ADA pepatah yang mulai usang, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri”. Menyusul anggapan yang semakin sering kita dengar belakangan ini, kalau ada kesempatan hidup lebih baik di luar negeri, mengapa harus bertahan di Indonesia? Pertanyaan itu bukan lagi sekadar percakapan di warung kopi. Ia memenuhi linimasa media sosial, terutama sejak tagar #KaburAjaDulu menjadi viral.
Sebagiannya memang hanya gurauan. Namun tidak sedikit pula yang benar-benar sedang menyiapkan beasiswa, melamar pekerjaan di luar negeri, atau bahkan sudah mengemasi koper untuk memulai hidup baru. Bahkan ada yang secara dini menyiapkan anaknya yang masih SMP untuk kelak hidup, menetap, dan kerja di luar negeri saja.
Menyikapi hal ini, reaksi orang macam-macam. Ada yang menuduh mereka tidak nasionalis, tapi ada pula yang membela dengan mengatakan bahwa setiap orang berhak mengejar kehidupan yang lebih layak.
Tetapi bisa saja kita sedang memperdebatkan hal yang salah. Karena masalah terbesar sebuah bangsa bukan ketika sebagian warganya memilih untuk bekerja di luar negeri, tapi ketika semakin banyak orang tidak lagi merasa memiliki negeri yang ditinggalkannya. Itu masalah sebenarnya.
Rumah yang Dibangun Para Pejuang
Kita juga menyaksikan gejala lain yang muncul pelan tetapi nyata. Penghormatan kepada para veteran semakin redup. Upacara-upacara kenegaraan sering berakhir sebagai rutinitas administratif. Hari Kemerdekaan lebih ramai oleh lomba dan diskon belanja 17-an daripada perenungan tentang bagaimana bangsa ini berdiri.
Anak-anak sudah mulai tidak mengenal nama para pahlawan nasional. Kita semua semakin jarang meluangkan waktu untuk memahami semangat para pejuang dan veteran. Mungkin masih hafal tanggal-tanggal sejarah, tapi kehilangan hubungan emosional dengan sejarah itu sendiri. Kita coba kaitkan dua fenomena ini.
Para veteran yang tentu sudah berusia senja, bukan sekadar simbol masa lalu. Memandang mereka tentu tidak seindah artis Korea yang glamor. Namun semestinya memandang mereka mengingatkan kita pada satu pertanyaan sederhana yang semakin jarang diajukan. Mengapa seseorang bersedia berkorban untuk sesuatu yang bahkan belum tentu dapat ia nikmati?
Generasi para veteran, para pejuang kemerdekaan kita, mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, bahkan nyawanya demi sebuah negara yang ketika itu bahkan belum benar-benar mapan. Mereka mempertaruhkan hidup demi sebuah gagasan bernama Indonesia. Gagasan akan sebuah rumah bagi anak cucu mereka kelak.
Alasan mereka bersedia melakukan semua pengorbanan itu tentu karena mereka mencintai tanah airnya. Hal yang mungkin aneh karena negara hanyalah batas-batas geografis yang disepakati manusia. Bukankah tidak ada hukum alam yang mewajibkan seseorang mengabdi kepada tempat ia dilahirkan?
Dalam Imagined Communities, Benedict Anderson menjelaskan bahwa bangsa sesungguhnya adalah imagined community, komunitas yang dibayangkan bersama. Bukan berarti bangsa itu khayalan, melainkan jutaan orang yang tidak pernah saling mengenal tetap merasa berada dalam satu keluarga besar karena mereka berbagi cerita, sejarah, simbol, dan harapan yang sama.
Tentu saja seorang petani di Banyumas tidak pernah bertemu nelayan di Maluku. Begitu juga seorang guru di Aceh mungkin tidak akan mengenal dokter di Merauke. Namun ketika bendera Merah Putih berkibar, mereka merasa sedang berdiri di bawah panji yang sama. Perasaan itu bukan naluri biologis yang tertanam secara generik dalam DNA kita, melainkan dibangun, dipelajari, diwariskan, dan dirawat.
Dan karena dibangun, maka juga dapat memudar. Di sinilah letak persoalan yang sering luput kita sadari. Nasionalisme bukanlah sesuatu yang otomatis diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Setiap generasi harus menemukan kembali alasan mengapa Indonesia layak dicintai.
Psikolog sosial Henri Tajfel menjelaskan melalui Social Identity Theory bahwa manusia terdorong berkorban bagi kelompok yang ia anggap sebagai bagian dari identitas dirinya. Seseorang menjaga nama baik keluarganya karena merasa bagian dari keluarga itu. Siswa membela almamaternya karena merasa memilikinya. Hal yang sama berlaku terhadap bangsa.
