30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah yang mulai usang, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri”.  Menyusul anggapan yang semakin sering kita dengar belakangan ini, kalau ada kesempatan hidup lebih baik di luar negeri, mengapa harus bertahan di Indonesia? Pertanyaan itu bukan lagi sekadar percakapan di warung kopi. Ia memenuhi linimasa media sosial, terutama sejak tagar #KaburAjaDulu menjadi viral.

Sebagiannya memang hanya gurauan. Namun tidak sedikit pula yang benar-benar sedang menyiapkan beasiswa, melamar pekerjaan di luar negeri, atau bahkan sudah mengemasi koper untuk memulai hidup baru. Bahkan ada yang secara dini menyiapkan anaknya yang masih SMP untuk kelak hidup, menetap, dan kerja di luar negeri saja.

Menyikapi hal ini, reaksi orang macam-macam.  Ada yang menuduh mereka tidak nasionalis, tapi ada pula yang membela dengan mengatakan bahwa setiap orang berhak mengejar kehidupan yang lebih layak.

Tetapi bisa saja kita sedang memperdebatkan hal yang salah. Karena masalah terbesar sebuah bangsa bukan ketika sebagian warganya memilih untuk bekerja di luar negeri, tapi ketika semakin banyak orang tidak lagi merasa memiliki negeri yang ditinggalkannya.  Itu masalah sebenarnya.

Rumah yang Dibangun Para Pejuang

Kita juga menyaksikan gejala lain yang muncul pelan tetapi nyata. Penghormatan kepada para veteran semakin redup. Upacara-upacara kenegaraan sering berakhir sebagai rutinitas administratif. Hari Kemerdekaan lebih ramai oleh lomba dan diskon belanja 17-an daripada perenungan tentang bagaimana bangsa ini berdiri.

Anak-anak sudah mulai tidak mengenal nama para pahlawan nasional. Kita semua semakin jarang meluangkan waktu untuk memahami semangat para pejuang dan veteran. Mungkin masih hafal tanggal-tanggal sejarah, tapi kehilangan hubungan emosional dengan sejarah itu sendiri. Kita coba kaitkan dua fenomena ini.

Para veteran yang tentu sudah berusia senja, bukan sekadar simbol masa lalu. Memandang mereka tentu tidak seindah artis Korea yang glamor. Namun semestinya memandang mereka mengingatkan kita pada satu pertanyaan sederhana yang semakin jarang diajukan. Mengapa seseorang bersedia berkorban untuk sesuatu yang bahkan belum tentu dapat ia nikmati?

Generasi para veteran, para pejuang kemerdekaan kita, mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, bahkan nyawanya demi sebuah negara yang ketika itu bahkan belum benar-benar mapan. Mereka mempertaruhkan hidup demi sebuah gagasan bernama Indonesia. Gagasan akan sebuah rumah bagi anak cucu mereka kelak. 

Alasan mereka bersedia melakukan semua pengorbanan itu tentu karena mereka mencintai tanah airnya. Hal yang mungkin aneh karena negara hanyalah batas-batas geografis yang disepakati manusia.  Bukankah tidak ada hukum alam yang mewajibkan seseorang mengabdi kepada tempat ia dilahirkan?

Dalam Imagined Communities, Benedict Anderson menjelaskan bahwa bangsa sesungguhnya adalah imagined community, komunitas yang dibayangkan bersama. Bukan berarti bangsa itu khayalan, melainkan jutaan orang yang tidak pernah saling mengenal tetap merasa berada dalam satu keluarga besar karena mereka berbagi cerita, sejarah, simbol, dan harapan yang sama.

Tentu saja seorang petani di Banyumas tidak pernah bertemu nelayan di Maluku. Begitu juga seorang guru di Aceh mungkin tidak akan mengenal dokter di Merauke. Namun ketika bendera Merah Putih berkibar, mereka merasa sedang berdiri di bawah panji yang sama. Perasaan itu bukan naluri biologis yang tertanam secara generik dalam DNA kita, melainkan dibangun, dipelajari, diwariskan, dan dirawat. 

Dan karena dibangun, maka juga dapat memudar. Di sinilah letak persoalan yang sering luput kita sadari. Nasionalisme bukanlah sesuatu yang otomatis diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Setiap generasi harus menemukan kembali alasan mengapa Indonesia layak dicintai.

Psikolog sosial Henri Tajfel menjelaskan melalui Social Identity Theory bahwa manusia terdorong berkorban bagi kelompok yang ia anggap sebagai bagian dari identitas dirinya. Seseorang menjaga nama baik keluarganya karena merasa bagian dari keluarga itu. Siswa membela almamaternya karena merasa memilikinya. Hal yang sama berlaku terhadap bangsa.

