Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai Durpadi. Sasana Budaya kala itu berubah menjadi ruang yang sangat ganjil, mistis sekaligus mencekam. Saya mendengar rintihan lirih perlahan mengalun, lalu pecah menjadi teriakan yang sarat amarah.
Saya terpaku. Sulit membedakan siapa yang sesungguhnya sedang bersuara: apakah Durpadi, perubahan Drupadi yang menjadi Durga, atau Ocha Diartini, yang seolah memberikan tubuh dan suaranya sebagai wadah bagi luka perempuan. Saat itu, bulu kuduk saya berdiri, entah itu adalah bentuk rasa kagum atau rasa takut, saya juga tidak begitu mengerti.
Apa yang saya tonton hari itu, di Singaraja Literary Festival 2026, bukan lagi sekedar pertunjukkan teater. Melainkan sebuah pengalaman baru yang memaksa saya menonton hingga akhir. Memaksa saya ikut masuk kedalam emosi yang sedang disampaikan oleh Ocha Diartini, bahkan ketika adegan telah berganti.
“Kini aku bukan lagi Drupadi yang lemah dan pasrah, akulah “Durpadi”, Durga dalam diri Drupadi, perempuan berkekuatan semesta, yang siap meleburmu dari bencana ke bencana.”
Kalimat tersebut tampak seperti deklarasi kemenangan seorang perempuan yang selama ini terpinggirkan. Ia tidak lagi menerima nasib sebagai korban, melainkan menjelma sosok yang menebar ancaman terhadap dunia laki-laki. Sekilas, kalimat tersebut dapat dibaca sebagai kisah emansipasi: perempuan yang berhasil merebut kembali suaranya setelah dibungkam oleh tuduhan, pengasingan, dan penghinaan.
Meminjam kacamata dari Gayatri Chakravorty Spivak, transformasi Drupadi menjadi Durpadi justru memperlihatkan sebuah paradoks. Saya melihat adanya sebuah persoalan dalam kalimat yang dilontarkan oleh Durpadi ini. Persoalan, dengan bahasa siapa ia berbicara?
Dalam esai Can the Subaltern Speak?, Spivak memberitahu saya, tentang kritik terhadap cara dunia memahami suara kelompok yang terpinggirkan. Menurutnya, subaltern bukan sekedar kelompok yang tertindas secara sosial atau ekonomi. Subaltern adalah mereka yang berada di luar struktur representasi, sehingga pengalaman dan suaranya tidak pernah diakui sebagai miliknya sendiri.
Lebih dalam Spivak meyakinkan saya, bahwa ketika subaltern berbicara, suaranya seringkali diterjemahkan, dibingkai, atau bahkan ditentukan terlebih dahulu oleh sistem pengetahuan yang berkuasa. Sehingga, persoalan utama yang timbul bukanlah ada atau tidaknya suara, melainkan apakah suara itu sungguh berasal dari dirinya sendiri.

Monolog Durpadi karangan Putu Fajar Arcana, dibuka dengan sebuah identitas yang sepenuhnya dibentuk oleh kuasa patriarki. Menyebut dirinya sebagai “perempuan yang tersakiti” karena “dituduh berzina dengan bayangannya sendiri.” Saya rasa tuduhan tersebut, menjadi titik awal yang menentukan seluruh perjalanan hidupnya Drupadi. Menariknya, identitas tersebut tidak lahir dari pengakuan dirinya, melainkan dari penilaian laki-laki. Drupadi tidak terlebih dahulu hadir sebagai subjek yang mendefinisikan dirinya; ia hadir sebagai objek yang didefinisikan oleh tuduhan.
Spivak memberikan saya sebuah gambaran, bahwa situasi yang terjadi pada monolog tersebut merupakan bentuk epistemic violence atau kekerasan epistemik. Baginya, kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Kekerasan juga hadir melalui pengetahuan yang menentukan: siapa yang dianggap benar, siapa yang dianggap salah, siapa yang dianggap suci, dan siapa yang dianggap tercemar.
Tuduhan terhadap Drupadi bukan sekedar persoalan moral, melainkan proses produksi pengetahuan yang mengubahnya menjadi sosok yang layak dihukum. Akibat tuduhan tersebut, Drupadi berubah menjadi Durpadi dan diasingkan ke Setra Gandamayu. Saya mengartikan Setra ini bukan hanya menjadi sebuah lokasi, melainkan simbol pengasingan dari tatanan sosial. Setra menjadi ruang bagi mereka yang tidak lagi diakui keberadaannya. Pengasingan tersebut memperlihatkan bagaimana subaltern tidak hanya kehilangan hak untuk berbicara, tetapi juga kehilangan tempat untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat.
Menariknya, monolog ini kemudian mengalami perubahan drastis ketika Durpadi berkata, “Sejak itu aku berjanji akan menghancurkan setiap pikiran yang dijejalkan oleh para lelaki.” Pada titik ini, saya menganggap bahwa perempuan akhirnya memperoleh suaranya sendiri. Akan tetapi, Spivak berpendapat lain. Ia mempertanyakan, apakah Durpadi sedang berbicara sebagai dirinya sendiri, ataukah ia sedang menggunakan bahasa yang diwariskan oleh laki-laki yang selama ini menindasnya?
Pilihan kata yang digunakan Durpadi dipenuhi oleh kosakata penghancuran: “meluluhlantakkan”, “musnahkan”, “lumat”, “remuk”, “semburkan tulang-belulangnya”. Menurut Spivak, seluruh kata tersebut merupakan bahasa dominasi, penaklukan, dan peperangan. Durpadi memang melawan, tetapi masih menggunakan logika yang sama dengan para penindasnya. Artinya, perlawanan Durpadi tidak menghancurkan struktur kekuasaan; ia justru bergerak di dalam struktur yang sama dengan laki-laki yang menindasnya.
Bentuk perlawanan tersebut yang saya sebut sebagai sebuah paradoks. Durpadi memang dapat mengeluarkan suara dan melawan, tetapi suara tersebut muncul melalui tata bahasa kekuasaan yang sama dengan para penindasnya. Dalam monolog ini, posisi laki-laki dan perempuan memang dibalik, tetapi logika kekuasaan tetap dipertahankan. Drupadi yang dihancurkan laki-laki, berubah menjadi Durpadi yang mengancam untuk menghancurkan laki-laki. Relasi kuasanya berubah arah, tetapi bentuk kekuasaannya tetap sama.

