21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Azzahra Naya R by Azzahra Naya R
July 1, 2026
in Ulas Pentas
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Penampilan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta oleh Sanggar Pregina Agung di Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah. (Dokumentasi Pribadi).

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026,   yang ditampilkan oleh Sanggar Pregina Agung, kesan pertama yang muncul bukan hanya pada kisah Ramayana yang dibawakan, melainkan pada bagaimana cahaya di jadikan bagian utama dari pertunjukan.

Sebagai sanggar yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan Bali, Sanggar Pregina Agung menghadirkan pertunjukan ini dengan tetap menjaga akar tradisinya, sekaligus memberi sentuhan visual yang lebih segar. Keunikan pada pementasan ini hadir melalui penerapan efek glow in the dark yang diterapkan melalui body painting di wajah, tangan, dan bagian tubuh penari, serta dipadukan dengan kostum neon serta pencahayaan panggung yang dibuat minim. Kombinasi tersebut membuat tubuh penari tampak menyala di atas panggung dan menghadirkan suasana mistis yang langsung menarik perhatian penonton sejak awal.

Keunikan visual tersebut menjadi pembeda paling menonjol dalam pertunjukan ini dibandingkan dengan pertunjukan kecak pada umumnya. Warna-warna yang menyala pada tubuh penari membuat gerakan mereka tampak seperti siluet bercahaya yang bergerak dalam ruang gelap. Pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Dari sisi visual, pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Penonton tidak hanya menikmati alur ceritanya, tetapi juga larut dalam permainan warna dan cahaya yang membentuk atmosfer pertunjukan. Namun, kekuatan visual itu juga membawa konsekuensi yang terasa cukup jelas di mana pada beberapa bagian, detail gerak dan ekspresi penari menjadi kurang terbaca karena pencahayaan yang terlalu minim.

Suasana pertunjukan dibangun sejak awal melalui suara “cak” yang terdengar dari dua arah. Para penari Kecak kemudian membentuk lingkaran besar sebagai pusat perhatian penonton, sementara tokoh Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana hadir di tengah untuk membuka alur cerita. Bagian pembuka ini tetap menjaga pakem dasar Kecak, tetapi kehadiran pencahayaan modern dan efek glow in the dark membuat pertunjukan terasa lebih hidup. Perpaduan unsur tradisi dan inovasi visual inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan utama pementasan ini.

Alur cerita kemudian bergerak melalui rangkaian peristiwa Ramayana yang cukup dikenal, mulai dari kijang emas, penculikan Dewi Sinta, hingga perjalanan Rama mencari Hanoman sebagai utusan. Penyajian cerita dilakukan secara padat sehingga beberapa bagian tidak ditampilkan terlalu panjang. Meski demikian, inti konflik tetap dapat dipahami dengan baik oleh penonton. Pemadatan cerita ini membuat pertunjukan terasa lebih ringkas dan mudah diikuti, tetapi di sisi lain juga membuat beberapa bagian dramatik tidak berkembang secara lebih mendalam.

Penampilan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta oleh Sanggar Pregina Agung di Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah. | Dokumentasi Pribadi

Tokoh Hanoman menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan ini. Berbeda dari tokoh lain yang lebih banyak bergerak dalam area panggung, Hanoman beberapa kali turun ke area penonton dan berinteraksi langsung. Ia bergerak di antara bangku penonton seolah sedang melakukan pencarian, lalu melontarkan dialog yang mengandung unsur humor. Menurut saya, pada bagian ini sangat efektif karena dapat membuat suasana pertunjukan menjadi lebih hidup dan dekat dengan penonton. Kehadiran Hanoman bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga berhasil memecahkan jarak antara pemain dan audiens.

Salah satu adegan yang paling kuat secara visual adalah ketika Hanoman dibakar ekornya. Pada bagian ini, permainan api di tengah arena di padukan dengan lantunan suara penari kecak sehingga menghadirkan ketegangan yang intens. Kobaran api yang muncul dalam ruang gelap menciptakan momen spektakuler yang mudah melekat dalam ingatan penonton. Bagi saya, adegan ini menjadi puncak dramatik pertunjukan, karena memperlihatkan bagaimana visual dapat bekerja sangat kuat dalam membangun emosi.

Secara pribadi, saya merasa pertunjukan ini sangat unik dan menghibur. Warna-warna bercahaya di tubuh penari, dialog Hanoman yang ringan, serta interaksi langsung dengan penonton membuat pertunjukan teras hidup dan tidak membosankan. Saya juga merasa penonton lebih banyak terpukau oleh alur cerita dan warna-warna yang menyala di tubuh para penari dibandingkan oleh gerak tari itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa efek visual memang berhasil menarik perhatian, tetapi sekaligus membuat fokus penonton bergeser dari detail koreografi.

Walaupun demikian, saya melihat bahwa efek glow in the dark ini tetap efektif dalam membangun suasana dan memperkuat identitas pertunjukan. Pementasan ini berhasil menunjukkan bahwa kecak dapat hadir dalam bentuk yang lebih modern tanpa kehilangan akar ceritanya. Namun, agar kekuatan visual tidak menutupi kekuatan tari, diperlukan keseimbangan yang lebih baik antara pencahayaan, gerak, dan ekspresi penari. Dengan begitu, pengalaman menonton tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga tetap memberi ruang bagi penonton untuk menangkap kehalusan makna yang dibawa dalam setiap gerak.

Secara keseluruhan, The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta berhasil menghadirkan inovasi visual yang kuat dalam penyajian tari kecak. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan kisah Ramayana dalam kemasan baru, tetapi juga menunjukkan bagaimana cahaya, warna, dan interaksi dengan penonton dapat menciptakan pengalaman menonton yang segar. Menurut saya inovasi tersebut layak diapresiasi, meskipun masih perlu ditata agar keseimbangan antara daya tarik visual dan keterbacaan gerak tari dapat tercapai lebih utuh. [T]

Penulis: Azzahra Naya R
Editor: Adnyana Ole

Tags: kecakkesenian baliseni pertunjukanseni tariTaman Mini Indonesia Indah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Next Post

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Azzahra Naya R

Azzahra Naya R

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari Universitas Negeri Jakarta

Related Posts

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails
Next Post
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co