SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampilkan oleh Sanggar Pregina Agung, kesan pertama yang muncul bukan hanya pada kisah Ramayana yang dibawakan, melainkan pada bagaimana cahaya di jadikan bagian utama dari pertunjukan.
Sebagai sanggar yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan Bali, Sanggar Pregina Agung menghadirkan pertunjukan ini dengan tetap menjaga akar tradisinya, sekaligus memberi sentuhan visual yang lebih segar. Keunikan pada pementasan ini hadir melalui penerapan efek glow in the dark yang diterapkan melalui body painting di wajah, tangan, dan bagian tubuh penari, serta dipadukan dengan kostum neon serta pencahayaan panggung yang dibuat minim. Kombinasi tersebut membuat tubuh penari tampak menyala di atas panggung dan menghadirkan suasana mistis yang langsung menarik perhatian penonton sejak awal.
Keunikan visual tersebut menjadi pembeda paling menonjol dalam pertunjukan ini dibandingkan dengan pertunjukan kecak pada umumnya. Warna-warna yang menyala pada tubuh penari membuat gerakan mereka tampak seperti siluet bercahaya yang bergerak dalam ruang gelap. Pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Dari sisi visual, pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Penonton tidak hanya menikmati alur ceritanya, tetapi juga larut dalam permainan warna dan cahaya yang membentuk atmosfer pertunjukan. Namun, kekuatan visual itu juga membawa konsekuensi yang terasa cukup jelas di mana pada beberapa bagian, detail gerak dan ekspresi penari menjadi kurang terbaca karena pencahayaan yang terlalu minim.
Suasana pertunjukan dibangun sejak awal melalui suara “cak” yang terdengar dari dua arah. Para penari Kecak kemudian membentuk lingkaran besar sebagai pusat perhatian penonton, sementara tokoh Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana hadir di tengah untuk membuka alur cerita. Bagian pembuka ini tetap menjaga pakem dasar Kecak, tetapi kehadiran pencahayaan modern dan efek glow in the dark membuat pertunjukan terasa lebih hidup. Perpaduan unsur tradisi dan inovasi visual inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan utama pementasan ini.
Alur cerita kemudian bergerak melalui rangkaian peristiwa Ramayana yang cukup dikenal, mulai dari kijang emas, penculikan Dewi Sinta, hingga perjalanan Rama mencari Hanoman sebagai utusan. Penyajian cerita dilakukan secara padat sehingga beberapa bagian tidak ditampilkan terlalu panjang. Meski demikian, inti konflik tetap dapat dipahami dengan baik oleh penonton. Pemadatan cerita ini membuat pertunjukan terasa lebih ringkas dan mudah diikuti, tetapi di sisi lain juga membuat beberapa bagian dramatik tidak berkembang secara lebih mendalam.

Tokoh Hanoman menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan ini. Berbeda dari tokoh lain yang lebih banyak bergerak dalam area panggung, Hanoman beberapa kali turun ke area penonton dan berinteraksi langsung. Ia bergerak di antara bangku penonton seolah sedang melakukan pencarian, lalu melontarkan dialog yang mengandung unsur humor. Menurut saya, pada bagian ini sangat efektif karena dapat membuat suasana pertunjukan menjadi lebih hidup dan dekat dengan penonton. Kehadiran Hanoman bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga berhasil memecahkan jarak antara pemain dan audiens.
Salah satu adegan yang paling kuat secara visual adalah ketika Hanoman dibakar ekornya. Pada bagian ini, permainan api di tengah arena di padukan dengan lantunan suara penari kecak sehingga menghadirkan ketegangan yang intens. Kobaran api yang muncul dalam ruang gelap menciptakan momen spektakuler yang mudah melekat dalam ingatan penonton. Bagi saya, adegan ini menjadi puncak dramatik pertunjukan, karena memperlihatkan bagaimana visual dapat bekerja sangat kuat dalam membangun emosi.
Secara pribadi, saya merasa pertunjukan ini sangat unik dan menghibur. Warna-warna bercahaya di tubuh penari, dialog Hanoman yang ringan, serta interaksi langsung dengan penonton membuat pertunjukan teras hidup dan tidak membosankan. Saya juga merasa penonton lebih banyak terpukau oleh alur cerita dan warna-warna yang menyala di tubuh para penari dibandingkan oleh gerak tari itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa efek visual memang berhasil menarik perhatian, tetapi sekaligus membuat fokus penonton bergeser dari detail koreografi.
Walaupun demikian, saya melihat bahwa efek glow in the dark ini tetap efektif dalam membangun suasana dan memperkuat identitas pertunjukan. Pementasan ini berhasil menunjukkan bahwa kecak dapat hadir dalam bentuk yang lebih modern tanpa kehilangan akar ceritanya. Namun, agar kekuatan visual tidak menutupi kekuatan tari, diperlukan keseimbangan yang lebih baik antara pencahayaan, gerak, dan ekspresi penari. Dengan begitu, pengalaman menonton tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga tetap memberi ruang bagi penonton untuk menangkap kehalusan makna yang dibawa dalam setiap gerak.
Secara keseluruhan, The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta berhasil menghadirkan inovasi visual yang kuat dalam penyajian tari kecak. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan kisah Ramayana dalam kemasan baru, tetapi juga menunjukkan bagaimana cahaya, warna, dan interaksi dengan penonton dapat menciptakan pengalaman menonton yang segar. Menurut saya inovasi tersebut layak diapresiasi, meskipun masih perlu ditata agar keseimbangan antara daya tarik visual dan keterbacaan gerak tari dapat tercapai lebih utuh. [T]
Penulis: Azzahra Naya R
Editor: Adnyana Ole






