Transformasi Drupadi menjadi Durpadi juga memperlihatkan bagaimana identitas perempuan dibentuk oleh trauma. Durga dalam tradisi hindu dikenal sebagai manifestasi Shakti, energi alam semesta yang melindungi keseimbangan dunia. Akan tetapi dalam monolog ini, Durga lahir bukan sebagai simbol keseimbangan, melainkan sebagai akibat dari luka yang berkepanjangan. Kekuatan Drupadi tidak muncul karena pengakuan terhadap dirinya sebagai perempuan, tetapi karena akumulasi penghinaan yang akhirnya menjelma menjadi kemarahan.
Saya melihat puncak paradoks dari monolog ini, ketika Durpadi mengancam akan menghancurkan Sahadewa, bahkan seluruh keturunan Pandu. Sasaran kemarahannya bukan lagi individu tertentu, tetapi keseluruhan garis keturunan laki-laki. Ancaman ini, menurut saya, menunjukan bahwa logika yang bekerja masih merupakan logika patriarki. Kekuasaan dipahami sebagai kemampuan memusnahkan garis keturunan, menguasai kerajaan, dan/atau menaklukkan musuh. Bahasa yang digunakan tetap merupakan bahasa yang selama ini identik dengan dunia para ksatria: peperangan, penaklukan, dan pembunuhan.
Penggalan dari kalimat penutup, “Aku haus darah lelaki,” menjadi klimaks dari seluruh monolog. Pada satu sisi, kalimat ini terdengar sebagai suara pembebasan seorang perempuan, yang selama ini dibungkam. Di sisi lain, kalimat ini terdengar sebagai kekuasaan yang telah dibentuk oleh sistem patriarki itu sendiri. Durpadi memperoleh suara, tetapi suara tersebut masih meminjam bahasa dari sistem patriarki yang telah mengasingkannya.
Karena itu, saya melihat kekuatan monolog ini tidak terletak pada keberhasilan Durpadi membalas dendam kepada laki-laki. Kekuatannya justru berada pada tragedi yang diperlihatkan: seorang perempuan yang akhirnya dapat berbicara, tetapi masih harus berbicara dengan bahasa yang diwariskan oleh kekuasaan yang pernah membungkamnya. Pada titik ini, saya sangat setuju dengan pemikiran Spivak. Persoalan terbesar bukanlah apakah Durpadi mampu berbicara dengan bebas, melainkan apakah Durpadi mampu berbicara tanpa harus terlebih dahulu mengadopsi bahasa, logika, dan imajinasi politik milik laki-laki yang selama ini menguasainya.
Monolog Durpadi karangan Putu Fajar Arcana ini, memperlihatkan bahwa pembebasan tidak selalu berarti keluar dari struktur penindasan. Dalam monolognya, pembebasan justru berlangsung di dalam bahasa yang sama, sehingga suara Durpadi terdengar lantang. Namun, gema itu masih memantulkan logika patriarki, sebab sejak awal sistem itulah yang membentuk sekaligus menghancurkan Drupadi. [T]
Penulis: Chandra Manikan
Editor: Adnyana Ole





















![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-350x250.jpg)








