali yang lebih kokoh. Seorang perempuan berjuang sekuat usaha, sekuat kemampuan mendorongnya tapi lagi-lagi tembok logam itu memiliki daya kembali sekuat dorongannya. Perempuan itu hanya bertahan sekuat-kuat tenaganya sampai akhirnya membeku. Teror itu datang lagi di akhir pertunjukan. Toa merah garang memelotot dari atas, sirena meraung, merajam tak henti dan target sasaran tembak bergerak bagai hantu. Cepat dan tak tertebak. Pohon-pohon kering meranggas mati dari dalam sepatu-sepatu patroli. Diturunkan satu demi satu dari langit-langit panggung.

Pertunjukan Kopral Sudrun di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur | Foto: Dok. Teater Api Indonesia

Para pemain: Galuh Tulus Utama, M. Saleh, Naryo Pamenang, Dedik Obenk, Daffa Ramadhan, Ghani Bima, Roy Ical, Enny Asrinawati, Shofi Wahyudi, D.I. Virnando, M. Hilmi, Resa Coly, Amber Robertshaw, Corinna Ohrt, Isabel Kleindienst, Janika Gorres, Ksneia Miller, Nika Kushnir, Peter Ohrt, Philip Gorres, Raymond Zimmermann, penata artistik: Mansyur Alkatras, Penata Suara: Made Weda, Property: Sutomo dan Faris El Amin menghadirkan pentas ihwal wajah logam kekuasaan. Keras dan tak punya rasa kemanusiaan. Meneror dan menindas. Menindih dan menggilas. Orang kecil selalu jadi korban. Apalagi ruang hidup pohon dan aneka satwa. Diciutkan sesempit ukuran sepatu kekuasaan. Kekuasaan yang sekaligus serupa hantu. Menebar ketakutan. Membidik siapapun yang menghalangi jalan dan ambisi kekuasaan. Dan kekuasaan itu akan terus bersalin rupa. Ia ada di masa lalu, hadir di saat ini dan siaga menunggu di masa depan. Dalam wujudnya yang berbagai-bagai. Melalui corong toa, sirene, sepatu ataupun senjata yang belum bisa kita bayangkan hari ini.

Pertunjukan Kopral Sudrun di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur | Foto: Dok. Teater Api Indonesia

Pentas NOWHERE dan Kopral Sudrun bertumpuh pada tubuh yang meruang. Memiliki biografi dan pengalaman perjalanan. Merekam interaksi (sosial) sebagai refleksi kualitas kemanusiaan serta sejarah kekuasaan yang kerap berulang dalam wajahnya yang pongah dan sewenang-wenang. Tubuh juga menyimpan luka, sakit dan trauma karenanya.

Pementasan dua malam dengan dua karya ditenun bersama di Surabaya. Tubuh Jerman dan tubuh Indonesia yang berinteraksi dalam segala kompleksitasnya berikut pengalaman sejarah (traumatik) kekuasaan yang menderanya. Tubuh yang meruang di kota-kota yang kian barbar. Kota yang selalu dibangun dengan logika dan cara berpikir kekuasaan. Yang meminggirkan orang kecil dan merebut ruang hidup fauna dan flora.  Kedua pementasan ini mengapungkan tanya yang terus bergaung: Dimana kita? Dan, orang kecil? Apakah juga disini? Atau tidak dimana-mana?[T]

Tags: Kopral SudrunNOWHERETAN.GOINGTeater API Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co