30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah yang mulai usang, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri”.  Menyusul anggapan yang semakin sering kita dengar belakangan ini, kalau ada kesempatan hidup lebih baik di luar negeri, mengapa harus bertahan di Indonesia? Pertanyaan itu bukan lagi sekadar percakapan di warung kopi. Ia memenuhi linimasa media sosial, terutama sejak tagar #KaburAjaDulu menjadi viral.

Sebagiannya memang hanya gurauan. Namun tidak sedikit pula yang benar-benar sedang menyiapkan beasiswa, melamar pekerjaan di luar negeri, atau bahkan sudah mengemasi koper untuk memulai hidup baru. Bahkan ada yang secara dini menyiapkan anaknya yang masih SMP untuk kelak hidup, menetap, dan kerja di luar negeri saja.

Menyikapi hal ini, reaksi orang macam-macam.  Ada yang menuduh mereka tidak nasionalis, tapi ada pula yang membela dengan mengatakan bahwa setiap orang berhak mengejar kehidupan yang lebih layak.

Tetapi bisa saja kita sedang memperdebatkan hal yang salah. Karena masalah terbesar sebuah bangsa bukan ketika sebagian warganya memilih untuk bekerja di luar negeri, tapi ketika semakin banyak orang tidak lagi merasa memiliki negeri yang ditinggalkannya.  Itu masalah sebenarnya.

Rumah yang Dibangun Para Pejuang

Kita juga menyaksikan gejala lain yang muncul pelan tetapi nyata. Penghormatan kepada para veteran semakin redup. Upacara-upacara kenegaraan sering berakhir sebagai rutinitas administratif. Hari Kemerdekaan lebih ramai oleh lomba dan diskon belanja 17-an daripada perenungan tentang bagaimana bangsa ini berdiri.

Anak-anak sudah mulai tidak mengenal nama para pahlawan nasional. Kita semua semakin jarang meluangkan waktu untuk memahami semangat para pejuang dan veteran. Mungkin masih hafal tanggal-tanggal sejarah, tapi kehilangan hubungan emosional dengan sejarah itu sendiri. Kita coba kaitkan dua fenomena ini.

Para veteran yang tentu sudah berusia senja, bukan sekadar simbol masa lalu. Memandang mereka tentu tidak seindah artis Korea yang glamor. Namun semestinya memandang mereka mengingatkan kita pada satu pertanyaan sederhana yang semakin jarang diajukan. Mengapa seseorang bersedia berkorban untuk sesuatu yang bahkan belum tentu dapat ia nikmati?

Generasi para veteran, para pejuang kemerdekaan kita, mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, bahkan nyawanya demi sebuah negara yang ketika itu bahkan belum benar-benar mapan. Mereka mempertaruhkan hidup demi sebuah gagasan bernama Indonesia. Gagasan akan sebuah rumah bagi anak cucu mereka kelak. 

Alasan mereka bersedia melakukan semua pengorbanan itu tentu karena mereka mencintai tanah airnya. Hal yang mungkin aneh karena negara hanyalah batas-batas geografis yang disepakati manusia.  Bukankah tidak ada hukum alam yang mewajibkan seseorang mengabdi kepada tempat ia dilahirkan?

Dalam Imagined Communities, Benedict Anderson menjelaskan bahwa bangsa sesungguhnya adalah imagined community, komunitas yang dibayangkan bersama. Bukan berarti bangsa itu khayalan, melainkan jutaan orang yang tidak pernah saling mengenal tetap merasa berada dalam satu keluarga besar karena mereka berbagi cerita, sejarah, simbol, dan harapan yang sama.

Tentu saja seorang petani di Banyumas tidak pernah bertemu nelayan di Maluku. Begitu juga seorang guru di Aceh mungkin tidak akan mengenal dokter di Merauke. Namun ketika bendera Merah Putih berkibar, mereka merasa sedang berdiri di bawah panji yang sama. Perasaan itu bukan naluri biologis yang tertanam secara generik dalam DNA kita, melainkan dibangun, dipelajari, diwariskan, dan dirawat. 

Dan karena dibangun, maka juga dapat memudar. Di sinilah letak persoalan yang sering luput kita sadari. Nasionalisme bukanlah sesuatu yang otomatis diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Setiap generasi harus menemukan kembali alasan mengapa Indonesia layak dicintai.

Psikolog sosial Henri Tajfel menjelaskan melalui Social Identity Theory bahwa manusia terdorong berkorban bagi kelompok yang ia anggap sebagai bagian dari identitas dirinya. Seseorang menjaga nama baik keluarganya karena merasa bagian dari keluarga itu. Siswa membela almamaternya karena merasa memilikinya. Hal yang sama berlaku terhadap bangsa.

