10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah yang mulai usang, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri”.  Menyusul anggapan yang semakin sering kita dengar belakangan ini, kalau ada kesempatan hidup lebih baik di luar negeri, mengapa harus bertahan di Indonesia? Pertanyaan itu bukan lagi sekadar percakapan di warung kopi. Ia memenuhi linimasa media sosial, terutama sejak tagar #KaburAjaDulu menjadi viral.

Sebagiannya memang hanya gurauan. Namun tidak sedikit pula yang benar-benar sedang menyiapkan beasiswa, melamar pekerjaan di luar negeri, atau bahkan sudah mengemasi koper untuk memulai hidup baru. Bahkan ada yang secara dini menyiapkan anaknya yang masih SMP untuk kelak hidup, menetap, dan kerja di luar negeri saja.

Menyikapi hal ini, reaksi orang macam-macam.  Ada yang menuduh mereka tidak nasionalis, tapi ada pula yang membela dengan mengatakan bahwa setiap orang berhak mengejar kehidupan yang lebih layak.

Tetapi bisa saja kita sedang memperdebatkan hal yang salah. Karena masalah terbesar sebuah bangsa bukan ketika sebagian warganya memilih untuk bekerja di luar negeri, tapi ketika semakin banyak orang tidak lagi merasa memiliki negeri yang ditinggalkannya.  Itu masalah sebenarnya.

Rumah yang Dibangun Para Pejuang

Kita juga menyaksikan gejala lain yang muncul pelan tetapi nyata. Penghormatan kepada para veteran semakin redup. Upacara-upacara kenegaraan sering berakhir sebagai rutinitas administratif. Hari Kemerdekaan lebih ramai oleh lomba dan diskon belanja 17-an daripada perenungan tentang bagaimana bangsa ini berdiri.

Anak-anak sudah mulai tidak mengenal nama para pahlawan nasional. Kita semua semakin jarang meluangkan waktu untuk memahami semangat para pejuang dan veteran. Mungkin masih hafal tanggal-tanggal sejarah, tapi kehilangan hubungan emosional dengan sejarah itu sendiri. Kita coba kaitkan dua fenomena ini.

Para veteran yang tentu sudah berusia senja, bukan sekadar simbol masa lalu. Memandang mereka tentu tidak seindah artis Korea yang glamor. Namun semestinya memandang mereka mengingatkan kita pada satu pertanyaan sederhana yang semakin jarang diajukan. Mengapa seseorang bersedia berkorban untuk sesuatu yang bahkan belum tentu dapat ia nikmati?

Generasi para veteran, para pejuang kemerdekaan kita, mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, bahkan nyawanya demi sebuah negara yang ketika itu bahkan belum benar-benar mapan. Mereka mempertaruhkan hidup demi sebuah gagasan bernama Indonesia. Gagasan akan sebuah rumah bagi anak cucu mereka kelak. 

Alasan mereka bersedia melakukan semua pengorbanan itu tentu karena mereka mencintai tanah airnya. Hal yang mungkin aneh karena negara hanyalah batas-batas geografis yang disepakati manusia.  Bukankah tidak ada hukum alam yang mewajibkan seseorang mengabdi kepada tempat ia dilahirkan?

Dalam Imagined Communities, Benedict Anderson menjelaskan bahwa bangsa sesungguhnya adalah imagined community, komunitas yang dibayangkan bersama. Bukan berarti bangsa itu khayalan, melainkan jutaan orang yang tidak pernah saling mengenal tetap merasa berada dalam satu keluarga besar karena mereka berbagi cerita, sejarah, simbol, dan harapan yang sama.

Tentu saja seorang petani di Banyumas tidak pernah bertemu nelayan di Maluku. Begitu juga seorang guru di Aceh mungkin tidak akan mengenal dokter di Merauke. Namun ketika bendera Merah Putih berkibar, mereka merasa sedang berdiri di bawah panji yang sama. Perasaan itu bukan naluri biologis yang tertanam secara generik dalam DNA kita, melainkan dibangun, dipelajari, diwariskan, dan dirawat. 

Dan karena dibangun, maka juga dapat memudar. Di sinilah letak persoalan yang sering luput kita sadari. Nasionalisme bukanlah sesuatu yang otomatis diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Setiap generasi harus menemukan kembali alasan mengapa Indonesia layak dicintai.

Psikolog sosial Henri Tajfel menjelaskan melalui Social Identity Theory bahwa manusia terdorong berkorban bagi kelompok yang ia anggap sebagai bagian dari identitas dirinya. Seseorang menjaga nama baik keluarganya karena merasa bagian dari keluarga itu. Siswa membela almamaternya karena merasa memilikinya. Hal yang sama berlaku terhadap bangsa.

