14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Dewa Made Ari Kurniawan by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
in Ulas Pentas
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Pertunjukan DWI DVARA

Di Ambang Dualitas Eksistensial

Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI DVARA hadir menjemput penontonnya tepat di ambang batas eksistensi melalui sebuah perenungan filosofis yang mendalam tentang Dwi Dvara, yakni metafora “dua gerbang” yang melambangkan dualitas hakiki dalam diri manusia. Berakar dari fenomena sosial dan kebudayaan kontemporer, karya ini berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah entitas yang paradoksal. Di satu sisi, manusia adalah arsitek genius yang melahirkan peradaban luhur, keagungan tradisi, seni yang megah, serta tatanan sosial yang harmonis. Namun di sisi lain, manusia juga menyimpan potensi destruktif yang sanggup meruntuhkan seluruh mahakaryanya sendiri dalam sekejap. Narasi eksistensial yang membakar rasa ingin tahu ini tidak dituturkan melalui ujaran verbal yang menggurui, melainkan ditenun secara imersif melalui perpaduan kriya panggung, teknologi projection mapping, artikulasi gerak tubuh, dan eksplorasi lanskap musikal.

Latar belakang penciptaan karya ini merespons dinamika seni pertunjukan kontemporer yang kian cair, di mana batas antara tradisi dan teknologi digital semakin meluruh. Menerjemahkan konsep filosofis yang abstrak ini ke dalam ruang fisik menuntut pengerjaan kriya spasial yang presisi di studio proses. Bentukan dua gerbang diwujudkan menjadi panil ganda lengkung (dual screen) bermotif mahkota candi. Sisi panggung fisik ini dipercantik dengan balutan ornamen lis emas (prada) berpola geometris tradisional di bagian dasarnya, menghadirkan impresi keagungan situs purbakala. Di saat bersamaan, dimensi digital disuntikkan secara presisi menggunakan perangkat lunak Resolume Arena. Melalui teknik grid alignment, pendar cahaya proyektor dikunci agar menempel pas pada lekukan fisik bidang lengkung, menciptakan ilusi ruang imersif tempat empat materi visual diproyeksikan sebagai fondasi narasi.

Fragmen Visual: Dari Ilusi Kemajuan Hingga Altar Kefanaan

Empat materi visual yang dihadirkan di atas panggung tidak sekadar berfungsi sebagai latar gambar, melainkan disusun sebagai alur naratif utuh yang membongkar fase-fase peradaban manusia secara dramatis. Alur visualisasi ini diawali oleh potret fotografi pembangunan pariwisata yang mengkritik komodifikasi tradisi dan rekayasa realitas (simulakra). Di sini, penonton dihadapkan pada realitas modern ketika nilai-nilai sakral tradisi kerap dikompromikan demi mengejar komoditas ekonomi sebuah bentuk penciptaan peradaban baru yang justru perlahan mengikis esensi spiritualitasnya sendiri. Proyeksi kemudian bergeser pada sinematografi kemegahan Candi Prambanan, di mana visualisasi arsitektur batu yang menjulang tinggi merepresentasikan puncak pencapaian fisik dan intelektual manusia dalam memahat keagungan di atas tanah sebagai simbol kejayaan peradaban materi.

Berdampingan dengan candi prambanan, film Tradisi Ngayah mengeksplorasi Sisi Suci (sacred) dari eksistensi manusia. Berbeda dengan Prambanan yang menonjolkan keagungan fisik, ngayah memperlihatkan keagungan jiwa melalui aksi kolektif gotong royong, dedikasi murni tanpa pamrih, dan kepasrahan untuk merawat harmoni antara manusia, alam, dan Pencipta. Sebagai klimaks dialektis, narasi ditutup oleh dokumentasi sejarah Puputan Badung yang hadir sebagai belati bermata ganda. Visualisasi perang habis-habisan ini memperlihatkan puncak destruksi di mana peradaban megah, tatanan sosial, dan nilai-nilai suci yang dibangun dengan darah dan doa akhirnya hancur lebur di atas altar perang dan kefanaan.

Tubuh Kinestetik: Dari Fragmentasi Menuju Dialog Multidimensi

Atmosfer visual yang bergelora tersebut menemukan artikulasinya yang paling intim saat tubuh penari hadir di atas panggung. Dari sudut pandang koreografi, tubuh tidak sekadar berfungsi sebagai penampil estetis, melainkan menjadi medium utama yang membangun komunikasi simbolik dengan ruang, media visual, dan penonton. Pada awal pementasan, para penari membentuk komposisi ruang yang terpisah-pisah dengan posisi tubuh yang saling berjauhan untuk menghadirkan kesan fragmentasi dan perbedaan identitas. Seiring berjalannya alur narasi, pola lantai tersebut perlahan bertransformasi menuju komposisi yang menyatu sebuah metafora visual mengenai proses peleburan berbagai identitas, nilai, serta pengalaman sejarah kolektif manusia.

Pertunjukan DWI DVARA

“Tubuh penari tidak sekadar hadir sebagai subjek yang menari di atas panggung, melainkan menjadi saksi sekaligus medium perantara yang menanggung ketegangan di antara dua gerbang peradaban: keagungan ciptaan dan bayang-bayang kehancuran.”

Kualitas gerak yang dihadirkan didominasi oleh pergerakan yang mengalir dengan tempo lambat hingga sedang. Gerakan tangan yang terbuka, arah pandangan yang bergantian merespons sesama penari maupun ruang proyeksi, serta perpindahan level tubuh dari posisi berdiri hingga merendah mendekati lantai memperlihatkan adanya dialog yang hidup antara manusia dengan lingkungan dan sejarah yang mengitarinya. Tubuh penari tidak bergerak sebagai entitas terisolasi, melainkan melebur dalam ruang kolektif yang terus mengalami transformasi spiritual dan fisik.

