11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Azzahra Naya R by Azzahra Naya R
July 1, 2026
in Ulas Pentas
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Penampilan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta oleh Sanggar Pregina Agung di Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah. (Dokumentasi Pribadi).

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026,   yang ditampilkan oleh Sanggar Pregina Agung, kesan pertama yang muncul bukan hanya pada kisah Ramayana yang dibawakan, melainkan pada bagaimana cahaya di jadikan bagian utama dari pertunjukan.

Sebagai sanggar yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan Bali, Sanggar Pregina Agung menghadirkan pertunjukan ini dengan tetap menjaga akar tradisinya, sekaligus memberi sentuhan visual yang lebih segar. Keunikan pada pementasan ini hadir melalui penerapan efek glow in the dark yang diterapkan melalui body painting di wajah, tangan, dan bagian tubuh penari, serta dipadukan dengan kostum neon serta pencahayaan panggung yang dibuat minim. Kombinasi tersebut membuat tubuh penari tampak menyala di atas panggung dan menghadirkan suasana mistis yang langsung menarik perhatian penonton sejak awal.

Keunikan visual tersebut menjadi pembeda paling menonjol dalam pertunjukan ini dibandingkan dengan pertunjukan kecak pada umumnya. Warna-warna yang menyala pada tubuh penari membuat gerakan mereka tampak seperti siluet bercahaya yang bergerak dalam ruang gelap. Pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Dari sisi visual, pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Penonton tidak hanya menikmati alur ceritanya, tetapi juga larut dalam permainan warna dan cahaya yang membentuk atmosfer pertunjukan. Namun, kekuatan visual itu juga membawa konsekuensi yang terasa cukup jelas di mana pada beberapa bagian, detail gerak dan ekspresi penari menjadi kurang terbaca karena pencahayaan yang terlalu minim.

Suasana pertunjukan dibangun sejak awal melalui suara “cak” yang terdengar dari dua arah. Para penari Kecak kemudian membentuk lingkaran besar sebagai pusat perhatian penonton, sementara tokoh Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana hadir di tengah untuk membuka alur cerita. Bagian pembuka ini tetap menjaga pakem dasar Kecak, tetapi kehadiran pencahayaan modern dan efek glow in the dark membuat pertunjukan terasa lebih hidup. Perpaduan unsur tradisi dan inovasi visual inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan utama pementasan ini.

Alur cerita kemudian bergerak melalui rangkaian peristiwa Ramayana yang cukup dikenal, mulai dari kijang emas, penculikan Dewi Sinta, hingga perjalanan Rama mencari Hanoman sebagai utusan. Penyajian cerita dilakukan secara padat sehingga beberapa bagian tidak ditampilkan terlalu panjang. Meski demikian, inti konflik tetap dapat dipahami dengan baik oleh penonton. Pemadatan cerita ini membuat pertunjukan terasa lebih ringkas dan mudah diikuti, tetapi di sisi lain juga membuat beberapa bagian dramatik tidak berkembang secara lebih mendalam.

Penampilan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta oleh Sanggar Pregina Agung di Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah. | Dokumentasi Pribadi

Tokoh Hanoman menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan ini. Berbeda dari tokoh lain yang lebih banyak bergerak dalam area panggung, Hanoman beberapa kali turun ke area penonton dan berinteraksi langsung. Ia bergerak di antara bangku penonton seolah sedang melakukan pencarian, lalu melontarkan dialog yang mengandung unsur humor. Menurut saya, pada bagian ini sangat efektif karena dapat membuat suasana pertunjukan menjadi lebih hidup dan dekat dengan penonton. Kehadiran Hanoman bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga berhasil memecahkan jarak antara pemain dan audiens.

Salah satu adegan yang paling kuat secara visual adalah ketika Hanoman dibakar ekornya. Pada bagian ini, permainan api di tengah arena di padukan dengan lantunan suara penari kecak sehingga menghadirkan ketegangan yang intens. Kobaran api yang muncul dalam ruang gelap menciptakan momen spektakuler yang mudah melekat dalam ingatan penonton. Bagi saya, adegan ini menjadi puncak dramatik pertunjukan, karena memperlihatkan bagaimana visual dapat bekerja sangat kuat dalam membangun emosi.

Secara pribadi, saya merasa pertunjukan ini sangat unik dan menghibur. Warna-warna bercahaya di tubuh penari, dialog Hanoman yang ringan, serta interaksi langsung dengan penonton membuat pertunjukan teras hidup dan tidak membosankan. Saya juga merasa penonton lebih banyak terpukau oleh alur cerita dan warna-warna yang menyala di tubuh para penari dibandingkan oleh gerak tari itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa efek visual memang berhasil menarik perhatian, tetapi sekaligus membuat fokus penonton bergeser dari detail koreografi.

Walaupun demikian, saya melihat bahwa efek glow in the dark ini tetap efektif dalam membangun suasana dan memperkuat identitas pertunjukan. Pementasan ini berhasil menunjukkan bahwa kecak dapat hadir dalam bentuk yang lebih modern tanpa kehilangan akar ceritanya. Namun, agar kekuatan visual tidak menutupi kekuatan tari, diperlukan keseimbangan yang lebih baik antara pencahayaan, gerak, dan ekspresi penari. Dengan begitu, pengalaman menonton tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga tetap memberi ruang bagi penonton untuk menangkap kehalusan makna yang dibawa dalam setiap gerak.

Secara keseluruhan, The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta berhasil menghadirkan inovasi visual yang kuat dalam penyajian tari kecak. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan kisah Ramayana dalam kemasan baru, tetapi juga menunjukkan bagaimana cahaya, warna, dan interaksi dengan penonton dapat menciptakan pengalaman menonton yang segar. Menurut saya inovasi tersebut layak diapresiasi, meskipun masih perlu ditata agar keseimbangan antara daya tarik visual dan keterbacaan gerak tari dapat tercapai lebih utuh. [T]

Penulis: Azzahra Naya R
Editor: Adnyana Ole

Tags: kecakkesenian baliseni pertunjukanseni tariTaman Mini Indonesia Indah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Next Post

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Azzahra Naya R

Azzahra Naya R

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari Universitas Negeri Jakarta

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co