Perbedaannya Tampak Sederhana, Dampak Sangat Besar.

Jika Anda memiliki rumah yang rusak, tentu segera akan Anda perbaiki, karena Anda pemiliknya, meskipun membutuhkan biaya dan tenaga. Sebaliknaya, menempati kamar hotel yang bocor,  Anda cukup mengeluh, lalu pindah ke tempat lain. Pertanyaannya, Indonesia hari ini kita rasakan sebagai rumah, atau sekadar tempat singgah?

Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa manusia membutuhkan common world, sebuah dunia bersama yang membuat kita merasa kehidupan pribadi kita terhubung dengan kehidupan orang lain. Ketika dunia bersama itu melemah, manusia cenderung menarik diri ke dalam kepentingannya masing-masing. Yang tersisa hanyalah individu-individu yang hidup berdampingan, tetapi tidak lagi merasa sedang membangun sesuatu bersama. 

Sepertinya inilah tantangan Indonesia hari ini. Bukan soal semakin banyak anak muda yang ingin merantau ke luar negeri. Melainkan semakin sedikit yang benar-benar merasa bahwa negeri ini adalah rumah yang layak dijaga bersama.

Kalau kita menengok ke pelajaran IPS SMP, nasionalisme justru tampak dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana. Misal, kita diharap tetap membayar pajak, meski sama-sama paham, tidak semua uang negara dikelola sempurna. Bagi para guru tetap mengajar dengan jujur meski gaji belum ideal. Para peneliti tetap bekerja di laboratorium Indonesia ketika fasilitasnya belum sebaik luar negeri.

Masyarakat tetap membangun usaha yang membuka lapangan kerja. Atau seperti almarhum ayah saya yang tetap menanam pohon meski tidak pernah menikmati rindangnya.  Sebab cinta kepada bangsa memang tidak harus melulu hadir dalam momen-momen heroik, namun hidup dalam keputusan dan tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Sebenarnya kita pantas ramai bertanya mengapa anak-anak muda kita ingin pergi.  Karena itu secara tersirat juga bertanya, apakah negeri ini bisa membuat mereka ingin kembali? Byung-Chul Han, mengatakan masyarakat modern sedang kehilangan narasi besar, grand narratives. Manusia kini semakin hidup dalam fragmen-fragmen pendek yang dipenuhi performa dan konsumsi informasi. 

Sejujurnya saya merasa bahwa tujuan jangka panjang Indonesia yang luhur itu semakin terkubur dalam-dalam, senasib dengan  impian-impian anak bangsa yang selalu pupus oleh lemahnya tata kelola negeri ini. Kita bisa paham bagaimana penghargaan terhadap anak bangsa begitu dianggap seperti bercanda. Banyak kekecewaan dari para atlet, akademisi, peneliti, para penemu, sampai dengan carut-marut korupsi dan bercokolnya para penjajah dari bangsa sendiri.  Kabur keluar, mungkin adalah jalan paling logis untuk menggapai impian itu. 

Masihkah Negara Ini Rumah Kita

Akibatnya, bangsa tidak lagi dipahami sebagai kisah panjang yang harus diteruskan, melainkan sekadar lokasi tempat seseorang lahir sebelum mengejar kariernya sendiri.  Barangkali saat ini kita terlalu sering bertanya, “Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya?” Saking seringnya, sampai akhirnya meghipnotis dan terasa sebagai suatu kebenaran. Padahal para veteran pernah mengajarkan pertanyaan yang berbeda.  “Apa yang masih bisa saya berikan kepada Indonesia?”

Ketika pertanyaan pertama sepenuhnya menggantikan yang kedua, maka fix, saat itulah sebuah bangsa mulai kehilangan dirinya. Bukan karena wilayahnya direbut, tapi karena hati rakyat yang pelan-pelan berpindah.

Sebuah negara tidak pernah runtuh begitu saja, ketika musuh datang menyerang dari luar. Malah, mereka akan bertahan dan saling menguatkan. Juga sejatinya suatu negara tidak akan menjadi rapuh karena usia. Namun suatu negara mulai rapuh ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi merasa bahwa negeri itu adalah rumah mereka.

Sidang pembaca yang budiman, apakah ini sedang terjadi pada negara kita? Karena tidak ada yang merasa memilikinya, lalu pelan-pelan, negara ini, rumah besar yang dibangun oleh para pejuang dan para veteran kita, akan dikontrakkan, disewakan atau bahkan dijual.

Atau mungkin kita harus mengembalikan semangat untuk menghabisi para penjajah dari dalam rumah kita sendiri. Selamat Hari Veteran, semoga kita semua masih mewarisi semangat mereka. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Veteran Nasionalveteran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Next Post

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co