Perbedaannya Tampak Sederhana, Dampak Sangat Besar.

Jika Anda memiliki rumah yang rusak, tentu segera akan Anda perbaiki, karena Anda pemiliknya, meskipun membutuhkan biaya dan tenaga. Sebaliknaya, menempati kamar hotel yang bocor,  Anda cukup mengeluh, lalu pindah ke tempat lain. Pertanyaannya, Indonesia hari ini kita rasakan sebagai rumah, atau sekadar tempat singgah?

Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa manusia membutuhkan common world, sebuah dunia bersama yang membuat kita merasa kehidupan pribadi kita terhubung dengan kehidupan orang lain. Ketika dunia bersama itu melemah, manusia cenderung menarik diri ke dalam kepentingannya masing-masing. Yang tersisa hanyalah individu-individu yang hidup berdampingan, tetapi tidak lagi merasa sedang membangun sesuatu bersama. 

Sepertinya inilah tantangan Indonesia hari ini. Bukan soal semakin banyak anak muda yang ingin merantau ke luar negeri. Melainkan semakin sedikit yang benar-benar merasa bahwa negeri ini adalah rumah yang layak dijaga bersama.

Kalau kita menengok ke pelajaran IPS SMP, nasionalisme justru tampak dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana. Misal, kita diharap tetap membayar pajak, meski sama-sama paham, tidak semua uang negara dikelola sempurna. Bagi para guru tetap mengajar dengan jujur meski gaji belum ideal. Para peneliti tetap bekerja di laboratorium Indonesia ketika fasilitasnya belum sebaik luar negeri.

Masyarakat tetap membangun usaha yang membuka lapangan kerja. Atau seperti almarhum ayah saya yang tetap menanam pohon meski tidak pernah menikmati rindangnya.  Sebab cinta kepada bangsa memang tidak harus melulu hadir dalam momen-momen heroik, namun hidup dalam keputusan dan tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Sebenarnya kita pantas ramai bertanya mengapa anak-anak muda kita ingin pergi.  Karena itu secara tersirat juga bertanya, apakah negeri ini bisa membuat mereka ingin kembali? Byung-Chul Han, mengatakan masyarakat modern sedang kehilangan narasi besar, grand narratives. Manusia kini semakin hidup dalam fragmen-fragmen pendek yang dipenuhi performa dan konsumsi informasi. 

Sejujurnya saya merasa bahwa tujuan jangka panjang Indonesia yang luhur itu semakin terkubur dalam-dalam, senasib dengan  impian-impian anak bangsa yang selalu pupus oleh lemahnya tata kelola negeri ini. Kita bisa paham bagaimana penghargaan terhadap anak bangsa begitu dianggap seperti bercanda. Banyak kekecewaan dari para atlet, akademisi, peneliti, para penemu, sampai dengan carut-marut korupsi dan bercokolnya para penjajah dari bangsa sendiri.  Kabur keluar, mungkin adalah jalan paling logis untuk menggapai impian itu. 

Masihkah Negara Ini Rumah Kita

Akibatnya, bangsa tidak lagi dipahami sebagai kisah panjang yang harus diteruskan, melainkan sekadar lokasi tempat seseorang lahir sebelum mengejar kariernya sendiri.  Barangkali saat ini kita terlalu sering bertanya, “Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya?” Saking seringnya, sampai akhirnya meghipnotis dan terasa sebagai suatu kebenaran. Padahal para veteran pernah mengajarkan pertanyaan yang berbeda.  “Apa yang masih bisa saya berikan kepada Indonesia?”

Ketika pertanyaan pertama sepenuhnya menggantikan yang kedua, maka fix, saat itulah sebuah bangsa mulai kehilangan dirinya. Bukan karena wilayahnya direbut, tapi karena hati rakyat yang pelan-pelan berpindah.

Sebuah negara tidak pernah runtuh begitu saja, ketika musuh datang menyerang dari luar. Malah, mereka akan bertahan dan saling menguatkan. Juga sejatinya suatu negara tidak akan menjadi rapuh karena usia. Namun suatu negara mulai rapuh ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi merasa bahwa negeri itu adalah rumah mereka.

Sidang pembaca yang budiman, apakah ini sedang terjadi pada negara kita? Karena tidak ada yang merasa memilikinya, lalu pelan-pelan, negara ini, rumah besar yang dibangun oleh para pejuang dan para veteran kita, akan dikontrakkan, disewakan atau bahkan dijual.

Atau mungkin kita harus mengembalikan semangat untuk menghabisi para penjajah dari dalam rumah kita sendiri. Selamat Hari Veteran, semoga kita semua masih mewarisi semangat mereka. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Veteran Nasionalveteran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Next Post

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails
Next Post
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co