Perbedaannya Tampak Sederhana, Dampak Sangat Besar.
Jika Anda memiliki rumah yang rusak, tentu segera akan Anda perbaiki, karena Anda pemiliknya, meskipun membutuhkan biaya dan tenaga. Sebaliknaya, menempati kamar hotel yang bocor, Anda cukup mengeluh, lalu pindah ke tempat lain. Pertanyaannya, Indonesia hari ini kita rasakan sebagai rumah, atau sekadar tempat singgah?
Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa manusia membutuhkan common world, sebuah dunia bersama yang membuat kita merasa kehidupan pribadi kita terhubung dengan kehidupan orang lain. Ketika dunia bersama itu melemah, manusia cenderung menarik diri ke dalam kepentingannya masing-masing. Yang tersisa hanyalah individu-individu yang hidup berdampingan, tetapi tidak lagi merasa sedang membangun sesuatu bersama.
Sepertinya inilah tantangan Indonesia hari ini. Bukan soal semakin banyak anak muda yang ingin merantau ke luar negeri. Melainkan semakin sedikit yang benar-benar merasa bahwa negeri ini adalah rumah yang layak dijaga bersama.
Kalau kita menengok ke pelajaran IPS SMP, nasionalisme justru tampak dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana. Misal, kita diharap tetap membayar pajak, meski sama-sama paham, tidak semua uang negara dikelola sempurna. Bagi para guru tetap mengajar dengan jujur meski gaji belum ideal. Para peneliti tetap bekerja di laboratorium Indonesia ketika fasilitasnya belum sebaik luar negeri.
Masyarakat tetap membangun usaha yang membuka lapangan kerja. Atau seperti almarhum ayah saya yang tetap menanam pohon meski tidak pernah menikmati rindangnya. Sebab cinta kepada bangsa memang tidak harus melulu hadir dalam momen-momen heroik, namun hidup dalam keputusan dan tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Sebenarnya kita pantas ramai bertanya mengapa anak-anak muda kita ingin pergi. Karena itu secara tersirat juga bertanya, apakah negeri ini bisa membuat mereka ingin kembali? Byung-Chul Han, mengatakan masyarakat modern sedang kehilangan narasi besar, grand narratives. Manusia kini semakin hidup dalam fragmen-fragmen pendek yang dipenuhi performa dan konsumsi informasi.
Sejujurnya saya merasa bahwa tujuan jangka panjang Indonesia yang luhur itu semakin terkubur dalam-dalam, senasib dengan impian-impian anak bangsa yang selalu pupus oleh lemahnya tata kelola negeri ini. Kita bisa paham bagaimana penghargaan terhadap anak bangsa begitu dianggap seperti bercanda. Banyak kekecewaan dari para atlet, akademisi, peneliti, para penemu, sampai dengan carut-marut korupsi dan bercokolnya para penjajah dari bangsa sendiri. Kabur keluar, mungkin adalah jalan paling logis untuk menggapai impian itu.
Masihkah Negara Ini Rumah Kita
Akibatnya, bangsa tidak lagi dipahami sebagai kisah panjang yang harus diteruskan, melainkan sekadar lokasi tempat seseorang lahir sebelum mengejar kariernya sendiri. Barangkali saat ini kita terlalu sering bertanya, “Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya?” Saking seringnya, sampai akhirnya meghipnotis dan terasa sebagai suatu kebenaran. Padahal para veteran pernah mengajarkan pertanyaan yang berbeda. “Apa yang masih bisa saya berikan kepada Indonesia?”
Ketika pertanyaan pertama sepenuhnya menggantikan yang kedua, maka fix, saat itulah sebuah bangsa mulai kehilangan dirinya. Bukan karena wilayahnya direbut, tapi karena hati rakyat yang pelan-pelan berpindah.
Sebuah negara tidak pernah runtuh begitu saja, ketika musuh datang menyerang dari luar. Malah, mereka akan bertahan dan saling menguatkan. Juga sejatinya suatu negara tidak akan menjadi rapuh karena usia. Namun suatu negara mulai rapuh ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi merasa bahwa negeri itu adalah rumah mereka.
Sidang pembaca yang budiman, apakah ini sedang terjadi pada negara kita? Karena tidak ada yang merasa memilikinya, lalu pelan-pelan, negara ini, rumah besar yang dibangun oleh para pejuang dan para veteran kita, akan dikontrakkan, disewakan atau bahkan dijual.
Atau mungkin kita harus mengembalikan semangat untuk menghabisi para penjajah dari dalam rumah kita sendiri. Selamat Hari Veteran, semoga kita semua masih mewarisi semangat mereka. Tabik.[T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole






























