11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Azzahra Naya R by Azzahra Naya R
July 1, 2026
in Ulas Pentas
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Penampilan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta oleh Sanggar Pregina Agung di Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah. (Dokumentasi Pribadi).

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026,   yang ditampilkan oleh Sanggar Pregina Agung, kesan pertama yang muncul bukan hanya pada kisah Ramayana yang dibawakan, melainkan pada bagaimana cahaya di jadikan bagian utama dari pertunjukan.

Sebagai sanggar yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan Bali, Sanggar Pregina Agung menghadirkan pertunjukan ini dengan tetap menjaga akar tradisinya, sekaligus memberi sentuhan visual yang lebih segar. Keunikan pada pementasan ini hadir melalui penerapan efek glow in the dark yang diterapkan melalui body painting di wajah, tangan, dan bagian tubuh penari, serta dipadukan dengan kostum neon serta pencahayaan panggung yang dibuat minim. Kombinasi tersebut membuat tubuh penari tampak menyala di atas panggung dan menghadirkan suasana mistis yang langsung menarik perhatian penonton sejak awal.

Keunikan visual tersebut menjadi pembeda paling menonjol dalam pertunjukan ini dibandingkan dengan pertunjukan kecak pada umumnya. Warna-warna yang menyala pada tubuh penari membuat gerakan mereka tampak seperti siluet bercahaya yang bergerak dalam ruang gelap. Pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Dari sisi visual, pilihan artistik ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang segar sekaligus memikat perhatian sejak awal. Penonton tidak hanya menikmati alur ceritanya, tetapi juga larut dalam permainan warna dan cahaya yang membentuk atmosfer pertunjukan. Namun, kekuatan visual itu juga membawa konsekuensi yang terasa cukup jelas di mana pada beberapa bagian, detail gerak dan ekspresi penari menjadi kurang terbaca karena pencahayaan yang terlalu minim.

Suasana pertunjukan dibangun sejak awal melalui suara “cak” yang terdengar dari dua arah. Para penari Kecak kemudian membentuk lingkaran besar sebagai pusat perhatian penonton, sementara tokoh Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana hadir di tengah untuk membuka alur cerita. Bagian pembuka ini tetap menjaga pakem dasar Kecak, tetapi kehadiran pencahayaan modern dan efek glow in the dark membuat pertunjukan terasa lebih hidup. Perpaduan unsur tradisi dan inovasi visual inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan utama pementasan ini.

Alur cerita kemudian bergerak melalui rangkaian peristiwa Ramayana yang cukup dikenal, mulai dari kijang emas, penculikan Dewi Sinta, hingga perjalanan Rama mencari Hanoman sebagai utusan. Penyajian cerita dilakukan secara padat sehingga beberapa bagian tidak ditampilkan terlalu panjang. Meski demikian, inti konflik tetap dapat dipahami dengan baik oleh penonton. Pemadatan cerita ini membuat pertunjukan terasa lebih ringkas dan mudah diikuti, tetapi di sisi lain juga membuat beberapa bagian dramatik tidak berkembang secara lebih mendalam.

Penampilan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta oleh Sanggar Pregina Agung di Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah. | Dokumentasi Pribadi

Tokoh Hanoman menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan ini. Berbeda dari tokoh lain yang lebih banyak bergerak dalam area panggung, Hanoman beberapa kali turun ke area penonton dan berinteraksi langsung. Ia bergerak di antara bangku penonton seolah sedang melakukan pencarian, lalu melontarkan dialog yang mengandung unsur humor. Menurut saya, pada bagian ini sangat efektif karena dapat membuat suasana pertunjukan menjadi lebih hidup dan dekat dengan penonton. Kehadiran Hanoman bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga berhasil memecahkan jarak antara pemain dan audiens.

Salah satu adegan yang paling kuat secara visual adalah ketika Hanoman dibakar ekornya. Pada bagian ini, permainan api di tengah arena di padukan dengan lantunan suara penari kecak sehingga menghadirkan ketegangan yang intens. Kobaran api yang muncul dalam ruang gelap menciptakan momen spektakuler yang mudah melekat dalam ingatan penonton. Bagi saya, adegan ini menjadi puncak dramatik pertunjukan, karena memperlihatkan bagaimana visual dapat bekerja sangat kuat dalam membangun emosi.

Secara pribadi, saya merasa pertunjukan ini sangat unik dan menghibur. Warna-warna bercahaya di tubuh penari, dialog Hanoman yang ringan, serta interaksi langsung dengan penonton membuat pertunjukan teras hidup dan tidak membosankan. Saya juga merasa penonton lebih banyak terpukau oleh alur cerita dan warna-warna yang menyala di tubuh para penari dibandingkan oleh gerak tari itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa efek visual memang berhasil menarik perhatian, tetapi sekaligus membuat fokus penonton bergeser dari detail koreografi.

Walaupun demikian, saya melihat bahwa efek glow in the dark ini tetap efektif dalam membangun suasana dan memperkuat identitas pertunjukan. Pementasan ini berhasil menunjukkan bahwa kecak dapat hadir dalam bentuk yang lebih modern tanpa kehilangan akar ceritanya. Namun, agar kekuatan visual tidak menutupi kekuatan tari, diperlukan keseimbangan yang lebih baik antara pencahayaan, gerak, dan ekspresi penari. Dengan begitu, pengalaman menonton tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga tetap memberi ruang bagi penonton untuk menangkap kehalusan makna yang dibawa dalam setiap gerak.

Secara keseluruhan, The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta berhasil menghadirkan inovasi visual yang kuat dalam penyajian tari kecak. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan kisah Ramayana dalam kemasan baru, tetapi juga menunjukkan bagaimana cahaya, warna, dan interaksi dengan penonton dapat menciptakan pengalaman menonton yang segar. Menurut saya inovasi tersebut layak diapresiasi, meskipun masih perlu ditata agar keseimbangan antara daya tarik visual dan keterbacaan gerak tari dapat tercapai lebih utuh. [T]

Penulis: Azzahra Naya R
Editor: Adnyana Ole

Tags: kecakkesenian baliseni pertunjukanseni tariTaman Mini Indonesia Indah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Next Post

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Azzahra Naya R

Azzahra Naya R

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari Universitas Negeri Jakarta

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co