Aspek ruang dalam koreografi ini juga memainkan peran yang sangat vital. Penggunaan proyeksi visual pada dinding, lantai, dan bidang-bidang di sekitar penari berhasil memperluas ruang tari menjadi sebuah ruang multidimensional. Tubuh penari seolah melintasi lorong waktu dan masuk ke dalam ruang sejarah yang diproyeksikan melalui citra Candi Prambanan, lanskap alam, dokumentasi masa lalu, hingga visualisasi kosmis. Dengan demikian, penonton tidak hanya menyaksikan gerak tubuh di atas panggung, tetapi juga disuguhkan pergulatan ketika tubuh berdialog langsung dengan memori budaya yang dihidupkan kembali melalui teknologi digital. Dari gestur yang lembut dan pasrah pada adegan Ngayah hingga gerakan yang tegang dan kontras pada adegan Puputan Badung, artikulasi gerak tari meretas batas antara realitas fisik dan ilusi digital, di mana setiap puncak penekanan geraknya dikunci secara presisi oleh pukulan kendang jedugan sebagai pemantik aksen musikal.

Dialektika Sonik Lintas Budaya dan Kritik Musik

Dari sektor audio, DWI DVARA menawarkan eksperimentasi berani melalui kolaborasi musikal antara instrumen musik Barat dan himpunan gamelan Bali. Pemanfaatan instrumen tradisional Bali berfokus pada penggunaan tiga instrumen utama, yaitu kendang jedugan, klenang, dan gentorag. Dalam jalinan komposisi musikal, kendang jedugan memegang kendali atas pengaturan tempo sekaligus memberi tegasan aksen pada setiap gerakan penari. Instrumen klenang bertindak memperkuat struktur ritme dasar agar jalinan nada tetap kokoh, sementara gentorag menyumbangkan warna bunyi (timbre) gemerincing yang khas dan magis. Kolaborasi ini membuktikan secara sosio-kultural bahwa gamelan Bali mampu bersikap luwes dan berkembang merespons zaman tanpa kehilangan jati dirinya, sekaligus menuntut tingkat komunikasi batin dan kekompakan yang sangat tinggi antarmusisi di panggung.

Untuk membangun suasana dramatik, pencipta menyusun tiga pola ritme kekendangan utama yang bergerak selaras mengiringi perubahan atmosfer pertunjukan, mulai dari fase tenang, tegang, hingga adegan perang yang riuh. Perubahan pola ritme ini disusun untuk mengikuti dinamika gerak tari dan transisi visual di layar. Meski demikian, jika dibedah melalui kacamata kritik musikal yang lebih mendalam, terdapat beberapa poin evaluatif yang krusial. Pola kekendangan yang dihadirkan sejauh ini masih cenderung berfungsi sebagai pengiring pasif atau pembangun latar suasana semata, belum sepenuhnya menunjukkan identitas musikal yang mandiri dan kuat. Eksplorasi teknik permainan kendang serta variasi polanya masih terasa terbatas dan cenderung berulang di beberapa bagian.

Pertunjukan DWI DVARA

Pandangan ini sejalan dengan wacana kritik seni pertunjukan yang menekankan bahwa musik dalam karya intermedial tidak boleh sekadar dijadikan pelengkap latar, melainkan harus dieksplorasi variasi teknik dan karakter bunyinya agar mampu berdialog secara setara dengan elemen tari dan visual. Di samping itu, pada beberapa adegan, dominasi unsur musik Barat sempat terasa terlalu menutupi karakter khas gamelan Bali, sementara instrumen kendang jedugan, klenang dan gentorag belum mendapat porsi ruang yang cukup untuk tampil menonjol.

Menyimpul Dua Gerbang

Secara keseluruhan, DWI DVARA merupakan sebuah pencapaian artistik intermedial yang sangat memikat dan relevan bagi publik seni masa kini. Pertunjukan ini berhasil meleburkan kriya panggung, teknologi digital, artikulasi gerak tubuh yang kaya akan metafora ruang, dan perpaduan audio lintas budaya menjadi satu arena perenungan yang megah tentang hakikat peradaban manusia.

Catatan kritis mengenai perlunya penyeimbangan porsi instrumentasi dan pendalaman variasi pola kekendangan bukanlah sebuah kekurangan yang mematikan, melainkan justru menjadi ruang tumbuh yang sangat berharga bagi penyempurnaan karya di masa depan. Ketika instrumen musik berhasil ditransformasikan dari sekadar pengiring menjadi mitra dialog yang sepenuhnya setara dengan gerak koreografis dan proyeksi visual, DWI DVARA tidak hanya akan hadir sebagai tontonan yang memanjakan mata dan telinga, melainkan menjelma menjadi sebuah pertunjukan multidisiplin yang utuh, berdampak dalam, dan beresonansi panjang di benak para penikmatnya.[T]

Penulis: Dewa Made Ari Kurniawan, I Gusti Gde Diko Nalendra Swarbawa, I Ngurah Edy Upadana, Ni Kadek Ayu Devy Yanti

Tags: seni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

Next Post

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

Dewa Made Ari Kurniawan

Dewa Made Ari Kurniawan

Mahasiswa Magister Pengkajian Seni ISI Bali dan alumnus Produksi Film & Televisi ISI Denpasar yang menaruh perhatian luas pada dinamika seni kontemporer dan kebudayaan visual

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co