Perbedaannya Tampak Sederhana, Dampak Sangat Besar.

Jika Anda memiliki rumah yang rusak, tentu segera akan Anda perbaiki, karena Anda pemiliknya, meskipun membutuhkan biaya dan tenaga. Sebaliknaya, menempati kamar hotel yang bocor,  Anda cukup mengeluh, lalu pindah ke tempat lain. Pertanyaannya, Indonesia hari ini kita rasakan sebagai rumah, atau sekadar tempat singgah?

Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa manusia membutuhkan common world, sebuah dunia bersama yang membuat kita merasa kehidupan pribadi kita terhubung dengan kehidupan orang lain. Ketika dunia bersama itu melemah, manusia cenderung menarik diri ke dalam kepentingannya masing-masing. Yang tersisa hanyalah individu-individu yang hidup berdampingan, tetapi tidak lagi merasa sedang membangun sesuatu bersama. 

Sepertinya inilah tantangan Indonesia hari ini. Bukan soal semakin banyak anak muda yang ingin merantau ke luar negeri. Melainkan semakin sedikit yang benar-benar merasa bahwa negeri ini adalah rumah yang layak dijaga bersama.

Kalau kita menengok ke pelajaran IPS SMP, nasionalisme justru tampak dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana. Misal, kita diharap tetap membayar pajak, meski sama-sama paham, tidak semua uang negara dikelola sempurna. Bagi para guru tetap mengajar dengan jujur meski gaji belum ideal. Para peneliti tetap bekerja di laboratorium Indonesia ketika fasilitasnya belum sebaik luar negeri.

Masyarakat tetap membangun usaha yang membuka lapangan kerja. Atau seperti almarhum ayah saya yang tetap menanam pohon meski tidak pernah menikmati rindangnya.  Sebab cinta kepada bangsa memang tidak harus melulu hadir dalam momen-momen heroik, namun hidup dalam keputusan dan tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Sebenarnya kita pantas ramai bertanya mengapa anak-anak muda kita ingin pergi.  Karena itu secara tersirat juga bertanya, apakah negeri ini bisa membuat mereka ingin kembali? Byung-Chul Han, mengatakan masyarakat modern sedang kehilangan narasi besar, grand narratives. Manusia kini semakin hidup dalam fragmen-fragmen pendek yang dipenuhi performa dan konsumsi informasi. 

Sejujurnya saya merasa bahwa tujuan jangka panjang Indonesia yang luhur itu semakin terkubur dalam-dalam, senasib dengan  impian-impian anak bangsa yang selalu pupus oleh lemahnya tata kelola negeri ini. Kita bisa paham bagaimana penghargaan terhadap anak bangsa begitu dianggap seperti bercanda. Banyak kekecewaan dari para atlet, akademisi, peneliti, para penemu, sampai dengan carut-marut korupsi dan bercokolnya para penjajah dari bangsa sendiri.  Kabur keluar, mungkin adalah jalan paling logis untuk menggapai impian itu. 

Masihkah Negara Ini Rumah Kita

Akibatnya, bangsa tidak lagi dipahami sebagai kisah panjang yang harus diteruskan, melainkan sekadar lokasi tempat seseorang lahir sebelum mengejar kariernya sendiri.  Barangkali saat ini kita terlalu sering bertanya, “Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya?” Saking seringnya, sampai akhirnya meghipnotis dan terasa sebagai suatu kebenaran. Padahal para veteran pernah mengajarkan pertanyaan yang berbeda.  “Apa yang masih bisa saya berikan kepada Indonesia?”

Ketika pertanyaan pertama sepenuhnya menggantikan yang kedua, maka fix, saat itulah sebuah bangsa mulai kehilangan dirinya. Bukan karena wilayahnya direbut, tapi karena hati rakyat yang pelan-pelan berpindah.

Sebuah negara tidak pernah runtuh begitu saja, ketika musuh datang menyerang dari luar. Malah, mereka akan bertahan dan saling menguatkan. Juga sejatinya suatu negara tidak akan menjadi rapuh karena usia. Namun suatu negara mulai rapuh ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi merasa bahwa negeri itu adalah rumah mereka.

Sidang pembaca yang budiman, apakah ini sedang terjadi pada negara kita? Karena tidak ada yang merasa memilikinya, lalu pelan-pelan, negara ini, rumah besar yang dibangun oleh para pejuang dan para veteran kita, akan dikontrakkan, disewakan atau bahkan dijual.

Atau mungkin kita harus mengembalikan semangat untuk menghabisi para penjajah dari dalam rumah kita sendiri. Selamat Hari Veteran, semoga kita semua masih mewarisi semangat mereka. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Veteran Nasionalveteran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Next Post

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails
Next Post
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co